Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 1 (2017): April" : 8 Documents clear
Pengaruh pelatihan pemeliharaan kesehatan gigi pada guru sekolah dasar sistem full day terhadap perubahan status kebersihan mulut siswa Suwargiani, Anne Agustina; Wardani, Riana; Suryanti, Netty; Setiawan, Asty Samiaty
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.12464

Abstract

Effect of dental care training on primary full day school teachers towards student’s oral hygiene status alteration. Elementary School age is the most appropriate age of having proper toothbrush technique teaching, because at this age children are entering mixed dentition period, so they should be able to do proper toothbrush technique. The practice of brushing teeth in full-day system elementary school is fundamental because most of the student’s time was spent in school, and they were also having lunch there, so the students should have been able to maintain the health of their teeth, which can only be implied with active role of teachers. The objective of this study was to analyze the effect of dental care training towards student’s oral hygiene status alteration. The method of this research was mixed methods that consisted of quantitative research phase that was done by providing questionnaires about knowledge, attitudes and behaviours of teachers after toothbrushing training, and the student’s toothbrushing skill that was measured through the oral hygiene status (OHIS green Vermillion). Whilst the phase of qualitative research was done by observation using observation checklist to identied the inhibiting factors of delivering the training results to the students. The sampling technique was total sampling, with all the teachers were taken as samples. The results from linear regression test showed that there was a moderate relation between the training effect towards student’s oral hygiene status alteration (R : 0.43). The contribution percentage of teacher’s knowledge, attitude and action variable used in the research model was seen on R square value that was 18.5%, whilst on the value of 81.5% was inuenced by other variables not included in the research. This value was the result of students’ variety perceptions about toothbrushing; the unconducive situation of the classrooms; difculties of teachers to delivered the counselling materials; teacher’s feeling of knowledge limitations; and forgetfulness of the usage of the dental model replica. There was a signicant effect of the action towards the oral hygiene status of the students, but there was no signicant inuence of knowledge and attitude towards the oral hygiene status of the students. Conclusions: Dental care training on full-day primary school teachers did not signicantly change their knowledge and attitude of toothbrushing, but continuous and proper practice after training, however, gave signicant effect on student’s oral hygiene status. Inhibiting factors of alteration were coming from internal environment of both teachers and students, and also due to lack of facilities. ABSTRAKUsia Sekolah Dasar merupakan usia yang tepat untuk mengajarkan teknik menyikat gigi  yang  baik  dan  benar, karena pada usia ini anak sedang dalam memasuki periode gigi campuran  dan sudah harus mampu menyikat  gigi baik dan benar. Penerapan penyikatan gigi di Sekolah Dasar dengan sistem full day sangat diperlukan, mengingat waktu anak di sekolah lebih lama dan melewati waktu makan siang sehingga anak harus mampu menjaga kesehatan giginya sendiri. Penerapan tersebut sangat membutuhkan peran guru. Tujuan penelitian yaitu menganalisis pengaruh pelatihan penyikatan gigi pada guru terhadap status kebersihan mulut siswa. Mixed methode terdiri dari tahap penelitian kuantitatif dengan pemberian kuisioner pengetahuan, sikap dan tindakan guru setelah pelatihan penyikatan gigi dan keterampilan menyikat gigi siswa diukur melalui status kebersihan mulut (OHIS green Vermillion) dan tahap penelitian kualitatif dengan melakukan observasi menggunakan cek list observasi untuk mengetahui faktor penghambat transfer hasil pelatihan pada siswa. Metode penelitian deskriptif analitik. Sampel penelitian diambil dari seluruh populasi, dimana semua guru diambil sebagai sampel penelitian. Hasil penelitian melalui uji korelasi linier menunjukkan hubungan antara pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap status kebersihan gigi dan mulut adalah sedang (R:0.43). Prosentase sumbangan variabel pengetahuan, sikap dan tindakan guru yang digunakan dalam model terlihat pada nilai R square yaitu sebesar 18,5%, sedangkan sisanya sebesar 81,5% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam penelitian. ada pengaruh signikan tindakan terhadap status kebersihan mulut siswa, namun tidak ada pengaruh secara signikan pengetahuan dan sikap terhadap status kebersihan mulut siswa. Faktor internal guru dan siswa serta faktor eksternal berupa penyediaan fasilitas. Simpulan penelitian mixed methode ini adalah pelatihan penyikatan gigi pada guru sekolah dasar sistem full day berpengaruh sebesar 18,5%, terhadap status kebersihan mulut siswa. Faktor penghambat menerapkan hasil pelatihan yaitu faktor internal dan eksternal guru dan siswa.
Skrining fitokimia dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L.) pada Streptococcus mutans ATCC 35668 Rahman, Friska Ani; Haniastuti, Tetiana; Utami, Trianna Wahyu
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11325

Abstract

Phytochemical screening and antimicrobial activities of ethanolic extracts Annona muricata  L.  on Streptococcus mutans ATCC 35668. Dental caries is one of dental diseases frequently occurred in Indonesia. Streptococcus mutans plays an important role in the pathogenesis of dental caries. Soursop plant (Annona muricata L) has been used by some communities in Indonesia to cure various kinds of disease. Different environment where the plants grow may lead to the differences in the type and amount of secondary metabolites. The aim of this study was to evaluate the effect of the ethanol extract of Annona muricata L. leaves on the growth of S. mutans ATCC 35668 and phytochemicals analysis of Annona muricata L. leaves ethanol extract. The type of the research is an experimental laboratory, Soursop leaves were extracted by maceration using ethanol 70%. The extract obtained was then carried out phytochemical screening with thin layer chromatography (TLC). Concentrations of extract tested were: 150; 125; 100; 75; 50 mg/ml. Chlorhexidine 5% was used as a positive control while DMSO 5% was used a negative control. Based on phytochemical screening, Annona muricata L. leaves ethanol extract contained secondary metabolite compounds, such as saponin, terpenoid, steroids, avonoids, tannins and alkaloids. MIC obtained at concentration of 125 mg /ml. Data were analyzed by using one-way Anava parametric test. The effect of extract concentration on the growth of colonies of S.mutans ATCC 35668 showed a signicant result (p <0.05) among groups tested. Annona muricata L. leaves ethanol extract had antibacterial activity against S. mutans ATCC 3566 at MIC concentration of 125 mg/ml. and contained secondary metabolite compounds, such as saponins, terpenoids, steroids, avonoids, tannins and alkaloids.ABSTRAKKaries gigi merupakan salah satu penyakit gigi yang banyak terjadi di Indonesia. Salah satu bakteri yang berperan penting dalam terjadinya karies gigi adalah Streptococcus mutans. Tanaman sirsak (Annona muricata L.) telah digunakan secara turun temurun oleh sebagian masyarakat Indonesia untuk mengobati penyakit. Perbedaan kondisi lingkungan tempat tumbuh suatu tanaman dapat menyebabkan perbedaan jenis dan jumlah dari metabolit sekunder yang terkandung dalam tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirsak terhadap S.mutans ATCC 35668 serta menentukan kandungan senyawa metabolit sekunder. Jenis penelitian merupakan ekperimental laboratoris, dilakukan ekstraksi pada daun sirsak dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Ekstrak etanol daun sirsak selanjutnya dilakukan skrining tokimia dengan uji kromatogra lapis tipis (KLT). Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode dilusi cair. Penelitian ini menggunakan 5 konsentrasi yaitu 150; 125; 100; 75; 50 mg/ml. DMSO 5% digunakan sebagai kontrol negatif dan Chlorheksidine 5% digunakan sebagai kontrol positif. Berdasarkan uji KLT, ekstrak etanol daun sirsak mengandung senyawa metabolit sekunder berupa saponin, terpenoid, steroid, avonoid, tanin, alkaloid. Ekstrak etanol daun sirsak dapat menghambat pertumbuhan bakteri S.mutans ATCC 35668 dengan KHM 125 mg/ml. Data dianalisis dengan menggunakan uji parametrik Anava satu jalur. Konsentrasi ekstrak terhadap pertumbuhan koloni S.mutans ATCC 35668 menunjukkan hasil signikan (p<0,05). Ekstrak etanol daun sirsak memiliki aktivitas antibakteri terhadap S.mutans ATCC 35668 dengan KHM pada konsentrasi 125 mg/ml. Ekstrak etanol daun sirsak mengandung senyawa metabolit sekunder berupa saponin, terpenoid, steroid, avonoid, tanin dan alkaloid.
Kualitas komunikasi dan kepuasan pasien dalam pelayanan radiogra kedokteran gigi RSGM Prof. Soedomo Simatupang, Kartika; Suryani, Isti Rahayu; Widyaningrum, Rini; Amalia, Rosa
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.13201

Abstract

The quality of communication and patient satisfaction in dental radiography. The quality of communication is one of important components in health service. The aim of this study is determine the relationship between the quality of communication and the level of patients in dental radiography service at Prof. Soedomo Dental Hospital Faculty of Dentistry Universitas Gadjah Mada. This study was conducted on 100 selected respondents. The quality of communication questionnaire consisted of 19 questions involving 4 aspects of communication assessment (introduction, explanation, careful listening, and empathy) and patient satisfaction questionnaires with 20 questions involving 4 aspects of satisfaction assessment (open-endedness, empathy, abilities, and general satisfaction). The score results of the questionnaire were measured by a Likert scale and the category of the assessment was based on criterion- referenced interpretation. Spearman correlation test showed that a signicant relationship (p <0.05) between the quality of communication and the level of patient satisfaction with the positive direction of correlation and the strong correlation (r = 0.856). Patient assessment for the quality of radiographer communication mostly showed good category (64%) with the most inuential communications aspect found in empathy (r = 0.842) and introduction (r = 0.752). The level of satisfaction assessment by the majority of patients was satised (71%) with the most inuential satisfaction aspect found in empathy (r = 0.807) and general satisfaction (r = 0.706). The better communication used by the radiographer could lead to the higher the level of patient satisfaction in dental radiography service.ABSTRAKKualitas komunikasi merupakan salah satu komponen yang penting pada layanan kesehatan karena berhubungan dengan kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas komunikasi pada pelayanan radiogra kedokteran gigi dengan tingkat kepuasan pasien Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini dilakukan pada 100 responden terpilih. Kuesioner pada penelitian terdiri dari kuesioner kualitas komunikasi yang terdiri dari 19 butir pertanyaan yang mencakup 4 aspek penilaian komunikasi (introduce, explanation, listen carefully, dan empathy) dan kuesioner tingkat kepuasan pasien yang terdiri dari 20 butir pertanyaan yang mencakup 4 aspek penilaian kepuasan (open-endedness, empathy, abilities, dan general satisfaction). Skor hasil kuesioner penelitian diukur menggunakan skala likert dan penetapan kategori penilaian diukur menggunakan penilaian acuan patokan. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan yang bermakna (p<0,05) antara kualitas komunikasi dengan tingkat kepuasan pasien, dengan arah korelasi positif dan kekuatan korelasi sangat kuat (r = 0,856). Penilaian pasien terhadap kualitas komunikasi radiografer sebagian besar menunjukkan kategori baik (64%). Aspek komunikasi yang paling berpengaruh adalah empathy (r = 0,842) dan introduce (r = 0,752). Sebagian besar pasien memberikan penilaian kepuasan pada tingkat puas (71%), dengan aspek penilaian kepuasan yang paling berpengaruh adalah (r = 0,807) dan general satisfaction (r = 0,706). Semakin baik komunikasi yang digunakan oleh radiografer maka akan semakin tinggi pula tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan radiogra kedokteran gigi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo Universitas Gadjah Mada.
Analisis radiograf periapikal menggunakan software imageJ pada abses periapikal setelah perawatan endodontik Sumantri, Dominica Dian Saraswati; Firman, Ria Noerianingsih; Azhari, A.
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.10468

Abstract

Periapical abscess radiography analysis using imageJ after endodontics treatment. The visual assessment to measure the lesion of periapical abscesses on the radiograph interpretation has the distinction of periapical in intra observer and inter observer which caused by the subjectivity of observer. The assessment on abscess periapikal after endodontic treatment commonly has been seen visually from the reduced size of the lesion periapical abscess. On this research, the measurement of periapical abscesses lesion is done with measuring the number of particles, the extensive of lesions, and the extensive of particle on the radiograph after endodontic treatment on digitally. The purpose of this research is to knowing the extensive of lesions, the number of particles and the extensive particles of trabeculae bones after endodontic treatment on periapical abscess through digitization periapical radiograph using ImageJ software. This research have a form of observational analysis. Samples was taken as many as 31 on each radiograph before and after treatment of endodontic patients with diagnosis of periapical abscess at RSGM Padjadjaran University Bandung. The radiograph will digitized using ImageJ software to get the extensive of lesions, the number of particles and the particle of extensive in periapical abscess. The results of this research found that of the 31 pairs of radiograph before and after endodontic treatment there is decrease in the average area of lesions from 12.44 ± 2.29 mm2 into 2.72 ± 1.86 mm2, increase in the average number of particles of 56.22, to 79.61, an increase in the average particles area of 8.93 ± 2.55 mm2, being 11.42 ± 2.61 mm2. The summary of this research is there is a decrease in the size of the lesions, which are affected by the increase in the number of particulate matter and particles on the radiograph of the extensive of lesions periapical abscess after endodontic treatment.ABSTRAKPenilaian secara visual pada abses periapikal pada radiograf periapikal, memiliki perbedaan interpretasi secara intra dan inter observer yang diakibatkan subjektitas penilaian. Penilaian pada abses periapikal setelah perawatan endodontik secara visual umumnya dilihat dari berkurangnya ukuran abses periapikal. Pada penelitian ini pengukuran abses periapikal dilakukan dengan mengukur luas lesi, jumlah partikel, dan luas partikel pada radiograf setelah perawatan endodontik secara digital. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui luas lesi, jumlah partikel dan luas partikel trabekula tulang setelah perawatan endodontik pada abses periapikal melalui digitalisasi radiograf periapikal menggunakan software ImageJ. Penelitian bersifat analisis observasional. Sampel diambil sebanyak masing-masing 31 radiograf sebelum dan setelah perawatan endodontik pasien dengan diagnosa abses periapikal di RSGM Universitas Padjadjaran Bandung. Radiograf di digitalisasi menggunakan software ImageJ untuk mendapatkan hasil luas lesi, jumlah partikel dan luas partikel abses periapikal. Hasil penelitian ditemukan bahwa dari 31 pasang radiograf sebelum dan setelah perawatan endodontik terdapat penurunan rata-rata luas lesi dari 12,44 ± 2,29 mm2 menjadi 2,72 ± 1,86 mm2, peningkatan rata- rata jumlah partikel dari 56,22 buah, menjadi 79,61 buah, peningkatan rata-rata luas partikel dari 8,93 ± 2,55 mm2, menjadi 11,42 ± 2,61 mm2. Simpulan penelitian ini adalah analisis radiograf abses periapikal menggunakan software imageJ ditemukan penurunan ukuran luas lesi, yang dipengaruhi oleh kenaikan jumlah partikel dan luas partikel setelah perawatan endodontik.
Hubungan fraksi area trabekula anterior mandibula dengan kepadatan tulang lumbar spine untuk deteksi dini osteoporosis Lestari, Sri; Widyaningrum, Rini
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.13207

Abstract

The relationship of anterior mandible trabecular area with bone mass density of lumbar spine for early detection of osteoporosis. Bone mineral density is an indicator of osteoporosis, including the bone mineral density of lumbar spine. The decrease of lumbar spine bone mass density will cause an alteration in another site, including the mandibular. The aim of this research is to determine the predictor of lumbar spine bone mineral density using trabecular bone image of anterior mandible on periapical radiographs. The research was conducted by extracting the area fraction at mandible trabecular bone using digital periapical radiograph from 25 subjects. Canny edge detection was used in digital image processing for each radiograph. The regions of interest were selected from the image obtained by canny edge detection, so that the area fraction could be measured. A linier regression test was applied to determine a relationship between the area fractions of mandible trabecular bone with the bone mineral density of lumbar spine. The result of linear regression test showed that the area fraction of mandible trabecular bone had a moderate negative correlation with bone mass density of lumbar spine (α = 0.046; R = -0.403). The direction of the correlation was negative (b = -0.145). The area fraction of mandible trabecular bone on periapical radiographs could be used as the predictor for bone mass density of lumbar spine.ABSTRAKKepadatan tulang merupakan indikator osteoporosis, salah satu diantaranya adalah kepadatan tulang pada lumbar spine. Penurunan kepadatan tulang pada lumbar spine mempengaruhi kondisi tulang lain, termasuk tulang rahang bawah (mandibula). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan prediktor densitas mineral tulang menggunakan citra radiograf periapikal tulang trabekula pada regio anterior rahang bawah. Penelitian dilakukan dengan ekstraksi fraksi area tulang trabekula mandibula yang tercitrakan pada radiograf periapikal digital dari 25 subjek. Pengolahan citra digital pada radiograf periapikal dilakukan dengan menggunakan metode deteksi tepi canny terhadap masing-masing citra radiograf. Region of Interest diseleksi dari citra hasil deteksi canny, sehingga dapat dilakukan pengukuran fraksi area. Uji regresi linier dilakukan untuk mengetahui hubungan antara nilai fraksi area trabekula mandibula dengan tingkat kepadatan tulang pada lumbar spine. Hasil uji regresi linier menunjukkan bahwa nilai fraksi area trabekula mandibula berkorelasi negatif dengan kepadatan tulang dengan kekuatan sedang (α = 0,046; R = -0,403). Adapun arah korelasi antara nilai fraksi area trabekula mandibula dengan kepadatan tulang adalah negatif (b = -0,145). Fraksi area tulang trabekula pada citra radiograf periapikal dapat digunakan sebagai prediktor kepadatan tulang pada lumbar spine.
Profil oral candidiasis di bagian ilmu penyakit mulut RSHS Bandung periode 2010-2014 Hidayat, Wahyu; Dewi, Tenny Setiana; Herawati, Erna; Wahyuni, Indah Suasani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11320

Abstract

Oral candidiasis prole in oral medicine department of RSHS Bandung in the period of 2010 – 2014 C. albicans is the primary causative agent in oral candidiasis. Candida species are commensal microorganisms as normal ora in the mouth, without causing any symptoms. Oral candidiasis may be caused by systemic condition, autoimmune disease and poor oral hygiene.Candida spp can become pathogenic in the decline of the condition of the immune system, especially in autoimmune disease conditions given with steroids drug as the steroids in nature could deteriorate the immune systems or long term of systemic drugs therapy. Study related to oral candidiasis in Indonesia is still lacking. The aim of the study is to know the description of oral candidiasis of RSHS Bandung, Indonesia at 2010 – 2014, descriptively in the oral medicine clinic. The results showed during the period of 2010  to 2014, 49 patients oral candidiasis were found. The most prevalent was 34 males (69.3%) and 15 women (30.7%) in which the most predisposing factor is systemic factor about 40.2%. The whitish pseudomembran plaque is commonly found in the dorsal area of the tongue. The prole of oral candidiasis in patients visiting the oral medicine clinic at RSHS generally is caused by systemic conditions, autoimmune diseases and poor oral hygiene, the use of nystatin is still effective to be used to treat candidiasis.ABSTRAKCandida. albicans (C.albicans) merupakan agen penyebab primer pada oral candidiasis. Candida spp merupakan mikroorganisme komensal atau ora normal dalam mulut dengan tanpa menimbulkan gejala. Candida spp dapat menjadi patogen saat kondisi daya tahan tubuh menurun terutama dalam kondisi penyakit autoimun yang diberikan terapi steroid karena steroid bersifat menurunkan sistem imun atau terapi obat-obatan secara sistemik dalam jangka waktu lama. Penelitian oral candidiasis di Indonesia masih belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prol oral candidiasis pada pasien-pasien yang ditangani di Bagian Penyakit Mulut di Rumah Sakit dr. Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, Indonesia periode tahun 2010 – 2014. Hasil penelitian menunjukkan selama periode 2010 hingga 2014 sebanyak 49 orang pasien yang datang ke klinik ilmu penyakit mulut ditemukan oral candidiasis. Prevalensi terbanyak adalah pria sebesar 34 orang (69,3%) dan wanita 15 orang (30,7%), dengan faktor predisposisi terbanyak adalah keterlibatan penyakit sistemik sebesar 40,2%. Lokasi paling sering ditemukan lesi plak pseudomembran putih dan terdapat di daerah dorsal lidah. Prol kandidiasis pada pasien yang berkunjung ke klinik ilmu penyakit mulut RSHS secara garis besar umumnya disebabkan oleh kondisi sistemik, penyakit autoimun dan kebersihan rongga mulut yang buruk sedangkan untuk terapi kandidiasis, penggunaan nystatin masih efektif untuk digunakan mengobati kandidiasis.
Perawatan maloklusi Angle kelas II divisi 2 pasien dewasa dengan pencabutan dua premolar atas Utari, Tita Ratya
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.17249

Abstract

Treatment of maloclussion angle class II division 2 in adult patient with two maxillary premolar extractions. Angle Malocclusion class II division 2 had a characteristic of central incisor retroclination, lateral incisor proclination, added by severe deep overbite that caused aesthetic disturbance to the patient. In adult patient this type of case usually is treated with rst premolar extraction. This case report aimed to describe orthodontic treatment in maloclussion Angle class II division 2 to correct anterior crowding deep overbite which nally improve the aesthetics. A 19-year old female patient with overjet 0.5 mm, step bite (overbite 7.8mm) and ANB 10° (SNA 92°, SNB 82°). An 18 year old male patient with overjet 0.5 mm step bite (overbite 9mm) and ANB 10,5° (SNA 87,5°, SNB 77°). Both patients were diagnosed with malocclusion Angle class II division 2 with the palatoversi of central incisor, labioversi of lateral incisor and anterior crowding with trapezoid shape of the jaw. Patient was given orthodontic treatment using xed appliance with straight wire system and extraction of upper rst premolar. The treatments began by correcting the inclination of central incisor that allowed braces installation in lower anterior teeth. Canine was distalized then anterior retraction, it followed by intrusion of anterior maxilla using U loop. Treatment for malocclusion Angle Class II division 2 with the extraction of upper rst premolar feasible for correcting its anterior relation. Deep overbite and anterior crowding in both patients were corrected for better face aesthetics. ABSTRAKMaloklusi Angle kelas II divisi 2 dengan karakteristik retroklinasi insisivus sentral, proklinasi insisivus lateral disertai deep overbite yang parah menyebabkan gangguan estetik bagi pasien. pencabutan gigi premolar atas umumnya dilakukan untuk memperbaiki maloklusi pada pasien dewasa. Laporan kasus ini bertujuan memaparkan perawatan ortodontik dengan diagnosis maloklusi Angle Klas II Divisi 2 dengan tujuan memperbaiki crowding dan deep over bite sehingga diperoleh estetika yang baik. Kasus 1, pasien perempuan berusia 19 tahun dengan overjet 0,5 mm, deepbite (overbite 7,8 mm), dan ANB 10° (SNA 92°, SNB 82°). Kasus 2, pasien laki laki berusia 18 tahun dengan overjet 0,5 mm, deepbite (overbite 9 mm), dan ANB 10,5° (SNA 87,5°, SNB 77°). Diagnosis kedua kasus tersebut maloklusi Angle kelas II divisi 2 dengan insisivus sentralis rahang atas palatoversi, insisivus lateralis labio versi disertai crowding gigi anterior dan bentuk lengkung trapezoid. Pasien dilakukan perawatan ortodontik menggunakan alat cekat Straight Wire System dengan pencabutan premolar pertama kanan dan kiri rahang atas. Perawatan diawali dengan melakukan koreksi inklinasi gigi insisivus sentral atas sehingga memungkinkan pemasangan braket pada rahang bawah. Dilanjutkan distalisasi gigi kaninus, kemudian retraksi sekaligus intrusi gigi anterior rahang atas menggunakan wire dengan U-loop. Perawatan klas II divisi 2 dengan pencabutan premolar pertama rahang atas kanan dan kiri dapat memperbaiki relasi gigi anterior. Deep overbite dan crowding gigi anterior pada kedua pasien tersebut dapat dikoreksi sehingga diperoleh estetika wajah yang jauh lebih baik.
Efek antigenotoksik ekstrak etanolik daun sirsak (Annona muricata Linn) terhadap frekuensi mikronukleus mukosa bukal tikus Sprague Dawley Prihatiningsih, Tyas; Haniastuti, Tetiana; Agustina, Dewi
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11794

Abstract

The effect of soursop leaves (Annona uricata linn) ethanolic extract on micronucleus frequency  of buccal mucosa epithelium of Sprague dawley rats. Polycyclic aromatic hydrocarbons is one of the largest  groups of carcinogen in environment. 7,12-Dimetillbez (α) antransena is a compound of PAH class that has genotoxic carcinogen potency. One of the most frequently applied genotoxicity tests is micronucleus test. Soursop is a plant that can grow well in Indonesia. Its leaves contain avonoid and acetogenin assumed to have potential chemopreventive and anticancer activities. The aim of this study was to assess the antigenotoxic effect soursop leaves ethanolic extraction the micronucleus frequency of DMBA-induced buccal mucosa of rat. This research was conducted on 24 male Sprague Dawley rats aged 5 weeks and divided into six groups. Carcinogenesis on the lingual dorsum of group I-III were induced by DMBA topically 3 times a week for 16 weeks, group II and III were not only induced by carcinogenesis, but also were given soursop leaves ethanolic extract of 100 and 200 mg/kg body weight for 18 weeks, group IV was given soursop leaves ethanolic extract 200 mg/kg body weight, group V was given DMSO 1% and group VI was given no treatment. After 18th week, buccal mucosa swab for micronucleus test was conducted and stained with Feulgen-Rossenbeck method. The number of micronucleus is calculated under a light microscope, data were analized using using one-way ANOVA followed by Tukey HSD. The result showed that the average of buccal micronucleus frequency of group II (13 ± 0.82) and group III (12 ± 0.96) were decrease signicantly (p<0,05) than group I (24 ± 1.71). From the experiment,   it is concluded that the soursop leaves ethanolic extract has antigenotoxic effect shown by decreasing of the buccal micronucleus frequency of rat.ABSTRAKPolycyclic aromatic hydrocarbon atau PAH merupakan salah satu kelompok karsinogen terbesar di lingkungan. 7,12-Dimetillbez(α)antransena merupakan senyawa golongan PAH yang bersifat karsinogen genotoksik. Salah satu uji genotoksisitas yang paling sering dilakukan adalah uji mikronukleus. Sirsak merupakan tanaman yang tumbuh baik di Indonesia. Daun sirsak mengandung avonoid dan acetogenin yang diduga mempunyai potensi kemopreventif dan aktivitas antikanker. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji efek antigenotoksik ekstrak etanolik daun sirsak terhadap frekuensi mikronukleus mukosa bukal tikus galur Sprague Dawley yang diinduksi dengan DMBA. Penelitian ini dilakukan pada 24 tikus Sprague Dawley jantan berumur 5 minggu yang dibagi secara acak dalam 6 kelompok. Karsinogenesis dorsum lidah tikus kelompok I – III diinduksi dengan DMBA secara topikal 3 kali dalam seminggu selama 16 minggu, kelompok II dan III selain diinduksi karsinogenesis, juga diberi ekstrak etanolik daun sirsak 100 dan 200 mg/kg BB setiap hari selama 18 minggu dan kelompok IV diberi ekstrak etanolik daun sirsak 200 mg/kg BB, kelompok V diberi DMSO 1% dan kelompok VI tidak diberi perlakuan. Setelah minggu ke-18, swab mukosa bukal dilakukan untuk uji mikronukleus kemudian sampel dicat dengan metode Feulgen-Rossenbeck. Jumlah mikronukleus dihitung di bawah mikroskop cahaya per 500 sel epitel mukosa bukal, lalu data dianalisis menggunakan one way ANOVA diikuti Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata frekuensi mikronukleus kelompok II (13 ± 0,82) dan kelompok III (12 ± 0,96) mengalami penurunan secara signikan (p<0,05) dibanding kelompok I (24 ± 1,71). Disimpulkan bahwa ekstrak etanolik daun sirsak mempunyai efek antigenotoksik yang ditunjukkan dengan penurunan frekuensi mikronukleus sel epitel mukosa bukal tikus.

Page 1 of 1 | Total Record : 8