Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -
Articles 31 Documents
Search results for , issue " Vol 21, No 2 (2014)" : 31 Documents clear
Pengaruh Penusukan Tunggal Titik Akupunktur Telinga Ciao Kan terhadap Tekanan Darah dan Frekuensi Denyut Jantung Suryanto, Yanti Ivana
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam praktek klinis kedokteran gigi, seringkali pasien datang dengan tekanan darah yang tinggi meskipun ia tidak memiliki riwayat hipertensi sebelumnya. Pada kondisi ini, tingginya tekanan darah seringkali dipengaruhi oleh tingkatkecemasan pasien yang nantinya akan mempengaruhi sistem saraf otonom. Akupunktur merupakan suatu metode pengobatan dengan penusukan jarum tanpa memasukkan bahan kimia ke dalam tubuh pasien. Penelitian ini bertujuanuntuk mengkaji pengaruh penusukan tunggal titik akupunktur telinga Ciao Kan terhadap tekanan darah dan frekuensi denyut jantung. Hipotesis yang diajukan adalah penusukan tunggal titik akupunktur telinga Ciao Kan menyebabkanterjadinya penurunan tekanan darah dan frekuensi denyut jantung. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan mempergunakan rancangan penelitian pre-post test design. Subjek penelitian adalah laki-laki berusia 25–35tahun dengan tekanan sistolik lebih atau sama dengan 130 mmHg yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Subjek menjalani orthostatic stress test, penusukan titik akupunktur telinga Ciao Kan, pengukuran tekanan darah dan frekuensi denyut jantung. Metode statistik yang dipergunakan adalah uji t, uji korelasi Pearson, dan uji ANOVA satu jalur. Uji t dilakukan pada data yang telah ditransformasi. Tekanan sistolik turun signifikan pada subyek penelitian selamaperlakuan (p<0,05) namun kemudian naik kembali. Frekuensi denyut jantung juga mengalami penurunan signifikan (p<0,05) selama perlakuan dan naik kembali. Uji korelasi Pearson dilakukan untuk melihat korelasi antara tekananarteri rata-rata dengan frekuensi denyut jantung. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya korelasi positif antara tekanan arteri rata-rata dan frekuensi denyut jantung (r =0,373). Uji ANOVA satu jalur menunjukkan tidak adanya perbedaan nilai tekanan sistolik, tekanan diastolik, tekanan arteri rata-rata, dan frekuensi denyut jantung antar kelompok dengan respon terhadap orthostatic stress test normal, hipertonus, maupun hipotonus (p >0,05). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penusukan tunggal titik akupunktur telinga Ciao Kan menyebabkan terjadinya penurunan tekanan darah dan frekuensi denyut jantung. ABSTRACT: The Effect of Single Acupuncture on Ciao Kan Ear Acupoint on Blood Pressure and Heart Rate In dental clinical practice. Patient sometime come with high blood pressure even though they have no history of hypertension. In this condition, high blood pressure could be influenced by anxiety that will have an effect on autonomic nerve system. Acupuncture is a healing method with needle puncture without giving chemical substance to patient’s body. This research aimed at evaluating the effect of a single acupuncture on Ciao Kan ear acupoint on blood pressure and heart rate. Hypothesis of this research was single acupuncture on Ciao Kan ear acupoint could decrease blood pressure and heart rate. This was a pre-post test design experiment. Subjects were men, 25 – 35 years old with systolic blood pressure equal or more than 130 mmHg who met the inclusion and exclusion criteria. Subject did orthostatic stress test, acupuncture on Ciao Kan ear acupoint, blood pressure measurement, and heart rate measurement. T test was done on the transformed data. Systolic blood pressure decreased significantly (p < 0.05) during acupuncture and then increased afterward. Heart rates also decreased significantly (p < 0.05) during acupuncture and then increased afterward. Pearson correlation test was done to see the correlation between mean arterial pressure and heart rate. The results showed a positive correlation between mean arterial pressure and heart rate (r = 0.373). One way ANOVA showed no systolic, diastolic, mean arterial pressure, and heart rate differences between groups in response to orthostatic stress test normal, hyper tone, or hypo tone (p > 0.05). It could be said that single acupuncture on Ciao Kan ear acupoint could decrease blood pressure and heart rate.
Perawatan Gigitan Terbuka Anteroposterior Tipe Skeletal dengan Teknik Straightwire Mandala, Vega; Ardhana, Wayan; Christnawati, Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigitan terbuka merupakan maloklusi yang bercirikan tidak terdapatnya tutup menutup gigi rahang atas dan bawah, dapat terjadi pada regio anterior maupun posterior dan dapat melibatkan dental maupun skeletal. Maloklusi ini memerlukan ketelitian dalam penentuan diagnosis dan perawatan untuk mendapatkan hasil perawatan yang baik dan kestabilan jangka panjang. Tujuan penulisan studi kasus ini adalah untuk menginformasikan manajemen pasien dengan gigitan terbuka tipe skeletal. Pasien pria berumur 19 tahun datang ke Klinik Ortodonsia FKG UGM dengan keluhan utama gigi depan yang tidak rata dan tidak dapat digunakan untuk menggigit. Pemeriksaan klinis menunjukkan pasien memiliki kebiasaan menelan dengan menjulurkan lidah. Pemeriksaan model studi menunjukkan maloklusi Angle kelas I dengan gigitan terbuka anterior dari regio premolar kedua kanan ke kiri sebesar 10,7 mm disertai malposisi gigi individual dan pergeseran garis tengah rahang bawah ke kiri. Pemeriksaan sefalometri menunjukkan relasi skeletal kelas II dengan retrusif bimaksila, rotasi mandibula searah jarum jam dan gigitan terbuka skeletal. Pasien menolak tindakan bedah ortognatik sehingga dilakukan perawatan ortodontik kamuflase. Perawatan diawali dengan latihan miofungsional untukmelatih cara penelanan yang benar dilanjutkan dengan perawatan ortodontik teknik straightwire dengan pencabutan empat gigi molar pertama. Penutupan gigitan terbuka menggunakan elastic box anterior. Hasil evaluasi menunjukkanpengurangan besar gigitan terbuka dari 10,7 mm menjadi 1,25 mm. Kesimpulannya elastic box anterior dapat digunakan untuk mengoreksi gigitan terbuka yang etiologinya melibatkan intrusi gigi anterior.  ABSTRACT: Skeletal Anteroposterior Open Bite Treatment with Straight Wire Technique. Open bite is a malocclusion with characteristic no overlapping between maxillar and mandibular teeth. This malocclusion may occur in anterior or posterior region and involved dental or skeletal. This malocclusion needed precise diagnosis and treatment to get a good treatment result and long term stability. The aim of this case report was to inform management of patient with skeletal open bite. A 19 years old male came to orthodontic clinic Faculty of Dentistry Gadjah Mada University with the chief complaint anterior crowding, and anterior teeth cannot be used to bite. Clinical finding showed patient hadtongue thrusting habit. Study model analysis showed class I Angle malocclusion with 10.7 mm anterior open bite from right second premolar to left second premolar, with individual teeth malposition and mandibular midline shifting to the left. Cephalometric finding showed class II skeletal relationship with bimaxillar retrusive, clockwise mandibular rotation and skeletal open bite. This patient refused orthognatic surgery, so he received camouflage orthodontic treatment. This treatment was started with monofunctional exercise to correct the swallowing action then continued with straight wire orthodontic treatment with four first molar extractions. Anterior box elastic was used to close the bite. Evaluation result showed open bite was decreased from 10.7 mm to 1.25 mm. The conclusion was anterior box elastic could be used in open bite correction that involved anterior teeth intrusion as an etiology.
Implant Gigi One-Piece vs Two-Pieces dalam Praktek Sehari-Hari Kurnia, Dian Lestari; Ramadhani, Amilia; Hudyono, Rikko
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini, implant merupakan pilihan terbaik untuk menggantikan gigi yang tanggal, akan tetapi prosedur pemasangannya terbilang rumit dan memerlukan prosedur bedah kedua untuk pemasangan prostetik. Beberapa komplikasi sepertiscrew patah atau longgar dan adanya celah mikro pada batas pertemuan implant dan abutment dapat menyebabkan kegagalan implant. Studi kasus ini bertujuan untuk membahas mengenai keuntungan dan kerugian desain implant gigi one-piece dan two-pieces. Kasus pertama, seorang wanita berusia 43 tahun datang untuk mendapatkan perawatan implant pada region 16. Ketinggian tulang alveolar yang tersedia adalah 5 mm. Prosedur pengangkatan dasar sinustransalveolar dilakukan dengan pemberian allograft sebanyak 0,5 cc dilanjutkan dengan pemasangan implant gigi one-piece sepanjang 12 mm. Kasus kedua, seorang wanita 24 tahun datang untuk mendapatkan perawatan implant pada regio 46. Ketinggian tulang alveolar yang tersedia adalah 12 mm, kemudian dilakukan pemasangan implant gigi two-pieces sepanjang 10 mm. Implant gigi one-piece menawarkan berbagai keunggulan yaitu: hanya diperlukan sekaliprosedur bedah dan prosedur prostetik lebih sederhana. Desain ini juga meniadakan celah mikro pada perbatasan implant dan abutment. Desain implant gigi one-piece memiliki keterbatasan pada pilihan prosedur prostetik apabila dibandingkan dengan desain implant gigi two-pieces. ABSTRACT: One-Piece Versus Two-pieces Tooth Implant In Daily Practice. Implant had been a gold standard to replace missing tooth. However, implant marketed today was considered complex, and needs a second surgery. Complications may occur such as screw loosening or fracture and the presence of micro gap at implant-abutment-junction that is found causing fixture failure. The one-piece-implant design may offer some advantages. Purpose: this paper was aimed to discuss the pros and cons of one-piece-implants and two-piece-implants. Case 1 A 43-year-old woman came to place an implant on #16. The available bone height was 5 mm. A trans alveolar sinus lift procedure was performed with 0,5 cc allograft. A 12 mm one-piece-implant was inserted. Case 2 A 24-year-old woman came to place an implant on #46. The available bone height was 12 mm and a 10 mm two-piece-implant was inserted. Discussion: One-piece-implant offers some advantage. It needs no second surgery, easier placement protocol, and more natural prosthetic procedures. The design is preventing the failure in implant-abutment-junction failure. The absence of micro gap in one-piece-implant seems superior in preventing crestal bone resorption. However, the prosthetic option was limited in one-piece-implant. Two-piece-implant offers more choices in prosthetic abutment. Conclusion: One-piece-implant was easier and provide simple protocol with limited choice on prosthetic.
Perawatan Maloklusi Angle Kelas I disertai Impaksi Kaninus Maksila Menggunakan Alat Cekat Begg Suryani, Darmayanti Dian; Suparwitri, Sri; Hardjono, Soekarsono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigi kaninus sangat penting untuk estetika dan fungsi mastikasi seseorang. Impaksi gigi adalah gagalnya gigi untuk muncul ke dalam lengkung gigi yang dapat disebabkan karena kekurangan ruang, adanya sesuatu yang menghalangi jalur erupsi gigi atau karena faktor keturunan. Prevalensi impaks gigi kaninus maksila adalah 0,9-2,2%, sedangkan impaksi gigi kaninus mandibula lebih jarang terjadi. Alternatif perawatan gigi impaksi kaninus maksila adalah operasi exposure dan diikuti dengan kekuatan ortodontik untuk membantu erupsi dengan alat cekat ortodontik. Tujuan dari perawatan adalah untuk koreksi malrelasi dan malposisi gigi geligi, khususnya koreksi gigi kaninus impaksi menggunakan teknik Begg. Pasien laki-laki, 19 tahun, gigi sangat berjejal, gigi kaninus kanan kiri rahang atas dan gigi kaninus kanan rahang bawah impaksi, kelas I, deep overbite, overjet 3 mm dan overbite 8,8 mm. Perawatan dilakukan dengan menggunakan alat cekat Begg dengan tanpa pencabutan. Operasi exposure dilakukan untuk membuka gigi kaninus kanan kiri atas yang impaksi yang diikuti perekatan braket ortodontik. Kawat busur multiloop, anchorage bend dan elastik intermaksiler klas II digunakan pada tahap leveling dan unraveling. Dalam waktu 14 bulan,overbite terkoreksi, gigi kaninus kanan kiri atas sudah erupsi, overjet 3,00 mm, overbite 3,00 mm. Saat ini perawatan masih berlangsung pada tahap leveling dan unraveling untuk koreksi kaninus yang impaksi. Perawatan maloklusi angle klas I dengan berjejal dan impaksi kaninus maksila dapat dilakukan dengan operasi exposure gigi kaninus impaksi diikuti alat cekat Begg. ABSTRACT: Orthodontic Treatment of Class I Malocclussion with Canine Impaction Using Begg Fixed Appliance. Canine is very important for aesthetic and masticatory function. Impaction refers to a failure of tooth to presence into the dental arch, usually due to either space deficiencies, the presence of an entity blocking the path of tooth eruption or due to hereditary factors. Prevalence of maxillary canines impaction is 0.9 to 2.2%, while the mandibular canine impaction is less common. Alternative dental care is impacted maxillary canine exposure surgery and followed by orthodontic force for help the eruption with fixed orthodontic appliance. The goal of treatment is to correct malrelation and malposition of teeth. Patient man, 19 years old, very crowded teeth, maxillary right and left canine and mandibular right canine impaction, Angle Class I, deep overbite, 3 mm overjet and overbite 8,8 mm. Treatments performed using Begg fixed appliances without extraction. Exposure surgery is done under the right and left maxillary canine impaction followed orthodontic bracket bonding. Multiloop arch wire, bend and elastic anchorage intermaksiler class II used at the stage of leveling and unraveling. Within 14 months, overbite was corrected, maxillaryr right and left canine eruption, Angle Class I canine relationship, 3.00 mm overjet, 3,00 mm overbite. Current treatment is still ongoing at leveling and unraveling stage. Treatment angle malocclusion class I with maxillary canine impaction can be done by exposure surgery followed by Begg fixed appliances.
Ekspresi Caspase-3 pada Sel Epitel Rongga Mulut (Kb Cell Line) setelah Paparan Ekstrak Kopi Hutomo, Suryani; Suryanto, Yanti Ivana; Susilowati, Heni; Rudolf Phym, Agustinus; Maheswara, Devi Chretella
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kopi adalah minuman yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat sehari-hari. Telah diketahui bahwa kopi mengandung kafein seperti yang terdapat juga pada teh dan coklat. Kandungan terbanyak kafein terdapat pada kopi. Kafein mempunyai struktur kimia 1, 3, 7- trimethylxanthine dan merupakan derivat xanthine. Senyawa ini dapat menginduksi kematian sel yang mengarah pada apoptosis, namun mekanisme yang terlibat belum diketahui dengan jelas. Tingginya konsumsi kopi di dunia yang selalu meningkat mengindikasikan perlunya dilakukan penelitian untuk mengetahui efek kafein pada epitel rongga mulut yang berkontak langsung dengan kafein. Penelitian terdahulu melaporkan bahwa ekstrak kopi menyebabkan kerusakan sel yang sebagian besar mengarah pada apoptosis, tetapi mekanismenya belum jelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis mekanisme kematian sel KB yang diinduksi oleh kafein melalui aktivasi caspase-3. Sel KB sebagai model epitel oral (5x10⁴sel) dikultur dalam DMEM menggunakan 24 wells microplate selama 24 jam sebelum perlakuan. Sel selanjutnya dipapar dengan kafein dengan konsentrasi 100 µg/ml, 200 µg/ml, 400 µg/ml dan diinkubasi selama 24 dan 48 jam dalam DMEM. Doxorubicin (0,5625 µg/ml) digunakan sebagai kontrol positif induksi apoptosis. Teknik imunositokimia terhadap caspase-3 dilakukan pada sel setelah dipapar kafein untuk mengamati adanya ekspresi caspase-3 sebagai ciri apoptosis. Identifikasi caspase-3 dilakukan menggunakan mikroskop fase kontras. Ekspresi protein caspase-3 terdeteksi pada sitoplasma sel KB. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya ekspresi caspase-3 aktif yang ditandai dengan warna cokelat dengan intensitas kuat pada sitoplasma sebagian besar sel setelah dipapar kafein dengan konsentrasi 100 μg/ml dan 200 µg/ml selama 24 jam. Disimpulkan bahwa ekstrak kopi menyebabkan apoptosis sel KB melalui jalur aktivasi caspase-3. ABSTRACT: The Expression of Caspase-3 in Oral Cavity (Kb Cell Line) after Exposure to Coffee Extract. People widely consume coffee in daily meals. It is known there is caffeine found in coffee like it is found in tea and chocolate. Caffeine is found in the greatest amount of coffee. This 1, 3, 7- trimethyl xanthine substance is a derivate of xanthine that is consumed by almost all people in the world. This substance could induce cell death that mainly is apoptosis, but how the mechanism has not been clearly understood. Considering that coffee is widely consumed in the whole world, it is necessary to conduct an experiment to find any possible effect of caffeine to oral epitel that make direct exposure to caffeine. This experiment is targeted to analyze the mechanism of cell death which caused by caffeine through activation of caspase-3. KB cells as oral epithelial model (5x1044 sel) were cultured in DMEM using 24 well microplate for 24 hours before treatment. Then caffeine was given with concentration of 100 µg/ml, 200 µg/ml and 400 µg/ml. Cells were then incubated for 24 and 48 hours period in DMEM. Doxorubicin (0,5625 µg/ml) was used as a positive control of apoptosis induction. Immunocytochemistry technique was then done to observe any caspase three expression as a marker for apoptosis. Identification of active caspase-3 was then done using contrast phase microscope. The results showed expression of caspase-3 in KB cells cytoplasm which observed as high intensity of brown colored molecules in cell cytoplasm after 100 μg/ml and 200 µg/ml caffeine exposure in 24 hours. It was concluded that coffee extract induce KB cells apoptosis through caspase-3 activation mechanism.
Perawatan Maloklusi Klas II Divisi 1 Dentoskeletal Disertai Retrusi Mandibula Dengan Alat Fungsional Bionator Luthfianty, Afini Putri; Suparwitri, Sri; Hardjono, Soekarsono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maloklusi klas II divisi 1 dentoskeletal disertai dengan retrusi mandibula dan lengkung rahang yang sempit dapat terjadi akibat dari faktor keturunan dan diperparah oleh kebiasaan buruk. Kondisi maloklusi tersebut ditandai dengan adanya palatal bite dan overjet yang besar. Perawatan maloklusi klas II divisi 1 pada masa pertumbuhan dan perkembangan dapat dilakukan dengan menggunakan alat ortodontik fungsional, salah satunya adalah Bionator. Pemilihan bionator bertujuan untuk menuntun rahang bawah untuk bergerak ke posisi yang diinginkan dan memperlebar lengkung rahang. Tujuan dari penulisan laporan kasus ini adalah menyajikan hasil kemajuan perawatan maloklusi klas II divisi 1 dengan menggunakan alat ortodontik fungsional Bionator. Pasien perempuan berumur 12 tahun mengeluhkan gigi depan atas maju sehingga mengganggu penampilan. Diagnosa kasus adalah maloklusi klas II divisi 1 dentoskeletal disertai dengan retrusi mandibula, bidental protrusif, palatal bite, kontraksi lengkung rahang dan malposisi gigi individual. Pasien dirawat dengan menggunakan alat ortodontik fungsional Bionator. Perawatan setelah tiga bulan, secara klinis terlihat profil pasien terkoreksi, overjet berkurang, palatal bite hilang, dan open bite posterior.ABSTRACT: Treatment of dentoskeletal class II division I with mandibula retrussion using Bionator appliance. Malocclusion Class II division 1 dentosceletal followed with mandibular retrusion and contraction of arch could be happened by genetic and bad habit. It was showed with severe palatal bite and overjet. In the development and growth phase, the treatment for that condition is fuctional appliance, such as Bionator. Bionator arranged lower jaw to the good position and distraction the arch. The purpose of this case report is to present the treatment of malocclusion dentosceletal Class II division 1 with fuctional appliance Bionator. A 12 years old female patient complained of front upper teeth are protrusive. Diagnosis is malocclusion Class II division 1 dentosceletal followed with mandibular retrusion, bidental protrusive, palatal bite, contraction of jaw and malposition individual teeth. The patient treated with fuctional appliance Bionator. After 3 months treatment, patient`s profile corrected, decreased overjet, no palatal bite, and open bite posterior. 
Composite Flowable Fabricated (CFF) Sebagai Alternatif Bahan Pasak Gigi Paska Endodontik Fatmawati, Dwi Warna Aju
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali, menganalisis dan membandingkan pasak CCF (plastis) dengan pasak NiTi logam (rigid) sebagai alternatif pasak gigi paska perawatan endodontik yang biokompatibel. Penelitian ini menggunakan sampel elemen gigi insisif rahang atas yang telah disesuaikan dengan kriteria penelitian. Semua sampel gigi diberi perlakuan sesuai dengan kelompoknya. Prosedur kelompok pasak CCF yaitu dengan mengaplikasikan komposit flowable pada saluran akar gigi yang telah dilakukan pengambilan gutta-percha sedalam 2/3 panjang saluran akar dan menyisakan 1/3 gutta-percha di daerah apikal, sampai seluruh saluran akar dan ruang pulpa terisi penuh. Komposit flowable dilakukan penyinaran (curing LED) selama 20 detik. Perlakuan pada kelompok pasak NiTi sama seperti pada kelompok pasak CCF,bedanya pasak NiTi diinsersi menggunakan bahan luting semen ionomer kaca tipe 1. Selanjutnya semua sampel gigi baik yang prefabricated maupun fabricated dilakukan uji three bending point dengan pengaturan sesuai dengan standart ISO10477. Secara deskriptif nilai rerata kelompok pasak NiTi (stiffness = 115,30 N/mm; modulus elastisitas = 9,31 Gpa; flexural = 812 Gpa) lebih besar dari nilai rerata kelompok pasak CFF (stiffness = 35 N/mm; modulus elastisitas = 3,45 Gpa; flexural = 475,8 GPa) dan secara statistik hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antarapasak prefabricated (NiTi) dengan fabricated (CFF). Sehingga dapat disimpulkan bahwa walaupun secara deskriptif dan statistik ada perbedaan, namun bahan komposit flowable dapat dijadikan sebagai bahan pasak alternatif dan perlupenelitian lebih lanjut yang sesuai standar keberadaannya sebagai bahan pasak alternatif. ABSTRACT: Composite Flowable Fabricated (CFF) as Enddodontic Dental Post alternative. Composite Flowable Fabrcated (CFF). CFF is composite resin that viscous and plastic which used as material to enhance the retention and stability of post endodontic treatment and restoration materials. NiTi post is prefabricated post endodontic that the insertion needs luting material. This study was to explore, analyze, and compare CCF (plastic) and NiTi (rigid) postendodontic as alternative of post endodontic that is compatible. This study used element sample of maxillary incisive tooth. All of teeth sample was taken treatment that was appropriate with the groups. the procedure of CFF post group was to make application of flowable composite in root canal up to full that had been done taking of gutta percha as deep as 2/3 of root canal length and left 1/3 gutta percha in apical area. Flowable composite was cured by LEDfor 20 seconds. Treatment of NiTi post group was same with CCF post group, the different NiTi post was inserted using glass ionomer luting type 1. Furthermore all of tooth sample, prefabricated and fabricated, was tested by threebending point with ISO10477. The result showed that mean of NiTi post (stiffness= 115,30 N/mm; modulus elastisitas = 9,31 Gpa; flexural= 812 Gpa) was higher than CFF post (stiffness = 35 N/mm; modulus elastisitas = 3,45 Gpa; flexural= 475,8 GPa); and there was significant different between prefabricated (NiTi) dengan fabricated(CFF) post statistically. Although composite flowable can be used as alternative of post endodontic and needs further research that is suitable with standard of post materials.
Efektivitas Busur Multiloop Edgewise Pada Kasus Crowding Berat Disertai Palatal Bite Rasyid, Nolista Indah; Iman, Prihandini; Heryumani, Heryumani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mekanisme perawatan dengan Multiloop Edge Wise (MEAW) efisien dalam melakukan koreksi maloklusi berat dengan defleksi tekanan yang sangat rendah. Tujuan pemaparan kasus adalah evaluasi perawatan crowding berat disertai palatal bite menggunakan multiloop edgewise archwire. Seorang laki laki 15 tahun dengan maloklusi Angle kelas I tipe 1,4, skeletal kelas I dengan bimaksilari retrusif disertai bidental protrusif. Crowding berat pada regio anterior dan posterior serta palatal bite pada gigi 12, 11, 21, 22 terhadap 42, 41, 31, 32, scissor bite pada gigi 15 terhadap 45, overjet 6,21 mm dan overbite 6,04 mm. Bentuk lengkung gigi pada rahang atas parabola asimetri sedang pada rahang bawahomega asimetri. Lengkung gigi regio posterior mengalami kontraksi lateral dan lengkung gigi kearah anterior mengalami protraksi. Perawatan kasus dilakukan dengan menggunakan alat cekat teknik Edgewise dengan multiloop pada regio anterior dan posterior disertai pencabutan empat gigi premolar pertama. Hasil perawatan setelah 6 bulan menunjukkan crowding, palatal bite, dan scissor bite terkoreksi. Overjet menjadi 4,20 mm dan overbite 3,90 mm. Bentuk lengkung pada rahang atas dan rahang bawah menjadi parabola simetris. Jarak intermolar rahang atas bertambah sebesar 2,11 mm dan rahang bawah bertambah sebesar 1,22 mm. ABSTRACT: Effectiveness of multiloop edge wise arch in severe crowded case accompanied by palatal bite. MEAW appliance is a tehnique which is able to efficiently treat many cases including severe crowding with very low load deflection. The objectives of this study is to evaluate the treatment of severe crowding malocclusion with palatal bite using multiloop edgewise archwire. A 15 years old man with Angle class I type 1,4 malocclussion, class I sceletal with bimaxillary retrusion and bidental protusion. Severe crowding malocclusion in anterior and posterior region, palatal bite in 12, 11, 21, 22 to 42, 41, 31, 32, scissor bite in 15 to 45, overjet 6,21 mm and overbite 6,04 mm. asymmetry in both of dental arch, but the shape of the upper arch was parabola and lower arch was omega. Contraction of dental arch in posterior region and protraction in anterior region. This case was treated with extraction of four first premolar using multiloop edgewise arcwire tehnique, the loops were placed in anterior and posterior region. After six month of treatment the result showed that MEAW could correct severe crowding, palatal bite and scissor bite. Overjet became 4,20 mmand overbite became 3,90 mm. Shape of upper and lower dental arch became symmetric parabola. Upper intermolar increased 2,11 mm and lower intermolar 1,22 mm.
Efek Pemberian Ekstrak Lidah Buaya (Aloe Barbadensis Miller) pada Soket Gigi terhadap Kepadatan Serabut Kolagen Pasca Ekstraksi Gigi Marmut (Cavia Porcellus) Yuza, Fatma; Wahyudi, Ivan Arie; Larnani, Sri
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tindakan ekstraksi gigi menyebabkan terjadinya luka sehingga akan melibatkan proses penyembuhan luka padajaringan. Salah satu tahap penting dari proses penyembuhan luka pasca esktraksi gigi adalah terbentuknya serabutkolagen. Lidah buaya (Aloe barbadensis Miller) mengandung saponin, vitamin C dan acemannan yang diduga membantuproses pembentukan serabut kolagen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak lidah buayaterhadap kepadatan serabut kolagen pada proses penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi marmut (Cavia porcellus).Lidah buaya yang digunakan berasal dari Sleman, Yogyakarta. Pembuatan ekstrak menggunakan metode maserasidan pelarut air. Selanjutnya, dua puluh tujuh ekor marmut dibagi ke dalam kelompok kontrol dan kelompok perlakuan.Kelompok perlakuan terdiri dari kelompok ekstrak lidah buaya 45% dan 90%. Ekstrak lidah buaya sebanyak 0,05mlditeteskan kedalam soket gigi marmut pasca ekstraksi gigi pada kelompok perlakuan. Soket gigi marmut kelompokkontrol tidak diberi aplikasi zat aktif apapun. Tiga ekor subjek dari masing-masing kelompok dikorbankan pada hari ke-3,7, dan 14 setelah ekstraksi gigi. Preparat histologis kepadatan kolagen soket gigi marmut diamati dengan menggunakanmikroskop cahaya perbesaran 400x. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkandengan uji Post Hoc menggunakan uji Mann-Whitney untuk membandingkan kepadatan kolagen antar kelompok pascaekstraksi gigi marmut. Hasil uji statistik antar kelompok menunjukkan bahwa ekstrak lidah buaya 90% berpengaruh padapembentukan serabut kolagen jika dibandingkan dengan kelompok kontrol (p<0,05) pada hari ke-7 pasca ekstraksigigi marmut. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak lidah buaya 90% dapat membantu meningkatkan kepadatanserabut kolagen soket gigi hari ke-7 pasca ekstraksi gigi marmut. ABSTRACT: The Effect of Aloe Barbadensis Miller Extract to The Density of Collagen Fibers in The WoundHealing Process after Tooth Extraction of Guinea Pig (Cavia porcellus). Tooth extraction causes wound that wouldinvolve wound healing process on tissue. One of the important stages of wound healing process after dental extractionis the formation of collagen fibers. Aloe barbadensis Miller contains saponins, vitamin C and ace mannan that allegedlyassist the process of collagen fibers formation. The purpose of this study was to determine the effect of Aloe barbadensisMiller extract to the density of collagen fibers in the wound healing process after tooth extraction of guinea pig (Caviaporcellus). Aloe vera is used in this study came from Sleman, Yogyakarta. Extract is made with maceration method andwater as the solvent. Furthermore, twenty-seven guinea pigs were divided into a control group and treatment groups.The treatment groups consisted 45% Aloe barbadensis Miller extract group and 90% Aloe barbadensis Miller extractgroup. Aloe barbadensis Miller extract as much as 0.05 ml dropped into guinea pigs tooth sockets after tooth extractionin the treatment groups. Guinea pig’s tooth socket of the control group was not given any active substance. Three guineapigs of each group were sacrificed on day 3, 7, and 14 after tooth extraction. Histology preparations of guinea pig teethsockets density of collagen were observed using light microscope 400x magnification. Analyzing data is done by Kruskal-Wallis test followed by Post Hoc test using the Mann-Whitney test for comparing collagen density between groups.Statistically results between groups showed that the extract of 90% Aloe barbadensis Miller affected the formation ofcollagen fibers when compared to the control group (p <0.05) on day 7 after tooth extraction of guinea pig. The conclusionof this study was 90% Aloe barbadensis Miller extract increased the density of collagen fibers from the tooth socket sevendays after tooth extraction of guinea pig.
Root Canal Retreatment menggunakan Kombinasi Kalsium Hidroksida dan Chlorhexidine sebagai Medikamen Intra Kanal Insisivus Sentral Kiri Maksila Sari, Andina Novita; Untara, Tri Endro
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Enterococcus faecalis adalah bakteri yang paling banyak terdapat pada infeksi saluran akar yang telah dirawat endodontik. Chlorhexidine mempunyai daya anti bakteri spektrum luas dan telah digunakan dalam endodontik sebagai bahan irigasi maupun medikasi intrakanal. Chlorhexidine mempunyai efek bakterisidal dan fungisidal karena chlorhexidine diserap ke dalam permukaan sel bakteri dan menyebabkan rusaknya integritas sel membran. Kalsium hidroksida digunakan karena mempunyai keuntungan seperti biokompatibel, bahan antimikroba dengan efek pH yang tinggi dan stimulasi jaringan keras. Campuran kalsium hidroksida dan chlorhexidine digunakan untuk alternatif melawan bakteri Enterococcus faecalis. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk melaporkan kesuksesan perawatan saluran akar ulang pada gigi incisivus sentral kiri maksila dengan periodontitis periapikal akut menggunakan kombinasi kalsium hidroksida dan chlorhexidine sebagai medikamen intrakanal. Seorang pasien wanita 24 tahun datang dengan keluhan gigi insisivus sentral kiri atas yang terasa sakit sejak 4 tahun yang lalu. Gigi terasa sakit saat diperkusi, namun palpasi dan mobilitas normal. Gigi tersebut mengalami trauma dan patah 6 tahun yang lalu dan telah dilakukan perawatan endodontik. Pemeriksaan radiografi menunjukkan obturasi gigi 21 yang tidak hermetis dengan radiolusensi di periapikal dengan batas difus, pelebaran ligamen periodontal dan terputusnya lamina dura. Perawatan berupa perawatan saluran akar ulang menggunakan kombinasi kalsium hidroksida dan chlorhexidine sebagai medikamen intrakanal. Root canalretreatment dengan cleaning dan shaping ulang yang baik dengan menggunakan medikasi intrakanal berupa kombinasi kalsium hidroksida dan chlorhexidine 2% diharapkan mempunyai efek antimikroba yang sinergis untuk mencapai kesuksesan root canal retreatment. ABSTRACT: Root Canal Retreatment Using Calcium Hydroxide as Intra Canal Medicament On The Maxillary Left Incisor. Enterococcus faecalis bacteria is most abundant in the root canal infection treated endodontically. Chlorhexidine has a broad antibacterial spectrum and has been used as an endodontic irrigant and intracanal medication. Chlorhexidine has a bactericidal and fungicidal effect as chlorhexidine absorbed into the bacterial cell surface and cause damage to the integrity of the cell membrane. Calcium hydroxide is a biocompatible, antimicrobial agents with high pH effects and stimulates hard tissue formation. A mixture of calcium hydroxide and chlorhexidine is used to control bacteriaEnterococcus faecalis alternative. The purpose of this case report is to report on the success of root canal treatment in the left maxillary central incisor with acute periapical periodontitis using a combination of calcium hydroxide andchlorhexidine as intracanal A 24 years old female patient presents with left upper central incisor tooth ache since 4 years ago. The tooth was hurt to percussion, but normal to pulpation as well as the mobility. The tooth has a history of previous trauma and broken 6 years ago and has performed endodontic treatment. Radiographic examination showed obturation teeth 21 are not hermetic with periapical radiolucency in diffuse boundaries, widening of the periodontal ligament and the dissolution of the lamina dura. Root canal re-treatment using a combination of calcium hydroxide and chlorhexidine as intracanal medicaments were performed. In conclussion, the root canal cleaning and shaping retreatment can be performed using a combination of calcium hydroxide and chlorhexidine as intracanal medication.

Page 1 of 4 | Total Record : 31