Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue " Vol 20, No 2 (2013): December" : 17 Documents clear
Hubungan Retraksi Gigi Anterior dengan Bentuk Bibir pada Perawatan Protrusif Bimaksilar dengan Teknik Begg Prima, Francisca; Iman, Prihandini; Sutantyo, Darmawan
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.7676

Abstract

Perubahan pada jaringan keras di daerah sepertiga wajah bagian bawah membawa perubahan pada jaringan lunak di atasnya. Pergerakan pada gigi anterior akan mempengaruhi bentuk bibir yang melekat langsung pada gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perubahanposisi gigi anterior dengan perubahan bentuk bibir atas dan bibir bawah setelah perawatan ortodontik pada maloklusi protrusif bimaksilar dengan teknik Begg pada orang dewasa Jawa. Penelitian dilakukan pada 17 pasang sefalogram lateral pasien berumur 18-35 tahun dengan protrusif bimaksilar sebelum dan sesudah perawatan. Masing-masing sefalogram diukur perubahan pada posisi gigi anterior yaitu jarak yang diukur dari tepi insisal gigi anterior ke garis referensi yang ditarik dari sella dan perubahan pada bibir atas dan bawah yaitu ketebalan dan panjang bibir. Data perubahan pada  posisi gigi anterior dan perubahan pada bibir dianalisis dengan uji korelasi product moment Pearson dan analisis regresi. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi bermakna antara perubahan posisi gigi anterior dengan perubahan ketebalan dan panjang bibir.Ketebalan bibir atas dan bibir bawah bertambah secara bermakna ( P<0,05). Panjang bibir atas dan bibir bawah juga bertambah secara bermakna (P<0,05).Kesimpulan dari penelitian dijumpai bahwa retraksi gigi anterior atas dan bawah pada perawatan protrusif bimaksilar akan diikuti oleh pertambahan ketebalan dan panjang bibir atas dan bibir bawah.The Relationship Between Anterior Teeth Retraction with The Lip Shape During Treatment on Bimaxillary Protrusion Using Begg Technique. The changes of hard tissue at the third lower area of the face affect the changes of the soft tissue. The movement of the anterior teeth influences lip shape which is in direct contact with these.This research aims to determine the relationship between the change of anterior teeth position and the change of upper and lower lips after orthodontic treatment on bimaxillary dental protrusion with Begg technique in adult Javanese. The research was conducted to 17 pairs of lateral setalogram on patients aged 18 to 35 with bimaxilar protrusion after and before treatment. Each setelogram measured the change of anterior teeth position (measured as the horizontal distance from the incisal tip to a constructed vertical to sella) and the change of upper and lower lips (measured as thickness and length of the lips). Data on anterior teeth position changes and lips changes were analysed using Pearson product moment correlation test and regression analysis. The result showed that there was a positive correlation between the change of anterior teeth position and the change in thickness and length of the upper and lower lips. The thickness of the upper and lower lips increased significantly (p<0,05). The length of upper and lower lips increased significantly too (p<0,05). Based on the research, it is concluded that treatment for on bimaxillary protrusion with Begg technique on the upper and lower anterior teeth retraction increases the thickness and length of upper and lower lips
Indeks Subjek Subjek, Indeks
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AAggregatibacter Actinomycetemcomitans; 9 – 13Alat Cekat Begg; 199-207Apeksifikasi; 170-177Apikal Terbuka; 170-177
Perawatan Maloklusi Kelas III dengan Hubungan Skeletal Kelas III disertai Makroglosia Menggunakan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Setyowati, Pratiwi; Ardhana, Wayan
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.7963

Abstract

Maloklusi merupakan penyimpangan letak gigi dari keadaan normal. Maloklusi dapat terjadi karena penyimpangan dental, skeletal atau kombinasi keduanya yang dapat mengakibatkan fungsi dan estetika wajah terganggu. Maloklusi kelas III muncul apabila gigi-gigi rahang bawah beroklusi lebih ke mesial dari relasi normalnya. Kasus kelas III dapat dikategorikan sebagai akibat dari maksila yang retrusi dari mandibula. Maloklusi kelas III skeletal dibagi menjadi dua yaitu maloklusi pseudo kelas III dengan mandibula normal namun maksila kurang berkembang dan maloklusi skeletal kelas III dengan mandibula yang besar. Perawatan ortodontik teknik Begg dapat digunakan untuk merawat semua jenis kasus maloklusi. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menyajikan hasil perawatan ortodontik dengan teknik Begg pada kasus maloklusi Angle klas III dengan hubungan skeletal klas III disertai makroglosia. Pasien laki-laki umur 21 tahun mengeluhkan gigi depan yang tidak rapi dan renggang. Diagnosis: Maloklusi Angle Klas III, hubungan skeletal klas III; retrognatik maxilla dan protrusif   mandibula; bidental protrusif; spacing anterior; edge to edge bite; cup to cup bite 15 terhadap 45; open bite; cross bite 12, 13 terhadap 42, 43; pergeseran garis tengah rahang atas ke kiri sebesar 2,2 mm; makroglosia. Pasien dirawat menggunakan alat cekat teknik Begg tanpa pencabutan. Kesimpulan dari hasil perawatan menunjukkan jarak gigit, tumpang gigit, cup to cup bite, cross bite, dan open bite terkoreksi. Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 184-191.
Peningkatan Jumlah Mikronukleus pada Mukosa Gingiva Kelinci Setelah Paparan Radiografi Panoramik Shantiningsih, Rurie Ratna; Suwaldi, Suwaldi; Astuti, Indwiani; Mudjosemedi, Munakhir
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.6738

Abstract

Mikronukleus merupakan salah satu tanda awal terjadinya kerusakan DNA yang ditemukan pada mukosa gingiva manusia setelah paparan radiografi dental panoramik. Peningkatan jumlah mikronukleus terjadi paling tinggi pada hari ke-10 dan selanjutnya mengalami penurunan sampai dengan hari ke-14. Kelinci memiliki karakter dan periode turn-over mukosa gingiva yang hampir sama dengan manusia berkisar antara 10-12 hari. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi apakah peningkatan jumlah mikronukleus pada mukosa gingiva kelinci setelah paparan radiografi panoramik. Sembilan ekor kelinci dibagi menjadi 3 kelompok untuk mewakili hari ke-3, 6 dan 9 setelah paparan radiografi panoramik. Sebelum dan sesudah diberikan paparan radiografi panoramik, setiap hewan coba dilakukan apusan pada mukosa gingiva anterior rahang bawah menggunakan cervical brush. Hasil apusan dilakukan pewarnaan dengan modifikasi Feulgen-Rossenbeck dan dihitung jumlah mikronukleus menggunakan mikroskop yang disambungkan dengan optilab. Analisis statistik dilakukan menggunakan paired t-test. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara jumlah mikronukleus sebelum dan 9 hari sesudah paparan radiografi panoramik. Akan tetapi tidak ditemukan perbedaan yang signifikan (p>0,05) antara sebelum paparan dibandingkan hari ke-3 dan ke-6 setelah paparan radiografi panoramik. Kesimpulang dari hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya pada manusia bahwa peningkatan jumlah mikronukleus terjadi pada hari ke-9 setelah paparan radiografi panoramik. Hasil ini mengindikasikan bahwa pada kelinci juga menunjukkan peningkatan jumlah mikronukleus di mukosa gingiva akibat paparan radiografi panoramik.Micronucleus Increase After Panoramic Radiography Exposure In Rabbit’s Gingival Mucosa. Micronucleus is one of the early states of DNA damage found in human gingival mucosa after dental panoramic radiography exposure. The increasing amount of micronucleus will reach a peak in the tenth day after the exposure, and it will continuously decrease right after the fourteenth day. Rabbit has almost the same gingival mucosa and turn-over period with human for about 10-12 days. The purpose of this research is to evaluate the increasing amount of micronucleus in rabbit’s gingival mucosa after panoramic radiography exposure. A total of nine New Zealand rabbits were divided into 3 groups to represent day of 3rd, 6th  and 9th after the panoramic radiography exposure. The mandibular anterior gingival mucosa of each animals was swabbed using a cervical brush before and after panoramic radiography exposure. The samples were stained with Feulgen-Rossenbeck modification, and the amount of micronucleus was counted using a microscope that is connected to Optilab. Statistical analysis was performed using paired t-test. The statistical analysis showed that there was significant difference (p <0.05) between the number of micronucleus before exposure and 9th day after panoramic radiography exposure. Moreover, there was no significant difference (p> 0.05) between the amount of micronucleus before exposure compared with 3rd  and 6th  day after panoramic radiography exposure. Based on the experiment, it is concluded that the result is consistent with previous studies conducted in human that there was increasing amount of micronucleus at the 9th  day after panoramic radiography exposure. This result   indicates that rabbit   performs the increasing amount of micronucleus in gingival mucosa because of panoramic radiography exposure
Perawatan Maloklusi Klas II Divisi 1 Disertai Crowding dan Openbite menggunakan Teknik Begg Winarti, Heri Susilo; Pudyani, Pinandi Sri; Hardjono, Soekarsono; Suparwitri, Sri
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.8163

Abstract

Maloklusi Angle Klas II divisi I dapat disertai dengan crowding, open bite dan deep bite. Tujuan perawatan adalah untuk mengoreksi crowding, open bite anterior, diastemata rahang bawah, memperoleh overjet dan overbite normal, serta hubungan oklusal yang stabil. Pasien laki-laki berumur 19 tahun, dengan keluhan gigi-gigi rahang atas berjejal dan maju sehingga sulit menutup mulut, serta gigi-gigi rahang bawah renggang. Pasien didiagnosis Maloklusi Angle klas II divisi I dengan hubungan skeletal klas II disetai open bite, crowding dan protrusif gigi-gigi anterior rahang atas,  diastemata gigi-gigi rahang bawah, molar pertama bawah kanan dan kiri telah dicabut, dan impaksi gigi kaninus kanan bawah. Perawatan menggunakan teknik Begg yang diawali dengan pencabutan kedua gigi premolar pertama rahang atas. Tahap pertama perawatan menggunakan multiloop arch wire 0,014” dan elastik intermaksiler klas II. Kesimpulan dari hasil perawatan setelah 16 bulan, crowding dan open bite anterior terkoreksi, diastemata menutup, dan pasien sudah tidak kesulitan dalam menutup mulut. Pasien masih dalam tahap  penyelesaian perawatan.
Intrusi Berat dengan Keterlibatan Multipel Gigi Insisivus Maksila akibat Trauma pada Anak Priyatama, Andhika; Rahajoe, Poerwati Soetji; Rahardjo, Rahardjo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.7677

Abstract

Trauma gigi anak merupakan kasus yang sering dijumpai. Intrusi gigi merupakan salah satu akibat trauma berupa perpindahan gigi ke dalam soket alveolaris. Intrusi gigi permanen anak dengan pertumbuhan akar sempurna perlu segera ditangani untuk menghindari kerusakan permanen gigi dan jaringan pendukung. Reposisi secara bedah dipilih dengan pertimbangan kondisi umum, lama kejadian, keparahan dislokasi, kondisi mahkota dan pertumbuhan akar. Tujuan laporan ini adalah melaporkan keberhasilan pembedahan pada kasus fraktur dentoalveolar dengan multipel gigi intrusi. Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun datang ke RSGM Prof. Soedomo dengan keluhan gigi masuk ke langit-langit setelah terjatuh kurang lebih 30 menit sebelum kedatangan. Keadaan umum baik, compos mentis,  GCS 15, tanda vital normal, rasa sakit pada gigi atas (VAS = 7), tidak dicurigai cedera kepala atau trauma di tempat lain. Pemeriksaan klinis menunjukkan vulnus laceratum pada gingiva anterior maksila, empat gigi incisivus maksila (12,11, 21, 22) mengalami intrusi. Gigi insisivus sentral dan lateral kanan terlihat sepertiga mahkota, gigi insisivus sentral dan lateral kiri mahkota tidak tampak. Pemeriksaan radiografis menunjukkan intrusi gigi insisivus maksila dengan kedalaman lebih dari 7 milimeter, akar gigi telah tumbuh sempurna, dan tidak terdapat fraktur akar, fraktur mahkota maupun fraktur rahang. Tindakan yang dilakukan adalah reposisi gigi intrusi dan fiksasi interdental maksila. Perawatan bedah dan fiksasi interdental memberikan hasil yang sangat  baik. Hasil kontrol pasca perawatan didapatkan oklusi normal, pasien mampu membuka dan menutup mulut tanpa ada gangguan, gigi-gigi intrusi dalam kondisi vital, mastikasi normal, dan estetika baik.Severe Traumatic Intrusions of Multiple Maxillary Incisors In Children. Dental trauma is one of the most common traumas during childhood. The report will discuss about a treatment of multiple severe traumatically  intruded maxillary incisors in children. A 10-year-old boy came to Prof. Soedomo Dental Hospital with a complaint of teeth intrusion after having accident in school thirty minutes before. The patient was in good general condition, compos mentis, the GCS score was 15, vital sign was normal, pain on anterior maxillary teeth (VAS was 7), no head injury or other traumas. The clinical examination showed that there was vulnus laceratum on maxillary gingival, and intrusion of the four maxillary incisors (12, 11, 21, 22). Only one-third crown of the right maxillary incisors was visible, meanwhile, the crowns of the left maxillary incisors were totally invisible. The supporting radiographic examination showed that the four maxillary incisors was apically intruded with more than seven millimeters in depth. The teeth’s root were well-developed (complete root formation), no fractures of the teeth’s root, crown, and the jaw. The patient underwent intruded teeth repositioning surgical treatment and maxillary inter dental fixation. Clinical evaluation (1 month and 2 months) after the treatments showed that the occlusion was achieved as the same as before the trauma. The patient was able to open and close the mouth normally without functional impairments. Furthermore, the intruded teeth were in a vital condition, no mastication pain, and with a good aesthetics.
Perawatan Maloklusi Klas III Skeletal disertai Open Bite dengan Teknik Begg Anggaraeni, Putu Ika; Suparwitri, Sri; H, Soekarsono; SP, Pinandi
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.7974

Abstract

Overjet negatif pada maloklusi klas III dapat terjadi karena penyimpangan hubungan incisivus atas dan bawah, adanya malrelasi antara maksila dan mandibula, atau kombinasi keduanya. Maloklusi klas III dapat disertai dengan crowding, deep bite, maupun open bite. Tujuan perawatan adalah untuk mengoreksi cross bite dan open bite, memperoleh overjet dan overbite normal serta hubungan oklusal yang stabil. Pasien laki-laki usia 15 tahun dengan maloklusi Angle klas III dan relasi skeletal klas III, mandibula protrusif, cross bite anterior (overjet -3 mm), open bite 12-22 terhadap 43-34, cross bite posterior bilateral, dan pergeseran garis tengah inter incisivus rahang bawah kekanan 0,7 mm. Perawatan ortodontik dilakukan dengan alat cekat teknik Begg, diawali dengan pencabutan gigi 34 dan 44 serta grinding gigi anterior rahang atas. Elastik intermaksiler klas III, elastik cross posterior, dan elastik vertikal digunakan untuk koreksi cross bite anterior dan posterior serta open bite. Kesimpulan dari hasil perawatan dengan teknik Begg, cross bite anterior dan posterior serta open bite terkoreksi (overjet 2 mm dan overbite 2 mm). Garis tengah inter incisivus rahang bawah dan rahang atas sejajar dengan garis tengah wajah. Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 192-198.
Pengaruh Ekstrak Kulit Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia Swingle) Konsentrasi 10% Terhadap Aktivitas Enzim Glukosiltransferase Streptococcus mutans U, Zenia Adindaputri; Purwanti, Nunuk; Wahyudi, Ivan Arie
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.6803

Abstract

Streptococcus mutans merupakan bakteri yang berperan sebagai agen utama penyebab karies gigi, yang memiliki enzim glukosiltransferase (GTF). Enzim GTF akan mengubah sukrosa menjadi fruktosa dan glukan. Salah satu herbal tradisional yang dapat berperan sebagai antibakteri adalah kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) yang mengandung polifenol terutama flavonoid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) konsentrasi 10% terhadap aktivitas enzim GTF Streptococcus mutans. Penelitian ini menggunakan ekstrak kulit jeruk nipis konsentrasi 10% sebagai perlakuan, chlorhexidine gluconate 0,12% sebagai kontrol positif, serta akuades steril sebagai kontrol negatif. Metode penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu penyiapan ekstrak kulit jeruk nipis konsentrasi 10%, penyiapan enzim GTF dari supernatan Streptococcus mutans, dan pengujian aktivitas enzim GTF melalui analisis konsentrasi fruktosa dengan menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Pembacaan luas area fruktosa dilakukan berdasarkan waktu retensi. Satu unit aktivitas enzim GTF di definisikan sebagai 1 µmol fruktosa/ml dari enzim/jam. Selanjutnya data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan one way ANOVA.Hasil perhitungan aktivitas enzim GTF dengan one way ANOVA menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol negatif (p<0,05), dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dengan kontrol positif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak kulit jeruk nipis konsentrasi 10% dapat menghambat aktivitas enzim glukosiltransferase Streptococcus mutans. The Influence of 10% Concentrate of Citrus Aurantifolia Swingle on The Activities of Streptococcus Mutans Glucocyl Transferase Enzyme. Streptococcus mutans is a bacteria which has glucosyl transferase (GTF) enzyme and acts as the main agent that causes dental caries. GTF enzyme will convert sucrose into fructose and glucan. Lime peel (Citrus aurantifolia Swingle) is one of the traditional herbs which has flavonoid as an antibacterial agent. The purpose of this research is to investigate the effect of 10% concentration of lime peel extract (Citrus aurantifolia Swingle) to the activity of GTF enzyme Streptococcus mutans.This research used 10% concentration of  lime peel extract as the treatment, 0.12% chlorhexidine gluconate as a positive control, and distillate water as anegative control. The method of this research consists of three steps; preparing the lime peel extract concentration of 10%, preparing the GTF enzyme from the supernatant of Streptococcus mutans, and testing GTF enzyme activity by analyzing the fructose concentration using High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Perusal of the fructose area was based on the retention time of fructose. One unit of GTF enzyme activity is defined as the 1 μmol fructose / ml of enzyme / hour.  The obtained data then were analyzed by one way ANOVA. The result showed a significant difference between treatment group with the negative control (p <0.05), and there are no significant difference with the positive control. This research concludes that 10% lime peel extract can inhibit the GTF enzyme activity of Streptococcus mutans.
Perawatan Maloklusi Kelas I Bimaksiler Protrusi disertai Gigi Berdesakan dan Pergeseran Midline menggunakan Teknik Begg Rahmawati, Erna; Hardjono, Soekarsono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.8164

Abstract

Maloklusi Angle kelas I  dengan bimaksiler protrusi merupakan maloklusi yang paling sering dijumpai. Kelainan yang banyak menyertai maloklusi kelas I bimaksiler protrusi adalah gigi depan berdesakan dan pergeseran midline.  Adanya persepsi negatif di masyarakat terhadap gigi dan bibir yang protrusi mendorong pasien untuk melakukan perawatan ortodontik. Perawatan pada kasus ini bertujuan untuk  mengurangi kecembungan wajah dengan meretraksi gigi anterior atas maupun bawah, mengoreksi midline rahang atas dan bawah serta gigi berdesakan anterior dengan perawatan ortodontik teknik Begg sehingga dapat memperbaiki estetik wajah.  Pasien wanita usia  34 tahun mengeluhkan gigi depan atas dan bawah sangat berdesakan dan pasien mengalami  kesulitan dalam menutup mulut. Diagnosis pasien adalah Maloklusi Angle kelas I dengan bimaksiler protrusi disertai gigi berdesakan anterior, pergeseran midline rahang atas dan rahang bawah. Pasien dirawat menggunakan alat cekat teknik Begg. Sebelum perawatan dilakukan pencabutan gigi premolar pertama rahang bawah kanan dan kiri dan rahang atas kanan. Pada rahang atas kiri dilakukan pencabutan gigi insisivus lateral yang berada diluar lengkung. Kesimpulan perawatan setelah 2 tahun terlihat bimaksiler protrusi, gigi berdesakan anterior dan midline terkoreksi.
Penatalaksanaan Fraktur Kompleks Zygomatikomaksilaris Sinistra dengan Miniplate Osteosynthesis Bernado, Pedro; Prihartiningsih, Prihartiningsih; Hasan, Cahya Yustisia
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.7954

Abstract

Wajah terletak lebih ke anterior secara anatomis oleh sebab itu mudah mendapatkan trauma. Os Zigoma merupakan tulang yang menonjol pada wajah dan akan menahan gaya bentur terbesar pada wajah. Tulisan ini melaporkan penatalaksanan fraktur kompleks  zigomatikomaksilaris sinistra dengan miniplate osteosynthesis.Seorang laki-laki 22 tahun dirujuk ke Bagian Bedah Mulut RSUP Dr Sardjito dengan riwayat kecelakaan lalulintas tiga minggu sebelum masuk RS. Pasien mengeluh daerah pipi kiri terasa tebal dan dirasa lebih datar dari pipi kanan. Pemeriksaan klinis terdapat parestesi nervus infraorbita sinistra, displace tulang daerah infraorbital rim sinistra, diskontinuitas regio sinus maksilaris sinistra.  Radiografis CT axial dan koronal serta CT Scan 3D tampak fraktur melibatkan infraorbital rim sinistra, fraktur sinus maksila sinistra, fraktur pada sutura zigomaticofrontalis dan pada sutura zigomatikotemporalis. Penatalaksanaannya dilakukan open reduction internal fixation (ORIF) fraktur kompleks zigomatikomaksilaris dengan miniplate osteosynthesis di bawah anestesi umum. Pasca operasi gejala parestesi berangsur- angsur berkurang, defek infraorbital rim terkoreksi dan pipi kiri tampak kembali prominen. Prognosis kasus ini dubia ad bonam. ORIF dengan miniplate osteosynthesis dapat memulihkan deformitas wajah dengan hasil malar eminensia kembali prominen dan membuat kondisi dekompresi nervus infraorbita sinistra yang mendukung proses pemulihan sensorisnya.Management of Zygomaticomaxillaris Sinistra Complex Fractures with Osteosynthesis Miniplate. Face lies in a prominent position so that this area is often susceptible to trauma. Os zygomaticum is an area that holds the heaviest impact on facial trauma. This paper reports one case about zygomaticomaxillary complex fractures management with miniplate osteosynthesis. A 22 years old man was referred to the Department of Oral Surgery Dr Sardjito Hospital with a history of traffic accident three weeks before admission. He felt that his left cheek was thick and flatter than the right one. Clinical examination found that the left infraorbita nerve was paresthesized, the bone on the left infraorbital rim region was displaced and the left maxillary sinus region was discontinued. Radiography examination using CT axial and coronal, and 3D CT scan showed  both of the left infraorbital rim and maxillary sinus were fractured, as well as the zygomaticotemporalis suture and the zygomaticofrontalis suture. An Open Reduction Internal Fixation (ORIF) of the zygomaticomaxillary complex fractures with miniplate osteosynthesis was performed under  general  anesthesia. The  result  showed  that  the  postoperative paresthesia  symptoms  were  gradually  diminished,  the infraorbital rim defects were corrected and the prominent left cheek was recontructed. The prognosis was dubia ad bonam. It can be concluded that ORIF with miniplate osteosynthesis reconstructs the facial deformity, recovers the malar eminence prominency. The nerves decompression will favor the recovery process of the left infraorbita sensory

Page 1 of 2 | Total Record : 17