Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -
Articles 34 Documents
Search results for , issue " Vol 20, No 1 (2013)" : 34 Documents clear
Pengambilan Lentulo Patah Pada Perawatan Saluran Akar Gigi Molar Satu Kiri Bawah Nekrosis Pulpa Syafri, Muhammad; Nugraheni, Tunjung
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama prosedur preparasi saluran akar, kemungkinan patahnya instrumen selalu ada. Saat ini instrumen yang patah dapat dikeluarkan dengan menggunakan alat ultrasonik seperti jarum Miller yang dihubungkan dengan tip ultrasonik endo, selain itu diperlukan juga akses dan visibilitas yang baik sehingga memudahkan operator untuk mengeluarkan instrumen yang patah tersebut. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk melaporkan keberhasilan pengambilan  lentulo patah di dalam saluran akar menggunakan jarum miller yang dihubungkan dengan tip ultrasonik endo dikombinasikan dengan hedstroem no 25. Dalam makalah ini dilaporkan satu kasus perawatan saluran akar gigi molar satu kiri bawah pulpitis irreversibel pada pasien wanita 20 tahun, namun terjadi patah lentulo saat pengaplikasian bahan sterilisasi saluran akar. Pengambilan lentulo berhasil dilakukan pada kunjungan kedua dengan menggunakan jarum miller yang dihubungkan dengan tip ultrasonik endo serta hedstroem file no 25. Visibilitas didapatkan dengan melakukan coronal flaring menggunakan heroshaper dari mikro mega yang dihubungkan dengan alat rotary. Setelah 1 minggu, gigi diobturasi dengan teknik single cone pada saluran akar distal dan teknik kondensasi lateral pada saluran akar mesiobukal dan mesiolingual. Pada kunjungan berikutnya, gigi direstorasi dengan resin komposit disertai pasak dentatus screw. Setelah 2 bulan diamati secara radiografis dan klinis, tidak ada keluhan dari pasien.ABSTRACT: Broken Lentulo Removal During Root Canal Treatment On The First Molar Mandible Sinistra With Pulp Necrosis. During root canal preparation procedure, there is always potential for instrument breakage. Nowadays, broken instruments can be removed using ultrasonic instruments such as a needle miller connected to endo ultrasonic tip, but it needs good access and visibility in order to make it easier for the operator to remove the broken instruments. The aim of this case report is to present the successful removal of a broken lentulo left in a root canal by using smooth broach connected to a ultrasonic endo tip combined with an hedstroem file no 25. This paper reports a case of molar root canal treatment of the lower left irreversible pulpitis in 20 year-old female patient, but the incident of broken lentulo occured while applying root canal medicament. The effort to remove lentulo was successful on the second visits using a needle miller connected to endo ultrasonic tip and headstrom file no 25. Visibility was obtained by using a coronal flaring of micro mega hero shaper associated with the rotary tool. In the following week, the teeth was obturated with single cone technique on the distal root canal applying the lateral condensation technique on mesiolingual and mesiobuccal root canal. In the next visit, the teeth were restored with composite resin with dowel dentatus screw. After 2 months of being observed radiographically and clinically, there is no more complaint from the patient
Pengaruh Ritma Circadian Terhadap Produksi Volatile Sulfur Compounds (VSC) Oral Supriatno, Supriatno
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Volatile sulfur compounds (VSCs) oral dihasilkan dari produk putrifikasi mikroba gas hidrogen sulfida (H2S), metil merkaptan (CH3SH) dan dimetil sulfida [(CH3)2S] yang merupakan gas utama penyebab halitosis. Ritma circadian mempunyai pengaruh terhadap fungsi beberapa organ tubuh termasuk sekresi saliva, produksi hormon, fungsi sistem tubuh, dan aktivitas mikroorganisma. Penelitian bertujuan menguji pengaruh ritma circadian terhadap produksi VSC oral yang diukur menggunakan OralChroma portable. Penelitian dilakukan dengan mengukur gas VSC individu yang sama pada pagi, siang dan malam hari di laboratorium riset terpadu FKG UGM. Hasil pengukuran H2S, CH3SH dan (CH3)2S diuji menggunakan analisis statistik Anava dua jalur dilanjutkan uji LSD dan uji korelasi Pearson dengan derajat kemaknaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang sangat bermakna antara produksi gas H2S, CH3SH dan (CH3)2S dengan waktu pengukuran (efek circadian) (p=0,000). Perbedaan sangat bermakna diketahui pula pada pengukuran gas H2S dan (CH3)2S antara pagi, siang dan malam (p=0,01 dan p= 0,00), serta pengukuran gas CH3SH siang dan malam (p=0,006), tetapi tidak pada CH3SH pagi hari (p=0,061). Produksi gas H2S tertinggi diketahui pada pagi hari (mean 1,198 ng/10 ml, CH3SH pada malam hari (mean 0,099 ng/10 ml), dan (CH3)2S pada siang hari (mean 1,216 ng/10 ml). Kekuatan hubungan pengukuran antara ke tiga gas dengan efek circadian diketahui sebesar r=0,738. Disimpulkan bahwa ritma circadian berpengaruh terhadap produksi VSCs oral. Produksi gas H2S dan (CH3)2S berbeda antara pagi, siang dan malam hari, sedangkan produksi gas CH3SH berbeda hanya pengukuran siang dan malam hari. Produksi gas H2S tertinggi diketahui pada pagi hari, gas CH3SH pada malam hari, dan gas (CH3)2S pada siang hari. Maj Ked Gi. Juni 2013; 20(1): 14 - 20.ABSTRACT: The Effect Of Circadian Rhythm To Oral Volatile Sulfur Compounds Production. Oral volatile sulfur compound (VSC) is produced from microbial purification of hydrogen sulfide (H2S), methyl mercaptan (CH3SH) and dimethyl sulfide [(CH32S] gases. They are the main gases that cause halitosis. Circadian rhythm influenced the function of several organs of the human body including salivary secretion, hormone production, the body’s systems function, and activity of microorganisms.The purpose of this research is to examine the influence of circadian rhythm to oral VSC production measured by using a portable Oral Chroma. The research was carried-out by measuring the individual VSC gases in the morning, afternoon and evening at the integrated research laboratory, Faculty of Dentistry, UGM. Gases of H2S, CH3SH and (CH3)2S were tested by two-way ANOVA followed by Post-hoc LSD and Pearson correlation test with 95% significance level. The results showed the positive significant differences among the production of H2S, CH3SH and (CH3)2S with circadian time (p=0.000). Highly significant difference was also detected in amount of H2S and (CH3)2S gases in the morning, afternoon and evening (p=0.01 and p=0.00), as well as the amount of CH3SH gas in the afternoon and night (p=0.006), but not in amount of CH3SH gas in the morning (p=0.061). The highest production of H2S gas was known in the morning (mean 1.198 ng/10 ml), CH3SH gas was detected in the night (mean 0.099 ng/10 ml), and (CH3)2S gas was observed in the afternoon (mean 1.216 ng/10 ml). The strength of relationship among amount of three gases with circadian effects was r = 0.738. It is concluded that circadian rhythm markedly influences the production of oral VSCs. H2S and (CH3)2S gases production were significantly different among in the morning, afternoon and evening. However, amount of CH3SH gas production was significantly different only in the afternoon and the night. The highest gas production of H2S, CH3SH, and (CH3)2S was observed in the morning, in the night, and in the afternoon, respectively.
Perawatan Maloklusi Klas III dengan Reverse Overjet Menggunakan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Purwaningsih, Yohana Retno Wikandari; Ardhana, Wayan; Christnawati, Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maloklusi klas III true skeletal merupakan kasus yang sulit dirawat dan  mudah terjadi relaps. Perawatan ideal kasus ini memerlukan tindakan bedah, namun apabila hal tersebut tidak memungkinkan maka dilakukan perawatan kamuflase. Reverse overjet, atau gigitan terbalik, tipikal mempunyai penyimpangan posisi insisivus atas dan bawah akibat malrelasi maksila dan atau mandibula. Tujuan artikel ini adalah menyajikan perawatan ortodontik kamuflase menggunakan teknik Begg pada maloklusi ini. Pasien perempuan umur 24 tahun mengeluhkan gigi depan berjejal dan tidak nyaman untuk mengunyah makanan. Diagnosis kasus adalah maloklusi Angle klas III, hubungan skeletal klas III dengan protrusif bimaksilar, incisivus atas dan bawah retrusif, pergeseran median line rahang atas ke kanan, disertai edge to edge bite anterior, cross bite posterior dan openbite posterior. Pasien dirawat dengan  pencabutan gigi premolar kedua atas,dan premolar pertama  bawah untuk mengatasi kondisi kasus tersebut. Kesimpulan dua tahun setelah perawatan, tampak sudut interinsisal berkurang, reverse overjet terkoreksi, edge to edge bite, cross bite dan openbite terkoreksi.ABSTRACT: Treatment of Class III malocclusion with Reverse Overjet using Orthodontic Begg Technique. A true skeletal class III malocclusion is a difficult case to be treated as it can get easily relap. The ideal treatment of this skeletal types requires a surgery, but if it is not possible, an orthodontic camouflage can be conducted. Reverse overjet typically has upper and lower incisor position deviation due to the mesial position of the mandible in relation to the maxilla.The purpose of this article is to present camouflage orthodontic treatment using Begg orthodontic technique in Class III malocclusion case with reverse overjet. A 24 year-old female patient complained about her front teeth crowding and uncomfortable mastication. From the diagnosis, there was true dento skeletal class III malocclusion with bimaxilary protrusion, bidental retrusion and edge to edge bite. The lower incisors were shifted to the right. The posterior teeth were crossbite and openbite. The patient were treated with extraction of the right upper second premolars and lower first premolars.After 2 years of treatment, it is concluded that the interinsisal angle decreases and the reverse overjet, the edge to edge bite, the crossbite and the openbite are corrected as well.
Perawatan Ulang Saluran Akar Insisivus Lateralis Kiri Maksila dengan Medikamen Kalsium Hidroksida-Chlorhexidine Ariani, Ni Gusti Ayu; Hadriyanto, Wignyo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan terapi endodontik antara lain pembersihan dan membentuk saluran akar yang tidak sempurna dan obturasi tidak hermetis sehingga menyebabkan kurangnya kemampuan untuk menghilangkan mikroorganisme yang ada. Saluran akar yang terinfeksi membutuhkan suatu medikamen untuk menunjang keberhasilan dalam perawatan saluran akar.Kalsium hidroksida merupakan salah satu bahan medikamen yang efektif karena memiliki sifat antibakteri dengan spektrum luas, pH tinggi, biokompatibilitas baik, mampu menetralkan endotoksin bakteri, memiliki sifat toksik yang paling rendah, serta menstimulasi pembentukan jaringan keras. Tujuan laporan kasus untuk menunjukan keberhasilan perawatan ulang saluran akar gigi insisivus lateralis kiri maksila dengan lesi periapikal menggunakan medikamen kalsium hidroksida- chlorhexidine. Pasien wanita umur 53 tahun, gigi insisivus lateralis kiri maksila dengan lesi periapikal.Radiografi tampak obturasi kurang hermetis dan radiolusen daerah periapikal. Perawatan ulang saluran akar,diikuti pemasangan pasak fiber frefabricated dan restorasi porselin fuse metal.Keseimpulan setelah evaluasi setelah enam bulan pasca perawatan ulang saluran akar, radiografi menunjukan radiolusen mengecil dan gigi dapat berfungsi dengan normal.ABSTRACT: Re-Treatment of Root Canal of Maxillary Left Lateral Incisor with Calcium Hydroxide-Chlorhexidine Medicament. There are many factors that cause failure of endodontic therapy. For instances, incomplete cleaning and shaping of root canal and inadequate obturation that results in difficulty to remove the microorganisms. Infected root canal requires a medicament for the success of the root canal treatment. Calcium hydroxide is one of the effective ingredients as medicament because it has broad spectrum antibacterial properties, high pH, good biocompatibility, and it is able to neutralize bacterial endotoxins, decrease tissue toxicity, and stimulate the formation of hard tissue. The purpose of this case report is to show the success of root canal treatment of the left maxillary lateral incisor with periapical lesions using calcium hydroxide-chlorhexidine medicaments. The patient was a woman aged 53, complaining about her left maxillary lateral incisor with periapical lesion. Based on the radiographic evaluation, there was less hermetic obturation and a radiolucent in the periapical. Root canal re-treatment was continued with fiber prefabricated post and porcelain fused to metal crown. After six months of evaluation and endodontic retreatment, it is found that there is a decrease of radiolucency periapical lesion, and her teeth are able to function normally.
Perawatan Satu Kunjungan pada Premolar Pertama Atas Menggunakan Protaper Rotary dan Restorasi Resin Komposit Diana, Sherli
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preparasi kemomekanik pada saluran akar meliputi instrumentasi mekanis dan irigasi antibakteri yang secara prinsip dapat langsung mengeliminasi mikroorganisme pada sistem saluran akar. sejak diperkenalkan pada tahun 1988, instrumen rotary nikel-titanium (niti) telah digunakan secara umum dalam perawatan endodontik karena kemampuannya membentuk saluran akar dengan prosedur komplikasi yang minimal. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk memaparkan perawatan saluran akar satu kunjungan menggunakan protaper rotary dan restorasi resin komposit gigi premolar. Penderita pria 21 tahun datang ke RSGM Prof. Soedomo UGM Yogyakarta mengeluhkan gigi belakang atas kiri yang berlubang tapi tidak sakit dan pasien ingin  dirawat.Gigi  Premolar satu atas  kiri terdapat kavitas disto oklusal dengan pulpa terbuka. Pemeriksan objektif pada gigi 24 sondasi, perkusi, palpasi, dan tes termal menunjukkan hasil negatif.Pemeriksaan radiografis tidak terdapat lesi, lamina dura tidak terputus dan saluran akar jelas dan lurus. Pada kasus ini dilakukan perawatan saluran akar dengan menggunakan ProTaper rotary ( X-Smart, Dentsply). Pasca perawatan saluran akar, gigi premolar satu atas kiri dilakukan tumpatan resin komposit kelas II.Hasil evaluasi klinik saat kontrol tidak ada keluhan rasa sakit, pemeriksaan objektif juga tidak ada rasa sakit, warna gigi serasi dengan warna gigi tetangga.prognosis pada kasus ini baik dan tidak ada keluhan. Kesimpulan paska perawatan saluran akar satu kunjungan dengan instrumenrotary, tidak terdapat keluhan.Penggunaan Instrumen rotary Nikel-Titanium (NiTi) sangat flexible dengan prosedur komplikasi yang minimal, dan hemat waktu.ABSTRACT: One Visit Treatment of Upper Premolar Tooth Using Rotary Protaper and Composite Resin Restoration. Chemomechanical preparation for root canal including mechanic instrumentation and anti-bacterial irrigation principally could eliminate microorganisms in root canal system. Many instruments and techniques have been described and developed for initial root canal treatment. Since first established in 1988, nikel-titanium (NiTi) rotary instrument has been used for endodontic treatment because of its capability in forming the root canal with minimal complication procedure. Clinically, safe use of NiTi instrument and understanding of the alloy basic metallurgy including fracture mechanism and its correlation with root canal anatomy in order to set the safe use of NiTi instrument are required. This research will explain about biological principal of root canal preparation with correct technique and instrumentation system using NiTi. A 21 year-old patient in RSGM Prof. Soedomo UGM Yogyakarta complained about his left side upper jaw, posterior teeth with cavity, painless and the patient wanted to treat the teeth. The left maxilla first premolar teeth has a distooclussal cavity, open pulp. Based on the radiograph test, there found no lession, lamina dura was fine, and root canal was clear and straight. In this case, the patient was treated with crown down rotary X-Smart (Dentsply) technique for root canal treatment. After the root canal treatment had been conducted, the teeth were restorated with class II composite resin. After the treatment, it is found that there is no pain in the teeth, the colour of teeth match with others, and the prognosis for this case is good.
Deformasi Slot Beberapa Produk Braket Stainless Steel Akibat Gaya Torque Pada Kawat Stainless Steel Zairina, Atika; Siregar, Erwin; Ismaniati, Nia Ayu
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Deformasi slot braket dapat mengurangi besar gaya torque  yang akan dihantarkan ke gigi dan jaringan pendukungnya. Beberapa braket stainless steel yang beredar dipasaran belum pernah diteliti kualitasnya dalam perawatan ortodonsi. Tujuan penelitian adalah untuk membandingkan besar gaya torque akibat sudut puntir 30° 45°  kawat stainless steel dan deformasi slot permanen akibat gaya torque tersebut antara kelompok merk braket (3M, Biom, Versadent, Ormco dan Shinye). Penelitian dilakukan pada lima puluh braket stainless steel edgewise dari lima kelompok merk braket (n=10) di lem ke akrilik. Masing-masing braket dilakukan pengukuran tinggi slot dengan mikroskop stereoskopi lalu dipasang ke alat uji torque yang sudah dibuat untuk penelitian ini. Setelah dilakukan uji torque, braket di ukur kembali tinggi slotnya dan dibandingkan dengan pengukuran sebelumnya untuk mengetahui adanya deformasi slot. Hasil analisis statistik menunjukkan perbedaan bermakna besar gaya torque pada sudut puntir 30° dan 45° antara Biom dan Shinye dengan Omrco. Gaya torque paling besar yaitu pada merk braket 3M (30°= 442,12 gmcm dan 45°= 567,99 gmcm), sedangkan yang terkecil adalah Biom (30°= 285,50 gmcm, 45°=361,38 gmcm). Perbedaan deformasi slot braket terjadi hampir pada semua kelompok merk braket. Deformasi slot braket hanya terjadi pada merk braket Biom (2,82 µm) dan Shinye (2,52 µm). Kesimpulan, salah satu faktor yang mempengaruhi besar gaya torque dan terjadinya deformasi slot yaitu komposisi dan proses manufaktur dari braket stainless steel. Proses manufaktur yang tidak sesuai standar dapat menyebabkan kualitas braket yang buruk. Deformasi slot permanen dalam penelitian ini terjadi pada merek braket Biom dan Shinye.ABSTRACT: Slot Deformation of Various Stainless Steel Bracket Due to Torque Expression On The Wire. Bracket slot deformation can reduce the amount of torque that will be transmitted to teeth and supporting tissues. The quality of some stainless steel brackets in the market is still questionable for orthodontic treatments. This research aims to compare the amount of torque expression due to torsion angle of 30° and 45° at the stainless steel wire and bracket slot permanent deformation caused by the torque in each examined bracket brands (3M, Biom, Versadent, Ormco and Shinye). Fifty Stainless Steel Edgewise brackets from five different brands (n = 10) were attached onto an acrylic. Each bracket slot width was measured with a stereoscopic microscope and then mounted onto a torque apparatus that had been prepared for this study. Once the torque test was done, the width of bracket slot was re-measured to determine if there was a difference from initial bracket slot width at 45°. The results of ANOVA showed significant differences in the amount of torque at torsion angle of 30°and 45° between Biom and Shinye with Omrco. The 3M transmitted the highest load (30°= 442,12 gmcm and 45°= 567,99 gmcm), while the lowest was of Biom (300  = 285,50 gmcm and 450 = 361,38 gmcm). Differences in slot bracket deformation were found virtually in all groups of bracket brands. Deformation of bracket slots occurs only in Biom (2.82 µm) and Shinye (2.52 µm). From the observation, it is concluded that one of the major factors that affect torque and deformation of bracket slot is composition and manufacturing process of the stainless steel brackets. Manufacturing process that does not meet the standard can lead to a poor quality bracket. Permanent slot deformation in this study occurrs with Biom and Shinye bracket brands.
Restorasi Resin Komposit Menggunakan Pasak Tapered Self Threading Pada Molar Ketiga Kiri Mandibula Krisanti, Ellen; Untara, Tri Endra
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Morfologi saluran akar gigi molar mandibula ketiga memiliki variasi yang lebih kompleks dibandingkan gigi molar lainnya.   Pada gigi molar ketiga sering dilakukan pencabutan, namun dalam keadaan tertentu gigi molar ketiga dapat dipertahankan. Perawatan saluran akar satu kunjungan merupakan pilihan untuk terapi kasus ini. Tujuan laporan kasus ini untuk memperlihatkan keberhasilan dari perawatan saluran akar satu kunjungan pada gigi molar ketiga nekrosis pulpa disertai restorasi resin komposit dengan pasak tapered self theading. Pasien wanita 20 tahun datang ke RSGM Prof Soedomo FKG UGM dengan keluhan sakit saat pengunyahan pada gigi molar ketiga dan positif pada perkusi. Gambaran radiografis menunjukkan restorasi yang tidak sempurna, terdapat celah antara kavitas dengan restorasi. Rencana perawatan pada kasus ini, perawatan saluran akar satu kunjungan dan resin komposit dengan pasak tapered self threading sebagai restorasi akhir. Kesimpulan dari perawatan saluran akar satu kunjungan memiliki rekontaminasi mikroorganisme yang lebih kecil dibandingkan dengan multi kunjungan sehingga menjamin keberhasilan perawatannya. Restorasi resin komposit secara direkdengan pasak tapered self threadingmerupakan restorasi alternatif pasca perawatan endodontikkarena lebih cepat dan kuat.ABSTRACT: Composite Resin Restoration Using Tapered Self Threading Poston Left Mandibular Third Molar. Root canal morphology of mandibular third molar has more complex variation than the other molars. In third molar, the extraction teeth are often executed; however, the third molar can be maintained in other conditions. One visit root canal treatment is a therapy option for this case. The purpose of this case report is to show the success of one visit root canal treatment in third molar with pulp necrosis by restoring the composite resin through tapered self-treading post. A 20 year-old female patient who came to the Prof Soedomo RSGM, FKG UGM complained about the pain when chewing food on her third molar and positive in percussion. The radiographs showed that there was an incomplete restoration. There was a gap between cavities with restoration. The treatment plan for this case was one visit root canal treatment and composite resin with tapered self-threading post as final restoration. From the case, it can concluded that one visit root canal treatment results in a smaller chance for microorganism recontamination than the multi-visit in order to ensure the success of the treatment. Direct composite resin restoration with tapered self-threading dowel is an alternative restoration after endodontic treatment because it works out faster and more retentive.
Perawatan Impaksi Gigi Premolar Pertama Mandibula Pada Maloklusi Angle Klas II Divisi 2 Subdivisi Dengan Teknik Be Kusumasmara, Apreka Tigor
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Impaksi gigi terjadi karena gigi gagal untuk erupsi secara sempurna pada posisinya akibat terhalang oleh gigi lain maupun jaringan lunak atau padat di sekitarnya. Gigi yang sering mengalami impaksi adalah gigi geraham ketiga rahang bawah, gigi kaninus rahang atas, dan gigi premolar kedua. Impaksi premolar sering terjadi karena pencabutan prematur dari gig geraham desidui. Gigi premolar pertama jarang terjadi impaksi dibandingkan premolar kedua. Tujuan laporan kasus adalah untuk memaparkan penatalaksanaan perawatan untuk mengkoreksi impaksi gigi premolar pertama mandibula menggunakan alat cekat teknik Begg tanpa prosedur bedah. Pria 21 tahun mengeluhkan gigi yang berjejal pada rahang atas dan rahang bawah. Gigi kaninus desidui kiri rahang atas dan rahang bawah belum tanggal. Diagnosis pasien adalah Maloklusi Angle Klas II  divisi 2 bimaksiler protrusif dengan hubungan skeletal klas II, gigi anterior maksila retrusif, disertai impaksi gigi premolar pertama mandibula kiri. Perawatan dilakukan dengan menggunakan alat cekat teknik Begg dan pencabutan gigi desidui, Kesimpulan, impaksi gigi premolar pertama mandibula dapat tercapai pada tahap pertama teknik Begg tanpa pendekatan tindakan bedah, tahap selanjutnya yang akan dicapai adalah tahap memperbaiki inklinasi aksial gigi.ABSTRACT: Treatment Of Class II Division 2 Angle Malocclusion With Mandibular Premolar Tooth Impaction Using Begg Technique. Tooth impaction is a tooth that fails to erupt perfectly to its position because of the other tooth, surrounding soft or hard tissue that blocks its eruption. Premolar often fails to erupt due to a premature extraction of deciduous molar. This case study aims to illustrate the treatment of mandibular first premolar impaction using Begg technique for fixed appliance. The experiment was conducted to a 21 year-old male patient who complained about his crowding of upper and lower teeth, also the persistence of his upper and lower left deciduous canine. The case was diagnosed as class II division 2 angle malocclusion with bimaxillary protrusion with class II skeletal relation, and maxillary anterior teeth retrusion. The left mandibular of first premolar teeth was impacted. The treatment using Begg technique has helped to fix the appliance with the extraction of the deciduous teeth. From the evaluation, it can be concluded that the treatment of impacted mandibular first premolar is achieved on the first stage of Begg technique without surgical approach. The next objective of the treatment is to correct the teeth axis.
Waktu Produksi Yolk Immunoglobulin (IGY) Kuning Telur Ayam yang Diimunisasi Streptococcus mutans Azis, Mufidana; N, Dhinintya Hyta; R, Aurita Siwi; M, Kristiyani Dwi; L, Norma Dias; Handajani, Juni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi karies di Indonesia menunjukkan angka yang tinggi. Karies diketahui sebagai penyakit multifaktorial rongga mulut yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans. Salah satu metode terbaru pencegahan karies gigi, yaitu, melalui imunisasi pasif menggunakan antibodi kuning telur ayam (Yolk Immunoglobulin/IgY). Beberapa penelitian menunjukkan waktu produksi IgY bervariasi dengan perbedaan teknik pengujian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi IgY kuning telur ayam yang diimunisasi S. mutans. Metode penelitian menggunakan 4 ekor ayam Hysex Brown sebagai kelompok perlakuan dan 1 ekor ayam sebagai kontrol. Suspensi S. mutans diinjeksikan pada ayam saat minggu pertama hari ke-1,2,3, kemudian ditambahkan Freund Adjuvant pada minggu ke-2 hingga minggu ke-4. Koleksi kuning telur ayam dilakukan mulai minggu ke-2 setelah imunisasi. Untuk mengetahui efektivitas vaksinasi dan keberadaan S.mutans, kuning telur ayam selanjutnya diuji dengan AGPT (Agar Gel Precipitation Test) dan hasilnya dinyatakan positif apabila terbentuk presipitasi diantara  sumuran  antigen dan antibodi.. Hasil penelitian menunjukkan hasil positif pada kuning telur ayam minggu ke-5. Disimpulkan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk produksi IgY spesifik S. mutans pada kuning telur ayam mulai minggu ke-5 setelah imunisasi.ABSTRACT: Production Time of Yolk Immunoglobulin (Igy) Yellow Chicken Egg Immunized with Streptococcus mutans. Dental caries prevalence in Indonesia appears in high rate. Caries is known as a multifactorial disease in oral cavity caused by Streptococcus mutans bacteria. The latest method to prevent dental caries is through passive immunization using chicken yolk antibody (Yolk Immunoglobulin /IgY). Some researches showed the variation of IgY production time using different testing technique. The purpose of this research is to determine the time required to produce IgY chicken yolk immunized by S. mutans. For the method, this research uses 4 chickens of Hysex Brown as the treatment group and a chicken as the control. S. mutans suspension is injected to the chicken from 1st, 2nd, and 3rdday in the first week; Freund Adjuvant was added in the 2ndtill 4thweeks. Collection of chicken yolk was started at 2ndweek after immunization. The chicken yolk then was tested using Agar Gel Precipitation Test (AGPT) to know the effectiveness of vaccination and the existence of S.mutans. The result of the test can be positive if it forms precipitation between antigen and antibody wells. The result has shown a positive response in chicken yolk in the 5thweek. From the test, it can be concluded that the time required for the production of IgY specific against S. mutans in chicken yolk is in the beginning of 5thweek after immunization.
Restorasi Fiber Reinforced Composite Pada Gigi Premolar Pertama Kanan Mandibula Pasca Perawatan Saluran Akar Dhamayanti, Intan; Nugraheni, Tunjung
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigi yang telah dilakukan perawatan saluran akar membutuhkan restorasi yang tepat untuk mencegah terjadinya fraktur. Restorasi menggunakan fiber reinforced composite (FRC) memiliki resistensi yang tinggi terhadap fraktur dan estetiknya memuaskan. Laporan kasus ini bertujuan melaporkan restorasi menggunakan FRC pada gigi premolar pertama kanan mandibula pasca perawatan saluran akar. Pada kasus ini, pasien wanita 35 tahun, gigi premolar pertama kanan mandibula mengalami nekrosis pulpa. Untuk mengatasi kasus ini dilakukan perawatan saluran akar dengan metode crown down dan obturasi dengan single cone. Restorasi menggunakan FRC dibuat sebagai restorasi akhir. Kesimpulan penanganan kasus, restorasi menggunakan FRC dapat menjadi pilihan restorasi pada gigi premolar pertama kanan mandibula pasca perawatan saluran akar.ABSTRACT: Fiber Reinforced Composite Restoration on Right Mandibular First Premolar Tooth after Root Canal Treatment. Endodontically treated tooth requires precise restoration that can prevent fracture. Restoration using fiber reinforced composite (FRC) has high resistance to the fracture and aesthetical satisfaction. This case report aims to describe the restoration using FRC on right mandibular first premolar tooth after root canal treatment. In this case, the patient was a 35 year-old woman who suffered from pulp necrosis on her right mandibular first premolar tooth. To treat this case, root canal treatment with crown down method and single cone’s obturation was done. Restoration using FRC is made as the final restoration. From treatment, it can be concluded that restoration using FRC can be an option for restoration of right mandibular first premolar tooth after root canal treatment

Page 1 of 4 | Total Record : 34