Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 3 (2016): December" : 8 Documents clear
Perbandingan kekerasan mikro dentin mahkota setelah aplikasi berbagai bahan bleaching intrakoronal Merza, Apriko; Sujatmiko, Billy; Yulianti, Rinda
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 3 (2016): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11261

Abstract

Comparing microhardness of dentine crown after application of various intracoronal bleaching agents. The aim of this study is to compare microhardness of dentine crown after treatment with intracoronal bleaching agents. The method of this study was an experimental laboratory. Thirty two extracted human mandibular first premolars without caries, sectioned at 2 mm below Cemento-Enamel Junction were divided into four groups and bleaching agents were sealed into the pulp chambers as follows: group A – 45% carbamide peroxide, group B – 35% hydrogen peroxide, group C – sodium perborate mixed aquadest and group D – aquadest. Access cavities were sealed and then stored in aquadest at 37 °C. Bleaching procedures were performed on days 0, 7, 14 and 21. After 28 days, the teeth were sectioned longitudinally, and planted on acrylyc. Microhardness of dentine crown was measured by vickers microhardness tester. One Way ANOVA and LSD were used to evaluate the effect of intracoronal bleaching agents on microhardness of dentine crown. The results showed that average values of microhardness of dentine crown on group A was 45,04 VHN, group B was 45,42 VHN, group C was 55,22 VHN and group D was 55,63 VHN. In clonclusion, there was si gnificantly different microhardness of dentine crown between group 45% carbamide peroxide and 35% hidrogen peroxide with sodium perborate mixed aquadest, but between group 45% carbamide peroxide with 35% hidrogen peroxide there was no significant difference.ABSTRAKTujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan kekerasan mikro dentin mahkota setelah aplikasi berbagai bahan bleaching intrakoronal. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Sebanyak 32 gigi premolar pertama mandibula tanpa karies, telah diekstraksi, dipotong 2 mm di bawah cemento-enamel junction dibagi dalam 4 kelompok dan bahan bleaching dimasukkan ke dalam kamar pulpa, yaitu kelompok A – 45% karbamid peroksida, kelompok B -35% hidrogen peroksida, kelompok C - sodium perborat dikombinasikan dengan aquadest, dan kelompok D – aquadest. Akses kavitas ditutup kemudian disimpan di dalam aquadest dengan suhu 37 °C. Prosedur bleaching dilakukan pada hari ke-0, 7, 14 dan 21. Setelah 28 hari, mahkota gigi dipotong secara longitudinal dan salah satu bagian ditanam di akrilik. Nilai kekerasan mikro dentin mahkota diuji menggunakan Vickers microhardnes tester. One way ANOVA dan uji LSD digunakan untuk mengevaluasi pengaruh berbagai bahan bleaching intrakoronal terhadap kekerasan mikro dentin. Hasil penelitian menunjukkan nilai kekerasan mikro dentin mahkota pada kelompok A sebesar 45,04 VHN, kelompok B sebesar 45,42 VHN, kelompok C sebesar 55,22 VHN dan kelompok D sebesar 55,63 VHN. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat perbedaan kekerasan mikro dentin mahkota yang signifikan antara kelompok 45% karbamid peroksida dan 35% hidrogen peroksida dengan sodium perborat dikombinasikan dengan aquadest, sedangkan antara kelompok 45% karbamid peroksida dengan 35% hidrogen peroksida tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
Perbandingan tingkat kebocoran mikro resin komposit bulk-filldengan teknik penumpatan oblique incremental dan bulk Permana, Dimas Puja; Sujatmiko, Billy; Yulianti, Rinda
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 3 (2016): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11668

Abstract

Micoleakage comparison of bulk-fillcomposite beetwen oblique incremental and bulk placement techniques. Resin composite bulk-fill was a new type of resin composite that speed up application process of composite. The concept of bulk-fill composite allows composite to fill at a depth of 4 mm and minimizes polymerization shrinkage. This study aims to determine the comparison of placement techniques (oblique incremental/bulk) of bulk-fill composite on microleakage in class I preparations. Thirty two human maxillary premolar were stored in distilled water, then Class I preparations were made with the depth of the cavity which was 4 mm (3 x 3 x 4). The teeth were randomly divided into two groups, group 1 uses oblique incremental placement technique and group 2 with bulk placement technique. Samples were stored in an incubator at a temperature of 37 °C for 24 hours, then it was thermocycled manually, 100 cycles at temperature between 5 °C and 55 °C. Microleakage was measured using a digital microscope with a 100 X magnification in millimeters using a microscope micrometer calibration ruler with 0,1 mm level of accuracy after immersion in 0,3% methylene blue and sectioned using separating disc. The result of this study revealed that in group 1 microleakage range was 1.0 mm - 2.7 mm with an average 1.625 mm, and in group 2 microleakage range was 3.6 mm - 4.0 mm with an average of 3.763 mm. The data were analyzed using T-test. The analysis showed a significant difference between two groups (p <0.05). The conclusion of this study was bulk-fill composite in class I cavities with oblique incremental placement technique produces less microleakage than bulk placement technique. ABSTRAKResin komposit bulk-fill adalah resin komposit yang dirancang untuk mempercepat proses aplikasi resin komposit. Konsep bulk-fill memungkinkan resin komposit ditumpat sekaligus 4 mm dan mengalami pengerutan polimerisasi minimal. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek teknik penumpatan (oblique incremental/bulk) pada tingkat kebocoran mikro resin komposit bulk-fill. Sampel berjumlah 32 gigi premolar rahang atas disimpan di dalam aquades, dipreparasi kavitas kelas I berbentuk persegi, kedalaman kavitas 4 mm (3 x 3 x 4). Sampel dibagi dalam dua kelompok, kelompok 1 restorasi teknik oblique incremental dan kelompok 2 teknik bulk. Sampel kemudian disimpan di dalam inkubator pada suhu 37 °C selama 24 jam, kemudian dilakukan prosedur thermocycling manual 100 putaran pada suhu 5 °C dan 55 °C. Kebocoran mikro diukur menggunakan digital microscope pembesaran 100 x dalam satuan milimeter menggunakan penggaris mikrometer mikroskop dengan ketelitian 0,1 mm setelah sampel direndam dalam larutan methylene blue 0,3% selama 24 jam dan dipotong pada pertengahan restorasi menggunakan separating disc. Hasil pengukuran tingkat kebocoran mikro menunjukkan pada kelompok 1 nilai kebocoran mikro yang terjadi berkisar 1,0 mm – 2,7 mm dengan rata-rata 1,625 mm, pada kelompok 2 kebocoran mikro yang terjadi berkisar 3,6 mm – 4,0 mm dengan rata-rata 3,763 mm. Data di analisis menggunakan uji T-test. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (p < 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah restorasi resin komposit bulk-fill pada kavitas kelas I dengan teknik oblique incremental menghasilkan tingkat kebocoran mikro yang lebih kecil dibandingkan dengan teknik bulk.
Studi in vivo ekstrak etanolik ciplukan (Physalis angulata) dalam meningkatkan apoptosis sel kanker lidah Safitri, Ulfah Hermin; Nawangsih, Eriska Firma; Noviyanti, Naida Dwi; Apliani, Diyah; Haniastuti, Tetiana
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 3 (2016): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.10744

Abstract

In vivo study of ethanolic ciplukan extract (Physalis angulata) to enhance the apoptosis of tongue cancer cell. Tongue cancer is kind of oral cancer with high prevalence. Ciplukan (Physalis angulata L.) has cytotoxic activity to inhibit cancer cells proliferation and induct cell cycle arrest. This study aims to assess the potential of ethanolic ciplukan extract (ECE) as anti tongue cancer and determine the effect of ECE in increasing tongue cancer cells apoptotic injected by DMBA. Fifteen female Sprague dawley rats of approximately 80-60 gram and aged 2-3 months were divided into three groups: (1) control group; (2) DMBA+ 750 mg/kg BW ECE; (3) DMBA+1500 mg/kg BW ECE. Tongue cancer was inducted by injecting 2% DMBA 0,1ml /100 grams BW on the lateral tongue and then it was observed for 5 weeks. After that, the 750 and 1500 mg/kg BW ECE were given orally everyday for seven days. By the end of the sixth week, all the rats were sacrified and then the tongue tissue was stained using TdT-mediated X-dUTP Nick End Labeling (TUNEL) assay to see the apoptotic cells. The results showed that apoptotic index for the control group was 3,94%, treatment with 750 mg/Kg BW extract had 15,34% result meanwhile treatment with 1500 mg/Kg BW resulted in 25,5%.The result of one way ANOVA (p<0,05) test showed that ECE increased cancer cells apoptotic treated by DMBA. Thus, it is possible to conclude that ECE is effective in inhibiting the growth of tongue cancer cell by increasing apoptotic tongue cancer cells.ABSTRAKKanker lidah merupakan jenis kanker di dalam rongga mulut yang sering terjadi dan memiliki prevalensi yang tinggi. Ciplukan (Physalis angulata L.) memiliki aktivitas sitotoksik pada sel kanker, yaitu mampu menghambat proliferasi sel kanker dan menginduksi cell cycle arrest. Penelitian ini bertujuan mengkaji potensi ekstrak etanolik ciplukan (EEC) sebagai antikanker lidah dan mengetahui pengaruh EEC dalam meningkatkan apoptosis sel kanker lidah yang diinjeksi DMBA. Lima belas ekor tikus Sprague dawley betina usia 2-3 bulan dibagi menjadi tiga kelompok yaitu: (1) kelompok kontrol DMBA; (2) kelompok DMBA+EEC dosis 750 mg/kg BB; (3) kelompok DMBA+EEC dosis 1500 mg/kg BB. Kanker lidah diinduksi dengan injeksi 0,1 ml/100 gram BB tikus larutan DMBA 2% pada bagian lateral lidah hewan uji satu kali, lalu dibiarkan selama 5 minggu. Pada awal minggu ke-6 EEC 750 dan 1500 mg/kg BB diberikan secara sondasi kepada hewan uji selama 7 hari. Pada awal minggu ketujuh tikus dikorbankan. Selanjutnya, dilakukan pengamatan untuk memeriksa apoptosis sel dengan pewarnaan TdT-mediated X-dUTP Nick End Labeling (TUNEL). Hasil penelitian menunjukkan indeks apoptosis kelompok kontrol adalah 3,94%, kelompok perlakuan EEC 750 mg/kg BB adalah 15,34%, dan kelompok perlakuan EEC 1500 mg/kg BB sebesar 25,5%. Hasil uji One Way ANOVA (p<0,05) menunjukkan bahwa EEC mampu meningkatkan apoptosis sel kanker lidah tikus yang diinduksi DMBA. Kesimpulan penelitian ini adalah EEC dapat menghambat pertumbuhan sel kanker lidah dengan cara meningkatkan apoptosis sel kanker lidah tikus.
Pengaruh lama aplikasi bahan remineralisasi casein phosphopeptide amorphous calcium phosphate fluoride (CPP-ACPF) terhadap kekerasan email Wiryani, Miftah; Sujatmiko, Billy; Bikarindrasari, Rini
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 3 (2016): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11250

Abstract

The effect of application time of CPP-ACPF on enamel hardness. Remineralization process can increase the hardness of enamel due to demineralization process. CPP-ACPF is a material used for enhancing remineralization. However, the application time of CPP-ACPF remain controversial among previous studies. This study was aimed to investigate the effect of various application times of CPP-ACPF on enamel hardness. Thirty premolar teeth were mounted on self cure acrylic resin, and were divided into 5 groups. Demineralization process was performed, and enamel hardness (pre-est) was measured by Vickers Hardness Tester. Remineralization was performed using CPP-ACPF in various application times: 3, 15, 30, 60 minutes, and the control group was only immersed in artificial saliva for 60 minutes, then enamel hardness was measured (posttest). Data were analyzed using paired t-test, one-way ANOVA, and post-hoc Bonferroni. The result of paired t-test showed that all the groups, except the control group, have an increasing enamel hardness that was statistically significant. One-way ANOVA results showed no statistically significant difference among the groups at pretest, but one-way ANOVA results showed statistically significant difference at posttest. Post hoc Bonferroni showed that the significantly difference at posttest occurred between all the treatment groups against the control group, but there were no significant differences between the 3 minutes group to 15 minutes group, between 15 minutes group to 30 minutes group, and between 30 minutes group to 60 minutes group. It was concluded that various application times of CPP-ACPF had an effect on increasing enamel hardness. ABSTRAKProses remineralisasi dapat meningkatkan kekerasan email yang menurun akibat demineralisasi. Bahan remineralisasi yang ideal adalah CPP-ACPF. Terdapat perbedaan lama aplikasi CPP-ACPF dalam berbagai penelitian, selain itu total lama aplikasi yang dibutuhkan CPP-ACPF dalam mekanisme remineralisasi belum diketahui. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh lama aplikasi CPP-ACPF terhadap kekerasan email. Tiga puluh mahkota gigi premolar yang ditanam dalam resin akrilik self cure dibagi menjadi lima kelompok, kemudian dilakukan proses demineralisasi. Kekerasan email kemudian diukur menggunakan alat Vickers Hardness Tester. Proses remineralisasi menggunakan CPP-ACPF dilakukan pada masing-masing kelompok dalam berbagai lama aplikasi yaitu 3 menit, 15 menit, 30 menit, 60 menit, serta perendaman dalam saliva buatan selama 60 menit (kontrol). Kekerasan email kemudian diukur kembali (posttest). Data diuji secara statistik menggunakan t-test berpasangan, one-way ANOVA dan post hoc Bonferroni. Hasil paired t-test menunjukkan bahwa seluruh kelompok, kecuali kelompok kontrol, mengalami peningkatan rata-rata kekerasan email secara signifikan. Hasil uji one-way ANOVA pada pretest menunjukkan tidak ada perbedaan kekerasan email yang signifikan. Hasil uji one-way ANOVA pada posttest menunjukkan terdapat perbedaan kekerasan email yang signifikan. Hasil uji post Hoc Bonferroni menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kekerasan email yang signifikan pada seluruh kelompok perlakuan terhadap kelompok kontrol, tetapi perbedaan kekerasan email antara kelompok lama aplikasi 3 menit dengan 15 menit, antara lama aplikasi 15 menit dengan 30 menit, serta antara lama aplikasi 30 menit dengan 60 menit tidak menunjukkan perbedaan kekerasan email yang signikan. Kesimpulan penelitian ini adalah berbagai lama aplikasi CPP-ACPF berpengaruh terhadap peningkatan kekerasan email.
Pengaruh konsentrasi cobalt chromium pada uji hemolisis sebagai implan gigi Rosanto, Yosaphat Bayu; Widjijono, W.; Triyono, Teguh
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 3 (2016): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.10737

Abstract

The effect of concentration of cobalt chromium in hemolysis test for dental implant. Dental implants are used to replace tooth/teeth loss and its function. Cobalt chromium has ideal characteristics to be made as dental implants material. It is required that the material to be implanted must be biocompatible with cells and tissues. One of biocompatibility characteristics is hemocompatibility. Hemocompatibility of materials can be observed with hemolysis test. Thus the purpose of this research is to know whether cobalt chromium as dental implants material affect the hemolysis of rabbit blood or not. This research was done with rabbit blood (Oryctolagus cuniculus) and devided into 3 groups (treatment, positive and negative control). The tested material was cobalt chromium Remanium® GM 800, a product from Dentaurum. The contact between blood and material was done with ASTM-F075 hemolysis test. Cobalt chromium was not hemolytic at 2,5%, 5%, and 10% of concentration, slightly hemolytic at 20% of concentration, and hemolytic at 40% and 80% of concentration. The conclusion of this research was variety of concentration of cobalt chromium affected hemolysis percentage signi cantly.ABSTRAKImplan gigi digunakan untuk mengganti gigi yang hilang untuk dan dapat mengembalikan fungsi gigi. Cobalt chromium memiliki sifat-sifat yang memenuhi persyaratan sebagai material implan. Material yang diimplankan dalam tubuh harus memiliki sifat biokompatibilitas. Salah satu sifat biokompatibilitas yang harus dimiliki material yang diimplankan dalam tubuh adalah sifat hemokompatibilitas. Sifat hemokompatibilitas dapat diketahui dengan uji hemolisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada/tidaknya pengaruh logam cobalt chromium sebagai material implan gigi terhadap hemolisis pada darah kelinci. Penelitian ini dilakukan menggunakan sampel darah yang didapat dari kelinci (Oryctolagus cuniculus) yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu perlakuan, kontrol positif dan negatif. Bahan penelitian yang diuji adalah cobalt chromium Remanium GM 800 produksi Dentaurum. Kontak darah dengan bahan uji dilakukan menggunakan uji hemolisis ASTM-F075. Hasil penelitian menunjukkan material logam cobalt chromium tidak menimbulkan hemolisis pada konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10%, menimbulkan hemolisis ringan pada konsentrasi 20%, dan hemolisis pada konsentrasi 40% dan 80%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perbedaan konsentrasi logam cobalt chromium berpengaruh secara signikan terhadap persentase hemolisis.
Profil lesi oral pada penderita penyakit autoimun Wahyuni, Indah Suasani; Dewi, Tenny Setiana; Herawati, Erna; Zakiawati, Dewi
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 3 (2016): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11311

Abstract

Oral lesion’s profi le in autoimmune disease. Oral lesions are commonly found in patients with autoimmune diseases as manifestations of the disease or a side effect of the treatment. Oral lesions must be handled properly to prevent secondary infection, relieve pain and improve the patient’s quality of life. The aim of this study is to describe oral lesions profile in patients with autoimmune diseases, including clinical characteristics and location of oral lesions as well as the distribution of age and sex of the patient. The methods were retrospective observation by describing the secondary data from patients with autoimmune handled by Oral Medicine Specialist, Faculty of Dentistry, University of Padjadjaran in dr. Hasan Sadikin Hospital Dental Clinic. Patient files from August 2010 untill August 2014 (n = 66) were used, with the most often diagnosis were Systemic Lupus erythematosus (SLE), Oral lichen planus (OLP) and Pemphigus vulgaris (PV). It is revealed that, the age of patients varied between 9 to 68 years old and there was predominance of female patients. Patients diagnosed with SLE were 26 (39.4%), 12 patients with OLP (18.2%) and 28 patients with PV (42.4%). Based on the clinical feature, the most commonly found type of oral lesion was erosion (n=52/78,8%), while the most commonly predilection was in the buccal mucosa (n = 46/69,7%). In conclusion, intra-oral examination should be used as a routine procedure in the comprehensive management of patients with autoimmune diseases. Dentist have a professional role in the diagnosis of oral lesions and provide appropriate therapy in order to improve the quality of life of patients with autoimmune diseases.ABSTRAKLesi oral biasa ditemukan pada penderita penyakit autoimun sebagai manifestasi penyakit atau efek samping pengobatan kortikosteroid jangka panjang. Lesi oral harus ditangani dengan baik untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, mengatasi rasa sakit dan meningkatkan kualitas hidup penderita. Pengumpulan data gambaran profil lesi oral penderita penyakit autoimun, meliputi karakteristik klinis dan lokasi lesi oral serta distribusi usia dan jenis kelamin penderita belum pernah dilakukan. Metode yang digunakan adalah non eksperimen, retrospektif dan deskripsi data sekunder penderita autoimun yang ditangani oleh bagian Ilmu Penyakit Mulut FKG Universitas Padjadjaran di SMF Gigi dan Mulut RS dr. Hasan Sadikin Bandung. Data pasien yang dipergunakan antara bulan Agustus 2010 sampai Agustus 2014 (n=66), dengan diagnosis penyakit autoimun yang paling sering adalah Sistemic Lupus Erythematous (SLE), Oral Lichen Planus  (OLP) dan Pemphigus Vulgaris (PV). Semua pasien memberikan persetujuan pada saat dilakukan pemeriksaan dan  pengumpulan data melalui informed consent. Hasil penelitian ini menunjukkan usia penderita bervariasi antara 9 hingga 68 tahun dan jumlah penderita wanita lebih banyak daripada pria. Penderita yang didiagnosis SLE 26 orang (39,4%), OLP 12 orang (18,2%) dan PV 28 orang (42,4%). Berdasarkan gambaran klinisnya jenis lesi oral yang banyak ditemukan adalah erosi (n = 52/ 78,8%) dan berdasarkan lokasi lesi oral banyak ditemukan pada mukosa bukal (n = 46/69,7% penderita). Kesimpulannya, pemeriksaan intra oral disarankan menjadi prosedur rutin dalam tatalaksana komprehensif penderita penyakit autoimun. Dokter gigi diharapkan dapat berperan dalam mendiagnosis lesi oral dan memberikan terapi yang tepat sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup penderita penyakit autoimun. 
Penentuan konsentrasi stainless steel 316L dan kobalt kromium remanium GM-800 pada uji GPMT Hafizi, Ikmal; Widjijono, W.; Soesatyo, Marsetyawan Heparis Nur Ekandaru
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 3 (2016): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11386

Abstract

Concentration determination of stainless steel 316L and cobalt chromium remanium GM - 800 on GPMT test. Dentistry had used metals such as cobalt chromium and stainless steel in maxillofacial surgery, cardiovascular, and as a dental material. 316L stainless steel is austenistic stainless steel which has low carbon composition to improve the corrosion resistance as well as the content of molybdenum in the material. Cobalt chromium (CoCr) is a cobaltbased alloy with a mixture of chromium. Density of a metal cobalt chromium alloy is about 8-9 g/cm3 that caused metal interference relatively mild. Remanium GM-800 is one type of a cobalt chromium alloy with the advantages of having high resistance to fracture and high modulus of elasticity. This study aims to determine the exact concentration used in 316L stainless steel and cobalt chromium GM-800 as the GPMT test material. Subjects were cobalt chromium Remanium GM-800 and 316L stainless steel concentration of 5%, 10%, 20%, 40% and 80%. Patch containing stainless steel or cobalt chromium paste was af xed for 24 hours each on three experimental animals, then the erythema and edema were observed using the Magnusson and Kligman scale. In the study, concentration of 5% is the concentration recommended for stainless steel 316L and cobalt chromium GM-800 as material in challenge phase GPMT test, while the concentration of 40% is the concentration recommended for stainless steel 316L and cobalt chromium GM-800 in the induction phase.ABSTRAKDunia kedokteran gigi banyak menggunakan logam pada pembedahan maxillofacial, cardiovascular, dan sebagai material dental. Logam yang banyak digunakan antara lain adalah kobalt kromium dan stainless steel. Stainless steel 316L merupakan austenistic stainless steel yang memiliki komposisi karbon rendah sehingga dapat meningkatkan ketahanan terhadap korosi sama halnya dengan kandungan molybdenum pada material tersebut. Kobalt kromium (CoCr) adalah cobalt-based alloy dengan campuran chromium. Kepadatan (density) dari logam campur kobalt kromium adalah sekitar 8-9 gram/cm3 menyebabkan logam campur ini relatif sangat ringan. Remanium GM-800 merupakan salah satu jenis alloy kobalt kromium dengan kelebihan memiliki resistensi terhadap fraktur yang tinggi serta modulus elastisitas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi tepat yang digunakan pada stainless steel 316L dan kobalt kromium GM-800 sebagai bahan uji GPMT. Subjek penelitian adalah kobalt kromium Remanium GM800 dan stainless steel 316L konsentrasi 5%, 10%, 20%, 40%, dan 80%. Patch berisi pasta stainless steel atau kobalt kromium ditempelkan selama 24 jam masing-masing pada 3 hewan coba, selanjutnya dilakukan observasi eritema dan edema dengan menggunakan skala Magnusson dan Kligman. Pada penelitian, konsentrasi 5% merupakan konsentrasi yang direkomendasikan untuk stainless steel 316L dan kobalt kromium GM-800 sebagai konsentrasi tahap challenge uji GPMT, sedangkan konsentrasi 40% merupakan konsentrasi yang direkomendasikan untuk logam stainless steel 316L dan kobalt kromium GM-800 tahap induksi.
Korelasi antara dimensi vertikal oklusi dengan panjang jari kelingking pada sub-ras Deutro Melayu Chairani, Cytha Nilam; Rahmi, Eni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 3 (2016): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.10822

Abstract

Correlation between VDO with length of little finger in Malay Deutro sub race. The correct determination of vertical dimension of occlusion (VDO) is an important step to to concern for dentist in clinical procedures of dental treatment. VDO is defined as the distance between two selected anatomic points, one point on maxilla and the other on mandibule in centric occlusion. There are various measurements of VDO methods suggested. Recently, many researchers have been studied antropometric method to determine the VDO. One of the antropometric methods is the length of little finger measurement. VDO and length of little finger are influenced by human race and each race has different specific characteristic. This study choose Malay Deutro sub race as one of sub-races in Indonesia. The purpose of this study is to determine the correlation between measurement of DVO and length of little finger of Malay Deutro sub race in Padang. This study use observational analysis with cross sectional approach. The samples consist of 56 males and 56 females, 112 respondents in total. The respondents are Malay Deutro sub race that domicile in Padang and are eligible. The data were analyzed by Pearson correlation test. VDO and length of little finger of Mal ay Deutro sub race was significantly correlated (r value= 0,768) and the result of VDO was almost equal with length of little fi nger (p value= 0,000) that means statistically significant. The Antropometric parameter measurement of the length of little finger can be used in determination of VDO. ABSTRAKPenentuan dimensi vertikal oklusi (DVO) yang tepat merupakan salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dokter gigi dalam prosedur klinis perawatan gigi. DVO adalah jarak antara dua titik anatomi yang dipilih, yaitu satu titik pada maksila dan satu titik pada mandibula ketika posisi oklusi sentrik. Beberapa metode dianjurkan dalam pengukuran DVO. Salah satu metode penentuan DVO yang dikembangkan oleh para ahli yaitu metode antropometri. Metode ini dilakukan dengan cara pengukuran panjang jari kelingking. DVO dan panjang jari kelingking berbeda pada setiap ras manusia karena masing-masing ras memiliki ciri-ciri spesifik yang berbeda antara satu dengan yang lain. Sub ras Deutro Melayu merupakan salah satu sub ras di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara hasil pengukuran DVO dan panjang jari kelingking pada sub ras Deutro Melayu di Kota Padang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 112 warga Kota Padang yang merupakan sub ras Deutro Melayu dan memenuhi kriteria, terdiri dari 56 orang laki-laki dan 56 orang perempuan. Data diuji secara statistik dengan analisis Pearson correlation. Terdapat korelasi yang bermakna antara hasil pengukuran DVO dengan panjang jari kelingking dengan nilai r=0,768 dan hasil kedua pengukuran ini menunjukkan nilai yang hampir sama dengan nilai p=0,000, sehingga signifikan secara statistik (p<0,05). Pengukuran antropometri panjang jari kelingking merupakan metode yang dapat digunakan untuk menentukan DVO. 

Page 1 of 1 | Total Record : 8