Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 2 (2016): August" : 8 Documents clear
Efek eugenol terhadap jumlah sel inflamasi pada pulpa gigi molar tikus Sprague Dawley Enggardipta, Raras Ajeng; Haniastuti, Tetiana; Handajani, Juni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.8730

Abstract

Inflammatory cells infiltration after eugenol administration in Sprague Dawley rat’s molars. The purpose of this study was to determine effect of eugenol on inflammatory cells infiltration (neutrophils, macrophages and lymphocytes) in the inflamed dental pulp. Thirty male Sprague Dawley rats aged 3-4 months and weighed 300-350 g were randomly divided into 2 groups: treated and control groups. Rats were injected with ketamine HCl i.m. (0.1 ml/100 grams BW) before cavity preparation at occlusal surface of the upper molars. Cavity preparation was made using a round bur No.010 to pulp perforation. At the cavity base of treated group, 15 rats were given eugenol and of control group 15 rats were given aquadest, before filled with temporary filling. Three rats from each group were sacrificed at 1, 3, 5, 7 and 14 days after the cavity preparation. Rats were injected with ketamine HCl im (0.1 ml / 100 g BW) on the thigh then tissues were collected for histological process and stained using haematoxylin eosin. The number of inflammatory cells (neutrophils, macrophages and lymphocytes) was analysed by Two-Way Anova. The result of the study showed number of inflammatory cells infiltration of treated group was lower than control and showed significant differences between groups (p <0.05). The conclusion from this study is eugenol administration in Sprague Dawley rats’s inflamed dental pulp can reduce the number of inflammatory cells (neutrophils, macrophages and lymphocytes).ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh eugenol terhadap jumlah sel inflamasi (netrofil, makrofag dan limfosit) pada pulpa gigi terinflamasi. Tiga puluh ekor tikus Sprague Dawley jantan berumur  3-4 bulan dengan berat badan 300-350 g dibagi secara acak dalam 2 kelompok yaitu perlakuan dan kontrol. Tikus diinjeksi ketamine HCl i.m. (0,1 ml/100 gram BB) sebelum dilakukan preparasi kavitas pada permukaan oklusal gigi molar satu rahang atas. Preparasi kavitas dibuat dengan menggunakan bur bulat No.010 hingga kedalaman pulpa. Pada dasar kavitas kelompok perlakuan (15 ekor) diberi eugenol dan kelompok kontrol (15 ekor) diberi akuades, kemudian kavitas ditumpat sementara. Tiga ekor tikus dari masing-masing kelompok dikorbankan pada 1, 3, 5, 7 dan 14 hari pasca preparasi kavitas. Tikus diinjeksi ketamine HCl i.m. (0,1 ml/100 gram BB) pada paha kemudian jaringan diambil, diproses secara histologis dan dicat dengan hematoxylin eosin. Data jumlah sel inflamasi (netrofil, makrofag dan limfosit) dianalisis dengan Two Way Anova. Hasil penelitian menunjukkan rerata jumlah infiltrasi sel inflamasi kelompok perlakuan lebih rendah dibandingkan kontrol dan berbeda bermakna (p<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian eugenol pada pulpa gigi tikus Sprague Dawley yang mengalami inflamasi dapat menurunkan jumlah sel inflamasi (netrofil, makrofag dan limfosit).
Apeksifikasi dengan mineral trioxide aggregate dan perawatan intracoronal bleaching pada gigi insisivus sentralis kiri maksila non vital diskolorasi Inajati, I.; Untara, Raphael Tri Endra
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11251

Abstract

Affecification with mineral trioxide aggregate and care of intracoronal bleaching on the non vital discoloration maxillary left central incisor. Maxillary anterior teeth in children and adults often experience trauma. This later makes the dental pulp roots that are not completely formed face the necrosis and apical closure stop later causing the apex wide and open. The opened apex can be coped with the care of affecification. Mineral Trioxide Aggregate (MTA) is the best material of affecification used for the formation of apical barrier. The purpose of this case report was to report the achievement of the apical sealing using MTA in the non-vital permanent maxillary left central incisor with the opened apical due to the trauma. The complaints of male patients aged 20 years was about the broken and discoloured left upper front teeth and becomes a traumatic event since the age of 10 years due to a fall and hit the cement floor. A clinical examination of non-vital teeth used the fracture Ellis IV class with wide open apex and discoloration. The radiographic image showed a widely opened apex with large root canal and there was a periapical radiolucency. The treatment given was affecification with MTA followed obturation with gutta-percha and sealer AH 26. In the following week it was continued with intracoronal bleaching with the application of sodium perborate and 30% hydrogen peroxide. Before treatment, the teeth were brownish (C4) and after treatment it turned into yellowish white (B2). A week after the bleaching treatment was completed and the installation of fibre post was done, followed by giving the composite resin restorations class IV cavity. The 2-week control later showed no abnormalities. In conclusion, the affecification treatment with MTA can accelerate treatment with the formation of apical barrier that stimulates the healing and may be followed by obturation with guttap percha followed by doing intracoronal bleaching and final restoration. ABSTRAKGigi anterior rahang atas pada anak-anak maupun dewasa sering mengalami trauma. Akibatnya pulpa gigi yang akarnya belum terbentuk sempurna akan mengalami nekrosis, dan penutupan apeks terhenti yang menyebabkan apeks lebar dan terbuka. Apeks yang terbuka dapat diatasi dengan perawatan apeksifikasi. Mineral Trioxide Aggregate (MTA) adalah bahan pilihan terbaik yang dipakai sebagai bahan apeksifikasi untuk pembentukan apical barrier. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk melaporkan keberhasilan penutupan apikal dengan menggunakan MTA pada gigi permanen insisivus sentralis kiri maksila non vital dengan apikal yang terbuka karena trauma. Pasien laki-laki usia 20 tahun dengan keluhan gigi depan atas kiri patah dan berubah warna. Kejadian trauma sejak usia 10 tahun karena jatuh dan terbentur lantai. Pemeriksaan klinis gigi non vital dengan fraktur Ellis kelas IV disertai apeks terbuka lebar dan diskolorasi. Pada gambaran radiografis menunjukkan apeks yang terbuka lebar dengan saluran akar besar serta terdapat radiolusensi periapikal. Perawatan yang dilakukan adalah apeksifikasi dengan MTA dilanjutkan obturasi dengan gutta percha dan sealer AH 26. Setelah seminggu kemudian dilakukan intracoronal bleaching dengan aplikasi sodium perborat dan hidrogen peroksida 30%. Sebelum perawatan, gigi berwarna kecoklatan (C4) setelah dilakukan perawatan menjadi warna putih kekuningan (B2). Seminggu setelah perawatan bleaching selesai kemudian dilakukan pemasangan pasak fiber, dilanjutkan dengan restorasi resin komposit kavitas kelas IV. Kontrol 2 minggu kemudian tidak menunjukkan adanya kelainan. Kesimpulan hasil perawatan apeksifikasi dengan MTA dapat mempercepat waktu perawatan dengan terbentuknya barier apikal yang merangsang penyembuhan dan dapat dilanjutkan dengan obturasi dengan gutta percha, kemudian dilakukan bleaching intracoronal bleaching dilanjutkan dengan restorasi akhir. 
Profil lesi mulut pada kelompok lanjut usia di Panti Sosial Tresna Wreda Senjarawi Bandung Sari, Kartika Indah
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11268

Abstract

Oral lesions profile in elderly group at Panti Sosial Tresna Wreda Senjarawi Bandung. The aim of the paper is to determine the profile of oral lesions in elderly. The study was conducted on Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW) Senjarawi in Bandung, with a cross-sectional method. Samples were selected according the inclusion criteria include physically healthy, be able to communicate well, at least 60 years of age, and independent. The examination of 20 samples showed oral lesions such as coated tongue, fissured tongue, ulcerated lesions, geographic tongue, fordyce granules, and traumatic lesions. Dental examination showed that among 18 samples (90%) had lost several teeth. Coated tongue was found associated with dental conditions, eating habits, physiological factors, and systemic conditions, whereas some other oral lesions occur in accordance with the ages. Ulcerated lesions were found similar to lesions of recurrent aphthous stomatitis (RAS), but in the elderly oral ulceration more often influenced by systemic condition and treatment so that the diagnosis of ulcers is more as a RAS-like. Coated tongue is the most oral lesion found which influenced by the degenerative processes, oral hygiene status, diet, and residence. The oral health of elderly is a necessary part to get attention, including from the dentist in order to achieve a good quality of life.ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil lesi mulut pada kelompok lanjut usia di panti sosial tresna wreda Senjarawi Bandung. Penelitian dilakukan pada Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW) Senjarawi di kota Bandung, dengan metode cross-sectional. Sampel penelitian dipilih sesuai kriteria inklusi meliputi sehat fisik dan mampu berkomunikasi dengan baik, usia minimal 60 tahun, dan mandiri. Hasil pemeriksaan pada 20 sampel menunjukkan adanya lesi mulut seperti coated tongue, fissured tongue, lesi ulserasi, geographic tongue, fordyce granule, dan lesi traumatik. Jumlah terbanyak yaitu 11 orang (55%) mengalami coated tongue. Hasil pemeriksaan gigi ditemukan sebanyak 18 sampel (90%) mengalami kehilangan beberapa gigi. Coated tongue banyak ditemukan terkait dengan kondisi gigi yang dialami, kebiasaan makan, faktor fisiologis, dan kondisi sistemik, sedangkan beberapa lesi mulut lainnya terjadi sesuai dengan penambahan usia. Lesi ulserasi yang ditemukan mirip dengan lesi recurrent aphthous stomatitis (RAS), tetapi pada usia lanjut ulserasi mulut lebih sering dipengaruhi oleh kondisi sistemik dan pengobatannya sehingga diagnosis ulser lebih sebagai suatu RAS-like. Coated tongue sebagai lesi mulut yang paling banyak ditemukan karena  dipengaruhi oleh proses degeneratif, status kebersihan mulut, pola makan, dan tempat tinggal. Kesehatan gigi dan mulut lansia merupakan hal yang perlu mendapat perhatian termasuk dari dokter gigi sehingga diharapkan dapat tercapai kualitas hidup lansia yang baik.
Pengaruh pelatihan menggosok gigi dengan pendekatan Program Pembelajaran Individual (PPI) terhadap peningkatan status kebersihan gigi dan mulut pada anak disabilitas intelektual sedang Sandy, Leny Pratiwi Arie; Priyono, Bambang; Widyanti, Niken
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.10742

Abstract

Effect of training on tooth brushing using Individual Educational Programme (IEP) approach to increase of oral hygiene status in children of moderate intellectual disability (ID). Children with Intellectual Disability (ID) have limited abilities (social, adaptive and practical) and limited intellect. Teaching these children to brush their teeth using the Individualized Educational Programme (IEP) approach is a strategy which focuses on the condition and motivation of each student. The purpose of this research was to understand how tuition in the techniques of tooth- brushing by IEP influences oral hygiene in medium level ID students. This research method is to master the experiment by single subject design. The respondents in this research were 3 people (R1, R2, R3) taken according to the pre- determined criteria. Data collection method used was by observation. Oral hygiene was measured using the PHP-M (Patient Hygiene Performance-Modified) index from Martens and Meskin (1972). The data analysis used descriptive analysis. The result of the study showed there was after training on tooth brushing for 6 month is decrease plaque score. Oral hygiene status for 3 repondent is R1 and R2 in medium category, R3 in bad category. Training on method of tooth brushing using IEP approach affected increase of oral hygiene status. ABSTRAKAnak dengan disabilitas intelektual (DI) merupakan kelompok anak yang memiliki keterbatasan intelektual, kemampuan adaptif, kemampuan sosial dan kemampuan beraktifitas (praktis). Pelatihan menggosok gigi dengan pendekatan Program Pembelajaran Individual (PPI) merupakan salah satu strategi yang menitik beratkan kondisi dan motivasi masing-masing siswa didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan cara menggosok gigi melalui pendekatan Program Pembelajaran Individual (PPI) terhadap status kebersihan gigi dan mulut. Metode penelitian ini yaitu kuasi eksperimental dengan desain subyek tunggal (single subyek design). Responden dalam penelitian ini yaitu 3 orang (R1, R2, R3) diambil sesuai kriteria yang sudah ditentukan. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi. Status kebersihan gigi dan mulut diukur menggunakan indeks PHP-M (Patient Hygiene Performance-Modified) dari Martens dan Meskin (1972). Analisis datanya menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan setelah dilakukan pelatihan menggosok gigi selama 6 minggu didapatkan adanya penurunan skor plak yang rendah. Status kebersihan gigi dan mulut ke-3 responden didapatkan R1 dan R2 pada kategori sedang, sedangkan R3 pada kategori buruk. Pelatihan cara menggosok gigi menggunakan pendekatan Program Pembelajaran Individual (PPI) berpengaruh terhadap peningkatan status kebersihan gigi dan mulut.
Efek aplikasi topikal gel ekstrak pandan wangi terhadap penyembuhan luka gingiva Nofikasari, Icha; Rufaida, Afifah; Aqmarina, Chynintia Dewi; Failasofia, Failasofia; Fauzia, Annisa Rahmi; Handajani, Juni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.9896

Abstract

The Effect of topical application pandan extract gel on gingival wound. Post-gingivectomy wound is usually covered by periodontal dressing, which generally contains some chemical compounds to protect the wound. However, it can provide allergic effect on some patients. Pandan leaves (Pandanus amaryllifolius Roxb.) contain a number of active substances that have anti-inflammatory, antioxidant and antibacterial effect and play a role in wound healing. This study aims to determine the effect of topical application of Pandan leaf extract gel on gingival wound healing. Gingivectomy model was carried out on mandibular incisive gingival using the 2.5-mm punch biopsy. Thirty-six rats were randomly divided into 3 groups of treatment: negative control (CMC-Na), positive control (Aloclair), and 50% of pandan extract gel. The gels on each group were applied (twice in a day) to the wound area after gingivectomy. The observation of the wound healing process was also carried out on day 1, 3, 7, and 14 by making the histological preparations of gingival wound area. The number of blood vessels was observed using microscope and data was analysed using Two- Way Anova and LSD. The result showed that number of blood vessel increased on day 3 and the peak was on day 7. Anova and LSD test showed several significant differences comparison the number blood vessel between treatment and control. In conclusion, topical application Pandan leaves extract gel could accelerate gingival wound healing.ABSTRAKLuka pasca gingivektomi dibalut dengan periodontal dressing yang mengandung senyawa kimia dengan tujuan melindungi luka, namun senyawa kimia periodontal dressing yang ada di pasaran dapat menimbulkan efek alergi terhadap beberapa pasien. Daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) mengandung zat aktif yang memiliki anti inflamasi, antioksidan, dan antibakteri kemungkinan berperan dalam proses penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran gel ekstrak daun pandan wangi dalam proses penyembuhan luka pasca gingivektomi pada tikus wistar melalui pengamatan jumlah pembuluh darah. Model gingivektomi dilakukan pada gingiva incisivus mandibula dengan menggunakan punch biopsy diameter 2,5 mm. Tiga puluh enam tikus dibagi secara acak ke dalam 3 kelompok perlakuan yaitu kontrol negatif (Gel CMC-Na), kontrol positif (Aloclair), dan gel ekstrak pandan wangi 50%. Gel uji pada masing- masing kelompok diaplikasikan pada area luka pasca gingivektomi dua kali sehari. Pengamatan proses penyembuhan luka dilakukan pada hari ke 1, 3, 7, dan 14 dengan membuat preparat histologi gingiva area luka. Parameter penyembuhan luka yang diamati adalah jumlah pembuluh darah. Data jumlah pembuluh darah dianalisis dengan menggunakan uji statistik parametrik. Hasil penelitian menunjukkan jumlah pembuluh darah mengalami peningkatan mulai hari ke-3 dan mencapai puncaknya pada hari ke-7. Hasil uji two way Anova menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna rerata jumlah pembuluh darah antar kelompok perlakuan dengan kontrol positif maupun negatif (p<0,05). Hasil uji LSD juga menunjukkan perbedaan yang bermakna perbandingan kelompok kontrol dan perlakuan pada semua hari pengamatan. Kesimpulan penelitian ini adalah gel ekstrak pandan wangi 50% dapat mempercepat proses penyembuhan luka pasca gingivektomi dengan kemampuannya meningkatkan jumlah pembuluh darah.
Pengaruh keadaan rongga mulut, perilaku ibu, dan lingkungan terhadap risiko karies pada anak Hendrartini, Julita; Supartinah, Al
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11267

Abstract

The effect of oral cavity condition, mothers’ behaviour and environment on the carries risk on children. Carries risk factors in children consist of direct risk factor, which includes the condition of oral cavity, and indirect risk factor including mother’s behaviour and environment. The study was to identify factors that influence the occurrence of caries in children. This is an observational research with a cross-sectional design. The samples were 430 children between the ages of 10-12 years. The evaluated caries risk factors included pH level of saliva, the amount of plaque, caries experience, the mother’s behaviour in child’s utilization of dental health service, the mother’s behaviour on the child’s health care, and the mother’s behaviour on child’s food selection. The environment factors were UKGS implementation by teacher and friend’s influences. The data were analysed using multiple logistic regression. The result of multiple logistic regression analysis indicated that the pH level of saliva (POR=1.923), the amount of plaque (POR=2.382), caries experience (POR=4.048), mother’s behaviour in child’s utilization of dental health service (POR= 2.107), mother’s behaviour on child’s food selection (POR= 1.676), and the UKGS implementation by teacher (POR=1,846) significantly influenced the occurrence of caries (p<0,05). The mother’s behaviour on the child’s health care and friend’s influences did not significantly influenced the occurrence of caries (p>0,05). The study showed that pH level of saliva, the amount of plaque, caries experience, the mother’s behaviour in utilization of dental health service, mother’s behaviour on child’s food selection, and the UKGS implementation by teacher influenced the risk of caries in children.ABSTRAKFaktor risiko karies pada anak terdiri atas faktor risiko langsung, yaitu keadaan rongga mulut anak, dan faktor tidak langsung, yaitu perilaku ibu dan lingkungan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap risiko terjadinya karies. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan cross-sectional. Sampel sebanyak 430 anak berumur 10-12 tahun, faktor risiko karies yang diukur adalah pH saliva, banyaknya plak, dan pengalaman karies, perilaku ibu dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi anak, perilaku ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi, dan perilaku ibu dalam pemilihan makanan anak. Faktor lingkungan terdiri atas pelaksanaan UKGS oleh guru dan pengaruh teman sebaya. Analisis data dilakukan dengan multiple logistic regression. Hasil analisis menunjukkan pH saliva (POR=1,923), banyaknya plak (POR 2,382), dan pengalaman karies (POR= 4,048), perilaku ibu dalam pemanfatan pelayanan kesehatan gigi anak (POR=1,876), perilaku ibu dalam pemilihan makanan anak (POR=1,676) dan pelaksanaan UKGS oleh guru (POR=1,847) berpengaruh secara signifikan dengan risiko karies pada anak (p<0,05). Perilaku ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi anak dan teman sebaya tidak berpengaruh terhadap risiko karies pada anak (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap risiko karies pada anak adalah pengalaman karies, banyaknya plak, pH saliva, perilaku ibu dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi anak, perilaku ibu dalam pemilihan makanan anak, dan pelaksanaan UKGS oleh guru.
Efek perendaman rebusan Daun Sirih Merah (Piper crocatum) terhadap kekerasan permukaan resin komposit Handayani, Devi Puspita; Puspitasari, Dewi; Dewi, Nurdiana
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11265

Abstract

The effect of immersion of decoction water of Red Betel Leaf (Piper crocatum) on the surface hardness of composite resin. The purpose of this study was to determine the effect of immersion of decoction water of red betel leaf on the surface hardness of composite resin compared to alcoholic mouth rinse. It was a pure experimental study with post-test only with control group design. The total samples were 27 samples divided into 2 treatment groups and 1 control group, each of which consisted of 9 samples. The treatment groups were immersed in the decoction water of red betel leaf and alcoholic mouth rinse. The control group was immersed in aquadest. After the immersion, the samples were measured using Vickers Micro hardness Tester. Analysis with one way anova and post hoc Bonferroni showed a significant difference (p<0.05) on the surface hardness of composite resin after being immersed in decoction water of red betel leaf(79,81±3,76) kg/mm2 and alcoholic mouth rinse (67,11±2,51) kg/mm2. Based on this research, it can be concluded that there was an effect of immersion of decoction water of red betel leaf if compared with alcoholic mouth rinse. The value of surface hardness of composite resin immersed in alcoholic mouth rinse was lower than the decoction water of red betel leaf.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek perendaman dalam rebusan daun sirih merah terhadap kekerasan permukaan resin komposit bila dibandingkan dengan obat kumur beralkohol. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan post-test only with control group design. Jumlah sampel sebanyak 27 yang dibagi dalam 2 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol dengan masing-masing kelompok sebanyak 9 sampel. Kelompok perlakuan direndam dengan air rebusan daun sirih merah dan obat kumur beralkohol. Kelompok kontrol direndam dengan akuades steril. Setelah itu dilakukan pengukuran menggunakan Vickers Microhardness Tester. Hasil uji One Way Anova dan Post Hoc Bonferroni menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna nilai kekerasan permukaan resin komposit yang direndam dengan air rebusan daun sirih merah (79,81±3,76) kg/mm2 dan obat kumur beralkohol (67,11±2,51) kg/mm2 dengan nilai kemaknaan (p<0,05). Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat efek lebih rendah pada perendaman dalam rebusan daun sirih merah terhadap kekerasan permukaan resin komposit bila dibandingkan dengan obat kumur beralkohol. Nilai kekerasan permukaan resin komposit yang direndam obat kumur beralkohol lebih rendah dibandingkan air rebusan daun sirih merah.
Kadar kelarutan fluor Glass Ionomer Cement setelah perendaman air sungai dan akuades Septishelya, Phradina Fili; Nahzi, Muhammad Yanuar Ichrom; Dewi, Nurdiana
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11257

Abstract

The Level of Fluor Solubility of Glass Ionomer Cement after submergence in the river water and aquadest GIC (GIC) is a restoration material that has a number of adhesive characteristics, tooth-coloured, and can release fluoride ion influenced by pH. The river water of Anjir Pasar village has acidic nature with pH as low 3. Acid pH can increase Fluor ion solubility in GIC. The aim of the study was to find difference of fluor ion solubility of GIC after submergence in the river water and aquadest. This study used GIC samples with the diameter of 5 mm and thickness of 2 mm. One group was soaked in river water and another group was soaked in aquadest for 7 days before conducting the measurement of the fluor ion solubility. The data were analysed by parametric Independent T-Test 95% (α=0.05) and it was found p value = 0.002 (p<0.05). The result indicated a significant difference of fluor ion solubility between GIC after submergence in river water and aquadest. It can be concluded that there is a significant difference of fluor ion solubility of GIC in which submergence in the river water was found higher than that of aquadest.ABSTRAKGlass Ionomer Cement (GIC) merupakan bahan restorasi yang memiliki sifat adhesif, sewarna dengan gigi dan memiliki kemampuan pelepasan ion fluor yang dipengaruhi derajat keasaman (pH). Air sungai Desa Anjir Pasar memiliki sifat yang asam dengan pH 3. Derajat keasaman (pH) asam dapat meningkatkan kadar kelarutan ion fluor pada GIC. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kadar kelarutan ion fluor pada GIC setelah perendaman dalam air sungai Desa Anjir Pasar dan akuades. Penelitian ini menggunakan sampel GIC dengan diameter 5 mm dan ketebalan 2 mm. Masing-masing kelompok direndam dalam air sungai dan akuades selama 7 hari kemudian dihitung kadar kelarutan ion fluornya. Data diuji menggunakan analisis parametrik Independent T-Test 95% (α=0,05) dan didapatkan p=0,002 (p<0,05). Dari hasil tersebut diketahui bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kadar kelarutan ion fluor setelah perendaman air sungai dengan kadar kelarutan ion fluor setelah perendaman akuades. Disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar kelarutan ion fluor pada GIC setelah perendaman dalam air sungai Desa Anjir Pasar Barito Kuala yang lebih tinggi daripada setelah perendaman dalam akuades.

Page 1 of 1 | Total Record : 8