Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 1 (2016): April" : 8 Documents clear
Pengaruh variansi konsentrasi ekstrak kulit batang jambu mete terhadap sitotoksikitas sel fibroblas Harsini, H.; Febri, Ahmad
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.10730

Abstract

The influence of cashew stembark extract on citotoxicity fibroblast. The aim of this study was to determine the effect of variation in the concentration of cashew stem bark extract as the base material of mouthwash of the cytotoxic effect on fibroblast cells. The material used in this study was cashew stem bark extracted by maceration method using 70% of ethanol. A total of 15 samples were grouped into 5, each of which consisted of 3 samples (ISO 10993-5). Concentrations used were 1.6%, 0.8%, 0.4%, 0.2% and 0.05%. Cytotoxicity test used the MTT method by comparing the optical density (ELISA plate reader) between treated groups with control groups. Cell viability was obtained by comparing the treated groups with control groups. Cell viability data was analyzed using one-way ANOVA and LSD. The results showed that cashew stem bark has an anticardia acid. Cytotoxicity test used the mean of fibroblast cell viability due to various cashew stem bark extracts successively from concentrations 1.6%, 0.8%, 0.4%, 0.2% and 0.05% with the mean of 15.35 ± 0.443%, 30.84% ± 1.59, 47.78 ± 8.09%, 65.74% ± 3.20, 74.95 ± 7.26%. ANOVA showed a significant influence of various cashew stem bark on cell viability (p<0,05). The results of LSD showed a significant difference between treated groups except between concentrations 0.95% and 0.2%. In conclusion, Cashew extract have anacardic acid and there was influence on various cashew stem bark extract concentrations on the cytotoxicity of fibroblast cell. The concentration of 2% was not cytotoxic.ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan ekstrak kulit batang jambu mete dan pengaruh variasi konsentrasi terhadap sitotosisitas sel fibroblas. Penelitian ini menggunakan bahan kulit batang jambu mete (Mojolegi) yang diindentifikasi dan diekstrak menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Ekstrak diuji kandungannya menggunakan metode KLT (Kromatografi  Lapis Tipis). Uji sitotoksikistas menggunakan sampel sejumlah 15 dikelompokkan menjadi 5, masing-masing kelompok 3 (ISO-10993-5). Variasi konsentrasi adalah 1,6%, 0,8%, 0,4%, 0,2% dan 0,05%. Uji sitotoksikitas menggunakan metode MTT dengan cara membandingkan optical density (ELISA plate reader) antar kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Viabilitas sel didapatkan dengan membandingkan nilai optical density pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Data viabilitas sel dianalisis menggunakan ANAVA satu jalur dan LSD. Hasil penelitian menunjukkan rerata ekstrak mengandung senyawa asam anakardat dan asam galat. Uji sitotoksikistas sel fibroblas akibat variasi ekstrak kulit batang jambu mete secara berturut-turut dari konsentrasi 1,6%, 0,8%, 0,4%, 0,2% dan 0,05% dengan rerata sebesar 15,35% ± 0,443, 30,84% ± 1,59, 47,78% ± 8,09, 65,74% ± 3,20, 74,95% ± 7,26. Uji ANAVA menunjukkan adanya pengaruh variasi konsentrasi ekstrak kulit batang jambu mete bermakna terhadap viabilitas sel (p<0,05). Hasil uji LSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) antar kelompok perlakuan, kecuali antara konsentrasi 0,05% dengan konsentrasi 0,2%. Kesimpulan Ekstrak kulit batang jambu mete mengandung asam anakardat dan asam galat dan terdapat pengaruh variasi konsentrasi ekstrak kulit batang jambu mete terhadap sitotoksikitas sel fibroblas. Konsentrasi 0,2% merupakan konsentrasi yang tidak toksis terhadap sel fibroblas secara in vitro. 
Pengaruh komposisi beberapa glass fiber non dental terhadap kelarutan komponen fiber reinforced composites Faizah, Ariyani; Widjijono, W.; Nuryono, N
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11249

Abstract

The effect of composition glass fiber non dental on water solubility of fiber reinforced composites. E glass fiber dental is one of the most used dental fibers in several applications in the dental  field. However, the available of E glass fiber dental in Indonesia is very limited. A variety of types of non-dental glass fiber material is easily found as the materials engineering. The purpose of the study was to evaluate the effect of composition non dental glass fiber on the component solubility of FRC. The materials used in the research was E glass fiber dental (Fiber splint, Polydentia SA, Switzerland), composition A non-dental glass fiber (LT, China), composition B (CMAX, China), composition C (HJ, China), flowable composite (Charmfill Flow, Denkist, Korea) and silane coupling agent (Monobond S, Ivoclair Vivadent, Liechtenstein). The subject was divided into 4 groups. Component solubility test was based on the ISO 4049. The result was then analyzed with one way ANOVA (α=0,05). The result of the research showed that on the average percentage of the solubility (%), the lowest was on the group of E glass fiber dental (0.476±0.03) and the highest was on the non dental glass fiber C (0.600±0.01). The result of the one way ANOVA test showed a significant difference between the compositiom fiber on the component solubility. The conclusion the research was that low content of Na2O K2O, CaO and MgO decreased the component solubility of FRC.ABSTRAKE glass fiber dental adalah fiber yang sering digunakan di kedokteran gigi. Ketersediaan E glass fiber di Indonesia masih sangat terbatas. Berbagai jenis bahan glass fiber non dental banyak ditemukan dipasaran sebagai material engeenering dengan harga yang relatif murah sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif pengganti E glass fiber dental. Komposisi glass fiber non dental hampir sama dengan E glass fiber dental. Komposisi berpengaruh terhadap sifat mekanis dan sifat-sifat kimia fiber. Komposisi glass fiber seperti Na2O dan K2O akan meningkatkan ketahanan terhadapap air. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh komposisi glass fiber non dental terhadap kelarutan komponen. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah E glass fiber dental (Fiber-splint, Polydentia SA, Switzerland), glass fiber non dental komposisi A (LT, China), komposisi B (CMAX, China), komposisi C (HJ, China), flowable komposit (CharmFill Flow, Denkist, Korea) dan silane coupling agent (Monobond S, Ivoclar Vivadent, Liechtenstein). Subjek dibagi dalam 4 kelompok untuk dilakukan uji kelarutan berdasarkan ISO 4049. Hasil yang diperoleh dianalisis menggunakan ANAVA satu jalur (a = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan rerata kelarutan komponen (%) yang terendah pada kelompok E-glass fiber dental (0,476±0,03) dan hasil tertinggi pada glass fiber non dental C (0,600±0,01). Hasil uji Anava satu jalur menunjukkan perbedaan yang bermakna antara komposisi fiber pada kelarutan komponen (p<0,05). Kesimpulan penelitian adalah komposisi Na2O dan K2O serta CaO dan MgO yang rendah dapat menurunkan sifat kelarutan komponen dari fiber reinforced composites.
Pengaruh volumetrik e-glass fiber terhadap kekuatan transversal reparasi plat gigi tiruan resin akrilik Aditama, Pramudya; Sugiatno, Erwan; Nuryanto, Muhamad Rifqi Tri
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.10734

Abstract

The effect of e-glass fiber volumetric on transverse strength of an acrylic resin denture plate repair. Acrylic resin is the most commonly material for the denture base. A disadvantage of acrylic resin is that it is easily to be cracked. One of the ways to resolve this problem is by adding the E-glass fibers. The purpose of this research was to find out the effect of volumetric E-glass fiber on transverse strength of an acrylic resin denture plate repair. The experiment involved thirty plates of heat cured acrylic with the dimensions of 65 × 10 × 2.5 mm. The specimens were prepared to create a 3-mm gap and 45° bevel. Subjects were divided in to 3 groups, each of which contained 10. Group I (control) was with no fiber reinforcement, group II was reinforced with 3.7vol % E-glass fiber, and group III was reinforced with 7.4 volume % E-glass fiber. All plates were soaked in distillation water for one day at 37 °C. Plates were tested for transverse strength with Universal Testing Machine and all data obtained was analyzed with one way anova at 95% confidence level (α= 0.05). The significant difference was found between the transversal force of acrylic resin plat enforced with fiber and other group without being reinforced with fibers (p<0.05). Group reinforced with 7.4 vol % E-glass fibers showed a significant difference (higher) than the group reinforced with 3.7 volume % fibers. The addition of E-glass fibers in an acrylic resin plate repair material increased the transverse strength. The increase in volumetric fibers might improve the transverse strength of an acrylic resin plate repair material.ABSTRAKResin akrilik merupakan bahan yang sering digunakan dalam pembuatan basis gigi tiruan. Kekurangan dari bahan resin akrilik adalah mudah patah. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menambahkan E-glass fiber. Tujuan untuk mengetahui pengaruh volumetrik E-glass fiber terhadap kekuatan transversal reparasi plat gigi tiruan resin akrilik. Penelitian ini menggunakan tiga puluh plat resin akrilik kuring panas dengan ukuran 65 × 10 × 2,5 mm. Spesimen dipreparasi untuk membentuk jarak 3 mm dan sudut bevel 45°. Subjek kemudian dibagi menjadi 3 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 10 plat. Kelompok I (kontrol) tanpa diberikan penguat fiber, kelompok II diperkuat dengan 3,7 vol % E-glass  ber, dan kelompok III diperkuat dengan 7,4 vol % E-glass fiber. Seluruh plat kemudian direndam dalam air destilasi selama satu hari pada suhu 37 °C. Plat resin akrilik kemudian diuji menggunakan Universal Testing Machine untuk mengetahui kekuatan transversal dan data yang didapatkan dianalisis menggunakan Anova satu jalur dengan tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara kekuatan transversal plat resin akrilik yang diperkuat dengan fiber dengan kelompok tanpa diperkuat fiber (p < 0,05). Kelompok yang diperkuat dengan 7,4 vol % E-glass fiber menunjukkan perbedaan signi kan (lebih tinggi) dibandingkan kelompok yang diperkuat dengan 3,7 vol % fiber. Kesimpulan bahwa peningkatan volume dari E-glass fiber dapat meningkatkan kekuatan transversal reparasi plat gigi tiruan resin akrilik.
Kombinasi penggunaan quadhelix dan tanggul gigitan posterior pada perawatan crossbite anterior Fithriyah, Rhabiah El
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.12316

Abstract

Combination quad helix and bite riser posterior for anterior crossbite treatment. Anterior crossbite treatment can be done with the appliances either by removable appliances or fixed appliances. One fixed appliance that can be used in the treatment of anterior crossbite is a quad helix with a combination of bite raiser posterior. It is the preferred appliance for correction of maxillary dental constriction in a preadolescent child. Quad helix is activated by widening the anterior or posterior helices. An 11-year-old female patient referred to the clinic with a problem of crowding teeth that affected her appearance. The diagnosis for her case was malocclusions dentoalveolar class I angle along with anterior crossbite 12 and 21, anterior crowding maxilla with convex face profile, shifted median line, and no TMJ disorder. The treatment plan used a quad helix and bite riser posterior followed by a fixed orthodontic treatment. The aim of this study was to correct the anterior crossbite using a combination of a quad helix and bite raiser posterior. The patient was treated using composite bite raiser posterior on the occlusal surface of 16.26, and quad helix soldered to bands and cemented on 16 and 26. The patient was instructed to get her teeth controlled every two week to activate quad helix. After 3 months of active treatment, anterior crossbite was corrected. The appliance was left passively in place for 3 months as retention. The study concluded that crossbite treatment with a combination of a quad helix and bite riser was effective in correcting anterior crossbite in adolescents.ABSTRAKPerawatan crossbite anterior dapat dilakukan dengan beberapa macam alat baik dengan alat lepasan ataupun alat cekat. Salah satu alat semi cekat yang dapat digunakan pada perawatan crossbite anterior adalah quad helix dengan kombinasi tanggul gigitan posterior. Quad helix merupakan alat yang dapat digunakan untuk konstriksi dental di maksila pada masa remaja. Seorang pasien anak perempuan berusia 11 tahun mengeluhkan keadaan giginya yang berjejal dan menganggu penampilannya. Diagnosis kasus adalah maloklusi dentoalveolar kelas I angle disertai crossbite gigi 12 dan 21, crowding anterior rahang atas dengan profil muka cembung, garis median tidak sesuai dan tidak disertai gangguan TMJ. Rencana perawatan menggunakan quad helix dan tanggul gigitan posterior kemudian dilanjutkan dengan perawatan ortodontik cekat. Tujuan artikel ini adalah menyajikan perawatan crossbite anterior dengan menggunakan kombinasi quad helix dan tanggul gigitan posterior. Pasien dirawat menggunakan tanggul gigitan komposit posterior pada permukaan oklusal gigi 16, 26 dan quad helix yang disolder pada molar band dan disementasi di molar band pada gigi 16 dan 26 kemudian pasien diinstruksikan untuk kontrol setiap dua minggu satu kali kunjungan untuk aktivasi quad helix. Setelah perawatan aktif 3 bulan crossbite anterior telah terkoreksi. Alat ditinggalkan di dalam mulut dalam keadaan pasif selama 3 bulan sebagai retensi. Dapat ditarik kesimpulan bahwa perawatan crossbite dengan kombinasi quad helix dan tanggul gigitan posterior efektif dalam mengoreksi  crossbite anterior pada remaja.
Pengetahuan dan sikap ibu tentang kebersihan gigi dan mulut pasca ceramah pendidikan kesehatan gigi disertai diskusi kelompok atau disertai hands on Wali, Agusthinus; Widiati, Sri; Sriyono, Niken Widyanti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.10738

Abstract

ABSTRACT: The difference increased knowledge and attitudes of mothers about oral hygiene through dental health education lecture with discussion groups and lectures with hands on. Dental health education will be more effective when started from the family by teaching the mothers about the importance of oral health maintenance. This study aims to determine the difference in the increased knowledge and the attitudes of mothers about oral hygiene through dental health education lecture with discussion groups and lectures with hands on. This study was a quasi-experimental design with pretest and post-test group design. The subjects of research were 95 mothers of children aged 6-8 years who met the inclusion criteria and divided into two groups. Group I in PPA IO-497 Benjamin Oebufu, Kupang (53 subjects) were given a lecture with discussion groups and group II in PPA IO-495 Alfa Omega Bakunase 2, Kota Kupang with total of 42 subjects were given a lecture with hands on. Measuring tool was a questionnaire. The analysis of data using Statistic Program for Social Science (SPSS) for a different test testing the T-test for normal distribution of data, while the Mann-Whitney test and the Wilcoxon Signed Rank test were for abnormal distribution data. The initial analysis on knowledge and attitudes obtained some comparable results in which there were no differences between treatment groups I and II (p > 0.05). The results of the analysis of mean differences between groups on post-test 1 and 2 showed some significant differences knowledge and attitudes in the treatment group II of the treatment group I (p < 0.05). The results of the analysis of the average increase showed the increased knowledge and attitudes were significant in both treatment groups. Delta analysis results from pre-test to post-test 1 and pre-test to post-test 2 showed the treatment group improved knowledge and attitudes II is higher than in the treatment group I (p < 0.05). Dental health education using lecture with hands on increased knowledge and attitudes about the subject of oral hygiene of the a lecture with discussion groups.   ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatan pengetahuan dan sikap ibu tentang kebersihan gigi dan mulut melalui pendidikan kesehatan gigi metode ceramah disertai diskusi kelompok dan ceramah disertai hands on. Penelitian dilakukan pada subjek penelitian sebanyak 95 ibu dari anak umur 6-8 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan terbagi dalam dua kelompok. Kelompok perlakuan I di PPA IO-497 Benyamin Oebufu, Kota Kupang sebanyak 53 subjek diberikan ceramah disertai diskusi kelompok dan kelompok II di PPA IO-495 Alfa Omega Bakunase 2, Kota Kupang sebanyak 42 subjek diberikan ceramah disertai hands on. Alat ukur dalam penelitian adalah kuesioner. Analisis data menggunakan Statistik Program for Social Scince (SPSS) untuk uji beda yaitu uji T-test untuk data distribusi normal, sedangkan Mann-Whitney test dan Wilcoxon Signed Ranks test untuk data distribusi tidak normal. Hasil analisis perbedaan rerata antar kelompok pada post-test 1 dan 2 terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap yang signifikan pada kelompok perlakuan II lebih tinggi dari pada kelompok perlakuan I (p < 0,05). Hasil analisis rerata peningkatan terdapat peningkatan pengetahuan dan sikap yang signifikan pada kedua kelompok perlakuan. Hasil anal isis delta dari pre-test ke post-test 1 dan pre-test ke post-test 2 menunjukkan pada kelompok perlakuan II peningkatan pengetahuan dan sikap lebih tinggi dari pada kelompok perlakuan I (p < 0,05). Pendidikan kesehatan gigi dengan metode ceramah disertai hands on lebih meningkatkan pengetahuan dan sikap subjek tentang kebersihan gigi dan mulut dari pada metode ceramah disertai diskusi kelompok.
Pengaruh bahan desensitasi pasca bleaching ekstrakoronal terhadap kekuatan geser pelekatan restorasi resin komposit Mulyawati, Ema
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11235

Abstract

The Effect of desensitizing agent in post-extracoronal bleaching on shear bond strength of composite resin. The dentinal hypersensitivity is a common condition among patients after extracoronal bleaching treatment that usually needs the application of desensitizing agent. The purpose of this study was to evaluate the composite resin restoration shear bond strength with and without desensitizing application after extracoronal bleaching using 40% of H2O2. Twenty one extracted permanent human incisor teeth were randomly divided into 3 groups of 7 each. Group I was with the application of 40% H2O2 without any desensitizing agent. Group II was with the application of 40% of H2O2 with desensitizing agent and group III served as the control. The teeth were immersed in artificial saliva and stored in 37 °C incubator for 7 days. The teeth were restored using composite resin. After restoring the shear bond strength of composite resin was tested using a universal testing machine. Result and conclusion. there is no significant difference between bleaching group with and without desensitizing agent. The application of desensitizing agent after extracoronal bleaching did not impact the composite resin shear bond strength.ABSTRAKDentin hipersensitif merupakan kondisi yang biasa dialami pasien setelah perawatan bleaching ekstrakoronal yang biasanya memerlukan aplikasi bahan desensitasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan desensitasi pasca bleaching ekstrakoronal menggunakan H2O2 40% terhadap kekutan geser pelekatan restorasi resin komposit. Dua puluh satu gigi permanen insisivus yang telah dicabut dibagi dalam tiga kelompok masing-masing 7 gigi. Kelompok I dilakukan bleaching ekstrakoronal dengan H2O2 tanpa bahan desensitasi. Kelompok II dilakukan bleaching setelah itu diaplikasikan bahan desensitasi dan kelompok III sebagai kelompok kontrol. Semua gigi-gigi tersebut di rendam dalam saliva buatan dan dimasukkan inkubator selama 7 hari pada suhu 37 °C. Selanjutnya seluruh gigi dilakukan restorasi resin komposit menggunakan light cure halogen. Setelah itu dilakukan pengujian kekuatan geser pelekatan menggunakan universal testing machine. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal - Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kekuatan geser pelekatan pada semua kelompok perlakuan (p > 0,05). Dari penelitian ini disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh aplikasi bahan desensitasi pasca bleaching ekstrakoronal terhadap kekuatan geser pelekatan restorasi resin komposit.
Identifikasi faktor yang mempengaruhi perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut: Studi pada Pusat Pengembangan Anak Agape Sikumana Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia Pay, Mery Novaria; Widiati, Sri; Sriyono, Niken Widyanti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.9900

Abstract

ABSTRACT: Identification of factors towards children behavior on oral health maintenance. Behavior was a result of internal and external factors such as stimulus and response. Many factors can affect of children behavior on oral health maintenance. This study aims is to identify factors affecting children behavior on oral health maintenance. The study is an observational research with a cross sectional design and all that met inclusion criteria were sampled. Questionnaires with Likert scale were used to assess attitudes, perception, motivation, and behavior variables. The questionnaires showed validity (correlation values ≥ 0.30) and reliability (alpha Cronbach ≥ 0.70).The result of multiple regression analysis showed that variables attitude (p = 0.163) did not affect significantly on the behavior. Variables perception (p = 0.017) and motivation (p = 0.006) affected significantly on the behavior. Variables of perception and motivation contribute 40.0% (R2 = 0.400) to children behavior on oral health maintenance. Motivation gave the highest contribution of 10.4% to children behavior on oral health maintenance. Conclusion research, The better and the stronger perception and motivation is the better children behavior on oral health maintenace. Attitude does not affect children behavior on oral health maintenance. Motivation has contributed greatly to the children behavior on oral health maintenance.ABSTRAKPerilaku merupakan hasil interaksi faktor eksternal berupa stimulus dan faktor internal berupa respon.Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dan semua yang memenuhi kriteria inklusi diambil sebagai sampel. Variabel sikap, persepsi, motivasi dan perilaku diukur dengan kuesioner yang menggunakan skala Likert. Masing-masing kuesioner telah memenuhi uji validitas (nilai korelasi ≥ 0.30) dan uji reliabilitas dengan alpha cronbach ≥ 0.70. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa sikap (p=0.163) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku. Variabel persepsi (p=0.017) dan motivasi (p=0.006) berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku. Variabel persepsi dan motivasi memberikan kontribusi sebesar 40.0% (R2 = 0.400) tehadap perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Motivasi memberikan pengaruh paling besar yaitu 10,4% terhadap perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Kesimpulan penelitian, semakin baik persepsi dan semakin kuat motivasi maka semakin baik perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Sikap tidak berpengaruh terhadap perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Motivasi mempunyai pengaruh paling besar terhadap perilaku anak dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut.
Perubahan morfologi sel HeLa setelah paparan ekstrak etanolik Curcuma longa Hutomo, Suryani; Susilowati, Heni; Suryanto, Yanti Ivana; Kurniawan, Chandra
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11248

Abstract

Cell morphological changes on HeLa cells after Curcuma longa etanolik extract exposure. Curcuma is mostly found in the areas with tropical and sub-tropical climate, and is one of original plants of Southeast Asia. In Indonesia, curcuma can be found in almost all regions and areas. Curcumin, which is curcuma’s main constituent, is a potent anti oxidant. Previous studies reported that curcuma longa extract may decrease the growth of cancer cells by interfering with cell proliferation, and by causing the cell apoptosis; however, the mechanism of apoptosis remains unclear. The purpose of this study was to investigate the effect of Curcuma longa extract on the morphological change of HeLa cells, indicating the cell damage. HeLa cells (5x10⁴ cells/well) were cultured in complete RPMI 1640 overnight before stimulation. Etanol extract of Curcuma longa (50 µg/ml, 100 µg/ml, 150 µg/ml) were added to the culture of HeLa cells and were incubated for 24 hours in antibiotic-free of culture medium. HeLa cells morphological analysis was performed under phase contrast microscope after haematoxilent eosin staining. Docsorubisin (0,5625 mg/ml) was used as positive control in this study. The results demonstrated that Curcuma longa extract caused cell morphological changes on HeLa cells indicated by cell shrinkage, lost contact with neighboring cells as the alteration of apoptotic cell death in most of cell population. The nuclei were dark as a result of their capability to absorb haematoxylene dye. Statistical analysis showed a significant difference between controls and treatment groups. It was then concluded that Curcuma longa extract induced cell damage on HeLa cells in a way of cell shrinkage.ABSTRAKKunyit (Curcuma longa) merupakan tanaman yang dapat tumbuh di daerah tropis dan sub tropis, serta merupakan tanaman asli Asia Tenggara. Di Indonesia, kunyit menyebar secara merata di seluruh daerah. Kurkumin yang merupakan unsur utama kunyit, merupakan antioksidan yang kuat. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kunyit mampu menghambat pertumbuhan beberapa tipe sel kanker. Mekanisme anti-kanker kurkumin adalah dengan menghambat proliferasi sel. Penelitian terdahulu melaporkan bahwa ekstrak Curcuma longa menginduksi apoptosis pada sel HeLa, tetapi mekanisme kematian sel tersebut belum jelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh ekstrak Curcuma longa pada perubahan morfologi sel HeLa, dimana perubahan morfologi merupakan parameter kerusakan sel. Sel HeLa (5x104 sel/well) dikultur dalam RPMI 1640 semalam sebelum stimulasi. Ekstrak etanol kunyit (50 µg/ml, 100 µg/ml, 150 µg/ml) ditambahkan pada kultur HeLa dan diinkubasi selama 24 jam dalam medium tanpa antibiotik. Analisis morfologi sel HeLa dilakukan dengan menggunakan mikroskop fase kontras setelah pewarnaan haematoksilen eosin. Doksorubisin (0,5625 µg/ml) digunakan sebagai kontrol positif induksi apoptosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak Curcuma longa menyebabkan perubahan morfologi sel yang ditandai dengan semakin mengecilnya ukuran sel, hilangnya prosesus sitoplasmik sehingga sel berbentuk bulat, serta hilang kontak dengan sel lain yang merupakan ciri apoptosis pada sebagian besar sel HeLa. Nukleus tampak berwarna gelap karena peningkatan kapasitas penyerapan zat haematoksilen. Analisa statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol positif dan negatif dengan kelompok stimulasi dalam jumlah sel yang mengalami perubahan morfologi menuju apoptosis. Disimpulkan bahwa ekstrak Curcuma longa mampu menginduksi perubahan morfologi sel HeLa yaitu berupa cell shrinkage.

Page 1 of 1 | Total Record : 8