Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue " Vol 19, No 2 (2012): December" : 21 Documents clear
Penangan Pasien dengan Riwayat Stroke dengan Gigi Tiruan Lengkap Overdenture Putri, Anak Agung Istri; Wahyuningtyas, Endang; Ismiyati, Titik
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15517

Abstract

Latar belakang. Pada kondisi sistemik tertentu yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pencabutan seperti pada pasien dengan riwayat stroke perawatan dengan overdenture merupakan alternatif yang paling tepat. Overdenture adalah gigi tiruan lengkap atau sebagian yang didukung oleh mucoperiostium dan beberapa gigi atau akar gigi asli yang telah dilakukan perawatan saluran akar, untuk menghambat proses resobsi tulang alveolaris sehingga retensi dan stabilisasi gigi tiruan lengkap dapat ditingkatkan. Tujuan. Laporan kasus ini untuk mengetahui penanganan pasien dengan riwayat stroke dengan Gigi Tiruan Lengkap (GTL) overdenture. Kasus. Pasien wanita, 58 tahun dating atas kemauan sendiri ke RSGM Prof. Soedomo Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, ingin dibuatkan gigi tiruan rahang atas dan rahang bawah, karena gigi tiruan yang dipakai sebelumnya sudah tidak nyaman diapakai mengunyah, pasien dengan riwayat stroke, saat ini masih dalam perawatan. Gigi yang masih tinggal adalah gigi 28, gigi 42 dan gigi 43, oleh karena merupakan kontra indikasi pencabutan, maka gigi yang masih tinggal tidak dicabut dan direncanakan sebagai gigi penyangga GTL overdenture dengan kaitan coping pada gigi 28, kaitan magnet pada gigi 42 dan base root pada gigi 43, selanjutnta diinsersikan GTL overdenture rahang atas dan rahang bawah, yang diperiksa: retensi, stabilisasi, oklusi, estetika dan fonetik. Kontrol dilakukan 1 minggu kemudian diperiksa keluhan pasien saat memakai GTL: pada pemeriksaan subyektif dan obyektif, diperiksa retensi, stabilisasi, oklusi, estetik dan fonetik. Hasil. Perawatan GTL overdenture dengan menggunakan gigi yang masih tinggal dengan kombinasi penyangga overdenture pada pemeriksaan subyektif pasien merasa lebih nyaman, pada pemeriksaan obyektif overdenture dapat meningkatkan retensi, stabilisasi, oklusi, estetika, fonetik. Kesimpulan. Pemakaian GTL overdenture dapat meningkatkan retensi, stabilisasi, oklusi, estetika dan fonetik. Overdenture merupakan perawatan pilihan untuk pasien dengan keadaan sistemik tertentu yang tidak mungkin dilakukan pencabutan. Background. In certain systemic conditions that do not allow for such revocation in patients with a history of stroke care with overdenture is the most appropriate treatment alternative. Overdenture is a complete or partial dentre supported by mucoperiostium and several teeth or tooth roots that have been carried out root canal treatment to inhibit the process of alveolar bone resobtion so retention and stabilization of a complete denture can be improved. Purpose. Of this case report to determine the management of patients with a history of stroke with Complete Denture (CD) overdenture. Case. The patient was a woman, 58 years old to come on their own to the Hospital Soedomo Faculty of Dentistry, University of Gadjah Mada, want to made a denture maxilla and mandible, as previously worn dentures that are nor comfortable to wear chew, patients with a history of stroke, while still in treatment. Teeth that remain are 28 teeth, tooth 42 and tooth 43, is contraindicated because of the revocation, the teeth that are left are not revoked and planned as CD overdenture abutment coping with regard to the teeth 28, the magnetic connection of the teeth 42 and the base root on tooth 43, the next is inserted CD overdenture maxillary and lower jaw, which examined: retention stabilization, occlusion, aesthetics and phonetics. Controls performed 1 week later examined patient complaints when using CD the subjective and objective examination, examined retention, stabilization, occlusion, esthetics and phonetics. Results. CD overdenture treatment using gear that is still living with the combination of buffer overdenture on a subjective examination of the patient feel more comfortable, the overdenture objective examination can improve retention, stabilization, occlusion, esthetics, phonetics. Conclusion. CD overdenture usage can increase retention, stabilization, occlusion, aesthetics, and phonetics. Overdenture is the treatment of choice for patients with certain systemic conditions that are nor possible revocation.
Dampak Pemakaian Alat Ortodontik terhadap Kesehatan Jaringan Periodontal Lastianny, Sri Pramestri
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15547

Abstract

Pendahuluan. Perawatan ortodontik terutama yang cekat sudah banyak digunakan, bahkan akhir-akihir ini tidak hanya untuk kepentingan perawatan maloklusi gigi, tapi juga untuk estetika. Namun banyak pasien mengeluh adanya peradangan, bau mulut bahkan sampai terjadinya periodontitis berat, sampai kegoyahan gigi. Tujuan penulisan. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari pemakaian alat ortodontik terhadap kesehatan jaringan periodontal. Dampak tersebut ditinjau dari efek alat ortodontik yang dapat meningkatkan akumulasi plak, iritasi yang ditimbulkan pada pemakaian band dan braket pada alat ortodontik, juga akibat tekanan yang ditimbulkan pada jaringan periodontal. Kesimpulan. Untuk meminimalkan dampak pemakaian alat ortodontik tersebut, seharusnya ditekankan pentingnya plak kontrol, juga harus dipertimbangkan tekanan yang diberikan pada jaringan periodontal.  Introduction. Fixed orthodontic appliances is widely used, not only for treatment dental malacclusion, but also for aestetically. But many patient complain of gingival inflamation, severe periodontitis, event to luxation tooth. The aim of this review. Was to know the side effects of orthodontic appliances for periodontal healthy. Which was evaluated the effect of orthodontic appliances could increased the number of plaque retention, irritation of use appliances and also the pressure of this orthodontic appliances on periodontal tissues. The conclusion. To minimize the side effect of using orthodontic appliances, beside instruction for controle plaque, also consider the pressure exerted for periodontal tissues.
Rehabilitasi Pasien Karsinoma Sel Skuamosa Pasca Bedah Menggunakan Obturator dengan Magnet Yunisa, Fahmi; Indrastuti, Murti; Saleh, Suparyono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15537

Abstract

Latar Belakang. Tindakan pembedahan pada pasien dengan kanker rongga mulut dapat mengakibatkan terjadinya defek di area intra oral dan maksillofasial. Defek tersebut dapat mengakibatkan terganggunya fungsi normal rongga mulut, yaitu mengunyah, bicara dan estetis, serta mengurangi rasa percaya diri. Untuk megatasinya diperlukan rehabilitasi fungsi rongga mulut berupa pembuatan obturator. Tujuan. Rehabilitasi defek pasca bedah pada pasien karsinoma sel skuamosa yang melibatkan palatum keras, sebagian palatum lunak, rongga hidung dan sinus maksilaris. Laporan Kasus dan Penatalaksanaan. Seorang pasien laki-laki, usia 74 tahun, datang ke klinik prostodonsia RSGM UGM, atas rujukan dari RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, untuk dibuatkan hidung dan penutup untuk langit-langit mulutnya yang terbuka. Pasien merasa malu karena kondisi hidungnya yang hilang dan terbuka, serta susah untuk menelan makanan dan jika berbicara kurang jelas karena langit-langit mulutnya juga hilang/terbuka. Pasien telah menjalani operasi pembedahan hidung dan palatum, karena terdiagnosa karsinoma sel skuamosa. Pemeriksaan obyektif menunjukkan terdapat defek yang cukuo besar pada rongga hidung dan palatum durum dan sebagian palatum molle. Gigi yang tersisa pada rahang atas hanya gigi 23. Perawatan yang dilakukan adalah dengan pembuatan protesa hidung dan obturator. Obturator dibuat dari bahan resin akrilik dengan klamer C pada gigi 23. Untk menambah kekuatan retensi maka ditambahkan magnet di fitting surface obturator yang dilekatkan dengan protesa hidung. Kontrol dilakukan 1 bulan kemudian. Pasien merasa nyaman menggunakan obturator dengan penguat magnet pada protesa hidung. Pasien bisa menelan makanan dan bicaranyapun sudah lebih jelas. Pasien juga merasa obturatornya tidak mudah lepas, ketika menelan makanan maupun saat berbicara. Kesimpulan. Penggunaan obturator dengan magnet dapat mengembalikan fungsi normal rongga mulut akibat defek pasca bedah, serta mengembalikan rasa percaya diri pasien. Background. Surgery in patients with cancer of the oral cavity can result in defects in the area of intra-oral and maxillofacial. Defects can lead to discruption of the normal functions of the oral cavity, ie chewing, talking and aesthetic, as well as reducing confidence. In order to fix the function, the patient needed rehabilitation of oral function such as the manufacture of the obturator. Objective. Postoperative rehabilitation defects in patients with squamous cell carcinoma involving the hard palate, part soft palate, nasal cavity and the maxillary sinus. Case Report and Management. A male patient, aged 74, came to the clinic of prosthodontics Gadjah Mada University Dental Hospital, upon referral from the Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta. He wanted to make the nose and the cover for his open mouth roof. He feels embarrassed because of the condition of his nose was missing and open, as well as difficult to swallow food and if he talk was less obvious because of the condition of his nose was missing and open, as well as difficult to swallow food and if he talk was less obvious because the roof of his mouth is also missing/open. He had undergone nose and palate surgery, as diagnosed squamous cell carcinoma. The objective examination shows that there substantial defects in the nasal cavity and hard palate and part of the soft palate. The remaining teeth in the upper jaw only element 23. The treatment that performed in this patient was making the nose and obturator prosthesis. Obturator is made of acrylic resin with C clamer on teeth 23. In order to add strength retention, there was addition of magnet on the obturator fitting surface that attached to the nose prosthesis. The control performed one month later. Patient feels comfortable using the obturator prosthesis with magnetic on nose prosthesis. He can already swallow food again and the talk has been clearer. He also feels comfort since the obturator was not easily escape, while swallowing food or speaking. Conclusion. The use of the obturator with magnets can restore the normal function of the oral cavity caused by post-surgical defect and restore the confidence of the patient.
Perbandingan Tinggi Tulang Maksila dan Mandibula di Regio Interisisivi Sentral antara Pra dan Pasca Perawatan Ortodontik dengan Pencabutan ke Empat Gigi Premolar Pertama (Kajian pada Foto Panoramik) Ardhana, Wayan
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.12702

Abstract

Latar belakang. Perawatan ortodontik pada kasus-kasus gigi berjejal dan protusif sering membutuhkan pencabutan gigi premolar untuk penyediaan ruang agar gigi berjejal dapat dirapikan dan gigi depan yang protusif dapat diundurkan. Gigi insisivus sentral merupakan salah satu gigi yang paling banyak mengalami pergerakan selama proses retrusi. Pergerakan gigi insisivus mengakibatkan terjadinya perubahan pada puncak tulang alveolar selama perawatan yang mungkin akan mempengaruhi tinggi tulang maksila dan mandibula pasca perawatan. Tujuan penelitian. Membandingkan tinggi tulang maksila dan mandibula di daerah interdental gigi insisivi sentral pada foto panoramic antara pra dan pasca perawatan maloklusi dengan pencabutan ke empat gigi premolar pertama. Metode penelitian. Digunakan 30 pasang foto panoramic pra dan pasca perawatan yang dipilih sesuai dengan kriteria penelitian dari pasien-pasien peneliti yang telah selesai mendapat perawatan aktif dengan teknik edgewise. Analisis Kolmogorov-Smirnov dan Shaviro-Wilk digunakan untuk uji normalitas dan Student t-test data berpasangan digunakan untuk menguji perbedaan tinggi tulang maksila dan mandibula antara pra dan pasca perawatan. Hasil Penelitian. Tidak didapatkan perbedaan (p>0,05) tinggi tulang maksila dan amndibula antara pra dan pasca perawatan ortodontik dengan pencabutan keempat gigi premolar pertama. Background. In orthodontic treatment, premolar extractions are often needed in crowding and prostrusive cases to provide space for the teeth can be aligned and retracted to their desire position. Central incisor teeth are the teeth that mostly undergone more movement during retrusion. The change of the alveolar bone crest in this incisors might affect the maxillary and mandibular bone height post-treatment. Research objectives. The present study aimed to compare the bone height in the interdental maxillary and mandibular central incisors regions before and after orthodontic treatment with four first premolars extractions on panaromic radiograph. Research Methods. Thirty pairs of panoramic radiograph of pre and post treatment were selected according to the criteria of the study f the patients who have completed their active treatment with edgewise technique. The results were analyzed by the Kolmogorov-Smirnov and Shaviro-Wilk for testing the data normality and the Student paired t-test for testing the significancy of maxillary and mandibula bone heights differences between pre and post treatment. Results. There were no differences (p>0,05) between the maxillary and mandibular bone height were shown in pre and post orthodontic treatment with four first premolars extractions.
Kandisiasis Mulut sebagai Indikator Penyakit Sistemik Prayudha, Satrya Ayu Erawatie; Chrismawaty, Bernadeta Esti; Agustina, Dewi; Subagyo, Goeno
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15542

Abstract

Latar belakang. Kandidiasis mulut disebabkan oleh infeksi Candida. Kondisi imunokompromais seperti DM merupakan salah satu faktor predisposisinya. Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang sering tidak disadari dan menjadikan penderitanya rentan infeksi. Tujuan. Penulisan ini bertujuan untuk melaporkan kandidiasis mulut polimorfik pada pasien yang sebelumnya tidak terdeteksi DM. Kasus dan penanganan. Seorang laki-laki 57 tahun datang ke Klinik Gigi dan Mulut, RSUP Dr. Sardjito mengeluhkan gangguan pengunyahan. Keluhan dirasakan sejak 1 bulan terakhir akibat gigi sebalah kiri atasnya goyah. Pasien menggunakan gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) sejak 5 tahun yang lalu. Sejak awal, GTSL susah dilepas sendiri oleh pasien. Akhir-akhir ini, terdapat keluhan mulutnya gatal dan nafas berbau. Dilaporkan adanya penurunan berat badan hingga 9 kg pada 3 bula terakhir. Ekstra-oral normal, intra-oral tampak plak putih pada dorsum lidah, area eritematus pada palatum berhadapan dengan plat GTSL, gigi avulsi, luksasi disertai resesi. Berdasar anamnesis dan pemeriksaan klinis, lesi mulut mengacu pada kandidiasis mulut dan pasien dicurigai menderita DM. Rencana perawatan meliputi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi, terapi antifungal, ortopantomogram (OPG) dan konsultasi medis terkait kecurigaan DM. Penatalaksanaan lesi mulut meliputi debridasi dan Nystatin topikal. Dua minggu kemudian, lesi mulut menunjukkan perbaikan. Hasil OPG dan kadar glukosa darah (KGD) mengindikasikan latar belakang DM. Ekstraksi dilakukan setelah DM terkontrol diikuti pembuatan protesa. Fungsi mulut kembali normal dan diinstruksikan pengelolaan KGD. Kesimpulan. Temuan klinis kandidiasis mulut dapat digunakan sebagai indicator adanya gangguan sistemik, pada kasus ini adalah DM. Identifikasi dini lesi mulut terkait gangguan sistemik dapat membantu penderita untuk memperoleh perawatan sistemik lebih awal. Background. Oral candidiasis is caused bt Candida infection. Immunocompromise condition such as diabetes is one of its predisposition. Diabetes mellitus (DM) is metabolic disorder that is often not realized by the sufferer and makes the sufferer susceptible to infection. Purpose. This paper is intended to report the polymorphic type of oral candidiasis in patient with previously undetected DM. Case and management. A 57 years old man complained of impaired mastication due to teeth luxation since last month. Patient has wearing removable partial dentures since 5 years ago, which was hard to removed by himself. Lately the patient experienced prickly under dentures and halitosis. The patient reported about lost of weight as 9 kg in 3 months. No abnormality found extraorally, and intraorally it found some velvety white plaque on dorsum of the tongue, erythematous area on mucosal bearing dentures, avulsion and luxation of the teeth. Based on history taking and clinical examination, oral lesion regarded as oral candidiasis and the patient suspected to have DM. Treatment planning were oral health education, antifungal therapy, taking an OPG, medical consultation because of possibility of DM. Treatments comprises as oral debridement and topical nystatin. Two weeks later, oral lesion showed improvement. It revealed that OPG and Blood Glucosa Level (BGL) result were referred to DM. After his DM controlled, teeth extraction was done followed by construction of new denture. Normal oral function returned, and patient instructed to maintain BGL. Conclusion. Clinical findings as oral candidiasis can be used as an indicator of the existence of the systemic disease, in this case are DM. Early identification of oral lesion associated systemic disease could help the patient to obtain early treatment.
Rekonstruksi pada Perforasi Palatum Akibat Pneggunaan Gigi Tiruan Lengkap Rahang Atas dengan Suction Cup Pramasari, Cristiani Nadya; Prihartiningsih, P.; Rahardjo, R.
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15518

Abstract

Latar belakang. Pemasangan suction cup pada gigi tiruan lengkap rahang atas merupakan salah satu cara untuk meningkatkan referensi. Kondisi vakum oleh karena suction cup ini dalam waktu jangka panjang dan tidak terkontrol mengakibatkan nekrosis jaringan yaitu adanya perforasi palatum. Tujuan. Melaporkan rekonstruksi penutupan perforasi palatum sebagai komplikasi penggunaan gigi tiruan lengkap rahang atas dengan suction cup. Laporan Kasus. Pada tanggal 11 September 2012 seorang pria berusia 64 tahun datang ke Poliklinik Bedah Mulut RSUP dr. Sardjito Yogyakarta dengan keluhan terdapat lubang pada langit-langit. Pasien menggunakan gigi palsu buatan tukang gigi dengan perekat berbahan karet pada langit-langit selama 5 tahun. Selama penggunaan gigi palsu pasien sering mengalami sakit dan pembengkakan di langit-langit sampai keluar nanah dan akhirnya terbentuk lubang sehingga jika minum air keluar dari hidung. Pemeriksaan rontgen oklusal rahang atas tampak adanya resorbsi regio palatum durum. Rekonstruksi menggunakan teknik push back modifikasi dilakukan untuk penutupan perforasi palatum di bawah anestesi umum. Kesimpulan. Suction cup pada gigi tiruan lengkap rahang atas mengakibatkan kerusakan jaringan lunak dan jaringan keras rongga mulut. Perforasi palatum yang diakibatkan oleh suction cup ini dapat dilakukan rekonstruksi dengan teknik push back dengan hasil yang cukup optimal. Background. Suction cups are used to get retention of the complete dentures. The uncontrolled constant vacuum created by the suction cup induces necrosis of tissues and perforation ofpalate. Objective. To report reconstruction for palatal perforation closure as a complication due to prolonged use of maxillary denture with suction cup. Case Report. A 64 years old male patient came to the Department of Oral Surgery, Sardjito General Hospital Yogyakarta on September 11, 2012 with the complaint of hole in his palate. He was wearing dentures for the past 5 years. He also complained pain, swelling, and drainage of pus even formed a hole in the palate. He had noticed nasal regurgitation of water while drinking. Maxilla occlusal view showed bone resorption in the palatum durum. Reconstruction with modified push back technique for palatal closure was performed under general anesthesia. Conclusion. The use of suction cups in maxillary denture leading to destruction of soft and hard tissues. Reconstruction with modified push back technique can be performed to palatal perforation caused by suction cup and this method provide optimal result.
Pengaruh Level HBA1C Terhadap Fungsi Fagositosis Neutrofil (PMN) pada Penderita Periodontitis Diabetika Syaify, Ahmad
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.9375

Abstract

Latar belakang. Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit sistemik yang sangat terkait dengan meningkatnya keparahan penyakit periodontal. Pada penderita DM diduga kuat bahwa keparahan periodontitis disebabkan oleh gangguan fungsi leukosit. Sel neutrofil (PMN) diketahui berperan besar di dalam system pertahanan jaringan periodontal. Kontrol glikemik pada penderita DM dapat diketahui dengan pemeriksaan level HbA1c. Tujuan. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh level HbA1c pada penderita periodontitis diabetika terhadap fungsi fagositosis sel PMN. Bahan dan Cara. Sel PMN dari darah tepi 15 pasien periodontitis terdiri 5 periodontitis tana DM, 5 periodontitis diabetika terkontrol (HbA1c<7) dan 5 periodontitis diabetika tidak terkontrol (HbA1C>7) diuji aktivitas fagositosinya dengan partikel lateks. Fungsi fagositosis dihitung dengan rumus indeks fagositosis (IF). Hasil. Terdapat perbedaan significant IF sel PMN subyek periodontitis diabetika tidak terkontrol (HbA1c>7) dengan periodontitis non DM. IF tertinggi pada subyek periodontitis non DM dan tertinggi pada periodontitis diabetika tidak terkontrol (HbA1c>7). Kesimpulan. Level HbA1c berpengaruh terhadap fungsi fagositosis sel PMN yang dilihat dari indeks fagositosis (IF).  Background. Diabetes mellitus is a systemic condition that has long been associated with an increased and severity of periodontal disease. The severity of periodontitis in diabetic patients was thought caused by decreation of leukocytes function. Polymorphonuclear leukocytes (PMN) play a key role in the maintenance of gingival (HbA1c) level. Aims. The objective of this study was to analyse the influence of HbA1C level to fagositosis index on diabetic periodontitis patients. Material and Methods. PMN were taken from peripheral blood of 15 periodontitis patients consisted of 5 subject with uncontrolled DM (HbA1c>7), 5 subject with controlled DM (HbA1c<7), and 5 subject non DM as control. Phagocytosis function were determined using latex particle and coaunted by phagocytosis index (PI). Results. These analysis revealed a significant (p<0.05) different of PI between diabetic periodontitis who have HbA1c>7 and periodontitis non diabetic subjects. The higest PI was on diabetic periodontitis with HbA1c level >7 and the lowest PI was on non diabetic subjects. Conclusion. Level of HbA1c on diabetic periodontitis patient influence to phagocytosis function of PMN.
Hemimandibulektomi dengan Rekonstruksi Mandibula dan Fiksasi Intermaksila sebagai Penatalaksanaan Ameloblastoma Mandibula Sinistra Nehriasari, Indria; Widiastuti, Maria G
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15538

Abstract

Latar belakang. Ameloblastoma adalah tumor odontogenik yang jarang terjadi. Walaupun jinak tetapi bersifat merusak dan mempunyai tingkat kekambuhan yang tinggi. Hemimandibulektomy adalah salah satu tindakan yang dipilih jika lesi patologis telah melibatkan processus coronoideus dan condyle walaupun efek dari tindakan tersebut adalah terjadinya defek wajah dan deviasi mandibula. Tujuan. Melaporkan tindakan hemimandibulektomy dengan rekonstruksi bridging plate dan traksi intermaksila pada ameloblastoma mandibula sebelah kiri yang dilakukan untuk mengurangi deviasi dan defek wajah. Kasus dan perawatan. Laki-laki umur 46 tahun datang ke klinik bedah mulut dan maksilofacial RS Dr Sardjito Yogyakarta dengan keluhan utama adanya pembengkakan pada sisi kiri rahang bawah di area pipi. Keadaan tersebut dirasakan sejak 4 tahun yang lalu, tidak sakit, keras, warna sesuai dengan jaringan sekitar. Diagnosa yang ditegakkan Ameloblastoma mandibula. Perawatan dari kasus ini adalah hemimandibulektomy dengan rekonstruksi bridging plate dengan anestesi umum. Enam minggu dengan kawat dan 3 bulan dengan traksi elastic digunakan untuk mengurangi deviasi mandibula setelah tulang rahang direseksi. Kesimpulan. Hemimandibulektomi dilakukan untuk mengambil lesi patologi secara radikal untuk mencegah rekurensi. Bridging plate digunakan sebagai tindakan rekontruksi mandibula. Traksi intermaksila merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengurangi deviasi mandibula setelah hemimandibulektomy. Background. Ameloblastoma is an odontogenic tumor which rarely happened. Although it is benign, it can be destructive and has a high recurrency rate. Hemimandibulectomy is one kind of treatments which can be choosed if pathologic fracture has involved coronoid processus and condyle, eventhough its effect can cause mandible deviation and facial defect. Purpose. Reported a hemimandibulectomy with bridging plate reconstruction and intermaxillary function on the left mandible ameloblastoma intended to reduced the deviation of the mandible. Case and threatment. Fourty-six years old man came to the oral and maxillofacial surgery clinic at Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta, with a main sign of swelling at the left side of lower jaw on buccal region, it was emerged approximately 4 years ago, painless, hard on palpation, colour as normal. Treatment of this case was hemimandibulectomy and reconstruction with bridging plate under general anaesthesia. Six weeks wiring and 3 months elastic traction was used to decrease mandible deviation as an intermaxillary fixation. Partial removable denture used to complete the treatment. Conclusion. Treatment at this case is aimed to eliminate all tumor with hemimandibulectomy and bridging plate is placed to reconstruct the mandible. The use of the intermaxillary elastic traction as an intermaxillary fixation until get the normal occlusion could be one alternative treatment to reduced mandible deviation after hemimandibulectomy.
Perbedaan Penggunaan Bahan Desensitizing dan Tanpa Desensitizing Pasca Bleaching Ekstra-Koronal terhadap Kekerasan Email Hadriyanto, Wignyo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.12703

Abstract

Latar Belakang. Pada bleaching ekstrakoronal diketahui terjadi proses demineralisasi sehingga terjadi hiersensitivitas dentin. UltraEZ salah satu bahan desensitizing yang dapat mengurangi hipersensitivitas akibat demineralisasi email pasca bleaching ekstrakoronal terkini. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kekerasan email pasca pemutihan gigi ekstra-koronal dengan aplikasi bahan desensitizing dan tanpa aplikasi bahan desensitizing. Metode penelitian ini menggunakan 20 gigi premolar permanen pasca pencabutanyang masih utuh dan direndam dalam saliva buatan, kemudian dilakukan pemolesan pada bagian bukal dengan menggunakan pasta profilaksis kemudian gigi dicuci dan dikeringkan. Bahan pemutih Opalescence Xtra Boost diaplikasikan pada semua permukaan bukal gigi premolar kemudian dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok I, II, masing-masing kelompok sebanyak 10 gigi. Kelompok I sebagai kelompok control setelah dilakukan pemutihan, tidak dilakukan aplikasi Ultra-EZ, dimasukkan dalam wadah botol dan direndam dalam saliva buatan kemudian disimpan dalam incubator. Mahkota dan akar gigi,kemudian ditanam dalam resin akrilik sesuai kelompok sebelumnya dengan permukaan bukal menghadap ke atas. Semua sampel diuji kekerasannya dengan uji kekerasan Vickers menggunakan beban 100 g selama 15 detik. Permukaan bukal menghadap ke atas, kemudian dijepit dengan alat penjepit pada meja alat Micro Vickers Hardness Tester. Sampel diatur sedemikian rupa sehingga akan terlihat gambar yang dapat diukur panjang diagonalnya langsung dengan micrometer yang ada pada lensa okuler. Nilai kekerasan email dalam Vickers hardness number (VHN) juga dapat diperoleh dari table setelah mengetahui rata-rata panjang diagonal, berat badan yang digunakan dan waktu yang digunakan untuk uji kekerasan. Pengujian ini dilakukan pada setiap kelompok. Selanjutnya diuji dengan uji-t. hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang bermakna antara aplikasi ultraEZ lima menit dibandingkan tanpa aplikasi ultraEZ terhadap kekerasan email pada p>0,05. Background. One of the side effect of bleaching agent is a dentine hypersensitive and ultraEZ is an agent can diminish this process. The purpose of this study was to evaluate difference of enamel microhardness post external bleaching with or without ultra-eze application. Method. Twenty extracted permanent bicuspid used in this study were divided into two group, each group contains 10 bicupids. Group I was treated external bleaching without ultra-eze application and group II was treated external bleaching with application ultraEZ for five minutes. After that all of the subject were seaked the artificial saliva and kept in the incubator 24 hours. Teeth were embedded into acrylic resin with the buccal sirface facing up. Further all of the subject was evaluated by Vickers using 100 g load for 15 seconds. Teeth were stapled on the Micro Hardness Tester table diagonal of emage was measure using micrometer attach on ocular lesnse. Email hardness can be known after calculating, the everage diagonal length, the load used and the duration of hardness test. Further the data was analize using t-test. The result shows there is significant difference between bleaching with and without the application of ultra-eze.
Pembuatan Cantilever Bridge Anterior Rahang Atas sebagai Koreksi Estetik Sumartati, Yusrina; Dipoyono, Haryo Mustiko; Sugiatno, Erwan
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15543

Abstract

Latar belakang. Kehilangan gigi anterior rahang atas mengakibatkan gangguan fungsi fonetik dan estetik. Gangguan fungsi estetik menyebabkan pasie menjadi rendah diri. Kondisi ini dapat diatasi oleh dokter gigi, salah satunya dengan pembuatan cantilever bridge. Tujuan. Penulisan ini yaitu untuk memberi informasi bahwa pada kasus kehilangan gigi-gigi anterior rahang atas dengan space yang telah menyempit dan malposisi gigi dapat dibuatkan protesa berupa gigi tiruan cekat dengan desain cantilever bridge. Kasus dan perawatan. Laporan kasus ini membahas tentang pasien perempuan umur 39 tahun yang datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo, dengan keluhan merasa kurang percaya diri karena gigi depan rahang atas hilang sejak 5 tahun yang lalu akibat kecelakaan. Gigi-gigi anterior rahang atas yang masih ada mengalami malposisi akibat pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan yang tidak baik. Perawatan yang dilakukan adalah dengan pembuatan cantilever bridge pada gigi 11, 12, 13 dan 21, 22, 23. Kesimpulan. Gangguan fungsi estetik pada gigi anterior rahang atas dapat diatasi dengan pembuatan cantilever bridge. Background. Maxillary anteriortooth loss resulting in impaired function of phonetic and aesthetic. Impaired function of aesthetic cause patients to become self conscious. This condition can be treated by a dentist, one with a cantilever bridge. Purpose. To inform that in case of missing anterior teeth of the upper jaw with a space that has been narrowed, and malposition of teeth can be made prosthesis denture fixed bridge with a cantilever design. Case and treatment. This case report discusses the 39 years old female patient who came to he Dental Hospital Prof. Soedomo, with complaints of feeling less confident due to the maxillary front teeth missing since 5 years ago due to an accident. Anterior teeth of the upper jaw are still experiencing malposition due to the use of removable partial dentures are not good. The treatment is done is by cantilever bridge on teeth 11, 12, 13 and 21, 22, 23. Conclusion. Impaired function of the aesthetic in the maxillary anterior teeth can be solved by a cantilever bridge. 

Page 1 of 3 | Total Record : 21