Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue " Vol 18, No 2 (2011): December" : 18 Documents clear
Pengambilan Gigi Kaninus dan Gigi Supernumerary yang Terpendam pada Maksila Fobia, Selviana Wati; Rahardjo, Bambang Dwi
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15415

Abstract

Latar belakang: suatu kasus impaksi gigi dapat menyebabkan maloklusi, dan kelainan oklusi akan semakin bertambah dengan bertambahnya usia. Impaksi gigi kaninus merupakan gigi kedua setelah gigi molar ketiga yang berfrekuensi tinggi untuk mengalami impaksi, persentasenya sekitar 12%-15% dari populasi. Gigi supernumerary adalah gigi tambahan/berlebih, sehingga jumlah gigi yang terbentuk dalam rahang lebih banyak dari jumlah normal. Terjadinya impaksi gigi kaninus dan supernumerary secara bersamaan jarang terjadi. Tujuan: Menambah wawasan du bidang bedah mulut minor, terutama dalam menangani suatu kasus impaksi gigi kaninus dan supernumerary untuk perawatan orthodonti. Kasus dan Penanganan: Dilaporkan seorang apsien, wanita, berusia 38 tahun yang baru menyadari kelainan maloklusinya dengan keluhan gigi depannya bertambah maju akibat adanya impaksi gigi kaninus dan impaksi gigi supernumerary. Pasien dikonsulkan dari Bagian Orthodonti ke Bagian Bedah Mulut untuk penanganan impaksi gigi kaninus dan supernumerary dengan kemungkinan untuk mempertahankan gigi kaninus memulai pembedahan. Dengan berbagai pertimbangan, penderita pada akhirnya menjalani operasi pengambilan gigi kaninus dan gigi supernumerary di Bagian Bedah Mulut RSGM Prof. Soedomo. Langkah-langkah diagnosis, operasi dan berbagai kemungkinan komplikasi juga turut disertakan di dalam pembahasan. Kesimpulan: Pengambilan gigi kaninus dan gigi supernumerary yang terpendam merupakan pilihan perawatan jika tidak memungkinkan untuk dilakukan exposure pada impaksi gigi kaninus pada maksila. Background: Impacted canines is the second most impacted tooth after third molar impaction, approximately 12%-15% of the population present with impacted canines. A supernumerary tooth is one that is additional to the normal series and can be found in almost any region of the dental arch. The incidence of an impacted canines as a sequent with a supernumerary tooth is very rare. Purpose: The aim of this case report is to add more information about a minor surgery due to canine and supernumerary tooth impaction for orthodontic treatment. Case and Management: We reported a case of a woman, 38 years old who have noticed a malocclution through the forwardness movement of her anterior teeth, due to the present of impacted canine and supernumerary. The patient consulted from orthodontic department to oral and maxillofacial department for further assessment, treatment and also the probability for surgical exposure of impacted canine. We have decided to do odontectomy for the impacted canine and supernumerary tooth as well at Oral and Maxillofacial department, Prof. Soedomo Hospital. The diagnosis process, exposure of impacted canine considerations are also discussed. Conclusion: the odontectomy for impacted canine and supernumerary teeth had performed as last options if there is impossible to do an exposure of an impacted canine. 
Perbandingan Inklinasi dan Ukuran Rahang antara Orang Jawa Buta dan Normal Christnawati, C.
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15396

Abstract

Latar Belakang. Penglihatan merupakan salah satu faktor yang diperlukan untuk mengontrol postur kepala. Postur kepala berhubungan dengan kompleks kraniofasial. Maksila dan mandibula merupakan bagian dari kompleks kraniofasial. Pada orang buta terjadi penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan daerah orbita karena tidak adanya rangsang. Tujuan Penelitian adalah untuk mempelajari perbandingan inklinasi dan ukuran rahang berdasarkan jenis kelamin antara orang Jawa buta dan normal. Metode Penelitian. Penelitian ini dilakukan terhadap 53 subjek, terdiri dari 25 orang buta ( 12 orang laki-laki dan 13 orang perempuan) dan 28 orang normal (14 orang laki-laki dan 14 orang perempuan). Setiap subjek penelitian dilakukan pengambilan sefalogram lateral pada posisi alamiah kepala, kemudian dilakukan penapakan pada kertas kalkir di atas iluminator. Pengukuran sembilan parameter inklinasi dan ukuran maksila dan mandibula dilakukan pada hasil penapakan. Data dianalisis dengan uji Anava dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p<0,05). Panjang mandibula dan panjang basis mandibula laki-laki normal lebih besar daripada perempuan normal dan kelompok buta, serta perempuan normal lebih besar daripada perempuan buta (p<0,05). Kesimpulan Ukuran maksila laki-laki buta lebih besar daripada perempuan normal. Panjang mandibula dan panjang basis mandibula laki-laki normal lebih besar daripada perempuan normal lebih besar daripada perempuan normal, laki-laki buta, dan perempuan buta, serta perempuan normal lebih besar daripada perempuan buta. Background Vision is one of the factors involved in the control of head posture. The posture of the head is related to craniofacial complex. Maxilla and mandible are part of craniofacial complex. In the blind there are deviations of growth and development of the orbital region in the absence of stimuli. The purpose of this study was to compare the inclinations and sizes of maxilla and mandible of the blind and normal Javanese subjects. Methods the research was conducted on 53 subjects, consisting of 25 blind subjects (12 men and 13 women) and 28 normal subjects (14 men and 14 women). Each subject of the research conductes on the lateral sefalogram in natural head position, then trace on tracing paper over the illuminator. In the nine-parameter measurements performed tracing inclination and size of the maxilla and mandible. Data were analyzed with two way ANOVA. The results showed that there were no significant differences (p<0.05) on the inclination of the maxillary, mandibular inclination, maxillary base length, and shape of the mandible between the blind and normal Java as well as between the sexes. The size of the blind males maxilla larger than normal females (p<0.05). the length of the mandible and the mandibular base length of the normal males larger than normal and the blind females, as wella as normal females is greater than the blind females (p<0.05). The conclusion The size of the maxilla of the blind males larger than normal females. The length of the mandible and the mandibular base length of the normal males larger than normal females, the blind males, and the blind females, as well as normal females is greater than the blind females.
Perawatan Crossbite Posterior pada Maloklusi Angle Klas III dengan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Wijayanto, Trio; Heryumani, JCP
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15424

Abstract

Latar Belakang: Crossbite posterior merupakan hubungan abnormal dari gigi-gigi posterior secara bukolingual pada rahang atas atau bawah pada saat kedua lengkung gigi berada dalam oklusi sentrik yang dapat terjadi pada satu atau kedua sisi rahang. Posterior crossbite adalah maloklusi yang paling sering muncul pada masa gigi susu dan awal gigi bercampur. Tujuan Perawatan: mengoreksi crossbite posterior dan mengembalikan fungsi pengunyahan yang baik. Kasus: Perempuan 20 tahun dengan maloklusi Angle klas III disertai crossbite posterior kanan, crowding rahang atas dan bawah. Penanganan: menggunakan alat cekat teknik Begg dengan pencabutan gigi premolar I rahang atas kiri, kedua premolar I rahang bawah, cross elastik, toe-in, dan toe out digunakan untuk koreksi crossbite. Kesimpulan: Perawatan crossbite posterior dengan teknik Begg menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. Prognatik mandibula berkurang, crossbite terkoreksi, overjet normal, overbite normal, dan fungsi pengunyahan menjadi lebih baik. Background: Posterior crossbite is defined as any abnormal bucal-lingual relations between posterior teeth of upper and lower jaw in centric occlusion which can occur in one side only or both. Posterior crossbite is one of the most prevalent malocclusion in primary and early mixed dentition. Purpose: to correct posterior and restore normal mastication. Case: 20 years old woman with Angle’s class II accompanied by posterior crossbite on the right side and crowding in anterior segment of upper and lower jaw. Management: using the Begg fixed appliance techniques with the extraction of upper left, and two lower first premolars. Cross elastic along with toe in and toe out on the main wire was used to correct posterior crossbite. Conclusion: Posterior crossbite treatment with Begg technique showed satisfactory results. Prognatism mandibula had reduced, regained normal overjet and overbite, and restored good mastication.
Seleksi Kasus dan Perawatan Ortodontik pada Gigi Kaninus Maksila Impaksi Setiawan, Handoko; I, P
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15410

Abstract

Latar belakang: Seleksi kasus merupakan hal utama sebelum melakukan perawatan ortodontik terhadap gigi kaninus maksila impaksi. Hanya gigi kaninus maksila impaksi yang erupsi ke bidang oklusal dan berada di ruangnya yang dapat dilakukan perawatan ortodontik. Konsultasi kepada Ahli Bedah Mulut mengenai teknik surgical exposure akan memberikan manfaat bagi Ortodontis dalam melakukan perawatan ortodontik. Teknik pembedahan yang tepat akan membuat proses perawatan ortodontik lebih singkat dengan hasil memuaskan. Teknik Begg merupakan salah satu teknik ortodontik yang dapat digunakan untuk merawat gigi kaninus impaksi. Tujuan: Memaparkan teknik perawatan ortodontik dengan alat cekat teknik Begg pada gigi kaninus maksila impaksi yang erupsi ke bidang oklusal. Kasus: Perempuan 18 tahun disertai gigi kaninus maksila kanan impaksi. Perawatan: 1. Perawtan ortodontik dengan teknik Begg tahap pertama. 2. Surgical exposure oleh Ahli Bedah Mulut. 3. Perawatan ortodontik teknik Begg tahap kedua dan ketiga. Kesimpulan: Perawatan ortodontik dengan teknik Begg mampu menempatkan gigi kaninus impaksi pada lengkung gigi yang baik. Background: case selection is the important thing before orthodontically impacted maxillary canine treated. Certain impacted maxillary canine that erupts to occlusal plane could be orthodontically treated. Consultation to Oral Surgeon to have a proper surgical exposure technique would be benefit to speed up the treatment with a succesful outcome. Begg Technique is a choice of orthodontic treatments that could treat impacted maxillary canine. Purpose: To describe of Begg technique for treating of impacted maxillary canine that erupts to occlusal plane. Case: A 18 years old female patient with impacted of a right maxillary canine. Management: 1. First step of Begg technic. 2. Surgical exposure by Oral Surgeon. 3. Second and third steps of Begg technic. Conclusion: Begg technique could treat impacted maxillary canine in to the proper maxillary arch jaw.
Kandidiasis di Mulut akibat Khemoterapi dan Penatalaksanaannya Hardjono, Sri Budiarti Wonso; Subagyo, Goeno
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15416

Abstract

Latar belakang: kandidiasis (kandidosis) adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh spesies Candida biasanya Candida albicans. Faktor predisposisi yang memicu kandidiasis adalah terganggunya ekologi mulut karena antara lain pemakaian antibiotika, kortikosteroid, penyakit kronis dan keganasan, beberapa gangguan darah; terapi radiasi di leher dan kepala; khemoterapi; leukimia, obat sitotoksik, juga kebersihan mulut yang buruk. Tujuan: melaporkan kasus kandidiasis di mulut karena khemoterapi dan penatalaksanaannya. Kasus dan penatalaksanaannya: seorang anak laki-laki umur 3 tahun 11 bulan penderita Leukimia Limfoblastik Akut (LLA) sedang dalam perawatan khemoterapi menderita kandidiasis di mulut sehingga mengalami disfoni dan disfagia. Makanan dimasukkan lewat hidung. Klinis pasien terlihat lemah infus lewat tangan. Dalam mulut terlihat patch putih tebal menutupi permukaan dorsal dan ventral lidah, palatum durum dan ventral lidah, palatum durum dan molle, mukosa pipi kanan kiri dan gingiva rahang atas dan bawah. Pasien disedasi untuk dilakukan pengerokan lapisan kandida di mulut; pemberian Nystatin solution dan ketokonazol dilanjutkan. Pengerokan psedomembran kandidiasis telah memberikan hasil yang memuaskan, satu minggu kemudian rongga mulut pasien sudah terlihat bersih, pasien sudah dapat makan minum melalui mulut, juga sudah dapat berbicara lagi/tidak serah. Kesimpulan: Pembersihan jamur dengan pengerokan telah dilakukan, kandidiasis pseudomembran dapat diangkat dan mulut pasien sudah bersih, pasien dapat makan dan berbicara lagi. Background: Candidiasis (candidosis) is an fungal infection caused by Candida species usually Candida albicans. Predisposing factors which trigger candidiasis are the ecological disruption caused by use of oral antibiotics, corticosteroids, malignancy and chronic disease; some blood disorders; head and neck radiation; chemotherapy; leukimia, cytotoxic drugs, as well as poor oral hygiene. Aim: To report a case of Candidiasis in the mouth due to chemotherapy and its management. Case and Management: A boy with acute lymphoblastic leukimia (ALL) aged 3 years and 11 months has being treatment of chemotherapy suffer from Candidiasis in the mouth so he can not eat, talk. Food is inserted through the nose. Clinical finding, patient seen through the hand of week infusion. In the mouth looks thick white patch covering the dorsal tongue, ventral tongue, hard palate and soft palate, cheek mucosa and gingival right, left upper and lower jaws. Under sedation the layer of pseodomembranous Candidiasis was scrabed to eliminated Candida coloni. Conclusion: The scrabing of psedomembranous candidiasis have been done, so he can speek and eat.
Pengaruh Ekstrak Etanolik Kulit Batang Jambu Mete (Anacardium occidentale Linn) sebagai Bahan Kumur terhadap Daya Perlekatan C. Albicans pada Plat Resin Akrilik Harsini, H.
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15398

Abstract

Latar Belakang: Candia albicans adalah mikroorganisme yang berkoloni melekat pada permukaan gigi maupun gigi tiruan. Obat kumur mengandung bahan tarapeutik yang berfungsi sebagai antibakteri. Kulit batang jambu mete antara lain mengandung senyawa fenolik yang dapat berkhasiat sebagai antibakteri. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui apakah ekstrak etanolik kulit batang jambu mete sebagai bahan kumur berpengaruh terhadap gaya perlekatan C. Albicans pada plat resin akrilik. Metode penelitian: Ekstrak kulit batang jambu mete diperoleh dengan menggunakan metode maserasi dan menggunakan etanol sebagai pelarut. Bahan kumur ekstrak kulit batang jambu mete dibuat dengan komposisi bahan kumur standar dengan menambahkan ekstrak etanolik kulit batang jambu mete dengan konsentrasi 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% sebagai agen antibakteri. Penelitian dilakukan dengan menggunakan plat resin akrilik yang dibuat bentuk disk dengan ukuran diameter 10 mm dan tebal 2 mm sebanyak 24 buah, yang dibagi dalam 6 kelompok yaitu 5 kelompok perlakuan dengan menggunakan bahan kumur yang mengandung ekstrak kulit batang jambu mete dan 1 kelompok kontrol menggunakan bahan kumur standar. Seluruh plat resin dimasukkan dalam tabung C. Albicans 10 CFU/ml selama 5 menit, kemudian plat diambil dan dimasukkan dalam larutan bahan kumur standar sebagai kontrol dan larutan bahan kumur yang mengandung ekstrak kulit batang jambu mete untuk kelompok perlakuan selama 3 menit dan digetarkan. Cairan kemudian diambil sebanyak 0,1 ml dan ditanam pada piring petri dengan agar saboruraud dan diinkubasi selama 48 jam. Perhitungan koloni dilakukan menggunakan counter. Hasil penelitian: Hasil daya perlekatan pada bahan kumur standar 1912,50±14,93; pada bahan kumur dengan ekstrak 1% = 1757,50±20,16; 2% = 1335±17,08; 3% = 1220; 4% = 915±22,17 dan 5% = 670,00±38,37. Analisis varian satu jalur memperlihatkan pengaruh yang bermakna ekstrak etanolik kulit batang jambu mete terhadap daya lekat C. Albicans pada plat resin akrilik (p<0,05). Hasil LSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antar seluruh kelompok perlakuan (p<0,05). Kesimpulan: Ekstrak etanolik kulit batang jambu mete sebagai bahan kumur berpengaruh terhadap daya perlekatan C. Albicans pada plat resin aklirik. Background: C. Albicans is a microorganism which colonized on the tooth or denture prosthesis surfaces. Mouthwashes usually contain therapeutic agent as antibacterial. The bark of Annacardium occidentale contains fenolic as antibacterial activity. The aim of this research was to determine the influence of the etanolic ectract of anacardium occidentale bark as mouthwashes on C. Albicans adherence. Method: the extract of anacardium occidentale bark was conducted in maceration method and used ethanol as solvent. Mouthwashes were made in standart composition and added annacardium occidentale bark extract 1%, 2%, 3%, 4% and 5% as antibacterial agent. As a negative control was used standart mouthwashes without extract. The research used 24 resin acrylic which made in disk shape with diameter 10 mm. This acrylic were divided in 6 group, there were 5 group treated with mouthwash that contain extract anacardium occidentale bark and 1 group treated with standart mouthwashes. All of resins plate were incubated in C. Albicans solution for 5 minute. After that resin acrylic plate were immersed in standart mouthwashes as a control and mouthwashes with anaracium occidentale bark extract and vibrate for 3 minutes. The solution then taken 0,1 ml and planted in petry dish with saboruraud agar and incubated for 48 hours. Result: Attachment of candida alvicans was: 1912,50±14,93 as control and mouthwash with extract were 1% = 1757,50±20,16; 2% = 1335±17,08; 3% = 1220; 4% = 915±22,17 and 5% = 670,00±38,37. Analyzed with one way Anova showed that the extract of annaracium occidentale bark as mouthwash influenced the cancida albicans adherence on resin acrylic surface (p<0,05). LSD analyzed showed there were significant differenced between all groups (p<0,05). Conclusion: The extract of anacardium occidentale bark extract as mouthwash were influence of the C. Albicans adherence on resin acrylic surface.
Perawatan Gigitan Silang Gigi Depan pada Gigi Susu dengan Dataran Gigitan Miring Akrilik Cekat Ardhana, Wayan
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15425

Abstract

Latar Belakang: Gigitan silang gigi depan jika dibiarkan berkembang akan dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan maksila dan tidak terkontrolnya pertumbuhan mandibula ke depan sehingga dapat menjadi maloklusi skeletal kelas III yang sangat merusak penampilan wajah. Perawatan sangat perlu dilakukan pada usia dini sejak periode gigi susu. Tujuan: Membahas perawatan gigitan silang gihi depan pada gigi susu menggunakan dataran gigitan miring dari resin akrilik yang dipasang secara cekat pada rahang bawah. Kasus: Dua kasus maloklusi pseuid kelas III dengan gigitan silang gigi depan pada periode gigi susu. Dirawat menggunakan dataran gigitan miring akrilik yang dipasang secara cekat pada gigi depan bawah. Kesimpulan: maloklusi dapat terkoreksi dalam waktu 2 bulan, oklusi dapat dikembalikan ke relasi normalnya dan tetap dalam keadaan normal saat dilakukan observasi ketika semua gigi depan permanen telah erupsi. Background: Untreated anterior crossbite will be able to inhibit the maxillary growth and subsquent uncontrolled forward growth of the mandible can lead to class III skeletal malocclusion and therefore an unattractive appearance. Care needs to be done at a very early age and can be started during primary dentition period. Objectives: Discussing the treatment anterior crossbite of primary dentition using fixed acrylic mandibulary inclined bite plane. Cases: Two cases of pesudo class III malocclusion with anterior crossbite of primary dentition have been treated using fixed acrylic bite plane mounted on the lower front teeth. Conclusion: Malocclusion can be corrected in 2 months, and normal occlusion can be restored and remained stable when all the permanent anterior teeth had been erupted.
Perawatan Maloklusi Klas II Divisi 2 menggunakan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Sari, Indra; Pudyani, Pinandi Sri
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15412

Abstract

Latar belakang: Maloklusi Angle Klas II divisi 2 sering disertai coverbite dan merupakan kasus yang sulit dirawat dan mudah relaps. Keberhasilan perawatan kasus maloklusi Angle klas II divisi 2 bergantung pada variasi yang menyertai baik pada jaringan keras atau jaringan lunak. Bila variasi ringan, keberhasilan perawatn baik, tetapi bila terdapat kelainan skeletal parah, keberhasilan perawatan akan sulit dicapai. Tujuan: Tujuan dari artikel ini adalah untuk menyajikan hasil perawatan ortodontik teknik Begg pada kasus maloklusi Angle klas II divisi 2 yang disertai coverbite. Laporan Kasus: pasien wanita dengan usia 19 tahun mengeluhkan gigi depan atas masuk dan tidak rapi. Diagnosis: maloklusi Angle klas II divisi 2 dengan retrognatik mandibula disertai coverbite, palatal bite, cup to cup bite dan pergeseran garis tengah rahang bawah. Penanganan: Pasien dirawat menggunakan alat cekat teknik Begg. Sebelum perawtan dilakukan pencabutan premolar dua kiri atas, dan molar pertama dan kedua kiri bawah yang nonvital untuk mengatasi crowding. Kesimpulan: Setelah 2 tahun perawatan, tampak sudut interinsisal berkurang, overbite berkurang, overjet bertambah, dan cup to cup bite di regio posterior terkoreksi. Background: Class II division 2 malocclusion often accompanied with coverbite and have been considered difficult to treat and prone to relapse. The successful treatment of this malocclusion depends to the variation of the hard and soft tissue. In mild variation the chances of succesful treatment remain good, while if skeletal discrepancies appear the fully succesfull treatment is hard to achieve. Objectives: The aim of this article is to presnet the treatment of class II division 2 malocclusion accompanied with coverbite using Begg tehnique. Case: 19 years old female patient complained her anterior upper teeth which palatally tipping and crowded. Diagnose: Class II division 2 malocclusion, accompanied with retrognatic mandible, deepbite, palatal bite, cup to cup bite in posterior region, and lower dental centerline shift. Treatment: Patient was treated with orthodontic appliance using Begg technique. Before the treatment left upper second premolar was extracted, while mandibular crowding corrected by extracting lower first and second left molar which were non fital. Conclusion: After 2 years treatment,decreasing of interincisal angle and overbite was achieved, as well as increasing overjet and correction of posterior cup to cup bite.
Kandidiasis Pseudomembran pada Lidah Akibat Pemakaian Obat Kumur Heksetidin serta Penatalaksanaannya Hadiati, Sri
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15418

Abstract

Latar Belakang: Candida albicans merupakan flora normal mulut yang paling sering menyebabkan penyakit infeksi. Jika flora normal rongga mulut terganggu keseimbangannya, misalnya karena terapi antibiotik, penyakit yang menyebabkan penurunan daya tahan tubuh (misalnya AIDS), kondisi lokal yang jelek, akan menyebabkan mikroorganisme oportunis bermultiplikasi dan menyebabkan terjadinya suatu infeksi. Tujuan: Melaporkan kasus kandidiasis pseudomembran pada lidah akibat pemakaian obat kumur serta penatalaksanaannya. Kasus dan penatalaksanaannya: Kasus kandidiasis pada lidah sebagai akibat pemakaian obat kumur yang mengandung heksetidin 0,1% dalam jangka waktu lama yaitu sekitar satu bulan. Penatalaksanaan dengan pemberian suspensi nistatin 100.000 UI topikal selama satu minggu cukup efektif mengatasi infeksi, medikasi diteruskan sampai dua minggu setelah gejala hilang. Kesimpulan: Pemakaian obat kumur dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan infeksi oportunistik yaitu kandidiasis pseudomembran. Medikasi dengan nistatin topikasl cukup efektif untuk mengatasi infeksi ini. Background: Candida albicans is the most infectious oral normal flora. If oral normal flora disturbed such as excessive antibiotic therapy, immunodeficiency disease (AIDS), bad local condition will cause opportunistic microorganism proliferation leading to infectious condition. Objective: to report lingual pseudomembraneous candidosis case caused by mouth rinse and its management. Case and Management: lingual pseudomembraneous candidosis case caused by 0,1% hexitidine mouth rinse used for a long period about one month, was managed effectively by topical nystatin 100.000 IU for one week, and medication must be continued for two week after clinical improvement. Conclusion: Long term usage of mouth rinse causes oppotunistic infection of pseudomembaneous candidosis. Medication with topical nystatin effectively treat this infection.
Hubungan antara Kesehatan Gigi dan Mulut dan Upaya Rehabilitasi Prostodonsia pada Lanjut Usia Tjahjanti, M. Th. Esti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15400

Abstract

Latar belakang. Peningkatan populasi lanjut usia berdampak pada status kesehatan gigi dan mulut dan pelayanannya termasuk pelayanan rehabilitasi prostodonsia. Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara kesehatan gigi mulut dan upaya rehabilitasi prostodonsia pada lanjut usia. Metode penelitian. Seratus duapuluh sampel lanjut usia dipilih dengan ciri: umur > 60 tahun, tahapan keluarga sejahtera II dan III, gigi kurang 20, pendidikan minimal SD atau SR, dilakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut dan diberi angket. Pemeriksaan kesehatn gigi dan mulut untuk mengetahui: jumlah gigi tinggal dengan cara menghitung berdasarkan 32 – gigi missing, kebersihan mulut dengan Oral Hygiene Indek-S, kesehatan jaringan periodontal dengan indeks Russel, pemakaian gigi tiruan dan kebutuhan gigi tiruan dengan observasi. Angket merupakan skala sikap dibuat berdasarkan skala Likert yang dimodifikasi untuk mengetahui tingkat upaya rehabilitasi prostodonsia pada lanjut usia. Angket berisi 5 aspek rehabilitasi yaitu aspek pengunyahan, estetis, bicara, kenyamanan, dan pelestarian jaringan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis regresi berganda. Hasil. Terdapat hubungan positif sangat bermakna antara kesehatan gigi dan mulut dan upaya rehabilitasi prostodonsia pada lanjut usia (R= 0,497, F= 7,492, p<0,01). Kesimpulan penelitian. Ada hubungan positif antara kesehatan gigi dan mulut dan upaya rehabilitasi prostodonsia pada lanjut usia. Background. Increase in elderly population have impact to oral and dental health and dental services included prostodontic rehabilitation services. Purpose. The purpose of this research was to investigate the correlation between oral and dental health and prostodontic rehabilitation effort of elderly. Methods. One hundred and twenty elderly people were selected sample with criteria: more than 60 years old, the prosperous family stage II and III, have teeth less than 20 and minimum education is elementary school. The research was taken by oral and dental examination and questionnaire. The oral and dental examination were: remaining dentition (31 minus missing teeth), oral hygiene status (OHI-S), periodontal status (Russel periodontal index), denture wearing and denture’s need. A modification Likert scale questionnare was used to measure the prostodontic rehablitation effort level. The data were analyzed statistically by multiple regression. Result. The result showed there was a significant positive correlation between oral and dental health and prostodontic rehabilitation effort (R= 0,497, F= 0,7492, <0,01). Conclusion. There was a positive correlation between oral and dental health and prosthodontic rehabilitation effort of the elderly. 

Page 1 of 2 | Total Record : 18