Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue " Vol 17, No 1 (2010): August" : 16 Documents clear
Penggunaan Karet Elastik Vertikal pada Perawatan Kasus Open Bite dengan Alat Ortodontik Teknik Begg Himawati, Marlin; Ardhana, Wayan
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.16022

Abstract

Karet elastik ortodontik dapat digunakan pada berbagai macam maloklusi, yaitu maloklusi kelas I, kelas II, kelas III, terutama pada kasus open bite. Efek dari penggunaan elastik adalah pergerakan horizontal, vertikal, transversal, distalisasi dan mesialisasi mandibula, ekstrusi gigi, space closing, midline shifting, perbaikan hubungan intercanine dan opening bite. Ada berbagai macam bentuk karet dengan ukuran dan kekuatan yang berbeda-beda tergantung dari rencana perawatan yang diinginkan. Tujuan dari artikel ini untuk menerangkan manfaat dari karet elastik pada kasus open bite. Pada laporan ini disajikan dua kasus open bite. Kasus: perempuan 19 tahun mengeluhkan gigi depan atas miring, terbuka dan berjejal. Diagnosis: Maloklusi Angle Klas I, skeletal klas I dengan bimaksiler dan bid ental protrusi, disertai anterior dan posterior open bite. Kasus kedua, perempuan 15 tahun, keluhan tidak bisa menggigit dengan baik karena gigitannya terbuka. Diagnosis: maloklusi Angle klas I, skeletal kelas II dengan maksila protrusif, disertai anterior open bite. Pada kedua kasus dilakukan perawatan dengan alat ortodontik cekat teknik Begg. Karet elastik vertikal digunakan pada saat koreksi open bite dan interdigitasi. Hasil: koreksi inklinasi gigi-gigi rahang atas dan bawah, overjet dan overbite terkoreksi, tidak ada sisa ruang, koreksi aksial gigi-gigi, dan perbaikan interdigitasi sesuai dengan oklusi normal. Penggunaan karet elastik vertikal pada perawatan ortodontik cekat dengan teknik 8egg dapat mengoreksi kasus open bite dan memperbaiki interdigitasi pasien.
Efek Ketebalan Semen Ionomer Kaca dan Resin Komposit terhadap Kekuatan Tekan Tumpatan Sandwich Nugraheni, Tunjung
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15974

Abstract

Tuntutan masyarakat terhadap tumpatan sewarna gigi semakin tinggi. Pada kasus-kasus tertentu teknik restorasi dengan menggunakan dua bahan restorasi yang berbeda (teknik tumpatan sandwich) diperlukan untuk mendapatkan restorasi yang dapat melekat kuat dan mempunyai estetika yang bagus. Teknik tumpatan sandwich yang sering dilakukan adalah menggunakan semen ionomer kaca dan resin komposit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek perbedaan ketebalan semen ionomer kaca dan resin komposit terhadap kekuatan tekan tumpatan sandwich secara in vitro. Pada penelitian ini digunakan 40 subjek penelitian berupa tumpatan sandwich yang dibuat pada cetakan fiber dengan kavitas berbentuk sHinder dengan diameter 5 mm dan tinggi 5 mm. Semua kavitas ditumpat dengan semen ionomer kaca dan resin komposit dengan teknik sandwich, dengan perbandingan ketebalan yang berbeda. Kelompok I dilakukan penumpatan semen ionomer kaca tipe II dan resin komposit packable dengan perbandingan 1:4, kelompok II dengan perbandingan 2:3, kelompok III dengan perbandingan 3:2, kelompok IV dengan perbandingan 4:1. Selanjutnya seluruh subjek penelitian direndam dalam saliva tiruan pH 6,7 dan disimpan pada suhu 370C selama 24 jam dalam inkubator, kemudian diukur kekuatan tekan menggunakan alat uji tekan Universal Testing Machine. Hasil analisis dengan Anava satu jalur menunjukkan perbedaan ketebalan semen ionomer kaca dan resin komposit mempunyai efek yang bermakna terhadap kekuatan tekan tumpatan sandwich (p < 0,05). Hasil uji LSD rerata kekuatan tekan antar kelompok 1,11,III dan IV berbeda bermakna (p < 0,05), dapat disimpulkan bahwa perbedaan ketebalan semen ionomer kaca dan resin komposit berpengaruh terhadap kekuatan tekan tumpatan sandwich.
Retreatment Endodontik dan Restorasi Ulang Menggunakan Pasak Fiber Reinforced Composite Inan, Christine Windayani; Hadriyanto, Wignyo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.16016

Abstract

Laporan kasus ini bertujuan untuk menginformasikan hasil restorasi mahkota jaket porselin fusi metal yang diperkuat dengan pasak fiber reinforced composite pada gigi insisivus sentralis kanan maksila pasca perawatan saluran akar. Pasien datang dengan keluhan mahkota jaket gigi insisivus sentralis kanan maksila lepas. Diagnosis gigi insisivus sentralis kanan maksila adalah nekrosis pulpa disertai lesi periapikal. Perbaikan estetika menggunakan restorasi mahkota jaket porselin fusi metal yang diperkuat dengan pasak fiber reinforced composite. Perawatan diawali dengan analisis estetika. Pasak yang lama yaitu tapered self-threading dowel pada gigi insisivus sentralis kanan maksila diambil, kemudian dilanjutkan retreatment endodontik dengan teknik preparasi step-back. Restorasi mahkota jaket pors~lin fusi metal yang diperkuat dengan pasak fiber reinforced composite sebagai restorasi akhir. Evaluasi hasil perawatan dilakukan dua bulan pasca pemasangan mahkota jaket. Hasil evaluasi subyektif dan obyektif menunjukkan gigi dapat berfungsi dengan baik dan pasien puas dengan perbaikan estetika yang dihasilkan.
Pemakaian Overdenture Magnet sebagai Upaya Peningkatan Retensi dan Stabilisasi Gigi Tiruan Lengkap Rahang Bawah Santiko, Michael; Saleh, Suparyono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.16023

Abstract

Dalam upaya meningkatkan retensi GTL rahang bawah dapat digunakan overdenture dengan kaitan magnet. Overdenture adalah gigi tiruan lengkap atau sebagian yang didukung oleh mucoperiosteum dan beberapa gigi atau akar gigi asH yang telah mengalami perawatan endodontic.Teknik penggunaan kaitan magnet sangat sederhana, tidak menambah ukurannya yang sudah didesain sesuai besar gigi penyangga yang digunakan. Terdiri dari dua bagian yaitu keeper yang ditanamkan pada permukaan akar gigi yang telah dipreparasi dan magnet yang ditanam pada basis gigi tiruan bagian fitting surface. Seorang pasien wan ita usia 77 tahun datang ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada dengan keluhan malu dan tidak bisa mengunyah makanan karena banyak gigi yang rusak dan hilang, gigi yang goyang dicabut sedangkan gigi yang tersisa hanya 34 dan 44 dan telah dilakukan perawatan saluran akar. Gigi tersebut rencananya akan digunakan sebagai overdenture dengan kaitan magnet. Diharapkan dengan adanya kaitan magnet tersebut retensi gigi tiruan rahang bawah semakin meningkat sehingga pasien merasa puas dalam penggunaannya. Setelah pasienmemakai gigi tiruan tersebut pasien merasa nyaman dan puas karena gigi sangat retentif. Perawatan dengan overdenture magnet merupakan sebuah pilihan yang tepat karena dapat mempertahankan prosesus alveolaris yang akan memberi dukungan gigi tiruan menjadi jauh lebih baik dari pada gigi tiruan konvensional.
Preparasi Minimal pada Pembuatan Gigi Tiruan Cekat dengan Fiber Reinforced Composite (FRC) Santiko, Aditya Ayat; Indrastuti, Murti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15977

Abstract

Dalam praktek sering kali dokter gigi dihadapkan pada pasien yang kehilangan gigi anterior dan ingin segera dibuatkan gigi tiruan karena alasan estetik. Gigi tiruan yang dibuat bisa berupa gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) atau gigi tiruan cekat (GTC). Pada GTSL, adanya plat pada palatum menyebabkan rasa tidak nyaman, selain itu pasien setiap kali harus buka pasang gigi tiruan kembali sehingga cukup merepotkan. Oleh karena itu pada umumnya pasien ingin dibuatkan GTC dan hal ini memang sesuai dengan indikasi GTC. Hal yang menjadi pertimbangan pada pembuatan GTC adalah pengasahan permukaan gigi secara keseluruhan bila akan dibuat desain full crown. Pada perkembangan desain GTC ada desain yang disebut resin bonded bridge atau adhesive bridge yaitu GTC yang dibuat pada gigi abutment yang dipreparasi minimal pada bagian palatal saja dan dilekatkan secara mikromekanikal antara retainer sayap logam dan gigi yang telah dipreparasi. Pasien wan ita usia 22 tahun datang ke klinik Prostodonsia RSGM Prof Soedomo UGM karena kehilangan gigi insisif sentral kiri atas. Pada kasus ini dilakukan pembuatan GTC dengan bahan fiber reinforced composite (FRC). Pembuatan bridge dengan bahan FRC dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pada makalah ini akan dibahas pembuatan bridge FRC secara tidak langsung yaitu dengan menggunakan gigi artlfisial komposit. Hasil menunjukkan estetis yang baik, kontrol setelah 2 bulan tidak ada perubahan warna dan pasien merasa puas dengan penampilannya, jaringan gingiva di sekitarnya normal.
Pembuatan Obturator Mata pada Pasien dengan Kehilangan Mata Akibat Cacat Bawaan Rosalina, Clara; Sugiatno, Erwan; Mustiko, Haryo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.16017

Abstract

Kasus kehilangan mata pada pasien dapat menimbulkan masalah fungsi dan estetik. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki masalah estetik adalah dengan membuatkan protesa mata kepada pasien tersebut. Tujuan pembuatan obturator mata pada pasien yang kehilangan mata adalah untuk membantu pasien dalam memperbaiki estetik. Pasien wan ita usia 35 tahun datang ke klinik Prostodonsia RSGM FKG UGM dengan kondisi kehilangan mata sebelah kanan yang merupakan cacat bawaan. Pemeriksaan wajah menunjukkan muka asimetris. Pada mata kanan tampak adanya cheloid yang timbul setelah operasi pengangkatan bola mata. Perawatan dilakukan dengan pembuatan protesa mata non fabricated dengan tahap-tahap: pencetakan mata dengan sendok cetak mata perorangan dan pengisian hasil cetakan terdiri dari dua bagian, yang pertama diisi dengan gips keras sampai bagian terlebar dari cetakan dasar soket dan dibuat tiga retensi sebagai kunci, kedua sampai menutupi seluruh hasil cetakan. Pembuatan model malam sklera, mencoba pola malam sklera dan packing model malam sklera. Oef/asking dan polishing untuk membuat sklera akrilik, mencoba sklera akrilik dan penentuan lokasi diameter iris, melukis iris dan pupil, penyelesaian protesa mata, packing sklera dan iris, def/asking dan polishing untuk membuat protesa mata serta insersi protesa mata. Kontrol setelah 2 minggu menunjukkan hasil yang baik, tidak ada keluhan rasa sakit, tidak ada peradangan, volume dan frekuensi air mata menjadi berkurang jumlah dan frekuensinya.
Mixoma Odontogenik: Tinjauan Klinis dan Penatalaksanaanya Mulyaka, Y.; Rahmat, Muhammad Masykur
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.16067

Abstract

Pendahuluan Mixoma pada mulut adalah lesi yang jarang, tumbuh lambat, suatu masa submukosa yang asimtomatik, lebih sering terjadi pada mandibula. Mixoma bisa mengenai laki-Iaki maupun wanita pada semua umur.Tujuan perawatan mixoma pada mulut, seperti mixoma pada jaringan tubuh lain adalah eksisi bedah. Semua mixoma adalah jinak dan hanya memerlukan terapi konservatif. Gambaran klinis mixoma pada mulut tidak berkapsul dan menunjukan infiltrasi ke jaringan sekitarnya. Secara histology mixoma berisi material gelatin. Seeara radiologi berupa lesi lusen, seringnya multilokuler atau seperti gambaran sarang Mixoma lebah, dengan batas tidak jelas. Rekurensi kadang kala terjadi. Laporan kasus seorang lelaki 24 tahun datang ke Klinik Bedah Mulut & Maksilofasial, RS Dr. Sardjito, Yogyakarta. Dia mengeluh adanya benjolan pada pipi kanan sekitar 3 tahun yang lalu, tidak sakit. Pemeriksaan klinik menunjukan suatu pembengkakan, 9 x 9 x 7 em, konsistensi kenyal, warna sama dengan jaringan sekitarnya. Prognosa dubia ad bonam. Hasil Pasien menjalani operasi hemimandibulektomi dan pemasangan pelat rekonstruksi mandibula di bawah anastesi umum. Hasil patologi anatomi pasea operasi menunjukan mixoma odontogenik.
Penggunaan MTA (Mineral Trioxideaggregate) sebagai Bahan Pengisi Saluran Akar pada Gigi Insisivus Lateral Kiri Maksila dengan Perforasi Saluran Akar Pratama, Andika Rahmat; Mulyawati, Ema
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15978

Abstract

Laporan kasus ini bertujuan untuk menginformasikan hasil pengisian saluran akar dengan menggunakan bahan MTA (Mineral Trioxide Aggregate) pada gigi insisivus lateralis kiri maksila dengan perforasi di daerah saluran akar bagian tengah. MTA (Mineral trioxide Aggregate) merupakan bubuk halus yang dengan pencampuran air akan membentuk koloid gel dan mengeras dalam tiga jam. Indikasi penggunaan MTA untuk menutup perforasi saluran akar, terutama saluran akar bagian apikal yang terbukalebar. Pasien datang dengan keluhan gigi insisivus lateralis kiri maksila berubah warna dan ingin diputihkan. Pada daerah setengah koronal saluran terdapat bahan tumpatan. Pada saat pengambilan bahan tumpatan tersebut, terjadi perforasi akar (iatrogenik) di daerah saluran akar bagian tengah. Diagnosis gigi insisivus lateralis kiri maksila adalah nekrosis pulpa disertai dengan perubahan warna gigi dan lesi periradikular. Perawatan diawali dengan pembukaan kamar pulpa dan preparasi saluran akar. Saluran akar di obturasi dengan MTA untuk menutup perforasi akar. Evaluasi hasil perawatan dilakukan satu bulan pasca perawatan. Hasil evaluasi menunjukkan gigi dapat berfungsi dengan baik, tidak ada keluhan rasa sakit, gambaran radiograf terlihat pengisian yang padat dan tidak ada kelainaan periapikal.
Protesa Maksilofasial dengan Hollow Bulb Paska Hemimaxillectomy pada Kasus Kehilangan Seluruh Gigi Rahang Atas In, Fei; Wahyuningtyas, Endang
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.16020

Abstract

Pasien paska hemimaxillectomy menimbulkan adanya defect yang menyebabkan gangguan fungsi bicara, penelanan, pengunyahan, estetik serta kejiwaan penderita dan dapat menimbulkan masalah pada rehabilitasinya. Setelah dilakukan hemimaxillectomy, pasien perlu memakai protesa maksilofasial paska bedah dan protesa maksilofasial dengan hollow bulb. Tujuan penulisan laporan ini untuk menginformasikan bahwa defect palatum paska hemimaxillectomy pada kasus kehilangan seluruh gigi rahang atas dapat dibuatkan suatu protesa maksilofasial dengan hollow bulb untuk mengembalikan fungsi bicara, penelanan, pengunyahan dan estetik. Pasien laki-Iaki berusia 68 tahun datang ke RSGM atas rujukan dari R.S.Dr. Sardjito. Saat datang pasien merasa terganggu dengan adanya pembengkakan dan defect pada palatum. Kemudian dilakukan pemeriksaan subyektif, obyektif dan radiografi. Operasi hemimaxillectomy dilakukan oleh dokter THT R.S Sardjito. Obturator paska bedah dipasang segera setelah operasi. Kemudian dibuatkan protesa maksilofasial dengan hollow bulb setelah 2 minggu paska hemimaxillectomy. Pada rahang bawah dibuatkan gigi tiruan sebagian lepasan resin akrilik. Pada waktu insersi diperiksa retensi, stabilisasi, oklusi, estetik dan pengucapan. Kontrol dilakukan 1 minggu dan 1 bulan setelah pemakaian. Hasil pemakaian protesa maksilofasial retensi, stabilisasi, oklusi, estetik dan pengucapan baik. Kesimpulan laporan kasus ini adalah protesa maksilofasial dengan hollow bulb paska hemimaxillectomy pada kasus kehilangan seluruh gigi rahang atas merupakan alat rehabilitasi yang harus segera dibuat sehingga pasien dapat hidup normal, mengembalikan fungsi bicara, fungsi pengunyahan, penelanan, estetik dan kejiwaan penderita.
Peran Hipertensi terhadap Mediator Peradangan dalam Perkembangan Penyakit Periodontal dan Jantung Koroner Sumali, Rendy; Masulili, Sri Lelyati C; Lessang, Robert; Sukardi, Irene
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.16068

Abstract

Badan kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2002 melaporkan bahwa lebih dari 7 juta orang meninggal dunia akibat penyakit kardiovaskular. Prevalensi penyakit periodontal pun dapat mencapai sekitar 70% pada usia produktif. Mengingat besarnya prevalensi keduanya, ada baiknya kita mentelaah lebih dalam hubungan diantara keduanya. Penyakit periodontal merupakan penyakit peradangan yang berhubungan dengan sejumlah kecil bakteri anaeob negatif Gram yang terdapat pada plak supragingiva. Bakteri negatif Gram anaerob tersebut juga mempunyai peluang menjadi penyebab tiga penyakit sistemik, seperti diabetes melitus, penyakit kardiovaskular, dan masalah penggumpalan darah. Penyakit kardiovaskular yang paling banyak dijumpai adalah penyakit jantung koroner dan hipertensi. Penyebab utama penyakit jantung koroner adalah aterosklerosis koroner, jika ditelaah lebih dalam, periodontitis dan aterosklerosis keduanya mempunyai faktor risiko yang sama, seperti: merokok, umur, etnis, jenis kelamin laki-Iaki, hipertensi, hiperkolesterol dan stress. Hubungan antara hipertensi dan penyakit periodontal bahwa keduanya merupakan proses peradangan. Baik pada penderita hipertensi dan penyakit periodontal dijumpai adanya peningkatan kadar C-reactive protein (CRP), sitokin-sitokin peradangan seperti IL-6, IL-1~, dan Tumour Necrosis Factor Alpha (TNF-a). C-Reactive Protein (CRP) juga menstimulasi pelepasan monosit yang menghasilkan Intercellular Adhesion Molecule (ICAM) -1 dan Vascular Adhesion Molecule (VCAM) -1 yang berperan dalam proses aterosklerosis. Disfungsi endotel pembuluh darah akibat proses aterosklerosis ini dapat memicu pengeluaran hormon Angiotensin /I (Ang II) yang berperan dalam mengatur tekanan darah. Hipertensi dapat menyebabkan disfungsi mikrosirkulasi pada jaringan periodontal, sehingga dapat mengakibatkan terjadi kelainan periodontal dan secara tidak langsung juga sebagai faktor risiko terjadinya penyakit jantung koroner.

Page 1 of 2 | Total Record : 16