cover
Filter by Year
Jurnal Agritech
ISSN : -     EISSN : -
Articles
1038
Articles
Komponen Flavor Volatil Tempe yang Dibungkus dengan Daun Pisang dan Plastik

Harahap, Rasyid Hanafi, Lubis, Zulkifli, Kaban, Jamaran

Agritech Vol 38, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The objective of the research was to identify volatile flavor compounds and odor description of tempeh wrapped with banana leaf and plastic fermented at different times. The research object was tempeh wrapped with banana leaf (TD) at 48 (TD1H), 72 (TD2H), and 96 hours (TD3H) fermented, and tempeh wrapped with plastic (TP) at 48 (TP1H), 72 (TP2H), and 96 hours (TP3H) fermented. Sample was extracted by SPME. GC-MS/O was used to identify volatile flavor compounds and odor description. The volatile flavor compound found in tempeh were group of ester, terpenoid, alcohol, aldehyde, ketone, furan and nitrogen containing compound. α-pinene was only found in tempeh wrapped with banana leaf, whereas piperazine, sec-butyl nitrite and (Z)-α-bisabolene were only found in tempeh wrapped with plastic. This revealed that there was difference flavor compound found in tempeh wrapped with banana leaf and tempeh wrapped with plastic. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen penyusun flavor volatil dan aroma tempe yang dibungkus daun pisang dan plastik pada waktu fermentasi yang berbeda-beda. Tempe yang digunakan sebagai objek penelitian adalah tempe yang dibungkus dengan daun pisang (TD) dengan waktu fermentasi 48 jam (TD1H), 72 jam (TD2H), dan 96 jam (TD3H) dan tempe yang dibungkus plastik (TP) dengan waktu fermentasi 48 jam (TP1H), 72 jam (TP2H), dan 96 jam (TP3H). Ekstraksi sampel tempe menggunakan HS-SPME. Analisis flavor dan deskripsi odor dilakukan dengan menggunakan GC-MS/O. Senyawa flavor tempe yang diperoleh adalah senyawa-senyawa dari golongan ester, terpenoid, alkohol, aldehid, keton, furan dan senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen. α-pinen hanya ditemukan pada tempe yang dibungkus daun pisang, sedangkan piperazin, sec-butil nitrit dan (Z)-α-bisabolen hanya ditemukan pada tempe yang dibungkus plastik saja. Hal ini berarti ada perbedaan komponen penyusun senyawa flavor pada tempe yang dibungkus daun pisang dan plastik.

Efek Antioksidatif dan Akseptabilitas Bakso Daging Ayam Ras dengan Penambahan Gel Lidah Buaya

Wariyah, Chatarina, Riyanto, Riyanto

Agritech Vol 38, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Currently, the consumption of broiler-chicken meat increases up to 3.7510 kg/cap/year. This condition is due to the increasing of population growth and food businesses which use chicken meat. On the other hand, the chicken meat contains of high fat, thus easily oxidized and resulted in free radicals and off- flavor. Chicken meat is widely used as meatball that is processed through the stage of meat-milling and boiling which triggers fat oxidation. Therefore, an antioxidant is needed to inhibit oxidation. Aloevera contains flavonoid compounds that could scavange free radicals. The objective of this research was to optimize the addition of aloe vera gel in the chicken meatball to obtain high antioxidant effect and acceptable product. Considering its high water content (> 98%), in this study aloe vera gel was added as an ice-substitution in the making of meatball. The meatballs were made by mixing of 250 g chicken meat with 125 g tapioca for each sample, seasoning (salt, pepper, garlic), and added ice with water/aloe vera gel  ratio (g/g) of 100/0; 85/15; 70/30; 55/45 and 40/60. The doughs were molded in ball-shape then boiled at 90 oC for 10 minutes. The meatballs were subjected to analysis of moisture content, the ability to scavenge of 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) radical or radical scavenging activity (RSA), acid, peroxide and thyobarbituric acid (TBA) number,  physical properties including water holding capacity (WHC), cooking loss, and texture (softness, chewiness and deformation) as well as  acceptability by hedonic test. The results showed that the highest acceptability and antioxidative activity of meatballs was obtained in meatball with the ratio of water/gel between 55/45- 40/60 (g/g). This aforementioned meatball had softer texture and likely chewiness. The percentage of the WHC and cooking loss were not significantly different, but it had high RSA and lowest value of acid, peroxide and TBA numbers. ABSTRAKSaat ini konsumsi daging ayam ras pedaging meningkat hingga mencapai 3,7510 kg/kap/tahun. Hal ini disebabkan antara lain oleh meningkatnya jumlah penduduk dan usaha di sektor pangan yang menggunakan daging ayam ras. Disisi lain, daging ayam ras mengandung lemak cukup tinggi, sehingga mudah teroksidasi menghasilkan radikal bebas dan penurunan flavor. Daging ayam ras banyak digunakan sebagai bakso yang diolah melalui proses penggilingan daging dan perebusan, sehingga dapat memicu terjadinya oksidasi lemak. Oleh sebab itu, diperlukan antioksidan untuk menghambat oksidasi. Aloe vera diketahui mengandung senyawa flavonoid yang dapat menangkal radikal bebas. Tujuan penelitian ini adalah melakukan optimasi penambahan gel lidah buaya pada pembuatan bakso daging ayam ras untuk menghasilkan bakso dengan efek antioksidatif tinggi dan disukai. Pada penelitian ini gel lidah buaya ditambahkan untuk mensubtitusi es batu yang digunakan pada pembuatan bakso, mengingat kandungan air gel tinggi (> 98%). Pembuatan bakso untuk setiap 250 g daging ayam ditambah 125 g tapioka, bumbu (garam, merica, bubuk bawang putih) dan es batu yang dibuat dengan variasi rasio air/gel lidah buaya (g/g): 100/0; 85/15; 70/30; 55/45 dan 40/60. Bahan dicampur menjadi adonan dan dibuat bola-bakso, selanjutnya direbus pada suhu 90 oC selama 10 menit. Analisis yang dilakukan adalah kadar air, kemampuan menangkap radikal DPPH, angka asam, peroksida dan TBA (thyobarbituric acid); sifat fisik: water holding capacity (WHC), cooking loss, tekstur (kelunakan, kekenyalan dan deformasi) dan akseptabilitas bakso ditentukan secara inderawi dengan Hedonic Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakso dengan akseptabilitas dan aktivitas antioksidasi tinggi dibuat dengan es batu dengan rasio air/gel lidah buaya 55/45-40/60 (g/g).  Bakso tersebut lebih lunak dan kekenyalannya disukai. Persentase WHC dan cooking loss tidak berbeda nyata, nilai RSA tinggi, sedangkan angka asam, peroksida dan TBA paling rendah.

Evaluasi Kesesuaian Lahan Komoditas Pangan Utama di Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat Kabupaten Sumba Tengah

Nganji, Marten Umbu, Simanjuntak, Bistok Hasiholan, Suprihati, Suprihati

Agritech Vol 38, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This research was conducted in West Umbu Ratu Nggay district of Central Sumba Region in January–March 2017. The method of analysis used was LQ (Location Quotient) method, matching method and overlay method. The results showed that the maim food commodities in West Umbu Ratu Nggay District were green beans with values of LQ 1,60; sweet potato with LQ 1,33, rice with LQ 1,16; and corn with LQ 1,03. Green beans suitability class is S2 (moderatelly suitable) with area 28.021,13 ha (99.69%) and N (not suitable) with area 87.91 ha (0.31%). Sweet potato commodity with land suitability is in class S1 (highly suitable) with area 90,41 ha (0.32%), S2 (moderatelly suitable) with of 27.930,73 ha (99.7%), and N (not suitable) with area 87,91 ha (0.31%). Commodity of rice with land suitability class S1 (highly suitable) with area of 1.322,43 ha (4.70%), S2 (moderatelly suitable) with area of 26.704,21 ha (95.00%), and N (not suitable) with area of 83,24 ha (0.30%). Corn commodity with land suitability class S2 (moderatelly suitable) with area of 8.21,13 ha (99.69%) and N (not suitable) with area of 87,91 ha (0.31%). ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat Kabupaten Sumba Tengah pada bulan Januari-Maret 2017. Metode analisis yang digunakan adalah metode LQ (Location Quotient), metode pencocokan dan metode overlay. Hasil analisis menunjukkan bahwa komoditas pangan unggulan di Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat secara berturut-turut adalah kacang hijau dengan nilai LQ 1,60, ubi jalar dengan nilai LQ 1,33, padi sawah dengan nilai LQ 1,03 dan jagung dengan Nilai LQ 1,03. Kelas kesesuaian lahan kacang hijau adalah S2 (cukup sesuai) dengan luas 28.021,13 ha (99,69%) dan  N (tidak sesuai) 87,91 ha (0,31%). Komodias ubi jalar  dengan kelas kesesuaian lahan S1 (sangat sesuai) dengan luas 90, 41 ha (0,32%), S2 (cukup sesuai) dengan luas 27.930,73 ha (99,37%), dan N (tidak sesuai) 87,91 ha (0,31%). Komoditas padi sawah dengan kelas kesesuaian lahan S1 (sangat sesuai) 1.322, 43 ha (4,70%). S2 (cukup sesuai) 26.704,21 ha (95,00%), dan N (tidak sesuai) 83,24 ha (0,30%). Komoditas jagung dengan kelas kesesuaian lahan S2 (cukup sesuai) 28.021,13 ha (99,69%) dan N (tidak sesuai) 87,91 ha (0,31%). 

Sistem Pendukung Keputusan Monitoring dan Peramalan Harga Beras Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara

Simanungkalit, Ferlando Jubelito, Naibaho, Benika

Agritech Vol 38, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The goal of this research was to design a Decision Support System (DSS) to monitor and forecast the price of rice. This system was designed to help the policy makers in decision making process to stabilize the rice price. The most fitted model base of the DSS forecasting method was selected by analyzing the architecture of Artificial Neural Network (ANN). The best fitted ANN architecture was selected based on the smallest value of Mean Square Error (MSE) and Mean Absolute Percentage Error (MAPE) in training, testing, and validation. The research was done using the monthly price of rice IR64 in District Deli Serdang, North Sumatera from January 2000 to December 2015. Decision support system developing phases was used to create the best match of ANN architecture for the model base of the DSS along with the database, the knowledge base, as well as the user interface. DSS was programmed using the PHP programming and was designed in a web base to facilitate the interaction between the DSS, the systems users, and the flow of data exchange. From 73 trials unit of the ANN architecture analysis, it has been obtained that an ANN 12-1-1, purelin activation function inside the hidden layer, purelin activation function inside the output layer, traingda training algorithm (gradient descent with adaptive learning rate) and the value of learning rate was 0,1 were the best match for developing the DSS forecasting method. Furthermore, the MSE and MAPE of the training, testing and validation in a row were 0.00128 and 3.57%; 0.0319 and 5.47%; 0.0052 and 2.51%. The validation results showed that the forecasting results that has been produced by the DSS has a 90 % accuracy. ABSTRAKSistem pendukung keputusan monitoring dan peramalan harga beras dirancang untuk memberikan prediksi harga masa depan dan dukungan keputusan bagi para pembuat kebijakan dalam melakukan stabilisasi harga beras. Tujuan penelitian ini adalah merancang prototipe Sistem Pendukung Keputusan (SPK) dengan terlebih dahulu menganalisis arsitektur Jaringan Saraf Tiruan (JST) yang paling sesuai untuk digunakan sebagai metode peramalan/subsistem model SPK. Kajian dilakukan dengan menggunakan data harga bulanan komoditas beras IR64 di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara bulan Januari 2000–Desember 2015. Arsitektur model JST terbaik dipilih berdasarkan pada nilai Mean Square Error (MSE) dan Mean Absolute Percentage Error (MAPE) terkecil dari hasil pelatihan, pengujian dan validasi. Arsitektur model JST terbaik kemudian dirancang menjadi subsistem model SPK bersamaan dengan basis data, komponen pengetahuan dan tampilan antarmuka menggunakan fase-fase perancangan sistem pendukung keputusan. SPK dirancang untuk digunakan berbasis web (web base) agar memudahkan interaksi dengan pengguna (user) dan arus pertukaran data. SPK diprogram menggunakan bahasa pemrograman PHP. Dari 73 percobaan analisis arsitektur model JST yang telah dilakukan, diperoleh satu arsitektur JST dengan performa peramalan terbaik yang digunakan sebagai metode peramalan dengan arsitektur 12-1-1, fungsi aktivasi purelin pada lapisan tersembunyi, fungsi aktivasi purelin pada lapisan output, algoritma pelatihan traingda (gradient descent with adaptive learning rate) dan nilai laju pembelajaran 0,1. Nilai MSE dan MAPE dari hasil pelatihan, pengujian dan validasi berturut-turut adalah 0,00128 dan 3,57%; 0,0319 dan 5,47%; 0,0052 dan 2,51%. Hasil validasi menunjukkan bahwa hasil peramalan yang dihasilkan oleh SPK memiliki tingkat akurasi 90%.

Efek Pretreatment Microwave-NaOH Pada Tepung Gedebog Pisang Kepok terhadap Yield Selulosa

Maharani, Dewi Maya, Rosyidin, Khulafaur

Agritech Vol 38, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Carbon sources in the form of sugar to be converted into bioethanol are rapidly developed, they are so called as the first generation, the second generation, and the third generation. The petiole of banana is the second generation of lignocellulose which is a waste and potential in Indonesia to be used as the raw material of bioethanol production. This study aimed to determine the effect of the microwave to the content of petiole`s flour of “gepok” varieties and to know the effect of pretreatment time as well as the ratio of petiole mass to the resulted flour with the solvent of NaOH for bioethanol production. The 20 g of petiole with the size of 60 mesh was dissolved into NaOH 0.5 M with the variation of solvent volume 150 mL, 200 mL and 250 mL then was pretreated with microwave as long as 20, 30, and 40 minutes. Annova resulted that time variable affected the cellulose content however the volume didn`t. Cellulose is a compound which is going to be converted into glucose. Hence, in this study, the lowest decrease of cellulose 350,20 mg/g was chosen from the microwave pretreatment with a yield of 93,10% at 20 g: 250 mL for 30 minutes.  ABSTRAKSumber karbon dalam gula untuk dikonversi menjadi bioetanol banyak mengalami perkembangan, mulai dari sumber bioetanol generasi satu, generasi dua dan generasi tiga. Gedebog pisang merupakan salah satu limbah berlignoselulosa generasi dua yang potensial di Indonesia dan memiliki kandungan selulosa tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi bioetanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gelombang microwave terhadap kandungan selulosa tepung (gedebog) pisang kepok dan mengetahui pengaruh lama pretreatment serta perbandingan massa bahan dengan volume pelarut NaOH terhadap kandungan selulosa tepung (gedebog) pisang kepok pada proses pretreatment yang dimanfaatkan untuk produksi bioetanol. Gedebog pisang ukuran 60 mesh sebanyak 20 g dilarutkan pada larutan NaOH 0,5 M dengan variasi volume pelarut 150 mL, 200 mL, dan 250 mL, selanjutnya diberi perlakuan (pretreatment) gelombang microwave dengan variasi waktu 20, 30 dan 40 menit. Pada hasil uji lanjut Annova menyatakan bahwa variabel waktu memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan selulosa sedangkan interaksi antara variabel dan volume tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan selulosa. Selulosa merupakan senyawa yang akan dikonversi lebih lanjut menjadi glukosa. Sehingga pada penelitian ini memilih penurunan selulosa terendah yaitu menjadi 350,20 mg/g akibat pretreatment microwave-NaOH dengan rendemen 93,10% pada perlakuan massa bahan dengan volume pelarut 20 g:250 mL dengan waktu 30 menit.

Karakteristik Fisikokimia Yogurt Tanpa Lemak dengan Penambahan Whey Protein Concentrate dan Gum Xanthan

Djali, Mohamad, Huda, Syamsul, Andriani, Lovita

Agritech Vol 38, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Non-fat yogurt exhibited weak body, poor texture, and whey separation because of reduction of fat. The separation of whey in yogurt is not desired by consumer. The aim of present study was to evaluate the effect of adding whey protein concentrate (WPC) and xanthan gum on physical, chemical and sensory properties of non-fat yogurt. Physical and chemical properties were tested using randomized block design whereas the yogurts properties during 21 days of cold storage included syneresis index and organoleptic. There were 6 treatments : A (full fat yogurt = control 1); B (skim milk + skim milk powder (SMP) 3% = control 2); C (skim milk + SMP 3% + WPC 1%); D (skim milk + SMP 3% + WPC 1,25%); E (skim milk + SMP 3% + WPC 0,5% + xanthan 0,005%); F (skim milk + SMP 3% + WPC 0,5% + xanthan 0,004%). The fat content 0,12%-0,14% of non-fat yogurt with the addition of WPC and blend of WPC-xanthan could increased firmness, cohesiveness and consistency compared to control 1 and control 2. In the organoleptic properties, non-fat yogurt with the addition of WPC and blend of WPC-xanthan were gained color, flavor, aroma, and consistency of the panelists preferred higher than control yogurt. Non-fat yogurt with only addition of WPC gained the lowest syneresis index. ABSTRAKYogurt tanpa lemak memiliki kekuatan struktur yang rendah dan rentan terjadi pemisahan whey karena berkurangnya kandungan lemak. Pemisahan whey pada yogurt tidak disukai oleh konsumen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efek penambahan whey protein concentrate (WPC) dan gum xanthan terhadap karakteristik fisik, kimia sensori yogurt tanpa lemak. Karakteristik fisik dan kimia diuji menggunakan metode RAK, sedangkan karakteristik yogurt selama penyimpanan dingin 21 hari meliputi indeks sineresis dan organoleptik. Terdapat 6 perlakuan yaitu: A (susu segar = kontrol 1); B (susu skim + skim milk powder (SMP) 3% = kontrol 2); C (susu skim + SMP 3% + WPC 1%); D (susu skim + SMP 3% + WPC 1,25%); E (susu skim + SMP 3% + WPC 0,5% + gum xanthan 0,005%); F (susu skim + SMP 3% + WPC 0,5% + gum xanthan 0,004%). Kandungan lemak 0,12%-0,14% pada yogurt tanpa lemak dengan penambahan WPC dan kombinasi WPC-gum xanthan dapat meningkatkan firmness, cohesiveness, dan konsistensi dibandingkan kontrol 1 dan kontrol 2. Secara organoleptik, yogurt tanpa lemak dengan penambahan WPC dan kombinasi WPC-gum xanthan mendapatkan tingkat kesukaan panelis lebih tinggi untuk warna, rasa, aroma, dan kekentalan dibandingkan yogurt lemak utuh tanpa perlakuan. Yogurt tanpa lemak dengan penambahan WPC saja mendapatkan indeks sineresis lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya.

Penerapan Fuzzy TOPSIS dalam Penentuan Lokasi Kawasan Pengembangan Rantai Pasok Bioenergi Kelapa Sawit

Papilo, Petir, Djatna, Taufik, Arkeman, Yandra, Marimin, Marimin

Agritech Vol 38, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

.

Stabilitas Minuman Isotonik Antosianin Beras Ketan Hitam dengan Senyawa Kopigmentasi Ekstrak Bunga Belimbing (Averrhoa carambola)

Suhartatik, Nanik, Mustofa, Akhmad

Agritech Vol 38, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Anthocyanin is a bioactive component which give basic color of red, purple, and blue to blackish foodstuffs. So, the anthocyanin could be developed as a natural pigment in foodstuffs, but it is unstable. Several studies have been conducted to improve its stability in the food system. The purpose of this study was to analyze the stability of anthocyanin in isotonic beverages as food system with the addition of copigmentation compound derived from star fruit flower extract. The stability of the isotonic beverage was tested at some heating temperatures and storage periods. Isotonic drink were formulated using anthocyanin extracted from glutinous rice flour. Isotonic beverages consist of sucrose, fructose, sodium benzoate, citric acid, KCl, and K2PO4 which were regulated containing anthocyanin equivalent to 25 mg/L. Added ingredients to increase the stability of anthocyanin in isotonic drinks was 5% star-fruit flower extract. During storage, the phenolic content, anthocyanin, and antioxidant activity of isotonic beverages were observed. The results showed that heating process declined the anthocyanin content significantly, from 25 mg/L to 2.82 mg/L. Decreased level of anthocyanin also occurred during storage. Heating at 50, 65, and 70 °C gave no significant difference of phenol content. Similar to its ability to capture DPPH radicals (% RSA DPPH, radical scavenging activity 2.2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Increasing the temperature from 50 to 70 °C would increase the stability of anthocyanin, total phenolic, and also the antioxidant activity. Meanwhile, storage would decrease the anthocyanin content but increase the phenolic content and the antioxidant activity. ABSTRAKAntosianin merupakan komponen bioaktif dan warna dasar bahan makanan yang berwarna merah, ungu, biru hingga kehitaman. Antosianin berpotensi dikembangkan sebagai pewarna alami untuk makanan, akan tetapi pigmen ini bersifat tidak stabil. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk meningkatkan stabilitasnya dalam sistem pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis stabilitas antosianin dalam minuman isotonik sebagai sistem pangan dengan penambahan senyawa kopigmentasi yang berasal dari ekstrak bunga belimbing. Stabilitas minuman isotonik diuji pada beberapa suhu pemanasan dan periode penyimpanan. Minuman isotonik diformulasikan menggunakan antosianin hasil ekstraksi dari tepung beras ketan hitam. Minuman isotonik terdiri dari sukrosa, fruktosa, Na-benzoat, asam sitrat, KCl, dan K2PO4 yang diatur mengandung antosianin setara dengan 25 mg/L. Bahan yang ditambahkan untuk meningkatkan stabilitas antosianin pada minuman isotonik adalah ekstrak bunga maya (belimbing) 5%. Selama penyimpanan diamati kadar fenolik, kadar antosianin, dan aktivitas antioksidan dari minuman isotonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemanasan menyebabkan penurunan yang signifikan dari kadar antosianin, dari semula 25 mg/L menjadi hanya 2,82 mg/L saja. Penurunan kadar antosianin terjadi juga selama penyimpanan. Perlakuan suhu 50, 65, dan 70 °C memberikan perbedaan kadar fenolik yang tidak signifikan. Begitu pula dengan kemampuannya untuk menangkap radikal DPPH (% RSA DPPH, radical scavenging activity 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Kenaikan suhu dari 50 menjadi 70 °C, meningkatkan stabilitas antosianin, meningkatkan kadar fenolik, dan aktivitas antioksidannya. Sementara proses penyimpanan membuat kadar antosianin semakin menurun dan meningkatkan kadar fenolik serta aktivitas antioksidannya.

Karakterisasi Potensi dan Komponen Pembatas pada Biji Sorghum Lokal Varietas Coklat sebagai Tanaman Pangan ( Characterisation of Potential and Limiting Factors of Locally-Grown Brown Sorghum as Staple Food)

Murtini, Erni Sofia, Subagio, Ahmad, Yuwono, Sudarminto Setyo, Wardhana, Irawan Setya, Fathoni, Sulthon

Agritech Vol 38, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Brown sorghum is one of cereals with high prospective to be developed as a new source of staple food in Indonesia because it is easily cultivated and high productivity. However, this grain has been overlooked because of limited available information of its potential used. Aims of this research are to evaluate the sorghum grain to comprehensibly obtain the basic information of its potential and limited factors as staple food. Research results that locally grown brown sorghum grain obtained from Grati, Pasuruan has a high milling yield (77.99%). The polished grain is composed by 79.40% starch and 10.62% protein. It indicates that this sorghum grain is highly prospective to develop as a staple food. However, the grain also has some restrictive factors such as tannin (8.83 mg/g), phytic acid (1.80 mg/g) and anti-trypsin (17.18 unit/g). The main fraction of protein sorghum grain is Kafirin where this fraction contains a high disulphide bond (550.43 µmol/g). Bioavailability of protein sorghum are 51% and 48.45% respectively evaluated by in vivo and in vitro methods, and these values could be categorized as low digestibility. The sorghum grain has dimension 3,81mm length, 2,77mm width and 2.13 thick. Polishing of sorghum grain using rice polished machine could not effectively removed the testa layer due to different dimension of both sorghum and rice grain. This result suggests that it is required to assembly appropriate equipment to effectively polish sorghum grain. Presence of the anti- nutritional compounds and the low digestibility of protein sorghum prove that the brown sorghum grain requires further processing technology to prepare this grain become suitable staple food.ABSTRAKSorghum coklat merupakan biji-bijian yang potensial dikembangkan menjadi tanaman pangan di Indonesia. Kelebihan tanaman ini adalah kemudahannya untuk dibudidayakan dan produksi yang tinggi. Namun keterbatasan informasi tentang potensinya, membuat biji sorghum kurang diperhatikan. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi dasar tentang potensi dan pembatas biji sorghum lokal varietas coklat sebagai tanaman pangan. Penelitian dilakukan dengan menganalisa biji sorghum yang telah disosoh dengan penyosoh beras 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan biji sorghum lokal varietas coklat yang didapatkan dari Grati pasuruan ini cukup berpotensi sebagai tanaman pangan. Dengan kandungan pati  79,40% dan protein yang cukup tinggi 10,62% pada biji  sosoh serta rendemen sosoh yang cukup tinggi mencapai  77,99%. Namun sorghum mengandung senyawa antigizi seperti tanin yang mencapai 8,83 mg/g, senyawa fitat yang cukup besar 1,80 mg/g dan antitripsin 17,18 unit/g.  Protein sorghum ternyata didominasi (71,40%) oleh kafirin yang memiliki ikatan disulfit tinggi (550,43 µmol/g). Daya cerna protein sorghum tergolong rendah terlihat dari uji secara in vivo 0,51 atau 51% dan in vitro dengan enzim tripsin sebesar 48,45%. Dimensi biji sorghum dengan 3,81 mm panjang, 2,77mm lebar dan 2,13mm tebal berbeda dengan biji beras sehingga kurang cocok bila dilakukan penyosohan dengan penyosoh beras. Kandungan senyawa antigizi yang cukup tinggi dan keberadaan ikatan disulfit yang cukup besar dan ditunjang oleh daya cerna protein yang rendah, menunjukkan biji sorghum perlu penanganan lanjutan agar benar-benar bisa berpotensi sebagai bahan pangan. Kata Kunci : sorghum lokal varietas coklat, potensi, pembata

Faktor Risiko terhadap Total Bakteri, Staphylococcus aureus, Koliform, dan E. coli pada Susu Kambing

Suwito, Widodo, Winarti, Erna, Kristiyanti, Felisitas, Widyastuti, Ari, Andriani, Andriani

Agritech Vol 38, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The objective of this research is to determine the risk factors that affect the total bacteria, S. aureus, coliform, and E. coli in goat milk against SNI No 01-6366-2000 requirements. A total of 16 samples of goat milk from Sleman district were analyzed for total bacteria, S. aureus, coliform using dilution plate count, whereas E. coli count was based on biochemical reaction. Management of each dairy goat farm was recorded using questionnaires. The risk factors of total bacteria, S. aureus, coliform, and E. coli in goat milk were determined based on chi square ( χ2) bivariate analysis, odds ratio (OR), and relative risk (RR). The risk factors that affected total bacteria, S. aureus, coliform, and E. coli in goat milk are cleanliness of stall, milk containers, personal knowledge of dairy hygiene, washing of the udder before milking, the time and the amount of milking. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor risiko yang mempengaruhi total bakteri, Staphylococcus aureus (S. Aureus), koliform, dan Escherichia coli (E. coli) pada susu kambing dari Kabupaten Sleman agar memenuhi persyaratan SNI No 01-6366-2000. Sebanyak 16 susu kambing dari Kabupaten Sleman digunakan dalam penelitian ini. Susu kambing diperiksa terhadap total bakteri, S. aureus, koliform, dengan hitungan cawan sedangkan E. coli berdasarkan reaksi biokimia. Manajemen pemerahan dari masing-masing peternakan ditulis dalam lembar kuesioner. Analisis bivariate chi square (χ2), odds ratio (OR), dan relative risk (RR) digunakan untuk menentukan faktor risiko yang mempengaruhi total bakteri, S. aureus, koliform, dan E. coli pada susu kambing. Faktor risiko yang mempengaruhi total bakteri, S. aureus, koliform, dan E. coli dalam susu kambing adalah kebersihan kandang, tempat penampung susu, pengetahuan personal hygiene pemerah susu, mencuci ambing sebelum diperah, waktu dan banyaknya pemerahan.

Issues
All Issue Vol 38, No 2 (2018) Vol 38, No 1 (2018) Vol 37, No 4 (2017) Vol 37, No 3 (2017) Vol 37, No 2 (2017) Vol 37, No 1 (2017) Vol 36, No 4 (2016) Vol 36, No 3 (2016) Vol 36, No 2 (2016) Vol 36, No 1 (2016) Vol 36, No 01 (2016) Vol 35, No 4 (2015) Vol 35, No 3 (2015) Vol 35, No 2 (2015) Vol 35, No 1 (2015) Vol 35, No 04 (2015) Vol 35, No 03 (2015) Vol 35, No 02 (2015) Vol 35, No 01 (2015) Vol 34, No 4 (2014) Vol 34, No 3 (2014) Vol 34, No 2 (2014) Vol 34, No 1 (2014) Vol 34, No 04 (2014) Vol 34, No 03 (2014) Vol 34, No 02 (2014) Vol 34, No 01 (2014) Vol 33, No 4 (2013) Vol 33, No 3 (2013) Vol 33, No 2 (2013) Vol 33, No 1 (2013) Vol 33, No 04 (2013) Vol 33, No 03 (2013) Vol 33, No 02 (2013) Vol 33, No 01 (2013) Vol 32, No 4 (2012) Vol 32, No 3 (2012) Vol 32, No 2 (2012) Vol 32, No 1 (2012) Vol 32, No 04 (2012) Vol 32, No 03 (2012) Vol 32, No 02 (2012) Vol 32, No 01 (2012) Vol 31, No 4 (2011) Vol 31, No 3 (2011) Vol 31, No 2 (2011) Vol 31, No 1 (2011) Vol 31, No 04 (2011) Vol 31, No 03 (2011) Vol 31, No 02 (2011) Vol 31, No 01 (2011) Vol 30, No 4 (2010) Vol 30, No 3 (2010) Vol 30, No 2 (2010) Vol 30, No 1 (2010) Vol 30, No 04 (2010) Vol 30, No 03 (2010) Vol 30, No 02 (2010) Vol 30, No 01 (2010) Vol 29, No 4 (2009) Vol 29, No 3 (2009) Vol 29, No 2 (2009) Vol 29, No 1 (2009) Vol 29, No 04 (2009) Vol 29, No 03 (2009) Vol 29, No 02 (2009) Vol 29, No 01 (2009) Vol 28, No 4 (2008) Vol 28, No 3 (2008) Vol 28, No 2 (2008) Vol 28, No 1 (2008) Vol 28, No 04 (2008) Vol 28, No 03 (2008) Vol 28, No 02 (2008) Vol 28, No 01 (2008) Vol 27, No 4 (2007) Vol 27, No 3 (2007) Vol 27, No 2 (2007) Vol 27, No 1 (2007) Vol 27, No 04 (2007) Vol 27, No 02 (2007) Vol 27, No 01 (2007) Vol 26, No 4 (2006) Vol 26, No 3 (2006) Vol 26, No 2 (2006) Vol 26, No 1 (2006) Vol 26, No 04 (2006) Vol 26, No 03 (2006) Vol 26, No 02 (2006) Vol 26, No 01 (2006) Vol 25, No 4 (2005) Vol 25, No 3 (2005) Vol 25, No 2 (2005) Vol 25, No 1 (2005) Vol 25, No 04 (2005) Vol 24, No 4 (2004) Vol 24, No 3 (2004) Vol 24, No 2 (2004) Vol 24, No 1 (2004) Vol 23, No 4 (2003) Vol 23, No 3 (2003) Vol 23, No 2 (2003) Vol 23, No 1 (2003) Vol 22, No 4 (2002) Vol 22, No 3 (2002) Vol 22, No 2 (2002) Vol 22, No 1 (2002) Vol 21, No 4 (2001) Vol 21, No 3 (2001) Vol 21, No 2 (2001) Vol 21, No 1 (2001) Vol 20, No 4 (2000) Vol 20, No 3 (2000) Vol 20, No 2 (2000) Vol 20, No 1 (2000) Vol 19, No 4 (1999) Vol 19, No 3 (1999) Vol 19, No 2 (1999) Vol 19, No 1 (1999) Vol 18, No 4 (1998) Vol 18, No 3 (1998) Vol 18, No 2 (1998) Vol 18, No 1 (1998) Vol 17, No 4 (1997) Vol 17, No 3 (1997) Vol 17, No 2 (1997) Vol 17, No 1 (1997) Vol 16, No 4 (1996) Vol 16, No 3 (1996) Vol 16, No 2 (1996) Vol 16, No 1 (1996) Vol 15, No 4 (1995) Vol 14, No 3 (1994) Vol 14, No 2 (1994) Vol 14, No 1 (1994) Vol 13, No 4 (1993) Vol 13, No 3 (1993) Vol 13, No 2 (1993) Vol 13, No 1 (1993) Vol 12, No 4 (1992) Vol 12, No 3 (1992) Vol 12, No 2 (1992) Vol 12, No 1 (1992) Vol 11, No 4 (1991) Vol 11, No 3 (1991) Vol 11, No 2 (1991) Vol 11, No 1 (1991) Vol 10, No 4 (1990) Vol 10, No 3 (1990) Vol 10, No 2 (1990) Vol 10, No 1 (1990) Vol 9, No 4 (1989) Vol 9, No 3 (1989) Vol 9, No 2 (1989) Vol 9, No 1 (1989) Vol 8, No 4 (1988) Vol 8, No 3 (1988) Vol 8, No 2 (1988) Vol 8, No 1 (1988) Vol 7, No 2 (1987) Vol 7, No 1 (1987) Vol 6, No 1 & 2 (1986) Vol 5, No 1 & 2 (1985) Vol 4, No 2,3, & 4 (1984) Vol 4, No 1 (1984) Vol 3, No 3 (1982) Vol 3, No 1 (1982) Vol 2, No 4 (1981) Vol 2, No 3 (1981) Vol 2, No 2 (1981) Vol 2, No 1 (1981) Vol 1, No 3 (1980) Vol 1, No 2 (1980) Vol 1, No 1 (1980)