cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 24067489     EISSN : 24069337     DOI : -
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis (JITRO) adalah jurnal ilmiah mempublikasikan hasil penelitian dan review bidang peternakan.
Articles 13 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 2 (2016): JITRO, Mei" : 13 Documents clear
IDENTIFIKASI BAKTERI Azospirillum DAN Azotobacter PADA RHIZOSFER ASAL KOMBA-KOMBA (Chromolaena odorata) Erfin, .; Sandiah, Natsir; Malesi, La
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 3, No 2 (2016): JITRO, Mei
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.365 KB)

Abstract

Tingginya kandungan N pada komba-komba (Chromolaena odorata) yang dapat tumbuh pada tanah yang miskin hara menguatkan dugaan adanya bakteri nonsimbiotik pemfiksasi N yang berasosiasi dengan akarnya. Tujuan dilaksanakan penelitian ini antara lain untuk mengetahui ada tidaknya bakteri Azospirillum dan Azotobecter pada rhizosfer asal komba-komba (Chromolaena odorata). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi Fakultas Matematika dan IPA Institut Pertanian Bogor. Sampel tanah diambil dari rhizosfer tanaman komba-komba pada daerah yang berbeda di Kecamatan Kambu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, masing-masing 1 sampel. Isolat yang berasal pada rhizosfer asal komba-komba (Chromolaena odorata) dari kelurahan Mokoau dan Lalolara, bakteri Azospirillum memiliki bentuk koloni lengkung atau setengah spiral dan vibrinoid dan termasuk bakteri gram negatif, bakteri Azotobacter memiliki koloni bakteri berbentuk oval, batang pendek, batang dan terdapat kista serta termasuk bakteri gram negatif. Kata Kunci; Komba-Komba (Chromolaena odorata), Azospirillum, Azotobacter 
SELEKSI PADA SAPI ACEH BERDASARKAN UJI PERFORMANS DI BPTU-HPT SAPI ACEH INDRAPURI Putra, Widya Pintaka Bayu; Sumadi, .; Hartatik, Tety; Saumar, Hendra
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 3, No 2 (2016): JITRO, Mei
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.851 KB)

Abstract

            Uji performans merupakan tahap seleksi awal untuk memilih calon pejantan dan induk yang terbaik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan pada sapi Aceh dewasa. Sebanyak 49 ekor sapi Aceh (23 jantan dan 26 betina) digunakan untuk uji performan selama 369 hari di BPTU-HPT Sapi Aceh Indrapuri. Rata-rata umur sapi sebelum diuji adalah sekitar 600 hari dengan berat awal terkoreksi (BAT) sebesar 110,08+16,25 kg (jantan) dan 108,25+21,08 kg (betina). Rata-rata berat akhir terkoreksi (BFT) sebesar 138,30+16,59 kg (jantan) dan 141,63+24,88 kg (betina). hari (betina). Rata-rata tinggi gumba (TG), panjang badan (PB) dan lingkar dada (LD) setelah pengujian pada sapi jantan masing-masing sebesar  99,07+4,64 cm,  94,41+6,21 cm dan 120,85+6,41 cm. Selanjutnya rata-rata nilai TG, PB dan LD pada sapi betina setelah pengujian sebesar 97,00+4,00 cm, 95,62+4,90 cm dan 124,25+9,38 cm. Nilai BFT tertinggi selama pengujian sebesar 166,71 kg (jantan) dan 214,19 kg (betina). Kata kunci: Sapi Aceh, uji performans, berat badan, ukuran tubuh 
KAJIAN PERTUMBUHAN KARKAS DAN BAGIAN NON KARKAS KAMBING LOKAL JANTAN PASCA PEMBERIAN ASAM LEMAK TERPROTEKSI Elvanuddin, .; Tasse, A.Murlina; Hafid, Harapin
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 3, No 2 (2016): JITRO, Mei
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.214 KB)

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengkaji produksi karkas, non karkas, edible portion dan non edible portion dari non  karkas kambing lokal lepas sapih yang diberi asam lemak terproteksi. Materi penelitian terdiri dari kambing jantan lokal umur 4-6 bulan sebanyak 16 ekor dengan kisaran bobot badan 10-12 kg, pakan hijauan dan ALT.  Pakan yang digunakan terdiri dari hijauan dan campuran asam lemak terproteksi.  Rancangan penelitian adalah rancangan  acak  lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, dengan perlakuan P1= 0 g ALT, P2 = 200 g ALT, P3 = 250 g ALT dan P4 = 300 g ALT.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,05) terhadap bobot potong, potongan karkas, edible portion dan non edible portion terkecuali pada limfa dan ginjal.  Dapat disimpulkan bahwa pemberian asam lemak terproteksi sebanyak 200-300 g/ekor/hari mampu meningkatkan bobot badan, bobot akhir atau bobot potong serta bobot karkas dan bobot non karkas baik edible portion maupun non edible portion, terkecuali bobot limpa pada kambing jantan lokal dalam fase pertumbuhan. Kata Kunci:  Asam lemak terproteksi, pertumbuhan, kambing lokal jantan, karkas, non karkas
RESPON PERTUMBUHAN DAN MORTALITAS PEDET SAPI BALI DARI INDUK YANG DIBERI PAKAN TAMBAHAN DAN OBAT CACING Hardiono, Rahmad; Saili, Takdir; Nafiu, La Ode
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 3, No 2 (2016): JITRO, Mei
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.225 KB)

Abstract

Kelahiran dan pertumbuhan pedet di bawah umur 3 bulan sangat rendah di lapangan karena pakan induk bunting dan menyusui kurang tercukupi dan adanya infestasi cacing pada induk sapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan pedet, perkembangan dimensi tubuh dan mortalitas pedet terhadap pemberian pakan tambahan dan obat cacing pada induk sapi Bali. Penelitihan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan yaitu kelompok sapi bunting yang diberi pakan tambahan dan obat cacing (P2), kelompok sapi Bali bunting yang diberi pakan tambahan tanpa obat cacing (P1), kelompok sapi Bali bunting yang tidak diberi pakan tambahan dan obat cacing (P0). Parameter yang diukur adalah bobot lahir, berat badan, ukuran dimensi tubuh yang meliputi panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak dan mortalitas pedet. Hasil penelitihan menunjukkan bahwa rataan tertinggi semua parameter yang diukur diperoleh pada perlakuan (P2), masing–masing bobot badan (57,90 kg), lingkar dada (86,25 cm), tinggi gumba (73,35 cm) dan panjang badan (66,70 cm). Angka kematian anak ternak 0% karena tidak ada anak ternak yang mati selama penelitian. Namun demikian, hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap parameter yang dievaluasi. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa pemberian pakan tambahan dan obat cacing pada induk sapi Bali tidak berpengaruh nyata terhadap bobot lahir, bobot badan, panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak dan mortalitas. Penggunaan pakan tambahan dan obat cacing (P2) memberikan performans pedet sapi Bali yang lebih baik.Kata kunci : Pertumbuhan dan mortalitas, pedet sapi Bali, Induk sapi Bali, Pakan tambahan, obat cacing.
HUBUNGAN PEMBERIAN PUPUK KANDANG SAPI DENGAN PENINGKATAN KANDUNGAN PROTEIN DAN SERAT KASAR LEGUM Clitoria ternatea SEBAGAI HIJAUAN PAKAN TERNAK Syamsuddin, .; Saili, Takdir; Hasan, Asmar
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 3, No 2 (2016): JITRO, Mei
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.993 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat pupuk kandang sapi terhadap kualitas  legum Clitoria ternatea  khususnya kandungan protein dan serat kasar. Penelitian ini dilakukan lahan Agrostologi Jurusan Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Haluoleo Kendari. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan yang diawali dengan pengolahan lahan, pemupukan(perlakuan), penanaman, pemeliharaan,  dan pemanenan  yang dilakukan sebanyak dua kali pada tanaman umur 13 MST (Panen I) dan 19 MST (Panen II) dengan batas pemotongan tanaman 20 cm dari permukaan tanah. Variabel yang diamati pada penelitian ini yaitu persentase kandungan protein kasar dan serat kasar melalui analisis jaringan tanaman yang dilakukan di Laboratorium Fakultas Pertanian UHO. Persentase kandungan protein kasar ditentukan menggunakan metode ”Kjedahl” sedangkan persentase kandungan serat kasar ditentukan menggunakan metode ”Gravimetri”. Data hasil pengamatan selanjutnya ditabulasi dan dianalisis menggunakan analisis korelasi Pearson. Hasil penelitian menujukan bahwa pupuk kandang sapi dengan dosis tertinggi yaitu 25 ton ha-1 mampu meningkatkan kandungan protein kasar hingga mencapai 24,25% dibanding kontrol, tetapi menurunkan kandungan serat kasar hingga mencapai 34,07% dibanding kontrol pada panen I.  Sedang Pada panen II, dengan peningkatan pupuk kandang sapi hingga 25 ton ha-1 mampu meningkatkan kandungan protein kasar sebesar 24,23% dibanding kontrol, namun menurunkan kandungan serat kasar sebesar 44,07% dibanding kontrol.Kata Kunci: legum, Clitoria Ternate, kualitas, pupuk kandang sapi
KUALITAS ORGANOLEPTIK DENDENG SAPI YANG DIBERI GULA MERAH DENGAN LEVEL BERBEDA Febrianingsih, Febi; Hafid, Harapin; Indi, Amiluddin
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 3, No 2 (2016): JITRO, Mei
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.101 KB)

Abstract

Dendeng giling merupakan salah satu produk olahan daging secara tradisional dibuat dari daging giling yang ditambah gula aren dan bumbu-bumbu lainya. Dendeng sudah memasyarakat dan digemari tua-muda sebagai bahan lauk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan gula aren dengan level yang berbeda terhadap kualitas organoleptik dendeng giling sapi. Materi penelitian dendeng dibuat dari daging sapi bali yang di beri garam, bumbu dan gula merah dengan kosentrasi yang berbeda yaitu 10% , 20%, dan 30% dan 40% sebagai perlakuan.  Data diolah dengan analisis sidik ragam berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dengan 15 orang panelis sebagai ulangan. Peubah yang diamati adalah kualitas  organoleptik dendeng berupa warna, citarasa, keempukan dan penerimaan umum panelis   (akseptabilitas). Hasil menunjukkan bahwa penambahan gula aren pada dendeng giling daging sapi berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap sifat organoleptik yaitu meningkatkan flavor (cita rasa) tetapi menurunkan warna, keempukan. Dan tidak berpengaruh terhadap akseptabilitas dendeng. Disimpulkan bahwa produk olahan dendeng giling daging sapi yang berkualitas baik adalah pada dendeng dengan penambahan gula aren 20% dimana mempunyai sifat organoleptik yang banyak disukai oleh panelis.Kata kunci: dendeng giling, daging sapi, gula aren
SEX RATIO ANAK PUYUH (Coturnix-coturnix japonica) PADA TETUA YANG DIBERI RANSUM TERSUPLEMENTASI MINERAL Zn DAN VITAMIN E Rahmawati, .
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 3, No 2 (2016): JITRO, Mei
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.141 KB)

Abstract

           Jenis kelamin unggas dapat dimanipulasi, yaitu melalui pengubahan jumlah hormon estrogen dan testosteron di dalam tubuh dan yolk.  Pengubahan ini dapat dilakukan melalui pengaturan kandungan Zn pada pakan.  Selain Zn yang dapat mempengaruhi fungsi reproduksi ternak, vitamin E juga  bermanfaat untuk meningkatkan fertilitas, pertumbuhan embrio normal dan sebagai antioksidan.  Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh suplemen mineral Zn, vitamin E dan interaksi keduanya terhadap sex ratio anak puyuh.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 3 dengan 3 ulangan.  Faktor pertama adalah level mineral Zn (0mg, 50mg dan 100mg) ) dan faktor kedua adalah level vitamin E (0ppm, 45ppm dan 50ppm).  Setiap unit percobaan terdiri dari 2 ekor puyuh betina dan 1 ekor puyuh jantan. Parameter yang diukur adalah  konsumsi ransum,  bobot telur, daya tetas dan sex ratio anak puyuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Interaksi antara mineral Zn dan vitamin E berpengaruh terhadap bobot telur, namun tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum, daya tetas dan sex ratio anak puyuh. Penambahan mineral Zn berpengaruh nyata terhadap bobot telur, namun tidak mempengaruhi konsumsi ransum, daya tetas dan sex ratio anak puyuh.  Penambahan vitamin E berpengaruh nyata terhadap konsumsi ransum, bobot telur dan daya tetas, namun tidak berpengaruh terhadap sex ratio anak puyuh. Kata kunci : Anak puyuh, mineral Zn, vitamin E, sex ratio. Abstract
PENGARUH METODE FORCE MOLTING YANG BERBEDA TERHADAP RONTOK BULU AYAM PETELUR AFKIR Fitroh, muhammad Nurdiana; Pagala, Muhammad Amrullah; Has, Hamdan
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 3, No 2 (2016): JITRO, Mei
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.96 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode force  molting  berbeda terhadap rontok bulu ayam ras petelur pada masa akhir produksi telur (afkir). Sebanyak 18 ekor ayam petelur strain Lohman Brown, daun lamtoro, ransum basal, dedak padi digunakan sebagai materi penelitian. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap 3 perlakuan dan 6 ulangan, perlakuan yang digunakan adalah P0 = Pembatasan pakan dan pemuasaan, P1 = Pemuasaan dan penambahan daun lamtoro 20%, P2 = Pemuasaan dan pemberian dedak padi. Perlakuan yang berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Variable yang diamati adalah  jumlah rontok bulu leher, bulu punggung, bulu sayap, bulu ekor dan bulu dada. Hasil penelitian menunjukkan: Perlakuan  force moting berbeda pada ayam petelur berpengaruh nyata (p<0.05) pada jumlah rontok bulu leher dan bulu dada tetapi tidak berpengaruh nyata (p>0.05) pada jumlah  rontok bulu punggung, bulu sayap, bulu ekor, selisih bobot badan dan lama masa berhenti bertelur. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu perlakuan force molting dengan penambahan daun lamtoro menunjukkan hasil yang lebih baik. Kata Kunci: Ayam Petelur Afkir, Rontok Bulu
PENDUGAAN BOBOT HIDUP KERBAU MENGGUNAKAN UKURAN DIMENSI TUBUH SEBAGAI DASAR PENENTUAN HARGA DI PULAU KABAENA Hadini, Hairil A; Badaruddin, Rusli
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 3, No 2 (2016): JITRO, Mei
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.496 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan dalam memprediksi bobot badan kerbau menggunakan tinggi pundak, dalam dada, lingkar dada dan panjang badan. Data ukuran kerbau berasal dari 89 ekor kerbau yang terdiri dari 42 ekor kerbau dengan umur kurang dari 3 tahun dan 47 ekor kerbau dengan umur lebih dari 3 tahun yang dipelihara secara tradisional di Pulau Kabaena kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara. Data dianalisis menggunakan Program Eviews 5,1 untuk mendapatkan persamaan regresi linier berganda. Hasil analisis regresi pendugaan bobot badan kerbau adalah Y = 3,89(TP) + 6,22(LD) – 317,57  (R2) = 0,67 untuk kerbau dengan umur kurang dari 3 tahun dan Y = 5,45(TP) + 1,40(LD) – 240,67  (R2) = 0,63 untuk kerbau dengan umur lebih dari 3 tahun. Lingkar dada memberikan kontribusi yang besar dalam menduga bobot hidup kerbau pada umur kurang dari 3 tahun, sedangkan tinggi pundak memberikan kontribusi yang besar dalam menduga bobot hidup kerbau pada umur lebih dari 3 tahun Kata kunci: Dimensi tubuh, bobot tubuh, Bkerbau
EFEK BAHAN FILLER LOKAL TERHADAP KUALITAS FISIK DAN KIMIA BAKSO AYAM PETELUR AFKIR Nullah, Lija Numriah; Hafid, Harapin; Indi, Amiluddin
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 3, No 2 (2016): JITRO, Mei
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.064 KB)

Abstract

            Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk olahan daging ayam petelur afkir yaitu bakso dengan nilai gizi sesuai dengan standar nasional produk olahan dan untuk mengevaluasi daya suka konsumen terhadap bakso ayam petelur afkir yang menggunakan filler lokal Sulawesi Tenggara melalui uji organoleptik.  Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap, 3 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang dilakukan adalah P1= daging ayam petelur afkir 60% dan tepung sagu 25%, P2= daging ayam petelur afkir 60% dan tepung ubi kayu 25%, dan daging ayam petelur afkir 60% dan tepung talas 25%. Variabel penelitian meliputi uji kualitas fisik (susut masak dan pH), uji organoleptik (warna, aroma, tekstur, kekenyalan, dan rasa), dan uji kimia (kadar air, protein, lemak, dan abu). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan filler lokal tidak berpengaruh nyata ( p>0,05) terhadap susut masak, kadar air, lemak, tekstur, kekenyalan, dan rasa bakso akan tetapi berpengaruh nyata ( p<0,05)  terhadap pH bakso, kadar protein, abu dan warna bakso. Disimpulkan bahwa perlakuan terbaik didapat pada penambahan tepung sagu dan ubi kayu yang banyak disukai panelis.Kata kunci: Bakso Ayam, Filler Lokal, Kualitas Fisik, Organoleptik dan Kimia

Page 1 of 2 | Total Record : 13