cover
Filter by Year
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -
Articles
107
Articles
DESAIN TAMAN VERTIKAL DENGAN KONSEP URBAN FARMING UNTUK FASADE PADA CLUSTER PERUMAHAN DI LOWOKWARU

Masito, Masito, Setyabudi, Irawan, Alfian, Rizki

Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Housing in Lowokwaru is a housing that is strategically located with a modern form and has enough land to arrange a park. On the housing estate there is also a narrow housing area and function shifting for each land in its use, so the solution of this research wants narrow land use with the concept of verticulture and urban farming, in housing facade clusters in poor lowokwaru using qualitative methods with sampling 20 houses which is around the lowokwaru sub-district of Malang city. This form of the results of the research design itself applies various designs that are suitable for the size of the house and the sampling of the housing. This research forms a design that makes the home page in accordance with its functions and residents of the house can carry out activities according to their needs such as farming in front of the house. verticultural application in lowokwaru housing, with designs such as verticulture of walls, vertical culture, vertical culture of fences, vertical shelf culture, hydropinics and aquaponics can overcome the problem of the function of a garden. Perumahan di daerah kecamatan lowokwaru merupakan perumahan yang letaknya strategis dengan bentuk yang modern dan mempunyai lahan yang cukup untuk menata sauatu taman. Pada lahan perumahan tersebut ada juga lahan perumahan yang sempit dan pengalihan fungsi untuk setiap lahan dalam penggunaanya. Penelitian ini ingin pemanfaatan lahan sempit dengan konsep vertikultur dan urban farming,dalam cluster fasade perumahan di lowokwaru malang yang menggunakan motode kualitatif dengan pengambilan sample 20 rumah yang ada di kecamatan lowokwaru kota malang. Hasil penelitian ini menerapkan berbagai desain yang sesuai dengan ukuran rumah dan pegambilan sample pada perumahan tersebut. Penelitian ini membentuk suatu desain yang membuat halaman rumah sesuai dengan fungsinya dan penghuni rumah dapat melakukan aktivitas sesuai dengan kebutuhan misalnya bercocok tanam didepan rumah. Penerapan vertikultur di perumahan lowokwaru, dengan desain vertikultur dinding, vertikultur gantung,vertikultur pagar, vertikultur rak, hidropinik dan aquaponik bisa mengatasi masalah pengalihan fungsinya sebuah taman.

EVALUASI TAMAN RENUNGAN BUNG KARNO SEBAGAI TAMAN BERSEJARAH KOTA ENDE

Bato, Edmundus, Djoko, Riyanto, Nailufar, Balqis

Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

City Park is a Green Open Space. In general city parks are made not only for beauty and social functions for the city, but city parks can also be used as a specific function, namely as a historical park in accordance with the history that has ever happened. Bung Karno's Reflection Park is still not in accordance with the criteria as a historical park. For this reason, this research was conducted to identify and analyze the value of Bung Karno Reflection Park as a historical park and the evaluation was carried out by looking at the criteria of the historic park and the public perception of the park. The results of the analysis questionnaire using descriptive analysis were then evaluated using the KPI (Key Performance Index) method. Based on the results of the inventory and evaluation based on criteria from historic parks, it can be concluded that Bung Karno's Reflection Park has not yet met the criteria of a historic park. Taman kota merupakan Ruang Terbuka Hijau. Secara umum taman kota dibuat tidak hanya sekedar untuk keindahan dan fungsi sosial bagi kota, namun taman kota juga dapat digunakan sebagai fungsi yang spesifik, yaitu sebagai taman bersejarah sesuai dengan sejarah yang pernah terjadi. Taman Renungan Bung karno masih belum sesuai dengan krtiteria sebagai taman bersejarah. Untuk itu penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis nilai Taman Renungan Bung Karno sebagai taman bersejarah dan Evaluasi dilakukan dengan melihat kriteria dari taman bersejarah dan presepsi masyarakat terhadap taman. Hasil kuisoner analsis menggunakan analisis deskriptif kemudian di evaluasi menggunakan Metode KPI (Key Perfomance Index). Berdasarkan hasil inventarisasi dan evaluasi berdasarkan kriteria dari taman bersejarah dapat simpulkan bahwa Taman Renungan Bung Karno belum sesuai dengan kriteria sebagai taman bersejarah.

ATRIBUT PRODUK YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN DALAM PEMBELIAN SUSU PASTEURISASI DI GIANT EKSPRES DINOYO KOTA MALANG

Awa, Susanti Ana, Sumarno, Sumarno, Santoso, Erik Priyo, Murti, Ariani Trisna

Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The study was conducted on consumers who bought pasteurized milk at Giant Ekspress Dinoyo, Malang. Data collection was conducted in May - June 2018. This research The aim was to find out the attributes that affected consumers in purchasing pasteurized milk in Giant Ekspres, Dinoyo Malang. This research used a quantitative descriptive method. The type of sampling was a purposive sampling to determine the research samples with certain considerations in order to get representative data. The total population was 1000 people during the study and calculated using the Slovin formula to get 90.9 and round up to 100 respondents. The research variables used were brand, price, packaging, volume, taste and product label. The data analysis used multiple linear regression data. The regression analysis aimed to find out what attributes influence the decision to purchase pasteurized milk. The results of this study indicated that brands, prices, taste variants were the product attributes that had significant effects on the decision to purchase pasteurized milk. 1) brand, price, taste variant were the product attributes that influenced the purchasing decisions, 2) other attributes such as packaging, volume content, product labels did not affect the purchase decision of pasteurized milk in the Giant Ekspres Dinoyo Malang. Penelitian dilakukan pada konsumen yang membeli susu pasteurisasi di giant ekspress dinoyo kota malang. pengambilan data dilakukan pada bulan mei – juni 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui atribut yang mempengaruhi konsumen dalam pembelian susu pasteurisasi di giant ekspres dinoyo kota malang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dekskriftif. pengambilan sampel adalah purposive sampling yaitu teknik untuk menentukan sampel penelitian dengan beberapa pertimbangan tertentu yang bertujuan agar data yang yang diperoleh nantinya representative, Populasi total 1000 orang selama penelitian dihitung menggunakan rumus slovin sehingga mendapatkan 90,9 dan dibulatkan menjadi 100 orang responden, Variabel penelitian adalah merek, harga, kemasan, volume isi, varian rasa, label produk. analisis data yang digunakan adalah analisis data regresi linier berganda, analisa regresi bertujuan untuk mengetahui atribut apa saja yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian susu pasteurisasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa merek, harga, varian rasa merupakan atribut produk yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian susu pasteurisasi. 1)Merek, harga, varian rasa merupakan atribut produk yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian, 2) Atribut yang lain , kemasan, volume isi, label produk tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian susu pasteurisasi di Giant Ekspres Dinoyo Kota Malang.

KAJIAN LANSKAP BUDAYA SUKU BOTI DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN-NTT

Nubatonis, Wardy, Setyabudi, Irawan, Hamzah, Amir

Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Indonesia's current Culture and Landscape is a combination of various diverse interactions of natural, cultural and historical heritage. The formation of this diversity is not only from the local or national cultural sense, but also from the dynamic instruction of various ethnic immigrants from various countries who bring their respective cultural trends. The formation of this diversity is not only from the local or national cultural sense, but also from the dynamic instruction of various ethnic immigrants from various countries that bring their respective cultural trends. The method used in this research is Qualitative and Quantitative Methods where the purpose of this method is in-depth understanding of a problem being studied. Based on the results of processing expert respondent data, it was found that the highest priority or highest alternative recommendation for developing the Boti landscape was preservation and the lowest priority rating was conservation The physical characteristics of the Boti tribe include the architecture of traditional houses, the use of customary lands, places of worship, land use. Cultural characteristics of the Boti tribe landscape consist of the population of the Boti tribe villagers in Kie District, Timor Tengah Selatan Regency - NTT The recommendation for tourism development in the Boti tribal region is preservation. Budaya dan Lanskap Indonesia saat ini adalah gabungan dari berbagai interaksi warisan alam, budaya, dan sejarah yang sangat beragam. Pembentuk keragaman ini tidak hanya dari akal budaya lokal atau nasional, tetapi juga dari dinamisnya instruksi beragam etnis pendatang dari berbagai negara yang membawa trend budayanya masing- masing. Tujuannya adalah mengidentifikasi kondisi fisik budaya suku Boti dalam kaitanya dengan arsitektur dan lanskapnya dan kajian lanskap budaya suku Boti di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Kualitatif dan Kuantitatif dimana tujuan dari metode ini adalah pemahaman secara mendalam terhadap suatu permasalahan yang sedang dikaji. Berdasarkan hasil pengolahan data responden ahli diperoleh bahwa prioritas utama atau tertinggi alternatif rekomendasi pengembangan lanskap suku boti adalah preservasi dan peringkat prioritas terendah adalah konservasi Karakteristik fisik lanskap suku boti meliputi keadaan .arsitektur rumah adat, tata guna kawasan adat, tempat ibadah, tata guna lahan. Karakteristik budaya lanskap suku boti tediri dari jumlah penduduk desa suku boti Kecamatan Kie Kabupaten Timor Tengah Selatan- NTT Rekomendasi pengembangan wisata pada kawasan suku boti adalah preservasi.

ATRIBUT- ATRIBUT PRODUK YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN DALAM MEMBELI DAGING SAPI DI GIANT EKPRES DINOYO MALANG

Numba, Melani Day Aba, Santoso, Erik Priyo, Sumarno, Sumarno, Murti, Ariani Trisna

Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This research was conducted on consumers who bought beef in Giant Ekspres Dinoyo, Malang. Data retrieval was carried out in May - June 2018 aimed at finding out the attributes of beef which had an effect on purchasing decisions. The sampling method used was a Purposive sampling method. The total population during the study amounted to 1000 respondents calculated using Slovin formula and got 90.9 respondents and rounded up to 100 respondents. The research variables were the meat fat content, meat fiber, meat water content, brand image, meat color, meat prices and the packaging of beef products. The research method used a descriptive quantitative method with technical data analysis using Statistical Product and Service Solutions (SPSS) computer program version 16.0. The results showed that 1) meat color, meat prices and product packaging were product attributes that significantly affected beef purchasing decisions, 2) other attributes (fat content, meat fiber, water content and brand image) had an effect but were not significant to the decision purchase of beef at Giant Ekpres Dinoyo Malang. Penelitian ini dilakukan pada konsumen yang membeli daging sapi di Giant Ekspres Dinoyo Malang. Pengambilan data dilakukan pada bulan mei – juni 2018 bertujuan untuk mengetahui atribut – atribut daging sapi yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode Purposive sampling. Total populasi selama penelitian berjumlah 1000 responden dihitung menggunakan rumus slovin sehingga mendapatkan 90,9 responden dibulatkan menjadi 100 orang responden. Variabel penelitian yang digunakan adalah kandungan lemak daging, serat daging, kandungan air daging, brand image (citra merek), warna daging, harga daging dan kemasan produk daging sapi. Metode analisis data yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif dengan menggunakan program komputer Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 16.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) warna daging, harga daging dan kemasan produk merupakan atribut produk yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian daging sapi, 2) atribut yang lain (kandungan lemak, serat daging, kadar air dan brand image) tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian daging sapi di Giant Ekpres Dinoyo Malang.

PENGELOLAAN SUMBER DAYA LAHAN PETANI JAHE MERAH DI KELOMPOK TANI “PATIN UNGGUL” DI KELURAHAN ARDIREJO KECAMATAN KEPANJEN KABUPATEN MALANG

Lalo, Januarius Mesang Ana, Muljawan, Rikawanto Eko, Mutiara, Farah

Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The management of land for red ginger farmers is very good. Intensive farming has a land area of 0.05 ha. Of the land area of 0.05 Ha, all were planted with red ginger, so it was said to be intensive. Half-intensive farming has a land area of 0.1 ha. From a land area of 0.1 ha, 0.075 ha was planted with rice and 0.025 ha was planted with red ginger, so it was said to be half intensive. Side farming has a land area of 0.15 ha. Of the land area of 0.15 ha, 0.09875 ha was planted with rice, then 0.03875 ha was planted with chili and strawberries and 0.0125 ha was planted with red ginger, so it was said to be a side. Analysis of farming, fixed costs are fixed value costs that must be paid by producers regardless of the level of output produced, variable costs are the amount of costs that change according to the high and low output produced. total cost is the sum of fixed costs and variable costs. So the equation is TC = FC + VC. Total revenue is the product of price and quantity. Price is a predetermined price, the amount of production is the amount of output produced, the equation is TR = P × Q. Profit formula Π = TR─TC. The total receipt of red ginger with an intensive planting system has an average value of Rp. 39,000,000 greater than the half intensive planting system of Rp. 16,890,452 and the side of Rp. 10,797,949. The total cost of red ginger with an intensive planting system has an average value of Rp. 11,232,000 more than the half intensive planting system of Rp. 5,623,333 and a side of Rp. 2,841,821. The net income of red ginger farmers with an intensive system of Rp.448,000 is greater than the half intensive Rp. 11,406,667 and a side of Rp. 7,953,179. The R / C ratio obtained is greater than 1 (R / C ratio> 1), both intensive, semi-intensive and side-by-side so that farming with the system is very feasible. Pengelolaan sumber daya lahan petani jahe merah sangat baik. Usahatani intensif memiliki luas lahan sebesar 0,05 Ha. Dari luas lahan 0,05 Ha, seluruhnya ditanami jahe merah, sehingga dikatakan intensif. Usahatani setengah intensif memiliki luas lahan sebesar 0,1 Ha. Dari luas lahan 0,1 Ha, 0,075 Ha ditanami padi dan 0,025 Ha ditanami jahe merah, sehingga dikatakan setengah intensif. Usahatani sampingan memiliki luas lahan sebesar 0,15 Ha. Dari luas lahan 0,15 Ha, 0,09875 Ha ditanami padi kemudian 0,03875 Ha ditanami cabe dan stroberi dan 0,0125 Ha ditanami jahe merah, sehingga dikatakan sampingan. Analisis usaha tani, biaya tetap adalah biaya yang bernilai tetap yang harus dibayar produsen berapapun tingkat output yang dihasilkan, biaya variabel adalah jumlah biaya yang berubah-ubah menurut tinggi rendahnya output yang dihasilkan. biaya total adalah penjumlahan dari biaya tetap dan biaya variabel. Sehingga persamaannya adalah TC= FC+VC. Penerimaan total adalah hasil kali antara harga dengan kuantitas. Harga adalah harga yang telah ditentukan, jumlah produksi adalah jumlah output yang dihasilkan, persamaannya adalah TR= P×Q. Rumus keuntungan Π=TR─TC. Penerimaan total jahe merah dengan sistem tanam intensif memiliki nilai rata-rata Rp. 39.000.000 lebih besar dibandingkan dengan sistem tanam setengah intensif sebesar Rp. 16.890.452 dan sampingan sebesar Rp. 10.797.949. Biaya total jahe merah dengan sistem tanam intensif memiliki nilai rata-rata sebesar Rp. 11.232.000 lebih besar dibandingkan dengan sistem tanam setengah intensif sebesar Rp. 5.623.333 dan sampingan sebesar Rp. 2.841.821. Pendapatan bersih petani jahe merah dengan sistem intensif sebesar Rp.448.000 lebih besar dibanding dari setengah intensif sebesar Rp. 11.406.667 dan sampingan sebesar Rp. 7.953.179. Nilai R/C Ratio yang diperoleh lebih besar dari 1 (R/C rasio > 1), baik sistem intensif, setengah intensif maupun sampingan sehingga usahatani dengan sistem tersebut sangat layak dilakukan.

APLIKASI GA3 (GIBERELIN) DAN GANDASIL B PADA PERTUMBUHAN GENERATIF PHALAENOPSIS HIBRIDA

Marini, Koleta, Astutik, Astutik, Sumiati, Astri

Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Efforts to speed up generative phalaenopsis hybrids can be done with the application of hormone GA3 and Gandasil B fertilizer. The study aimed to determine the effect of the hormone GA3 and Gandasil B fertilizer on the growth of hybrid Phalaenopsis orchids. The study was conducted at Green house Jalan Tlogomas Kec. Lowokwaru, Malang City, for 5 months. The study was carried out using factorial complete randomized design (CRD) with 2 factors. Factor I: concentration of GA3 (gibirelin) consists of 3 KO levels = without GA3 (control) K1 = 100 ppm K2 = 200 ppm Factor II: Gandasil B Fertilization Frequency P1 = 1 x / week P2 = 2x / week. The variables observed include: when buds appear, leaf length, leaf width and root length. There is an interaction between GA3 concentration and Gandasil B frequency on the number of leaves (age 6 weeks), leaf length (age 2-4) and leaf width (age 8 weeks), GA3 hormone concentration affects when new shoots appear. Phalaenopsis hybrid, has an effect on GA3 100 ppm and Gandasil B fertilization 1 times / week with an increase in the number of leaves 0.94, the increase in leaf length 1.69 cm and an increase in leaf width of 1.10 cm. The results showed that there were Phalaenopsis hybrids, affecting GA3 100 ppm and Gandasil B fertilization 1 time / week. Upaya mepercepat masa generatif Phalaenopsis hibrida, dapat dilakukan dengan aplikasi hormon GA3 dan pupuk Gandasil B. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh hormon GA3 dan pupuk Gandasil B terhadap pertumbuhan anggrek Phalaenopsis hibrida. Penelitian dilaksanakan di Green house Jalan Tlogomas Kec. Lowokwaru, Kota Malang, selama 5 bulan. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor. Faktor I: konsentrasi GA3 (gibirelin) terdiri dari 3 level KO = tanpa GA3 (kontrol) K1 = 100 ppm K2 = 200 ppm Factor II: Frekwensi Pemupukan Gandasil B P1 = 1 x / minggu P2 = 2 x / minggu. Variabel yang diamati meliputi: saat muncul tunas, panjang daun, lebar daun dan panjang akar. Terdapat interaksi antara konsentrasi GA3 dan Frekwensi Gandasil B terhadap pertambahan jumlah daun (umur 6 minggu), pertambahan panjang daun (umur 2-4) dan pertambahan lebar daun (umur 8 minggu), Konsentrasi hormon GA3 berpengaruh pada saat muncul tunas baru. Phalaenopsis hibrida, berpengaruh pada GA3 100 ppm dan pemupukan Gandasil B 1 kali/minggu dengan Pertambahan jumlah daun 0.94, pertambahanpanjang daun 1.69 cm dan pertambahan lebar daun 1.10 cm.

REDESAIN KAWASAN WISATA REKREASI DI PANTAI CEPI WATU KABUPATEN MANGGARAI TIMUR, NTT

Lomes, Klementinus Lodofikus, Setyabudi, Irawan, Nailufar, Balqis

Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Currently the development of tourism objects is increasing both natural, cultural and culinary tourism. The increasingly widespread tourism now results in local governments and local communities striving hard to use tourism potential resources. The design of recreational tourism areas is very important because it is basically an effort to increase tourist attraction. Cepi Watu Beach is one of the tourism potentials in East Manggarai Regency. But now Cepi Watu Beach is not arranged and managed optimally because on this beach there are several public facilities that have been damaged and there are no sellers of sofenir or food that can meet the needs of visitors. This study aims to study the potential and constraints in designing the recreational tourism area of Cepi Watu Beach to facilitate the activities of visitors. The method used in this study is a design method according to Simmonds (2006) which is modified. Redesign of the Cepi Watu Beach Tourism Recreation Area is a design that presents a new tourist area design based on existing potential within and outside the region both from the concept of zoning, material, circulation patterns and facilities. From the zoning concept using the concept of the traditional manggarai township which consists of natas, compang and mbaru gendang. For materials in this redesign use existing materials with the aim of minimizing material costs. The circulation pattern follows the songke motif, namely the rongong motif and the wela kaweng motif. While the form of buildings or facilities such as restaurants, gazebos and rental places follows the form of the Manggarai traditional house. Saat ini pengembangan obyek wisata semakin meningkat baik wisata alam, budaya, maupun kuliner. Semakin maraknya wisata saat ini mengakibatkan pemerintah daerah dan masyarakat setempat berupaya keras dalam pemanfaatan sumber potensi wisata. Perancangan kawasan wisata rekreasi sangat penting karena pada dasarnya merupakan upaya untuk menambah daya tarik wisatawan. Pantai Cepi Watu merupakan salah satu potensi wisata yang ada di Kabupaten Manggarai Timur namun saat ini tidak ditata dan dikelola secara optimal dikarenakan di pantai ini ada beberapa fasilitas umum yang telah rusak dan tidak terdapat penjual sofenir maupun makanan yang dapat memenuhi kebutuhan pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk mengkajian potensi serta kendala dalam meredesain kawasan wisata rekreasi Pantai Cepi Watu untuk memfasilitasi kegiatan para pengunjung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode desain menurut Simmonds (2006) yang dimodifikasikan. Redesain Kawasan Wisata Rekreasi Pantai Cepi Watu merupakan perancangan yang menghadirkan rancangan kawasan wisata yang baru berdasarkan potensi yang ada dalam maupun luar kawasan baik dari konsep zonasi, material, pola sirkulasi maupun fasilitas. Dari konsep zonasi menggunakan kosep perkampungan tradisional manggarai yang terdiri dari natas, compang dan mbaru gendang. Untuk material pada redesain ini menggunakan material yang sudah adah dengan tujuan untuk meminimalisirkan biaya material. Pada pola sirkulasi mengikuti motif kain songke yakni motif renggong dan motif wela kaweng. Sedangkan bentuk bangunan atau fasilitas seperti rumah makan, gazebo dan tempat penyewaan mengikuti bentuk dari rumah adat manggarai.

KAJIAN PENGEMBANGAN POTENSI KAMPUNG ADAT PRAIYAWANG SEBAGAI KAWASAN WISATA BUDAYA DI DESA RINDI KABUPATEN SUMBA TIMUR NUSA TENGGARA TIMUR

Nau, Dominggus Pati Maramba, Setyabudi, Irawan, Hamzah, Amir

Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Praiyawang traditional village is a traditional village in Rindi Village, Rindi District, East Sumba Regency. The landscape characteristics of the Praiyawang village area consist of physical and biophysical characteristics. Physical characteristics include, elements forming the landscape and spatial layout of the area.The shape of the landscape forming of Praiyawang area is Uma batang (tower house), katuada (menhir), retaining maramba (tomb grave), menhir, sabana field. The spatial structure consists of macro, table and micro space. Macro spatial planning includes landscape spatial planning that supports all people's lives consisting of forest space, agriculture, settlements, and savannas. The meso room is part of the macro space which consists of the settlement environment of the indigenous village communities of Praiyawang. Meso space consists of residential building elements, namely Uma, Menhir, Reti, Penji, Katuanda and Vegetation. The distribution of community houses in the praiyawang traditional village has a circular pattern of settlements with lined up intersecting megalithic graves. Micro space includes the house and yard. The micro spatial of the Praiyawang custom village area can be seen from the division of space in a community house consisting of upper space (where the Gods and ancestral spirits), the living room (the place of man), the lower space (cattle), the porch of the house, and the kitchen. Biophysical characters in the area in the form of vegetation and animals. Vegetation found in the Praiyawang region consists of physical, economic and food functions. From the conclusions of this study, the proposed strategy is to develop the potential contained in the traditional village area as a cultural tourism area in accordance with its existence and not threaten the sustainability of the traditional village area. Kampung adat Praiyawang merupakan kampung tradisional di Desa Rindi, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur. Karakteristik lanskap kawasan kampung Praiyawang terdiri dari karakteristik fisik dan biofisik. Karakter fisik meliputi elemen pembentuk lanskap serta tata ruang kawasan. Elemen pembentuk lanskap kawasan Praiyawang yaitu, Uma batang (rumah menara), katuada (menhir), reti maramba (kuburan bangsawan), menhir, padang sabana. Tata ruang kawasan terdiri dari ruang makro, mesa dan mikro. Tata ruang makro meliputi tata ruang lanskap yang mendukung semua kehidupan masyarakat yang terdiri dari ruang hutan, pertanian, permukiman, serta padang sabana. Ruang meso merupakan bagian dari ruang makro yang terdiri dari lingkungan permukiman masyarakat kampung adat Praiyawang. Ruang meso terdiri dari elemen – elemen pembentuk permukiman yaitu Uma, Menhir, Reti, Penji, Katuanda dan Vegetasi. Penyebaran rumah masyarakat dikampung adat praiyawang memiliki pola permukiman yang melingkar dengan berjejeran mengelingi kuburan megalitikum. Ruang mikro meliputi rumah dan pekarangan. Tata ruang mikro kawasan kampung adat Praiyawang dapat dilihat dari pembagian ruang pada rumah masyarakat yang terdiri dari ruang atas(tempat para dewa dan arwah leluhur), ruang tengah (tempat manusia), ruang bawah (ternak) , teras rumah, dan dapur. Karakter biofisik pada kawasan berupa vegetasi dan satwa. Vegetasi yang terdapat pada kawasan Praiyawang terdiri dari fungsi fisik,ekonomi, dan pangan. Dari kesimpulan penelitian ini Strategi yang diusulkan adalah mengembangkan potensi yang terdapat pada kawasan kampung adat sebagai kawasan wisata budaya sesuai dengan keberadaan dan tidak mengancam keberlanjutan kawasan kampung adat tersebut.

ANALISIS SALURAN PEMASARAN KOMODITAS KENTANG DI DESA NGANTRU KECAMATAN NGANTANG KABUPATEN MALANG

Subaidi, Hairul, Muljawan, Rikawanto Eko, Khoirunnisa', Ninin

Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This research was conducted in Ngantru Village, Ngantang Subdistrict, Malang Regency, which aims to find out the channel marketing pattern, Supplementary Chain Management, the amount of costs, benefits and the large marketing margin for fresh potato commodities. Data was collected using a questionnaire, then analyzed descriptively, marketing costs, marketing benefits, and marketing margins. The results of this study indicate that there are two marketing channels. Marketing channel I partner farmers to vendors to consumers PT. Indofood Fritolay Makmur (IFM). Marketing channels II, non-partner farmers to middlemen, to retailers to end consumers. Vendor marketing costs of IDR 6,711.37/Kg, middleman traders amounted to IDR 7,057.5/Kg, and retailers were IDR 8,702.70/Kg. Vendor profits of Rp 88.6435/Kg, middleman traders, amounting to Rp 942.5/Kg, and retailers Rp 3,297.29/Kg. The marketing margin on partner farmers' marketing channel I is IDR 100/Kg and marketing channel II is non-partner farmers which is IDR 5,000/Kg. Penelitian ini dilakukan di Desa Ngantru Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang ini bertujuan untuk mengetahui pola saluran pemasaran, Suppllay Chain Management, besarnya biaya, keuntungan dan besarnya marjin pemasaran komoditas kentang segar. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis dengan deskriptif, biaya pemasaran, keuntungan pemasaran, dan marjin pemasaran. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat dua saluran pemasaran. Saluran pemasaran I petani mitra ke vendor ke konsumen PT. Indofood Fritolay Makmur (IFM). Saluran pemasaran II petani non mitra ke pedagang tengkulak ke pedagang pengecer ke konsumen akhir. Biaya pemasaran vendor sebesar Rp 6.711,37/Kg, pedagang tengkulak sebesar Rp 7.057,5/Kg, dan pedagang pengecer yaitu sebesar Rp 8.702,70/Kg. Keuntungan vendor sebesar yaitu Rp 88,6435/Kg, pedagang tengkulak yaitu sebesar Rp 942,5/Kg, dan pedagang pengecer sebesar Rp 3.297,29/Kg. Marjin pemasaran pada saluran pemasaran I petani mitra yaitu sebesar Rp 100/Kg dan saluran pemasaran II petani non mitra yaitu sebesar Rp 5.000/Kg.