cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Dinamika Kerajinan dan Batik: MAJALAH ILMIAH
ISSN : 25286196     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Dinamika Kerajinan dan Batik (DKB): Majalah Ilmiah adalah jurnal ilmiah untuk mempublikasikan hasil riset dan inovasi di bidang kerajinan dan batik. Ruang lingkup DKB adalah meliputi aspek bahan baku perekayasaan teknologi, proses produksi, penanganan limbah dan desain kerajinan dan batik. Jurnal ini diperuntukkan bagi para peneliti, akademisi, dan praktisi industri kerajinan dan batik.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 32, No 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik" : 15 Documents clear
Review: Sumber dan Pemanfaatan Zat Warna Alam untuk Keperluan Industri Pujilestari, Titiek
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 32, No 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.479 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.1365

Abstract

ABSTRAKPada umumnya pewarna sintetis memiliki beberapa keunggulan antara lain; jenis warna beragam dengan rentang warna luas, ketersediaan terjamin, cerah, stabil, tidak mudah luntur, tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan, daya mewarnai kuat, mudah diperoleh, murah, ekonomis, dan mudah digunakan. Namun demikian penggunaan pewarna sintetis dapat menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan serta berpengaruh kurang baik terhadap semua bentuk kehidupan. Pewarna alami bersifat tidak beracun, mudah terurai, dan ramah lingkungan. Sumber utama pewarna alami adalah tumbuhan dan mikroorganisme, warna yang dihasilkan beragam seperti; merah, oranye, kuning, biru, dan coklat. Kelompok penting senyawa kimia pewarna alami adalah karotenoid, flavonoid, tetrapirroles, dan xantofil. Pewarna alami dapat digunakan pada industri tekstil, makanan, farmasi, kosmetik, kerajinan dan penyamakan kulit. Peningkatan kepedulian terhadap kesehatan dan lingkungan, menjadikan pewarna alami sebagai pewarna yang dianjurkan, disamping itu produk industri dengan pewarna alami memiliki pasar yang baik. Kata Kunci: pewarna alami, sumber, senyawa kimia, kegunaan ABSTRACTIn general, synthetic dyes have several advantages, among others; a variety of colors with wide color range, availability is assured, bright, stable, not easily fade, resistant to various environmental conditions, strong coloring power, easily available, cheap, economical, and easy to use. However, the use of synthetic dyes can cause health and environmental problems as well as the unfavorable impact of all forms of life. Natural dyes are non-toxic, biodegradable, and environmentally friendly. The main sources of natural dyes are plants and microorganisms, which produced a variety of colors such as; red, orange, yellow, blue, and brown. An important group of chemical compounds of natural dyes are carotenoids, flavonoids, tetrapirroles, and xantophylls. Natural dyes can be used in the textile industry, food, pharmaceutical, cosmetics, handicrafts and leather tanning. Increased concern for health and the environment to make natural dyes for coloring the main alternative to synthetic dyes, in addition to products with natural dyes have a good market. Keywords: natural dyes, source, chemical compounds, usability
Identifikasi Pola Laminasi Tempurung Kelapa Eskak, Edi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 32, No 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.198 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.1366

Abstract

ABSTRAK Pengembangan pola laminasi tempurung kelapa telah banyak dilakukan oleh seniman, desainer, maupun pengrajin. Namun hasil kreasi tersebut tidak terdokumentasi dengan baik sehingga banyak  yang hilang. Pemberian nama pada motif-motif yang dihasilkan pun belum dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan berbagai hasil kreasi pola laminasi tempurung kelapa di Yogyakarta, serta melakukan identifikasi terhadap pola-pola tersebut. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data, observasi mendalam, dan identifikasi terhadap pola-pola yang ada. Hasil dari identifikasi tersebut mendapatkan 17 jenis pola laminasi tempurung kelapa yaitu:  (1) Pecahan, (2) Pecahan Belang, (3) Kotak-Kotak, (4) Kotak Poleng, (5) Nata Bata,  (6) Segitiga, (7) Anyaman, (8) Rajang Anyam, (9) Rajang  Poleng, (10) Rajang Acak, (11) Rajang Pusaran, (12) Rajang Kawung, (13) Rajang Kipas, (14) Rajang Galaran Vertikal, (15) Rajang Galaran Horisontal, (16) Rajang Blarak, dan (17) Kancing. Kata kunci: identifikasi, motif, laminasi, tempurung kelapa ABSTRACTDevelopment of lamination motif on coconut shell has been done by artists, designers, and craftsmen. However, the creation is not well documented so many motifs missing. Giving the name of the resulting motifs had not been done. The purpose of this study was to collect various creation of lamination motif on coconut shell in Yogyakarta, as well as the identification of those motifs. The method used is the collection of data, in-depth observation and identification of existing motifs. The results of this identification are: (1) Pecahan, (2) Pecahan Belang, (3) Kotak-Kotak, (4) Kotak Poleng, (5) Nata Bata,  (6) Segitiga, (7) Anyaman, (8) Rajang Anyam, (9) Rajang  Poleng, (10) Rajang Acak, (11) Rajang Pusaran, (12) Rajang Kawung, (13) Rajang Kipas, (14) Rajang Galaran Vertikal, (15) Rajang Galaran Horisontal, (16) Rajang Blarak, and (17) Kancing.  Keywords: identification, motif, lamination, coconut shell
Kopi dan Kakao dalam Kreasi Motif Batik Khas Jember Wibowo, Anugrah Ariesahad; Satria, Yudi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 32, No 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.322 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.1362

Abstract

ABSTRAK Batik Jember selama ini identik dengan motif daun tembakau. Visualisasi daun tembakau dalam motif Batik Jember cukup lemah, yaitu kurang berkarakter karena motif yang muncul adalah seperti gambar daun pada umumnya. Oleh karena itu perlu diciptakan desain motif batik khas Jember yang sumber inspirasinya digali dari kekayaan alam lainnya dari Jember yang mempunyai bentuk spesifik dan karakteristik sehingga identitas motif bisa didapatkan dengan lebih kuat. Hasil alam khas Jember tersebut adalah kopi dan kakao. Tujuan penciptaan seni ini adalah untuk menghasilkan motif batik  baru yang mempunyai ciri khas Jember. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data, pengamatan mendalam terhadap objek penciptaan, pengkajian sumber inspirasi, pembuatan desain motif, dan perwujudan menjadi batik. Dari penciptaan seni ini berhasil dikreasikan 6 (enam) motif batik yaitu: (1) Motif Uwoh Kopi; (2) Motif Godong Kopi;  (3) Motif Ceplok Kakao; (4) Motif Kakao Raja; (5) Motif Kakao Biru; dan (6) Motif Wiji Mukti. Berdasarkan hasil penilaian “Selera Estetika” diketahui bahwa motif yang paling banyak disukai adalah Motif Uwoh Kopi dan Motif Kakao Raja. Kata kunci: Motif Woh Kopi, Motif Godong Kopi, Motif Ceplok Kakao, Motif Kakao Raja, Motif Kakao Biru, Motif Wiji Mukti ABSTRACTBatik Jember is synonymous with tobacco leaf motif. Tobacco leaf shape is quite weak in the visual appearance characterized as that motif emerges like a picture of leaves in general. Therefore, it is necessary to create a distinctive design motif extracted from other natural resources of Jember that have specific shapes and characteristics that can be obtained as the stronger motif identity. The typical natural resources from Jember are coffee and cocoa. The purpose of the creation of this art is to produce the unique, creative and innovative batik and have specific characteristics of Jember. The method used are data collection, observation of the object, reviewing inspiration sources, design motifs creation and the embodiment of batik. From the creation of this art successfully created into 6 (six) motif, namely: (1) Motif Uwoh Kopi; (2) Motif Godhong Kopi; (3) Motif Ceplok Kakao; (4) Motif Kakao Raja; (5) Motif Kakao Biru; and (6) Motif Wiji Mukti. Based on the results of the “Aesthetics assessment taste" has been noticed that the most widely preferred motif is a Uwoh Kopi motif and Kakao Raja motif. Keywords: Motif Uwoh Kopi, Motif Godong Kopi, Motif Ceplok Kakao, Motif Kakao Raja, Motif Kakao Biru, Motif Wiji Mukti
Ukiran Bali dalam Kreasi Gitar Elektrik Yoga, Wayan Balik Sedana; Eskak, Edi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 32, No 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (918.974 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.1367

Abstract

AbstrakBali kaya akan ragam hias seni ukir, sehingga menginspirasi untuk diterapkan pada pembuatan produk gitar elektrik. Gitar elektrik dipilih karena badan gitar terbuat dari kayu solid, sehingga ornamen lebih mudah diterapkan serta tidak berpengaruh terhadap resonansi nada. Tujuan penciptaan seni ini adalah untuk menerapkan seni ukir Bali pada produk gitar elektrik. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data, pengembangan ide, perancangan ukiran dan perwujudan produk jadi. Tema penciptaan yang diwujudkan menjadi produk yaitu: (1) legenda klasik Bali, (2) keindahan alam Bali, (3) keagamaan di Bali dan (4) serba-serbi Bali. Hasil survei terhadap 100 orang konsumen selama 6 bulan menunjukkan hasil bahwa tema yang disukai: legenda klasik Bali 45%, keindahan alam Bali 25%, serba-serbi Bali 19% dan keagamaan di Bali 11%. Kata kunci: ukiran Bali, gitar elektrik ukirAbstractBali has rich decorative carvings which inspire people to apply them on the manufacture of electric guitars. Electric guitar has been chosen as the research object because of its solid wood body, so that the ornaments are easier to apply and do not affect the resonant tones. The purpose of the creation of this art is to apply the Bali product carving on electric guitar. The method used is data collection, development of ideas, carving design, and the realization of finished products. The creation theme realize into products, namely: (1) Bali classical legend, (2) Bali natural beauty, (3) Religious sites in Bali, and (4) Sundries of Bali. Surveys results of 100 consumers during in 6 months, shows that the preferred themes are: 45% of Bali classical legend, 25% of Bali natural beauty, 19% of Sundries of Bali, and 11% of Bali spiritualism.Keywords:  Balinese carving, electric guitar carving
Kesiapan Teknologi, Kelayakan Ekonomi dan Administrasi IKM Mainan di Yogyakarta Setiawan, Joni; Tontowi, Alva Edy; Sri Asih, Anna Maria
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 32, No 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (904.7 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.1363

Abstract

ABSTRAKMainan anak mempunyai pangsa pasar yang besar, dengan populasi anak usia  sampai 14 tahun sebesar 28,7 % dari proyeksi penduduk Indonesia tahun 2015 mencapai 73,2 juta jiwa. Dalam berbagai penelitian menunjukkan baik mainan lokal maupun impor terdapat hal-hal yang mengancam kesehatan dan keselamatan anak. Sehingga pemerintah menerbitkan Permenperin No 24 Tahun 2013 tentang pemberlakuan wajib SNI Mainan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai profil IKM mainan di Yogyakarta. Penilaian melalui 3 pendekatan yaitu kesiapan teknologi dianalisis menggunakan metode teknometrik, kelayakan ekonomi diperhitungkan dengan analisis benefit to cost ratio dan kesiapan adminsitrasi. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa jumlah  IKM di Yogyakarta yang memenuhi persyaratan ijin industri sebesar 44,4%, persyaratan merek sebesar 22,2% dan kombinasi keduanya sebesar 16,7% dari total IKM. Untuk kesiapan teknologi 16,7% IKM mempunyai TCC kurang dari 0,3 (teknologi tradisional), 77,8% IKM mempunyai TCC antara 0,3 hingga 0,7 (teknologi semi modern) dan 5,5% IKM mempunyai TCC lebih dari 0,7 (teknologi modern). Kelayakan ekonomi persentase IKM yang memenuhi kelayakan ekonomi sebesar 61%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa IKM di DIY siap secara teknologi dan ekonomi, namun belum siap secara administrasi. Kata Kunci: SNI, mainan, IKM, sertifikasi, teknometrik ABSTRACTThe toys have a large market share, with a population of children aged up to 14 years 28.7% of the projected population of Indonesia in 2015 reached 73.2 million people. On various studies indicate both local and imported toys are threatening the health and safety of children. So the government published Permenperin No. 24/2013 concerning the implementation of mandatory Indonesian National Standard (SNI) for Toys. This study aims to assess the readiness of SMIs toys in Yogyakarta. Readiness assessment through three approaches are, readiness of technology using technometric, the calculated economic feasibility analysis of benefit to cost ratio and administration assessed. The results obtained showed that the number of SMIs in Yogyakarta which meet the requirements of industry license by 50 %, brand requirements by 22,2% and the combination of 16.7% of the total SMI. For technology readiness 16.7% of SMIs have TCC less than 0.3 (traditional technologies), 77.8% of SMIs have a TCC between 0.3 to 0.7 (semi modern technology) and 5.5% of SMIs have TCC is more than 0.7 (modern technology). Economic feasibility percentage of SMIs that meet the economic feasibility of 61%. It can be concluded that SMIs in DIY are technologically and economically ready, but not administratively.  Keywords: SNI, toys, SMIs, technometric, sertification
Pemetaan Limbah Kerajinan dan Industri Kecil Menengah Berbasis Eco-Industrial Park Menuju Kawasan Zero Waste di Kabupaten Sukoharjo Saputro, Fery Wisnu; Kusumawanto, Arif; Sri Asih, Anna Maria
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 32, No 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.408 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.1364

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengenai pengelolaan limbah industri kecil menengah di Kabupaten Sukoharjo yang mengintegrasikan antar IKM. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi limbah IKM di Kabupaten Sukoharjo agar dapat meningkatkan kesejahteraan IKM secara ekonomi dan lingkungan dan untuk mengetahui apakah konsep eco-industrial park (EIP) bisa diterapkan pada IKM di Kabupaten Sukoharjo. Hasil dari penelitian ini adalah dengan merancang konsep zero waste dari limbah masing-masing IKM dengan cara mendaur ulang dan/atau menggunakan kembali limbah yang dihasilkan, kemudian memetakan pengelolaan limbah IKM dalam sistem EIP realistis dan EIP menuju ideal sehingga menjadi kawasan industri yang  zero waste. Pemanfaatan limbah IKM dengan konsep sistem EIP realistis mampu memperoleh penghematan sebesar  Rp172.176.360,- per bulan dan peningkatan keuntungan sebesar Rp79.705.000,- per bulan dengan BCR sebesar 2,15. Sedangkan pemanfaatan potensi limbah IKM dengan konsep sistem EIP menuju ideal mampu memperoleh penghematan sebesar  Rp166.447.860,- per bulan dan peningkatan keuntungan sebesar Rp 66.409.100,- per bulan dengan peningkatan investasi sebesar Rp2.289.182.500,- dengan nilai BCR sebesar 1,89. Hasil analisis dampak lingkungan dari sistem EIP realistis dan sistem EIP menuju ideal adalah memiliki dampak positif terhadap lingkungan. Hasil analisis gap menunjukkan bahwa konsep (EIP) bisa diterapkan pada IKM di Kabupaten Sukoharjo.                       Kata kunci: IKM, limbah, EIP, zero waste ABSTRACTThis research is about Small Medium Industry (SMI) waste management which integrate SMIs in Sukoharjo. The aim of this study is to determine the potential of the SMI waste in order to improve the welfare of SMIs in Sukoharjo economically and environmentally, and to determine whether the concept of eco-industrial park (EIP) can be applied to SMIs in Sukoharjo. Results from this research is that with design the concept of zero waste from each IKM waste by recycling and / or reuse of waste produced, then mapping the SMI waste management to realistic EIP system and EIP towards the ideal system thus becoming a zero waste industrial region.  SMIs waste utilization with realistic EIP system capable of obtaining savings of Rp172.176.360, - per month and an increase in profit of Rp79.705.000, - per month with BCR of 2.15. While the concept of EIP towards the ideal system capable of obtaining savings of Rp166.447.860, - per month and an increase in profit of Rp 66.409.100, - per month with an increase in investment of Rp2,289,182,500,- with BCR of 1.89. Results of analysis of the environmental impact of EIP realistic system and EIP towards the ideal system is to have a positive impact to the environment. Results of the analysis gap shows that concept of EIP can be applied to SMIs in Sukoharjo. Keywords: SMI, waste, EIP, zero waste
Preface DKB Vol.32 No.2 Redaksi, Tim
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 32, No 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.559 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.2278

Abstract

Backcover DKB Redaksi, Tim
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 32, No 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.559 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.2241

Abstract

Review: Sumber dan Pemanfaatan Zat Warna Alam untuk Keperluan Industri Pujilestari, Titiek
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 32, No 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.479 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.1365

Abstract

ABSTRAKPada umumnya pewarna sintetis memiliki beberapa keunggulan antara lain; jenis warna beragam dengan rentang warna luas, ketersediaan terjamin, cerah, stabil, tidak mudah luntur, tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan, daya mewarnai kuat, mudah diperoleh, murah, ekonomis, dan mudah digunakan. Namun demikian penggunaan pewarna sintetis dapat menimbulkan masalah kesehatan dan lingkungan serta berpengaruh kurang baik terhadap semua bentuk kehidupan. Pewarna alami bersifat tidak beracun, mudah terurai, dan ramah lingkungan. Sumber utama pewarna alami adalah tumbuhan dan mikroorganisme, warna yang dihasilkan beragam seperti; merah, oranye, kuning, biru, dan coklat. Kelompok penting senyawa kimia pewarna alami adalah karotenoid, flavonoid, tetrapirroles, dan xantofil. Pewarna alami dapat digunakan pada industri tekstil, makanan, farmasi, kosmetik, kerajinan dan penyamakan kulit. Peningkatan kepedulian terhadap kesehatan dan lingkungan, menjadikan pewarna alami sebagai pewarna yang dianjurkan, disamping itu produk industri dengan pewarna alami memiliki pasar yang baik. Kata Kunci: pewarna alami, sumber, senyawa kimia, kegunaan ABSTRACTIn general, synthetic dyes have several advantages, among others; a variety of colors with wide color range, availability is assured, bright, stable, not easily fade, resistant to various environmental conditions, strong coloring power, easily available, cheap, economical, and easy to use. However, the use of synthetic dyes can cause health and environmental problems as well as the unfavorable impact of all forms of life. Natural dyes are non-toxic, biodegradable, and environmentally friendly. The main sources of natural dyes are plants and microorganisms, which produced a variety of colors such as; red, orange, yellow, blue, and brown. An important group of chemical compounds of natural dyes are carotenoids, flavonoids, tetrapirroles, and xantophylls. Natural dyes can be used in the textile industry, food, pharmaceutical, cosmetics, handicrafts and leather tanning. Increased concern for health and the environment to make natural dyes for coloring the main alternative to synthetic dyes, in addition to products with natural dyes have a good market. Keywords: natural dyes, source, chemical compounds, usability
Identifikasi Pola Laminasi Tempurung Kelapa Eskak, Edi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 32, No 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.198 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v32i2.1366

Abstract

ABSTRAK Pengembangan pola laminasi tempurung kelapa telah banyak dilakukan oleh seniman, desainer, maupun pengrajin. Namun hasil kreasi tersebut tidak terdokumentasi dengan baik sehingga banyak  yang hilang. Pemberian nama pada motif-motif yang dihasilkan pun belum dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan berbagai hasil kreasi pola laminasi tempurung kelapa di Yogyakarta, serta melakukan identifikasi terhadap pola-pola tersebut. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data, observasi mendalam, dan identifikasi terhadap pola-pola yang ada. Hasil dari identifikasi tersebut mendapatkan 17 jenis pola laminasi tempurung kelapa yaitu:  (1) Pecahan, (2) Pecahan Belang, (3) Kotak-Kotak, (4) Kotak Poleng, (5) Nata Bata,  (6) Segitiga, (7) Anyaman, (8) Rajang Anyam, (9) Rajang  Poleng, (10) Rajang Acak, (11) Rajang Pusaran, (12) Rajang Kawung, (13) Rajang Kipas, (14) Rajang Galaran Vertikal, (15) Rajang Galaran Horisontal, (16) Rajang Blarak, dan (17) Kancing. Kata kunci: identifikasi, motif, laminasi, tempurung kelapa ABSTRACTDevelopment of lamination motif on coconut shell has been done by artists, designers, and craftsmen. However, the creation is not well documented so many motifs missing. Giving the name of the resulting motifs had not been done. The purpose of this study was to collect various creation of lamination motif on coconut shell in Yogyakarta, as well as the identification of those motifs. The method used is the collection of data, in-depth observation and identification of existing motifs. The results of this identification are: (1) Pecahan, (2) Pecahan Belang, (3) Kotak-Kotak, (4) Kotak Poleng, (5) Nata Bata,  (6) Segitiga, (7) Anyaman, (8) Rajang Anyam, (9) Rajang  Poleng, (10) Rajang Acak, (11) Rajang Pusaran, (12) Rajang Kawung, (13) Rajang Kipas, (14) Rajang Galaran Vertikal, (15) Rajang Galaran Horisontal, (16) Rajang Blarak, and (17) Kancing.  Keywords: identification, motif, lamination, coconut shell

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 36, No 1 (2019) Vol 35, No 1 (2018): Majalah Ilmiah : Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 35, No 2 (2018): Majalah Ilmiah Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 35, No 1 (2018): Majalah Ilmiah : Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 34, No 2 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol 34, No 1 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol 34, No 2 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol 34, No 1 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol 33, No 2 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 33, No 1 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 33, No 2 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 33, No 1 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 32, No 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 32, No 1 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 32, No 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 32, No 1 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 31, No 2 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 31, No 1 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 31, No 2 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 31, No 1 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 30, No 2 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 30, No 1 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 30, No 2 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 30, No 1 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 32, No 2 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 31, No 1 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 32, No 2 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 31, No 1 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 28, No 1 (2011): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 28, No 1 (2011): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 28 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 27, No 1 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 28 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 27, No 1 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 26 (2009): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 26 (2009): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 25 (2008): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 25 (2008): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 24 (2007): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 24 (2007): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 23 (2006): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 23 (2006): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 22 (2005): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 22 (2005): Dinamika Kerajinan dan Batik No 21 (2004): Dinamika Kerajinan dan Batik No 21 (2004): Dinamika Kerajinan dan Batik No 19 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik No 18 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik No 19 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik No 18 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik No 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik No 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik No 10 (1992): Dinamika Kerajinan dan Batik No 10 (1992): Dinamika Kerajinan dan Batik No 9 (1991): Dinamika Kerajinan dan Batik No 9 (1991): Dinamika Kerajinan dan Batik No 8 (1988): Dinamika Kerajinan dan Batik No 8 (1988): Dinamika Kerajinan dan Batik No 7 (1987): Dinamika Kerajinan dan Batik No 7 (1987): Dinamika Kerajinan dan Batik More Issue