cover
Filter by Year
Articles
10
Articles
KARAKTERISTIK FISIKA-KIMIA IKAN BANDENG PRESTO DAN ASAP IRADIASI

Nilatany, Asti ( Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi ) , Lasmawati, Deudeu ( Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi ) , Sudrajat, Adjat ( Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi ) , Indra, Indra Mustika ( Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi ) , Nurhayati, Nurhayati ( Fakultas MIPA-Universitas Islam Negeri, Jakarta )

BETA GAMMA Vol 5, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.688 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai sifat fisika-kimia ikan bandeng presto dan asap setelah penyimpanan 8 bulan pasca iradiasi. Sampel ikan bandeng presto dan asap dipilih dan diiradiasi pada dosis 7,5 kGy. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik fisika-kimia meliputi aktivitas air, kadar air, Total Volatile Base Nitrogen (TVBN), kadar asam amino dan deteksi radikal bebas. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa iradiasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap beberapa karakteristika fisika-kimia yang diuji yaitu aktivitas air dan kadar air yang hanya berbeda angka desimal tetapi berpengaruh nyata terhadap nilai TVBN pada bandeng presto yaitu masing-masing 2,26 % (0 kGy) 2,01% ( 7,5 kGy) dan untuk bandeng asap: 3,02 %(0 kGy); 1,76 % (7,5 kGy). Iradiasi mempengaruhi kadar asam amino pada kedua jenis ikan bandeng antara sampel yang tidak diiradiasi dengan sampel yang diiradiasi sedangkan radikal bebas jumlahnya akan turun dengan meningkatnya lama waktu penyimpanan.Kata kunci : Iradiasi, bandeng presto, bandeng asap, sifat fisika-kimia

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT JABATAN FUNGSIONAL PENELITI DENGAN PENGGUNAAN BAHAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI BAHAN RUJUKAN

Noer’Aida, Noer’Aida ( Pusat Pendayagunaan Informatika dan Kawasan Strategis Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional, Kawasan PUSPIPTEK Serpong )

BETA GAMMA Vol 5, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.206 KB)

Abstract

Tujuan dari kajian ini untuk mengetahui hubungan antara jenjang jabatan fungsional peneliti dengan penggunaan bahan perpustakaan (literatur) yang digunakan sebagai bahan rujukan. Analisis data dilakukan terhadap jenis, usia dan bahasa literatur. Bahan yang digunakan adalah artikel yang diterbitkan pada jurnal dan prosiding terbitan Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN). Jumlah sampel sebagai data primer adalah daftar pustaka pada artikel yang ditulis oleh peneliti PTKRN dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2012 sebanyak 87 artikel dan 810 judul rujukan / sitiran. Data peneliti diperoleh melalui Sitem Informasi Kepegawaian BATAN. Hasil uji statistik dengan Chi Kuadrat diperoleh terdapat hubungan yang nyata antara jenjang peneliti dengan jenis bahan literatur yang ditunjukkan oleh nilai X2 hitung lebih besar dari nilai X2 tabel [21,026] yaitu 42,12 > 21,026 dengan derajat kontingensi C = 0,222. Hubungan yang nyata antara jenjang peneliti dengan usia literatur yang digunakan sebagai bahan rujukan dengan Nilai X2 hitung lebih besar dari nilai X2 tabel [21,026] 23,382 > 21,026 dengan derajat kontingensi C = 0.167. Hubungan antara jenjang peneliti dengan bahasa bahan literatur adalah tidak nyata yang ditunjukkan oleh nilai X2 hitung lebih kecil dari nilai X2 tabel [7,81472] yaitu 3,328 < 7,81472 dengan derajat kontingensi C = 0.063.Kata kunci: jenjang peneliti, bahan perpustakaan, chi kuadrat, usia literatur, analisis sitasi

PERBANDINGAN METODE PENGERINGAN TERHADAP RESORBSI AMNION DALAM LARUTAN SIMULATED BODY FLUID (SBF)

Suryani, Nani ( Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi - BATAN )

BETA GAMMA Vol 4, No 2 (2013): Agustus 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.978 KB)

Abstract

Telah dilakukan percobaan resorbsi membran amnion kering udara(air dried) dan amnion liofilsasi di dalam larutan SBF. Sembilan (9) lembar membran amnion liofilisasi dan amnion kering udara steril berukuran 3 x 3 cm, masing-masing dimasukan dalam sembilan buah botol yang berisi 25 ml larutan SBF dengan pH 7.40.Sampel di inkubasi pada suhu 37O C selama 1 minggu. Setelah hari ke tujuh membran amnion yang tersisa dicuci dengan aquadest steril,lalu dikeringkan dalam oven suhu 600C selama 24 jam, kemudian ditimbang beratnya. Percobaan ini dilakukan sampai didapatkan bobot tetap. Hasil menunjukkan bahwa amnion liofilisasi dapat diresorbsi lebih cepat dibandingkan dengan amnion kering. ABSTRACTCOMPARATION OF DRYING METHOD ON THE AMNION RESORPTION IN THE SBF SOLUTION. Resorption experiment of air dried and lyophilization amnion in the SBF have been done. Nine pieces of irradiation sterilized air dried and lyophilized amnion membranes (3 x 3 cm2), were soaked into 9 glass bottles containing 25 ml of SBF solution (pH 7.40), respectively. The samples were incubated at 370C for 1 week. After the seventh day, the remaining of amnion in the bottles were washed with distilled water and dried in an oven at 600C for 24 hours, and weighed.The experiments were conducted up to constant weight. The results showed that the lyophilization amnion can be resorbed more quikly than that dried amnion.

STUDI KANDUNGAN DAN TEMPERATUR GAS PANAS BUMI KAMOJANG DENGAN DIAGRAM GRID

Laksminingpuri, Neneng ( Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi - BATAN ) , Martinus, Agus ( Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi - BATAN )

BETA GAMMA Vol 4, No 2 (2013): Agustus 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.174 KB)

Abstract

Telah dilakukan studi kandungan dan temperatur gas panas bumi Kamojang menggunakan diagram grid. Gas dalam panas bumi ada yang dapat larut (condensable gas) dan tidak dapat larut (non condensable gas) dalam NaOH. Gas-gas yang dapat larut seperti CO2 dan H2S dianalisis dengan metode titrasi, sedangkan gas-gas yang tidak dapat larut seperti He, H2, N2, O2, Ar dan CH4 dianalisis dengan metode kromatografi gas. Hasil analisis gas menunjukkan bahwa gas yang dominan pada lapangan panas bumi Kamojang adalah gas CO2 dan H2S. Selanjutnya hasil analisis gas tersebut dapat diaplikasikan untuk penentuan temperatur reservoir panas bumi (geothermometer gas) dengan menggunakan diagram grid, hasil perhitungan temperatur menunjukkan bahwa temperatur reservoir panasbumi Kamojang mendekati temperatur pada sistem dominasi uap yaitu sekitar 177- 253,4 oC dan secara statistik tidak ada beda signifikan antara temperatur perhitungan dan temperatur faktual.Kata kunci : panas bumi, temperatur, reservoir, kromatografi gas A BSTRACTSTUDY OF GAS CONTENT AND TEMPERATURE KAMOJANG GEOTHERMAL USING GRID DIAGRAM. Study of gas content and temperature Kamojang geothermal using grid diagram was carried out. Gas in geothermal which is condensable and non condensable in NaOH. Condensable gases like CO2 and H2S analyzed by titration method, meanwhile non condensable gases like He, H2, N2, O2, Ar and CH4 analyzed by gas chromatography method. The result shows that the dominant gases in Kamojang geothermal fields are CO2 and H2S. Furthermore the result of gas analysis can be applied for temperature reservoir geothermal measuring (gas geothermometer) by using grid diagram, the result shows that reservoir temperature Kamojang geothermal close to the temperature at vapour and liquid system that is around 177- 253,4 oC.and statistically there is no significant different between calculation temperature and factual temperature.Key words : geothermal, temperature, reservoir, gas chromatography 

PEMERIKSAAN KUALITAS BOOM FOOT MENGGUNAKAN TEKNIK UJI TAK RUSAK

Sianta, Namad ( Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi - BATAN ) , Soembogo, Djoli ( Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi - BATAN ) , Hardjawidjaja, Raden Hardjawidjaja ( Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi - BATAN )

BETA GAMMA Vol 4, No 2 (2013): Agustus 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.699 KB)

Abstract

Telah dilakukan pemeriksaan komponen ekskavator Boom Foot menggunakan salah satu teknik teknik Uji Tak Rusak yaitu teknik Radiografi. Fabrikasi komponen Boom foot merupakan hasil pengecoran logam dengan proses sand casting dan ketebalannya bervariasi dari 25 sampai dengan 58 mm. Pengujian dilakukan dengan teknik Single Wall dan Double Wall terhadap 27 titik pemeriksaan dengan variasi waktu penyinaran dari 1.5 sampai dengan 20 menit berdasarkan variasi jarak sumber ke film 600 s/d 1200 mm. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya sejumlah cacat yang bervariasi yaitu porositas, slag inclusion dan linear shrinkage. Evaluasi keberterimaan cacat dilakukan dengan mengacu kepada standar JIS (Japanese Industrial Standard (JIS), cacat yang ada dalam boom foot tidak dapat diterima, dan proses pengecoran logam harus diperbaiki.Kata Kunci : Boom Foot ABSTRACTQUALITY CONTROL OF BOOM FOOT USING NON DESTRUCTIVE TESTING. Control quality was carried out to inspect the excaveter component of boom foot using one of the techniques of Non Destructive Testing (NDT), which was Radiography. The fabricated component of boom foot is the result of metal casting by using sand casting process with different thickness with a variation from 25 to 58 mm. The inspection was conducted with a single wall and double wall at 27 inspection points using radiation time between 1,5 to 20 minutes based on distance varied between 600 to 1200 mm. The result showed there are some damaged variation in porosity, slag inclusion and linier shrinkage. The evaluation of damaged was based an JIS (Japanese Industrial Standard). Based on JIS the boom foot was regated, and the casting process has to be connected.Key words : Boom Foot

PENGARUH RADIASI GAMMA TERHADAP PERUBAHAN MORFOLOGI PERTUMBUHAN STEK TANAMAN KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosa-sinensis)

Dewi, Azri Kusuma ( Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi - BATAN ) , Dwimahyani, Ita Dwimahyani ( Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi - BATAN )

BETA GAMMA Vol 4, No 2 (2013): Agustus 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.102 KB)

Abstract

Untuk mempelajari pengaruh iradiasi gamma terhadap morfologi dari Hibiscus rosa-sinensis, maka setek batang tanaman kembang sepatu di iradiasi dengan beberapa dosis sinar gamma. Pada awalnya dilakukan radiasi dengan dosis 10 Gy-40 Gy, namun hasil pengamatan satu bulan tanam menunjukkan persentase tanaman yang mati dan kerdil sangat tinggi pada kisaran dosis radiasi ini. Oleh sebab itu dengan menggunakan bahan setek yang baru radiasi dilakukan kembali dengan dosis lebih rendah yaitu 10 Gy; 12,5 Gy; 15 Gy; 17,5 Gy dan 20 Gy. Pengamatan dilakukan pada tiga dan enam bulan penanaman. Hasil dari percobaan menunjukkan bahwa jumlah tanaman yang mati dan tumbuh kerdil tidak sebanyak pada percobaan awal. Beberapa perubahan morfologi juga diamati antara lain bentuk dan warna bunga yang menjadi kuning keputihan, bentuk daun bergelombang dan uneven lamina serta tanaman dengan morfologi lebih pendek dan internode rapat dibandingkan dengan kontrol dan perubahan tersebut ditemui pada dosis radiasi 12,5 Gy, 17,5 Gy dan 20 Gy.Kata kunci ; radiasi gamma, morfologi, Hibiscus rosa sinensis ABSTRACTTHE EFFECT OF GAMMA IRRADIATION ON MORPHOLOGY CHANGE OF Hibiscus rosa-sinensis CUTTING STEM. The aim of this research was to study the effect of gamma irradiation on morphology of Hibiscus rosa-sinensis. The cutting stems of Hibiscus were irradiated by several doses of gamma rays. At the first experiment the irradiation doses were 10, 20, 30 and 40 Gy. The result showed that the percentages of death and dwarf plants were too high in this experiment, therefore the second experiment was conducted using lower doses of 10 Gy, 12,5 Gy, 15 Gy, 17,5 Gy and 20 Gy. The observations were conducted at three and six month after planting. In the second irradiation showed that the numbers of death and dwarf plants was lower than in the first experiment. Some morphology changes were also observed such as color and type of flowers, type of leaves, and plant height. The yellow-whiteness, uneven lamina and wave leaves were also found at doses of 12,5 Gy, 17,5 Gy and 20 Gy.Key words; gamma irradiation, morphology, Hibiscus rosa sinensis

PENGARUH IRADIASI TERHADAP AKTIVITAS ANTIBAKTERI PATOGEN EKSTRAK ETANOL SIMPLISIA JAHE MERAH

Almaida, Almaida ( Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi-BATAN. )

BETA GAMMA Vol 4, No 2 (2013): Agustus 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.572 KB)

Abstract

Penelitian untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak jahe merah yang diiradiasi sinar gamma telah dilakukan. Bakteri yang digunakan adalah Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Salmonella typhi dan Pseudomonas aeroginosa. Ekstrak jahe merah diiradiasi dengan dosis 0, 5, dan 10 kGy. Konsentrasi zat uji ekstrak jahe merah adalah 15, 20 dan 25% (b/v). Pengujian antibakteri menggunkan metode difusi dengan kertas cakram dengan antibiotik kloramfenikol sebagai pembanding. Aktivitas antibakteri dinyatakan dengan terdapatnya zona hambat disekeliling kertas cakram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri ekstrak jahe merah pada konsentrasi 15 – 25% hanya terjadi pada bakteri S. Aureus. Penggunaan iradiasi gamma untuk pasteurisasi jahe merah tidak mempengaruhi aktivitas antibakteri kecuali pada S. aureus.Kata kunci : Iradiasi, ekstrak jahe merah, antibakteri. ABSTRACTTHE EFFECT OF IRRADIATION ON ANTIBACTERIAL ACTIVITIES OF RED GINGER ETHANOLIC EXTRACT. Study to determine the effect of red ginger extract irradiation on anti-bacterial activities has been done. Bacteria used in this study were Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Salmonella typhi and Pseudomonas aeroginosa. Red ginger extract has irradiated by gamma rays at doses of 0, 5 and 10 kGy and diluted in ethanol to made concentration of 15, 20, and 25 % (w/v). Antibacterial test used disc paper with chloramphenycol as comparison antibiotic. The results showed that concentrations of red ginger extract from 15 to 25 % only occurred on S. aureus. Based on the results, the irradiation of ginger extract did not affect the antibacterial activity for all bacteria except S. aureus.Key words : Irradiation, red ginger extract, antibacterial

RADIOGRAFI PADA LAS MANHOLE BEJANA TEKAN

Soembogo, Djoli ( Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi-BATAN )

BETA GAMMA Vol 5, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.545 KB)

Abstract

Manhole bejana tekan adalah lobang yang digunakan oleh pekerja untuk masuk dan keluar dari bejana tekan. Manhole dan bejana tekan disambungkan oleh las. Telah dilakukan radiografi pada sambungan las Manhole dengan ketebalan 83 mm, menggunakan sumber radiasi Co-60 beraktivitas 26,0 Ci dan film AGFA D7 sebagai perekam gambar. Berdasarkan perhitungan menggunakan kurva paparan untuk film AGFA D7, didapat waktu paparan (exposure) untuk las Manhole adalah 23 menit dengan jarak sumber ke film 25 inci, metode Single Wall Single Image. Dari hasil pengujian film radiografi diperoleh densitas dalam rentang 2,5 – 4, sensitivitas film = 1.538% -1.923%, dan kualitas las pada sambungan las Manhole dapat diterima, sesuai dengan standar yang diacu.

TEKNIK SAMPLING GAS PANAS BUMI DI SUMBER MATA AIR PANAS

Laksminingpuri, Neneng ( Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi )

BETA GAMMA Vol 5, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.521 KB)

Abstract

Telah dilakukan sampling gas panas bumi di sumber mata air panas menggunakan alat corong stainless steel yang telah dimodifikasi berdasarkan metode Giggenbach. Modifikasi corong dilakukan agar dapat melakukan sampling pada lokasi mata air panas yang mempunyai diameter yang cukup lebar, sehingga gelembung gas yang keluar dari dasar mata air dapat ditampung pada botol sampel. Selanjutnya gas dianalisis dengan menggunakan dua metode, untuk gas dapat larut (condensable gas) seperti CO2 dan H2S dianalisis dengan metode titrasi, sedangkan gas tidak larut (non condensable gas) seperti He, H2, N2, O2, Ar dan CH4 dianalisis dengan metode kromatografi gas. Hasil menunjukkan bahwa teknik sampling menggunakan corong stainless steel menghasilkan gas yang dapat diukur dengan baik.Kata kunci : panas bumi, corong stainless steel, titrasi, kromatografi gas

PENGELOLAAN DAN KARAKTERISASI LIMBAH B3 DI PAIR BERDASARKAN POTENSI BAHAYA

Anggarini, Niken Hayudanti ( Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi ) , Stefanus, Megi ( Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi ) , Prihatiningsih, Prihatiningsih

BETA GAMMA Vol 5, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.102 KB)

Abstract

Telah dilakukan pengelompokan dan penyimpanan limbah B3 berdasarkan sifat fisik, kimia dan berdasarkan potensi bahaya untuk tujuan keamanan dan keselamatan di Gudang Penyimpanan Sementara Limbah B3 pada tahun 2014. Dari hasil pendataan limbah B3 yang paling dominan adalah limbah cair organik mencapai 61 % kemudian diikuti limbah cair anorganik 33 % sedangkan sisanya sebesar 6 % merupakan limbah padat organik dan limbah padat anorganik. Jika dilihat dari potensi bahayanya, limbah cair yang mudah terbakar mempunyai persentase volume paling besar yaitu 47 % dan diikuti limbah cair korosif sebesar 26 %, sedangkan limbah cair yang belum teridentifikasi jumlahnya cukup besar, yaitu 9 %. Dengan melihat dari potensi bahaya tertinggi, Gudang Penyimpanan Limbah B3 di Bidang KKL diharuskan memiliki sirkulasi udara yang baik dan rak penyimpanan limbah yang terhindar dari panas matahari langsung.Kata kunci : limbah B3, karakteristik limbah B3