cover
Filter by Year
Jurnal Kualitas Lingkungan Hidup
ISSN : -     EISSN : -
Articles
168
Articles
KEBERADAAN PENCEMAR ORGANIK PERSISTEN (POPs) DI LINGKUNGAN

Ratnaningsih, Dewi, Widayati, Nety, Prajanti, Arum, Puspita, Heni, Sofyan, Yunesfy

Jurnal Ecolab Vol 1, No 1 (2007): Ecolab : Jurnal Pemantauan Kualitas Lingkungan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (754.174 KB)

Abstract

Persistent Organic Pollutants (POPs) are organic compounds that have been banned or prohibited for all purposes. Prohibiting of those compounds did not guarantee that those chemicals will not found in the environment. It’s related to the persistency properties of POPs. In order to investigate the exixstent of POPs in the environment, PUSARPEDAL_KLH and The United Nation University (UNU) Japan has been cooperated to carry out environmental monitoring on POPs. River located in urban are with dense population has been selected as target location. Samples were collected for river water, river sediment and river bank soil. Besides river in urban area, agrigultural area and location has tendency used to be aplicated with high frequency of POPs were also investigated. Related to the POPs management, Indonesia has signed Stockholm Convension. Environmental monitoring on POPs was a kind of effort to support POPs management. All of POP compounds (Endrin, Dieldrin, Aldrin, HCB, Heptachlor, Chlordane, Mirex, DDT and its derivates including pp-DDT, op-DDT, ppDDD, ppDDE) except for toxaphene, PCB, Dioksin and Furan were analyzed as target compounds by using GCMS QP 2010. Monitoring result indicated that river located in urban area has more variative of POPs compared with agricultural area, with concentration range of 0.002 – 3.24 ppb in river water; 0.24-165 ppb in river sediment ; and 0.34 – 154 ppb in river bank soil. In Agricultural area, only DDT and its derivated were detected with higher concentration than in urban area ( 3.91 ppb in water, 713 ppb in sedimen and 1282 ppb in soil) Concentration of POPs detected in water was lower than in sediment or soil sample because of its lipophililicity property. Possibility illegal using of POPs can not be ignored, therefore monitoring of POPs in the environment and surveillance to the illegal using of POPs is neccessary to be executed. Increasing public awareness by education and campaign need to be done in order to minimize negative impact of POPs to the human being.

PENGHEMATAN AIR DAN PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA PADA PERLAKUAN ALTERNATE WETTING AND DRYING DI LAHAN SAWAH

Pramono, Ali, jumari, Jumari, Adriany, Terry Ayu

Jurnal Ecolab Vol 12, No 1 (2018): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (919.278 KB)

Abstract

Perubahan iklim dan kelangkaan sumberdaya air irigasi merupakan ancaman keberlanjutan sistem produksi pertanian. Salah satu penyebab perubahan iklim adalah peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. Budidaya padi di lahan sawah merupakan salah satu sumber emisi GRK, terutama metana (CH4) yang pada saat ini meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan pada era pra industri. Untuk itu, diperlukan strategi mitigasi GRK tanpa mengorbankan hasil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan alternate wetting and drying (AWD) terhadap penghematan air, GRK dan hasil padi. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian di Pati, Jawa Tengah pada tahun 2014-2015. Perlakuan disusun dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Perlakuannya adalah sebagai berikut 1) Pengairan tergenang secara terus menerus (continuous flooding/ CF), 2) Safe-Alternate Wetting and Drying (AWD-15 cm), 3) Site Specific-Alternate Wetting and Drying (AWD-25 cm). Varietas padi yang digunakan adalah Cisadane dan plot percobaan berukuran 5 m x 7 m yang dilapisi dengan plastik sedalam 40 cm untuk mengurangi rembesan ke samping. Tanah di lokasi penelitian berjenis Aeric Endoaquepts dengan kandungan hara relatif yang rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan AWD dapat menghemat air irigasi dan menurunkan emisi gas rumah kaca tanpa mengurangi hasil padi di lahan sawah. AWD-15 cm dan AWD-25 cm masing-masing dapat menghemat air irigasi sebesar 23 % dan 27 % dibandingkan kondisi tergenang. Perlakuan AWD-15 cm dan AWD-25 cm secara signifikan menurunkan nilai global warming potential (GWP) dibandingkan dengan perlakuan tergenang. Perlakuan AWD-15 cm dan AWD-25 cm menurunkan emisi GRK masing-masing sebesar 33 % dan 41 % dibandingkan kondisi tergenang tanpa kehilangan hasil yang signifikan. Hasil gabah kering giling (GKG) tertinggi diperoleh dengan perlakuan AWD-15 cm yaitu sebesar 5,90 ton ha-1 dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan tergenang dan AWD-25 cm. Teknik AWD-15cm merupakan salah satu opsi penurunan emisi GRK dari lahan sawah untuk mendukung pertanian yang ramah lingkungan.

KONSENTRASI KADMIUM (CD) DALAM GABAH PADI DAN TANAH SAWAH TADAH HUJAN AKIBAT PEMBERIAN PUPUK SECARA RUTIN

Wihardjaka, Andreas, Harsanti, ES.

Jurnal Ecolab Vol 12, No 1 (2018): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.358 KB)

Abstract

Kadmium (Cd) merupakan salah satu logam berat yang berbahaya bagi manusia sehingga keberadaannya dalam tanah pertanian baik jumlah dan sifat-sifatnya perlu diketahui untuk upaya pengendaliannya. Pupuk merupakan salah satu sumber kontaminan cadmium (Cd) dari sektor pertanian. Kegiatan pertanian seperti pemberian pupuk anorganik dan organik secara terus menerus meningkatkan kandungan kontaminan dalam tanah, antara lain logam berat Cd. Percobaan lapangan dilaksanakan di lahan sawah tadah hujan di Kabupaten Pati selama musim tanam 2013-2014 pada pertanaman padi walik jerami (MK 2013) dan padi gogorancah (MH 2013/2014). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemupukan terus menerus terhadap logam berat Cd dalam tanah dan gabah tanaman padi. Percobaan disusun dengan rancangan acak kelompok dengan enam ulangan dan enam perlakuan. Data yang dikumpulkan meliputi hasil gabah, kandungan Cd dalam tanah, konsentrasi Cd dalam gabah, dan serapan Cd dalam gabah. Hasil gabah tertinggi diperoleh pada perlakuan pupuk kandang+NP (padi gogorancah) dan jerami padi+NPK (padi walik jerami). Kandungan Cd dalam tanah di lapisan tanah 20-40 cm lebih tinggi daripada di lapisan tanah 0-20 cm. Konsentrasi Cd dalam gabah padi terendah ditemukan pada perlakuan pupuk kandang+NPK (musim pertama)  jerami padi+NP (musim berikutnya).

PENGARUH PENGGUNAAN HEWAN UJI YANG SAMA SECARA BERULANG PADA PENGUJIAN KOROSI DERMAL

Lestari, Retno Puji, Andriantoro, Andriantoro

Jurnal Ecolab Vol 12, No 1 (2018): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.177 KB)

Abstract

One of the procedures to determine the hazardous and toxic material waste is by conducting the corrosive testing. The testing of waste toxicity by acute dermal method is applied to recognize the adverse effects that occur after exposing the waste by direct contact. It will be indicated by corrosive or irritated effects, either topically or locally. Dermal corrosion testing is conducted under OECD Guideline no 404 using rabbit. Unknown waste sample and detergent as positive control were exposed to the shaved-dorsal part of rabbit with the area of 2.5 x 2.5 cm. Observation was performed  to recognize the symptom of oedema and erythema as a result of sample’s reaction with skin and was being evaluated after 4, 24, 48, and 72 hours. In this study, dermal corrosion testing was performed using the same test animal due to animal welfare issues about reducing animal in toxicology study. The visual scoring result showed that waste sample did not generate the corrosive effect on animal test. The experiment using detergent sample are intended to obtain some information after the assessment of corrosive level. The testing with the same animal was carried out after 30 days later. The first test presented the category 3, mild irritant, with the average score for erythema/edema of 2,1, while the second testing showed category 4, non irritant. Thus, using same individual testing animal on repeated dermal corrosion testing showed the effect of resistance to detergent samples and the animal provided a less-sensitive respond for the same sample. 

PENERAPAN KONSEP EDU-EKOWISATA SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS LINGKUNGAN

Sutisno, Aliet Noorhayati, Afendi, Arief Hidayat

Jurnal Ecolab Vol 12, No 1 (2018): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.55 KB)

Abstract

Lokasi wisata Gronggong desa Patapan Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon merupakan kawasan dengan potensi wisata cukup tinggi. Diminati sejak tahun 90an Lokasi gronggong selalu menjadi alternatif bagi pengunjung yang hendak berhibur sebatas melepas lelah dari aktifitas kerja sepekan. Hanya dengan menikmati indahnya pemandangan malam kota Cirebon serta jagung bakar di pinggiran jalan tepat dipuncak tikungan jalan perbukitan Gronggong. Sangat sederhana, namun jelas di sana para pengunjung mendapatkan hiburan.Konsep Edu-ekowisata merupakan bentuk pendidikan berbasis wisata. Melalui penelitian kualitatif yaitu penelitian yang mengkaji perspektif partisipan dengan strategi-strategi yang bersifat interaktif dan fleksibelity. Sehingga analisis deskripsi mampu melihat bahwa pengembangan pola edu-ekowisata di kawasan Gronggong dalam pendidikan karakter berbasis lingkungan diyakini memiliki peran yang sangat strategis dalam meningkatkan taraf pendidikan warga, membantu membuka cakrawala warga terkait filsafat alam, filsafat budaya. Melalui alternatif wisata pendidikan lingkungan hidup di kawasan ini niscaya mengurangi tekanan masyarakat terhadap hutan. Pola edu-ekowisata disini memunculkan hiburan berbasis pendidikan. Aktifitas yang meng-explore antara perasaan senang peserta didik dengan daya kritis dan rasa tanggung jawab peserta didik. Belajar sambil berwisata, perlu kiranya kita wujudkan bersama. Semata-mata usaha mensinergiskan antara pendidikan lingkungan hidup dan pariwisata dalam hal ini.

REKOMENDASI LABORATORIUM LINGKUNGAN

Hadi, Anwar

Jurnal Ecolab Vol 1, No 1 (2007): Ecolab : Jurnal Pemantauan Kualitas Lingkungan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.505 KB)

Abstract

Environmental laboratory is the laboratory that has the capability and authority to analyze environmental samples especially chemistry/physic/biology to support environmental management according to environmental laws. Based on the definition, environmental laboratory must be accredited according to ISO/IEC 17025 to generate accurate, continuous, and reliable environmental quality data which are defensible in terms of environmental regulations and scientific knowledge. However, compliance with regulatory and safety requirements on the operation of laboratory including laboratory waste management, environmental sampling, and quality control and assurance (QC/QA) for environmental laboratory are not covered by the International Standard. So, environmental laboratory must comply with the supplement requirement of Bapedal Decree No. 113: 2000 regarding to general guidance and technical for environmental laboratory. Until middle of 2007, PUSARPEDAL – KLH recommended 24 environmental laboratories and 8 laboratories still in progress for technically assessment.

PEMANTAUAN TIMBEL (Pb) DI DAERAH, SERPONG, PUSPIPTEK DAN SEKITARNYA

Syafrul, Halimah, Hamonangan, Esrom, Lestari, Retno Puji, Rachmawati, Emalya, Mulyaningsih, Lia

Jurnal Ecolab Vol 1, No 1 (2007): Ecolab : Jurnal Pemantauan Kualitas Lingkungan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.193 KB)

Abstract

Pusarpedal-KLH monitored Lead (Pb) concentration in Serpong area from 2001 – 2004. The result was around 0.5-6 μg/m3 and average was 2.51 μg/m3 exceeded national ambient air quality standard (PP 41/1999), for 24 hour that is 2μg/m3 and also for annual that is 1 μg/m3. The present condition of the high concentration of Pb in Serpong area was verified by the conducted measurement at 10 (ten) sampling points at around Puspiptek area, kec. Serpong, Kec.Pagedangan Kec Pamulang, dan Kec. Gunung Sindur on January to February 2006. The result obtained was exceeded national ambient air standard at SD Setu Muncul (Pb concentration: 6.03 μg/m3), Batan Indah (Pb concentration: 3.79 μg/m3) and BSD Griya Loka (Pb concentration: 2.1 μg/m3). The Pb concentration in elementary school children blood was also monitored in Serpong and its surroundings. As result, Pb concentration in elementary school children blood Serpong elementary school children blood was ranged from 7-12 μg/dl, with average concentration; SDN Setu 01 = 12.0μg/dl, SDN Puspiptek = 9.5 μg/dl), SDN Kademangan = 7.1 μg/dl, and SDN Batan = 7.5 μg/dl. The Pb concentration in elementary school children blood in Jakarta area was ranged from 2.1 - 6.1 μg/dl. Standard specified by Center for Disease Control and Prevention (CDCP)-USA is: 10 μg/dl. The evaluations of meteorological data and emission source have been conducted, in order to understand the air pollution situation in Serpong area. Frequency distribution of wind speed and wind direction was calculated and conclude that 50-60% was calm condition, and the emission sources at Serpong and its surroundings in radius 30 s/d 40 km.

PERHITUNGAN INDEKS KUALITAS UDARA DKI JAKARTA MENGGUNAKAN BERBAGAI BAKU MUTU

Mukhtar, Rita, Aprishanty, Rina, Fauzy, Ridwan

Jurnal Ecolab Vol 12, No 1 (2018): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1035.439 KB)

Abstract

Rumus Indeks Kualitas Udara (IKU) untuk Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) perlu diuji cobakan menggunakan data primer atau sekunder yang valid dengan jumlah yang memenuhi persyaratan data yang dibutuhkan. Agar hasil perhitungan dapat mencerminkan kondisi kualitas udara yang representatif sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan; maka  data hasil pemantauan kualitas udara kontinyu dan otomatis di 5 (lima) stasiun AQMS di DKI Jakarta dapat digunakan, sebagai tahap awal ujicoba rumus IKU.  Parameter yang digunakan pada rumus IKU dipilih berdasarkan pada landasan hukum yang masih berlaku di Indonesia yaitu PP41/1999 tentang pengendalian pencemaran udara, PermenLH no.12/2010 tentang Pelaksanaan Pengendalian Pencemaran Udara di Daerah, dan KepMenLH No.45/1997 serta Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor: Kep-107/Kabapedal/11/1997 yang keduanya tentang Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).  Mengacu kepada peraturan tersebut, dipilih 5 (lima) parameter kunci pencemar udara yaitu: CO, SO2, NO2, PM10, dan O3 yang akan digunakan pada rumus IKU.   Dari hasil uji coba perhitungan IKU diperoleh hasil IKU dari 5 stasiun di Jakarta untuk tahun 2017 pada angka 58 dengan kriteria “kurang”. 

PENGUKURAN SENYAWA POLYBROMINATED DIPHENYL ETHERS (PBDEs) DI UDARA AMBIEN MENGGUNAKAN POLYURETHANE FOAM-DISK (PUF-DISK)

Ratnaningsih, Dewi, Lestari, Retno Puji, Prajanti, Arum

Jurnal Ecolab Vol 11, No 2 (2017): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.099 KB)

Abstract

Polybrominated diphenyl ether (PBDE) merupakan unsur pembentuk material tahan api. PBDE berpotensi menimbulkan efek negatif terhadap mahluk hidup akibat memiliki sifat persisten, toksisitas, dan bioakumulatif. Pengukuran PBDEs dilakukan dengan pengambilan sampel menggunakan passive air sampler (PAS) dengan memasang Polyurethane foam-disk (PUF-disk) yang dipaparkan selama 58 hari dan 56 hari yang ditempatkan di dua lokasi yang mewakili  daerah perkotaan (Casablanca-Jakarta) dan daerah pedesaan (Citeko-Bogor). Analisis  hasil ekstraksi PUF menggunakan gas chromatography-mass spectrometry (GCMS) untuk menentukan sembilan kongener PBDEs yang terdiri dari BDE-17, -28, -47, -66, -99, -100, -153, -154, dan -183. Hasil menunjukkan semua jenis kongener PBDE terdeteksi di Jakarta, sedangkan di Bogor hanya terdeteksi tujuh jenis.  Konsentrasi PBDE terdeteksi pada kisaran nilai 0,13–4,12 pg/m3 di Jakarta, sedangkan di Bogor berada pada kisaran 0–2,59 pg/m3.  Kadar tertinggi ditemukan untuk BDE-47 di kedua wilayah. PBDE terendah ditemukan untuk BDE-153 di perkotaan sedangkan BDE-153 dan BDE-183 tidak terdeteksi di wilayah pedesaan. Total konsentrasi 9 PBDEs (∑PBDEs) yang terdeteksi di udara ambien di kawasan Casablanca Jakarta sebesar 9,77 pg/m3 dan di Citeko Bogor sebesar 5,71 pg/m3.  

VALIDASI METODE KALIBRASI GAS ANALYZER UNTUK PENGUKURAN O2, CO, NO, NO2, SO2, CH4, DAN H2S SECARA PERBANDINGAN LANGSUNG DENGAN CERITIFIED SPAN GAS

Hadi, Anwar, Subarja, Jaja Ahmad, Firdaus, Idris

Jurnal Ecolab Vol 11, No 2 (2017): Jurnal Ecolab
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1112.755 KB)

Abstract

Salah satu persyaratan validasi data pengukuran gas adalah dilakukan oleh personel yang kompeten dengan menggunakan gas analyzer yang terkalibrasi dan pengunaan metode tervalidasi. Validasi metode pengukuran gas dengan peralatan gas analyzer dilakukan secara perbandingan langsung dengan certified span gas (CSG) yang tertelusur ke sistem satuan internasional melalui rantai perbandingan yang tidak terputus. Tujuan validasi metode kalibrasi adalah untuk mendapatkan informasi penting dalam menilai kemampuan serta keterbatasan metode kalibrasi. Validasi metode kalibrasi gas analyzer O2, CO, NO, NO2, SO2, CH4, dan H2S menghasilkan akurasi, presisi dan linieritas memenuhi kriteria batas keberterimaan yang telah ditentukan yaitu % R ≤ 2% relatif, % RSD ≤ 0,5 nilai horwitz dan koefisien determinasi ≥ 0,990. Kemampuan kalibrasi dan pengukuran digunakan sebagai informasi atas kemampuan pengukuran dan kalibrasi serta ketidakpastian yang dicapai yang tersedia bagi pelanggan dalam kondisi normal. Dengan demikian, metode kalibrasi gas analyzer yang telah divalidasi dapat digunakan untuk mengukur sampel gas untuk kebutuhan pelanggan