cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
KALIMAH
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 133 Documents
Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup Maulana, Abdullah Muslich Rizal
KALIMAH Vol 11, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v11i2.96

Abstract

In perspective of Postmodern West, thought discourses always colored by relativism, equality, nihilism, and reconstruction. This discourses of thought, cannot be separated from the profane Western worldview, which formed during the several hundred years of experience theological, sociological, and historical of West. Nowadays –Postmodern- worldview became the foundation for providing responses to the phenomenon that exist in the West, including feminism and gender. Islam, such as din and ideology is conceptually also obligated to set up the concept of worldview projected by texts in the form of the Quran and al-Hadith. Both this primary source of Islam derived concepts about God, Nature, Science, Mind, Soul, and so forth as a spectrum set of Muslims viewpoints in doing things. Related here, Islamic worldview is necessary to observe, analyze, to the stage critiquing feminism and gender discourse that is a product of western Worldview. Islamic Worldview demanded to review and response proportionally to discourses of western Worldview which has difference with Islam conceptually.
Konsep Tuhan Nietzsche dan Pengaruhnya terhadap Pemikiran Liberal Muslih, Mohammad; ., Haryanto
KALIMAH Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v16i2.2870

Abstract

This article departs from the Freidrich W. Nietzsche's issue on misunderstanding of God. He ‎thought that God was the product of poets (human engineering results). Thus, disassembling the order of truth existing in modern era with his adagium “God Is Dead.” This provides a new discourse of thought, which ‎arises from an anti-God view i.e. “anti-Christ” and hatred of absolutism which result the ‎truth relativism. Nietzsche's ideas greatly influenced the mainstream of liberalist; among them are the students of State Islamic university of Indonesia who declare an ignorance expression of Islam is not only the true religion. More over their claim about the God-freezone institution when welcoming new students. It is surely inappropriate exclamation cames from Muslim students in the country with majority Muslim in the world. Their attitude is the result of a thought that has been affected with the thoughts of Friedrich Wilhm Nietzsche "God is death." This work attempts to elaborate Nietzsche’s influence toward those Muslim collegers as well as the basic thought of their acts. In order to achieve the purpose, the author does not forget to describe the concept of God in Nietzsche's view and its influence on liberal thinking. 
Psikoanalisa Islam, Menggali Struktur Psikis Manusia dalam Perspektif Islam Afrizal, Lalu Heri
KALIMAH Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v12i2.238

Abstract

Pengaruh Teori Psikoanalisa Sigmund Freud dalam kajian psikologi modern cukup dominan mewarnai ilmu pengetahuan secara umum yang berbicara tentang manusia, seperti kedokteran, filsafat, agama, seni, sastra, antropologi, maupun politik. Padahal teori-teori Freud tentang konsep manusia, yang menjadi basis utama dalam mengkaji prilaku dan kejiwaan manusia, sangat dipengaruhi oleh doktrin ateisme yang dianutnya. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Sebab, ketika psikologi semacam ini diajarkan dan diyakini oleh umat Islam yang belum sadar terhadap paradigma psikologi modern, maka akan menjadi masalah. Padahal doktrin-doktrin di dalamnya sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Sementara itu, kajian-kajian ilmuwan Muslim kontemporer mengenai hal ini belum banyak mewarnai. Oleh karena itu,sangat diperlukan kajian mendalam mengenai ilmu psikologi yang berbasis pandangan hidup Islam, sehingga ditemukan konsep manusia yang utuh dan islami. Tulisan ini mencoba mengkaji permasalahan psikologi melalui kajian tematis-analitis terhadap teks-teks al-Qur’an dan al-Hadits. Sebagai perbandingan, kajian dimulai dengan mengungkap konsep manusia menurut Psikoanalisa Sigmund Freud, kemudian disusul pembahasan tentang struktur psikis manusia menurut Islam.
Khabar Sadiq; Sebuah Metode Transmisi Ilmu Pengetahuan dalam Islam Salim, Mohammad Syam’un
KALIMAH Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v12i1.220

Abstract

Sebagai saluran ilmu pengetahuan, khabar s}a>diq sangat diakui dalam Islam. Selain tiga saluran yang lain yaitu, pancaindra, akal, dan intuisi, khabar s}a>diq juga menjadi asas penting dalam epistemologi Islam. Ia menjadikan ilmu pengetahuan dalam Islam muncul, tumbuh, dan berkembang hingga saat ini. Karena perannya sebagai metode transmisi ilmu inilah, al-Qur’an dan al-Hadis menjadi terjaga keasliannya hingga saat ini, dan tidak terjadi perubahan sedikit pun. Berbeda dengan Islam, Barat hanya menjadikan indra dan akal sebagai asas epistemologi mereka. Hal ini berdampak pada ketidakpercayaan mereka terhadap hal-hal yang metafisik, semua haruslah nyata, dapat dilihat, dan diakal. Mereka akhirnya menjadi ragu terhadap keaslian kitab suci. Keraguan ini juga diterapkan terhadap al-Qur’an. Padahal, al-Qur’an berbeda dengan kitab suci yang lain dalam pengambilan sumber berita (wahyu). Tulisan ini akan menjawab asumsi yang menafikan berita yang benar (khabar s}a>diq) sebagai metode transmisi ilmu pengetahuan dalam Islam. Juga membuktikan bahwa khabar s}a>diq merupakan sumber ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Wali Allah menurut al-Hakim al-Tirmidzi dan Ibnu Taimiyyah Mursito, Lilik
KALIMAH Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v13i2.292

Abstract

The discussion about wali presented in the early time on the hand of al-Hakim al Tirmidzi, which reaps number of responses from Muslim scholar because of his misleading. One of them is Ibn Taimiyyah. Al-Hakim and Ibn Taymiyyah have their own view about wali with several distinctions. In the definition of wali, al-Hakim al-Tirmidzi used more general language than Ibn Taimiyyah, as well as characteristics, how to be wali, the classification, concept of karamah, and the concept of khatm al-awliya’. According to writer, al-Hakim al-Tirmidzi’s view about wali able to deepen our understanding about Sufism, meanwhile Ibn Taimiyyah’s view will led us to comprehend Sufism from modernist point of view. This paper conclude that: both of figures seen that wali of Allah are the servants submissive and obedient in running His command; according to al-Hakim al Tirmidzi, degree of wali can be reached purely from Allah’s bounty and the effort of servants themselves, while Ibn Taimiyyah seen that the degree could be reached in the way of faith and piety of the servant; al-Hakim al-Tirmidzi seen that karamah is the most urgent for wali, while Ibn Taimiyyah did not; al-Hakim al-Tirmidzi utilized the quality of deeds to measure the best people and purity of heart to measure the best wali, while Ibn Taymiyyah utilized the quality of deeds as the assessment standard to measure best people and wali.
Antara Pluralisme Liberal dan Toleransi Islam Ryandi, Ryandi
KALIMAH Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pluralitas keagamaan adalah sebuah fenomena natural yang terjadi di realitas kehidupan. Di tengah keberagaman perbedaan ideologi dan klaim kebenaran eksklusif (truth claim) yang ada, menuntut setiap pemeluk agama untuk mampu bertoleransi atas segala macam konsep yang dikandung oleh ideologi dan klaim kebenaran tersebut. Hal ini secara nyata menjadi sebuah implikasi logis karena dari tiap-tiap ideologi dan klaim kebenaran yang diajarkan akan mengarahkan pemeluknya untuk yakin terhadap setiap ajaran agama tersebut; termasuk klaim keselamatan. Namun dalam pandangan liberalisme, toleransi saja tidaklah cukup. Perlu ditanamkan paham pluralisme agama sebagai sebuah solusi untuk kerukunan umat beragama. Dengan kata lain, toleransi beragama dalam pandangan liberal adalah pluralisme agama. Pluralisme agama, sebagai bagian dari wacana Barat postmodern, berupaya untuk merelatifkan kebenaran agama-agama, sehingga tidak ada lagi kebenaran yang mampu diakui dalam agama manapun, termasuk Islam. Konsep ini tentu saja bertentangan dengan konsep toleransi dalam Islam yang mengakui keberadaan agama lain dalam ranah sosial tanpa harus adanya pemaksaan terhadap pengakuan kebenaran agama tersebut. Islam secara konseptual mengakui pluralitas, namun menolak tegas pluralisme.
Kritik Makna Islam Perspektif Orientalis dan Liberal Qamar, Syamsi Wal
KALIMAH Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v13i1.283

Abstract

Islam is a name religion with clear explanation based on the arguments that are normative and historically, the Qur’an, Hadith and history of preaching Prophet Muhammad when spread this religion. Of course this naming is permanent so it will not be changed until the end of time later. But for Wilfreid Cantwell Smith and Muhammad Shahrur which are the thinkers of the West and the Muslim Orientalist Liberals are trying to recontruction naming them. For Smith, Islam is only submission to God to be obedient and submissive to the shari’ah religion are shared by humans, as judging that the word Islam is derived from the word aslama means surrender or submission. Meanwhile, according Shahrur, Islam is taught by the shari’ah of the Prophet Muhammad who was also taught by the previous Prophets such as Abraham, Moses, Jesus and others. So according Shahrur Muslim person can be said without having to follow and believe in the Shari’ah as taught by the Prophet Muhammad. From this a second thought leaders cause various problems, such as Islamic religious truth is relative or inclusive or decontructed concept and the Shari’ah of Islam. So in this paper the authors will describe how Smith and Shahrur view of the meaning of Islam, the background of their thinking and their implications for the Islamic religion, and a refutation of their thinking.
أثر منهج التأويل عند المعتزلة في منهج التوفيق بين الدين والفلسفة عند الكندي Supianto, Saparudin
KALIMAH Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v12i2.243

Abstract

Dalam kajian ini, peneliti mencoba mengungkap Pengaruh Mu’tazilah dalam memadu antara “din” dan “falsafah” menurut al-Kindi. Karena pada hakekatnya, Mu’tazilah adalah salah satu madzhab yang menjadikan akal sebagai asas dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an. Sehingga salah satu metodenya dalam menafsirkan ayat ayat al-Qur’an adalah “manhaj al-ta’wil” atau dalam bahasa filsafat adalah metode perpaduan antara”din” dan “falsafah”. Maka dari itu banyak pendapat mu’tazilah yang berlandaskan perpaduan antara “din” dan “falsafah”, Sebagai hasil penerapan “manhaj al-ta’wil”. Ternyata metode tersebut menyerupai dengan pemikiran al-Kindi selaku filosuf Muslim pertama yang hidup sezaman dengan masa kejayaan madzhab Mu’tazilah. Al-Kindi berpendapat bahwa antara agama dan filsafat tidak bisa dipisahkan, serta tidak bertentangan antara keduanya. Sehingga banyak pemikiran al-Kindi yang berlandaskan metode tersebut, dan hal itu sebagaimana terdapat di dalam karya “Rasail al-Kindi al Falsafiyyah”. Maka dari kesamaan cara berpikir dan metode tersebut, dapat diduga bahwasannya al-Kindi secara tidak langsung terpengaruh oleh “manhaj al-ta’wil” nya Mu’tazilah yang berkembang di masa hidupnya.
Syiah Nusairiyyah; Sejarah, Ideologi, dan Ajarannya Atharuddin, Atharuddin
KALIMAH Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v12i1.225

Abstract

Sebelumnya, barangkali nama Syi’ah Nusairiyyah tidak terkenal sebagaimana yang terjadi saat ini. Setelah Perang Suriah berkecamuk beberapa tahun terakhir, pamor kelompok ini semakin nyata. Artikel ini bertujuan menjelaskan tiga poin penting mengenai Syiah Nusairiyyah; sejarah berdiri, pandangan akidah, dan berbagai ajaran yang dianutnya. Dari poin ini diharapkan, pembaca dapat mendudukkan persoalan konflik di Suriah dengan benar. Artikel ini bukan hendak lebih mempopulerkan sekte Syi’ah tersebut, melainkan untuk memahamkan bagaimana sejarah dan ajarannya. Hal tersebut perlu dilakukan agar para pembaca tidak salah menilai Syi’ah Nusairiyyah. Salah dalam artian membela mati-matian kelompok ini. Dalam kajiannya, penulis mengungkapkan beberapa ajaran Syi’ah Nusairiyyah yang dipandang menyeleweng oleh kalangan Ahlusunah maupun kalangan Syi’ah sendiri. Beberapa keyakinan dan ajaran kelompok ini yang dianggap menyimpang, seperti tidak dikenalnya ajaran wudhu, tayamum, mandi wajib, salat lima waktu, puasa Ramadhan, zakat, umrah, dan haji ke tanah suci Makkah. Bahkan, Syi’ah Nusairiyyah juga menghalalkan praktik homoseks yang dilaknat oleh Allah.
Kritik Konsep Ahl al-Bait dalam Pandangan Syi’ah Imamiyah Fathurrizka, Hadi
KALIMAH Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v12i1.216

Abstract

Diskursus tentang ahl al-bait merupakan salah satu ajaran pokok dalam agama Islam (al-‘aqi>dah al-Isla>miyyah), yaitu diwajibkan bagi umat Islam untuk mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW dan dilarang untuk menghina mereka baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Hal ini serasi dengan firman Allah dalam QS: al Ahzab 33:56, karena kecintaan terhadap keluarga Nabi Muhammad merupakan bukti kecintaan terhadap Nabi sendiri. Oleh karena itu, barang siapa yang membenci mereka (keluarga Nabi Muhammad) merupakan salah satu cabang kemunafikan. Dalam hal ini, ada persamaan dan perbedaan antara kaum Sunni dan Syi‘ah dalam memandang konsep ahl al-bait. Adapun persamaannya, kedua golongan ini bersepakat bahwa mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW adalah suatu kewajiban, sedangkan dari segi perbedaan, kedua golongan ini berselisih dalam menetapkan anggota keluarga Nabi tersebut. Dari segi perbedaan ini, akan berimplikasi terhadap sumber-sumber ajaran Islam, penilaian, dan klasifikasi yang dirumuskan untuk melihat kualitas informasi-informasi di dalamnya. Karena dalam ajaran Syi‘ah, tidak menerima ajaran selain dari ahl al-bait. Kesimpulan dari tulisan ini adalah kecintaan dan penghormatan Sunni terhadap keluarga Nabi Muhammad lebih luas dari pada Syi‘ah, karena hanya membatasi 4 orang saja. Dengan kata lain, kaum Syi‘ah tidak mencintai dan menghormati keluarga Nabi Muhammad, bahkan Syi‘ah memfitnah as}h}a>b al-kisa’ dengan pernyataan yang tidak layak.

Page 2 of 14 | Total Record : 133