cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
KALIMAH
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 2 (2014)" : 10 Documents clear
Psikoanalisa Islam, Menggali Struktur Psikis Manusia dalam Perspektif Islam Afrizal, Lalu Heri
KALIMAH Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.781 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i2.238

Abstract

Pengaruh Teori Psikoanalisa Sigmund Freud dalam kajian psikologi modern cukup dominan mewarnai ilmu pengetahuan secara umum yang berbicara tentang manusia, seperti kedokteran, filsafat, agama, seni, sastra, antropologi, maupun politik. Padahal teori-teori Freud tentang konsep manusia, yang menjadi basis utama dalam mengkaji prilaku dan kejiwaan manusia, sangat dipengaruhi oleh doktrin ateisme yang dianutnya. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Sebab, ketika psikologi semacam ini diajarkan dan diyakini oleh umat Islam yang belum sadar terhadap paradigma psikologi modern, maka akan menjadi masalah. Padahal doktrin-doktrin di dalamnya sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Sementara itu, kajian-kajian ilmuwan Muslim kontemporer mengenai hal ini belum banyak mewarnai. Oleh karena itu,sangat diperlukan kajian mendalam mengenai ilmu psikologi yang berbasis pandangan hidup Islam, sehingga ditemukan konsep manusia yang utuh dan islami. Tulisan ini mencoba mengkaji permasalahan psikologi melalui kajian tematis-analitis terhadap teks-teks al-Qur’an dan al-Hadits. Sebagai perbandingan, kajian dimulai dengan mengungkap konsep manusia menurut Psikoanalisa Sigmund Freud, kemudian disusul pembahasan tentang struktur psikis manusia menurut Islam.
أثر منهج التأويل عند المعتزلة في منهج التوفيق بين الدين والفلسفة عند الكندي Supianto, Saparudin
KALIMAH Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.89 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i2.243

Abstract

Dalam kajian ini, peneliti mencoba mengungkap Pengaruh Mu’tazilah dalam memadu antara “din” dan “falsafah” menurut al-Kindi. Karena pada hakekatnya, Mu’tazilah adalah salah satu madzhab yang menjadikan akal sebagai asas dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an. Sehingga salah satu metodenya dalam menafsirkan ayat ayat al-Qur’an adalah “manhaj al-ta’wil” atau dalam bahasa filsafat adalah metode perpaduan antara”din” dan “falsafah”. Maka dari itu banyak pendapat mu’tazilah yang berlandaskan perpaduan antara “din” dan “falsafah”, Sebagai hasil penerapan “manhaj al-ta’wil”. Ternyata metode tersebut menyerupai dengan pemikiran al-Kindi selaku filosuf Muslim pertama yang hidup sezaman dengan masa kejayaan madzhab Mu’tazilah. Al-Kindi berpendapat bahwa antara agama dan filsafat tidak bisa dipisahkan, serta tidak bertentangan antara keduanya. Sehingga banyak pemikiran al-Kindi yang berlandaskan metode tersebut, dan hal itu sebagaimana terdapat di dalam karya “Rasail al-Kindi al Falsafiyyah”. Maka dari kesamaan cara berpikir dan metode tersebut, dapat diduga bahwasannya al-Kindi secara tidak langsung terpengaruh oleh “manhaj al-ta’wil” nya Mu’tazilah yang berkembang di masa hidupnya.
Konsep Nafs Menurut Ibnu Sina Reza, Syah
KALIMAH Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.379 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i2.239

Abstract

Nafs merupakan salah satu konsep kunci dalam kajian filsafat metafisika. Selain sebagai substansi utama yang menggerakkan jasad manusia, nafs juga memiliki peran dalam proses berfikir dan memahami realitas yang darinya menghasilkan sebuah pengetahuan. Pengetahuan yang dihasilkan akan membentuk cara pandang seseorang menyikapi kehidupan. Dalam hal ini, Ibnu Sina adalah salah seorang filsuf muslim yang secara mendalam dan rinci menjelaskan hakikat nafs. Ia menjelaskan tentang potensi-potensi nafs (quwwah al-nafs) yang saling terikat satu dengan lainnya, dan nafs memiliki hubungan yang erat dengan jasad. Mengenai hubungan nafs dan jasad, Ibnu Sina mengatakan bahwa nafs tidak akan pernah mencapai tahap fenomenal tanpa adanya jasad. Begitu tahapan ini dicapai ia menjadi sumber hidup, pengatur, dan potensi jasad. Ia mengemukakan beberapa argumentasi ilmiah mengenai keberadaan nafs, yang salah satunya tentang manusia terbang yang menginspirasi sarjana Barat menciptakan teori manusia super. Selain itu ia juga menjelaskan tentang keabadian nafs yang bersifat kekal dengan disertai beberapa argumentasi logis yang membuktikan kekekalannya. Dari pandangannya tersebut ia menyimpulkan bahwa kekekalan nafs bukanlah kekekalan yang hakiki sebagaimana keabadian dan kekekalan Allah. Penjelasan Ibnu Sina tentang nafs cukup komprehensif, sekalipun ada beberapa kesamaan dengan teori jiwa filsuf Yunani seperti Aristotle. Namun pandangannya tentang nafs secara umum sudah diadapsi dengan pandangan hidup Islam.
مساهمات الإمام أحمد عبد الرحمن البنا الساعاتي في الدراسات القرآن والحديث النبوي binti Ahmad Hidayat, Nunun Zainun
KALIMAH Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.292 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i2.244

Abstract

Al-Imam al-Banna al-Sa‘ati (d.1378AH/1958CE) was amongst the famous Egyptian scholars in the 14th century. Although mostly known as the father to the late Hasan al-Banna, he was also a prolific scholar in his own right. In the field of hadith and its studies, he has composed important works such as al-Fath al-Rabbani fi Tartib Musnad Ahmad ibn Hanbal al-Syaibani, Bada’i‘ al-Minan fi Jam‘ wa Tartib Musnad al Syafi‘i wa al-Sunan, and others. In addition, he was also the first amongst scholars to have successfully organized the hadiths of Musnad Ahmad into thematic chapters to facilitate the finding of hadith in the book. However, his scholarly contributions have yet to attract the interest of the researchers as their subject of study. Therefore, this paper aims to expound on this matter in a greater detail. In particular, its aims to highlight the little known biography of this scholar as well as his contributions to the field of al-Qur’an and al-Hadith and its sciences. The study employs the historical, deductive and analytical approaches in analyzing the relevant sources on the matter. It is hoped that the paper provides an important aspect of hadith scholarship as portrayed by this important scholar.
Catatan atas Teologi Humanis Hasan Hanafi Arroisi, Jarman
KALIMAH Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.114 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i2.235

Abstract

The paper explores, that the issue of humanism that carries the idea of man as central to all of life cannot seen as a simple idea. Moreover, Muslim scientists brought up the idea. That is not a few of Muslim scholars in various Islamic universities are working hard campaigning in support disseminated this idea. Humanism actually as understanding of what makes humans as the main shaft in life is unknown in Islamic tradition. This phenomenon needs to get an adequate answer, to give a true description of its concept. In addition, this paper also offers ideas that in order to achieve the betterment of life, a Muslim does not have to empty himself of religion and God. Otherwise, religion and God should not be forgotten. A Muslim has to examine Islam as soon, trough the discipline has been handed down by prophets, and which has been developed by previous scholars, diligently an earnestly, so as the explore of the old heritage, is it expect to find new original concept to answer nowadays problems.
Alam dalam Pandangan Abu Hamid al-Ghazali Marpaung, Irwan Malik
KALIMAH Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.268 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i2.240

Abstract

Pernyataan bahwa alam ini muncul bersamaan dengan Zat Tuhan berimplikasi kepada adanya persaingan antara alam dengan Tuhan dalam eksistensinya. Benarkah Tuhan yang menciptakan alam? Jika benar, kapan Tuhan mulai menciptakannya? Dan mengapa Tuhan tidak menciptakannya pada waktu yang lain? Di antara para Filsuf Muslim pun terdapat ragam pendapat yang jika kita salah dalam memahaminya, akan menyebabkan seseorang mengingkari eksistensi Tuhan. Salah satu pendapat yang cukup menarik untuk dicermati adalah konsep alam menurut al-Ghazali. Ia merupakan salah satu filosof dan teolog Muslim yang terkenal yang dengan kedalaman ilmunya membuat ia digelar sebagai hujjah al-Islam. Makalah ini akan membahas konsepsi al-Ghazali tentang alam yang tersusun terutama dari kritik al-Ghazali terhadap argumentasi para filsuf berupa argumen Tarjih dan Murajjih, argumen Taqaddum Zamani, argumentasi al-Imkan, serta argumen materi. Melalui makalah sederhana ini akan dipaparkan pemikiran al-Ghazali mengenai alam, sekaligus membantah beberapa konsep para filosof barat dengan nas-nas yang otentik.
Kesatuan Transenden Agama-Agama dalam Perspektif Tasawuf (Kritik atas Pemikiran Frithjof Schuon) Rizal Maulana, Abdullah Muslich
KALIMAH Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.853 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i2.236

Abstract

As one of the many themes that get a lot of attention on contemporary issues of Sufism is transcendent unity of religion from perspective of perennial philosophy. Perennial philosophy believes a universal and eternal unity of religion rest on its esoteric dimension. Esoteric dimension has it different concept with exoteric dimension, whereas esoteric dimension is inner dimension that spiritual, exoteric dimension is outer dimension of religions in the form of ritual, or other branches of the secondary nature of religions. This view would then imply the understanding of the validity of religious pluralism in the form of Sufism legitimacy. One of the figures was quite inspiring teachings perennial philosophy is Frithjof Schuon. Schuon, became one of the initiators of the transcendent unity of religions in the Sufism legitimacy that in its development and has a very strong relationship to the development of religious pluralism that is modern as are held by Chittick, Hick, or WC Smith. This paper will tries to analyze critically the origin of the transcendent unity of religions in the perspective of Sufism by arguing Frithjof Schuon.
Kritik terhadap ‘Aqidah al-Tinah Syi’ah dalam Usul al-Kafiy Armayanto, Harda; Muttaqin, Muttaqin
KALIMAH Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.874 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i2.241

Abstract

Syi’ah sebagai salah satu sekte yang menyimpang dalam Islam memiliki konsep tersendiri mengenai asal tinah (tanah) yang digunakan oleh Allah untuk menciptakan manusia, tinah tersebut dibagi menjadi dua, tinah yang baik dan tinah yang jelek. Penganut Syi’ah diciptakan dari tinah yang baik, sementara selain Syi’ah (orang kafir,termasuk Sunni) diciptakan dari tinah yang jelek. Masalahnya, dalam pandangan Syi’ah Allah telah mencampuri kedua tinah tersebut, sehingga melahirkan penganut Syi’ah yang berbuat maksiat dan orang kafir yang beramal saleh. Seharusnya hanya penganut Syi’ah sajalah yang beramal saleh dan orang kafir yang berbuat maksiat. Pada hari kiamat tinah ini akan dikembalikan kepada asalnya. Artinya tinah Syi’ah yang tercampur dengan tinah orang kafir tadi akan dikembalikan kepada orang Syi’ah. Sehingga seluruh amal saleh yang dikerjakan kafir akan menjadi milik Syi’ah. Sebaliknya, seluruh kemaksiatan yang dilakukan oleh Syi’ah akan diberikan kepada orang kafir. Konsekuensi dari tinah ini menunjukkan adanya spesialisasi terhadap penciptaan Syi’ah. Sehingga mereka menganggap dirinya sebagai manusia pilihan Tuhan. Anggapan ini mirip dengan prinsip bangsa Yahudi. Di samping itu, konsep akidah tinah juga berbau prinsip golongan Jabariah. Adanya penukaran amal saleh dengan maksiat, menyebabkan golongan Syi’ah merasa terbebas dari semua dosa-dosanya. Sehingga hal ini akan membuat penganut Syi’ah bebas melakukan apa saja, karena mereka tidak akan menanggung dosanya. Pemahaman seperti ini cukup berbahaya, terutama bagi kalangan awam Syi’ah.
Problem Doktrin Sekulerisme Ashidqi, Fadlurrahman
KALIMAH Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.668 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i2.237

Abstract

Sekulerisme banyak dipahami sebagai ideologi yang memisahkan agama dari dunia. Dalam peradaban Barat, sekulerisme menjadi pandangan hidup dan ruh bagi dinamikanya, khususnya ketika Gereja mulai menunjukkan problematika teologisnya. Hal itu karena manusia modern percaya, bahwa dalam sekulerisme terdapat kesesuaian dengan watak zaman yang selalu berubah, dan juga kebebasan yang menjamin kemajuan serta perkembangan kehidupan. Doktrin yang pada awalnya lahir dan berkembang di Barat ini, tanpa disadari kini telah masuk ke dalam hampir seluruh ranah kehidupan masyarakat umat Islam. Agama yang pada dasarnya digunakan untuk membimbing manusia kepada kebaikan, kini dimarginalkan hanya dalam ranah agama saja, sehingga kehidupan sosial tidak lagi bersandar dan bergantung pada nilai-nilai agama. Hal ini menyebabkan etika, ilmu, moral, nilai, dan bahkan kebenaran hanya berdasarkan pertimbangan manusia, atau berdasarkan kesepakatan bersama tanpa melibatkan peran wahyu. Sehingga, tidak lagi mementingkan keberadaan Tuhan, dalam artian tidak ada lagi campur tangan Tuhan di dalamnya. Maka secara praktis sudah anti Tuhan, atau disebut juga dengan practical atheism. Mengingat dampak yang timbul dari doktrin sekulerisme ini sangat berbahaya bagi kehidupan masyarakat, dan demi terbentuknya suatu tatanan masyarakat yang Islami, maka dalam makalah singkat ini akan dipaparkan problem-problem yang terkandung dalam doktrin sekulerisme, beserta dampak-dampak yang timbul dari penerapan doktrin ini. Dalam hal ini, penulis berusaha untuk menganalisa pemikiran Harvey Cox, serta membandingkannya dengan konsep-konsep yang ada dalam Islam.
Konsep Kewalian Menurut Hakim Tirmidzi Ryandi, Ryandi
KALIMAH Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.474 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i2.242

Abstract

Tulisan ini mengkaji konsep Hakim Tirmidzi mengenai kewalian, dengan menelusuri langsung kepada karya-karyanya seperti Khatm Awliya’, ‘Ilm Awliya’, Manazil al-‘Ibad, dan Ma’rifah al-Asrar. Dari kajian sederhana ini didapati bahwa konsep kewalian Hakim merupakan pemahamannya terhadap al-Qur’an dan tradisi kenabian secara ‘irfani. Secara umum, persepsinya tentang kewalian tidaklah berbeda dengan sufi-sufi lainnya. Wali adalah Ahl al-Qurbah yang terbagi kepada dua yaitu; awliya haqq Allah dan awliya’ Allah, di mana hal itu terkait dengan jalan spiritualitas seseorang yang diperoleh melalui usaha (kasbiyyah) dan pemberian (a’taiyyah). Namun, di tangan Hakim lah pemikiran tentang khatm al-awliya’ awalnya dimunculkan. Baginya terdapat penutup wali orang yang ditarik oleh Allah secara metafisis (majdzub) yang menjadi pemimpin atas para wali, baginya bendera kewalian, dimana para wali membutuhkan pertolongannya sebagaimana para nabi membutuhkan pertolongan Muhammad SAW. Namun, hal itu tidak menjadikannya meninggikan derajat wali dari pada Nabi. Bagi Hakim seorang wali adalah muhaddats, diberi ilham oleh Allah yang mengakibatkan ketenangan (sakinah) di dalam hatinya sedangkan nabi adalah muha (diberi wahyu) oleh Allah melalui kalam Nya, sehingga seorang yang menolak ajaran yang dibawa nabi dihukumi kafir, karena menolak kalamullah sedangkan wali tidak demikian namun orang yang menolaknya akan merasakan kerugian.

Page 1 of 1 | Total Record : 10