cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
KALIMAH
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 1 (2014)" : 10 Documents clear
Khabar Sadiq; Sebuah Metode Transmisi Ilmu Pengetahuan dalam Islam Salim, Mohammad Syam’un
KALIMAH Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.355 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i1.220

Abstract

Sebagai saluran ilmu pengetahuan, khabar s}a>diq sangat diakui dalam Islam. Selain tiga saluran yang lain yaitu, pancaindra, akal, dan intuisi, khabar s}a>diq juga menjadi asas penting dalam epistemologi Islam. Ia menjadikan ilmu pengetahuan dalam Islam muncul, tumbuh, dan berkembang hingga saat ini. Karena perannya sebagai metode transmisi ilmu inilah, al-Qur’an dan al-Hadis menjadi terjaga keasliannya hingga saat ini, dan tidak terjadi perubahan sedikit pun. Berbeda dengan Islam, Barat hanya menjadikan indra dan akal sebagai asas epistemologi mereka. Hal ini berdampak pada ketidakpercayaan mereka terhadap hal-hal yang metafisik, semua haruslah nyata, dapat dilihat, dan diakal. Mereka akhirnya menjadi ragu terhadap keaslian kitab suci. Keraguan ini juga diterapkan terhadap al-Qur’an. Padahal, al-Qur’an berbeda dengan kitab suci yang lain dalam pengambilan sumber berita (wahyu). Tulisan ini akan menjawab asumsi yang menafikan berita yang benar (khabar s}a>diq) sebagai metode transmisi ilmu pengetahuan dalam Islam. Juga membuktikan bahwa khabar s}a>diq merupakan sumber ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Syiah Nusairiyyah; Sejarah, Ideologi, dan Ajarannya Atharuddin, Atharuddin
KALIMAH Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.823 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i1.225

Abstract

Sebelumnya, barangkali nama Syi’ah Nusairiyyah tidak terkenal sebagaimana yang terjadi saat ini. Setelah Perang Suriah berkecamuk beberapa tahun terakhir, pamor kelompok ini semakin nyata. Artikel ini bertujuan menjelaskan tiga poin penting mengenai Syiah Nusairiyyah; sejarah berdiri, pandangan akidah, dan berbagai ajaran yang dianutnya. Dari poin ini diharapkan, pembaca dapat mendudukkan persoalan konflik di Suriah dengan benar. Artikel ini bukan hendak lebih mempopulerkan sekte Syi’ah tersebut, melainkan untuk memahamkan bagaimana sejarah dan ajarannya. Hal tersebut perlu dilakukan agar para pembaca tidak salah menilai Syi’ah Nusairiyyah. Salah dalam artian membela mati-matian kelompok ini. Dalam kajiannya, penulis mengungkapkan beberapa ajaran Syi’ah Nusairiyyah yang dipandang menyeleweng oleh kalangan Ahlusunah maupun kalangan Syi’ah sendiri. Beberapa keyakinan dan ajaran kelompok ini yang dianggap menyimpang, seperti tidak dikenalnya ajaran wudhu, tayamum, mandi wajib, salat lima waktu, puasa Ramadhan, zakat, umrah, dan haji ke tanah suci Makkah. Bahkan, Syi’ah Nusairiyyah juga menghalalkan praktik homoseks yang dilaknat oleh Allah.
Kritik Konsep Ahl al-Bait dalam Pandangan Syi’ah Imamiyah Fathurrizka, Hadi
KALIMAH Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.674 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i1.216

Abstract

Diskursus tentang ahl al-bait merupakan salah satu ajaran pokok dalam agama Islam (al-‘aqi>dah al-Isla>miyyah), yaitu diwajibkan bagi umat Islam untuk mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW dan dilarang untuk menghina mereka baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Hal ini serasi dengan firman Allah dalam QS: al Ahzab 33:56, karena kecintaan terhadap keluarga Nabi Muhammad merupakan bukti kecintaan terhadap Nabi sendiri. Oleh karena itu, barang siapa yang membenci mereka (keluarga Nabi Muhammad) merupakan salah satu cabang kemunafikan. Dalam hal ini, ada persamaan dan perbedaan antara kaum Sunni dan Syi‘ah dalam memandang konsep ahl al-bait. Adapun persamaannya, kedua golongan ini bersepakat bahwa mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW adalah suatu kewajiban, sedangkan dari segi perbedaan, kedua golongan ini berselisih dalam menetapkan anggota keluarga Nabi tersebut. Dari segi perbedaan ini, akan berimplikasi terhadap sumber-sumber ajaran Islam, penilaian, dan klasifikasi yang dirumuskan untuk melihat kualitas informasi-informasi di dalamnya. Karena dalam ajaran Syi‘ah, tidak menerima ajaran selain dari ahl al-bait. Kesimpulan dari tulisan ini adalah kecintaan dan penghormatan Sunni terhadap keluarga Nabi Muhammad lebih luas dari pada Syi‘ah, karena hanya membatasi 4 orang saja. Dengan kata lain, kaum Syi‘ah tidak mencintai dan menghormati keluarga Nabi Muhammad, bahkan Syi‘ah memfitnah as}h}a>b al-kisa’ dengan pernyataan yang tidak layak.
Konsep Hati Menurut al-Hakim al-Tirmidzi Ryandi, Ryandi
KALIMAH Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.131 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i1.221

Abstract

Dalam khazanah sufi, hati atau qalb adalah salah satu term sentral yang dibahas secara mendalam. Karena bagi sufi, hati adalah entitas metafisik (latifah rabbaniyyah ruhaniyyah) yang dengannya manusia dapat mencapai ma’arifatullah dan mengetahui rahasia-rahasia-Nya. Salah satu sufi klasik yang mengkaji hati secara mendalam adalah Abu ‘Abdullah ibn ‘Ali ibn al-Hasan ibn Basyar al-Hakim al-Tirmidzi (w 320 H). Ia mengkonsepsikan hati sebagai entitas metafisik universal yang terkandung di dalamnya tingkatan-tingkatan batin (maqamat al-qalb), yaitu: sadr, qalb, fu’ad, dan lubb. Pemetaan ini dimunculkan sesuai dengan fungsi linguistiknya dan penggunaannya dalam al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW. Tiap-tiap tingkatan batin tersebut berkaitan dengan tingkatan pengetahuan, keilmuan, spiritual, dan jiwa manusia. Kaitan tersebut menunjukan bahwa qalb merupakan eksistensi ruhani manusia (al-kainunah al-ruhiyyah), yang berfungsi sebagai instrumen penyempurna bagi manusia (al-jihaz al-mutakamil li al-insan) yang meliputi seluruh kekuatan dan potensi manusia: ruhani, ‘aqliyah, dan kehendak, di mana manusia dengannya dapat merasa, berpikir, mengetahui, bahkan dapat mencapai ma’rifatullah dan dekat dengan-Nya.
Sikap Islam terhadap Minoritas Non-Muslim Untung, Syamsul Hadi; Sutrisno, Eko Adhi
KALIMAH Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.703 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i1.217

Abstract

Pluralitas dalam Islam diyakini sebagai sunnatulah yang dikehendaki-Nya. Keadaan plural yang meliputi berbagai macam golongan dan kelompok menyebabkan masyarakat harus dapat hidup berdampingan dalam satu lingkungan. Ketika hidup bermasyarakat tersebut, tentunya ada yang menjadi golongan mayoritas dan minoritas. Kerap terjadi, kelompok mayoritas bersikap intoleran terhadap minoritas, sehingga terjadi penganiayaan atau pelanggaran hak asasi manusia. Dalam sejarahnya, umat Islam pernah menjadi kelompok minoritas dan juga mayoritas di suatu tempat. Ketika berposisi sebagai mayoritas, umat Islam telah membuktikan mampu hidup damai dengan kelompok minoritas. Dalam pemerintahan Islam, kelompok minoritas ini menjadi tanggung jawab dan hak-hak mereka harus dijaga dan dipenuhi. Mereka ini dikenal dengan sebutan ahl al dzimmah. Pemerintahan Islam berkewajiban menjaga dan melindungi jiwa, keyakinan, kebebasan beribadah, kehormatan, kehidupan, dan harta benda non-Muslim yang menjadi ahl al-dzimmah sejauh mereka tidak melanggar pejanjian yang telah disepakati dengan kaum Muslim. Karena pentingnya konsep ahl dzimmah tersebut, artikel ini akan mengulas konsep tersebut sehingga jelas pula sikap Islam terhadap minoritas non-muslim.
Al-Farabi dan Filsafat Kenabian Dzulhadi, Qosim Nursheha
KALIMAH Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.799 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i1.222

Abstract

Artikel ini mengulas pemikiran al-Farabi tentang konsep kenabian dalam Islam. Masalah berawal dari adanya pemikiran yang menolak konsep kenabian pada umumnya dan kenabian Nabi Muhammad SAW khususnya. Sebagaimana yang dilontarkan oleh Muhammad Ahmad ibn al-Ruwandi. Ia mengatakan bahwa nabi sebenarnya tidak diperlukan manusia karena Tuhan telah mengaruniakan akal kepada manusia tanpa terkecuali. Dengan akal ini, manusia dapat mengetahui Tuhan beserta segala nikmat Nya dan dapat pula mengetahui perbuatan baik dan buruk, menerima suruhan dan larangan-Nya. Dengan demikian, nabi dengan segala fungsinya tidak diperlukan lagi. Bahkan, kitab suci pun tidak berguna untuk dibaca. Lebih berguna membaca buku filsafat Epicurus, Plato, Aristoteles, dan buku astronomi, logika, serta obat-obatan. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan yang diajarkan dalam Islam. Beriman kepada nabi nabi merupakan hal inti dalam ajaran agama ini. Atas dasar itu al-Farabi bereaksi keras. Baginya, pandangan Ibn al-Ruwandi di atas tidak dapat dibenarkan, khususnya dari sisi akidah Islam. Sebagai al-Mu‘allim al-Tsani (Guru Kedua), karena prestasinya dalam menjelaskan dan mengulas-ulang filsafat Aristoteles, al-Farabi mengkritik secara sistematik pandangan menyimpang al-Ruwandi di atas.
Penolakan Ibnu Arabi terhadap Pluralisme Agama Karomi, Kholid
KALIMAH Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.743 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i1.218

Abstract

Paham pluralisme agama yang berkembang akhir-akhir ini banyak mengambil legitimasinya dari para sufi. Dari situ, mereka beranggapan bahwa pemikiran pluralisme agama memang telah ada dalam tradisi intelektual Islam dan tentunya berdasarkan ajaran Islam. Padahal, legitimasi tersebut hanya merupakan hasil comot yang tidak mendasar. Salah seorang sufi yang paling sering menjadi objek kajian yang dituduh sebagai penyebar paham pluralisme agama ini adalah Ibnu Arabi. Dikatakan, Ibnu Arabi memiliki konsep wah}dat al-adyan yang merupakan cerminan paham pluralisme agama saat ini. Padahal, makna wah}dat al-wujud yang dipahami oleh para sufi yang sahih sebenarnya bukan dalam konteks agama atau dalam konteks panteisme, tapi dalam konteks hirarki wujud, di mana Allah dipahami sebagai Wujud Akhir yang Absolut (al Wujud al-Akhir al-Mutlaq) dan selain-Nya adalah wujud yang nisbi. Artikel ini ingin mengkritisi sikap para pluralis yang mendistorsi pemikiran Ibnu Arabi tentang pluralisme agama. Hal ini dipandang penting guna mengembangkan sikap kritis bagi para sarjana Muslim agar tidak asal comot dan menerima begitu saja pemikiran para pluralis yang terpengaruh para orientalis.
Historiografi Ulama Klasik dalam Tabaqat Salahuddin, Marwan
KALIMAH Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.656 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i1.223

Abstract

Tabaqat merupakan kumpulan biografi tokoh berdasarkan pelapisan generasi. Pada mulanya penulisan tabaqat digunakan dalam hubungannya dengan kritik hadis, yakni kritik sanad, tetapi dalam perkembangannya penulisan tabaqat menjadi lebih luas, mencakup para ilmuwan yang tidak termasuk dalam katagori ilmu keagamaan Islam. Tabaqat dapat diklasifikasikan sesuai dengan masa dan keahlian masing-masing, seperti tabaqat para sahabat, muhadditsin, penguasa pemerintah, ilmuwan dan sebainya. Sedangkan periodisasinya menurut Harun Nasution dibagi menjadi tiga, yaitu periode klasik, pertengahan, dan modern. Dalam pembidangan ilmu agama, tabaqat dapat dikelompokkan menjadi mufassirin, muhadditsin, fukaha, dan sufi. Historiografi tabaqat sangat besar nilainya, karena dari sini dapat dihimpun banyak informasi penting. Dengan tabaqat, kehidupan intelektual suatu daerah atau wilayah pada suatu masa tertentu dapat terungkap. Pada masa sekarang tabaqat dapat menjadi sumber utama dalam melakukan penulisan sejarah intelektual, darinya akan terungkap motivasi intelektualitas seorang ulama, ideologinya, orientasi berfikirnya, dan hal-hal lain yang mendukungnya. Karya-karya mereka sangat berguna bagi kehidupan masa kini dan masa depan sebagai suri tauladan.
Keadilan Islam dalam Persoalan Gender Mutawakkil, M. Hajir
KALIMAH Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.036 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i1.219

Abstract

Kesetaraan gender merupakan salah satu agenda utama gerakan feminisme. Sejak masuknya wacana gender ke dalam Islam, beberapa pemikir muslim ikut terpengaruh isu tersebut, dan hendak memaksakan konsep kesetaraan gender ke dalam ajaran Islam. Mereka berpandangan bahwa Islam yang datang pada masa Nabi itu memiliki kesamaan dengan konsep kesetaraan yang dibawa feminisme. Bahkan, aturan yang berlandaskan keadilan yang dibawa Islam itu, mengandung semangat kesetaraan. Akhirnya banyak dari teks-teks hukum dan ayat-ayat yang telah mengatur hubungan antara pria dan wanita dalam Islam dikaji ulang, dibongkar, dan diubah agar sesuai dengan perspektif kesetaraan gender. Permasalahannya, konsep kesetaraan banyak yang tidak sejalan bahkan bertentangan dengan konsep keadilan. Pertama, titik tekannya. Yang menjadi titik tekan dalam kesetaraan gender adalah persamaan kuantitas yang harus diperoleh, sehingga mengabaikan perbedaan antar laki-laki dan perempuan. Sementara dalam keadilan terpenuhinya kebutuhan tiap individu yang sesuai dengan karakteristik dan kapasitas masing-masing. Kedua, orientasinya. Kesetaraan berupaya meruntuhkan budaya patriarkat dan menuntut persamaan dan kebebasan. Sementara keadilan berusaha menyeimbangkan budaya patriarkat dan matriarkat sehingga laki-laki dan perempuan dapat menjalankan perannya secara harmonis sebagai khalifah dengan sangat baik. Ketiga, pandangan terhadap perempuan. Feminisme memandang laki-laki dan perempuan merupakan dua entitas yang berbeda. Sementara Islam memandang laki-laki dan perempuan adalah kesatuan yang berpasangan. Atas dasar itulah, maka konsep kesetaraan tidak dapat disamakan dengan keadilan.
Melihat Sekilas Imam Fakhral-Din al-Razi (544-606 H/1149-1209 M) Marpaung, Irwan Malik
KALIMAH Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.038 KB) | DOI: 10.21111/klm.v12i1.224

Abstract

Fakhr al-Din al-Razi adalah seorang pemikir klasik yang terpercaya. Pengetahuan nya meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti teologi, tafsir, hukum, bahasa, sastra, tasawuf, filsafat, kedokteran, fisika, astronomi, astrologi, matematika, dan lain-lain. Dalam hal fikih, al-Razi bermazhab Syafi’i, dalam filsafat terpengaruh Muhammad Zakaria al Razi dan Ibn Sina, sedang dalam hal fisika mengikuti jejak Abual-Barakat al-Baghdadi. Tidak berbeda dengan filosof yang anti-Aristotelian sebelumnya, al-Razi mencoba menyelaraskan agama dan filsafat rasional. Keunggulan al-Razi di berbagai bidang ini belum banyak digali sehingga menjadi tambahan bagi khazanah keilmuan Islam. Artikel ini hendak memaparkan beberapa pemikiran-pemikiran Fakhr al-Din al-Razi yang berkenaan dengan kalam, filsafat, fikih, dan ilmu pengetahuan lain yang dapat ditemukan dalam karya-karyanya yang sudah diterbitkan. Dengan harapan, artikel ini dapat berguna untuk lebih mengenalkan pemikiran-pemikirannya yang masih menunggu untuk dieksplorasi lebih serius.

Page 1 of 1 | Total Record : 10