cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
KALIMAH
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 11, No 1 (2013)" : 9 Documents clear
Antara Pluralisme Liberal dan Toleransi Islam Ryandi, Ryandi
KALIMAH Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.355 KB)

Abstract

Pluralitas keagamaan adalah sebuah fenomena natural yang terjadi di realitas kehidupan. Di tengah keberagaman perbedaan ideologi dan klaim kebenaran eksklusif (truth claim) yang ada, menuntut setiap pemeluk agama untuk mampu bertoleransi atas segala macam konsep yang dikandung oleh ideologi dan klaim kebenaran tersebut. Hal ini secara nyata menjadi sebuah implikasi logis karena dari tiap-tiap ideologi dan klaim kebenaran yang diajarkan akan mengarahkan pemeluknya untuk yakin terhadap setiap ajaran agama tersebut; termasuk klaim keselamatan. Namun dalam pandangan liberalisme, toleransi saja tidaklah cukup. Perlu ditanamkan paham pluralisme agama sebagai sebuah solusi untuk kerukunan umat beragama. Dengan kata lain, toleransi beragama dalam pandangan liberal adalah pluralisme agama. Pluralisme agama, sebagai bagian dari wacana Barat postmodern, berupaya untuk merelatifkan kebenaran agama-agama, sehingga tidak ada lagi kebenaran yang mampu diakui dalam agama manapun, termasuk Islam. Konsep ini tentu saja bertentangan dengan konsep toleransi dalam Islam yang mengakui keberadaan agama lain dalam ranah sosial tanpa harus adanya pemaksaan terhadap pengakuan kebenaran agama tersebut. Islam secara konseptual mengakui pluralitas, namun menolak tegas pluralisme.
Akar Kebudayaan Barat Zarkasyi, Hamid Fahmy
KALIMAH Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.355 KB)

Abstract

Dalam melacak sejarah kebudayaan yang dimiliki oleh suatu peradaban, penting untuk melakukan penelitian berdasarkan perspektif pandangan hidup. Hal ini dikarenakan setiap aktivitas keilmuan di suatu masyarakat akan membentuk cara pandang mereka terhadap dunia. Pandangan hidup yang dibangun di atas elemen-elemen ilmiah inilah yang kemudian mengkonstruk budaya-budaya masyarakat tersebut. Pandangan hidup tentunya tidak mungkin terbentuk sendirian. Ia akan bertemu, berkenalan, serta berasimilasi dengan pandangan hidup peradaban-peradaban lain.Teori ini diakui oleh banyak ahli sebagai struktur yang menentukan lahirnya budaya-budaya dari peradaban manapun, termasuk Barat. Barat, dalam melahirkan budayanya juga bergantung terhadap Pandangan Hidup Barat. Pandangan Hidup Barat, ternyata dalam sejarahnya berhubungan sangat intens dengan Pandangan Hidup Islam yang termanifestasikan dalam konstruk peradaban yang tercakup pula di dalamnya konsep-konsep budaya. Pandangan Hidup Islam memberikan pengaruh besar terhadap konstruk Pandangan Hidup Barat, termasuk terhadap konsep-konsep budaya Barat.”
Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup Rizal Maulana, Abdullah Muslich
KALIMAH Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.355 KB)

Abstract

Dalam perspektif Barat Postmodern, wacana-wacana yang menjadi produk pemikiran senantiasa bernuansakan relativism, equality, nihilism, dan reconstruction. Produk-produk pemikiran ini, tidak bisa dilepaskan dari pandangan hidup Barat yang profan, terbentuk selama sekian ratus tahun pengalaman teologis, sosiologis, dan historis Barat. Pandangan hidup inilah yang hari ini –era Barat Postmodern- menjadi pijakan Barat untuk memberikan tanggapan-tanggapan atas fenomena yang ada di Barat, termasuk feminisme dan gender. Islam, sebagai sebuah Agama dan Ideologi secara konseptual tentunya juga telah membentuk konsep pandangan hidup yang diproyeksikan oleh nash berupa al-Qur’an dan al-Hadis. Kedua sumber primer dalam Islam inilah yang diderivasi daripadanya konsep-konsep tentang Tuhan, Alam, Ilmu, Akal, Jiwa, dan lain sebagainya sebagai spektrum yang mengatur sudut pandang Umat Islam dalam melakukan segala hal. Kaitannya di sini, Pandangan hidup Islam diperlukan guna mengamati, menganalisa, hingga tahap mengkritisi wacana feminisme dan gender yang merupakan produk pandangan hidup Barat. Pandangan hidup Islam dituntut untuk memberikan pandangan-pandangan dan tanggapan yang proporsional terhadap produk Pandangan Hidup Barat yang memiliki perbedaan secara konseptual dengan pandangan hidup Islam.
Inquisisi Gereja: Noda Hitam Sejarah Barat Husaini, Adian
KALIMAH Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.355 KB)

Abstract

Sebagai salah satu pijakan untuk mendudukkan perspektif dalam memahami fase yang berkembang dalam politik Barat Kristen, adalah mengkaji Inkuisisi Gereja. Ia nyatanya adalah sebuah Institusi Gereja yang di perjalanannya belah menorehkan sejarah hitam. Inkuisisi, tidaklah berlebihan jikalau dikatakan sebagai simbol nyata kekerasan yang dilakukan Barat Kristen terhadap perlawanan-perlawanan yang muncul dari akar rumput masyarakat; baik dari pemeluk agama lain, maupun pemeluk agama Kristen yang dianggap keluar mainstream. Namun perlu dicatat, bahwasanya ternyata Inquisisi Gereja ini telah menghasilkan sebuah infiltrasi yang teradopsikan kepada bidang Studi Islam (Islamic Studies). Bermodalkan studi sejarah Barat, muncullah perspektif yang terkesan menyamaratakan situasi sejarah politik kedua agama. Hal ini tentunya menjadi sebuah problematika yang fatal, di mana perbedaan konseptual agama-agama –dalam kasus ini Islam dan Kristen- menjadi sesuatu yang tidak diindahkan. Identitas setiap agama tentunya tidak mungkin disamaratakan hanya berdasarkan polemik dari satu sudut. Penting tentunya diadakan sebuah identifikasi masalah secara eksklusif guna mengambil langkah yang jelas. Dalam hal ini, gereja memberikan sebuah solusi; sekularisasi.
Tuhan dalam Mistik Islam Kejawen (Kajian atas Pemikiran Raden Ngabehi Ranggawarsita) Karomi, Kholid
KALIMAH Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.355 KB)

Abstract

Masyarakat Jawa yang terkenal masyarakat yang religious. Namun, di antara mereka terdapat golongan yang memiliki pandangan yang sinkretis. Dalam artian, bahwa mereka cenderung mengkompromikan hal-hal yang agak berbeda bahkan bertentangan dengan agama. Sinkretis juga berarti bahwa mereka cenderung berpandangan tidak mempersoalkan benar atau salah dalam beragama, murni atau tidaknya agama, sehingga semua agama dilihatnya benar. Raden Ngabehi Ranggawarsita adalah tokoh yang mewakili pandangan ini yang dibesarkan oleh proses akulturasi dua tradisi besar, tradisi keislaman dan tradisi kejawen. Tradisi keislaman diperoleh dari perjalanan hidupnya selama di pesantren dan tradisi kejawen diperoleh dari lingkungan Keraton Surakarta. Akulturasi dua tradisi pemikiran besar tersebut berkonsekuensi kepada pembentukan pemikirannya yang bercorak kejawen sekaligus bercorak keislaman. Maka, konsep ketuhanan yang digagas oleh Ranggawarsita pun tidak sepenuhnya mewakili nilai-nilai fundamental Islam, yaitu tauhid. Paham Manunggaling Kawula-Gusti yang digagas Ranggawarsita menunjukkan pandangannya yang sinkretis dan akulturis. Yaitu antara pandangannya sebagai seorang muslim dan pandangannya sebagai penganut kejawen atau kebatinan. Makalah ini akan melihat secara kritis pandangan ketuhanan Ranggawarsita tersebut.
Pengaruh Skeptisisme terhadap Konsep World Theology dan Global Theology Saifulloh, Ahmad
KALIMAH Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.355 KB)

Abstract

Skeptisisme, dalam kajian sosio-historis filsafat di Barat, ternyata memiliki porsi yang cukup besar dibandingkan dengan teori-teori kebenaran yang berdampingan dengannya. Skeptisisme di sini berarti adalah mendudukkan sudut pandang yang hati hati, curiga, dan tidak langsung menjustifikasi teori kebenaran yang diterima. Dengan segala macam implementasi yang dihasilkannya dalam diskursus filsafat, skeptisisme telah menjadi salah satu metode untuk mencapai kebenaran. Namun kaitannya dalam wacana yang berbau teologis, ternyata memberikan efek yang berbeda. Skeptisisme telah dengan jelas mempengaruhi salah satu produk postmodern; pluralisme agama. Skeptisisme telah menjadikan standar kebenaran agama-agama tidaklah lagi berdasarkan doktrin mutlak (truth claim) yang secara esensial dimiliki oleh tiap-tiap agama, namun justru kebenaran adalah yang kembali pada subjektivitas manusia. Konsep Teologi Dunia (World Theology) yang dipaparkan oleh Wilfred Cantwell Smith serta konsep Teologi Global (Global Theology) yang dipopulerkan oleh John Hick adalah dua wacana kesetaraan agama-agama yang nyata terpengaruhi skeptisisme.
Riffat Hassan dan Wacana Baru Penafsiran Bidayah, Afifah
KALIMAH Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.355 KB)

Abstract

Dalam wacana pembebasan perempuan yang dielu-elukan oleh penganut kesetaraan gender, Hermeneutika memiliki peran yang cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dengan memperhatikan fungsi Hermeneutika yang dipandang mampu merekonstruksi ayat-ayat (nash) yang dianggap misogyny alias bias gender. Salah satu tokoh yang cukup giat mempraktikkan Hermeneutika sebagai salah satu alat untuk ‘menemukan kembali’ hak-hak wanita di dalam nash, adalah Riffat Hassan. Riffat, dengan segala upayanya mencoba untuk menginterpretasikan ulang makna-makna dalam al Qur’anterkait dengan wacana Gender. Bagi Riffat, budaya patriarki yang mendarah daging adalah implikasi dari pemahaman nash yang bersifat hegemonik, di mana Tafsir, senantiasa didominasi peranannya oleh kaum lelaki. Perempuan, bagi Riffat memiliki hak-hak dan kewajiban dalam porsi yang ‘sama’ secara kuantitas tanpa harus memikirkan konsekuensi logis yang hadir daripadanya.
Mencermati Inklusivisme Agama Nurcholish Madjid Ulfa, Maria
KALIMAH Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.355 KB)

Abstract

Dalam wacana pluralitas agama, dikenal istilah Teologi Inklusif. Teologi ini, secara umum dapat diungkapkan sebagai pandangan yang memandang adanya kebenaran dalam agama-agama lain, meski tetap dalam keadaan memeluk agamanya ketika itu. Teologi Inklusif, telah dipopulerkan di Indonesia oleh salah seorang cendekiawan modernis bernama Nurcholish Madjid (Cak Nur). Teologi ini merupakan alternatif jawaban atas kekerasan dan konflik agama. Konflik ini merupakan refleksi dari klaim keselamatan yang ada dalam agama-agama. Secara konseptual, ternyata Teologi Inklusif (Inklusivisme Agama) justru bukannya menjadi solusi atas sekian problematika keagamaan, tapi justru menjadi masalah baru karena mereduksi makna dan identitas agama. Sebagai contoh pergeseran makna Islam dari “organized religion” menjadi “submission” merupakan kesalahan fatal yang lahir dari konsep Teologi Inklusif ini. Makalah ini ingin mengkritik konsep Teologi Inklusif Cak Nur tersebut.
مقامات القلب وعلاقتها بالأخلاق عند الحكيم الترمذي سيف يساك, محمد حرير
KALIMAH Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.355 KB)

Abstract

عرف الحكيم الترمذي بأنه من الصوفية المتقدمين في القرن الثالث الهجري، وله تصور خاص عن القلب المسمى بمقامات القلب. وأن مقامات القلب هو اسم خاص يقتضي بمقامات الباطن هي الصدر والقلب والفؤاد واللب. كما أن الأخلاق الجميلة هي الأبواب المفتوحة من القلب إلى نعيم الجنان وجوار الرحمن، والأخلاق الخبيثة أمراض القلوب وأسقام النفوس إلا أنه مرض يفوت حياة الأبد. فالقلب على وجه كل لها علاقة المتينة بالأخلاق في الحية الفردية. إذا صلحت القلب صلح الجسد كله، وإذا فسدت القلب فسد الجسد كله.

Page 1 of 1 | Total Record : 9