cover
Contact Name
Rizky Abdulah
Contact Email
r.abdulah@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
editorial@ijcp.or.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia
ISSN : 22526218     EISSN : 23375701     DOI : -
Core Subject :
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy (IJCP) is a scientific publication on all aspect of clinical pharmacy. It published 4 times a year by Clinical Pharmacy Master Program Universitas Padjadjaran to provide a forum for clinicians, pharmacists, and other healthcare professionals to share best practice, encouraging networking and a more collaborative approach in patient care. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy is intended to feature quality research articles in clinical pharmacy to become scientific guide in fields related to clinical pharmacy. It is a peer-reviewed journal and publishes original research articles, review articles, case reports, commentaries, and brief research communications on all aspects of Clinical Pharmacy. It is also a media for publicizing meetings and news relating to advances in Clinical Pharmacy in the regions.
Arjuna Subject : -
Articles 396 Documents
Ganoderma lucidum Polysaccharide Peptide (GLPP) for the Cancer Treatment Rasjidi, Imam; Susanto, Christine
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.827 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.2.120

Abstract

Ganoderma lucidum mushroom (also known as Ling Zhi in China, Mannetake /Reishi in Japan) has been widely used for thousands of years to prevent and treat various diseases, such as heart disease, diabetes mellitus, viral infection, and cancer. Polysaccharides from Ganoderma lucidum has been extensively investigated for free radical scavenging activity. Both in vivo and in vitro studies suggest that G. lucidum have anti-tumor effects, which mediated by its immunomodulatory, anti-angiogenesis, and cytotoxiceffects. Ganoderma lucidum polysaccharide peptide (GLPP) which extracted from Ganoderma lucidum mycelium tissue culture, give the best quality of β-D-Glucans bioactive compounds. These biologically active glucans interact with receptors on the surface of immune cells such as macrophage and natural killer cell (NK cell) to induce immunomodulatory and tumoricidal effects. However, many studies still need to answer those mechanisms.Key words: Anti-tumor effects, β-Glucan, Ganoderma lucidum, GLPP, immunomodulatory activityGanoderma lucidum Polysaccharide Peptide (GLPP)untuk Terapi KankerJamur Ganoderma lucidum (dikenal juga dengan nama Ling Zhi di China, atau disebut sebagai Mannetake/Reishi di Jepang) telah dimanfaatkan secara luas selama ribuan tahun untuk mencegah dan mengobati beragam penyakit, seperti penyakit jantung, diabetes melitus, infeksi virus, bahkan kanker. Polisakarida dari Ganoderma lucidum telah banyak diteliti untuk aktivitas radikal bebasnya. Baik studi in vivo maupun in vitro menyatakan G. lucidum memiliki efek anti tumor, yang dimediasi oleh aktivitas imunomodulator, anti-angiogenesi, dan sitotoksik. Ganoderma lucidum polysaccharide peptide (GLPP) yang diekstrak dari kultur jaringan miselium Ganoderma lucidum memberikan kualitas terbaik dari senyawa bioaktif β-D-glucans. Senyawa bioaktif glukans ini yang berinteraksi dengan reseptor di permukaan sel-sel imun, seperti makrofag dan NK cell yang dipercaya memberikan efek imunomodulator dan tumorisidal. Meskipun masih diperlukan banyak studi lanjutan untuk menjawab mekanisme dari GLPP.Kata kunci: Anti-tumor, β-Glucan, GLPP, Ganoderma lucidum, imunomodulator
Analisis Kejadian Leukositosis Pasca Terapi Aminofilin Intravena Dibandingkan dengan Salbutamol Nebulasi pada Pasien Eksaserbasi Asma Lorensia, Amelia; Ikawati, Zullies; Andayani, Tri M.; Maranatha, Daniel; Wahjudi, Mariana
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.986 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2016.5.3.149

Abstract

Salbutamol adalah terapi lini pertama untuk mengatasi gejala eksaserbasi asma. Aminofilin sudah tidak digunakan karena merupakan obat rentang terapi sempit yang sering menimbulkan adverse drug reaction (ADR). Kedua terapi tersebut dapat menimbulkan peningkatan kadar leukosit terkait ADR yang dapat memengaruhi terapi lain. Penelitian ini bertujuan membandingkan kejadian leukositosis antara terapi salbutamol nebulasi yang merupakan terapi lini pertama dengan aminofilin intravena yang sering digunakan di beberapa tempat untuk terapi eksaserbasi asma. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimental dengan pengukuran profil leukosit darah sebelum dan sesudah intervensi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2014–Juni 2015 di beberapa rumah sakit di Surabaya, Indonesia. Kejadian leukositosis terkait ADR pada kelompok aminofilin (n=2) dengan nilai skala naranjo sebesar 6 poin yang kemungkinan besar merupakan ADR. Perubahan profil darah yang terjadi pada kedua pasien hanya pada kadar leukosit saja sedangkan data darah lainnya normal. Oleh karena itu, profil darah pada penggunaan kedua terapi dalam eksaserbasi asma perlu dipantau secara berkesinambungan agar tidak memengaruhi rekomendasi penambahan terapi lainnya.Kata kunci: Aminofilin, eksaserbasi asma, leukositosis, salbutamolPost-Therapy Leukocytosis Events After Intravenous Aminophylline Compared to the Nebulized Salbutamol in Asthma Exacerbations Patients Salbutamol known as the first-line therapy for asthma exacerbations symptoms relieving. Aminophylline are now no longer used because of its narrow therapeutic range of drugs and frequently provoking adverse drug reaction (ADR). Both of these therapies can lead to ADR-related leukocytes level increasing that interfere the concurrent therapies. This study was aimed to compare the state of leukocytosis after therapy with salbutamol nebulizer therapy as the first-line therapy with intravenous aminophylline for the treatment of asthma exacerbations. Quasi experimental method was used in this study, with blood leukocytes profile measure before and after the intervention body temperature measurement as data supplement. This research was conducted in January 2014–June 2015 at several hospitals in Surabaya, Indonesia. The incidence of ADRs associated leukocytes in aminophylline group (n=2) with a value scale naranjo by 6 points, most likely ADR. Significant difference found only in leukocyte level in two patient. More biomarkers profiles should be monitored assording to concurrent therapies for asthma exacerbation.Keywords: Aminophyiline, asthma exacerbation, leukocytosis, salbutamol
Health-Related Quality of Life of Type 2 Diabetes Mellitus Outpatients at Dr. Sardjito Hospital, Yogyakarta, Indonesia: An Insulin-Based Therapy Approach Lolita, Lolita; Andayani, Tri M.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.595 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.4.231

Abstract

Diabetes mellitus type 2 is a lifelong disease which needs an intensive therapy to maintain stable blood sugar levels. Insulin has been proven as an effective treatment modality for type 2 diabetes mellitus patient. The main aim of this research was to evaluate the effect of insulin based therapy (insulin monotherapy-combination therapy of insulin with oral hypoglycemic agents) towards the health related quality of life in type 2 diabetes mellitus outpatient at Dr. Sardjito Hospital, Yogyakarta. This study is a descriptive cross-sectional study design without control. The methods of collecting data includes conducting questionnaires, interviews and examining medical records of patient. Data were taken concurrently from patients who visited Endocrinology Clinic of Dr. Sardjito Hospital from July 2012 until April 2013. Inclusion criteria for the participant were as follows: participant was a type 2 diabetes mellitus outpatient with insulin based therapy, had no languange barrier and was able to participate the study. Participants were excluded in this study if they had a mental and language retardation, uncomplete medical records, and was a pregnant woman. The quality of life was measured by Diabetes Quality of Life Clinical Trial Quessionnaire (DQLCTQ). The statistical analysis used in this study was Mann‑Whitney for QoL analysis based on the type of therapy (insulin monotherapy and combination therapy of insulin-oral hypoglycemic agents). The results from 137 patients shown that patients who received combination therapy had the largest percentage (73%) while the smallest percentage (27%) were single therapy. Whereas, the type of therapy (insulin monotherapy-combination therapy of insulin with oral hypoglycemic agent) significantly influenced the energy domain (p=0,027).Keywords: Health related quality of life, insulin based therapy, type 2 diabetes mellitusKualitas Hidup Terkait Kesehatan dari Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito, Yogyakarta, Indonesia: Suatu Pendekatan Terapi Berbasis InsulinDiabetes melitus tipe 2 adalah penyakit yang membutuhkan terapi intensif seumur hidup untuk menjaga kestabilan kadar gula darah. Insulin terbukti menjadi salah satu modalitas pengobatan yang efektif bagi pasien diabetes melitus tipe 2. Tujuan utama penelitian ini adalah mengevaluasi perbedaan terapi berbasis insulin (terapi insulin dengan atau tanpa agen hipoglikemik oral) terhadap domain kualitas hidup terkait kesehatan pada pasien rawat jalan diabetes melitus tipe 2 di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional tanpa kontrol. Metode pengumpulan data meliputi wawancara, pengambilan kuesioner dan pemeriksaan rekam medis pasien. Data diambil secara konkuren terhadap pasien yang berkunjung ke Polikinik Endokrinologi RSUP Dr. Sardjito mulai bulan Juli 2012 sampai April 2013. Kriteria inklusi antara lain penderita rawat jalan tipe 2 dengan terapi berbasis insulin, tidak memiliki keterbatasan bahasa dan bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Kriteria eksklusi meliputi pasien yang mengalami keterbelakangan mental dan bahasa, catatan medis yang tidak lengkap dan wanita hamil. Pengukuran kualitas hidup menggunakan kuesioner dari Diabetes Quality of Life Clinical Trial Quessionnaire (DQLCTQ). Analisis statistik perbedaan jenis terapi berbasis insulin terhadap domain kualitas hidup pasien menggunakan uji statistik Mann-Whitney. Diperoleh responden sebanyak 137 orang di mana 73% pasien memperoleh terapi kombinasi sedangkan sisanya 27% mendapatkan terapi tunggal yang berbasis insulin. Kesimpulan penelitian ini yaitu perbedaan jenis terapi (monoterapi insulin versus kombinasi insulin dengan agen hipoglikemik oral) secara signifikan memengaruhi domain energi pada kualitas hidup (p=0,027).Kata kunci: Kualitas hidup terkait kesehatan, terapi berbasis insulin, diabetes melitus tipe 2
Kontrol Glikemik dan Prevalensi Gagal Ginjal Kronik pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Wilayah Provinsi DIY Tahun 2015 Ningrum, Vitarani Dwi Ananda; Ikawati, Zullies; Sadewa, Ahmad Hamim; Ikhsan, Mohammad Robikhul
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.312 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.2.78

Abstract

Pengendalian glikemik yang baik pada diabetes melitus tipe 2 (DMT2) terbukti dapat mencegah penyakit komplikasi akibat DMT2. Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan primer merupakan garda terdepan yang diharapkan dapat memberikan pelayanan pengelolaan DMT2 dengan baik untuk mencegah penyakit komplikasi seperti penyakit gagal ginjal kronik (GGK). Kejadian GGK yang seringkali tanpa gejala spesifik serta keterbatasan pemeriksaan diagnostik di puskesmas menyebabkan keterlambatan diagnosa GGK maupun pengelolaan terapi yang sub-optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontrol glikemik dan kejadian GGK pada pasien DMT2 di puskesmas serta faktor pasien yang memengaruhi kontrol glikemik dan kejadian GGK. Penelitian potong-lintang pada 6 puskesmas di Yogyakarta tahun 2015 ini melibatkan pasien DMT2 dewasa tanpa riwayat gagal hati kronik. Parameter kontrol glikemik menggunakan Glukosa-Darah-Puasa (GDP), Glycated-Albumin (GA), atau hemoglobin terglikasi (HbA1C), sedangkan nilai eLFG digunakan sebagai dasar klasifikasi GGK. Sebanyak 101 pasien dengan rata-rata usia 50,75±6,73 tahun terlibat dalam penelitian. Kontrol glikemik kategori baik ditemukan hanya pada 13,86% pasien, sedangkan 12,87% pasien mengalami GGK. Tidak ada faktor pasien yang memengaruhi kontrol glikemik. Sementara itu, usia dan durasi DMT2 berkorelasi dengan kejadian GGK (p<0,01). Berdasarkan penelitian ini, kontrol glikemik yang buruk dapat meningkatkan kemungkinan kejadian GGK sebesar 63,64%. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan DMT2 maupun pencegahan GGK yang lebih baik termasuk penyediaan fasilitas pemeriksaan yang memadai untuk meminimalkan kejadian clinical inertia di puskesmas.
Analisis Penyebaran dan Genotipe Rubela di Jawa Barat Tahun 2011–2013 Hardiana, Acep T.; Raksanagara, Ardini S.; Judistiani, Rd. Tina D.; Widhiastuti, Dyah; Bachtiar, Novilia S.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.075 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.1.1

Abstract

Penyakit rubela menyebar di seluruh dunia dan berbahaya bagi ibu hamil karena dapat menyebabkan abortus, kematian janin atau sindrom rubela kongenital (congenital rubella syndrome/CRS) hingga 90%. Penyebaran dan identifikasi genotipe rubela di Indonesia penting untuk memastikan adanya virus endemis atau importasi yang menyebar di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran dan genotipe rubela di Jawa Barat dalam upaya pencegahan yang efektif. Penelitian ini dilakukan dengan memeriksa sampel urin penderita suspect campak menggunakan protokol WHO melalui tahapan isolasi pada sel vero, uji PCR, uji sekuensing, dan analisis hasil sekuensing. Sampel diambil dari program surveilans campak-rubela nasional pada tahun 2011 ̶ 2013. Sebanyak 251 sampel urin yang diperiksa, diperoleh hasil sebanyak 32 sampel (12,7%) positif. Sebanyak 28 kasus (87,5%)merupakan genotipe 1E sedangkan sisanya 4 kasus (12,5%) merupakan genotipe 2B. Penyebaran virus rubela terutama terjadi di Kabupaten Kuningan, Garut, Tasikmalaya, Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kota Tasikmalaya. Pencegahan penyebaran penyakit rubela dan surveilans CRS di wilayah endemis perlu menjadi prioritas untuk memutus rantai penularan.Kata kunci: Genotipe rubela 1E, genotipe rubela 2B, epidemiologi rubela Distribution and Genotypic Analysis of Rubella Virus in West Java on 2011–2013Rubella spreads around the world and dangerous especially for pregnant women because it can cause abortion, fetal death or congenital rubella syndrome (CRS) almost 90% cases. Spread and identification of rubella genotypes in Indonesia is important to ensure the indigenous or importation virus. The purpose of this study was to determine the rubella genotype distribution and spread in West Java in  effective prevention efforts. This study was conducted by examining the urine samples of suspect measles patients using WHO protocol through the virus isolation in vero cells, PCR, DNA sequencing, and analysis of the sequencing results. Samples taken from the measles-rubella surveillance program nationwide in 2011 ̶ 2013. Of the 251 urine samples were examined, 32 samples (12.7%) were positive. A total of 28 cases (87.5%) were genotype 1E while the remaining 4 cases (12.5%) were genotype 2B. Rubella virus spread primarily occurs in District of Kuningan, Garut, Tasikmalaya, Bandung City, Cimahi City, andTasikmalaya City. Prevention of the rubella diseases and CRS surveillance in endemic areas should be priority task to break the chain of transmission.Key words: Rubella genotype 1E, rubella genotype 2B, rubella epidemiology
Sterilitas Instrumen Pakai Ulang di Ruang Penyimpanan Unit Luka Bakar (ULB) Salah Satu Rumah Sakit di Kota Bandung Kurniawansyah, Insan S.; Warya, Sohadi; Rahayu, Hegandari S.; Putri, Dionice L. Y.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.02 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.2.98

Abstract

apabila sterilitasnya tidak terjaga. Proses penyimpanan dan perlakuan terhadap instrumen pakai ulang adalah faktor utama dalam menjaga sterilitas instrumen. Prevalensi infeksi nosokomial di ruang unit luka bakar (ULB) salah satu rumah sakit di Kota Bandung ternyata cukup tinggi sehingga dilakukan penelitian mengenai sterilitas instrumen pakai ulang yang disimpan di ruangan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk dapat menekan angka kejadian infeksi nosokomial, yang salah satunya disebabkan oleh tidak sterilnya instrumen pakai ulang yang digunakan di ruang penyimpanan ULB yang akhirnya dapat menjamin keamanan atau keselamatan pasien. Metode penelitian yang digunakan adalah observasional laboratorik dengan tahapan yaitu penyiapan alat, bahan dan ruangan, pengujian sampel penelitian, dan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang penyimpanan ULB berpengaruh secara signifikan terhadap sterilitas instrumen pakai ulang, ruang CSSD 15,47 kali lebih steril dibanding ruang ULB. Adapun pengaruh lama penyimpanan terhadap sterilitas instrumen pakai ulang diketahui bahwa semakin lama waktu penyimpanan maka sterilitas instrumen semakin berkurang. Pihak rumah sakit diharapkan melakukan penyimpanan dan penggunaan instrumen di ULB tidak lebih dari tujuh hari sebagai usaha dalam mengurangi kejadian infeksi nosokomial di rumah sakit.Kata kunci: Infeksi nosokomial, instrumen pakai ulang, uji sterilitas, unit luka bakar (ULB)The Reusable Instrument Sterilities Stored in the Burn Care Unit at a Hospital in BandungReusable instruments may be a vector for the transmission of nosocomial infections if found contaminated or the sterility are not maintained. The process of storage and treatment towards the reusable instruments are the crucial factors to ensure the sterility of the reusable instruments. The prevalence of nosocomial in the Burns Unit (BU) at a Hospital in Bandung reveals outstanding values and thus has been chosen for this research. This research aimed to suppress the incidence of nosocomial infections, one of which is caused by not sterile of reusable instruments in the storage space BU which can get patient safety ultimately. The laboratory observational was used for this research with steps are preparing tools, materials and test room, sample test, and data analysis. The results found that the storage area in BU had a significant effect on the sterility of the instruments and it was deduced that the CSSD was 15.47 times more sterile than Burns Unit. Time of storage also affected the sterility of the instruments as it was found that the longer the storage time, the possibility of the reusable instruments remaining sterile are decreased. The hospital is expected to keep the instrument in ULB not more than seven days to efforts in reducing the incidence of nosocomial infections in hospitals.Key words: Burns unit (BU), nosocomial infection, reusable instrument, sterility test
Kompatibilitas Pencampuran Sediaan Parenteral di Bangsal Bedah Saraf RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Maharani, Laksmi; Astuti, Aris W.; Achmad, Anisyah
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.209 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2014.3.1.1

Abstract

Pencampuran sediaan parenteral (iv admixture) yang sudah dilaksanakan secara umum di rumah sakit mempunyai kemungkinan terjadinya kegagalan baik berupa inkompatibilitas obat maupun gangguan stabilitas obat. Penelitian ini bertujuan mengetahui angka inkompatibilitas obat dalam pencampuran sediaan parenteral di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto yang mengalami inkompatibilitas fisika yang teramati secara organoleptis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif prospektif. Data yang telah dikumpulkan lalu dianalisis secara deskriptif. Dari 667 pencampuran sediaan parenteral di bangsal bedah saraf RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo selama bulan Februari 2010, dapat disimpulkan angka inkompatibilitas potensial sebesar 0,45% dan inkompatibilitas aktual sebesar 2,55%. Inkompatibilitas aktual yang terjadi berupa kristal 0,17%, endapan 0,17%, dan kabut sementara 2,04% pada pencampuran fenitoin dengan NaCl atau ringer laktat.Kata kunci: Bedah saraf, inkompatibilitas, iv admixtureParenteral Admixture Compatibility in Neurosurgery Ward in Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional Public HospitalParenteral admixtures (intravenous admixtures) have been done commonly in hospitals. However, it has a possibility of failures, like incompatibilities and changes in drug stabilities. The aim of this study was to determine the rate of drug incompatibilities in mixing parenteral preparations in neurosurgery ward in Prof. Dr. Margono Soekarjo Regional Public Hospital which undergo physical incompatibility  observed in organoleptic. This study was a prospective descriptive research for one month period. Data were collected and analyzed descriptively. The results showed that from 667 parenteral admixtures in neurosurgery ward in Prof Dr Margono Soekarjo Hospital in February 2010, there were 0.45% potential incompatibility and 2.55% actual incompatibility happened. Actual incompatibility shown as crystal 0.17%, sediment 0.17%, and 2.04% was non-permanent haze in phenytoin and sodium chloride or ringerlactate admixtures.Key words: Incompatibility, iv admixture, neurosurgery
Monitoring Terapi Warfarin pada Pasien Pelayanan Jantung pada Rumah Sakit di Bandung Putri, Norisca A.; Lestari, Keri; Diantini, Ajeng; Rusdiana, Taofik
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.259 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui monitoring terapi warfarin untuk menjamin ketepatan dosis,keamanan terapi, dan mengetahui apakah dosis terapi warfarin yang digunakan telah memenuhi kriteria  penggunaan obat warfarin yang rasional. Derajat antikogulasi setiap pasien diukur dengan parameter waktu protrombin yang dinyatakan dengan International Normalized Ratio (INR). Metode Penelitian meliputi monitoring terapi warfarin terhadap 80 pasien di pelayanan jantung melalui PT-INR, pendataanklinis pasien meliputi, usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, jenis penyakit, dosis yang digunakan dan obat lain yang dikonsumsi secara bersamaan. Hasil monitoring menunjukkan rata-rata INR pasien yaitu 1,38± 0,42 hasil ANAVA (α = 0,05) menunjukkan tidak ada pengaruh dosis terhadap INR(p=0,13) tetapi ada pengaruh pada umur (p =0,014), hasil uji beda (α = 0,05) menunjukkan tidak ada perbedaan terhadap rata-rata INR berdasarkan jenis kelamin (p =0,051), umur (p =0,397), dan variasi dosis (p = 0,057). Hasil tersebut menunjukkan bahwa dosis warfarin belum mencapai target terapi INR (2–3).Kata kunci: Warfarin, penyakit trombotik, PT-INR Warfarin Therapy Monitoring of Cardiac Care Patients in Hospital in BandungAbstractThe aims of this study were to identify the rational warfarin monitoring therapy to guarantee the rightdose, therapy security, and whether the dose of warfarin therapy has completed the rational criteria ornot. Degree of antikoagulasi for each patient is measured with protombin time as International Normalized Ratio (INR). The methods consist of warfarin monitoring therapy towards 80 patients at the heart service through the PT-INR constant, medical data, such as age, gender, weight, height, type of the disease, dose usage and another medicine which is used together, and statistical test of the average of INR. The monitoring result shows that patient’s INR average is 1,38 ±0,42, the result of ANAVA (α=0,05)shows that there’s no impact of dose towards INR (p=0,13) but there’s an INR average impact basedon gender (p=0,051), age (p=0,397) and dose variation (p=0,057). The results shown that warfarin dose which used is not bleeding risk.Key words: Warfarin, trombotic disease, PT-INR
Rasionalitas Penggunaan Antibiotik di Salah Satu Rumah Sakit Umum di Bandung Tahun 2010 Sholih, Mally G.; Muhtadi, Ahmad; Saidah, Siti
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.881 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.1.64

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat karena intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi dapat menimbulkan berbagai permasalahan dan ancaman global bagi kesehatan terutama resistensi bakteri terhadap antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan jumlah dan pola penggunaan antibiotik pada pasien di salah satu rumah sakit pemerintah di Kota Bandung. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif dengan pengambilan data secara retrosfektif. Data penggunaan antibiotik pada tahun 2010 diperoleh dari rekapitulasi pengeluaran instalasi farmasi dari bulan Januari–Desember 2010. Pengambilan data dilakukan dari bulan Juni–Juli 2011 di salah satu rumah sakit umum pemerintah tipe B. Data yang diperoleh kemudian diolah dan diklasifikasikan. Pengolahan data penggunaan antibiotik dilakukan dengan metode ATC/DDD dan segmen DU 90%. Hasil penelitian penggunaan antibiotik pada tahun 2010 adalah 95719,01 DDD. Antibiotik yang masuk pada segmen DU 90% ada 5 golongan (penisilin, sefalosporin, kuinolon, makrolida dan sulfonamida). Pola penggunaan antibiotik pada caturwulan ke-1 yang memenuhi segmen DU 90% yaitu penisilin, sefalosforin, kuinolon, dan makrolida. Pada caturwulan ke-2 dan caturwulan ke-3 ada lima golongan antibiotik yang masuk dalam segmen DU 90% yaitu penisilin, sefalosforin, kuinolon, makrolida, dan sulfonamida. Penelitian menyimpulkan bahwa pada caturwulan ke-1 hingga caturwulan ke-3 terjadi peningkatan persentase penggunaan dan jumlah golongan antibiotik yang masuk ke dalam segmen DU 90%.Kata kunci: Antibiotik, ATC/DDD, segmen DU 90%Rationality Antibiotic Use at One of Public Hospital in Bandung 2010The inappropriate antibiotic use was caused by using of high relatively the antibiotic so that have caused global threat and health problems especially antibiotic resistance. The objective of this study is to determine quantity and pattern of patient antibiotic use at one of hospital in Bandung. The study method was utilized descriptively and was obtained retrospectively. The antibiotic use data on 2010 was obtained from pharmacy department recapitulation on January–December 2010. Data was taking on January–December 2011 at one of type B hospital in Bandung. The data was processed and classified. The antibiotic use data has processed using ATC/DDD method and DU 90 % segment. The result showed that antibiotic use on 2010 was 95719,01 DDD. There were 5 groups of antibiotic class in DU90% segment (penicillin, cephalosporin, quinolone, macrolide, and sulphonamide) . The antibiotics use pattern in the first quarter in DU 90% segment werepenicillin, cephalosporin, quinolone, and macrolide. There were 5 groups within second and third quarter in DU90% were penicillin, cephalosporin, quinolone, macrolideand sulphonamide. It can be concluded that the antibiotic use in first to third quarter have decreased percentage and number antibiotic groups in DU90% segment.Key words: Antibiotics, ATC/DDD, DU90% segment
Analisis Minimalisasi Biaya Terapi Antihipertensi dengan Kaptopril-Hidroklorotiazid dan Amlodipin-Hidroklorotiazid di Salah Satu Rumah Sakit Kota Bandung Faramitha, Andini; Prihartanto, Budhi; Destiani, Dika P.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.286 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.3.220

Abstract

Keberhasilan terapi hipertensi stage 2 dapat ditunjang dengan adanya pemberian antihipertensi. Beragamnya alternatif terapi antihipertensi menjadikan studi farmakoekonomi diperlukan agar diperoleh terapi yang efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari kelompok kombinasi antihipertensi yang lebih efisien dalam hal biaya (minimalisasi biaya) yang digunakan pada pasien hipertensi stage 2 yang dirawat di salah satu rumah sakit swasta Kota Bandung periode tahun 2011–2013. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif. Pengambilan data dilakukan dengan mengambil rekam medis pasien rawat inap hipertensi stage 2 dan mendapat terapi antihipertensi kaptopril-hidroklorotiazid dan amlodipin-hidroklorotiazid. Komponen biaya yang dikumpulkan meliputi biaya antihipertensi, biaya tindakan, biaya penunjang, biaya rawat inap dan biaya administrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya perawatan kombinasi antihipertensi kaptopril-hidroklorotiazid lebih rendah dibandingkan amlodipin-hidroklorotiazid, dengan selisih sebesar Rp126.798.Kata kunci: Antihipertensi, biaya minimal, farmakoekonomi, hipertensiCost Minimization Analysis of Antihypertensive Therapy with Captopril-Hydrochlorothiazide and Amlodipine-Hydrochlorothiazide in One of Hospitals in BandungThe successful therapy of stage 2 hypertension  can be supported by the administration of antihypertensive. Existence of various antihypertensive alternative making pharmacoeconomics study is needed in order to have an effective and efficient therapy. Purpose of this study was to find the antihypertensive group therapy which is more efficient in cost (cost minimization) which used in the treatment of stage 2 hypertension in patients at one hospital in Bandung from 2011 until 2013. This study is an observational reserach with retrospective data collection. Data retrieval was done by taking the medical records of hospitalized patients who received therapy of stage 2 hypertension antihypertensive, captopril-hydrochlorothiazide or amlodipin-hydrochlorothiazide. Components that were collected includes the cost of antihypertensive, supportive therapy costs, the cost of action, administrative expenses and cost of hospitalization. The result of this study of cost minimization analysis showed that the total cost of treatment with the antihypertensive captopril-hydrochlorothiazide is lower compared to amlodipin- hydrochlorothiazide, with the difference amounting to Rp126,798.Keywords: Antihypertensive, cost minimization, pharmacoeconomy, hypertension

Page 1 of 40 | Total Record : 396