TASAMUH
ISSN : -     EISSN : -
Tasamuh adalah jurnal ilmiah yang dikelola dan diterbitkan oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Mataram dua kali setahun, yaitu pada bulan Juni dan Desember. Tasamuh menerima artikel berupa hasil penelitian dan/atau kajian pustaka yang berkaitan dengan tema dakwah dan komunikasi
Articles 53 Documents
The Role of Universities in the Overcoming and Prevention of Terrorist Radicalism and ISIS in the Campus in West Nusa Tenggara

Tahir, Masnun

TASAMUH Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : FDK IAIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Islamic militant group is arguably followed by laymen circle is. Change of movementis condusted by this group. This group tries to gain support from university students as a new agent which is assumed by this group to be able to change movement pattern. Spreading of Islamic radical group in the area of student is not apart from striving for caderization of intllectual group in Islamic fundamentalist circle. This strategy is an indoctrination of ideology which caused student feels difficult to cut his relation to this group. This phenomenon finally forms a new metamorphosis to a new Islamic radical movement in campus.

Perspektif Psikologi dalam Komunikasi Lintas Budaya

Siregar, Lis Yulianti Syafrida

TASAMUH Vol 12, No 2 (2015)
Publisher : FDK IAIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This paper discusses about psychology on perspective intercultural  communication. Cultural varieties are influenced by many factors, including differences in perception. It is undeniable that perception gives influence to the culture, attitude, and behavior. Perception in this time is a big factor on communication because communication influences social culture. Then difference of communication is a part of intercultural communication.

Transformasi IAIN ke UIN: Tinjauan Psikologi pada Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Muchammadun, Muchammadun

TASAMUH Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : FDK IAIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The total quality management approach strives for clients’ satisfaction as the main factor to sustain a professional activity. One of the professional activities is Higher Education services, of which their built environment of teaching and learning process will largely affect their client behavior and culture. In line with the ongoing transformation of some IAINs to fully fledged universities, the immediate above total quality management can be indicated from being over whether the quality of Wissenschaft is a main concern. This is particularly important for departments of faculties where people have already labeled them as sole religious studies such as Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) of Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). The improving quality of teaching and learning process will gradually enhance the output quality. This will certainly improve the level of graduate employability. Due to those improving factors, a positive image will hopefully be gradually built. The mentality of sustained professional development is the key of its success.

Pendidikan Kognitif Berbasis Karakter

Zulkarnain, Zulkarnain

TASAMUH Vol 12, No 2 (2015)
Publisher : FDK IAIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pendidikan kognitif berbasis karakter dapat dipandang sebagai penilaian yang tertua di dalam sejarah pendidikan. Penilaian ini sangat menitik beratkan pada pengukuran proses evaluasi pendidikan. Pengukuran tidak dapat dilepaskan dari pengertian kuantitas atau jumlah. Jumlah ini akan menentukan besarnya (magnitude) objek, orang ataupun peristiwa-peristiwa yang dilukiskan dalam unit-unit ukuran tertentu. Dalam bidang pendidikan, penilaian yang bersifat pada pengembangan kognitif, ini telah diterapkan dalam proses evaluasi untuk melihat dan mengungkapkan perbedaan-perbedaan individual maupun kelompok dalam hal kemampuan, minat, sikap maupun kepribadian. Adapun pendidikan yang paling mendasar dalam kehidupan generasi bangsa adalah pendidikan karakter, karena dengan adanya kualitas sumber daya manusia yang berkarakter akan menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkulaitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini, karena usia dini merupakan masa penentuan bagi pembentukan karakter seseorang. Oleh karena itu, kesuksesan orang tua dalam membimbing anaknya dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya.

MENAKAR EKSISTENSI FUNDAMENTALISME ISLAM

Alwi, Habib

TASAMUH Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : FDK IAIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Fundamentalis Islam adalah sebuah istilah yang mengacu pada sekelompok umat Islam yang tergabung dalam sebuah organisasi yang berpegang teguh kepada sumber-sumber hu- kum Islam. Fundamentalisme, sebagaimana dikatakan Karen Armstrong, merupakan salah satu fenomena paling mengejut- kan di akhir abad 20. Ekspresi fundamentalisme ini terkadang cukup mengerikan. Peristiwa paling mutakhir yang menghe- bohkan dunia, yaitu hancurnya gedung World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat, September 2001 lalu, juga dihubungkan dengan gerakan fundamentalisme. Fun- damentalisme dan kekerasan agama merupakan isu paling hangat belakangan ini dalam wacana percaturan global yang mendorong kita untuk melakukan kajian terhadap dua per- soalan ini. Fundamentalisme Islam bergelora melalui peng- gunaan bendera jihad untuk memperjuangkan agama. Suatu ideologi yang kerap kali mempunyai fungsi menggugah mili- tansi dan radikalisasi umat. Fundamentalisme ini diwujudkan dalam konteks pemberlakuan syariat Islam yang dianggap se- bagai solusi alternatif terhadap krisis bangsa. Mereka hendak melaksanakan syariat Islam secara kafah dengan pendekatan tafsir literal atas Al Quran.

Asbabun Nuzul Al-Quran dalam Perspektif Mikro dan Makro

Susfita, Nunung ( IAIN Mataram )

TASAMUH Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : FDK IAIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Al-qur’an diturunkan untuk memberi petunjuk kepada manusia ke arah tujuan yang terang dan jalan yang lurus dengan menegakkan asal  kehidupan yang  didasarkan pada keimanan kepada Allah S.W.T dan   risalah-NYA.  Juga   memberitahukan hal  yang  telah lalu,  kejadian-kejadian yang  sekarang serta  berita-berita yang akan datang. Pada  sebagian besar  isi kandungan Al-qur’an pada mulanya diturunkan untuk tujuan  umum,  tetapi  kehidupan para sahabat bersama Rasullullah telah menyaksikan banyak  peristiwa sejarah, bahkan kadang terjadi di antara mereka peristiwa khusus yang memerlukan penjelasan atas hukum Allah atau  masih kabur bagi mereka. Kemudian mereka bertanya kepada Rasullulah untuk mengetahui hukum Islam mengenai hal itu. Maka Al-qur’an turun untuk peristiwa khusus tadi atau  untuk pertanyaan yang muncul.  Sudah  hampir   menjadi dalil  aksiomatis   bahwa tidak  ada  teks, apapun  bentuknya, yang  hadir  dalam ruang hampa, ia  selalu terkait  dengan ruang sosiental,  karena itu teks selalu  kompleks. Kegiatan menafsirkan Al-qur’an  merupahkan sebentuk  kegiatan untuk melihat dan menguji kevaliditas sebuah teks bagi kehidupan manusia, khususnya  umat  islam. Sebagaimana dipahami bahwa teks  tidak  selalu  relevan,   teks  itu  senantiasa harus   digunakan atau  dianalogikan dengan realitas  bahkan dengan kepentingan, apa-pun bentuknya dan  di sinilah  teks Al-qur’an  akan menjadi “Hidup”.

Wahabisme, Transnasionalisme dan Gerakan-gerakan Radikal Islam di Indonesia

Abidin, Zaenal

TASAMUH Vol 12, No 2 (2015)
Publisher : FDK IAIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Wahabisme diasosiasikan oleh para pengamat sebagai kelompok aliran Islam garis keras, tidak toleran dengan pemahaman Islam yang lain. Ideologi kelompok garis keras adalah totalitariansentralistik dan menjadikan agama sebagai refrensi teologis. Pandangan ideologis yang bersifat totalitarian-sentralistik terhadap syari’ah termanifestasi ke dalam hukum yang totaliter dan sentralistik pula. Artinya, hukum harus mengatur semua aspek kehidupan umat tanpa terkecuali dan negara mengontrol pemahaman dan aplikasi secara menyeluruh pula. Oleh sebab itu, klaim teologis yang mereka sampaikan sebenarnya menjadi manuver politik untuk berlindung dari serangan siapa pun yang tidak mendukung atau bahkan menentang mereka, yaitu; agama menjadi alat mereka untuk meraih kekuasaan, sehingga cenderung menaruh dan memanfaatkan keyakinan bahwa manusia telah diatur oleh Allah swt, dan menjadikannya sebagai entry-point bagi para pengikut Wahabi untuk mengatur dan menguasai rakyat”. Wahabi sebagai aliran garis keras percaya bahwa mereka adalah wakil Tuhan di bumi (Khalifah Allah Fil-Ardl) yang mengatur semua urusan manusia untuk menyeru manusia kepada jalan Allah. Para aliran garis keras tersebut, disamping memurnikan ajaran Islam juga ingin mempertahankan sistem khilafahan seperti: Ikhwanul Muslimin, Jamaah Muslimin (at-Takfir Wa al-Hijrah), Jamaah Syabab Muhammad,Wahabi, dan sejenisnya. Di Indonesia sendiri kemunculan gerakan fundamentalisme mulai terlihat pasca orde baru seperti cendawan di musim hujan yang tumbuh dengan subur berkembang dan menjamur dalam kehidupan masyarakat, seperti FPI (Front Pembela Islam), Majlis Mujahidin Idonesia), HTI (Hizbut Tahrir Indonesia).

Konflik Agama dan Etika Dialog: Membaca Dialog Kemanusiaan dalam Bingkai Sosiologi Komunikasi

Fahrurrozi, Fahrurrozi ( IAIN Mataram )

TASAMUH Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : FDK IAIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Konflik antarumat beragama atau Konflik kemanusiaanyang terjadi di tengah-tengah komunitas masyarakat akhir-akhir initelah mendorong berkembangnya dialog di tahan air secara intensifdan konstruktif. Hal ini bisa dilihat dari meningkatnya komunikasiantartokoh-tokoh dari berbagai latar belakang agama serta tumbuhkembangnya berbagai lembaga maupun aktivitas yang mempromosikandialog, toleransi dan pluralisme. Wacana-wacana tersebut menyeruakdalam diskusi, seminar maupun debat publik. Gejala ini memiliki artipenting bagi peningkatan kerukunan antara umat beragama, meskiintoleransi serta pertentangan atas nama agama masih terus terjadidengan tingkat intensitas yang lebih rendah. Secara teoritik dapatdikatakan bahwa konflik antarumat beragama secara otomatis akanmendorong prakarsa-prakarsa dialog. Aktivitas dialog kemudianakan meredakan pertentangan. Karenanya pertentangan yangmasih terus terjadi di tengah berlangsungnya dialog, menimbulkanpertanyaan soal efektivitas dialog yang digelar serta faktor apayang sesungguhnya menjadi penghambatnya. Secara sosiologis,iman, islam dan ihsan dapat diibaratkan sebagai tahapan-tahapanperkembangan kebudayaan relijiusitas masyarakat Islam. Imanmerupakan fase teologisnya, Islam adalah fase historisnya, sementaraIhsan merupakan tahapan kebudayaan yang lebih kosmopolit. Agendake depan adalah objektifikasi epistemologi ihsan sebagai konstrukbaru kehidupan umat Islam dalam realitas baru yang lebih kompleks.Baik teologi relasional maupun Ihsan sesungguhnya dapat menjadilandasan yang kuat bagi pengembangan etika dialog di kemudianhari. Untuk memperkaya analisa di atas, perlu  dilihat sisi etika dialogdan komunikasi dialogis dalam perspektif sosiologi komunikasi untukmembuka tabir terhadap persoalan dialog dan etika dialog di tengah-tengah konflik yang terjadi.

Formasi dan Rekonstruksi Politik Islam Abad 19

Abidin, Zaenal

TASAMUH Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : FDK IAIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Politik Islam melibatkan perlombaan dan persaingan penafsiran tentang simbol sebagai kontrol atas lembaga, baik formal maupun informal yang mempertahankan simbol-simbol tersebut. Penafsiran tentang simbol-simbol ini dipengaruhi oleh latar belakang yang berbeda, karena sistem politik di dunia Muslim atau dimanapun tidak bisa menghindari manajemen persaingan sehingga selalu identik dengan kepentingan. Pada 1924 M, adalah tahun terhapusnya institusi Khalifah Islamiyah, karena pada priode ini agama benar-benar ditempatkan dalam wilayah pribadi, tanpa ada campur tangan Negara sama sekali. Akibatnya, umat Muslim telah kehilangan identitas religio-politik dan geo-politiknya, kemudian negara-negara Muslim berganti dengan model nation-state dalam berbangsa dan bernegara, yang dikenal dengan istilah sekuler dan melahirkan berbagai macam pemikiran dalam merumuskan asas kenegaraan. Sekulerisasi dalam arti ini adalah pemisahan antara agama dan sistem pemerintahan. Karl Mark mengatakan; Pertama, agama telah menjadi alat justifikasi transendental bagi berlangsungnya status quo, di mana lewat agama sistem ekonomi yang eksploitatif tidak mendapat protes apapun. Kedua, agama juga, menekankan pada dunia transendental sebagai takdir yang harus diterima dengan sabar, dan ada harapan akan hidup setelah mati, membantu mengalihkan perhatian manusia dari penderitaan fisik dan kesulitan material. Akibat dari modernisasi politik sekuler tersebut, merespon tokoh-tokoh pembaharu muslim seperti; Muhammad Ali Pasya, Jamaludin al-Afgani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Rida.

MEMBANGUN HUBUNGAN EKSEKUTIF DAN LEGISLATIF DAERAH [Analisis Komunikasi Kebijakan Publik]

Juanda, Khairi

TASAMUH Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : FDK IAIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Nuansa baru yang dibawa oleh UU No. 32 tahun 2004, ada- lah adanya suasana parlementer dalam penyelenggaraan pe- merintahan di daerah. Sebagaimana wacana yang berkem- bang saat ini bahwa suasana parlementarian dapat terlihat dengan begitu luasnya kewenangan yang ada pada DPRD, antara lain dengan kewajiban kepala daerah untuk menyam- paikan laporan pertanggungjawaban kepada DPRD. Kepala daerah dapat diberhentikan sebelum masa jabatan berakhir apabila pertanggungjawabannya ditolak oleh DPRD.Hubun- gan antara legislatif daerah (DPRD) dengan eksekutif daerah (Pemda) akan muncul berkaitan dengan dilaksanakannya tu- gas dan wewenang masing-masing, terutama bidang tugas yang menjadi urusan bersama seperti pembuatan peraturan daerah (Perda), penetapan APBD dan lain-lainnya. Dalam UU No. 32 tahun 2004 pasal 16 dikatakan bahwa badan leg- islatif daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari Pemerintah Daerah. Untuk menjamin pelaksanaan tugas dan kewenangan agar dapat berlangsung seimbang, kepada kedua institusi ini diberi kedudukan sejajar dalam pola kemitraan. Artinya, diantara kedua institusi tidak dikenal hubungan secara hirarkhi atau tidak berlaku hubungan atasan-bawahan. Dengan demikian yang dikenal adalah hubungan koordinatif atau kerjasama, dan bukan hubungan sub ordinatif. Dalam hubungan horizon- tal ini, masing-masing institusi berada pada jalur tugas dan kewenangannya yang tidak dapat saling diintervensi. Lembaga legislatif dan eksekutif mempunyai tugas dan ke- wenangannya masing-masing sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Walaupun mereka mempunyai tugas dan kewenangan masing-masing namun keduanya tetap terikat dalam suatu tata hubungan. Hubungan mana akan muncul dengan dilaksanakannya tugas dan ke- wenangan tersebut. Tata hubungan keduanya adalah sejajar dalam kerangka kemitraan sebagaimana diatur UU No. 32 tahun 2004. Bentuk hubungan antara keduanya tidak sela- manya dapat dipertahankan dalam suatu bentuk/pola yang baku. Tuntutan kebutuhan dan perubahan lingkungan mem- buatnya harus menyesuaikan diri, seperti perubahan pera- turan perundang-undangan dari UU No5 tahun 1974 ke UU no.22 tahun 1999 yang kemudian diganti dengan UU No. 32 tahun 2004.