cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
ULUMUNA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Ulumuna, a journal of Islamic Studies published twice a year by IAIN Mataram since 1997. Ulumuna is concerned with publication of work and articles in the field of Islamic studies under six main topics, namely (1) Study of Qur 'an and Hadith; (2) Islamic law; (3) Islamic mission and communication; (4) Islamic Theology and Philosophy; (5) Islamic Mysticism; and (6) Islamic Education. Ulumuna successfully achieved an accredited status with the grade ‘B’ based on Surat Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas No. 65a/DIKTI/Kep/2008, December 15, 2008. The accredited status was valid for three years up to December 15, 2011. UJSK has maintained its ‘B’ grade based on Surat Keputusan Dirjen Dikti Kemendikbud No. 56 / DIKTI/Kep/2012 July 24, 2014. The accredited status is valid for five years up to July 24, 2017.
Arjuna Subject : -
Articles 440 Documents
AL-HIKMAH AL-MUTA‘ÂLIYYAH PEMIKIRAN METAFISIKA EKSISTENSIALISTIK MULLA SHADRA Sholihan, Sholihan
ULUMUNA Vol 14, No 1 (2010): June
Publisher : State Islamic Institute (IAIN) Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v14i1.226

Abstract

Among the meritorious figures that develop the illuminative thought initiated by Suhrawardi is Shadr al-Dîn  al-Shirazi, also known as Mulla Sadra. He is well known with his thought of al-Hikmah al-Mutaâliyyah or transcendent theosophy, an effort of harmonizing revelation, gnosis, and philosophy. He inflame an idea where the logic buried in the sea of light gnosis. He called the synthesis—one that he considered to be the particular basis of three major paths to truth for man, namely: revelation (wahy or shar), intellection (aql), and mystical vission (Kashf)—as al-Hikmah al-Muta‘âliyyah or transcendent theosophy. He has managed to make synthesis between deductive method of the Peripatetic, method of illumination, method of the odyssey of ‘irfân or Sufism, and method of Kalam. When his thought is compared with existentialistic thought of West, then there is a point of similarities among them not only in terms of technical language, but also in substantive matters.Abstract: Di antara tokoh yang berjasa mengembangkan pemikiran iluminatif dari Suhrawardi adalah Shadr al-Dîn  al-Syirâzî atau Mulla Shadra yang populer dengan pemikirannya tentang al-Hikmah al-Muta’âliyyah atau teosofi transenden, suatu upaya harmonisasi wahyu, gnosis, dan filsafat. Dia menggelorakan sebuah pemikiran di mana logika dibenamkan ke dalam lautan cahaya gnosis. Ia menyebut sintesisnya—yang ia anggap menjadi dasar khususnya tentang tiga jalan besar menuju kebenaran bagi manusia, yakni: wahyu (wahy atau syar’), intellection (‘aql), dan keterbukaan secara mistik (kasyf)—dengan al-Hikmah al-Muta’âliyyah atau teosofi transenden. Dia telah berhasil melakukan sintesis antara metode deduktif dari peripatetik, metode illuminasi, metode pengembaraan dari ‘irfân atau sufisme, dan metode kalâm. Ketika pemikirannya diperbandingkan dengan pemikiran eksistensialistik Barat, maka ada titik kesamaan tidak saja dari segi teknis kebahasaan, melainkan juga pada hal-hal yang substantif.
Tasawuf Sunda dalam Naskah Asmarandana Ngagurit Kaburu Burit (OR. 7876) Rohmana, Jajang A.
ULUMUNA Vol 17, No 2 (2013): December
Publisher : State Islamic Institute (IAIN) Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v17i2.161

Abstract

Abstract:   The spread of Islam in the Archipelago was closely tied to the roles of Sufi ulama. The circulation of Sufi work in Nusantara proves a strong connection between this region and the Middle East. In West Java, a number of these work expose Sufi teachings in the form of Sundanese Sufi literature, such as the work by Haji Hasan Mustafa. He is considered the greatest Sundanese poet whose work features strong influences of wahdat al-wujud. This paper aims to examine Sundanese Sufism expressed in Mustafa’s work of Asmarandana Ngagurit Kaburu Burit. This study shows that this work contains Sufi’s path that explores the self and its encounters with Supreme Being and the self’s diffusion, where there is no longer existence except the One. Mustafa called his Sufi poetry imperfect suluk because it was written in late afternoon. His work reveals local Sufi accommodation to wah}dat al-wujud in Sundanese language and culture.Abstrak:   Seiringan dengan perkembangan Islam di Nusantara adalah beredarnya naskah-naskah tasawuf membuktikan adanya hubungan kuat tradisi tasawuf lokal dan Timur Tengah. Di tatar Sunda, sejumlah naskah tasawuf mengekspresikan ajarannya ke dalam bentuk sastra sufistik Sunda (dangding, guguritan). Artikel ini bertujuan untuk mengkaji ekspresi pengalaman tasawuf Sunda dalam naskah Asmarandana Ngagurit Kaburu Burit (Cod. Or. 7876) karya Haji Hasan Mustapa (1852-1930), sufi sekaligus pujangga Sunda yang dipengaruhi ajaran wa╪dah al-wujūd. Dalam naskah itu tergerai ungkapan perjalanan sufistik (susulukan) sang penulisnya. Bermula pada tahap pencarian diri saat hingga mengalami pertemuan (pasamoan, sapatemon). Puncaknya adalah pengalaman membaurnya eksistensi diri (fanā’, pakula-kula) dalam kesejatian sempurna di alam jatnika. Karya Mustapa ini mencirikan kreativitas lokal dalam menyerap pengaruh tasawuf wa╪dah al-wujud yang diekspresikan dengan bahasa sastra dan alam Sunda.
HUKUM ISLAM DALAM TRADISI LOKAL: TELAAH PEMIKIRAN TGH. M. SOLEH CHAMBALI TENTANG HAJI Fadli, Adi
ULUMUNA Vol 16, No 1 (2012): June
Publisher : State Islamic Institute (IAIN) Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v16i1.193

Abstract

Abstract: Annually, millions of pilgrims do their Hajj pilgrimage. However, not all of them fully understand how to do it, what its inner and deep meanings, and what its philosophical wisdom. This article focuses on analysis on TGH. M. Soleh Chambali’s thoughts about pilgrimage in the local context of tradition of Lombok Sasaknese society. Through historical approach of content analysis, it reveals that the thoughts are more contextual and social fiqh based. It is expressed in his explanation of istit}ā‘ah concepts and other local ╪ajj problems. Abstrak: Setiap tahun jutaan orang menunaikan ibadah haji, namun tidak semua memahami dengan benar cara pelaksanaannya dan lebih lagi makna serta hikmahnya. Artikel ini memfokuskan kajian pada pemikiran haji TGH. M. Soleh Chambali dalam tradisi lokal masyarakat Sasak Lombok melalui pendekatan sejarah dengan analisis isi. Kajian ini menyimpulkan bahwa pemikiran haji TGH. M. Soleh Chambali bersifat kontekstual dan bernuansa fikih sosial, seperti penjelasannya tentang konsep istit}ā‘ah dan pelbagai lokalitas persoalan haji lainnya.
EPISTEMOLOGI TASAWUF DALAM PEMIKIRAN FIQH AL-SYA‘RÂNÎ Huda, Miftahul
ULUMUNA Vol 14, No 2 (2010): December
Publisher : State Islamic Institute (IAIN) Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v14i2.217

Abstract

In the study of Islamic law, epistemology constitutes a fundamental aspect of the law upon which the legitimate concept of the law is based. Epistemology becomes the root of debates regarding the truth of legal reasoning among Muslims who often made a truth clam about their own superior episteme. This causes discrepancies amongst them. This dispute was what al-Sya‘rânî found in his time. As a famous jurist, he sought to resolve it and offered a new theory of law. He contends that the arguments underlying the debates about the epistemology of Islamic law flawed. He wants to demonstrate that the arguments do not fit into the tradition of Islamic thought. This study examines al-Sya‘rânî’s thought in the epistemology of Islamic law. It discusses four issues: the valid path to the knowledge about shari’a, kashf as a source of knowledge, the path to the kashf, and the position and relation of reason, tradition and intuition in Islamic law.Abstrak:  Epistemologi merupakan hal yang fundamental karena dari situlah legitimasi dari konsep-konsep hukum syariah bersumber. Di situ pula akar perdebatan tentang kebenaran hasil ijtihad yang sering diklaim secara eksklusif oleh kelompok-kelompok umat Islam sehingga berdampak buruk bagi hubungan dan solidaritas sosial di antara mereka. Fakta seperti itulah yang disaksikan al-Sya‘rânî sepanjang hayatnya. Sebagai faqih terkemuka, dia merasa terpanggil untuk memberikan alternatif solusi teoretik atas masalah ini demi kemaslahatan umat. Setelah melakukan kajian yang panjang, akhirnya dia berkesimpulan bahwa sesungguhnya semua klaim eksklusif tentang kebenaran dan superioritas system episteme tertentu adalah tidak memiliki argumen yang benar-benar meyakinkan, baik dalam tradisi keilmuan umat Islam maupun dalam perspektif  sosiologis. Dalam tulisan ini konsep al-Sya‘rânî mengenai Epistemologi syariah dideskripsikan dalam empat pokok pemikirannya yaitu tentang; jalan yang sah menuju pengetahuan syariah, kasyf sebagai sumber pengetahuan, jalan menuju Kasyf serta mengenai posisi dan hubungan antara tradisi, rasio dan intuisi dalam konteks pembahasan tentang hukum Islam.
Teori Belajar Al-Māwardi: Studi Analisis Tujuan dan Indikator Keberhasilan Belajar AR, Nurhayati; Syahrizal, Syahrizal
ULUMUNA Vol 18, No 1 (2014): June
Publisher : State Islamic Institute (IAIN) Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v18i1.152

Abstract

Abstract: Al-Māwardi’s concept of learning goals and indicators have rarely been studied and developed in the context of modern education. This article examines the learning goals and indicators of successful education in the thoughts of al-Māwardi and analyzes its relevance to modern education. According to al-Mawardi, successful education can be achieved when students can memorize, understand, know the purpose of learning and practice what they have learnt, and when these indicators shape students’ cognitive, affective, and psychomotor domains. He maintained that these learning processes must be based on a sound faith. This article demonstrates that these objectives and indicators of successful learning proposed by al-Mawardi are very relevant to modern education. Faith based education helps increase student’s belief and discards worldly-oriented education that tend to produce materialistically individualistic people. Abstrak: Teori belajar al-Māwardi tentang tujuan dan indikator keberhasilan belajar belum dikaji dan dikembangkan dalam konteks pendidikan modern. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan tujuan dan indikator keberhasilan belajar menurut al-Māwardi dan menganalisis relevansinya dalam pelaksanaan pendidikan modern. Indikator keberhasilan belajar anak didik menurut al-Māwardi mencakup menghafal, memahami, mengetahui tujuan belajar, dan mengamalkan ilmu; semua itu menyentuh ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik yang terintegrasi ke dalam ranah iman. Pandangan itu sangat relevan untuk diaplikasikan dalam konteks pendidikan modern untuk membangun pribadi muslim yang ikhlas karena Allah dalam menjalankan segala aktivitasnya, dan memiliki keseimbangan antara tujuan duniawi dengan ukhrawi.
STUDI KOMPARATIF KONSEP KETUHANAN ISLAM DAN AGAMA ADAM PADA KOMUNITAS SAMIN Rosyid, Mohammad
ULUMUNA Vol 16, No 2 (2012): December
Publisher : State Islamic Institute (IAIN) Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v16i2.184

Abstract

Abstract: One of the problems that disturb the harmony between religious communities is a lack of understanding of the majority (mainstream) religion about the local religion, and vice versa. This article aims to develop such inter-religious understanding by comparing between Islam and the religion of Adam, a local religion of Samin community. The comparative study was made within the scope of the concept of God in both religions. This study found that the understanding between Islam the religion of Adam about the concept of God is essential in common. God called Allah (in Islam) and Yai (in the religion of Adam) are equally perceived as condescendent, an only single power, and the Almighty. Both communities also share Adam as the first man in the world. So, it is not proportional if the public ridicule Samin community with atheist stigma.Abstrak: Salah satu problem yang mengganggu keharmonisan antar komunitas beragama adalah kurangnya pemahaman pemeluk agama mayoritas (mainstream) di suatu negara tentang agama lokal, dan demikian pula sebaliknya. Artikel ini bertujuan untuk membangun kesalingpahaman antar pemeluk agama itu dengan melakukan kaji banding antara agama Islam dengan agama Adam, sebuah agama lokal komunitas Samin. Kaji banding itu dilakukan dalam lingkup konsep ketuhanan dalam dua agama itu. Kajian ini menemukan bahwa pemahaman antara Islam dengan agama Adam tentang konsep Tuhan memiliki kesamaan secara esensial. Tuhan yang disebut dengan Allah (dalam Islam) dan Yai (dalam agama Adam) sama-sama dipersepsikan sebagai tempat berlindung, kekuatan tunggal, dan Zat Yang Maha segala-galanya. Kedua komunitas juga sama dalam memandang Adam sebagai manusia yang pertama di dunia. Dengan adanya pemahaman itu maka tidak proporsional lagi jika publik mengolok-olok komunitas Samin dengan stigma ateis.
KONSEP PENDIDIKAN ETIKA SUFISTIK-FILOSOFIS AL-GHAZÂLÎ HM, Sahid
ULUMUNA Vol 15, No 1 (2011): June
Publisher : State Islamic Institute (IAIN) Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v15i1.208

Abstract

Abstract: The study focuses on the ethic concept of al-Ghazâlî in education. The approach used by al-Ghazâlî, in relation to the educational ethic, is sufistic-philosopichal which tends to the concept of ma‘rifat Allâh, taqarrub, and tahassub through riyâdlah. These three dimentions are the main basis of how to educate the moslem’s ethic. For those whose spiritual has not been good yet, they are suppossed to learn constantly. Therefore, an educator may guide and bring spiritually the students to be close to Allah. In fact, al-Ghazâlî’s concept of ethic in education by sufistic-philosopichal approach has theoretically and practically broad influences for the moslem life all over the world. Such two influences indicate that practically and theoretically al-Ghazalî’s school of thought in ethical education turns out to be the basic of further thinking. Thus, the very strong al-Ghazalî’s influence toppled down the sufism at that time.Abstrak:  Kajian ini membahas konsep pendidikan etika al-Ghazâlî. Pendekatan yang digunakan oleh al-Ghazâlî dalam membina etika bermuara pada sufistik-filosofis yang cenderung pada ma‘rifat Allâh dan diproses dengan metode tazkîyat an-nafs, taqarrub, dan tahassub dengan cara riyâdlah. Tiga dimensi ini menjadi landasan untuk membina etika seseorang secara baik. Bagi seseorang yang jiwanya belum bersih, dia harus berguru dan minta petunjuk. Dengan demikian, guru dapat memberi petunjuk dan mengantarkan seorang murid sampai kepada Tuhan. Dalam perkembangannya, konsep pendidikan etika sufistik-filosofis al-Ghazâlî berpengaruh di belahan dunia baik secara teoritik maupun praktis. Dua pengaruh ini menggambarkan pemikiran al-Ghazâlî secara teoritis-praktis dalam bidang pendidikan etika. Pengaruh al-Ghazâlî yang sangat kuat mampu menumbangkan aliran tasawuf yang berlaku pada saat itu.
PERTAUTAN ONTOLOGI FILSAFAT DAN TASAWUF: TELAAH RELASI TUHAN, MANUSIA, DAN ALAM Rajab, Hadarah
ULUMUNA Vol 17, No 1 (2013): June
Publisher : State Islamic Institute (IAIN) Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v17i1.175

Abstract

Abstract: Ontology dwells on the issue of how to explain substance, the nature of all that exists. Substance itself is an actual reality, not an artificial, deceiving, and changing reality. Since philosophy and mysticism are talking about substance, both fields of Islamic scholarship have a relationship to one another at an ontological level. This paper aims to elaborate interconnection between them. Elaborating the interconnection, the author analyzes the ontological aspects of al-Gazali’s sufism and Naqsyabandiah ╢arīqah. The author concludes that the ontological interconnection between both disciplines are very closely from the standpoint of the relation of God, man, and nature.Abstract: Ontologi berkutat pada persoalan bagaimana menerangkan hakikat dari segala yang ada. Hakikat termasuk dalam kajian ontologi. Hakikat adalah realitas atau kenyataan yang sebenarnya, bukan kenyataan sementara, yang menipu dan berubah. Baik filsafat maupun tasawuf sama-sama berbicara tentang hakikat, dan oleh sebab itu dua bidang keilmuan Islam memiliki pertautan antara satu dengan lainnya pada level ontologis. Tulisan ini bertujuan untuk mengelaborasi kebertautan antara keduanya itu. Untuk menelisik kebertautan itu, penulis menganalisis aspek-aspek ontologis  dalam tasawuf al-Gazali dan tarekat Naqsyabandiah. Penulis menyimpulkan bahwa kebertautan ontologis antara dua bidang ilmu sangat erat dari sudut pandang relasi Tuhan, manusia, dan alam.
i‘jâz Al-Qur’ân in the views of Al-ZamakhsyÂrî and Sayyid Quthb Syahnan, Mhd.
ULUMUNA Vol 15, No 2 (2011): December
Publisher : State Islamic Institute (IAIN) Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v15i2.198

Abstract

مستخلص:  ومن أخطر المناقشات التي يتحدث بها خلال القرن الثالث من الهجري هي البحث عن معجزات القرآن الكريم استجابة عن استمرار الرد من الوحي التي تلقاها النبي ص.م. منذ ذلك القرن قامت الدراسات المختلفة على جوانب الإعجاز القرآن. هذه الرسالة تناقش على الرأيين الإمامين الكبيرين الزمخشاري وسيد قطب حتى انكشفت أبواب التشابه والاختلاف بين الرئيين عن الإعجاز. لقد وجد الكاتب في البحث هذه الرسالة على أن مزايا الزمخشاري في نهج القرآن من قبل فهم اللغة والبلاغة التي تدل على مميزة النص القرآن لا مثيل لها. وعلى العكس، شدد سيد قطب في إعداد الخصائص الرئيسية المهمة من قبل العلماء والفقهاء مسلم لأن هدفهم الرئيسى ليس لاثبات صحة الإعجاز. ومع ذلك، النهج في القرآن عندهم يدل على أنهم مؤهل في هذا المجال بأسلوبهم الجديدة في فهم القرآن الكريم.Abstrak: Salah satu perdebatan paling serius tentang al-Qur’an adalah mengenai kemukjizatannya yang muncul pada abad ketiga Hijriah sebagai respons terhadap penyangkalan berkelanjutan terhadap wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. Sejak itu berbagai studi dilakukan tentang aspek i’jâz. Tulisan ini mendiskusikan pendapat al-Zamakhsyârî dan Sayyid Quthb, sehingga akan terungkap sejauhmana persamaan dan perbedaan pendapat mereka terhadap i’jâz. Penulis menemukan bahwa keunggulan pendekatan al-Zamakhsyârî terdapat pada aspek pemahaman bahasa dan retorika yang menunjukkan keistimewaan teks al-Qur’an yang tiada tara. Sebaliknya, Sayyid Quthb secara eksklusif menekankan pada elaborasi karakteristik penting al-Qur’an yang terabaikan oleh ilmuwan dan ahli hukum Muslim, sehingga tujuan utamanya bukan untuk pembuktian validitas i’jâz. Pendekatan mereka terhadap al-Qur’an membuktikan metode baru dengan kualifikasi masing-masing.
KONTRIBUSI FILSAFAT ILMU DALAM STUDI ILMU AGAMA ISLAM: TELAAH PENDEKATAN FENOMENOLOGI Mulyadi, Mulyadi
ULUMUNA Vol 14, No 1 (2010): June
Publisher : State Islamic Institute (IAIN) Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v14i1.231

Abstract

Islamic studies is considered both religious and scientific activities. As scientific activities it needs to establish its scientific bases through the study of philosophy of science. From the perspective of philosophy of science, almost all types of knowledge experience what is called a shifting of paradigm. Islamic studies is not exception, so that changes, re-formulations, and improvement of its epistemological design and construction are very possible. Thus, Islamic studies are not static, but dynamic. It always faces current challenges of changing times and styles that are always experienced by Muslims and human being in general. This means that Islamic studies that used to apply purely normative and empirical approaches to phenomena of human religiosity should shift to phenomenological one. The approach is worth to broaden insights and open new horizons in search for the essence and the fundamental structure of human religiousity. Abstrak:  Studi ilmu agama Islam dipandang sebagai kegiatan keagamaan dan keilmuan sekaligus. Ketika dipandang sebagai kegiatan keilmuan, maka ia perlu memapankan pondasi keilmiahannya melalui telaah filsafat ilmu. Menurut filsafat ilmu, hampir semua jenis ilmu pengetahuan, mengalami apa yang disebut dengan shifting of paradigm. Studi ilmu agama Islam bukan pengecualian, sehingga sangat mungkin terjadi perubahan, perumusan kembali, dan penyempurnaan terhadap rancang bangun epistemologi keilmuannya. Dengan demikian, studi ilmu agama Islam sebenarnya tidak bersifat statis, tetapi dinamis. Ia selalu menghadapi tantangan-tantangan terkini dari perubahan zaman yang selalu dialami oleh kaum muslimin dan umat manusia pada umumnya. Itu berarti bahwa studi ilmu agama Islam yang dahulunya melulu bersifat normatif dan empiris terhadap fenomena keberagamaan manusia perlu beranjak ke arah pendekatan yang lebih bersifat fenomenologis. Pendekatan itu bermakna untuk memperluas wawasan dan membuka cakrawala baru dalam mencari esensi dan struktur dasat keberagamaan manusia.

Page 1 of 44 | Total Record : 440