Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 20855842     EISSN : 25280759
JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN (JIPK) /SCIENTIFIC JOURNAL OF FISHERIES AND MARINE is a peer-reviewed and open access biannually (April and November) journal that publishes empirical research, recent science development in fisheries and marine, and significant and important research from high quality of research paper and review in the interest of the field of fisheries between the researchers, academics, students and general public. This journal gives readers the state of art of the theory and its applications of all aspects of fisheries.
Articles 130 Documents
Kajian Potensi Ekstrak Daun Pepaya (Carica Papaya L) terhadap Immunitas Non Spesifik Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) [Potential Study of Papaya Leaf Extract (Carica papaya l) against Non-Specific Immunity of Lithopenaeus vannamei]

monica, Mona, Wardiyanto, Wardiyanto, susanti, Oktora

Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.697 KB) | DOI: 10.20473/jipk.v9i2.7641

Abstract

                                                           AbstrakDalam berbudidaya udang vaname terdapat kendala yang harus dihadapi, salah satunya adalah serangan penyakit. Upaya pencegahan dan penanggulangan dapat berupa pemberian imunostimulan menggunakan ekstrak daun pepaya yang diaplikasikan dengan cara perendaman. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh ekstrak daun pepaya terhadap imunitas non spesifik udang vaname (Litopenaeus vannamei). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan juli-agustus dengan menggunakan empat perlakuan yang diterapkan yaitu perlakuan A (0 mg/l ekstrak daun pepaya), B (10 mg/l ekstrak daun pepaya), C (20 mg/l ekstrak daun pepaya), dan D (30 mg/l ekstrak daun pepaya). Parameter yang diuji yaitu total hemocyte count, aktivitas fagositosis, indeks fagositosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya sebagai imunostimulan dapat meningkatkan respon imun udang vaname. Konsentrasi terbaik yaitu 30 mg/l.                                                              AbstractIn the activity of cultivating shrimp, there are some obstacles that must be faced such as diseases attack. One of the efforts that we can do as the prevention and solve the problem in shrimp that us through the giving of immunostimulant using papaya leaf extract which applicated with dipping method. This research aimed to study the effect of papaya leaf extract against the nonspecific immunity of vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei). This research was carried out in July-August which applied with 4 treatments, treatment A (0 mg/l papaya leaf extract), B ( 10 mg/l papaya leaf extract), C (20 mg/l papaya leaf extract), and D (30 mg/l papaya leaf extract). The parameters used in this research were total hemocyte count, phagocytosis activity, and phagocytosis index. The result showed that papaya leaf extract as immunostimulant can improve the immune response of vannamei shrimp. The treatment with 30 mg/l is the best concentration.

Dampak Perbedaan Salinitas terhadap Viabilitas Bakteri Vibrio fluvialis [The Impact of Salinity Difference on Bacteria Viability Vibrio fluvialis]

Arisandi, Apri, Wardani, Maulinna Kusumo, Badami, Kaswan, Araninda, Garina Dyah

Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.134 KB) | DOI: 10.20473/jipk.v9i2.7636

Abstract

                                                               AbstrakRumput laut sulit dibedakan antara akar, daun dan batangnya. Kondisi air laut yang fluktuatif dan ekstream dapat menyebabkan rumput laut Kappaphycus alvarezii rentan terkena penyakit ice-ice. Muncul bercak putih di thallus rumput laut yang terinfeksi. Diduga penyakit ice-ice disebabkan oleh bakteri pattogen yaitu Vibrio fluvialis. V. fluvialis adalah bakteri patogen yang menyebabkan penyakit ice-ice pada  rumput laut, bakteri gram negatif yang memiliki bentuk tubuh seperti batang dan bengkok. Bakteri ini dapat tumbuh di ekosistem perairan yang dipengaruhi oleh banyaknya ketersediaan nutrisi, pH, suhu, keasaman, dan salinitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui viabilitas bakteri Vibrio pada perbedaan salinitas. Penelitian ini dimulai dengan mengidentifikasi bakteri hingga tingkat spesies melalui uji biokimia dengan referensi SNI 01-2332-4-2006 dan buku identifikasi Cowan. Viabilitas diamati tiga kali pengulangan pada media TCBS plate dengan salinitas 30, 32, dan 34 ppt, dan uji konfirmasi. Bakteri inokulasi pada media TSA miring dengan kadar salinitas 0 ppt, 20 ppt, 40 ppt, 60 ppt, 80 ppt dan 100 ppt. hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa bakteri tumbuh normal di semua media uji kecuali pada 100 ppt. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri Vibrio fluvialis adalah bakteri yang dapat tumbuh dengan baik pada kadar salinitas tinggi (halofilik)                                                            AbstractSeaweed can not be differentiated between root, leaves and trunk. Fluktuate and extreame of sea water condition cause Kappaphycus alvarezii seaweed susceptible to get ice-ice disease. Appearing of white patches at thallus of infected seaweed. Suspected ice-ice disease is caused by pattogen bacteria namely Vibrio fluvialis. Vibrio fluvialis is patogen bacteria that cause ice-ice disease seaweed, gram negative bacteria that has body shape like steam and bend. This bacteria can grow in the aquatic ecosystem that is influenced by abudance of nutrient availability, pH, temperature, hardness and salinity. The purpose of this research is to know the viability of Vibrio bacteria at difference salinity. This research is started by identify bacteria until spesies level through biochemical test whit reference SNI 01-2332-4-2006 and identification book (Cowan 2003). Viability is observed three time repetition at TCBS palte media with salinity 30, 32, and 34 ppt, and confirmation test. Bacteria is planted at oblique TSA media with salinity levels 0 ppt, 20 ppt, 40 ppt, 60 ppt, 80 ppt and 100 ppt . the results obtained shows the bacteria grow normally at all test medias except at 100 ppt media. This shows that Vibrio fluvialis bacteria is a bacteria that can grow well at high salinity levels (halofilik)

Potensi Penambahan Minyak Ikan Lemuru pada Pakan Komersial terhadap Kandungan Asam Lemak Omega-3 dan Omega-6 Daging Belut Sawah (Monopterus albus) [Potential Addition of lemuru Fish Oil on Commercial feed The Fatty Acids Omega-3 and Omega-6 Ell Meat (Monopterus albus)]

Istiqomah, Siti, Lamid, Mirni, Pursetyo, Kustiawan tri

Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol 9, No 1 (2017): Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.542 KB) | DOI: 10.20473/jipk.v9i1.7631

Abstract

                                                                  AbstrakBelut sawah (Monopterus albus) merupakan komoditas ikan air tawar yang sangat potensial dibudidayakan saat ini. Belut sawah mempunyai kandungan kolesterol yang cukup tinggi yaitu sebesar 185mg/10gram. Batas kolesterol normal yang dibutuhkan tubuh adalah 160-200 mg per hari. Kandungan kolestrol yang tinggi tidak sebanding dengan kandungan asam lemak tak jenuh daging belut sawah. Kandungan asam lemak tak jenuh pada daging belut sawah sangat kecil yakni α-linolenat acid sebesar 0,46%, EPA sebesar 0,22%, DHA sebesar 2,12%, Linolenat acid sebesar 7,42% dan Arakidonoit acid sebesar 1,75%. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menigkatkan Omega-3 dan Omega-6 adalah melalui rekayasa pakan, dengan penambahan suplementasi asam lemak yang berasal dari dari organisme laut yang diharapkan kandungan Omega-3 dan Omega-6 dapat meningkat di daging belut sawah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kandungan Omega-3 dan Omega-6 daging belut sawah. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak lengkap yang terdiri dari lima perlakuan, empat kali ulangan. Analisis data menggunakan uji statistik sidik ragam Analysis of Variant (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh perlakuan. Apabila ada perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan untuk mengetahui perlakuan yang paling baik. Hasil penelitian penambahan minyak ikan lemuru pada pakan komersial menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap kandungan Omega-3 (α-linolenat acid, EPA ,dan DHA) dan kandungan Omega-6 (Linoleat acid dan arakhidonat acid) daging belut sawah. Pemberian minyak ikan lemuru pada dosis 6% dapat meningkatkan kandungan (Omega-3) daging belut sawah α-linolenat acid sebesar 2,75%, EPA sebesar 2,87% dan DHA sebesar 1,29%. Pada dosis 6% minyak ikan lemuru dapat meningkatkan kandungan arakhidonoit acid sebesar 3,77% dan pada dosis 8% dapat meningkatkan kandungan Linoleat acid 4,24% daging belut sawah.                                                                 AbstractEel (Monopterus albus) are mostly bream a potential cultivated currently. Eel has a high cholesterol a month 185mg/10gram. Limit of the normal body needs cholesterol is 160-200 mg per day. The content of high cholesterol are not comparable with the content of unsaturated fatty acids eel meat. The unsaturated fatty acid on meat eel very low at α-linolenat acid of 0,46%, EPA of 0,22%, DHA of 2,12%, Linolenat acid of 7,42% and Arakidonoit acid of 1,75%. One effort can be done to increase omega-3 and omega-6 is through engineering feed, with the addition of supplements fatty acids that originated from marine organisms are expected to Omega-3 content and Omega-6 can increase in the meat eel. Research is aimed to increase Omega-3 content and Omega-6 flesh of eel. This research uses experimental methods to a draft random complete consisting of five treatment, four times remedial. Analysis data using statistical tests fingerprint variety of analysis of variant (ANOVA) to know the influence of treatment. If there are the differences between treatment continued by test distance multiple Duncan to know the best treatment. Research results in additional fish oil lemuru on commercial feed showing significant differences (p<0,05) against the omega-3 (α-linolenat acid, EPA and DHA) and the omega-6 (linoleic acid and arakhidonat acid) of eel. The doses 6% lemuru fish oil can improve the (Omega-3) of eel α-linolenat acid of 2,75%, EPA of 2,87% and DHA 1,29%. On the content doses 6% fish oil lemuru can improve Arachidonic acid of 3,77% and on content doses, 8 % can improve linoleic acid of 4,24 % meat eel.

Uji Proximat Daging Ikan Lele yang Dibudidayakan dengan Perbedaan Manajemen Kualitas Air dan Pakan [Test Proximat Meat Catfish Cultivated with Differences Water and Feed Quality Management]

Bimantara, Arif

Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol 10, No 1 (2018): Jurnal ilmiah perikanan dan kelautan
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.88 KB) | DOI: 10.20473/jipk.v10i1.8541

Abstract

                                                    AbstrakIkan lele merupakan salah satu komoditas perikanan budidaya yang popular di Indonesia. Permintaan pasar akan jenis ikan ini yang semakin bertambah menyebabkan pembudidaya lele menggunakan berbagai cara untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk megetahui hasil uji proksimat daging ikan lele yang dibudidayakan dengan manajemen kualitas air dan pakan yang berbeda meliputi kandungan protein, lemak, air dan abu. Sampel didapatkan dari lima pembudidaya ikan lele yang menggunakan metode pemeliharaan yang berbeda yaitu (1) L1 : pemberian pakan daging ayam dengan pergantian air 3 -5 hari sekali; (2) L2 : pemberian pakan pelet dicampur dengan bahan herbal, penambahan probiotik pada air budidaya dan dilakukan pergantian air setiap hari; (3) L3 : pakan kombinasi pelet dan daging ayam dengan pergantian air 3-5 hari sekali; (4) L4 : pakan pelet tanpa pergantian air; (5) L5 : pakan pelet dicampur multivatimin komersial, penambahan probiotik pada air budidaya dan dilakukan pergantian air 3-5 hari sekali. Daging ikan lele L1 memiliki kandungan air (67,1%) dan protein (14,6%) paling rendah walaupun memiliki kandungan lemak (5,6%) tertinggi dibandingkan sampel perlakuan lain, sedangkan sampel L2 memiliki kandungan protein tertinggi sebesar 17,4% sekaligus memiliki kadar abu paling rendah diantara sampel lainnya sebesar 0,4%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa manajemen kualitas air dan pakan mempengaruhi hasil uji proksimat daging ikan lele yang dibudidayakan.                                                         AbstractCatfish is one of the most popular aquaculture commodities in Indonesia. The increasing market demand for this fish caused the catfish farmers to apply various methods to improve the quality and quantity of its product. This study aimed to assess the proximate test results of catfish meat cultured in different water quality and feeding management for the parameters protein, fat, water, and ash content. The samples were obtained from five catfish farmers using different culture methods, namely (1) L1: chicken meat feeding with water exchange every 3-5 days; (2) L2: pellets feeding mixed with herbs, probiotics addition to culture water and daily water exchange; (3) L3: combination of pellets and chicken meat feeding with water exchange every 3-5 days; (4) L4: pellets feeding with no water exchange; (5) L5: commercial multivatimin mixed with pellets feeding, probiotics addition to culture water and water exchange every 3-5 days. The L1 catfish meat has the lowest water (67,1%) and protein (14,6%) content, although it has the highest fat content (5,6%) compared to other treatments, while the L2 sample has the highest protein content of 17,4 % as well as the lowest as content among other samples of 0.4%. These results indicate that water quality and feeding management affect the proximate test results of cultured catfish meat.

Perubahan Histopatologi Jaringan Kulit Ikan Komet (Carassius auratus auratus) Akibat Infestasi Argulus Japonicus Histopathological [Change of Comet Fish (Carassius auratus auratus) Skin Tissues Caused Argulus japonicus]

Sari, Renita Efa Ratna, Kismiyati, Kismiyati, Tjahjaningsih, Wahju

Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol 10, No 1 (2018): Jurnal ilmiah perikanan dan kelautan
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.161 KB) | DOI: 10.20473/jipk.v10i1.8202

Abstract

AbstrakEktoparasit merupakan salah satu penyebab menurunnya nilai jual komoditas ikan hias di Indonesia. Infestasi tingkat akut A. japonicus dapat mengakibatkan kematian dan kerugian ekonomi bagi pembudidaya. Penetrasi stylet ektoparasit Argulus dapat menyebabkan kerusakan yang cukup besar dengan memecah konsistensi jaringan dan dapat menimbulkan iritasi pada kulit ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui perubahan atau kelainan pada tingkat jaringan yang disebabkan oleh ektoparasit A. japonicus pada jaringan kulit ikan komet. Variabel yang diamati adalah perubahan patologi anatomi dan perubahan histopatologi jaringan kulit ikan komet akibat infestasi A. japonicus. Skoring dilakukan untuk menentukan derajat kerusakan histopatologi jaringan kulit ikan komet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infestasi A. japonicus mengakibatkan perubahan hemoragi, erosi epitel epidermis, infiltrasi sel radang, kongesti, dan ballooning degeneration pada jaringan kulit ikan komet. Derajat infestasi ektoparasit A. japonicus berbanding lurus dengan tingkat kerusakan jaringan kulit ikan komet. Jenis kerusakan jaringan tidak menunjukkan hubungan yang linear dengan derajat infestasi A. japonicusAbstractAcute infestation of A. japonicus can give occasion death and economic loss to farmers. Stylet penetration of ectoparasites A. japonicus caused considerable damage by breaking consistency of fish tissue and skin irritation. The purpose of this research was ascertain the level of comet fish skin tissues changes or abnormalities caused by ectoparasites A. japonicus. The variables observed in this study is the anatomic pathology and histopathological changes in the skin tissue of fish comet due to A. japonicus infestation. Scoring is done to determine the level of comet fish histopathology skin tissues damage. The results showed that the infestation of A. japonicus provide an overview histopathological changes inflammation, epidermis erotion, congestion, ballooning degeneration, and haemorrhage in comet fish skin tissues. Infestation level of ectoparasites A. japonicus is directly proportional with the level of comet fish tissue damages. Type of tissue damage does not have linear relationship with the level of A. japonicus infestation.  

Penambahan Lisin pada Pakan Komersial terhadap Retensi Protein dan Retensi Energi Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum) [Lysine Addition on Commercial Feed to the Protein Retention and Energy Retention Colossoma macropomum]

Khalida, Afifa, agustono, Agustono, Paramita, Widya

Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.977 KB) | DOI: 10.20473/jipk.v9i2.7637

Abstract

                                                                   AbstrakAsam amino adalah komponen terkecil yang menyusun protein. Sejumlah asam amino akan dihubungkan satu sama lain melalui perantara ikatan peptida untuk membentuk protein. Asam amino telah dibagi menjadi dua; yaitu asam amino esensial dan asam amino non-esensial. Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat disintesis oleh tubuh ikan; karena itu asam amino esensial harus ada dalam pakan. Lisin adalah salah satu dari sepuluh asam amino esensial, fungsi lisin adalah untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lisin dalam pakan komersial terhadap retensi protein dan retensi energi ikan bawal air tawar. Metode yang digunakan adalah desain eksperimen rancangan acak lengkap. Perlakuan yang digunakan adalah kadar lisin yang berbeda, yaitu P0 (0%), P1 (0,6%), P2 (1,2%), P3 (2,4%), P4 (4,8%) dan perlakuan  diulang 4 kali. Parameter utama yang diamati adalah retensi protein dan retensi energi pada air tawar bawal. Parameter yang diukur didukung oleh parameter kualitas air. Analisis data menggunakan Analisis Varian (ANOVA) dan untuk menentukan perlakuan terbaik digunakan Duncans multiple range test. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan (p <0,05) dalam retensi protein dan energi adalah daging ikan bawal air tawar. Retensi protein dan retensi energi dalam pengobatan P1 (0,6% lisin), P2 (1,2% lisin), P3 (2,4% lisin) dan P4 (4,8% lisin) berbeda secara signifikan dengan perlakuan P0 (kontrol). Kualitas air selama 40 hari perlakuan ditetapkan pada suhu 27-300 C, pH 7,5-8,5, amonia 4 mg / l dan oksigen terlarut 4 mg / l.                                                                 AbstractAmino acids are the smallest components that compose proteins. A number of amino acids will be conducted to one another through the intermediary of peptide bonds to form proteins. Amino acids have divided into two; those are essential amino acids and non-essential amino acids. The essential amino acids are amino acids that can not be synthesized by the body of fish; therefore the essential amino acids must be in feed. Lysine is one of the ten essentials amino acids , the function of lysine are for the growth and repair body tissues. This research was aimed to determine the effect of lysine in commercial feed on protein retention and energy retention of freshwater Bawal.The method used is experiment with a completely randomized design as an experimental design. The treatment used is different lysine levels , namely P0 ( 0 % ) , P1 ( 0.6 % ) , P2 ( 1.2 % ) , P3 ( 2.4 % ) , P4 (4.8 % ) and treatment was repeated 4 times. The main parameters were observed protein retention and energy retention on Bawal fresh water. Parameters measured were supported by water quality parameters. Analysis of the data using Analysis of Varian ( ANOVA ) and to determine the best treatment used Duncan s multiple range test. The results showed the significant differences ( p < 0.05 ) in protein retention and energy were freshwater pomfret fish meat. Retention of protein and energy retention in treatment P1 ( 0.6 % lysine ) , P2 ( 1.2 % lysine ) , P3 ( 2.4 % lysine ) and P4 ( 4.8 % lysine ) was significantly different with treatment P0 ( control ). The quality of water for 40 days treatment was set to temperature 27-300 C, pH 7.5-8.5, ammonia 4 mg/l and dissolved oxygen 4 mg/l.

Gambaran Patologi Hepar Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) yang Diinfeksi Bakteri Edwardsiella tarda [Featuring Liver Pathology of Clarias gariepinus Infected By Edwardsiella tarda]

Meidiza, Ratu, Arimbi, Arimbi, Hastutiek2, Poedji

Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol 9, No 1 (2017): Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.077 KB) | DOI: 10.20473/jipk.v9i1.7632

Abstract

                                                                           AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kerusakan hepar dari Clarias gariepinus yang diinfeksi dengan Edwardsiella tarda. Dua puluh empat Clarias gariepinus dengan berat rata-rata 20-25 gram, ukuran 10-12 cm dibagi secara acak menjadi 4 kelompok perlakuan (P0, P1, P2, dan P3). Masing-masing perlakuan dilakukan enam kali pengulangan dengan dosis Edwarsiella tarda 3 x 106 CFU/ ml kecuali kontrol (P0). Pada pengamatan mikroskopis menunjukkan bahwa hepar telah mengalami pembengkakan dan pucat. Pengamatan histopatologi menggunakan mikroskop cahaya dengan 400 kali pembesaran. Metode penilaian Bernet’s Scoring digunakan untuk menentukan adanya degenerasi, nekrosis, dan kongesti dan infiltrasi leukosit. Kruskal-Wallis digunakan untuk pengujian statistika diikuti dengan pengujian Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan pada hepar Clarias gariepinus. Kerusakan parah terjadi pada perlakuan P2. Hal ini disebabkan pada pengamatan histopatologi menunjukkan adanya lesi seperti nekrosis dengan pembengkakan sel dan meningkatnya infiltrasi eritrosit pada pembuluh darah dibandingkan dengan P1 dan P3.                                                                            AbstractThis research aimed to know the changed damage of liver Clarias gariepinus were infected by Edwardsiella tarda. Twenty four of Clarias gariepinus with an average weight of 20-25 gram, size 10-12 cm were randomly divided into four groups of treatment (P0, P1, P2, and P3). Six repetitions each those are given with the dosage of Edwardsiella tarda 3x106 CFU/ml except P0 (control). At the macroscopic observed, show that the liver becomes swollen and pale. The histopathological features of hepar were examined under light microscope in 400 times magnification. Scoring method were using Bernet Scoring Method to examine the presence of degeneration, necrotic, congestion, and infiltration of leucocytes. Then, Kruskal-Wallis test followed with Mann-Whitney test of statistical analysis. The result showed a change in liver of Clarias gariepinus. The most severe damage occurred on P2. It causes in histopathology examination showed lesion such necrotic area with infiltration of inflammatory cells and there was an increased of erythrocyte infiltration in blood vessels compared with P1 and P3.                                                      

Komunitas Fitoplankton Pada Sistem Budidaya Intensif Udang Vaname, Litopenaeus vannamei di Probolinggo, Jawa Timur [Phytoplankton Community at Intensive Cultivation System of White Shrimp, Litopenaeus vannamei in Pr

Arifin, Nasrullah Bai, Fakhri, Muhammad, Fakhri, Muhammad, Yuniarti, Ating, Yuniarti, Ating, Hariati, Anik Martinah, Hariati, Anik Martinah

Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol 10, No 1 (2018): Jurnal ilmiah perikanan dan kelautan
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.855 KB) | DOI: 10.20473/jipk.v10i1.8542

Abstract

                                                    AbstrakFitoplankton merupakan sumber pakan alami pada budidaya udang di tambak. Produktivitas fitoplankton dapat meningkat seiring dengan bertambahnya kandungan nutrien di tambak. Sisa metabolisme dan pakan merupakan sumber nutrien bagi pertumbuhan fitoplankton di tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi produktivitas dan mengidentifikasi jenis fitoplankton pada sistem budidaya intensif udang vaname, Litopenaeus vannamei. Penelitian ini dilakukan pada tiga petak tambak budidaya intensif udang vaname di Probolinggo, Jawa Timur. Pengambilan sampel air tambak dilakukan pada hari ke-17 dan hari ke-87 masa budidaya masing-masing dua kali setiap petak. Empat parameter lingkungan yaitu total ammonia nitrogen (TAN), nitrat, orthophosphate, total padatan tersupensi (TSS), dan klorofil diukur pada setiap sampel air tambak. Selain itu, kami juga mengidentifikasi dan menghitung fitoplankton pada setiap sampel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produktivitas pada ke tiga tambak berkisar antara 22.893,83 kg/ha sampai 23.600,61 kg/ha dengan ukuran panen 12,74 g/ekor sampai 14,35 g/ekor. Selama masa budidaya, konsentrasi TAN, TSS, dan klorofil meningkat seiring dengan semakin lamanya masa budidaya. Sementara itu, rerata kandungan nitrat dan orthophosphate cenderung menurun seiring bertambahnya masa budidaya. Jenis fitoplankton yang teridentifikasi yaitu dalam genus Oocystis, Chlorella, Nannochloropsis, Chaetoceros, Stephanodiscus, Nitzschia, Coscinodiscus, Cyclotella, dan Ulothrix. Fitoplankton dari kelompok Chlorophyta merupakan jenis yang dominan pada tambak 1 dan 2, sedangkan tambak 3 didominasi oleh kelompok Diatom. Penelitian ini mengindikasikan bahwa keberadaan fitoplankton di tambak mendukung ketersediaan pakan alami dan lingkungan yang baik bagi budidaya udang.                                                      AbstractPhytoplankton is a source of natural feed for shrimp cultivation in the pond. Phytoplankton productivity increases by the increased nutrient content in the pond. Feed and metabolic waste is the sources of nutrient for phytoplankton growth. This study aimed to evaluate productivity and identify phytoplankton at intensive white leg shrimp, Litopenaeus vannamei cultivation system. This study was conducted at three intensive white shrimp located in Probolinggo, East Java. Samples were collected on the early and the late of culture period (day 17 and 87 after stocking). Four environmental parameters including total ammonia nitrogen (TAN), nitrate, orthophosphate, total suspended solids (TSS), and chlorophyll-a were measured. Identification and density of phytoplankton were also performed of each pond. The result showed that the productivity of three ponds was 22,893.83 kg/ha to 23,600.61 kg/ha with an average size of 12.74 g to 14.35 g. During culture period, the concentration of TAN, TSS, and chlorophyll-a tended to increase. Meanwhile, the average of both nitrate and orthophosphate tended to decline. Several phytoplankton identified in this study were in the genus of Oocystis, Chlorella, Nannochloropsis, Chaetoceros, Stephanodiscus, Nitzschia, Coscinodiscus, Cyclotella, and Ulothrix. Phytoplankton of the group Chlorophyta is predominance for pond 1 and 2, while pond 3 was dominated by phytoplankton in the group of Diatom/Baccillariophyta. This study indicated that the presence of phytoplankton in the pond provides natural feed and good environmental condition for shrimp cultivation.

Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Proteolitik yang Berasosiasi dengan Lamun Enhalus acoroides di Pantai Bama, Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur [Isolation and Characterization Proteolytic Bacteria which is Associated with Sea Grass (Enhalus acoroides) in Bama Beach, Baluran National Park, Situbondo, East Java].

Rizaldi, Rachmat, Setyantini, Woro Hastuti, Sudarno, Sudarno

Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol 10, No 1 (2018): Jurnal ilmiah perikanan dan kelautan
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.547 KB) | DOI: 10.20473/jipk.v10i1.8314

Abstract

AbstrakLamun adalah tumbuhan sejati yang hidup di perairan pantai yang kurang dimanfaatkan dalam bidang perikanan, selain sebagai bioindikator kualitas air laut. Beberapa mikroorganisme yang berasosiasi dengan lamun Enhalus acoroides antara lain benthos, kapang, bakteri dan plankton. Bakteri proteolitik merupakan bakteri yang mampu menghasilkan enzim protease. Enzim perotese merupakan enzim yang paling banyak digunakan dalam kehidupan. Bakteri merupakan sumber enzim yang paling banyak digunakan dibandingkan dengan tanaman dan hewan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis isolat bakteri proteolitik yang berasosiasi dengan lamun Enhalus acoroides di Taman Nasional Baluran, Situbondo. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan dianalisis secara deskriptif dengan bantuan tabel dan gambar. Hasil yang peroleh menunjukkan bahwa terdapat 12 isolat bakteri yang berasosisasi dengan lamun Enhalus acoroides. Terdapat empat isolat yang tergolong sebagai bakteri proteolitik karena mampu mendagradasi kasein dalam media TSA + 2% NaCL yang ditambah 1 % susu skim, tampak dari pembentukan zona bening. Pengamatan morfologi koloni dan sel serta pengujian biokimia dari keempat isolat (EA-1, EA-2, EA-9 dan EA-10) terdapat kesamaan karakteristik dengan empat genus bakteri berturut-turut yaitu Staphylococcus sp., Plesiomonas shigeloides, Bacillus sp., Pseudomonas sp.AbstractSeagrass is a true living plants underutilized coastal waters in the field of fisheries, as well as bio-indicators of the quality of sea water. Some microorganisms associated with seagrass Enhalus acoroides among others benthos, fungi, bacteria and plankton. Proteolytic bacteria are bacteria that are capable of producing the enzyme protease. Protease enzyme is an enzyme that is most widely used in life. Bacteria are a source of enzymes that are most widely used compared to plants and animals. The purpose of this study was to determine the type of proteolytic bacterial isolates associated with seagrass Enhalus acoroides in Baluran National Park, Situbondo. This study used survey method with descriptive analysis with tables and figures. The results obtained that there are 12 bacterial isolates associated with seagrass Enhalus acoroides. There are four isolates were classified as proteolytic bacteria because it can degrade casein in TSA media + 2 % NaCL plus 1% skim milk which is evidenced by the formation of clear zones. Observations colony morphology and cells, as well as testing of Biochemistry of the four isolates (EA-1, EA-2, EA-9 and EA-10), were obtained, with similar characteristics to the four genera of bacteria in a row as follows Staphylococcus sp., Plesiomonas shigeloides, Bacillus sp., Pseudomonas sp. 

Efektifitas Ekstrak Immersi Spirulina platensis sebagai Imununostimulan terhadap Jumlah Splenik Melanomacrophage Center (MMC) pada Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) yang diinfeksi Aeromonas hydrophila [Effectiveness of Spirulina platensis Extract Immersion as Immunostimulant To Number of Splenic Melanomacrophage Centers in Gouramy Fish (Osphronemus gouramy) Infected with Aeromonas hydrophila]

Aditya, Iga Wahyu, Arimbi, Arimbi

Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.647 KB) | DOI: 10.20473/jipk.v9i2.7638

Abstract

                                                   AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek imunostimulan dari ekstrak Spirulina platensis terhadap penurunan jumlah melanomakrofag limpa pada penyakit bakteri yang disebabkan Aeromonas hydrophila. Metode penelitian ini adalah eksperimental laboratorik dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. 20 ekor ikan gurami dengan berat 20-30 gram secara acak dibagi kedalam 5 grup perlakuan yaitu P0-, P0+, P1, P2 dan P3. Grup yang digunakan sebagai control (P0-), grup yang diinfeksi 106ml-1Aeromonas hydrophila (P0+) dan grup yang diberikan air dengan ekstrak Spirulina platensis 200, 400 dan 600 mg/L dan diinfeksi dengan 106 ml/L Aeromonas hydrophila. Setelah 1 minggu adaptasi, perlakuan P1, P2 and P3 diberikan ekstrak Spirulina platensis pada hari 1 dan hari ke 7 dan di infeksi 106ml/L Aeromonas hydrophila. Setelah 4 hari infeksi, seluruh ikan gurami di eutanasi untuk mendapatkan data. Data dianalisis dengan menggunakan metode Kruskal Wallis. Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p<0.05) antar perlakuan dengan jumlah melanomakrofag center (MMC). Hal ini membuktikan bahwa Perlakuan P2 dan P3adalah dosis efektif dimana kedua perlakuan tersbut menunjukkan banyaknya jumlah melanomacrophage centers (MMC).                                                        AbstractThe purpose of this study was to determine the effect of immunostimulants from Spirulina platensis extract on decreasing the number of splenic melanomacrophages in bacterial diseases caused by Aeromonas hydrophila. The method of this research is laboratory experimental with 5 treatments and 4 replications. 20 gourami fish weighing 20-30 grams were randomly divided into 5 treatment groups namely P0-, P0 +, P1, P2 and P3. The group used as control (P0-), the group infected with 106ml-1 Aeromonas hydrophila (P0 +) and the group given water with Spirulina platensis extract 200, 400 and 600 mg L-1 and infected with 106 ml/L Aeromonas hydrophila. After 1 weeks of adaptation, treatments P1, P2 and P3 were given Spirulina platensis extract on day 1 and day 7 and in infection with 106ml-1Aeromonas hydrophila. After 4 days of infection, all gouramy is euthanized to obtain data. Data were analyzed using the Kruskal Wallis method. This study showed a significant difference (p <0.05) between treatments with the number of melanomacrophages center (MMC). This proves that the P2 and P3 treatments are effective doses where both treatments show the large number of melanomacrophage centers (MMC).

Page 1 of 13 | Total Record : 130