cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Global Strategies
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19079729     EISSN : 24419600     DOI : -
Jurnal Global & Strategis is a scientific journal published twice a year, every June and December. JGS invite discussions, reviews, and analysis of contemporary against four main themes: international peace and security; international political economy; international businesses and organization; as well as globalization and strategy. JGS published by Cakra Studi Global Strategis (CSGS), center of studies that examine the issues of international relations and this center of studies was under control by Airlangga University International Relations Department.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 1 (2018): Global Strategis" : 10 Documents clear
Grand Strategy Obama: Pivot to Asia Wardhana, Agastya
Global Strategis Vol 12, No 1 (2018): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.12.1.2018.59-77

Abstract

Kebijakan luar negeri Amerika Serikat memiliki dampak yang besar dalam konstelasi internasional. Oleh karena itu, pemahaman akan kebijakan luar negeri pada setiap era akan membantu kita dalam memahami tujuan dan kepentingan yang ingin dicapai oleh Amerika Serikat. Dalam setiap implementasinya, kebijakan luar negeri Amerika Serikat dapat dianalisis menggunakan kajian Grand Strategy, siapapun presiden yang sedang menjabat pada masa itu. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan luar negeri Obama pada periode kedua. Menggunakan kombinasi Grand Strategy milik Cristopher Lyne serta Possen & Ross, penulis berargumen bahwa kebijakan luar negeri Obama dilaksanakan berdasar corak selective engagement. Selective engagement ini ditunjukkan melalui adanya upaya pencapaian kepentingan nasional dengan merespon terhadap ancaman yang ada. Dalam konteks ini kepentingan yang ingin dicapai oleh Obama adalah restorasi kepemimpinan Amerika Serikat oleh karena itu ancaman paling nyata yang hadir adalah naiknya Cina maka pemerintahan Obama lantas mengeluakan kebijakan Pivot to Asia. Hal ini dikarenakan Cina memiliki kekuatan cukup besar di kawasan Asia sehingga Amerika Serikat sehingga Amerika Serikat memilih Asia sebagai target kebijakannya.
The Modernization of Poland Defense Forces to Respond Russia Military Presence in Kaliningrad Oblast (2014-2017) Perwita, Anak Agung Banyu; Rachmawati, Widya Dwi
Global Strategis Vol 12, No 1 (2018): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.12.1.2018.183-201

Abstract

The geopolitical security condition of Eastern Europe has undergone a drastic shift from Communist to Democratic ideology. After the collapse of the Soviet Union, Poland immediately joined the Western alliance, which led to the massive structural changes of the country. The shift has had an enormous impact on Russia where it has made various confrontations to regain its influence in the region. Russia continues to increase tensions by increasing the military capabilities of Kaliningrad Oblast, which is directly bordered by Poland. In response, the Polish government made efforts to modernize its military as part of the Defense White Book 2013 to improve its military capabilities in response to Russian military presence in Kaliningrad Oblast. The role of the global players (EU, NATO, and the USA) is key important to the security stability of the region. Poland on its four pillars specifically calls the alliance with the USA and becomes a member of NATO as an important factor in the formulation of its defense policy, in which Poland could increase the capabilities of its Armed Forces.
The India-Pakistani Military and Nuclear Arms Race in Post-Cold War Period: The Regional Security Complex in South Asia Sudirman, Arfin
Global Strategis Vol 12, No 1 (2018): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.12.1.2018.165-181

Abstract

The article examines the India-Pakistani nuclear arms race and its effect to the regional security in South Asia today as a Cold War’s legacy. By using regional security complex theory and qualitative method, this article argues that the balance of power and security dilemma principles also work in the region level due to the fact that both countries use nuclear weapons as a deterrence power, a similar pattern that also occurred during the Cold War era. External power such as US, China and Russia are actually aggravating the situation by selling the nuclear material (such as uranium) and technology to both countries regardless the future consequence. However, since multipolar system gives level of threat into more complex and broader sectors of security issues-not to mention the existence of non state actors such as terrorist groups, the regional security in South Asia is essential to prevent further damage to the nearby region. Therefore, the role of international community such as the UN to restore order in the regions is vital.
Model Diplomasi Perlindungan Pemerintah Indonesia terhadap Warga Negara Indonesia Pekerja Sektor Formal dan Informal di Luar Negeri Paramitaningrum, Paramitaningrum; Yustikaningrum, Richa Vidya; Dewi, Galuh Dian Prama
Global Strategis Vol 12, No 1 (2018): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.12.1.2018.17-37

Abstract

Arus migrasi Warga Negara Indonesia (WNI) ke luar negeri semakin meningkat, baik untuk tinggal menetap, bekerja ataupun menempuh pendidikan di luar negeri. Bagi WNI yang bekerja, jumlah terbesar warga negara Indonesia berada di sektor informal, dan tersebar di kawasan Asia Timur dan Timur Tengah. Selain itu, cukup banyak pula warga negara kita yang bekerja di sektor formal di luar negeri. Hal tersebut membawa konsekuensi dimana setiap WNI baik yang bekerja, tinggal dan menetap di luar negeri, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perlindungan dari Pemerintah Indonesia. Namun, menjadi persoalan berbeda ketika WNI pekerja sektor informal mengalami permasalahan, mereka tidak selalu bisa mendapatkan hak tersebut. Minimnya akses informasi, serta keterbatasan kemampuan perwakilan Indonesia di luar negeri menjadi penghambat untuk mengimplementasikan perlindungan terhadap Warga Negara Indonesia.Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui model diplomasi perlindungan pemerintah Indonesia terhadap WNI, terutama pekerja di sektor formal dan sektor informal. Model diplomasi perlindungan Pemerintah Indonesia terhadap WNI di luar negeri lebih diprioritaskan pada upaya perlindungan secara hukum, dengan kata lain ketika WNI mengalami suatu permasalahan atau kasus, pihak pemerintah Indonesia melakukan pendampingan dan perlindungan secara hukum sebagaimana panduan hukum yang dijadikan acuan dalam prosesnya selama ini dan pemerintah Indonesia bukan sebagai pihak yang menerima hukuman atas setiap kasus atau pelanggaran yang dilakukan oleh WNI. Berangkat sebagai hasil penelitian, proses pengumpulan data tulisan ini dilakukan melalui wawancara dengan para pengambil keputusan yang terlibat langsung serta menelaah berbagai studi terdahulu terkait bentuk diplomasi perlindungan terhadap WNI pekerja di sektor formal dan informal yang telah dipublikasikan, mengklasifikasikan upaya perlindungan terhadap berbagai situasi atau kasus yang dialami oleh warga negara kita tersebut di luar negeri serta pada akhirnya melakukan analisis atas berbagai pemberitaan di media massa.              .Kata-kata Kunci : Model Diplomasi Perlindungan, WNI, Tenaga Kerja 
The Rise of Sino-Russian Order? Mapping China's and Russia's Geo-Economic Capabilities Dharmaputra, Radityo
Global Strategis Vol 12, No 1 (2018): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.12.1.2018.103-120

Abstract

There is a growing debate about the emerging powers of China and Russia and the possibility of the two countries to balance the hegemony of United States in the world order. Based on the proposed geo-economical approach, I analyse the growing dynamics of China and Russia and compare the strengths and weaknesses of each countries’ style of economic development. After analysing the strengths and weaknesses of both countries, I elaborate the possibility of conflict and cooperation between them. I argue about the probability of success and failure in the both countries’ aspiration to balance the domination of United States. These dynamics, whether ending in challenging the U.S. hegemony or not, is likely to generate concerns, especially in the Asia-Pacific region. Therefore, I also elaborate the possible complications in the regions regarding the both countries’ quest for power. In the end, I try to argue about the position of China and Russia related to the relative position of the United States, especially in the Asia-Pacific region.
Memperkuat Lokalitas Kota Semarang di Era Globalisasi melalui Diplomasi Lokal Susiatiningsih, Hermini; Farabi, Nadia; Paramasatya, Satwika; Puspapertiwi, Sheiffi
Global Strategis Vol 12, No 1 (2018): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.12.1.2018.1-15

Abstract

Globalisasi menyebabkan semua lini kehidupan menjadi saling berhubungan. Desentralisasi yang dikuatkan melalui penyebaran nilai-nilai demokrasi melalui fenomena globalisasi nyatanya telah memunculkan pemerintah daerah sebagai salah satu aktor penting dalam hubungan internasional melalui perannya dalam paradiplomasi. Diadopsi dari pengalaman negara-negara maju, negara berkembang kini mengadaptasikan paradiplomasi dengan kondisi dan kepentingan yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi diplomasi yang kompatibel dengan konsep lokalitas, sehingga dapat memperkuat lokalitas Kota Semarang di era globalisasi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan konsep desentralisasi dan paradiplomasi dengan metode kualitatif untuk menganalisa data yang diperoleh. Penelitian ini menemukan bahwa paradiplomasi tahap pertama telah diterapkan oleh Pemerintah Kota Semarang. Paradiplomasi tahap pertama ini dilakukan untuk mencapai kepentingan ekonomi, seperti meningkatkan investasi dan memperluas pasar, tanpa meninggalkan identitas dan modalitas lokal. 
China Versus Amerika Serikat: Interpretasi Rivalitas Keamanan Negara Adidaya Di Kawasan Asia Pasifik Al Syahrin, Muhammad Najeri
Global Strategis Vol 12, No 1 (2018): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.12.1.2018.145-163

Abstract

 Tulisan ini berupaya menggali makna isu rivalitas keamanan yang saat ini berlangsung antara negara adidaya Amerika Serikat dengan China di kawasan Asia Pasifik. Dengan kebangkitan China, hubungan Sino-AS telah menjadi semakin penting bagi stabilitas keamanan Asia Pasifik. Rivalitas keamanan yang terjadi antara kedua negara tersebut semacam ‘ritual lama’ yang kini diulang oleh ‘jamaah baru’. Kontestasi politik dan keamanan yang sudah usai dengan berakhirnya Perang Dingin, secara langsung belum mampu menjadikan Amerika Serikat sebagai negara adidaya tunggal dan secara sepihak mampu terus menerus melakukan kontrol dinamika politik dunia. Hadirnya China memberikan alternatif dalam interaksi keamanan regional Asia Pasifik. Inisiasi strategi China dan respon aktif Amerika Serikat akan menentukan lanskap keamanan Asia Pasifik dalam beberapa dekade mendatang. Didorong oleh kebangkitan China tersebut, identitas China kini telah bergeser menjadi kekuatan besar yang intimidatif. Disatu sisi ia menjadi ancaman bagi kepentingan keamanan kawasan AS, disisi lain China juga hadir sebagai kompetitor dalam kepentingan ekonomi AS.Kata-kata kunci: Rivalitas keamanan, negara adidaya, Amerika Serikat dan China. kawasan Asia Pasifik. 
Isu Laut Tiongkok Selatan: Negara-negara ASEAN Terbelah Menghadapi Tiongkok Darmawan, Arief Bakhtiar; Mahendra, Lady
Global Strategis Vol 12, No 1 (2018): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.12.1.2018.79-100

Abstract

This paper aims to analyze the strategies of each ASEAN member states towards China related to the dispute in the South China Sea (SCS). SCS area is becoming a platform of power competition between China, the Philippines, Vietnam, Malaysia, and Brunei. Five parties mentioned above are competing over sovereignty in certain areas of the SCS. SCS area became interesting to certain parties, considering its strategic value for expansive policy. In the contemporary era, the rise of this conflict perceived as a problem which caused by shifting balance of power, that happened when the U.S. sought to preserve its unilateral moment after the end of cold war. This lead to vacuum of power situation in the Southeast Asia, thus encourage China to build up presence in the dispute area. Even though there are only four ASEAN countries that directly involved, however the adoption of the Declaration on the SCS by all ASEAN member countries, asserted that in this case ASEAN is standing together to show their objections of China’s aggressiveness. With structural realism perspective as the analysis tool, tendencies of ASEAN member states’ different strategies are understandable by the explanation about motives behind it. Which Philippines and Vietnam tend to leaning towards balancing strategy against China. Cambodia, Laos, and Myanmar indicate towards bandwagoning strategy with China, while the rest of the members did not show tendencies of leaning either ways.
Bilateral and Multilateral Approach of The United States and China Towards ASEAN Jati, Irawan
Global Strategis Vol 12, No 1 (2018): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.12.1.2018.39-56

Abstract

The U.S. and China relations in Southeast Asia have been a long contesting history. It is no question that the U.S. and China are playing strategy to stronghold Southeast Asia for their gain. Both states seek greater influence by applying the multilateral and bilateral approach to ASEAN and its member states. In engaging to ASEAN, the U.S. and China joined ASEAN led multilateral forums such as the ASEAN Regional Forum (ARF) and ASEAN Plus Three. Traditionally, the U.S. and China already have bilateral diplomatic relations with all ASEAN member states. But it does not necessarily represent their deep commitment to the Southeast Asia region. Furthermore, ASEAN relations with the U.S. and China are overshadowed by the rivalry between the two major powers. The US increasing military tied with the Philippines and Thailand's strategic plan to acquire submarines from China are the recent development of rivalries between the two. Therefore, it is fascinating to examine how the US and China's bilateral and multilateral approaches affecting ASEAN and its member states policies. It is argued that ASEAN should maintain neutral performance in engaging with the U.S. and China. It also suggests that ASEAN member states should keep their 'community' identity to derogate the possible deterioration of the stability in the region. Hubungan antara Amerika Serikat (A.S) dan Tiongkok di kawasan Asia Tenggara memiliki sejarah persaingan yang panjang. A.S dan Tiongkok memainkan strategi untuk menguasai Asia Tenggara demi kepentingan mereka. Kedua negara berusaha untuk mencapai pengaruh yang lebih luas dengan melakukan pendekatan multilateral dan bilateral pada ASEAN dan negara anggotanya. Dalam hubungaannya dengan ASEAN, A.S dan Tiongkok terlibat dalam forum multilateral ASEAN seperti ASEAN Regional Forum (ARF), dan ASEAN Plus Three. Secara tradisional, A.S dan Tiongkok telah memiliki hubungan diplomasi bilateral dengan negara anggota ASEAN. Namun hal tersebut belum menunjukkan komitmen utama mereka di kawasan Asia Tenggara. Lebih jauh lagi, hubungan ASEAN dengan A.S dan Tiongkok dibayangi oleh persaingan antar kedua negara besar tersebut. Peningkatan hubungan militer A.S dengan Filipina dan rencana strategis Thailand untuk membeli kapal selam dari Tiongkok merupakan perkembagan teranyar dari persaingan antar kedua negara tersebut. Oleh karenaya, artikel ini akan menganalisis bagaimana pendekatan multilateral dan bilateral yang dilakukan oleh A.S dan Tiongkok mempengaruhi kebijakan ASEAN dan negara anggotanya. Argumen utama dalam artikel ini adalah ASEAN harus tetap mempertahankan netralitas dalam kebijakannya terhadap A.S dan Tiongkok. Artikel ini juga merekomendasikan agar ASEAN dan negara anggotanya tetap berpegang pada identitas ‘komunitas’ untuk menghindari kemungkinan eprpecahan di kawasan.
Knowledge and the Mystery of Black Boxes: The Construction of a Techno-scientific-culture in The Case of Digital Maritime Safety Munaf, Dicky Rezady; Piliang, Yasraf Amir
Global Strategis Vol 12, No 1 (2018): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.12.1.2018.123-143

Abstract

The growth of knowledge in an institution is highly determined by the cultural system and environment, in which the knowledge is produced, disseminated and appropriated. Knowledge, which is substantially demanded for the continuation of the institution, can only be systematically generated in a good social and cultural environment. Yet, in many cases, there is a kind of “black box” that structurally impedes the production of knowledge, because of incapability of the system in constructing a collective “scientific culture”. This paper analyze the techno-scientific system usage in the Indonesia Maritime Security Coordinating Board (IMSCB) worked from 2006-2014. Here, two related systems are responsible for the production of knowledge in the institution, i.e., “techno-science” and “techno-culture”. Yet, the capacity of certain institutions in generating useful knowledge is highly determined by the capability of “techno-scientific-culture” to open “black boxes”, that is capable to reveal and understand the complexity behind natural or social realities: earthquake, Tsunami, flood, traffic jam, chaos or mass violence. Thus a cultural transformation has to be systematically initiated to integrate techno-science and techno-culture, create self-reflectivity of the scientific world, and build “public awareness” about the function, significance and science benefit and technology for community, society and humankind in general.

Page 1 of 1 | Total Record : 10