cover
Contact Name
Arum Budiastuti
Contact Email
arumbudi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
up2dfibunair@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Mozaik Humaniora
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 24428469     EISSN : 2442935X     DOI : -
Mozaik Humaniora is a journal that focuses on the scope of humanities and accepts articles on cultural studies, linguistic and literary studies, as well as philology and historical studies.
Arjuna Subject : -
Articles 95 Documents
Status Selebritas dal am Idola Cilik Muktiono, Dadung Ibnu
MOZAIK HUMANIORA Vol 13, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.762 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v13i1.2580

Abstract

x
Peran Semantis Subjek dalam Klausa Bahasa Muna Sri Satyawati, Made
MOZAIK HUMANIORA Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.816 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5861

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengkaji beberapa peran semantis subjek dalam klausa bahasa Muna. Dalam berbagai bahasa, klausanya dimungkinkan memiliki sejumlah peran semantis. Begitu pula dengan bahasa Muna. Dalam tuturan sehari-hari, klausa merupakan unsur terpenting karena mengandung predikasi. Predikat sebagai penentu maksud pembicaraan. Di dalam klausa tersebut, subjeknya dapat saja berupa agen atau pasien. Dalam teori Role and Reference Grammar (RRG), agen dan pasien dikatakan sebagai peran umum, yaitu ACTOR dan UNDERGOER. Kedua peran semantis ini dapat saja hadir dalam satu klausa atau pun dapat hadir dalam satu klausa sekaligus. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan karena sumber data yang berupa data lisan berasal dari penutur atau informan. Penelitian ini menggunakan metode simak dan metode cakap dengan teknik sadap, teknik simak libat cakap, teknik rekam atau teknik catat, serta teknik pemancingan. Selanjutnya, data dianalisis dengan metode agih dan metode padan dengan teknik dasar bagi unsur langsung (BUL) sehingga analisis peran semantis subjek terlihat jelas. Analisis peran semantis subjek dalam klausa bahasa Muna mengacu pada teori Role and Reference Grammar (RRG). Hasil yang ditemukan, klausa bahasa Muna memiliki tiga peran semantis subjek, yaitu (1) klausa dengan SUBJEK memiliki peran semantis ACTOR, (2) klausa dengan SUBJEK memiliki peran semantis UNDERGOER, dan (3) klausa dengan SUBJEK memiliki peran semantis ACTOR sekaligus UNDERGOER. Klausa dengan peran semantis ACTOR sekaligus UNDERGOER dapat berupa klausa refleksif dan klausa resiprokal.Argumen UNDERGOER sebagai SUBJEK klausa dapat berupa entitas [-human] dan [+human]. Kata kunci: bahasa Muna, klausa, peran semantis subjek ABSTRACTThis study concerns particular semantical roles of a subject in the clauses of Munansese language. In the Munanese language, the clause may have  a number of semantical roles. In daily utterances,  the clause is a constitute primary element because it has a predicate. The predicate determines the speaker’s intended meaning in one conversation. In the clause, the subject can be an agent or patient. In Role and Reference Grammar theory, the agent and the patient can be called as an ACTOR  and UNDERGOER. These semantical roles can be present at the same time in the  clause. The study using a qualitative descriptive approach is a field research. The data were collected from the speakers’ and informants’ utterances. To collect the data,  the methods included a close observation and conversation using a hidden recorder, taking some notes, and giving an improptu statement that needed an immediate response. The data were analyzed by directly dividing the elements of the clause named BUL (Bagi Unsur Langsung), so that the semantical roles of the subject could be identified.  The results of the study show that the Munanese language clause has three semantical roles of the subject; (1) clauses with SUBJECT as ACTOR, (2) clauses with SUBJECT as UNDERGOER, and (3) clauses with SUBJECT as ACTOR  andUNDERGOER. The clause having ACTOR  and UNDERGOER as the semantic roles at the same time is reflexive and reciprocal clause. The argument, UNDERGOER,  as SUBJECT may have such features as [-human] and[+human].  Keywords: clauses, Munanese language, semantical role of subject
Potret Ketertindasan Rakyat dalam Novel Nyanyian Kemarau Karya Hary Kori’un Nurcahyani, Eka
Mozaik Humaniora Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Humanities - Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.585 KB) | DOI: 10.20473/mh.v14i2.7813

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap ketertindasan rakyat di pedalaman Riau dan perlawananyang mereka lakukan dalam novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un. Penelitian ini adalahpenelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Penelitian ini mengungkapketertindasan rakyat melalui analisis tokoh dan penokohan, alur, latar tempat dan waktu, dan tema.Unsur-unsur karya sastra tersebut akan dikaitkan dengan pendekatan sosiologi sastra menurut SapardiDjoko Damono. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa novel yang dibagi menjadi tiga bagian yangmasing-masing menceritakan satu fase kehidupan tokoh utamanya yang bernama Rusdi AhmadSubadra ini mengangkat sejumlah peristiwa yang benar-benar terjadi di dalam kehidupan nyata,seperti peristiwa kerusuhan Mei 1998, pembangunan PLTA Koto Panjang tahun 1993, dan pembalakanliar di pedalaman Riau. Melalui novel ini, jiwa jurnalistik Kori’un untuk secara jujur mengungkapkanmasalah-masalah sosial dan lingkungan di masyarakatnya terejawantahkan meskipun dibalut dengankisah-kisah fiksi. Melalui tokoh Rusdi, ia sebagai pengarang sekaligus wartawan memosisikan dirisebagai pengarang yang secara sadar mengemban misi untuk menyampaikan kebenaran. Kori’unsebagai pengarang sekaligus wartawan menggunakan tokoh Rusdi yang juga wartawan sebagaiagen atau corong untuk mengkritik pemerintah dan aparat korup. Masalah-masalah sosial danlingkungan yang ia suguhkan di dalam novel ini bertujuan untuk membuka mata dan menumbuhkankesadaran pembaca bahwa sebagian besar rakyat di negeri ini belum merasakan apa yang disebuthidup sejahtera seperti yang selalu digembar-gemborkan oleh pemerintah.
Corporate Strategies in the Spread of Hallyu (Korean Wave) in Indonesia Henninda, Citra Henninda Citra
MOZAIK HUMANIORA Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.76 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v13i2.3833

Abstract

Artikel ini membahas strategi korporasi untuk meraih lebih banyak keuntungan dengan memanfaatkan perubahan-perubahan yang dibawa oleh globalisasi. Globalisasi telah membawa budaya hibrida yang merupakan kombinasi antara budaya lokal dan luar dan membentuk budaya baru. Budaya hibrida tersebut tidak hanya diinterpretasi sebagai hasil proses produksi korporasi tetapi juga simbol gaya hidup yang bertransformasi melalui penggunaan jaringan media global, yang didukung terutama oleh keberadaan masyarakat konsumen yang besar di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus Hallyu di Indonesia dengan metode deskripsi analisis pada data-data sekunder yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung dengan produk-produk televisi dan perusahaan- perusahaan di dunia hiburan maupun nonhiburan. Dengan menggunakan pendekatan globalisasi budaya, artikel ini berargumen bahwa penerimaan dan penyebaran hallyu di Indonesia yang cukup mudah dipengaruhi oleh keberhasilan strategi perusahaan dalam mengeksploitasi pergeseran budaya dan masyarakat. Ada beberapa strategi yang digunakan oleh perusahaan: komoditisasi produk budaya, harga dan diferensiasi produk, penggunaan media sosial, dan dukungan dari peraturan pemerintah. Dapat disimpulkan bahwa Hallyu mudah berterima karena merupakan produk budaya hybrid yang memuat simbol-simbol modernitas Asia perkotaan dan budaya lokal.Kata kunci: budaya hibrida, globalisasi, hallyu, konsumen, strategi perusahaan
Modal Britania di Indonesia Masa Kolonial Pradadimara, Dias
MOZAIK HUMANIORA Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.896 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5842

Abstract

AbstrakPeranan Britania dalam ekonomi kolonial di Indonesia, utamanya pada abad kesembilan belas, masih jarang dikaji. Tulisan ini diawali dengan melihat peran penting yang dimainkan oleh para saudagar Britania dan rumah-rumah dagang Britania dalam periode ketika pemerintah kolonial meningkatkan cengkeramannya dalam ekonomi kolonial sejak tahun 1820-an. Kebijakan utama yang mencerminkan hal ini adalah cultuurstelsel atau kebijakan pengaturan pertanian sekaligus monopoli perdagangan melalui Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM). Penelitian ini melacak bagaimana para saudagar dan rumah-rumah dagang Britania mengarungi persaingan usaha di tengah meningkatnya tekanan kepada mereka bahkan hingga masa pascakolonial. Dengan melihat perkembangan modal Britania serta peranan pedagang dan pengusaha Britania di Hindia sejak awal abad kesembilan belas hingga masa kemerdekaan, dapat ditunjukkan pentingnya modal dan pemain ekonomi yang tidak secara langsung terkait dengan negara. Berdasarkan gambaran sepintas mengenai pengusaha dan modal Britania di Hindia bisa ditunjukkan adanya peranan “swasta” dalam transformasi ekonomi kolonial. Pengusaha dan modal Britania masuk ke dalam sektor-sektor di mana negara belum siap masuk. Kata kunci: ekonomi kolonial, Jawa, modal, saudagar Britania AbstractThe British role in the colonial economy in Indonesia, especially in the nineteenth century, is seldom highlighted. This study focuses on looking at the important role played by the British merchants and merchant houses in 1820s. In the beginning of this period, the Dutch colonial state increased its tight grip on the colonial economy through a series of policies—most notably the cultuurstelsel or the cultivation system as well as the trading monopoly through the Nederlands Handels Maatschappij (NHM). Furthermore, the present study traces the ways in which the British merchants and merchant houses navigated their ways; on the contrary, they did not increase their pressure in the post-colonial era. By examining the development of British capital and the role of British merchants in the colonial period of Indonesia since the beginning of the nineteenth century until post-colonial era, it is shown that capital and merchants had significant roles. Based on the findings on British capital and merchants in colonial era, private sector played a role in colonial ecomomy transformastion. Thus, British capital and merchants penetrated to sectors that was ovelooked by government. Keywords: British merchants, capital, colonial economy, Java
Wacana Kekuasaan dan Kebenaran dalam Puisi Lisan Sa Ngaza Matildis Banda, Maria Matildis Banda
MOZAIK HUMANIORA Vol 17, No 1 (2017): Mozaik Humaniora Vol 17 N0. 1
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.629 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v17i1.6595

Abstract

Puisi  lisan Sa  Ngaza adalah  salah  satu  bentuk  tradisi  lisan  Ngadha  di  Flores  yang  menjelaskankekuasaan dan kebenaran asal-usul subetnis. Menurut konsep Horace, sastra memiliki fungsi dulce et utile atau indah  dan  berguna.  Tujuan  tulisan  ini  untuk  menjelaskan  bahwa  pada  era  postmodern,yang  indah  dan  berguna  saja  tidak  cukup.  Puisi  lisan  perlu  dikaji  demi  keberlangsungan  tradisi,keberakaran,  dan  pembentukan  karakter.  Teori  yang  digunakan  dalam  kajian  ini adalah  teori kekuasaan  dan  kebenaran  menurut  Foucault.  Metode  yang  digunakan  adalah  metode  deskriptif analitik.  Foucault  mengemukakan  tentang parrhesia (berbicara  tentang  kebenaran)  dan parrhesiasist(orang yang berbicara tentang kebenaran). Sa Ngaza berbicara tentang sejarah asal-usul dan identitas kelompok. Sa Ngaza disampaikan oleh Mori Sa Ngaza (pewarta Sa Ngaza) sebagai parrhesiasist. Kajianini  menjelaskan  bahwa  wacana  kekuasaan  dan  kebenaran  dalam  puisi  lisan  sebagai parrhesia danparrhesiasist memerlukan  sejumlah  modal.  Modal  dapat  mendukung Sa  Ngaza agar  memiliki pengaruh dan dominasi  demi  keberlanjutan  tradisi  dalam  era  postmodern.  Hubungan  antara parrhesia dan parresiasist tidak  dapat  dipisahkan dari pengetahuan, kekuasaan, dan kebenaran asal-usul sub-etnis pemilik Sa Ngaza
Konstruksi Maskulinitas Ideal Melalui Konsumsi Budaya Populer oleh Remaja Perkotaan Arum Budiastuti, Arum Budiastuti
MOZAIK HUMANIORA Vol 14, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.412 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v14i1.3845

Abstract

AbstrakDalam literatur kajian budaya, konsumsi budaya populer merupakan suatu konsumsi aktif, bukan praktik pasif yang menafikan agensi konsumennya sebagaimana dikemukakan oleh Aliran Frankfurt. Di sini budaya populer menjadi ajang negosiasi identitas, termasuk femininitas dan maskulinitas, di ruang sosial dan memberikan ruang bagi ideologi tertentu, patriarki misalnya, untuk berakar dan berkembang. Artikel ini membahas bagaimana remaja perkotaan membangun makna maskulinitas ideal melalui konsumsi budaya populer. Data dikumpulkan melalui diskusi kelompok terfokus dan wawancara mendalam pada 49 siswa laki-laki di sekolah menengah di Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai jender yang terkait dengan konsep laki-laki yang lebih tua (bapak)adalah penanda penting konstruksi maskulinitas ideal di kalangan remaja yang diwawancarai. Bentuk-bentuk maskulin tersebut lebih dekat dengan maskulinitas aristokrat Jawa ideal yang terkait dengan tanggung jawab, kehandalan, kesabaran, dan menjadi pelindung. Namun, subjek yang diteliti menunjukkan upaya untuk menegosiasikan maskulinitas tradisional ini dengan norma maskulin yang mereka dapatkan dari budaya populer. Hal ini menjelaskan mengapa anak muda juga mengaitkan otot dan nilai-nilai seperti bertanggung jawab, peduli, melindungi, sopan, berotot, dan memiliki warna kulit lebih terang sebagai norma maskulinitas ideal. Dapat disimpulkan bahwa maskulinitas hegemonik tidak tunggal, tetapi jamak dan sangat dipengaruhi oleh dinamika budaya dan sosial dalam masyarakat tempat konsep maskulinitas tersebut berkembang.Kata kunci: budaya popular, maskulinitas hegemonik, jender, remaja perkotaan
Kuda Bendi di Kota Payakumbuh Sumatera Barat Sampai Akhir Abad Ke-20 Sufyan, Fikrul Hanif Sufyan
Mozaik Humaniora Vol 17, No 1 (2017): Mozaik Humaniora Vol 17 N0. 1
Publisher : Faculty of Humanities - Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.46 KB) | DOI: 10.20473/mh.v17i1.6590

Abstract

Kuda-bendi (two-wheeled carriage drawn by a horse) has a vital role in the life of Minangkabau society. As a traditional transportation, kuda-bendi took the highest level among other traditional transportation, and represented its users level. Thus, it is necessary to be discussed, how was the development of kuda-bendi transportation in the 19th until 20th century? What factors which led kuda-bendi transportation being marginalized? What are bendis coachman strategies in facing the rivalry of modern transportation? And how is the government policy addressing the issue of kuda-bendi problems in the middle of Payakumbuh development?. This research is aimed at framing the strategy which is used by bendi’s coachman and local government in maintaining the existence of kuda-bendi on facing the rapid development of modern transportation. Due to these objectives, the historical method which is implemented in this research consist of collecting the source (heuristic). After heuristic, doing criticism to the discovery resource; interpretation; and historiography. Until the mid of 20th century, kuda-bendi was a transportation for pangreh praja, penghulu, merchant, and rich men in Payakumbuh, defeated the popularity of kerbau-pedati (a carts drawn by buffalo) and horse-load. Since the government of Dutch East Indies introduced model of western transportation to Minangkabau people, especially in Payakumbuh, caused the kuda-bendis position become marginalized. Recently, Payakumbuh society tends to use transportation, such as public transportation, motor tricycle, rent motorcycle, which take them more quickly to their destination. Some of them try to modernize their selves so they are not disappeared in the modern era.
Menafsir Perilaku Latah Coprolalia pada Perempuan Latah dalam Lingkup Budaya Mataraman : Sebuah Kajian Sosiopsikolinguistik (Interpreting Coprolalia Latah Behaviour Among Women With Latah in The Mataraman Cultural Sphere A Socio-Psycholinguistic Study) Pamungkas, Sri
MOZAIK HUMANIORA Vol 17, No 2 (2017): Mozaik Humaniora Vol 17 No. 2
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.536 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v17i2.5752

Abstract

AbstrakLatah merupakan perilaku yang tidak bisa lepas dari kungkungan sosial budaya yang melingkupi. Perilaku latah muncul ketika seseorang dalam kondisi kesadaran menurun akibat tepukan, jatuhnya sebuah objek atau kebisingan. Reaksi yang ditunjukkan dari stimulus salah satunya adalah berupa perilaku latah coprolalia. Perilaku latah coprolalia merupakan perilaku latah verbal, yaitu berupa reaksi memunculkan bentuk lingual baik berupa kata, frasa, maupun kalimat yang merujuk pada alat kelamin laki-laki atau perempuan. Pengungkapan bentuk lingual yang merujuk pada alat kelamin laki-laki atau peremnpuan tersebut terungkapkan dalam diksi bahasa daerah (baca: Jawa) dan tidak pernah ditemukan dalam bahasa Indonesia (bahasa nasional) apalagi bahasa asing (Inggris, Perancis, dll). Pengungkapan bentuk lingual yang merujuk pada alat kelamin secara vulgar tersebut menggiring peneliti barat membangun persepsi bahwa individu latah adalah orang-orang sakit jiwa atau berperilaku ubnormal. Hal ini kemudian dianulir peneliti Indonesia dan sebagian peneliti luar negeri yang menegaskan bahwa perilaku tersebut muncul pada saat kesadaran seseorang menurun dan mereka akan hidup normal ketika kesadaran mereka penuh. Penelitian ini difokuskan pada perempuan latah yang berdomisili di Pacitan Jawa Timur yang termasuk dalam lingkup budaya Mataraman, yang dalam berbahasa dan berbudaya merujuk pada Solo dan Yogyakarta. Menariknya penelitian ini adalah bahwa diksi yang terungkapkan antara penyandang latah pribumi dan pendatang mengalami sedikit perbedaan, utamanya dalam mengungkapkan alat kelamin lakil-laki dan perempuan. Diksi yang vulgar lebih tampak pada pribumi, sementara pada pendatang membuat kosa kata baru yang tidak pernah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kamus bahasa Jawa, dengan maksud untuk menyamarkan. Kata kunci     : Latah, Mataraman,  Perempuan, Sosiopsikolinguistik  AbstractLatah is a type of behaviour that cannot be separated from the social and cultural confinements in which it occurs. Latah behaviour appears when a person is in a state of decreased consciousness as a result of being startled by a tap to the body, an object being dropped, or a loud noise. One kind of reaction that is produced by such a stimulus is coprolalia latah behaviour. Coprolalia latah behaviour is a type of verbal latah, or a reaction that gives rise to a lingual form such as a word, phrase, or sentence which makes reference to the male or female genitalia. The expression of lingual forms that refer to the male or female genitalia is always uttered in the diction of the local language (Javanese) and is never found in the Indonesian language (the national language), and especially not in a foreign language (English, French, etc). The utterance of lingual forms that refer to the genitalia in a vulgar manner has led western research scholars to develop the perception that individuals with latah are suffering from a mental illness or displaying abnormal behaviour. This has been disputed by Indonesian researchers and a number of other foreign researchers who attest that this behaviour appears only when a person’s level of consciousness falls and that he or she will behave normally when in a state of full consciousness. The current research study focuses on women with latah living in the Pacitan region of East Java, which is in the Mataraman cultural sphere where the language and culture correspond to those of Solo and Yogyakarta. What is interesting about this research is that the diction used by the latah women who are originally from this area differs slightly from those who are originally from another area, especially in the case of uttering words or phrases that refer to the male or female genitalia. The indigenous women use a more vulgar diction, while settlers or migrants create new vocabulary that is never found in day to day life or in the Javanese dictionary, with the intention of disguising the particular word or phrase. Keywords: Latah, Mataraman, Women, Socio-psycholinguistic 
Ngaben di Krematorium pada Masyarakat Hindu di Bali: Perspektif McDonaldisasi dan Homo Complexus Bawa Atmadja, Nengah
MOZAIK HUMANIORA Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.696 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5862

Abstract

AbstrakArtikel ini adalah hasil penelitian kualitatif memanfaatkan paradigma kritis yang terfokus pada dua masalah, yakni latar belakang orang Bali memilih secara sukarela ngaben (kremasi) di krematorium dan bentuk pelaksanaannya. Informan ditunjuk secara purposif, yakni pengelola krematorium, pelaku ritual ngaben, tokoh agama, dan lain-lain. Teknik pengumpulan data adalah wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen. Analisis data mengikuti langkah-langkah, yakni konseptualisasi, hasil konseptualisasi, pembuktian, dan objektivasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang orang Bali secara sukarela memilih ngaben di krematorium berkaitan dengan pemberlakuan asas McDonaldisasi, yakni efisiensi, daya hitung, prediksi, dan kontrol. Kondisi ini diperkuat oleh kemampuan pengelola krematorium untuk mempertahankan dimensi manusia sebagai homo complexus. Kombinasi antara McDonaldisasi dan esensi manusia sebagai homo complexus merupakan alasan maknawi bagi orang Bali untuk memilih alternatif ngaben secara sukarela pada krematorium. Ngaben di krematorium mengikuti tata aturan menurut agama Hindu. Dengan cara ini roh orang yang diaben mencapai status dewa pitara. Dewa pitara dipuja pada pura keluarga guna memberikan kesejahteraan bagi keluarga yang memujanya. Kata kunci:    homo complexus, masyarakat Hindu Bali, McDonaldisasi, krematorium, ritual kematian AbstractThis article is the result of qualitative research with critical paradigm. This research focused on two issues: the background of Balinese people voluntarily choosing a crematorium to do cremation or ngaben and the way of its implementation. The informants of this research were the manager of the crematorium, the actors of cremation ritual, the religious leaders, etc. The data collection techniques were interview, observation and document study. The data analysis followed the steps of conceptualization, the results of conceptualization, verification, and objectivation. The results showed that the background of the Balinese people voluntarily to choose cremation in a crematorium relates to the application of the principles of McDonaldization, such as efficiency, calculability, standardization, and control. This condition is strengthened by the ability of the crematorium manager to maintain the human dimension as homo complexus. The combination of McDonaldization and the human dimension as homo complexus is a meaningful reason for Balinese to choose crematorium in doing ngaben voluntarily. Ngaben at the crematorium follows the same rules according to Hindu religion. In this way the spirit of the dead people could achieve the status of Dewa Pitara. Dewa Pitara is worshiped in the family temple in order to give blessing to the whole family members. Keywords: Balinese Hindu society, crematorium, death ritual, homo complexus, McDonaldization 

Page 1 of 10 | Total Record : 95