cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Berkala Epidemiologi
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 23017171     EISSN : 2541092X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
The scope of JBE are Epidemiology of Communicable Disease, Epidemiology of Non-communicable Disease, Tropical Disease, Epidemiology Surveillance, Management Outbreak, Epidemiology of Preventable Disease, and Epidemiology of Cancer.
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue " Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Berkala Epidemiologi" : 24 Documents clear
The Effect of Patient Characteristics with Intravenous Catheter To Phlebitis Haritya Akbar, Nella Mega Fadhilah; Isfandiari, Muhammad Atoillah
Jurnal Berkala Epidemiologi Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Berkala Epidemiologi
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbe.V6I12018.1-12

Abstract

ABSTRAK Terapi intravena merupakan salah satu prosedur invasif yang bertujuan untuk mensuplai cairan, obat, vitamin, komponen darah, dan monitoring status hemodinamik. Pasien yang mendapatkan terapi intravena dalam jangka panjang berisiko tinggi terinfeksi, plebitis dan ekstravasasi vena. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik pasien terpasang kateter intravena terhadap kejadian plebitis. Desain penelitan ini adalah case control dengan besar sampel 45 pasien pada kelompok kasus dan kontrol. Sampel kasus pada penelitian ini adalah pasien yang terdiagnosa plebitis sedangkan sampel kontrol adalah pasien yang tidak terdiagnosa plebitis di RSU Haji Surabaya pada bulan Januari sampai dengan April 2017. Variabel independen adalah umur, jenis kelamin, status gizi, hipertensi dan DM, sedangkan variabel dependen adalah kejadian plebitis. Pengelolahan data menggunakan analisis regresi logistik berganda. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari 5 faktor terkait dengan karakteristik pasien hanya 3 faktor yang berpengaruh terhadap kejadian plebitis adalah  jenis kelamin dengan p value = 0,043 dan odds ratio = 3,45, umur dengan p value = 0,016 dan odds ratio 4,10 dan  DM dengan p value = 0,000 dan odds ratio = 9,78. Sedangkan 2 faktor yang tidak berpengaruh terhadap kejadian plebitis adalah status gizi dengan p value = 0,74 dan odds ratio = 0,79 dan hipertensi dengan p value = 0,178 dan odds ratio = 2,35. Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa faktor dominan dan berpengaruh terhadap kejadian plebitis adalah status DM. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi RSU Haji Surabaya, terutama dalam prosedur pemasangan dan perawatan terapi intravena yang perlu mempertimbangkan kondisi pasienKata Kunci : Karakteristik, intravaskular, pengaruh, plebitis, terapi intravena.ABSTRACTIntravenous therapy is one of the most common invasive procedures used for injecting  fluids, drugs, blood products, nutritional and monitoring of hemodynamic status. The insertion and daily use of these devices isassociated with risk plebitis and complications that can have impact on the clinical status and outcome of the patient.. The aims of this research was  to analyze the effect of patient characteristics on intravenous catheter to the occurrence of plebitis. This study used case control with sample size 45  for each group. Case sample was patients who diagnosed with plebitis while control samples was diagnosed patients with no plebitis at RSU Haji Surabaya in January until April 2017. Independent variables were age, sex, nutritional status, hypertension and DM, whereas the depenendent variable was plebitis occurrence. Those variables was analyze with  logistic regression. The results of this study showed that the 5 factors related to the characteristics of patients only 3 factors that affect the incidence of plebitis include the gender with p value = 0.043 and odds ratio = 3.45, age with p value = 0.016 and odds ratio 4.10 and DM with p value = 0.000 and odds ratio = 9.78. While the 2 factors that have no effect on the occurrence of plebitis is the nutritional status with p value = 0.74 and odds ratio = 0.79 and hypertension with p value = 0.178 and odds ratio = 2.35. Based on the results of data analysis, it can be concluded that the most dominant factor and the effect on the occurrence of plebitis is DM status. The results of this study are expected to be a reference for RSU Haji Surabaya, especially in the installation procedure and treatment of intravenous therapy that needs to consider the condition of the patientKeywords: Characteristics, influences, intravascular, intravenous therapy, plebitis.
Validity Assessment of Hypertension Screening Tools Ryan Amala, Carine
Jurnal Berkala Epidemiologi Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Berkala Epidemiologi
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbe.V6I12018.124-134

Abstract

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan yang sangat serius baik di Indonesia maupun di dunia. Berdasarkan data Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) memaparkan bahwa kasus hipertensi di Indonesia sebagai penyebab kematian untuk semua umur yaitu sebanyak 6,8%. Kementerian Kesehatan membuat kebijakan untuk mengelola penyakit hipertensi yaitu salah satunya dengan mengembangkan dan memperkuat kegiatan deteksi dini hipertensi secara aktif atau yang disebut juga sebagai kegiatan skrinning. Tujuan dalam penelitian ini adalah menilai validitas instrumen skrining hipertensi dan memberikan rekomendasi sesuai dengan temuan yang didapat. Instrumen skrining hipertensi yang digunakan berupa kuesioner dengan teknik pengumpulan data adalah dengan menggunakan data primer yang dilakukan dengan cara wawancara. Data didapat dari 41 responden dan berdasar data yang telah terkumpul, diperoleh sebanyak 15 (36,6%) responden mengidap hipertensi yang diukur menggunkan instrumen skrining berupa kuesioner, sedangkan berdasar pengukuran menggunakan alat tensimeter sebagai gold standart ditemukan sebanyak 21 (51,2%) responden yang memiliki hipertensi. Didapatkan untuk penilaian validitas instrumen skrining secara keseluruhan dapat dikategorikan cukup baik, yaitu dengan nilai sensivisitas 0,7143 (71,43%),  spesifisitas 1,0 (100%), nilai prediksi positif 1,0 (100%), dan nilai prediksi negatif 0, 7692 (76,92%).  Maka dapat disimpulkan bahwa kuesioner tersebut sebagai insrumen skrining masih belum dapat digunakan sebagai media skrining hipertensi secara optimal atau belum sepenuhnya valid sehingga masih memerlukan pengembangan instrumen lebih lanjut.
The Protective Factors of Diarrhea Prevalence on Children Under Five Years at Hamlet 2 Urban Village of Wonokusumo, Surabaya 2017 Ainsyah, Rachmah Wahyu; Lusno, Muhammad Farid Dimyati
Jurnal Berkala Epidemiologi Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Berkala Epidemiologi
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbe.V6I12018.67-77

Abstract

Diarrhea is potentially outbreaks and is often accompanied by death. National data said one soul dies every 5.5 minutes due to diarrhea. This study aims to analyze the effect of working mother factors, family income in accordance with the UMR, protected water sources, the use of healthy latrines, history of exclusive breastfeeding, hand washing habits properly, and weighing routine at Posyandu. The type of research is observational analytic with cross sectional design. The population is all children under five in RW 2 Wonokusumo Urban Village that is 210 people. The sampling technique using simple random sampling to get 67 respondents. The data were collected by using questionnaire and observation. The analysis technique used logistic regression with enter method using SPSS 19 trail version software. With a significance level of 5% and 95% CI, the results showed that respondents with protected water sources had a risk of diarrhea 0.099 times compared with respondents who did not use protected water sources. Respondents who used healthy latrines had a risk of diarrhea 0.063 times compared with those who did not use healthy latrines. Respondents with handwashing habits had a risk of diarrhea 0.096 times compared with those who did not use healthy toilet. Respondents who regularly weigh in Posyandu once a month have a risk of diarrheal disease 0.038 times compared to respondents who do not weigh routine in Posyandu. While the variables of working mother, family income variable according to UMR, and exclusively breastfed variable are not significant. The conclusions of this study are protected water sources, use of healthy latrines, proper hand-washing habits and weight-bearing routines to Posyandu significantly and simultaneously affect the variables of diarrhea occurrence
Relationship Between Knowledge, Physical Activity with Body Mass Index of Woman Employass at the Nutrition Instalation Dr.Soetomo Hospital Jaminah, Jaminah; Mahmudiono, Trias
Jurnal Berkala Epidemiologi Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Berkala Epidemiologi
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbe.V6I12018.13-24

Abstract

ABSTRAKObesitas merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan simpanan lemak, serta peningkatan IMT. ≥27. Perempuan usia 40-50 tahun lebih rentan mengalami obesitas karena penurunan kadar hormon estrogen. Prevalensi obesitas di Indonesia meningkat dari tahun 2007 hingga tahun 2013. Pengetahuan gizi menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian obesitas. Berdasarkan hasil baseline data pada bulan Mei 2016, dari 102 orang karyawan perempuan di Instalasi Gizi RSUD Dr. Soetomo menunjukkan bahwa persentase overweight/obesitas sebesar 65%. Tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis hubungan pengetahuan gizi dan aktivitas fisik dengan IMT pada karyawan perempuan di Instalasi Gizi RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan rancang bangun cross sectional. Besar sampel 57 responden. Pemilihan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dengan kuesioner, pengukuran antropometri, dan food recall. Hasil penelitian diperoleh status gizi  obesitas sebesar 75,4%. Pengetahuan gizi terbanyak kategori kurang 90%, aktivitas fisik terbanyak kategori sedang 76%. Ada hubungan antara pengetahuan gizi (p = 0,027) dan aktivitas fisik (p = 0,033) dengan IMT, sedangkan asupan energi, protein, lemak, karbohidrat (p > 0,372) yang berarti tidak ada hubungan dengan IMT. Kesimpulan penelitian, ada hubungan antara pengetahuan dan aktivitas fisik pada karyawan perempuan di Instalasi Gizi RSUD Dr. Soetomo terdapat IMT. Saran penelitian, perlu adanya edukasi gizi dan penambahan intensitas aktivitas fisik.Kata Kunci: aktivitas fisik, asupan zat gizi makro, indeks massa tubuh, pengetahuan gizi ABSTRACTObesity is a chronic disease that indicated by increasing fat store and Body Mass Index is more than or equal to 30. Women in the age of 40-50 years old are more susceptible to obesity due to decreased of estrogen hormone. The prevalence of obesity in Indonesia increased from 2007 to 2013. Nutrition knowledge is one of factors that can influence the obesity incidence. Preliminary data in May 2016 showed that among 102 female employees at the instalation of Nutrition Dr.Soetomo Regional Public Hospital, 65% were overweight/obese. The purpose of this study was to analyze the correlation between nutritional knowledge and physical activity with BMI on female employees at Installation of Nutrition Dr.Soetomo Regional Public Hospital Surabaya. This research was a cross sectional design with descriptive analytical method. Fifty seven respondents involved in this research and selected using simple random sampling technique were data collected using questionnaire, anthropometric measurements and food recall. The results showed that 75,4% respondents were obese. Most nutrition knowledge catagories less is 90%, physical activity of the most moderate activity categories is 76%. In conclution, it showed that a significant correlation between nutritional knowledge (p = 0,027) and physical activity (p = 0.033) to BMI. There was no significant correlation between energy, protein, fat, and carbohydrate intake (p >0,372).  It is suggested to conduct regular nutritional education and physical exercise in the hospital.Keywords: physical activity, macro nutrient intake, body mass index, nutritional knowledge
The Dominant Factors Diabetic Neuropathy in Patients with type 2 DM at RSUD Dr. M. Soewandhi Surabaya rahmawati, arini; Hargono, Arief
Jurnal Berkala Epidemiologi Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Berkala Epidemiologi
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbe.V6I12018.78-89

Abstract

Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang angkanya semakin meningkat. Diabetes mellitus tipe 2 merupakan jenis diabetes mellitus yang memiliki proporsi paling banyak dari total kasus diabetes mellitus. Tingginya kasus diabetes mellitus akan menyebabkan terjadinya komplikasi diabetes mellitus. Komplikasi diabetes mellitus tipe 2 yang paling banyak terjadi yaitu neuropati diabetik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor dominan kejadian neuropati diabetik pada menderita diabetes mellitus tipe 2. Penelitian ini menggunakan rancangan case control. Pengambilan sampel menggunakan metode sistematic random sampling. Sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu 36 responden pada kelompok kasus dan 36 responden pada kelompok kontrol. Teknik pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara dengan kuesioner. Penelitian dilakukan di  RSUD Dr. M.Soewandhi Surabaya pada bulan Oktober 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi terjadinya neuropati diabetik adalah keteraturan berobat (p=0,020 ;OR=5,5 CI= 1,397-21,646)  pola makan (p=0,037 ; OR=4,8 CI= 1,220-19,206), pola aktivitas fisik (p=0,038 ;OR=3,6 CI= 1,190-10,716) dan riwayat hipertensi (p=0,034 ; OR= 3,1 CI= 1,199-8,241). Faktor dominan yang paling berpengaruh terhadap terjadinya neuropati diabetik (setelah di regresi logistik) adalah keteraturan berobat(p=0,002 ; OR=13,237 CI= 2,561-68,429). Kesimpulan penelitian ini faktor yang berpengaruh terhadap neuropati diabetik adalah faktor keteraturan berobat, pola makan, pola aktivitas fisik dan riwayat hipertensi. Faktor dominan adalah faktor keteraturan berobat. Diharapkan penderita diabetes mellitus tipe2 memahami faktor resiko neuropati diabetik, agar tidak mengalami komplikasi neuropati diabetik
The Relationship Between Quality of Sleep with Blood Pressure of Hypertension Patient in Mojolangu PHC, Malang alfi, wahid nur; Yuliwar, Roni
Jurnal Berkala Epidemiologi Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Berkala Epidemiologi
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbe.V6I12018.25-36

Abstract

ABSTRAKWHO memperkirakan pada tahun 2020 Penyakit Tidak Menular (PTM) akan menyebabkan 73% kematian dan 60% seluruh kesakitan di dunia (WHO, 2013). Penyakit hipertensi di Indonesia banyak diderita oleh perempuan dengan persentase sebesar 28,8% dan sering tidak menunjukkan gejala serta baru disadari setelah menyebabkan gangguan organ. National Heart, Lung, and Blood Institut dari United States Department of Health and Human Services menginformasikan bahwa kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan penyakit lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan tekanan darah pasien hipertensi di Puskesmas Mojolangu Kota Malang. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien hipertensi di Puskesmas Mojolangu. Penelitian ini menggunakan total populasi dan tidak ada pengambilan sampel. Besar sampel diperoleh berdasarkan periode waktu dan diperoleh besar sampel sejumlah 30 dengan menetapkan beberapa kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel dependennya yaitu tekanan darah dan variabel independennya adalah kualitas tidur. Analisis data menggunakan uji koefisien kontingensi. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden dengan tekanan darah tidak normal sebanyak 53,3% berjenis kelamin perempuan, 43,3% berada dalam kelompok umur 41-60 tahun, 66,7% dengan kualitas tidur buruk. Ada hubungan antara kualitas tidur dengan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan kuat hubungan 0,649. Kesimpulan penelitian, sebagian besar responden yang memiliki kualitas tidur buruk akan memiliki kenaikan tekanan darah, sehingga perlu dilakukan penyuluhan dan pendampingan pada penderita hipertensi.Kata Kunci: kualitas tidur, tekanan darah, pasien hipertensi ABSTRACT WHO estimate that, in 2020 non-communicable disease causes of death 73% and 60% of all morbidity in the world (WHO, 2013). In Indonesia, hypertension is suffered by women with 28.8% and often shows no symptoms, only realized after causing organ disorders. The National Heart, Lung, and Blood Institute of the United States Department of Health and Human Services informs that less sleep or poor sleep quality increases the risk of high blood pressure, heart disease and other diseases. This study aims to determine the relationship between the quality of sleep with blood pressure in hypertensive patients in Mojolangu Public Health Center, Malang. The type of this research is observational analytic with cross sectional design. Population in this research is all patient of hypertension in Mojolangu Public Health Center. This study uses total population. The sample size is generated based on the time period and a sample size of 30 is obtained by specifying some inclusion and exclusion criteria. The dependent variable is blood pressure and the independent variable is sleep quality. Analizing data by coeficient contingency. The result of this research are respondents with abnormal blood pressure were 53.3% female, 43.3% were in the 41-60 years old, 66.7% with poor sleep quality. There is a relationship between the quality of sleep with blood pressure in hypertensive patients with a strong relationship (0.649). The  conclusion is respondents who have poor quality of sleep have an increase in blood pressure, so there are needs to be counseling and menthoring for hypertensive patients.Keywords: quality of sleep, blood pressure, hypertension patient
Relationship of Working Period in Cigarette Factory with Cervical Precancerous Lesions Ratnasari, Nur Venny; Toyibah, Afnani
Jurnal Berkala Epidemiologi Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Berkala Epidemiologi
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbe.V6I12018.90-101

Abstract

ABSTRAKKanker serviks adalah keganasan yang terjadi pada leher rahim. Salah satu faktor penyebab kanker serviks yaitu merokok dan atau terpapar bahan atau asap rokok. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan masa kerja wanita pekerja pabrik rokok “J” dengan kejadian lesi prakanker serviks pada pekerja wanita pabrik rokok “J”. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah wanita pekerja pabrik rokok “J” Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang pada bagian pelintingan dan pengemasan rokok yang sudah menikah dan berusia > 35 tahun yang berjumlah 147 orang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu simple random sampling. Jumlah sampel yang dibutuhkan sebanyak 39 responden. Variabel penelitian adalah masa bekerja dan kejadian lesi prakanker serviks. Analisis data menggunakan uji statistik uji Fisher Exact untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 34 responden (87%) memiliki masa bekerja di pabrik < 10 tahun dan hasil IVA positif terdapat pada responden dengan masa bekerja di pabrik ≥ 10 tahun sebanyak 2 responden (40%). Hasil analisis dengan Fisher Exact menunjukkan bahwa ada hubungan antara masa kerja dengan kejadian lesi prakanker serviks (p = 0,013). Semakin lama wanita bekerja di pabrik maka semakin besar risiko untuk mengalami lesi prakanker serviks. Kesimpulan dari penelitian, bahwa ada hubungan antara masa kerja dengan kejadian lesi prakanker serviks.  Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran para pekerja pabrik untuk melakukan pemeriksaan IVA.Kata Kunci: lesi prakanker serviks, masa bekerja, pabrik rokok, pekerja wanita ABSTRACTCervical cancer is a malignancy that occurs in the cervix and one of main factors is smoking or being contaminated by materials or smoke of cigarette. The aim of this research was to know the relationship between females working period and the cervical precancerous lesions on female workers in “J” cigarette factory. This research was an analytical study using cross sectional design. The population of this research was female workers of "J" cigarette factory in Kepanjen Sub-District of Malang Regency in cigarette rolling and packing who had married in the age group of more than 35 years old (>35). This population consists of 147 people. Sampling technique used in this research is simple random sampling technique. The number of samples required is 39 respondents. Analizing data by Fisher Test which has purpose to know the correlation between the variables. The result of the study shows that more respondents graduated from Junior High School (41%), parity rate <3 (56%), contraceptive injection (36%), and working period at factory <10 years (87%). The statistical test shows that there is a correlation between the working period and the cervical precancerous lesions (p = 0,013). The longer women work in the factory, the more likely they get the cervical precancerous lesions. From the result of the study, it can be concluded that there was a relationship between females working period and the cervical precancerous lesions. This study is expected to increase the awareness of women factory workers to conduct IVA examination.Keywords: cervical precancerous lesions, working period, cigarette factory, woman worker
Relationship Between Age, Maternal Parity with Incidence of Postterm Labour Maulinda, Nadhifa Anwar; Rusdyati, Tutik
Jurnal Berkala Epidemiologi Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Berkala Epidemiologi
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbe.V6I12018.37-46

Abstract

ABSTRAKKehamilan postterm adalah kehamilan yang berlangsung 42 minggu atau lebih. Usia ibu merupakan faktor risiko yang berkontribusi terjadinya persalinan postterm terkait dengan kesiapan alat reproduksi. Paritas ibu merupakan faktor lain yang mempengaruhi kejadian persalinan postterm. Data dari RSIA Arafah Anwar Medika Sukodono Kabupaten Sidoarjo menyebutkan terdapat 57,89% ibu bersalin mengalami postterm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia, paritas ibu bersalin dengan kejadian persalinan postterm di RSIA Arafah Anwar Medika Sukodono Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode observasional dengan pendekatan cross-sectional. Data penelitian ini diperoleh dari rekam medik ibu bersalin yang melahirkan di RSIA Arafah Anwar Medika Sukodono Kabupaten Sidoarjo tahun 2013 dengan besar sampel sebanyak 218 ibu bersalin. Pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Analisis data menggunakan uji Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas usia ibu 20-35 tahun (86,7%),  paritas tidak berisiko (91,7%), kejadian tidak postterm (85,3%), persalinan postterm terjadi pada ibu berusia <20 dan >35 tahun (20,7%) dan persalinan postterm terjadi pada paritas berisiko (38,9%). Tidak ada hubungan antara usia ibu bersalin dengan kejadian persalinan postterm (p = 0,234; RR = 1,50; 95%CI = 0,68<RR<3,34) dan ada hubungan paritas dengan kejadian persalinan postterm (p = 0,008; RR = 3,11; 95%CI = 1,57<RR<6,17). Kesimpulan penelitian, bahwa tidak ada hubungan antara usia ibu dengan kejadian persalinan postterm dan ada hubungan paritas dengan kejadian persalinan postterm. Saran penelitian, meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat tentang reproduksi sehat dan menggalakkan program KB. Kata Kunci: usia, paritas, persalinan, postterm  ABSTRACTPostterm pregnancy is a pregnancy that lasted 42 weeks or more. Maternal age and mother parity are  risk factor that contributes to postterm labour associated with reproductive readiness. The first data in RSIA Arafah Anwar Medika Sukodono obtained 57.89% postterm maternal experience. This study aims to determine the relationship between age, maternal parity with the incidence of postterm delivery in RSIA Arafah Anwar Medika Sukodono. This research was a kind of quantitative research with observational method with cross-sectional approach. The research data was obtained from the medical records of mothers who gave birth in the maternity RSIA Arafah Anwar Medika Sukodono in 2013 with 218 maternal samples. Sampling collecting tecnique was simple random sampling. The data were analyzed by Fisher exact test statistic. The research results shows that a majority of maternal age 20-35 years (86.7%),  parity was not at risk (91.7%), incidence not postterm delivery (85.3%), postterm delivery occurs in mothers aged <20 and> 35 years (20.7%), and postterm deliveries occurring at risk parity (38.9%). The result of statistic test showed no relation of maternal age with postterm labour (p = 0.234; RR = 1.50; 95%CI = 0.68<RR<3.34) and relation of parity with postterm delivery (p = 0.008; RR = 3.11; 95%CI = 1.57<RR<6.17). The conclusion of this study were no relationships between age with postterm labour and a significant relationships between parity with postterm labour. It is expected to increase public outreach on healthy reproduction and promote family planning programs. Keywords: age, parity, maternal, postterm
The Quality and Accuracy of Basic Complete Immunization Record and Reporting with DQS in Blitar Sucsesa, Meida; Hargono, Arief
Jurnal Berkala Epidemiologi Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Berkala Epidemiologi
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbe.V6I12018.102-113

Abstract

Kualitas dan akurasi data imunisasi adalah masalah yang sering ditemukan di puskesmas dan dinas kesehatan, meskipun cakupan imunisasi tinggi tetapi dengan tidak adanya penilaian kualitas data imunisasi yang dilaporkan secara rutin tersebut maka persentase cakupan yang tinggi belum tentu kualitas datanya juga tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas dan akurasi pada pencatatan dan pelaporan imuisasi dasar lengkap dalam pencapaian cakupan imunisasi yang dapat mempengaruhi UCI Desa. Pencapaian cakupan imunisasi yang tinggi diharapkan dapat menekan angka kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) terutama penyakit difteri. Evaluasi yang digunakan untuk menilai kualitas serta akurasi data imunisasi dasar lengkap pada pencatatan dan pelaporan imunisasi dengan menggunakan metode Data Quality Self Assessment (DQS). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis permasalahan imunisasi dari segi kualitas dan akurasi pelayanan imunisasi khususnya pencatatan dan pelaporan imunisasi dasar lengkap. Penelitian ini dilakukan dengan studi deskriptif, dengan rancangan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 18 petugas imunisasi puskesmas dengan desa UCI dan 6 petugas imunisasi puskesmas dengan desa Non UCI di wilayah Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar. Variabel bebas meliputi akurasi data kohort bayi dengan laporan puskesmas, pencatatan dan pelaporan hasil imunisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencatatan data imunisasi di sebagian puskesmas dengan kualitas baik, kelemahan sistem pemantauan pada kualitas sistem pelaporan yaitu hasil imunisasi desa belum dilaporkan tepat waktu ke puskesmas dan terdapat perbedaan pelaporan antara kohort bayi dengan laporan puskesmas. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagian besar sistem pencatatan imunisasi dasar lengkap di puskesmas dalam kategori baik sehingga dapat dijadikan kekuatan untuk meningkatkan kualitas program imunisasi sedangkan akurasi data dan sistem pelaporan di sebagian besar puskesmas kurang baik yang merupakan kelemahan dalam sistem pemantauan program imunisasi. Kata Kunci: Imunisasi, akurasi, kualitas, pencatatan, pelaporan.
Relationship between Obesity with Hypertension in East Java Ramadhani, Emira Tasya; Sulistyorini, Yuly
Jurnal Berkala Epidemiologi Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Berkala Epidemiologi
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbe.V6I12018.47-56

Abstract

ABSTRAKHipertensi merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi di masyarakat yang mengakibatkan angka kesakitan cukup tinggi sehingga menjadi permasalahan global karena angka prevalensi penyakit ini tiap tahun terus mengalami peningkatan termasuk di Provinsi Jawa Timur. Salah satu faktor risiko hipertensi adalah obesitas (hasil pengukuran Indeks Massa Tubuh ≥  25). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan kasus hipertensi dengan kasus obesitas di provinsi Jawa Timur pada tahun 2015-2016. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari data profil kesehatan provinsi Jawa Timur tahun 2015-2016 oleh Dinas Kesehatan provinsi Jawa Timur. Analisis data menggunakan uji statistik korelasi spearman. Hasil penelitian menunjukkan pada uji korelasi spearman terdapat hubungan antara kasus hipertensi dan kasus obesitas dengan p = 0,000 (p <0,05). Kuat korelasi menunjukkan kuat hubungan sedang dan arah hubungan positif dengan hasil correlation coefficient = 0,490. Apabila terdapat peningkatan kasus obesitas maka kasus hipertensi juga akan mengalami peningkatan, dan sebaliknya. Kesimpulan penelitian, terdapat hubungan antara kasus obesitas dengan kasus hipertensi di provinsi Jawa Timur tahun 2015-2016. Saran penelitian, melakukan sosialisasi dan berkoordinasi dengan pemegang program di Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota di Provinsi Jawa Timur dalam upaya untuk mengendalikan peningkatan kasus obesitas yang menjadi faktor risiko hipertensi.Kata Kunci: hipertensi, indeks massa tubuh, obesitas ABSTRACTHypertension is a health problem that is often found in society and causing high morbidity and becomes a global problem because its prevalence continues to increase every year including in East Java. One of the risk factors of hypertension is obesity (measurement results ≥25). The purpose of this study is to analyze the relationship of hypertension cases with obesity cases in East Java province in 2015-2016. This study used cross sectional design. The data used in this study is secondary data obtained from East Java health profile document of 2015-2016 which is owned by East Java Provincial Health Office. Spearman correlation test results have a significant relationship between cases of hypertension and obesity cases with p = 0.000 (p <0,05. The correlation coefficient shows strong moderate relation and positive relationship direction with result correlation coefficient = 0.490. Correlation coefficient is the value that’s showed strong or whether the relationship between two variables. If there is an increase in obesity cases then hypertension cases will also increase, and vice versa.  The conclusion of this study is that there is a moderate correlation between cases of hypertension with obesity cases in East Java in 2015-2016. Suggestions in this study provide socialization and coordination with the program holder in East Java of District Health offices/ cities to consider the increase in obesity cases because this is a hypertension risk factor that could be controlled.Keywords: hypertension, body mass index, obesity

Page 1 of 3 | Total Record : 24