cover
Contact Name
Wuri Handayani, Ph.D.
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada Jalan Sosio Humaniora No. 1, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Indonesian Economy and Business
ISSN : 20858272     EISSN : 23385847     DOI : -
Core Subject : Economy,
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) is open access, peer-reviewed journal whose objectives is to publish original research papers related to the Indonesian economy and business issues. This journal is also dedicated to disseminating the published articles freely for international academicians, researchers, practitioners, regulators, and public societies. The journal welcomes author from any institutional backgrounds and accepts rigorous empirical or theoretical research paper with any methods or approach that is relevant to the Indonesian economy and business content, as long as the research fits one of three salient disciplines: economics, business, or accounting.
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 1 (1987): September" : 7 Documents clear
PERANAN PROFESI AKUNTAN DALAM MENUNJANG EFEKTIVITAS PENGUMPULAN PAJAK Mulyadi, Mulyadi
Journal of Indonesian Economy and Business Vol 2, No 1 (1987): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.325 KB)

Abstract

Negara kita mempunyai berbagai sumber pendapatan: bumi, air dan kekayaan alam, pajak, bea dan cukai, hasil BUMN, retribusi dan pendapatan lain seperti denda, sewa, deviden, perdagangan dan sebagainya. Pajak merupakan iuran penduduk negara kepada kas negara dan merupakan peralihan kekayaan sektor swasta ke sektor pemerintah, yang diharuskan oleh suatu undang undang sehingga dapat dipaksakan tanpa mendapatkan jasa timbal yang langsung dapat ditunjuk untuk membelanjai pengeluaran-pengeluaran negara. Pajak merupakan salah satu sumber penting pendapatan negara. Efektivitas pengumpulan pajak dipengaruhi oleh berbagai macam faktor dan salah satu faktor tersebut adalah profesi akuntan. Makalah ini saya tulis untuk menunjukkan bahwa profesi akuntan hanyalah merupakan salah satu faktor yang menunjang efekti vitas pengumpulan pajak, dan sekaligus untuk memberikan gambaran mengenai peranan profesi akuntan dalam menunjang efektivitas pengumpulan pajak.
POLA TINGKAH LAKU PENGUSAHA TERHADAP MUTU Gitosudarmo, Indriyo
Journal of Indonesian Economy and Business Vol 2, No 1 (1987): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1802.535 KB)

Abstract

Setiap pengusaha tak henti-hentinya menyatakan bahwa mutu produknya selaludiperhatikan, bahkan tidak jarang yang menyatakan bahwa produknya bermutu tinggidan paling baik. Perayataan tersebut sebenarnya merupakan hal yang wajar bagisetiap pengusaha yang memasarkan produknya dan memperoleh keuntungan daritransaksi penjualan itu. Pernyataan itu tentu saja timbul dari niat baik para pengusaha dan niat itu haruslah disalurkan ke dalam tindak lanjut terhadap mutu produknya. Penyalurantindakan untuk menjaga mutu produk itulah yang tampaknya mudah diucapkan akantetapi sukar untuk dilaksanakan. Dalam kenyataannya sering terjadi para pengusaha cenderung untuk menurunkan mutu produknya apabila telah dirasakan barang yang dijual tersebut larisdi pasaran. Hal ini dilakukan pada umumnya atas dasar pertimbangan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar. Pertimbangan semacam ini tidak disadari justru berakibat sebaliknya. Kenyataan tersebut sering dilaksanakan oleh para pengusaha kecil sampai sedang.
KESENJANGAN EKONOMI ANTARDAERAH INDONESIA Baswir, Revrisond
Journal of Indonesian Economy and Business Vol 2, No 1 (1987): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2354.798 KB)

Abstract

Kesenjangan ekonomi antardaerah sebenarnya bukan merupakan masalah baru bagi perekonomian Indonesia. Di samping banyak dipengaruhi oleh kondisi geografis dan potensi ekonomi yang dimiliki oleh tiap-tiap daerah, masalah ini juga banyak dipengaruhi oleh faktor faktor sejarah. Pulau Jawa misalnya, di samping memiliki tanah yang subur, letaknya juga jauh lebih strategis dibandingkan pulau-pulau Indonesia lainnya. Tanahnya yang subur menyebabkan pulau ini menjadi penghasil beras utama bagi kepulauan Nusantara. Sedangkan posisinya yang berada di tengahtengah, di antara pulau-pulau Indonesia yang lain, menyebabkan kota-kota pantai di pulau ini seperti Surabaya, Gresik, dan Jepara, lahir menjadi pelabuhan transito bagi perdagangan cengkeh dari Indonesia bagian timur, dan perdagangan lada dari Indonesia bagian barat. Karena itulah, ketika kongsi-kongsi dagang Belanda (VOC) datang ke Indonesia, mereka lebih terpikat pada pulau Jawa dibandingkan pulau pulau Indonesia lainnya. Dan sebagaimana dapat disaksikan kemudian, kehadiran VOC - yang kemudian dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda - ini pulalah yang antara lain banyak mempengaruhi tingkat perkembangan ekonomi pulau Jawa pada masamasa berikutnya. Dibukanya perkebunan-perkebunan besar sejak awal abad ke 17, yang diikuti dengan pembangunan pabrik-pabrik telah membuat perekonomian pulau Jawa selangkah lebih maju dibandingkan pulau-pulau Indonesia lainnya. Kemudian dibangunnya jalan besar dari Anyer ke Panarukan oleh Daendels pada tahun 1808, menyebabkan perekonomian pulau Jawa menjadi semakin terbuka. Sedangkan dijadikannya kota Batavia sebagai pelabuhan utama oleh VOC, dan kemudian sebagai pusat pemerintahan oleh pemerintah Hindia Belanda, telah menyebabkan berkembangnya kota Jakarta sebagai kota utama di Indonesia. Contoh lain dari pengaruh kehadiran Belanda terhadap perkembangan ekonomi daerah-daerah Indonesia dapat pula dilihat pada kasus pulau Sumatra. Dibukanya perkebunan-perkebunan besar oleh kongsi-kongsi dagang Belanda di Sumatra Timur (kini Sumatra Utara) secara perlahan-lahan telah menyebabkan berkembangnya daerah ini menjadi propinsi utama di Sumatra.2 Sedangkan kota Medan, yang semula tidak lebih besar dari pada Banda Aceh atau Palembang, kemudian menjadi kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Setelah Indonesia merdeka, sampai dengan tahun 1965, secara keseluruhan keadaan perekonomian Indonesia yang diwarisi dari pemerintah Hindia Belanda di atas belum banyak berubah. Ketegangan-ketegangan politik yang berkepanjangan, termasuk di antaranya separatisme daerah3, serta perhatian pemerintah yang lebih banyak tertuju pada masalah-masalah politik ketika itu, memang tidak banyak pengaruhnya terhadap perkembangan perekonomian Indonesia pada umumnya dan perekonomian daerah pada khususnya. Sehingga, kalau boleh dikatakan demikian, dengan keadaan yang masih hampir sepenuhnya warisan pemerintah Hindia Belandaitulah kemudian pemerintah Orde Baru memulai pembangunan pada tahun 1969. Dalam tulisan ini, masalah kesenjangan ekonomi antardaerah ini akan dilihat dengan membandingkan keadaan dua periode, yaitu sebelum Pelita II dan setelah Pelita II. Dijadikannya Pelita II sebagai titik tolak adalah karena secara resmi pemerataan pembangunan antar daerah baru mulai mendapat perhatian sejak dimulainya Pelita II ini. Hal itu misalnya dapat dilihat pada dicantumkannya pemerataan ekonomi antardaerah sebagai salah satu dari delapan jalur pemerataan, dibahasnya pembangunan daerah secara tersendiri dalam GBHN, dan terutamadibentuknya Bappeda pada tahun 1974.
INVESTIGASI PENYIMPANGAN BIAYA DENGAN EFISIEN Supriyono, R.A.
Journal of Indonesian Economy and Business Vol 2, No 1 (1987): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1252.279 KB)

Abstract

Dewasa ini kita sering mendengar istilah pengawasan, penyimpangan, dan efisiensi disuarakan oleh para pemimpin pemerintahan dan para manajer bisnis. Istilah-istilah tersebut sering terdengar karena kita dihadapkan pada kenyataan semakin terbatasnya dana pembangunan. Sebenamya masih ada satu istilah lagi yang penting tetapi kurang gemanya di masyarakat, yaitu istilah efektivitas. Sudahkah kita memahami istilah-istilah yang kedengaran merdu tersebut? Sudahkah kita menghayati budaya pengawasan, investigasi penyimpangan, sertapenilaian efisiensi dan efektivitas? Tulisan ini bertujuan untuk membahas pengertian istilah-istilah tersebut, serta berbagai metode investigasi penyimpangan yang efisien.
KAUSALITAS ANTARA UANG BEREDAR DAN INFLASI DI INDONESIA Dumairy, Dumairy
Journal of Indonesian Economy and Business Vol 2, No 1 (1987): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.432 KB)

Abstract

Dalam menanggapi hubungan sebab-akibat antara jumlah uang beredar dan laju inflasi, awam cenderung berpendapat bahwa tambahan jumlah uang yang beredar menyebabkan kenaikan harga-harga secara umum. Dengan perkataan lain, jumlah uang beredar merupakan penyebab inflasi; bukan sebaliknya, inflasi menyebabkan penambahan jumlah uang beredar. Pendapat umum seperti di atas agaknya didasari oleh dugaan hubungan sebabakibat yang paling memungkinkan untuk terjadi antara kedua variabel tadi. Pendapat demikian juga selaras dengan (dipengaruhi oleh?) pandangan kaum Klasik dan Monetaris. Sesungguhnya tambahan uang beredar menyebabkan kenaikan hargaharga, bukanlah satu-satunya kemungkinan yang bisa terjadi atau masuk akal. Arah kausalitas dapat pula terjadi sebaliknya: laju inflasi menyebabkan penambahan jumlah uang yang beredar. Sebagaimana pandangan kaum Strukturalis, penawaran uang bukanlah penyebab inflasi; jumlah uang beredar bertambah akibat (sebagai konsekuensi dari) pertumbuhan ekonomi. Dan sebagaimana dimaklumi, yang terakhir ini bukan saja menggandeng inflasi tetapi juga memang menuntut lebih banyak uang. Sementara itu dua dedengkot aliran Asa Nalar (rational expectations), yakni Sargent dan Wallace [1973], telah membuktikan adanya umpan-balik dari inflasi ke penambahan jumlah uang beredar lebih lanjut. Artikel ini memaparkan hasil telaah penulis mengenai hubungan kausalitas antara kedua variabel yang sedang diperbincangkan, untuk kasus Indonesia dalam periode 1968-1985. Tepatnya antara tahun 1968 kuartal pertama dan tahun 1985 kuartal kedua. Telaah dimaksudkan untuk mengetahui pola atau arah kausalitas; apakah penambahan jumlah uang beredar menyebabkan kenaikan harga-harga, ataukah sebaliknya, ataukah terdapat mekanisme umpan-balik antara kedua variabel, ataukah justru tak terdapat saling tindak (interaction) antara mereka.
POTENSI PERTANIAN PEDESAAN DAN SWASEMBADA PANGAN Sumodiningrat, Gunawan
Journal of Indonesian Economy and Business Vol 2, No 1 (1987): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.111 KB)

Abstract

Prioritas pembangunan sejak awal Pelita I tampak terlalu banyak menekankan pada pencapaian tujuan akhir yaitu produksi nasional yang tinggi atau pada orientasi target, tapi kurang memperhatikan keikutsertaan pelaku ekonomi dalam proses tersebut. Prioritas yang kurang memberi perhatian pada pelaku ekonominya ternyata tidak sepenuhnya memberikan hasil seperti yang diharapkan. Hal ini terlihat dari kurang siapnya pelaku ekonomi untuk tanggap terhadap keadaan yang "normal" karena keikutsertaan mereka dalam pembangunan relatif kecil. Kekurangsiapan ini merupakan kendala bagi proses pembangunan, khususnya di sektor pertanian.Sehingga, bila sektor pertanian diharapkan untuk tetap mempunyai peranan dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional, jelas akan memerlukan waktu dalam pembenahannya. Namun demikian, pembenahan ini akan mampu menjaga momentum pembangunan dan memanfaatkan keberhasilan pembangunan nasional yang telah dicapai hingga saat ini.
SEBUAH CATATAN ATAS ANALISIS EKONOMI FERTILITAS MODEL BECKER Permono, Iswardono S.
Journal of Indonesian Economy and Business Vol 2, No 1 (1987): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (37.729 KB)

Abstract

Kepustakaan yang menganalisis masalah fertilitas, baik di negara maju maupun di negara berkembang sudah sangat banyak. Berbagai kepustakaan itu menyebutkan beberapa faktor yang bersifat kompleks yang mempengaruhi fertilitas. Hal ini disebabkan oleh banyaknya faktor seperti biologi, sosial, psikologi dan ekonomi yang mempengaruhi perilaku manusia.Dari berbagai kepustakaan tersebut, pendekatan terhadap fertilitas dapatdikelompokkan ke dalam beberapa model sebagai berikut: (1) Model Sosio-Demografis, (2) Model Becker (Ekonomi Rumah Tangga), (3) Model Leibenstein, (4) Model Easterlin, (5) Model Caldwell, (6) Model Sosio-Psikologis, (7) Model Strukturalis, dan (8) Model "Threshold".

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

1987 1987


Filter By Issues
All Issue Vol 34, No 1 (2019): January Vol 33, No 3 (2018): September Vol 33, No 2 (2018): May Vol 33, No 1 (2018): JANUARY Vol 32, No 3 (2017): SEPTEMBER Vol 32, No 2 (2017): MAY Vol 32, No 1 (2017): JANUARY Vol 31, No 3 (2016): September Vol 31, No 3 (2016): SEPTEMBER Vol 31, No 2 (2016): MAY Vol 31, No 1 (2016): JANUARY Vol 30, No 3 (2015): SEPTEMBER Vol 30, No 2 (2015): MAY Vol 30, No 1 (2015): January Vol 29, No 3 (2014): September Vol 29, No 2 (2014): May Vol 29, No 1 (2014): January Vol 29, No 1 (2014) Vol 28, No 3 (2013): September Vol 28, No 2 (2013): May Vol 28, No 1 (2013): January Vol 27, No 3 (2012): September Vol 27, No 2 (2012): May Vol 27, No 1 (2012): January Vol 26, No 3 (2011): September Vol 26, No 2 (2011): May Vol 26, No 1 (2011): January Vol 25, No 3 (2010): September Vol 25, No 2 (2010): May Vol 25, No 1 (2010): January Vol 24, No 3 (2009): September Vol 24, No 2 (2009): May Vol 24, No 1 (2009): January Vol 23, No 4 (2008): October Vol 23, No 3 (2008): July Vol 23, No 2 (2008): April Vol 23, No 1 (2008): January Vol 22, No 4 (2007): October Vol 22, No 3 (2007): July Vol 22, No 2 (2007): April Vol 22, No 1 (2007): January Vol 21, No 4 (2006): October Vol 21, No 3 (2006): July Vol 21, No 2 (2006): April Vol 21, No 1 (2006): January Vol 20, No 4 (2005): October Vol 20, No 3 (2005): July Vol 20, No 2 (2005): April Vol 20, No 1 (2005): January Vol 20, No 4 (2005): October Vol 20, No 3 (2005): July Vol 20, No 2 (2005): April Vol 20, No 1 (2005): January Vol 19, No 4 (2004): October Vol 19, No 3 (2004): July Vol 19, No 2 (2004): April Vol 19, No 1 (2004): January Vol 19, No 4 (2004): October Vol 19, No 3 (2004): July Vol 19, No 2 (2004): April Vol 19, No 1 (2004): January Vol 18, No 4 (2003): October Vol 18, No 3 (2003): July Vol 18, No 2 (2003): April Vol 18, No 1 (2003): January Vol 18, No 4 (2003): October Vol 18, No 3 (2003): July Vol 18, No 2 (2003): April Vol 18, No 1 (2003): January Vol 17, No 4 (2002): October Vol 17, No 3 (2002): July Vol 17, No 2 (2002): April Vol 17, No 1 (2002): January Vol 17, No 4 (2002): October Vol 17, No 3 (2002): July Vol 17, No 2 (2002): April Vol 17, No 1 (2002): January Vol 16, No 4 (2001): October Vol 16, No 3 (2001): July Vol 16, No 2 (2001): April Vol 16, No 1 (2001): January Vol 15, No 4 (2000): October Vol 15, No 3 (2000): July Vol 15, No 2 (2000): April Vol 15, No 1 (2000): January Vol 14, No 4 (1999): October Vol 14, No 3 (1999): July Vol 14, No 2 (1999): April Vol 14, No 1 (1999): January Vol 13, No 4 (1998): October Vol 13, No 3 (1998): July Vol 13, No 2 (1998): April Vol 13, No 1 (1998): January Vol 12, No 3 (1997): July Vol 12, No 2 (1997): April Vol 12, No 1 (1997): January Vol 11, No 1 (1996): January Vol 10, No 1 (1995): September Vol 9, No 1 (1994): May Vol 8, No 1 (1993): September Vol 7, No 1 (1992): September Vol 6, No 1 (1991): September Vol 5, No 2 (1990): September Vol 5, No 1 (1990): April Vol 4, No 1 (1989): April Vol 3, No 1 (1988): September Vol 2, No 1 (1987): September Vol 1, No 1 (1986): September More Issue