cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Contemporary Indonesian Art
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
CATATAN HARIAN DALAM LUKISAN Setyawan, Lilik
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 4, No 1 (2018): Journal of Contemporary Indonesian Art
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v4i1.2053

Abstract

Catatan harian dan lukisan, keduanya memiliki bentuk yang berbeda tapi sama secara esensi, hal tersebut dapat menjadi sebuah indikasi bagi sebagian orang dengan keadaan psikologi. menuis catatan harian merupakan sebuah aktifitas untuk mencurahkan perasaan, sebuah keharusan hati untuk mengungkapkan perasaan dalam sebuah tulisan. bahasa yang normal dan terstruktur tidak dapat menjadi cara untuk mengungkapkan keresahan. Pada akhirnya menciptakan sebuah pemahaman dalam mencari persamaaan antara menulis dan melukis. Catatan harian seperti sebuah museum, galeri, atau laboratorium kecil untuk penulis, sebuah ruangan untuk menjaga kenangan dan berbagai pendapat. Catatan harian juga sebuah tempat rekreasi tertutup/pribadi, untuk mengingat kenangan, untuk mempelajari kembali apa yang telah ditulis, dan pada akhirnya menjadi sangat penting untuk melukis sebuah harya seni.Kata kunci: catatan harian, lukisan, kenangan
Proses Kreatif Seniman pada Proyek Residensi ”Landing Soon” Tahun 2006-2009 di Rumah Seni Cemeti Yogyakarta Verdiana, Elfa Olivia
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 1, No 2 (2015): OCTOBER
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v1i2.1754

Abstract

                Penelitian ini bertujuan memahami proses kreatif seniman Indonesia dan seniman Belanda pada proyek residensi “Landing Soon” I hingga XI serta mengetahui persamaan dan perbedaan di antara keduanya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini memerlukan data berupa arsip proses kreatif sebagai data primer serta data berupa arsip karya seni sebagai data sekunder. Proses kreatif dibatasi dari segi waktu yaitu pada proyek residensi “Landing Soon” yang berlangsung pada tahun 2006-2009, dan juga dari segi lokasi yakni Rumah Seni Cemeti. Seniman yang terlibat pada proyek residensi ini sejumlah 26. Langkah penelitian yang dilakukan adalah mengumpulkan data kemudian menganalisis data. Sesuai dengan teori Alma M. Hawkins, pada proyek residensi “Landing Soon” seniman Indonesia dan seniman Belanda berproses kreatif dengan melalui tiga tahapan, yaitu: eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Persamaan proses kreatif antara seniman Indonesia dengan seniman Belanda antara lain dalam hal interaksi budaya, lokalitas, dan bidang disiplin. Persamaan-persamaan ini terbentuk karena adanya pengkondisian berdasarkan tujuan residensi “Landing Soon” itu sendiri. Perbedaannya antara lain dalam hal basic research, ide, serta media dan teknik berkarya. Beberapa perbedaan ini berakar pada aspek-aspek bawaan seniman dan kecenderungannya yang berbeda-beda.Kata kunci: proses kreatif, residensi “Landing Soon”, seniman
"BATIK KROYA” DALAM PERSPEKTIF ORIENTASI PEMBELAJARAN PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI SD N PEKUNCEN 01 KECAMATAN KROYA CILACAP Setyaningrum, Fery
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 4, No 1 (2018): Journal of Contemporary Indonesian Art
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v4i1.1774

Abstract

The purpose of this research are (1) Describe the characteristics of "Kroya batik" in the element of kesenirupaan, (2) Describe the application of "Kroya batik" in elementary school children in Pekuncen 01 Kroya Primary School, Cilacap District in the context of kesenirupaan. (3) Describe the review "batik Kroya" in the understanding of the five orientations of educational attainment through the concept of Gage and Berliner. The research method using qualitative descriptive research approach, the subject of this research is the students of grade V Pekuncen 01 Kroya Primary School. Techniques of data collection using observation / controlled observation, interviews, and document studies. Data were analyzed through data reduction steps, data presentation and conclusion drawing or verification. The result of this research are (1) Kroya batik characteristic in the form of physical nature symbol in environment in Kroya Regency of Cilacap and the combination of point line, color, field, texture on the visual elements and typical design principles, (2) The process of application first batik motive in beginning by making batik design (mal technique), canting, menyolet (giving color), giving hard water, washing, color, washing, boiling, dried, (3) result of batik learning process at student of Pekuncen 01 Kroya Primary School is education can leads to an increase in the value of the personality (Development Regulatory), Education can develop regulatory affective, Education can increase creativity and cognition (Creativity & cognition), Education can increase curiosity, Education can create sensitivity. Keywords : Batik, Learning Orientation, Elementary School Age Children
EKSPLORASI BENTUK PATUNG ABSTRAK DENGAN TEKNIK PAHAT (CARVING) DAN BAKAR (FLAMED) Wantoro, Yoga Budhi
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 4, No 1 (2018): Journal of Contemporary Indonesian Art
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v4i1.2050

Abstract

Seni patung merupakan salah satu cabang seni rupa yang menghasilkan karya seni berujud tiga dimensional. Dalam proses perwujudannya memerlukan beberapa tahap yang sangat penting agar karya patung tersebut bisa hadir dengan wujud serta performa yang indah dan menarik. Proses tersebut diawali dengan munculnya gagasan/ide hingga sentuhan akhir untuk kepentingan kualitas karya.Patung abstrak merupakan salah satu gaya dalam perkembangan seni patung di dunia. Gaya abstrak dalam seni patung dibagi menjadi dua yaitu abstrak representasional dan abstrak non representasional. Dalam abstrak representasioanal bentuk yang dihadirkan masih bisa dilacak (mengacu kepada bentuk alam) sedangkan dalam abstrak non representasional embrio bentuk sudah tidak bisa dilacak lagi.Tekstur atau barik adalah bagian dari perwujudan seni patung baik dengan bahan organik maupun non organik. Tekstur sering dimaknai keberadaannya sebagai penguat atau aksentuasi di dalam bentuk, agar permukaan menjadi jelas karena dengan teksur maka cahaya akan membantu menguatkan bentuk. Cekung akan terlihat lebih kuat apabila ada tektur di dalamnya.keberadaan tekstur di dalam patung abstrak bagi penulis sangat penting karena persoalan krusial di dalam bentuk patung abstrak adalah muncul dari kebentukan itu sendiri. Terkadang konsep atau gagasan hanya sebagai batu loncatan di dalam proses terbentuknya patung abstrak tersebut. Penciptaan tekstur dengan teknik bakar (flamed) di dalam seni patung abstrak dengan material batu andesit merupakan teknik baru, biasanya tekstur yang diciptakan dengan menggunakan bush hammer yaitu dengan cara memukulkan palu yang bergerigi di atas permukaan batu/patung abstrak. Melalui teknik bakar (flamed) ini penulis juga bisa mencampurkan warna dalam proses pembakaran tersebut guna mendapatkan permukaan yang estetis untuk mendukung performa dalam seni patung abstrak.Kata kunci: Patung abstrak, teknik bakar (flamed), Tekstur.
Narasi Kehidupan di balik Topeng Tunanetra Ajisaka, Adek Dimas
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 1, No 1 (2015): APRIL
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3364.424 KB) | DOI: 10.24821/jocia.v1i1.1748

Abstract

The Narration of Life behind the Blind Mask. Persons who are blind is the subject that inspires, and motivates the circumstance. The existence of the visually impaired persons indirectly also be social criticism against the life of the community. The limitation has led private owned blind on the value of life and humanity that we appreciate it much more. Introductions and proximity to the persons who are blind raises the creative impulse to embody the values of life and humanity of the blind in the form of works of art. The blind presents in the form of works of art is not merely a display of artistic value but also as an effort to build a positive mentality and thinking through the concepts presented. Blind was involved directly in the process of creation of the work. Facilitating the blind became a print model in the mask. The face mask was chosen because the face is the first individual identity markers and personal representation of the subject. The face became a symbol of insurer liability for what the whole body. The mask being representative of the individual where it has the power to convey the story, experience the value of life and humanity over individual timesKeywords: narration, mask, blind.
Seni Instalasi Karya Heri Dono Sebagai Pertunjukan Saraswati, Agni
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 1, No 2 (2015): OCTOBER
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v1i2.1755

Abstract

Seni instalasi mulai berkembang pada tahun 70-an. Seni instalasi merupakan karya seni yang menciptakan kondisi kehadiran bagi penonton untuk mengelilingi, memasuki, dan merasakan objek secara langsung. Seni instalasi menggabungkan berbagai media dan genre seni, sehingga dapat mencakup elemen visual, suara, dan kinetik. Seni instalasi mampu membangkitkan persepsi penonton lebih kuat daripada bentuk seni yang lain. Penelitian mengambil topik Seni Instalasi sebagai Pertunjukan. Studi kasus adalah seni instalasi S.O.S Rescue Me (2015) dan Fermentation of Nose (2011-2015) karya Heri Dono. Penelitian menggunakan pendekatan teori seni sebagai pertunjukan oleh David Davies (2004) dan teori seni instalasi oleh Claire Bishop (2005). Metode yang digunakan adalah metode analisis kualitatif Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman. Penelitian dilakukan untuk mengetahui latar belakang seniman membangun konsep dan mempresentasikan seni instalasi sebagai sebuah pertunjukan. Heri Dono membangun konsep karya instalasinya melalui konsep fermentasi. Kreativitas terlihat melalui adanya manipulasi media yang dilakukan seniman untuk menyampaikan isi karya kepada penonton. Seni instalasi, seperti bentuk seni yang lain, merupakan sebuah pertunjukan. Seni instalasi dibuat untuk memberikan pengalaman melihat yang berbeda bagi penonton. Karya Heri Dono mampu membangkitkan persepsi dan memprovokasi penonton untuk berpikir kembali tentang berbagai isu hari ini.Kata kunci: seni instalasi, persepsi, pertunjukan, proses kreatif, manipulasi media
Seni Rupa ‘Biasa-Biasa Saja’ Karya Herman ‘Beng’ Handoko Zarkasi, Much Sofwan
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 1, No 1 (2015): APRIL
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (884.762 KB) | DOI: 10.24821/jocia.v1i1.1729

Abstract

Artikel yang mengambil judul “Seni Rupa ‘Biasa-Biasa Saja’ Karya Herman ‘Beng’ Handoko” ini bertujuan memahami kreativitas dan menginterpretasi estetika seni rupa karya Herman ‘Beng’ Handoko atau yang sering dipanggil Beng Herman. Artikel penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memahami proses kreatif Beng Herman menggunakan teori Deteritorialisasi dari Gilles Deleuze, dan memahami estetika karya Beng Herman dengan pendekatan estetika dari Clive Bell, yang menginformasikan seni sebagai pengalaman pribadi yang mengadirkan bentuk bemakna (significant form). Penelitian ini menghasilkan temuan berupa: pertama, seni rupa karya Beng Herman hadir dari sebuah rutinitas berolah rasa dan berfikir yang membebaskan dirinya dari batasan-batasan di luar dirinya yang penuh pembatasan sehingga karyanya hadir dari perasaan murni dari dalam dirinya. Pembebasan tersebut menjadikan rutinitas kegiatan berolah seni menjadi kegiatan ‘biasa-biasa saja’ bagi Beng Herman, yang semuanya direspon menjadi sebuah hasrat untuk menghasilkan karya estetis yang luar biasa terkait sebuah kedalaman proses individu yang menampilkan kejujuran tanpa penghakiman terhadap individu-individu lain. Mengapresiasi karya Beng Herman adalah pembelajaran dalam menghargai eksistensi individu, yang sekarang sering tidak dilihat oleh beberapa pemerhati seni karena kecenderungan terpesona oleh eksistensi estetika pasar. Kedua, estetika karya Beng Herman hadir dari susunan kesatuan garis maupun bidang yang dikoordinasi secara bebas, yang kadang tampak pengulangan-pengulangan yang menampilkan irama dinamis. Garis yang diulang-ulang sedemikian rupa, atau kadang hanya bidang-bidang geometris pada kertas koran, atau kertas apapun yang sudah terpakai dengan menggunakan tinta hitam, bolpoint, spidol warna hitam, merah, menyadarkan kita akan sebuah bentuk elementer dan suatu kesederhanaan tentang hidup dan kehidupan yang semua orang mengalami. Suatu hal biasa yang menjadi luar biasa adalah ketika sesuatu hal tersebut menjadi pengalaman pribadi yang dalam dan menghadirkan kemungkinan-kemungkinan serta makna beragam sesuai pengalaman estetik masing-masing individu.
FENOMENA GALERI ONLINE STUDI KASUS SITUS WEB DEVIANTART.COM Malikha, Bunga
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 4, No 1 (2018): Journal of Contemporary Indonesian Art
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v4i1.2051

Abstract

Perkembangan dunia teknologi dijital dan internet telah mencapai hiperrealitas dan era realiti virtual yang disebabkan olehbergesernya pemahaman tentang konsep ruang dan waktu, sebaik kehidupan praktis, termasuk dalam dunia seni, eksistensi dunia hiperealitas meluas dalam segi pemahaman tentang apa itu yang disebut dengan seni dan karya seni. Dunia hiperealitas dan realitas virtual memberi kemungkinan lebih untuk mencaritahu bentuk baru dalam ekspresi seni, yang mana tidak dapat dibayangkan dalam dunia yang sesungguhnya.Penggunaan media sosial menjadi sebuah produk dari perkembangan teknologi yang ditawarkan dengan fungsinya disamping sebagai media komunikasi tapi juga kreasi seni. Deviant Art menjadi salah satu situs yang menawarkan fasilitas antara seni dan teknologi, yang menawarkan banyak fitur pendukung kreasi seni. Bagaimana menikmati seni dengan berbagai cara saat ni. Para kreator dan penikmat terhubung satu sama lain secara langsung, berinteraksi, jual beli, menghadiri pameran dari seluruh dunia, mengakses informasi, sampai transaksi karya. Semuanya dapat diakses siapa saja, kapan saja, dan dimana saja.Meskipun yang ditawarkan adalah realitas baru, dunia hiperrealitas dan realitas virtual, fakanya juga mengandung resiko dikarenakan ketidakjelasan identitas, lokasi dan kepemilikan. Salah satu masalah dunia cyber saat ini adalah terlalu membludaknya informasi termasuk tentang karya seni yang jumlahnya milyaran. Kemudian, apakah ini yang disebut dengan budaya bebas? Jika kondisi seperti ni tidak ditata dengan baik, maka budaya dan seni hanya akan terjebak didalam budaya bebas, menjadi sebuah tanda kegilaann tanpa kendali, meskipun tujuan sebenarnya adalah untuk kepentingan kehidupan sosial.Kata kunci: interaksi, user, hiperrealitas, cyberspace, budaya bebas
Perubahan Esensi Ragam Hias “Sepak Bola” pada Batik Masa Kini Raditya, Michael HB
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 1, No 1 (2015): APRIL
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3955.18 KB) | DOI: 10.24821/jocia.v1i1.1751

Abstract

The Essence’s Transformation of “Football” Decoration of Batik Today. Nowadays, batik has a massive development in its existance. In primary side, the existance more strong, but in other side batik had been changed. About Two years ago, Batik football decorative emerged and become a commodity by the batik artisans. The position of batik footbal decorative has become a dilemma. The issues made because there are many support and counter for that development. The issue about aesthetics and commoditization was creating by purpose of this change. Moreover, questioning the essence and existance of batik itself. In this article, batik football decorative will be discussed based on the essence and change. The dicussion about essence will be analyze with the aesthetic and commoditization perspective, while the changes would be discussed with the function and change itself. This thing did it to find the essence of batik football decorative. Conclusion of the research said the batik football decorative used a commoditization and decrease the aesthetic things to create the batik itself. The change occurs because there is a correlation between internal and external aspect on integrated of batik. The Analyze becomes a reflection to society, in batik for spesific, and arts in general view.Keywords: Batik, Football, Transformation, Commoditization, Essence
Seni Lukis Tradisional Pengosekan dalam Konteks Seni Rupa Kontemporer Purnamasari, Ni Putu Laras
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 1, No 2 (2015): OCTOBER
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v1i2.1756

Abstract

Desa Pengosekan adalah salah satu desa tradisional di Ubud di mana beberapa penduduk masih memiliki profesi sebagai pelukis tradisional. Hal yang menarik dari lukisan tradisional Pengosekan adalah pada nilai seni, dari setiap tema lukisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan kelangsungan lukisan tradisional Pengosekan, dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan visualisasi pekerjaannya. Perubahan dalam visualisasi kerja dianalisis berdasarkan warna, bentuk, garis, ruang, komposisi, pencahayaan, dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lukisan tradisional Pengosekan masih diproses terus menerus oleh pelukis di Pengosekan, sejak tahun 1980 hingga 2013. Kontinuitas yang terjadi disertai dengan perubahan dalam hal objek, warna, bentuk, komposisi, ruang, dan teknik. Perubahan yang terjadi tidak lepas dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari keinginan pelukis untuk selalu meningkatkan kualitas karyanya, dengan cara yang kreatif dan inovatif. Faktor eksternal berasal dari lingkungan yang memberikan banyak inspirasi, keahlian pendidikan formal dan non-formal, perkembangan seni lukis modern di Bali, teknologi dan media informasi, dan pariwisata. Keberadaan lukisan tradisional Pengosekan memiliki dampak pada meningkatnya tingkat ekonomi. Anak-anak yang belajar seni lukis tradisional juga akan dididik untuk menjadi disiplin dan menghargai waktu.Kata kunci: Pengosekan tradisional lukisan, kontinuitas, perubahan

Page 1 of 3 | Total Record : 30