cover
Filter by Year
Bulletin of Post and Telecommunications
Bulletin of Post and Telecommunications a.k.a Buletin Pos dan Telekomunikasi is scientific communication media that is currently managed and published by the R&D Center for Post & ICT Resources, Ministry of Communications and Information Technology. This Bulletin was first published since 2003 by the R & D Center for Post and Telecommunications, who was under the Department of Transportation. Since 2006, with the re-organization of the Indonesian Ministry by the new elected government, the journal management was moved under the R & D Center for Post and Telecommunications, Ministry of Communications and Information and than managed since 2010 under the R&D Center for Post & ICT Resources. This bulletin LIPI accredited by the Accreditation Number: 247 / Akred-LIPI / P2MB / 05/2010. Scientific work / Manuscript that can be published in the Bulletin of Posts and Telecommunications in the form of research, studies, analysis of secondary data, thoughts, reviews theoretical / conceptual / methodological which on scop of: Policy on post Policy on telecommunications Standardization for post Standarization for telecommunications Internet Protocol Numbering Satellite Policy Policy on Telecommunication Industry Telecommunication Market
Articles
156
Articles
​
Functional Database in Gateway-based Price Service System [Basis Data Fungsional dalam Sistem Pelayanan Harga berbasis Gateway]

Sucipto, Sucipto ( Universitas Nusantara PGRI Kediri ) , Hariawan, Fitra Bagoes ( Universitas Nusantara PGRI Kediri ) , Nurita, Vivin ( Universitas Nusantara PGRI Kediri ) , Tammam, Aditya Gusti ( Universitas Nusantara PGRI Kediri )

Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol 16, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : R&D Center of Post dan Informatics Resources and Equipments (Puslitbang SDPPI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Information on product prices is one of the things that is often disturbed by society because information about product prices is frequently different among sellers. Whereas the government has made information disclosure in the form of a standard price of a product that aims to reduce price differences among sellers but it cannot be denied that there are several factors that make the price of products different. For example regional factors, transportation, or limited stock. When the community has obtained price information from the government, the public can compare prices on the market. However, the disclosure of information from the government regarding the standard up-to-market price of products on the market is still through internet. Internet media cannot be fully accessed by all people, especially rural communities who still have remote areas such as Gadungan village in Kediri regency. This research was conducted as an alternative technology to facilitate information disclosure of product prices. The method used in this study is action reseach. In this research phase, researchers used the gateway service technology service with a functional PostgreSQL database. The results on usability testing showed that the average score was 88.3%. Application testing results obtained from the application effectiveness level in the range of 89%, the application effectiveness level in the range of 90% and on application satisfaction in the range of 86%. The use of the application is expected to help the public in getting more varied pricing information so as to achieve perfect price competition*****Informasi harga produk menjadi salah satu hal yang sering diresahkan masyarakat karena informasi mengenai harga produk sering berbeda dikalangan penjual. Padahal pemerintah telah melakukan keterbukaan informasi berupa standar harga pokok sebuah produk. Sesungguhnya standar harga produk dari pemerintah tersebut bertujuan untuk mengurangi perbedaan harga di kalangan penjual. Walaupun tidak bisa dipungkiri terdapat beberapa faktor yang membuat harga produk berbeda-beda. Misalnya faktor wilayah, transportasi, ataupun keterbatasan stok. Ketika masyarakat telah memperoleh informasi harga dari pemerintah, masyarakat dapat melakukan perbandingan harga di pasaran. Namun keterbukaan informasi dari pemerintah terkait standar harga produk di pasaran yang up to date masih melalui media internet. Media internet tidak dapat sepenuhnya diakses oleh semua masyarakat, khususnya masyarakat desa yang masih memiliki kawasan wilayah terpencil seperti Desa Gadungan Kab. Kediri. Penelitian ini dilakukan sebagai alternatif teknologi untuk menfasilitasi keterbukaan informasi harga produk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah action research. Penelitian ini menggunakan layanan teknologi gateway service dengan fungsional database PostgreSQL. Hasil penelitian berdasarkan pengujian usability testing diketahui bahwa rata-rata score adalah 88,3%. Hasil pengujian aplikasi didapatkan dari tingkat efektivitas aplikasi pada kisaran 89%, tingkat efektivitas aplikasi pada kisaran 90% dan pada kepuasan aplikasi pada kisaran 86%. Penggunaan aplikasi diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mendapatkan informasi harga lebih variatif sehingga mencapai persaingan harga sempurna dengan teknologi informasi menggunakan metode gateway service.

Understanding the Turbulence of Business Environment in Telecom Industry: Empirical Evidence from Indonesia [Memahami Turbulensi Lingkungan Bisnis pada Industri Telekomunikasi: Bukti Empirik dari Indonesia]

Nashiruddin, Muhammad Imam ( Univesitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) )

Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol 16, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : R&D Center of Post dan Informatics Resources and Equipments (Puslitbang SDPPI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Previous studies have shown that business performance is mostly determined by the ability of a company to create competitive advantage. However, the rapid changes in technology, markets, regulations and hypercompetition have made the business environment increasingly uncertain and unpredictable so that it can erode competitive advantage. This phenomenon is known as the turbulence of business environment and can cause a company to have difficulty maintaining its competitive advantage so that it is very interesting to study further. The purpose of this study is to understand how the turbulence of business environment occurs in the telecommunications industry in Indonesia. The study involved 213 leaders of business units of telecommunications operators in Indonesia as research respondents. The research methods used are descriptive survey and explanatory survey using component-based structural modeling, Partial Least Square-Path Modeling (PLS-PM). The results of the study showed that the telecommunications industry in Indonesia has experienced high turbulence of business environment, caused mainly by competitive turbulence. However, it was found that the technological turbulence and the market turbulence have contributed the most dominant to the occurrence of turbulence business environment in telecommunication industry. This study also discussed the problem solving of the business environment turbulence and recommendations for the sustainability of the telecommunications industry in Indonesia.*****Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran bagaimana turbulensi lingkungan bisnis yang terjadi pada industri telekomunikasi di Indonesia. Penelitian melibatkan pimpinan unit bisnis penyelenggara telekomunikasi sebagai responden penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode descriptive survey dan explanatory survei menggunakan pemodelan struktural berbasis komponen yaitu Partial Least Square-Path Modelling (PLS-PM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia mengalami gejolak turbulensi lingkungan bisnis yang tinggi, disebabkan terutama oleh turbulensi lingkungan kompetisi. Meskipun demikian, ditemukan bahwa sesungguhnya turbulensi lingkungan teknologi dan turbulensi lingkungan pasar yang berkontribusi paling dominan terhadap terjadinya turbulensi lingkungan bisnis pada industri telekomunikasi. Dalam penelitian ini juga dibahas pemecahan masalah turbulensi lingkungan bisnis tersebut dan rekomendasinya bagi keberlangsungan industri telekomunikasi di Indonesia.

Front Cover

Bpostel, Cover

Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol 16, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : R&D Center of Post dan Informatics Resources and Equipments (Puslitbang SDPPI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Analisis Performansi Spray and Focus pada Vehicular Delay Tolerant Network (VDTN) dengan Perubahan Kecepatan dan Kepadatan Node [Performance Analysis of Spray and Focus on Vehicular Delay Tolerant Network (VDTN) with Change of Speed Mechanism ...]

Saputra, Ilman Syakir ( Telkom University ) , Perdana, Doan ( Telkom University )

Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol 16, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : R&D Center of Post dan Informatics Resources and Equipments (Puslitbang SDPPI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan memperkenalkan teknologi yang sedang dikembangkan untuk dapat mengirimkan paket data tanpa langsung terhubung dengan jaringan backbone, teknologi tersebut dinamakan Delay Tolerant Network (DTN). DTN merupakan jaringan nirkabel dengan kondisi node yang berkomunikasi tidak dapat ditentukan waktunya atau hubungan antara node jarang terjadi. Tidak seperti jaringan konvensional Mobile Ad Hoc Network (MANET), jalur end-to-end antara sumber dengan tujuan hanya akan tersedia dalam waktu yang singkat dan tidak dapat diprediksi. Node pada DTN dapat menjadi source node, intermediate node, maupun node tujuan node, terdiri dari mobile node dan static node yang terhubung dengan delay tinggi. Pada penelitian ini akan dibahas mengenai kinerja VDTN yang menggunakan protokol routing Spray and Focus dan Spray and Wait. Perancangan sistem simulasi terbagi menjadi dua cluster yaitu cluster dengan kecepatan 90 km/jam dan cluster dengan kecepatan 65 km/jam. Kinerja algoritma routing ini disimulasikan menggunakan ONE Simulator. Performansi dievaluasi dengan average latency dan Packet Delivery Ratio (PDR). Observasi yang dilakukan menunjukkan hasil bahwa Spray and Focus memiliki performa yang lebih baik dalam PDR dibandingkan Spray and Wait, tetapi Spray and Focus memiliki performa average latency yang lebih besar dibandingkan Spray and Wait*****DTN is wirelees network where nodes communicate cannot be determined Time or it can be said that the relationship between nodes rare. Unlike conventional network Mobile Ad hoc network (MANET), the end-to-end between the source with destination node will only is ready in a short Time and are not predictable. The node on the DTN can be a source node, intermediate nodes or destination node, consisting of Mobile node and static nodes connected with high delay. In this research will be discussed about VDTN performance using Spray and focus and Spray and wait routing protocol. The design of the simulation system is divided into two Cluster, Cluster’s speed 90 km/h and Cluster’s Speed 65 km/h. Based on observation, the resulting Spray and focus routing algorithm improve performance packet delivery ratio (PDR) than Spray and wait routing algorithm, but Spray and wait have better Avarage Latency than Spray and focus routing algorithm.

Back Cover

Bpostel, Cover

Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol 16, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : R&D Center of Post dan Informatics Resources and Equipments (Puslitbang SDPPI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

5G Capacity Design Based on User Demand in Single High Altitude Platform Network [Desain Kapasitas Seluler 5G Berdasarkan Permintaan Pengguna pada Jaringan High Altitude Platform Tunggal]

Iskandar, Iskandar ( School of Electrical Engineering and Informatics Bandung Institute of Technology )

Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol 16, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : R&D Center of Post dan Informatics Resources and Equipments (Puslitbang SDPPI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

HAPS (High Altitude Platform Station) is an alternative technology of communication system that utilizes terrestrial and satellite systems. HAPS technology is in stratosphere layer with a height of 17-22 km above the earth's surface. HAPS has some advantages, which are wide range area, communication ability on line of sight (LOS), dan low propagation delay. One of the applications that can be employed in HAPS system is cellular with 5G technology. Cellular system is used in wireless communication since it has big capacity. This study analyzes the capacity of 5G cellular in single HAPS system in which the bandwidths used are 0.1 GHz and 1 GHz. Simulation result shows that outage probability using 0.1 GHz bandwidth resulting the capacity in single HAPS system, which is maksimum 550 users in reference cell can achive 10-15 and it also happen when using 1 GHz with maksimum 5500 users in reference cell*****HAPS (High Altitude Platform Station) adalah alternatif teknologi telekomunikasi sebagai pelengkap sistem eksisiting yaitu terestrial dan satelit. Salah satu aplikasi yang dapat digunakan dalam sistem HAPS adalah teknologi seluler 5G. Namun, interferensi merupakan salah satu masalah dalam mencapai kapasitas maksimum. Teknik multispot beam dan power control keduanya digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Teknik multispot beam ini berfungsi seperti pada sistem antena BTS terestrial. Akan tetapi antena multispot beam pada sistem HAPS ditempatkan berdekatan pada satu wahana atau platform HAPS. Oleh karena itu sinyal interferensi dari tiap pengguna akan menempuh jarak lintasan yang hampir sama dengan sinyal yang diinginkan. Berbeda dengan sistem BTS terestrial di mana setiap pengguna mendapat kontrol daya dari BTS yang berada di setiap sel. Panjang lintasan yang diambil oleh setiap sinyal pengguna berbeda sehingga nilai shadowing juga berbeda. Paper ini bertujuan untuk mengevaluasi kapasitas 5G seluler dalam sistem HAPS tunggal di mana bandwidth yang digunakan adalah 0,1 GHz dan 1 GHz. Hasil simulasi menunjukkan bahwa probabilitas outage menggunakan bandwidth 0,1 GHz menghasilkan kapasitas dalam sistem HAPS tunggal, maksimum 550 pengguna dan jika menggunakan 1 GHz maka maksimum jumlah pengguna adalah 5500 pengguna dalam referensi sel

Appendix

Bpostel, Appendix

Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol 16, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : R&D Center of Post dan Informatics Resources and Equipments (Puslitbang SDPPI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Digitalisasi Penyiaran Televisi di Indonesia [Digitization of Television Broadcasting in Indonesia]

Gultom, Amry Daulat ( Kementerian Komunikasi dan Informatika )

Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol 16, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : R&D Center of Post dan Informatics Resources and Equipments (Puslitbang SDPPI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran terkait status dan tantangan peralihan  penyiaran digital di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi beberapa tantangan di sisi regulasi, yaitu UU Penyiaran saat ini yang belum mengatur penyiaran digital secara spesifik dan permasalahan hukum terkait regulasi penyiaran digital yang berdampak tenggat waktu peralihan dari analog ke penyiaran televisi digital tahun 2018 tidak dapat dipenuhi*****This study was conducted to gather an overview of the current status and challenges of digital broadcasting in Indonesia. This study uses qualitative approach and literature studies. The results show that Indonesia faces several challenges on the regulatory side, namely the existing Broadcasting Act that has not regulated specific digital broadcasting and legal issues related to digital broadcasting regulation delayed the transition deadline from analog to digital television broadcasting in 2018

Preface

Bpostel, Preface

Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol 16, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : R&D Center of Post dan Informatics Resources and Equipments (Puslitbang SDPPI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Optimization of Enhanced Mobile Broadband Solution for Rural and Remote Areas: A Case Study of Banten, Indonesia [Optimisasi Jaringan Seluler Pita-Lebar untuk Kawasan Rural dan Terpencil Studi Kasus Banten, Indonesia]

Sarah, Annisa ( Atma Jaya Catholic University of Indonesia ) , Sung, Ki Won

Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol 16, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : R&D Center of Post dan Informatics Resources and Equipments (Puslitbang SDPPI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini menawarkan solusi untuk akses broadband futuristik di daerah terpencil dan pedesaan dengan pilihan: optimasi LTE; dan perkembangan jaringan pita lebar yang diasumsikan sebagai 5G. Teknologi yang digunakan pada sistem 5G masa depan ialah pemanfaatan frekuensi tinggi, UE-Specific Beamforming, dan Skema Carrier Agregation (CA). Lima klasifikasi dalam implementasi jaringan futuristik: Skenario 1, Single Carrier (SC) LTE 1,8 GHz; Skenario 2, CA LTE 1,8 GHz + 2,6 GHz; Skenario 3, SC 5G 15 GHz; Skenario 4, SC 5G 28 GHz; Skenario 5, CA LTE 1,8 GHz + 5G 15 GHz. Redaman hujan diperhitungkan demi mendapat hasil realistis. Pada wilayah Leuwidamar, Skenario 5 memiliki jumlah BS paling sedikit. Sedangkan di Panimbang, Skenario 3 dan 5 memiliki jumlah BS yang paling sedikit. Namun, jika performansi energi diperhitungkan, Skenario 3 merupakan solusi terbaik. Selanjutnya, jika kita mengimplementasikan Discontinues Transmission (DTX), Skenario 3 dapat memberi kita penghematan energi yang mengesankan, dengan masing-masing penghematan sebesar 97% dan 94% pada daerah Leuwidamar dan Panimbang. Maka, hasil studi menyarankan untuk menggunakan jaringan SC 15 GHz sebagai optimisasi jaringan prospektif masa depan di Leuwidamar dan Panimbang, menimbang tercapainya salah satu target teknis teknologi 5G, yaitu ketersediaan 50 Mbps dimana saja dan kapan saja. *****Our work compared the performance of future broadband network solutions: with Optimized LTE system; and a new enhanced Mobile Broadband (eMBB) system, in which assumed to be prospective 5G network. The proposed eMBB system implements three key-techniques: high frequency, a UE-Specific Beamforming, and Carrier Aggregation (CA). We propose five solutions: Case 1, Single Carrier (SC) LTE 1.8 GHz; Case 2, CA LTE 1.8 GHz + 2.6 GHz; Case 3, SC 5G 15 GHz; Case 4, SC 5G 28 GHz; Case 5, CA LTE 1.8 GHz + 5G 15 GHz. Rain attenuation is considered to aim realistic solution. In the remote area (Leuwidamar), the Case 5 gives the least number of BS, with only 1.6 times densification of the current network. For the rural area cases (Panimbang), it is offered by Case 3 and Case 5 with the same number of BS. However, the best solution in terms of energy performance for both areas is Case 3. With DTX implementation, Case 3 gives an impressive amount of energy saving, with 97% in Leuwidamar and 94% saving in Panimbang. Thus, provided that our assumptions about eMBB techniques are fulfilled the Single Carrier 15 GHz link network is the most efficient.