cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Ushuluddin (Online ISSN 2407-8247 | Print ISSN 1412-0909) adalah jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Jurnal Ushuluddin terbit pertama kali pada Bulan Desember 1998 dengan nama Jurnal Ushuluddin Cendikia. Pada tahun 2000 namanya berganti menjadi Jurnal Ushuluddin. Jurnal Ushuluddin memuat kajian-kajian dasar keislaman (islamic studies), baik dalam bentuk kajian kepustakaan maupun riset lapangan. Fokus utama Jurnal Ushuluddin meliputi aqidah, pemikiran Islam, filsafat agama, tasawuf, tafsir dan studi al-Qur'an, kajian Hadits, dan perbandingan agama. Jurnal ini diterbitkan dalam upaya mengkomunikasikan berbagai kajian yang terkait dengan Islam, baik klasik maupun kontemporer yang ditinjau dari berbagai perspektif. Dengan demikian, baik para sarjana Indonesia maupun sarjana asing yang fokus dengan kajian tersebut dapat memperkaya artikel yang dimuat dalam jurnal ini. Artikel yang masuk akan dinilai oleh peer-review, dan jika dipandang layak baru akan diterbitkan. Jurnal Ushuluddin diterbitkan dua kali dalam setahun, dan selalu menempatkan kajian Islam dan kajian tentang umat Islam sebagai fokus utama.
Arjuna Subject : -
Articles 185 Documents
Studi Hadis-hadis tentang Posisi Kencing Berdiri; Kajian Mukhtalaf Hadis Arifin, Johar
Jurnal Ushuluddin Vol 20, No 2 (2013): Juli - Desember
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2815.321 KB)

Abstract

Berbagai macam pendapat yang berkaitan dengan posisi kencing, dimana hadis-hadis yang menjelaskan tentang kedudukan posisi kencing dalam Islam nampaknya bertentangan, pada sisi lain terdapat hadis yang membolehkan kencing berdiri dan di lain sisi ditemukan pula hadis yang melarang. Kontroversi yang terjadi dalam pelbagai hadis, menimbulkan pertanyaan tentang kebolehan dan ketidak bolehan kencing berdiri. Tulisan ini berupaya menjelaskan kualitas hadis-hadis tentang posisi kencing berdiri, dan menjawab kemusykilan hadis tersebut yang mana pada satu kesempatan Rasulullah kencing dengan cara duduk disisi lain Rasulullah Saw kencing dengan posisi berdiri. Dari sini nanti nya penulis menggunakan metode para al/i Hadis dalam menyikapi dua hadis yang bertentangan secara zahir sehingga teks-teks hadis Rasulullah Saw tersebut dapat dipahami secara tekstual dan konstektual
Tafsir al-Tahrir wa al Tanwir Karya Muhammad Al-Thahrir ibn Asyur Arni, Jani
Jurnal Ushuluddin Vol 17, No 1 (2011): Januari - Juni
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.369 KB)

Abstract

Ibn ‘Âsyûr merupakan salah seorang mufasir di zaman modern yang menghasilkan sebuah kitab tafsir yang diberi nama “al-Tahrîr wa al-Tanwîr”. Kitab tafsir ini menggunakan corak ilmiah dalam menjelaskan makna ayat al-Quran, meskipun corak tersebut masih kontroversi tentang kebolehannya. Namun, ternyata penafsiran yang dilakukan oleh Ibn ‘Âsyûr tidak mendapatkan kritikan dari ulama lainnya dalam hal penggunaan ilmu pengetahuan modern. Karena, Ibn ‘Âsyûr menggunakan corak tersebut diawali dengan pengkajian kebahasaan, selanjutnya baru dijelaskan teori-teori ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan ayat, sehingga tidak memberi kesan pemaksaan teori ilmu pengetahuan terhadap makna ayat al-Quran.
Paradigma Shalat Jum’at dalam Hadits Nabi Hasbi, M. Ridwan
Jurnal Ushuluddin Vol 18, No 1 (2012): Januari - Juni
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.872 KB)

Abstract

Shalat jum‘at sebelum direkontruksi oleh ulama Mazahib seperti sekarang ini, terdapat fenomenal jika dirujuk kepada riwayat-riwayat yang menjelaskannya. Sebab ayat yang menjelaskan tentang shalat jum‘at turun di Madinah, tapi pelaksanaannya sudah ada sebelum hijrah dan saat Nabi SAW hijrah sebelum sampai ke Madinah. Penulis menemukan bahwa shalat jum‘at sebelum hijrah yang sudah dilaksanakan di Madinah dan saat Nabi SAW di Quba adalah shalat zuhur plus khutbah. Pada awalnya khutbah setelah shalat, tapi saat terjadi orang-orang meninggalkan Nabi saat khutbah dan turun ayat, maka diubah menjadi khutbah dulu baru shalat, lalu terkontruksi shalat dua rakaat. Waktu pelaksanaannya terdapat perbedaan riwayat dengan ungkapan waktu dhuha, sebelum tengah hari, saat tengah hari dan setelah matahari tergelincir, dengan esensial shalat jum‘at sama dengan shalat ‘id (hari raya). Jumlah jamaah yang menjadi wajibnya shalat tidak terdapat kesepakatan dan kewajiban bagi mukallaf sebab riwayat-riwayatnya bersifat umum dan berbeda satu dengan lainnya.
KAUM SHABI’IN DALAM AL-QUR’AN Kajian atas pluralitas Agama berdasarkan kata kunci Ahl al-Kitab Jamarudin, Ade
Jurnal Ushuluddin Vol 19, No 1 (2013): Januari - Juni 2013
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Shabi’in merupakan orang yang keluar dari agamanya yang asal, dan masuk ke dalam agama lain, sama juga dengan arti asalnya ialah murtad. Mereka adalah orang yang menyembah malaikat, shalatnya tidak menghadap kiblat dan mereka membaca Zabur.Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa Sabiin ini termasuk Ahli Kitab dan oleh karena itu dihalalkan memakan sembelihan mereka dan mengawini wanita mereka. Namun sebagian yang lain mengatakan bahwa Sabiin ini bukan Ahli Kitab, oleh karena itu umat muslim dilarang memakan sembelihan mereka dan dilarang mengawini wanita mereka. Golongan Shabiin itu memanglah satu golongan dari orang-orang yang pada mulanya memeluk agama Nasrani, lalu mendirikan agama sendiri. Orang-orang Sabiin adalah suatu kaum yang tinggal di sebelah negeri Irak. Mereka kaum yang suka menangis, beriman kepada semua nabi serta puasa selama tiga puluh hari setiap tahunnya, dan mereka salat menghadap negeri Yaman setiap harinya sebanyak lima kali. Kaum shabi’in yang merupakan penggambaran tokohahl al-kitab walau keberadannnya tidak seperti kaum Yahudi ataupun Nasrani, saat ini adalah tantangan bagi kaum muslim sendiri untuk meningkatkan kesalehan sosial. ahl al-kitab, tidak terbatas pada penganut agama Yahudi dan Nasrani. Dengandemikian, bilaadasatukelompok yang hanyapercayakepadasuhuf Ibrahim atauZabur (kitabDaud As) saja, makaia pun termasukdalamjangakauanpengertianahl al-kitab.Begitu pula dengankaummajusi, Shabiindanpengikut agama kunolainnya.Kesalehan sosial yang dibangun dari pengakuan akan adanya pluralitas agama (bukan pluralisme) dapat dibangun dengan tanpa mencampuradukan sisi akidah.
Abortus dan Permasalahannya dalam Pandangan Islam Nst, Agus Salim
Jurnal Ushuluddin Vol 22, No 2 (2014): Juli - Desember
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.289 KB)

Abstract

Setiap kejahatan dapat terjadi kapan saja, dimana saja dan dalam keadaan bagaimanapun juga. Untuk melenyapkan kejahatan sama sekali dari kehidupan masyarakat, merupakan hal Yang mendekati kemustahilan, tetapi ini tidak menutup kemungkinan mengurangi jumlahnya. Apalagi bila dikaitkan dengan praktik “kumpul kebo” dan hubungan seks di luar nikah yang semakin berkembang dewasa ini.Menurut hemat penulis, secara umum ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya praktik abortus.Pertama, melalui upaya hukum (tindakan konstitusional).Cara ini dapat dilakukan dengan mengeluarkan Undang- Undang mengenai abortus.Kedua, melalui gerakan sosial keagamaan.Dalam hal ini peran kaum ulama dan para da’i sangat berpengaruh, terutama bagi umat Islam. Mereka dapat menyadarkan umat untuk tidak melakukan perbuatan keji dan tindak kejahatan yang kejam, karena perbuatan itu tidak hanya mendapat sanksi hukum di dunia, tetapi di akhirat kelak akan mendapat ganjaran dari Allah SWT.
Krisis Barat Modern Menurut Nasr Nur, Saleh
Jurnal Ushuluddin Vol 17, No 1 (2011): Januari - Juni
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.022 KB)

Abstract

Abad modern di Barat dimulai pada abad XVII, sekaligus merupakan awal kemenangan supremasi rasionalisme, empirisme dan posistivisme dari dogmadogma agama Ktisten. Abad modern di Barat adalah zaman ketika manusia menemukan dirinya sebagai kekuatan yang dapat menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya. Manusia dipandang sebagai makhluk yang bebas yang independen dari Tuhan dan alam. Manusia modern di Barat sengaja membebaskan diri dari tatanan ilahiah untuk kemudian membangun suatu tatanan yang semata-mata berpusat pada diri manusia, yang selanjutnya berakibat pada pemutusan nilai-nilai spritual. Modernisme di dunia Barat adalah bersifat anthropomorphisme yang menunjukkan kriteria dan instrumen pengetahuan bahwa yang menetapkan sains adalah semata-mata manusia. Dalam pandangan Sayyed Hossein Nasr ( selanjutnya disebut Nasr ), empirisme dan rasionalisme tidak dapat bertindak sebagai prinsip-prinsip dalam pengertian metafisika. Akibatnya pemikiran Barat modern tidak memiliki kepekaan terhadap yang sakral, mengingat humanisme modern tidak terpisahkan dari sekularisme. Untuk dapat menemukan kembali integritas manusia dan alam secara utuh, Nasr menekankan bahwa manusia harus berada pada titik pusat (Tuhan), mampu mengambil jarak dari kenyataan yang senantiasa berubah dan serba propan. Ringkasnya Nasr menghendaki agar manusia modern memikirkan kembali kehadiran Tuhan yang merupakan dasar suatu kebijakan hidup. Nasr dengan gagasan Islam tradisionalnya, tampaknya ingin mengajukan sebuah kebutuhan untuk menghidupkan kembali sains-sains tradisional dan kosmologis di tengah dunia modern, yang akan dapat memainkan peranan dalam membangkitkan kesadaran akan kesatuan sains dan pengetahuan spritual. Menghidupkan kembali sains tradisional, tidak berarti Nasr menolak metode eksprimen serta perangkatperangkat penelitian ilmiah modern yang telah terbukti sangat berhasil dalam sudi kuantitatif alam semesta. Tetapi Nasr menginginkan adanya perubahanperubahan fundamental dalam metode manusia modern terhadap realitas dan pengetahuan.
Metode Ijtihad Yusuf Al-Qardhawi dalam Fatawa Mu’ashirah Akbar, Ali
Jurnal Ushuluddin Vol 18, No 1 (2012): Januari - Juni
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.368 KB) | DOI: 10.24014/jush.v18i1.695

Abstract

Yusuf al-Qardhawi adalah salah seorang ulama kontemporer yang memiliki gagasan dan ide cemerlang dalam upaya pembinaan hukum Islam seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman. Di antara karyanya yang berkaitan dengan pemikiran ijtihad dikemas dalam karya monumentalnya “Fatawa Mu’ashirah”. Di dalamnya beliau mengupas tentang masalah-masalah kontemporer yang berkaitan dengan; akidah, ibadah, mu’amalah, jinayat, perkawinan, ekonomi, sosial, politik, kedokteran dan sebagainya dengan menggunakan beberapa macam pendekatan serta menawarkan metode-metode ijtihad kontemporer sesuai dengan tujuan syari’at.
RASIONALITAS DAN RELIGIUSITAS KAUM PEDAGANG DI PEDESAAN ( Studi Terhadap Problema Dilematis Kaum Pedagang Tentang Hubungan antara Logika dan Keimanan di Pasar Teratak Buluh, Kec. Siak Hulu, Kab. Kampar, Riau) SAIFULLAH, SAIFULLAH
Jurnal Ushuluddin Vol 19, No 1 (2013): Januari - Juni 2013
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini adalah ihktiar untuk menelusuri konflik batiniah para pedagang di desa Teratak Buluh menyangkut problema dilematis antara keimanan dan trik serta logika dagang. Logika dagang mengharuskan mencari keuntungan ynag sebesar-besarnya, sementara keimanan Islam mengharuskan sifat amanat, jujur dan nashihah bagi kaum pedagang. Di bidang perdagangan, rasionalitas diaktualisasikan dengan pengetahuan yang logis tentang perdagangan secara menyeluruh, meliputi informasi yang akurat tentang fluktuasi harga barang-barang, sumber-sumber permodalan, sistem distribusi modern, sistem pengkreditan, organisasi pedagang yang rasional dan sebagainya. Bahkan rasionalisme perdagangan juga mengesahkan sifat-sifat pragmatis dan kapitalisme yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, tanpa menghubungkannya dengan sistem keimanan. Melalui penulisan yang dilakukan dipasar desa ini, para pedagang lokal (Local Traders) belum bisa di kategorikan sebagai suatu kelas pedagang karena belum terdapat perorganisasian diri secara formal dan rasional. Para pedagang di desa ini umumnya adalah beragama Islam dan sangat meyakini bahwa rezki manusia dan ajalnya adalah telah ditetapkan oleh Allah SWT dan tidak dapat lagi dirubah oleh manusia. Bangkrut atau majunya usaha dagang dan larisnya jualan adalah berasal dari Allah dan merupakan ketetapan yang harus diterima secara tawakal. Terdapat pedagang lokal yang tidak berusaha merubah pola berniaganya dari tahun ketahun. Pedagang kios, pedagang kedai dan kaki lima masih tetap dengan pemahaman kaum jabariah tentang tawakal, sehingga tidak berusaha mengembangkan pola perniagaan yang lebih rasional dan menguntungkan. 2 Persaingan dengan pedagang luar atau pedagang jarak jauh (Long Distance Traders), membuat mereka secara perlahan-lahan kehilangan pola kepemilikan (Power of Ownership) atas akses pasar, pola pengelolaan (Power of Management) dan penataan pasar, serta pola pengambilan pemanfaatan dan keuntungan (Power of Utility) dari arus jual beli di pasar desa mereka sendiri. Rasionalitas dan pemahaman keimanan, tentang tawakal, rezki dan ikhtiar pada komunitas pedagang tradisional di desa Teratak Buluh merupakan studi yang sangat penting dalam rangka menselaraskan antara keimanan dan ikhtiar yang rasional bagi kaum pedagang di pedesaan.
Renaissance dan Humanisme Sebagai Jembatan Lahirnya Filsafat Modern Saifullah, Saifullah
Jurnal Ushuluddin Vol 22, No 2 (2014): Juli - Desember
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.569 KB)

Abstract

Tulisan ini memuat sejarah munculnya gerakan renaissance dan humanisme di Eropa selepas berakhirya abad kegelapan. Renaissance dan humanisme dianggap sebagai latar belakang lahirnya filsafat modern. Melalui gerakan pemikiran ini seluruh kebudayaan Barat seolah dibangunkan dari tidur nyenyak abad pertengahan. Manusia mulai mempelajari hakikat diri dan alam semesta sebagai pusat kenyataan. Pada periode yang berkisar antara abad 14 dan 16 ini, manusia menganggap dirinya tidak lagi sebagai Victor Mundi (orang yang berziarah didunia ini), melainkan sebagai Faber Mundi (orang yang menciptakan dunianya). Tiga faktor yang mempercepat perkembangan baru Pada masa renaissance adalah tiga penemuan : mesiu, seni cetak dan kompas. Mesiu berarti runtuhnya kekuasaan feudal dimana senjata dapat dimiliki oleh kaum proletar. Seni cetak berarti pengetahuan tidak lagi milik ekslusif suatu elite, melainkan terbuka untuk semua orang. Kompas berarti navigasi telah aman dan memungkinkan orang-orang Eropa untuk berlayar dan memperluas horison Barat kearah dunia yang baru di Timur.   
Corak Penafsiran Al-Quran Harun Nasution: Studi Terhadap Penafsiran Al-Quran dalan Karya-karyanya Jamal, Khairunnas
Jurnal Ushuluddin Vol 16, No 2 (2010): Juli - Desember
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.509 KB)

Abstract

Harun Nasution telah berhasil menancapkan tonggak pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Masuknya ide-ide pembaharuan tersebut membawa alam pemikiran Islam ke arah kebebasan berfikir dan penghargaan yang tinggi terhadap kekuatan akal manusia. Seluruh ide pembaharuan Harun Nasution tidak terlepas dari pemahaman beliau terhadap ayat-ayat al Qur’an. Oleh sebab itu adalah satu kajian yang sangat penting guna melihat bagaimana Harun menafsirkan ayat-ayat al Qur’an yang dikutipnya. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa Harun memberikan kepercayaan yang penuh kepada akal untuk menafsirkan al Qur’an, sehingga akan muncul satu penafsiran yang kontekstual yang sesuai dengan kekinian kita. Bagi Harun apapun bentuk penafsiran terhadap al Qur’an yang telah dilakukan oleh para mufassir tidak ada yang sakral. Kesakralan hanya terdapat pada ayat-ayat al Qur’an saja.

Page 1 of 19 | Total Record : 185