cover
Contact Name
Dedi Mulyadi
Contact Email
d3dimulya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
riset.geotek@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan
ISSN : 01259849     EISSN : 23546638     DOI : -
Core Subject : Science,
RISET (Indonesian Journal of Geology and Mining) welcomes article submissions dealing with Geology; Applied Geophysics; Mining.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 20, No 1 (2010)" : 6 Documents clear
EFFECT OF LAND USE ON SPATIAL AND SEASONAL VARIATION OF WATER QUALITY IN CILIWUNG RIVER, WEST JAVA-INDONESIA Runtunuwu, Eleonora; Kondoh, Akihiko; Subagyono, Kasdi
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 20, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1038.438 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2010.v20.29

Abstract

ABSTRACT Study on water quality aspects of Ciliwung river has been conducted from January 2008 to November 2009 to address the impact of land use change on its seasonal variation.  Nitrogen compound of NO2 and NH4 were monitored along the Ciliwung river with different time.  Land use change within the Ciliwung watershed was analyzed using remote sensing data and correlate with NO2, NO3, NH4 concentration, conductivity and pH along the river.   The results showed that in area with higher populated areas such as found in the middle and downstream area of Ciliwung watershed, NO3 concentration is higher.  This obvious variation was also observed for conductivity and pH.  It was also observed that the more dense area as in the middle and downstream area the change of land use was obvious.  The NO3 concentration is much influenced by land use and vegetation change prior to human activity.  In general, NO3 observed on October 2008 was higher compared with that observed on January, April and July 2008. In October where it is rainy season, flushing of NO3 is higher and it was transported into the Ciliwung river.  The temporal variation is seemed to be due to variation of rainfall generating different runoff and nutrient flushing surrounding river.
GROUNDWATER FLOW SYSTEM OF BANDUNG BASIN BASED ON HYDRAULIC HEAD, SUBSURFACE TEMPERATURE, AND STABLE ISOTOPES Delinom, Robert M.; Suriadarma, Ade
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 20, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3909.532 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2010.v20.34

Abstract

ABSTRACT To recognize the groundwater flow system in the Bandung Basin, two main methods of regional groundwater flow delineation were employed: hydraulic heads and tracers. Two different environmental tracers, i.e. subsurface temperature and stable isotope were applied. The measured temperatures and stable isotope compositions from 19 observation wells lead  to the recognition of three types of flow systems within the Bandung Basin i.e., shallow, intermediate and deep groundwater flow system. The recharge area is located in the hills and upland which form the periphery of the plain. The summit area of the southern mountainous complex might have represented the highest recharge area No indication was found for water being recharged at higher elevation in the northern part of the basin which means the recharged water in the Mount Tangkuban Parahu area did not reach the Bandung Plain. This study clearly demonstrates the usefulness of these environmental tracers and hydraulic head measurement in identification of the groundwater flow system of a certain area.
PENCEMARAN AIR DAN TANAH DI KAWASAN PERTAMBANGAN BATUBARA DI PT. BERAU COAL, KALIMANTAN TIMUR Marganingrum, Dyah; Noviardi, Rhazista
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 20, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.733 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2010.v20.30

Abstract

ABSTRAK Studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab pH air sungai sepanjang Sungai Lati mengalami fluktuasi dan cenderung asam. Metode yang digunakan adalah mengambil dan menganalisa sampel air dan tanah di sekitar lokasi studi.  Berdasarkan hasil analisis di hulu Sungai Lati pH air masih menunjukkan nilai yang normal yaitu 6,5. Namun sepanjang perjalanannya, pH mengalami fluktuasi. Nilai pH di hilir Sungai Lati menjadi asam yaitu sebesar 4,6. Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa pH tanah disekitar lokasi studi bersifat asam (< 6). Sementara tekstur tanah yang didominasi oleh debu dan curah hujan yang relatif tinggi menyebabkan tanah disekitar lokasi mudah mengalami erosi. Proses run off dengan membawa material sulfida (pirit) hasil erosi, baik dari disposal maupun hutan sekitar, diduga sebagai penyebab pH air sungai sepanjang Sungai Lati dibawah normal. Oleh karena itu berbagai upaya untuk konservasi air dan tanah bekas tambang maupun tanah sekitar penambangan batubara yang umumnya kaya akan mineral sulfida seharusnya menjadi bagian dari aktivtas penambangan.
PROYEKSI GEMPABUMI TASIKMALAYA 2 SEPTEMBER 2009 TERHADAP POTENSI BAHAYA KEGEMPAAN DAERAH GARUT DAN SEKITARNYA Mulyadi, Dedi; Handayani, Lina; Wardhana, Dadan D.
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 20, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.552 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2010.v20.31

Abstract

ABSTRAK Kejadian gempabumi tektonik di Kabupaten Tasikmalaya pada tanggal 2 September 2009 berdampak pada rusaknya infrastruktur dan menelan korban jiwa yang tidak sedikit. Dari hasil penelusuran terdapat lima wilayah yang mengalami kerusakan parah akibat guncangan gempabumi tektonik tersebut, yaitu meliputi Kecamatan Pemeungpeuk, Cisompet, Cikelet, Peundeuy dan Banjarwangi. Dari kejadian ini perlu kiranya dibuat peta daerah rawan bahaya sebagai acuan bagi pembangunan infrastruktur pasca gempabumi. Peta daerah bahaya disusun berdasarkan perhitungan percepatan pergerakan tanah maksimum dengan menggunakan informasi kecepatan gelombang seismik S dangkal (Vs30). Peta tersebut kemudian ditumpangtindihkan dengan peta  zona longsoran. Hasil pemetaan tersebut kemudian dibandingkan dengan lokasi  bencana akibat gempabumi pada tanggal 2 September 2009 yang lalu. Tampak bahwa daerah bencana memang terletak pada wilayah dengan bahaya kegempaan yang tinggi- sedang.
MINERALISASI POLIMETALIK DI DAERAH KEDUNG GROMBYANG, PACITAN, JAWA TIMUR: DALAM PERBANDINGAN DENGAN CEBAKAN EMAS GUNUNG PONGKOR, BOGOR, JAWA BARAT Setiawan, Iwan; Sudarsono, Sudarsono
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 20, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1573.404 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2010.v20.32

Abstract

ABSTRAK Wilayah Kedung Grombyang yang terletak di Jalur Pegunungan Selatan Jawa menunjukkan indikasi keterdapatan endapan logam polimetalik. Berdasarkan pencitraan relief shaded gravity, menunjukkan daerah ini terletak pada  kelurusan Yogya-Bayat-Pacitan yang membentuk garis melengkung berarah barat-tenggara. Keterdapatan batuan-batuan magmatik dan kelurusan sesar, dapat dijadikan sebagai asumsi awal untuk melokalisasi daerah yang berpotensi cebakan mineral. Eksplorasi cebakan mineral masih terus dilakukan di Pegunungan Selatan oleh perusahaan multinasional dan perusahaan pertambangan lokal, namun sampai sejauh ini belum  ada daerah yang teridentifikasi memiliki cebakan yang besar seperti Gunung Pongkor. Sedikitnya pengendapan emas di Kedung Grombyang daripada di Gunung Pongkor dikarenakan oleh perbedaan magma asal, yang dicerminkan oleh perbedaan variasi mineralogi batuan volkanik di kedua wilayah dan karakter fluida hidrotermal. Di samping batuan andesitik, di Kedung Grombyang juga terdapat batuan basaltik dan dasitik. Sedangkan strukturnya relatif sama, karena kedua wilayah dipengaruhi oleh zona sesar utama yang mengontrol keterdapatan cebakan mineralisasi di Pulau Jawa. Batuan terubah filik dan propilitik yang dicirikan oleh pembentukan muskovit merupakan fenomena umum di wilayah Kedung Grombyang, sementara itu tidak dijumpai di Gunung Pongkor. Fenomena ini selaras dengan data pengukuran mikrotermometri dimana Kedung Grombyang dipengaruhi oleh lingkungan dengan suhu pembentukkan urat yang lebih tinggi daripada Gunung Pongkor. Pengayaan supergen yang intensif di wilayah Gunung Pongkor memiliki korelasi yang baik dengan mineralisasi emas yang kaya. Kasus ini tidak terjadi di wilayah Kedung Grombyang. Tulisan ini akan mendiskusikan karakter alterasi dan mineralisasi polimetalik di wilayah Kedung Grombyang dengan endapan emas Gunung, dalam hubungannya dengan mineralisasi di Pegunungan Selatan Jawa, khususnya di segmen timur, berdasarkan metode petrografi, mineragrafi dan inklusi fluida.
IN SITU MEASUREMENT OF THE SOIL MOISTURE CONTENT PROFILE AT A DECOMPOSED GRANITE CUT-SLOPE Tohari, Adrin; Nishigaki, Makoto
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 20, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2669.277 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2010.v20.33

Abstract

ABSTRACT Two selected sites at a decomposed granite cut-slope were instrumented with a rain gauge and a series of ThetaProbes installed at depths up to 90 cm from the slope surface. The objective of this study was to evaluate the significance of antecedent soil moisture conditions in controlling the hydrologic responses of the soils at each site. The antecedent moisture content of the soil in Site #1, in general, increases with depth. The response of the soil to saturation process is more or less confined to the shallow depth. On the other hand, the measurement data of the soil in Site #2 showed that the near surface soil exhibits higher antecedent moisture condition than the deeper soil. The ingress of the wetting front could reach more than 90 cm depth during long period of rainfall. Thus, these results suggest that the hydrological response of the soils is spatially variable and is influenced by the antecedent soil moisture conditions within the soil profile. The presence of soil layers, the distribution of macro cracks within the soil profile, and additional lateral source of moisture may also have significant influences on soil response to saturation process.

Page 1 of 1 | Total Record : 6