cover
Filter by Year
Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan

Jurnal Riset Geologi dan Pertambangan, terbit secara berkala dalam sati tahu 2 kali dalam satu Volume, telah terakrediatsi LIPI sebagai jurnail ilmiah dengan no.377/E/2013 tanggal16 April 2013.  Jurnal RISET geologi dan. Naskah yang disampaikan merupakan tulisan mengenai berbagai aspek hasil penelitian di bidang  geologi, geofisika, pertambangan dan bidang ilmu kebumian lainnya baik sain maupun terapan. Naskah belum pernah di publikasikan dan tidak sedang diajukan pada jurnal atau majalah lain. Semua Karya tulis Ilmiah melalui tahapan dewan redaksi kemudian akan direview oleh dua  pakar yang kompeten di bidangnya atau yang sesuai dengan kopetensi di bidangnya. Jurnal RISET Geologi dan pertambangan di terbitkan oleh Pusat Penelitian Geolteknologi – LIPI, dalam bentuk on line maupun cetak.

Articles
184
Articles
APLIKASI ANALITIK HIRARKI PROSES UNTUK ANCAMAN BAHAYA GEMPA DI DAERAH TANJUNG LESUNG-PANIMBANG, PANDEGLANG

Mulyadi, Dedi, Nur, Wawan Hendriawan

JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.055 KB)

Abstract

Wilayah Tanjung lesung-Panimbang Kabupaten Pandeglang merupakan wilayah pengembangan pariwisata yang tumbuh pesat. Daerah tersebut menempati dataran aluvial dan material hasil proses vulkanik yang berpotensi terhadap bahaya seismik. Dengan demikian diperlukan informasi bahaya seismik dalam menunjang pengembangan daerah tersebut. Tulisan ini bertujuan menguraikan aplikasi Sistem Informasi Geografi dalam pemetaan ancaman bahaya seismik di Tanjung Lesung-Panimbang. Analisis spasial yang dilakukan atas dasar bobot dan peringkat dengan menggunakan pendekatan AHP (Analytical Hierarchy Process). Berdasarkan penilaian dan pembobotan terhadap parameter percepatan tanah puncak, likuifaksi, litologi, morfologi dan ketinggian, dihitung dengan metode intersection untuk menghasilkan peta potensi ancaman bahaya seismik yang diklasifikasikan menjadi ancaman bahaya tinggi, sedang dan rendah. Diharapkan hasil penelitian ini menjadi perhatian, khususnya untuk kepentingan pembangunan fisik dan penyusunan rencana tata ruang wilayah di Tanjung lesung-Panimbang Kabupaten Pandeglang.Tanjung Lesung-Panimbang region Pandeglang Regency has a rapid development in tourism. The area occupies an alluvial plain and volcanic product materials that potentially prone to seismic hazard. Therefore, seismic hazard information is required in supporting the development of the area. This paper describes the application of Geography Information System for seismic hazards mapping in the Tanjung Lesung-Panimbang area. Spatial analysis was conducted on the basis of the weighting and ranking using the AHP (Analytical Hierarchy Process) approach. Based on the assessment and weighting of Peak Ground Acceleration, liquefaction, lithology, morphology and altitude parameters, we calculated using intersection method to obtain the seismic potential hazard map, which classified into high, medium and low. This hazard map will be very useful, particularly for the physical development and spatial planning of Panimbang - Tanjung Lesung Pandeglang.

MINERALOGI BENTONIT TASIKMALAYA SEBAGAI MEDIA PENYERAP CO2 MELALUI KARBONASI HIDROTERMAL

Yuliyanti, Anita, Mursito, Anggoro Tri, Widodo, Widodo, Muharam, Syamsul Rizal

JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1668.462 KB)

Abstract

Kristalinitas mineral kalsit yang terpresipitasi pada proses karbonasi hidrotermal dianalisis menggunakan metode XRD (X-ray diffraction) semi-kuantitatif dengan bantuan piranti lunak komersial PeakFit® serta SEM (scanning electrone microscope) untuk memperoleh ukuran kristalit dan bentuk morfologinya. Bentonit Tasikmalaya mengandung mineral-mineral potassium, kalsium, magnesium silikat berupa montmorilonit, klinoptilolit, dan anortit serta  mampu menyerap CO2 dan menyimpannya dalam bentuk mineral kalsit. Hasil analisis menunjukkan bahwa ukuran kristalit kalsit yang terbentuk mempunyai korelasi dengan prosentase gas CO2 yang terserap. Penyerapan CO2 tertinggi tercapai pada bentonit CaBK dan NaBK dengan penambahan Ca(OH)2 pada suhu rendah masing-masing sebesar 9,9% dari massa percontoh. Adapun kristalinitas mineral kalsit terbesar tercapai pada bentonit CaBK yang menghasilkan kristalit kalsit berukuran 463,36Ǻ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentonit Tasikmalaya mampu menyerap CO2 dan menyimpannya dalam bentuk kalsit. Calcite precipitated during hydrothermal carbonation process was analyzed using semi-quantitative XRD (X-ray diffraction) method, supported with commercial software PeakFit®, and SEM (scanning electrone microscope) method to study its crystallite size and morphology. Tasikmalaya bentonite consist of potassium, calcium, magnesium silicate minerals as montmorillonite, clinoptilolite, and anorthite. The result indicates that crystallite sizes correlate with absorbed CO2 percentage. The highest CO2 absorption was obtained from CaBK and NaBK bentonite with addition of 9.9% Ca(OH)2 for each sample at low temperature. Largest calcite crystallinity obtained from CaBK bentonite that resulted 463.36Ǻ crystallites size. The result indicates that Tasikmalaya bentonite has an ability to absorb and store CO2 as calcite.   

PERBANDINGAN ANALISIS POROSITAS PORITES MENGGUNAKAN TEKNIK MICRO-CT DAN OPTIK

Listiyowati, Lina Nur

JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.261 KB)

Abstract

Makalah ini membahas perbandingan nilai porositas sampel karang Porites berdasarkan citra yang dihasilkan dari teknik optik dan micro-CT. Teknik optik biasa digunakan dalam perhitungan porositas batuan dengan menghitung prosentasi lubang pori dengan matrik batuan pada sayatan tipis. Micro-Computed Thomography (micro-CT) merupakan teknik nondestructive yang sering digunakan dalam analisa 3D untuk menginvestigasi struktur internal sebuah benda, termasuk rongga pori.  Karakteristik dan nilai porositas karang Porites ditentukan dengan mengklasifikasikan citra micro-CT dan optik sebagai pori dan matrik berdasarkan tingkat keabuannya. Karakteristik pori menunjukkan bahwa teknik optik lebih bisa mengidentifikasi struktur pori yang menerus dan memanjang, sedangkan micro-CT lebih mampu mengidentifikasi pori dengan kebundaran tinggi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa metode micro-CT mampu mengidentifikasi ruang pori lebih banyak dibanding pada klasifikasi secara optik pada lapisan yang sama. Nilai porositas karang Porites berdasarkan teknik micro-CT dan teknik optik tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan sehingga teknik micro-CT dapat digunakan dalam perhitungan porositas karang Porites dimana teknik micro-CT mampu mengidentifikasi pori yang sering tidak teridentifikasi oleh teknik optik.This paper discusses the porosity value comparation of Porites coral based on optical and micro Computed Thomography (micro-CT) images to get the opium value of porosity. Optical techniques are commonly used in rock porosity measurement by measure prosentase of holes and matrix based on thin sections, whereas micro-CT as a non-destructive 3D analysis technique is commonly used to investigate internal structures of an object, including rock void porosity void.. Characteristic and porosity value of Porites coral are determined based on the percentage of pores void and matrics. These pores and matrics are identified using grey scale-based micro-CT and optical images classification. Pore-based characteristic shows that optical method is better to identify continuous and elongated pore structuresthan the micro-CT method which  is good to identify high circular pores. Micro-CT method is able to identify pore space better than optical classification method.  There were not significant differences of Porites coral values based on micro-CT and optical techniques. These results show that micro-CT technique can be used for Porites porosity measurement. Furthermore, unidentified pore by optical technique can be detected by micro-CT.

PENERAPAN MODEL NRECA PADA DAERAH RESAPAN LAPANGAN PANASBUMI WAYANG WINDU, JAWA BARAT

Hendrasto, Fajar, Hutasoit, Lambok, Kusuma, Syahril Badri, Sapiie, Benyamin

JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2209.73 KB)

Abstract

Panasbumi dikenal sebagai sumber energi yang dapat diperbaharui dan proses pembaruan terjadi di daerah resapan. Makalah ini membahas tentang daerah resapan air meteorik untuk reservoir panasbumi dan rasio debit aliran dasar terhadap debit limpasan permukaan berdasarkan neraca air, yaitu dengan melakukan simulasi hujan-limpasan model NRECA pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terletak pada kisaran elevasi daerah resapan. Interpretasi berdasarkan peta densitas sesar dan rekahan (FFD) dan peta daerah resapan hasil analisis isotop stabil menunjukkan terdapat tiga zona dengan nilai FFD tinggi yang diperkirakan sebagai daerah resapan untuk reservoir panasbumi Wayang Windu. Untuk mengetahui besarnya debit aliran dasar dan debit limpasan permukaan pada daerah resapan tersebut, maka dilakukan perhitungan berdasarkan neraca air dan pembuatan data debit sintetis untuk zona FFD tinggi. Hasil simulasi hujan-limpasan dengan model NRECA adalah untuk mendapatkan nilai koefisien resapan untuk setiap DAS. Hasil perhitungan rasio antara debit aliran dasar terhadap debit limpasan permukaan pada zona FFD tinggi yang terletak pada DAS Cisangkuy terlihat lebih tinggi (98%) jika dibandingkan dengan dua DAS lainnya, yaitu DAS Cilaki (66%) dan DAS Citarum (43%). Hal ini menunjukkan bahwa zona FFD tinggi yang terletak pada DAS Cisangkuy memiliki debit aliran dasar yang lebih besar dibandingkan pada DAS Cilaki dan DAS Citarum.Geothermal is known as a renewable energy resource and the renewing process occurs in the recharge area. This paper discusses about the meteoric water recharge area for geothermal reservoir and the ratio of baseflow discharge compared with surface runoff discharge based on water balance, i.e. conducting rainfall-runoff of NRECA model simulation in the Drainage River Area (DRA) which is located in the elevation range of recharge area. The interpretation of FFD map and recharge area map resulting from stable isotope analysis shows that there are three high FFD zones interpreted as recharge areas for Wayang Windu geothermal reservoir. To know the ratio of baseflow discharge and surface runoff discharge in that recharge area, infiltration analysis has been carried out based on water balance and synthetic discharge data for high FFD zone. The result of rainfall-runoff simulation by using NRECA model is used to get infiltration coefficient for each DRA. The ratio between baseflow discharge to surface runoff discharge in high FFD zone located in Cisangkuy DRA is higher (98%) than Cilaki DRA (66%) and Citarum DRA (43%).It shows that high FFD zone located in Cisangkuy DRA has higher baseflow discharge than Cilaki DRA and Citarum DRA.

STRUCTURAL STYLE AND DEPOSITIONAL HISTORY OF THE SEMANGKO PULL APART BASIN IN THE SOUTHEASTERN SEGMENT OF SUMATRA FAULT ZONE

Mukti, Maruf M

JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.669 KB)

Abstract

Re-examination of published seismic data in the southeasternmost segment of the active Sumatra Fault zone (SFZ) reveals the characteristics of structural style and depositional history of Semangko pull apart basin (SPB). The SPB have been developed as a transtensional pull apart basin resulted from stepping over of the Semangko to Ujung Kulon segments of the SFZ. The geometry of SPB is of rhomboidal shape characterized by dual depocenters separated by a discrete structural high in the center of SPB. Based on the determination of pre- and syn-kinematic strata related to the formation of SPB, sedimentary units prior to deposition of Unit 3 can be regarded as pre-kinematic strata, whereas the syn-kinematic strata is represented by Unit 3. The basin sidewall faults of the SPB are likely to have been developed as en-echelon side wall faults and identified as the East Semangko Fault (ESF) and Kota Agung – South Panaitan Faults (KAF-SPF) in the western and eastern margin of the SPB, respectively. The development of discrete highs along the center of the SPB may relate to the formation of en-echelon cross-basin faults that are now overprinted by volcanic activity or magmatic intrusion.Analisa ulang data seismik yang telah dipublikasikan di daerah segmen paling tenggara dari zona sesar aktif Sumatra (SFZ) mengungkapkan karakteristik struktur dan sejarah pengendapan dari cekungan pull-apart Semangko (SPB). SPB terbentuk sebagai cekungan transtensional pull-apart yang dihasilkan dari step over segmen Semangko dan segmen Ujung Kulon. Geometri SPB adalah bentuk rhomboidal yang dicirikan oleh dua depocenter yang dipisahkan oleh struktur tinggian yang tidak menerus di bagian tengah SPB. Berdasarkan penentuan unit pre- dan syn-kinematic strata yang terkait dengan pembentukan SPB, unit sedimen yang terbentuk sebelum pengendapan Unit 3 dapat dianggap sebagai pre-kinematic strata, sedangkan syn-kinematic strata diwakili oleh Unit 3. Sesar side-wall dari SPB kemungkinan telah berkembang sebagai sesar yang bersifat en-echelon dan diidentifikasi sebagai Sesar Semangko Timur (ESF) dan Sesar Kota Agung - Panaitan Selatan (KAF-SPF) di tepian barat dan timur SPB. Pembentukan tinggian  yang tidak menerus di sepanjang bagian tengah SPB berhubungan dengan pembentukan sesar-sesar cross-basin yang bersifat en-echelon yang sekarang telah tertutupi jejaknya oleh aktivitas gunung api atau intrusi magmatik. 

HIDROGEOKIMIA AIRTANAH TIDAK TERTEKAN KAWASAN PESISIR DI PEMUKIMAN NELAYAN KECAMATAN TEUPAH SELATAN, KAB. SIMEULUE, PROVINSI ACEH

Gemilang, Wisnu Arya, Rahmawan, Guntur Adhi

JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1124.813 KB)

Abstract

Kecamatan Teupah Selatan merupakan salah satu kawasan pesisir Kabupaten Simeulue yang dijadikan sebagai sentra kegiatan perikanan dan kelautan. Permasalahan pencemaran akibat kegiatan antropogenik manusia maupun pengaruh airlaut dikhawatirkan menjadi pemicu menurunnya kualitas airtanah di pesisir Teupah Selatan dan sekitarnya. Oleh sebab itu, penelitian terhadap kondisi kualitas airtanah dan kelayakannya berdasarkan beberapa parameter fisika dan kimia di Teupah Selatan sangat penting dilakukan. Analisis dan interpretasi hidrokimia airtanah dilakukan dengan menggunakan diagram Piper serta perhitungan rasio Na/Cl dan Cl/HCO3. Hasil analisa menunjukkan bahwa fasies airtanah daerah penelitian didominasi oleh fasies MgHCO3 diikuti oleh fasies CaHCO3. Secara keseluruhan airtanah di kawasan pesisir Teupah Selatan dan sekitarnya masuk dalam kategori memenuhi syarat untuk dikonsumsi. South Teupah Sub District is one of coastal areas in Simeulue District that becomes the center of marine and fisheries activities. Pollution issues due to anthropogenic factors as well as seawater influence are feared to trigger groundwater quality declination in South Teupah coast area. Study regarding groundwater quality condition and consumption advisability according to hydrogeochemical analysis is essential. Physical and chemical assessment of groundwater parameters were employed. Groundwater hydro-chemical analysis and interpretation were done by employing Piper diagram and ratio calculation of Na/Cl and Cl/HCO3-. Analysis result indicated that groundwater facies in the study area is predominated by MgHCO3 facies, followed by CaHCO3 facies. Overall, groundwater in the South Teupah coast and surrounding can be consumed.

PENENTUAN INDEKS KERENTANAN AIRTANAH PESISIR JAWA DI WILAYAH SELAT SUNDA DENGAN MENGGUNAKAN METODE GALDIT

Lubis, Rachmat Fajar, Purwoarminta, Ananta, Bakti, Hendra, Kusumah, Gunardi W

JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1298.261 KB)

Abstract

Kerentanan airtanah pesisir merupakan salah satu isu yang sangat penting dalam perkembangan pembangunan saat ini. Antisipasi dan upaya mengurangi dampak negatif kualitas airtanah wilayah pesisir akibat faktor antropogenik dan perubahan iklim, memerlukan upaya penentuan indikasi daerah yang memiliki kerentanan tinggi. Upaya pembobotan diperlukan berdasarkan faktor-faktor yang paling penting dalam memahami kerentanan airtanah wilayah pesisir. Metode GALDIT merupakan salahsatu sistem peringkat numerik untuk menilainya. Tiga komponen penting dari sistem ini adalah kriteria bobot, rentang data dan peringkatnya. Fokus dari penelitian ini adalah pada penerapan dan metode GALDIT untuk mengakses kerentanan airtanah pesisir di wilayah Pulau Jawa sepanjang Selat Sunda. Kesimpulannya, metode ini perlu diintegrasikan dengan faktor kerentanan lokal dan dibandingkan dengan metode lainnya agar dapat diaplikasikan dengan lebih akurat.Groundwater coastal vulnerability is one of the most important issues in the human development today. Anticipation to mitigate negative impacts of groundwater coastal quality due to climate change impacts and anthropogenic activities, required to indicate the zonation with high vulnerability index. The GALDIT method is a one of numerical rating system for assessing the susceptibility of groundwater coastal vulnerability. Three important parts of this system were weighting criteria, range of data and ratings. The focus of this research is to applied GALDIT method to access groundwater coastal vulnerability in Jawa Island along the Sunda Strait. In conclusion, this method needs to be integrated with local vulnerability factors and compared with other methods to be applied more accurately.

PENGINDERAAN JAUH UNTUK PENDETEKSIAN AWAL POTENSI TEMBAGA DI SUMBAWA

Julzarika, Atriyon

JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1571.866 KB)

Abstract

Tembaga merupakan salah satu jenis mineral penting yang memiliki banyak fungsi dalam berbagai aplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk pendeteksian awal tembaga menggunakan data penginderaan jauh. Lokasi penelitian terletak di Sumbawa. Data penginderaan jauh yang digunakan berupa Landsat, ALOS Palsar, X SAR, SRTM C, dan Satelit Geodesi. Landsat digunakan untuk ekstraksi parameter geologi berupa penutup lahan dan perubahannya, bentuk lahan, dan alterasi hidrotermal. ALOS PALSAR, X SAR, dan SRTM C digunakan untuk pembuatan DTM (Digital Terrain Model). Integrasi DTM berguna untuk ekstraksi parameter geologi lainnya berupa struktur dan formasi geologi. DTM yang digunakan memiliki akurasi vertikal + 1,5 m. Data Satelit Geodesi bisa digunakan untuk ekstraksi gaya berat, medan magnet, geodinamika, serta densitas batuan. Berbagai parameter geologi ini diekstraksi dengan metode VIDN, integrasi, dip and strike, interferometri, backscattering, alterasi hidrotermal, geodesi fisis, dan klasifikasi digital berbasis objek. Semua parameter geologi yang telah diekstrak dikorelasikan antar data, sehingga bisa digunakan untuk deteksi potensi tembaga. Informasi geospasial deteksi awal tembaga dan ekstraksi parameter geologinya merupakan produk yang dihasilkan dari penelitian ini. Informasi geospasial ini menggunakan referensi ketelitian ASPRS Accuracy Data for Digital Geospatial Data.Copper is one of the essential mineral that has many functions in variety of applications. This research aimed to detect the copper potential using remote sensing data. The research location is Sumbawa. Remote sensing data used were Landsat, ALOS PALSAR, X SAR, SRTM C, and Satellite Geodesy. Landsat was used for geological parameters extraction such as land cover and its changes, geomorphology, landforms, and hydrothermal alteration. ALOS PALSAR, X SAR and SRTM C were used for height model integration (DTM). This DTM was useful for the other geological parameters extraction, such as geological structures and formations. DTM used has vertical accuracy + 1,5 m. Geodesy Satellite data can be used for the extraction of gravity, magnetic field, geodynamics, and rock densities. These various geological parameters were extracted by VIDN, integration, dip and strike, interferometry, backscattering, hydrothermal alteration, physical geodesy, and classification based digital objects. All of those parameters were then correlated for copper potential detection. The results obtained were geospatial information of copper potential and geological parameters at a scale of 1: 50.000 with reference ASPRS Accuracy Data for Digital Geospatial Data. 

ANALISIS KESTABILAN LERENG DI DESA TERBAH DAN SEKITARNYA, KECAMATAN PATUK, KABUPATEN GUNUNG KIDUL BERDASARKAN SLOPE STABILITY PROBABILITY CLASSIFICATION

Yanuardian, Alvian Rizky, Indrawan, I Gde Budi, Warmada, I Wayan

JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1565.534 KB)

Abstract

Desa Terbah merupakan salah satu desa di Indonesia yang rawan longsor. Daerah ini berada pada sedimen Tersier yang telah mengalami deformasi dan pelapukan kuatyang berpotensi longsor,sehingga diperlukan analisis kestabilan lereng untuk upaya mitigasi. Tulisan ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik satuan geologi teknik lereng dan nilai probabilitas tingkat kestabilan lereng. Metode penelitian yang digunakan yaitu pengamatan tingkat pelapukan, pengukuran bidang diskontinuitas (spasi, kekasaran, lebar bukaan) pada lereng berdasarkan metode Rock Mass Rating (RMR), pengujian laboratorium menggunakan point load test, dan analisis kestabilan lereng dengan metode kinematika dan Slope Stability Probability Classification (SSPC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima satuan geologi teknik batuan, yaitu: Satuan  Breksi Andesit 1, Satuan Breksi Andesit 2, Satuan Tufa, Satuan Batupasir Tufan, dan Satuan Batupasir. Hasil pengukuran pada 35 lereng menunjukkan 14 lereng berada dalam kondisi tidak stabil berdasarkan kestabilan lereng orientasi independen (tidak terpengaruh diskontinuitas), dan 18 lereng berpotensi terjadi longsor gelinciran (sliding), dan 14 lereng berpotensi terjadi longsor robohan (toppling) berdasarkan orientasi dependen (terpengaruh diskontinuitas).Terbah village is one of the rural areas in Indonesia that has high vulnerability to landslide. This area occupies the Tertiary sediment which had been deformed and highly weathered, therefore prone to landslide. It is important to analyze the slope stability of the study area as a part of the mitigation measures. This paper aims to identify the engineering geological units and the probability values of the slope stability. Methods included the observation of weathering degree, measurement of slope discontinuities (space, roughness, width of opening) according to Rock Mass Rating (RMR), point load test in the laboratory, and slope stability analysis using kinematic method and Slope Stability Probability Classification (SSPC). Results show that there are five engineering geological units: Andesitic Breccia Unit 1, Andesitic BrecciaUnit 2, Tuff unit, Tuffaceous Sandstone Unit, and Sandstone Unit. Measurements of 35 slopes show that based on orientation independent analysis 14 slopes are unstable, and based on orientation dependent analysis 18 slopes are prone to sliding and 14 slopes are susceptible to toppling.

KARAKTERISTIK KIMIA DAN ISOTOP FLUIDA PANAS BUMI DAERAH GUNUNG TAMPOMAS, JAWA BARAT

Prasetio, Rasi, Laksminingpuri, Neneng, Satrio, Satrio

JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.07 KB)

Abstract

Gunung Tampomas merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki manifestasi panas bumi berupa mata air panas di sekitarnya. Penelitan potensi dan karakterisasi reservoir panas bumi Gunung Tampomas telah dilakukan dengan menggunakan metode kimia serta isotop alam 18O dan 2H (deuterium) dari mata air panas dan dingin di sekitar Gunung Tampomas dengan temperatur mata air berkisar antara 20ºC hingga 50ºC. Interpretasi hasil analisis tersebut dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik reservoir seperti asal-usul fluida, temperatur reservoir dan evolusi fluida. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian mata air panas Gunung Tampomas yaitu Ciseupan dan Ciuyah memiliki kandungan klorida tinggi yang mengindikasikan fluida berasal dari reservoir panas bumi. Sementara berdasarkan perhitungan geotermometer daerah panas bumi Gunung Tampomas memiliki potensi panas bumi yang tergolong medium entalpi dengan temperatur berkisar 120-220°C. Fluida panas bumi berasal dari air meteorik dengan sedikit pencampuran dengan air magmatik. Berdasarkan data geokimia, reservoir Gunung Tampomas diperkirakan memiliki reservoir yang terletak cukup dalam.Mount Tampomas is one of many areas in West Java that has several geothermal manifestations around it. A study about geothermal potential and reservoir has been done using chemistry and natural isotopes methods taken from hot springs and cold springs around Mount Tampomas with temperature range from 20ºC to 50ºC. The interpretation of analysis results was aimed for reservoir characterization i.e. fluid origin, reservoir temperature and conceptual model of Mount Tampomas reservoir. Analysis result shows that some of hot springs, i.e. Ciseupan and Ciuyah have high chloride content that indicates the fluids are reservoir origin. While based on geothermometer calculation, Mount Tampomas has geothermal potential with temperature range 120°C to 220°C, catagorized as medium enthalpy. The geothermal fluids are meteoric origin and slightly mixed with magmatic waters. Based on geochemical evidence, the reservoir of Mount Tampomas is estimated deep seated.