cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : -
Core Subject : Health,
Kesmas: National Public Health Journal is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance health of the public through scientific approach applying variety of technique. This focus includes area and scope such as biostatistics, epidemiology, health education and promotion, health policy and administration, environmental health, public health nutrition, sexual and reproductive health, and occupational health and safety.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol. 7 No. 4 November 2012" : 9 Documents clear
Analisis Risiko Pajanan PM2,5 di Udara Ambien Siang Hari terhadap Masyarakat di Kawasan Industri Semen Novirsa, Randy; Achmadi, Umar Fahmi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 4 November 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.741 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i4.52

Abstract

Salah satu dampak negatif industri pabrik semen terhadap kesehatan masyarakat adalah peningkatan risiko penyakit saluran pernapasan. Risiko tersebut banyak disebabkan oleh pajanan partikulat di udara, khususnya partikulat berukuran di bawah 2,5 mikron (PM2,5). Penelitian ini bertujuan menganalisis risiko pajanan PM2,5 di udara ambien siang hari pada masyarakat di kawasan industri semen. Risiko dihitung dengan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan berdasarkan metode Louvar yang menghasilkan nilai Intake pajanan yang diterima individu per hari berdasarkan nilai konsentrasi pajanan, pola aktivitas individu, dan nilai antropometri. Konsentrasi PM2,5 di lingkungan diukur pada 10 titik dengan radius 500 meter antartitik dari pusat pabrik, sedangkan pola aktivitas dan nilai antropometri diukur dengan menggunakan kuesioner pada 92 responden dewasa di kawasan pabrik. Hasil perhitungan risiko yang diterima seumur hidup (lifetime) menunjukkan terdapat tiga area berisiko dengan nilai RQ > 1, yaitu Ring 2 (500 – 1.000 m), Ring 4 (1.500 – 2.000 m), dan Ring 5 (2.000 – 2.500 m). Daerah paling aman yang dapat dihuni oleh masyarakat di kawasan industri semen adalah di atas 2,5 km dari pusat industri dengan konsentrasi paling aman 0,028 mg/m3.Kata kunci: Industri semen, infeksi saluran pernapasan, partikulat PM2,5AbstractOne of the negative impacts of cement industry to public health is an increased risk of respiratory disease. These risks are caused by exposure to particulate matter in air, especially fine particulate matter which is smaller than 2,5 microns (PM2,5). This study aimed to analyze the risks of PM2,5 exposure in ambien air at noon on people around cement industry. Risk was calculated using Environmental Health Risk Analysis Method that generates value of individual exposure intake received per day. This value was generated based on the concentration of exposure, individual activity patterns, and anthropometric values. PM2,5 concentrations in the environment was measured at 10 points (Ring) from the center of plant with radius of 500 meters each point. The activity patterns and anthropometric values were measured using questionnaire to 92 adult respondents around the factory. The calculation of lifetime risk showed that there are three risked area: Ring 2 (500 – 1.000 m), Ring 4 (1.500 – 2.000 m), and Ring 5 (2.000 – 2.500 m). The safest area was over 2,5 kilometers from the center of the industry with the safest concentration was 0,028 mg/m3.Keywords: Cement industry, respiratory disease, particulate PM2,5
Status Gizi Ibu Hamil dan Penyakit Tidak Menular pada Dewasa Achadi, Endang Laksmining; Kusharisupeni, Kusharisupeni; Atmarita, Atmarita; Untoro, Rachmi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 4 November 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.943 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i4.47

Abstract

Secara global, dunia dihadapkan pada masalah penyakit tidak menular yang semakin meningkat. Perkembangan terkini menunjukkan bahwa kekurangan gizi pada masa janin dan usia 2 tahun pertama kehidupan berpengaruh sangat penting terhadap risiko terjadi berbagai penyakit tidak menular yang kronis pada usia dewasa. Prevalensi berbagai penyakit tidakmenular di Indonesia tergolong tinggi, antara lain hampir sepertiga penduduk dewasa menderita penyakit tekanan darah tinggi. Oleh sebab itu, pada masa yang akan datang, Indonesia dihadapkan pada beban yang berat akibat biaya penatalaksanaan yang tinggi dan produktivitas penduduk yangrendah akibat penyakit tersebut. Prevalensi penyakit tidak menular yang tinggi pada penduduk miskin di Indonesia mengindikasikan pengaruh gaya hidup yang tidak sehat dan kekurangan gizi pada usia kehidupan dini sejak masa di dalam kandungan. Oleh sebab itu, upaya mengatasi masalah tersebut yang hanya dilakukan melalui perbaikan pola hidup tidak akan efektif. Direkomendasikan untuk melakukan upaya yang lebih fokus kepada akar utama permasalahan dalam memberikan lingkungan gizi yang optimal kepada janin melalui perbaikan status gizi ibu hamil dan kepada bayiusia 0 – 2 tahun.Kata kunci: Gizi ibu, penyakit tidak menular, populasi miskinAbstractGlobally, the concern on high prevalence of chronic diseases on adults is increasing. Current mounting evidence confirmed that nutritional deficiency in early life, i.e. during fetal stage and the first two years of age, contribute significantly to the increasing risk of having chronic noncommunicable diseases (NCD) later in life. The high prevalence of a number of NCDs in Indonesia is high, warrant a special attention. For example, almost one thirdof Indonesian adults having high blood pressure. Hence, Indonesia in the future is facing a considerable financial burden as the result of a high expenditure needed for the treatment and rehabilitation of the diseases, and low productivity related to the disease. The high prevalence of NCDs among poor population in Indonesia indicated that these diseases are not merely the result of unhealthy lifestyle, instead they very likely are the results of undernutrition in early life, which was started since fetal stage. Therefore, an attempt to address these problems through improvement of lifestyle alone will not be effective. Effort directed specifically to the root of the problems,i.e. providing an optimal nutrition environment to the fetus through improvement of maternal nutritional status, and infant 0 – 2 years of age, is recommended.Keywords: Maternal nutrition, non-communicable disease, poor population
Perilaku Seks Pranikah Remaja Rahyani, Komang Yuni; Utarini, Adi; Wilopo, Siswanto Agus; Hakimi, Mohammad
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 4 November 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.739 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i4.53

Abstract

Hubungan seksual sebelum nikah pada remaja merupakan masalah yang serius, berhubungan dengan peningkatan penularan penyakit menular seksual, mempunyai pasangan lebih dari satu, dan kehamilan dini. Suatu kerangka kerja model perilaku terintegrasi (Integrated Behavioral Model, IBM) digunakan untuk menilai berbagai faktor prediktor hubungan seksual prematur pada remaja. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi inisiasi hubungan seksual sebelum nikah pada remaja level 10 dan 11 berdasarkan kerangka kerja IBM, meliputi komunikasi tentang seks kelompok peers, orang tua, paparan perilaku pornografi, kepercayaan normatif, agen personal, dan keinginan hubungan seksual. Metode yang digunakan adalah menyertakan 626 responden dalam survei awal. Responden adalah siswa sekolah menengah atas level 10 – 11 di kota Denpasar. Data dikumpulkan dengan kuesioner laporan sendiri khususnya prediktor inisiasi hubungan seksual sebelum menikah. Penelitian ini menemukan bahwa pajanan pornografi, perilaku langsung dan tidak langsung berhubungan secara signifikan dengan inisiasi hubungan seksual sebelum nikah (nilai p < 0,05). Remaja laki-laki tampaknya melakukan lebih banyak aktivitas seksual daripada remaja perempuan. Penelitian ini berimplikasi terhadap pemahaman perilaku langsung dan pajanan pornografi mungkin digunakan dalam meningkatkan program kesehatan dan kesehatan remaja.Kata kunci: Hubungan seksual sebelum nikah, penyakit menular seksual, remajaAbstract Premarital sexual inisiation on adolescence is a serious problem, associated with increased transmition sexually transmitted disease/STD, had having more partners, and early pregnancy. An Integrated Behavioral Model (IBM) framework used to assess predictors of premarital sexual on adolescents. The purpose of this research is to explore predictors of premarital sexual inisiation in adolescents grade 10 and 11 based on IBM framework, includes: communication about sex with peers, parents, pornography exposure, attitude, normative belief, personal agency, and intention to have sex. Method that used is 626 respondent included in earlier survey, and respondent were students of senior high school grade 10 – 11 in Denpasar City. Data collected with self reported questionaire particularly predictor of premarital sexual initiation. The result found that pornography exposure, indirectly attitude, and directly attitude were significantly associated with premarital sexual initiation (p < 0,05). Male adolescents engage in more sexual activity like premarital sexual inisiation than female adolescents. This study has implications for understanding how directly attitude and pornography exposure may be used in intervention to promoting adolescents health program and adolescents ressiliency.Keywords: Premarital sexual, sexually transmitted disease, adolescence
Determinan Keluhan Muskuloskeletal pada Tenaga Kerja Wanita Ramdan, Iwan Muhamad; Laksmono, Tiyanpri Bayu
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 4 November 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.083 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i4.48

Abstract

Gangguan muskuloskeletal merupakan masalah kesehatan dan keselamatan kerja yang penting karena masih berkontribusi pada penurunan produktivitas kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan umur tenaga kerja, masa kerja, indeks massa tubuh, dan sikap kerja dengankeluhan gangguan muskuloskeletal pada tenaga kerja wanita di unit produksi bagian kupas di PT SSM Kalimantan Timur. Penelitian kuantitatif yang menggunakan desain penelitian cross sectional ini dilakukan pada tenaga kerja wanita bagian pengupasan yang berjumlah 46 orang (total sampling).Variabel bebas penelitian terdiri dari umur, masa kerja, indeks massa tubuh, dan posisi kerja, sementara variabel terikat adalah keluhan gangguan muskuloskeletal. Analisis data yang digunakan adalah uji chi-square dengan level signifikansi 0,05 (5%). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan umur dengan keluhan gangguan muskuloskeletal (p = 0,066),terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja (p = 0,044), indeks massa tubuh (p = 0,025), dan sikap kerja (p = 0,001) dengan keluhan gangguan muskuloskeletal. Perusahaan disarankan untuk membuat kursi kerja yang ergonomis, melakukan rotasi kerja, dan melakukan pelatihan dengan materi tata cara kerja yang ergonomis.Kata kunci: Gangguan muskuloskeletal, produktivitas, sikap kerjaAbstractMusculoskeletal disorders are still a health and safety issue that needs to be examined in more depth, because it still contributes to the decline in labor productivity. The objective of this research was to know the relationship between age, working periode, body mass index and work posture with complaint of musculoskeletal disorders. Quantitative research with crosssectional approach has been done on 46 (total sampling) female labor in peeling sections. The independent variables consisted of age, year, body mass index, and work posture, while the dependent variable was the complaint of musculoskeletal disorders. The data analysis used was chi-square test with a significance level of 0.05 (5%). The results showed no association between age with symptoms of musculoskeletal disorders (p = 0,066), there is a significant association between working period (p = 0,044), bodymass index (p = 0,025), and work posture (p = 0,001) with complaints of musculoskeletal disorders. Companies are advised to make an ergonomic office chair, job rotation, and training with ergonomic material working procedures.Keywords: Musculoskeletal disorders, productivity, work posture
Model Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan, Studi Program Desa Siaga Sulaeman, Endang Sutisna; Karsidi, Ravik; Murti, Bhisma; Kartono, Drajat Tri; Waryana, Waryana; Hartanto, Rifai
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 4 November 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.24 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i4.54

Abstract

Sejak tahun 2006, Departemen Kesehatan meluncurkan kebijakan program Desa Siaga. Tampaknya, kebijakan tersebut tidak mampu memberdayakan masyarakat dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah kesehatan pada level komunitas (desa). Penelitian ini bertujuan merumuskan model pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan pada program Desa Siaga. Sasaran penelitian adalah Forum Kesehatan Desa dan Pos Kesehatan Desa Siaga di 30 desa di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor yang berhubungan dengan kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi masalah kesehatan dan kemampuan masyarakat dalam memecahkan masalah kesehatan. Model pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan meliputi kemampuan mengidentifikasi dan memecahkan masalah kesehatan. Faktor-faktor internal dan eksternal komunitas pada level anggota masyarakat, institusi masyarakat, kepemimpinan masyarakat, dan akses informasi kesehatan memiliki peran penting dalam pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan.Kata kunci: Desa siaga, kebijakan, pemberdayaan masyarakatAbstractSince 2006, the Health Department had launched the Village Preparedness program policy. But, this policy apparently not capable of empowering the community in identifying and solving the health problem at community (village) level. The objective of research is to formulate the community empowerment model in health in the Village Preparedness program. The targets of research were the Village Health Forum and Village Health Post in 30 Village Preparedness in Karanganyar Regency, Central Java. The method involving survey and case study. The case study showed factors related to community capability of identifying health problem and community capability of solving the health problems. The community empowerment model in health including the capabilities of identifying and of solving the health problems. The community internal and external factors at members of community level, community institution, community leadership, and information access played important role in community empowerment in health.Keywords: Village preparedness, policy, community empowerment
Keikutsertaan Pria dalam Program Keluarga Berencana di Indonesia Musafaah, Musafaah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 4 November 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.242 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i4.49

Abstract

Pria telah mengikuti program keluarga berencana (KB) sejak dahulu. Metode pantang berkala dan kondom telah dikenal berabad-abad lalu, tetapi sejak ditemukan kontrasepsi wanita, program KB pada pria seakan diabaikan. Keikutsertaan pria dalam ber-KB masih sangat rendah jika dibandingkan dengan Bangladesh, Pakistan, dan Nepal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keikutsertaan pria dalam ber-KB meliputi keterpaparan media massa dan kontak informasi KB melalui media massa. Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 dengan pendekatan cross sectional terhadap 6.013 pria menikah usia 15 – 54 tahun. Teknik pengambilan sampel yangdigunakan adalah two stage sampling. Analisis data menggunakan chi square dan regresi logistik. Penelitian menunjukkan bahwa pria yang terpapar dengan media massa memiliki kecenderungan 2,12 kali lebih besar untuk ber-KB daripada pria yang kurang terpapar dengan media massa.Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa pria yang kontak informasi KB melalui media massa memiliki kecenderungan 2,21 kali lebih besar untuk ber-KB daripada pria yang tidak kontak informasi KB melalui media massa. Penelitian ini menunjukkan pria memiliki kecenderungan terbesar untuk ber-KB apabila pria terpapar media massa dan mendapatkan informasi KB melalui media massa dengan OR yang terbesar = 2,77.Kata kunci: keikutsertaan pria, keluarga berencana, media massaAbstractMen already used contraception with withdrawal and condom which had known centuries ago. Since contraception for women was found, men family planning program was likely ignored. The involving of men in family planning in Indonesia is still lower than Bangladesh, Pakistan, and Nepal. The objective of this study is to analyze the credencial factor of men participation in family planning through mass media exposure and contact information. This study used Indonesia Demografic and Health Survey (IDHS) 2007 data used cross-sectional study and 6.013 married men aged 15 – 54 years old as participants. Sampling method used is two stage sampling. Data wasanalyzed by chi square and logistic regression. The research showed that men who were exposed mass media 2,12 times more involved in family planning than men who were not exposed mass media and men who were contact information in family planning through mass media 2,21 times moreparticipating in family planning than men who were not. The result showed that men have the highest possibility to participate in family planning if exposed by mass media and contacted to family planning information through mass media with biggest OR = 2,77.Keywords: The involvement of men, family planning, mass media
Reservoir dan Kasus Leptospirosis di Wilayah Kejadian Luar Biasa Ramadhani, Tri; Yunianto, Bambang
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 4 November 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.426 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v6i4.50

Abstract

Kabupaten Kulonprogo adalah salah satu daerah dengan masalah leptospirosis penyakit zoonosis yang dapat menginfeksi spesies hewan dan manusia. Studi ini bertujuan untuk mengetahui reservoir dan distribusi kasus leptospirosis pascakejadian luar biasa di Kabupaten Kulonprogo. Metode yang digunakan adalah inkriminasi bakteri Leptospira sp. pada tikus dan penegakan diagnosis pada manusia dengan rapid test dan MAT. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer dengan melakukan screening di Rumah Sakit dan Puskesmas. Penelitian observasional ini menggunakan rancangan studi cross sectional dengan metode analisis data secara distribusi frekuensi dalam bentuk gambar, grafik, dan tabel. Penelitian menemukan jumlah penderita leptospirosis di Kabupaten Kulonprogo tahun 2011 adalah 273 kasus dengan angka fatalitas 6,59%. Kasus leptospirosis paling banyak terjadi di Kecamatan Nanggulan (20,5%), pada laki-laki (76,6%) dan kelompok umur 40 – 60 tahun (43,2%). Uji serologi (MAT) penderita suspek leptospirosis menemukan 41(22,5%) penderita positif mengandung bakteri Leptospira sp. Serovar yang paling banyak ditemukan adalah Harjo, Semaranga, Icterohaemorhagie, Bataviae, Patoc dengan titer 1 : 40 ~ 1 : 1.600. Spesies tikus yang menjadi reservoir Leptospira sp. yang ditemukan meliputi Rattus tanezumi, Rattus tiomanicus, Mus musculus, N fluvescens, juga ditemukan insektivora jenis Suncus murinus. Trap success ditemukan sekitar 6,9% di luar rumah dan sekitar 5,5% di dalam rumah.Kata kunci: Kejadian luar biasa, leptospirosis, reservoirAbstract Kulonprogo regency is one region with leptopsirosis problem. This study aims to determine the reservoir and the case distribution of leptospirosis outbreaks in the Kulonprogo regency post. The method used is inkriminasi Leptospira sp. bacteria in mice and human with rapid test and MAT diagnosis. Leptospirosis case data taken from secondary data and primary data by conducting screening at the hospital and puskesmas. Observational research using cross-sectional study design. Data analyzing was performed using frequency distribution with pictures, graphics and tables. The results showed leptospirosis cases in the Kulonprogo regency in 2011 as much 273 cases with CFR 6.59%. The biggest number of distribution of leptospirosis cases were in District Nanggulan (20.5%), in men (76.6%), and 40 – 60 years age group (43.2%). Serological test (MAT) patients with suspected leptospirosis from 182 serum showed that 41 (22.5%) patients leptospires bacteria positive. Serovar most commonly found in patients with leptospirosis is Harjo, Semaranga, Icterohaemorhagie, Bataviae, Patoc with a titer of 1: 40 ~ 1: 1600. Species of mice that become Leptospira sp. reservoir found were Rattus tanezumi, Tiomanicus rattus, Mus musculus, N fluvescens, insectivores Suncus murinus type was also found. Trap success by 6.9% outside home and 5.5% in house.Keywords: Outbreak, leptospirosis, reservoir
Determinan Insomnia pada Lanjut Usia Abdullah, Andi Zulkifli; Arsin, A. Arsunan; Yahya, Muhammad
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 4 November 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.466 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i4.51

Abstract

Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering ditemukan pada lanjut usia (lansia) dengan prevalensi sekitar 67%. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara kecemasan, depresi, dukungan keluarga, dan kondisi lingkungan dengan kejadian insomnia pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa. Penelitian ini menggunakan desain studi observasional dengan rancangan cross sectional dan metode exhausive sampling. Data dianalisis dengan uji chi square, koefisien phi (f) dengan a = 0,05. Sebanyak 96 lansia penghuni panti memenuhi kriteria penelitian. Uji chi square menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kecemasan (nilai p = 0,014; f = 0,251), depresi (nilai p = 0,019; f = 0,238), dukungan keluarga (nilai p = 0,000); f = 0,797), dan kondisi lingkungan panti (nilai p < 0,05; f = 0,238) dengan kejadian insomnia. Pemberian penyuluhan kepada keluarga lansia adalah salah satu kegiatan yang penting dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan keluarga lansia bahwa lansia tidak hanya sekadar diperhatikan kebutuhan fisiknya tetapi juga kebutuhan psikologisnya.Kata kunci: Depresi, insomnia, kecemasanAbstractInsomnia is sleep disorder, most often found on elderly with high prevalence about 67%. The aim of this research is to prove the relation between anxiousness, depression, family support, and environmental condition with the occurence of insomnia at old ages in social institution Tresna Werdha Gau Mabaji Gowa Regency. This research used an observasional study with cross sectional design, using the exhausive sampling method. Data were analysed by chi square test, phi coefficient with a = 0,05. About 96 elderly in social institution met the research criteria, chi square test indicates that there are relation between anxiousness (p value = 0,014); f = 0,251), depression (p value = 0,019); f = 0,238), family support (p value = 0,000); f = 0,797), and environmental condition of social institution (p value = 0,019); f = 0,238) with the occurence of insomnia. Providing counseling to the family of the elderly is one of the important activities to improve their knowledge to note not only elderly physical needs, but also their psychological needs.Keywords: Depression, insomnia, anxiousness
Determinan Keluhan Muskuloskeletal pada Tenaga Kerja Wanita Ramdan, Iwan Muhamad; Laksmono, Tiyanpri Bayu
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 4 November 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.083 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i4.48

Abstract

Gangguan muskuloskeletal merupakan masalah kesehatan dan keselamatan kerja yang penting karena masih berkontribusi pada penurunan produktivitas kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan umur tenaga kerja, masa kerja, indeks massa tubuh, dan sikap kerja dengankeluhan gangguan muskuloskeletal pada tenaga kerja wanita di unit produksi bagian kupas di PT SSM Kalimantan Timur. Penelitian kuantitatif yang menggunakan desain penelitian cross sectional ini dilakukan pada tenaga kerja wanita bagian pengupasan yang berjumlah 46 orang (total sampling).Variabel bebas penelitian terdiri dari umur, masa kerja, indeks massa tubuh, dan posisi kerja, sementara variabel terikat adalah keluhan gangguan muskuloskeletal. Analisis data yang digunakan adalah uji chi-square dengan level signifikansi 0,05 (5%). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan umur dengan keluhan gangguan muskuloskeletal (p = 0,066),terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja (p = 0,044), indeks massa tubuh (p = 0,025), dan sikap kerja (p = 0,001) dengan keluhan gangguan muskuloskeletal. Perusahaan disarankan untuk membuat kursi kerja yang ergonomis, melakukan rotasi kerja, dan melakukan pelatihan dengan materi tata cara kerja yang ergonomis.Kata kunci: Gangguan muskuloskeletal, produktivitas, sikap kerjaAbstractMusculoskeletal disorders are still a health and safety issue that needs to be examined in more depth, because it still contributes to the decline in labor productivity. The objective of this research was to know the relationship between age, working periode, body mass index and work posture with complaint of musculoskeletal disorders. Quantitative research with crosssectional approach has been done on 46 (total sampling) female labor in peeling sections. The independent variables consisted of age, year, body mass index, and work posture, while the dependent variable was the complaint of musculoskeletal disorders. The data analysis used was chi-square test with a significance level of 0.05 (5%). The results showed no association between age with symptoms of musculoskeletal disorders (p = 0,066), there is a significant association between working period (p = 0,044), bodymass index (p = 0,025), and work posture (p = 0,001) with complaints of musculoskeletal disorders. Companies are advised to make an ergonomic office chair, job rotation, and training with ergonomic material working procedures.Keywords: Musculoskeletal disorders, productivity, work posture

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Volume 13, Issue 4, May 2019 Volume 13, Issue 3, February 2019 Volume 13, Issue 2, November 2018 Volume 13, Issue 1, August 2018 Volume 12, Issue 4, May 2018 Volume 12, Issue 3, February 2018 Volume 12, Issue 2, November 2017 Volume 12, Issue 1, August 2017 Volume 11, Issue 4, May 2017 Volume 11, Issue 3, February 2017 Volume 11, Issue 2, November 2016 Volume 11, Issue 1, August 2016 Vol. 10 No. 4 May 2016 Vol. 10 No. 3 February 2016 Vol. 9 No. 4 Mei 2015 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 10 No. 2 November 2015 Vol. 10 No. 1 Agustus 2015 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 1 Agustus 2012 Vol. 6 No. 6 Juni 2012 Vol. 6 No. 5 April 2012 Vol. 6 No. 4 Februari 2012 Vol. 6 No. 3 Desember 2011 Vol. 6 No. 2 Oktober 2011 Vol. 6 No. 1 Agustus 2011 Vol. 5 No. 6 Juni 2011 Vol. 5 No. 5 April 2011 Vol. 5 No. 4 Februari 2011 Vol. 5 No. 3 Desember 2010 Vol. 5 No. 2 Oktober 2010 Vol. 5 No. 1 Agustus 2010 Vol. 4 No. 6 Juni 2010 Vol. 4 No. 5 April 2010 Vol. 4 No. 4 Februari 2010 Vol. 4 No. 3 Desember 2009 Vol. 4 No. 2 Oktober 2009 Vol. 4 No. 1 Agustus 2009 Vol. 3 No. 6 Juni 2009 Vol. 3 No. 5 April 2009 Vol. 3 No. 4 Februari 2009 Vol. 3 No. 3 Desember 2008 Vol. 3 No. 2 Oktober 2008 Vol. 3 No. 1 Agustus 2008 Vol. 2 No. 6 Juni 2008 Vol. 2 No. 5 April 2008 Vol. 2 No. 4 Februari 2008 Vol. 2 No. 3 Desember 2007 Vol. 2 No. 2 Oktober 2007 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 6 Juni 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 vol. 1 No. 3 Desember 2006 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 Vol. 1 No. 1 Agustus 2006 More Issue