cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : -
Core Subject : Health,
Kesmas: National Public Health Journal is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance health of the public through scientific approach applying variety of technique. This focus includes area and scope such as biostatistics, epidemiology, health education and promotion, health policy and administration, environmental health, public health nutrition, sexual and reproductive health, and occupational health and safety.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol. 7 No. 10 Mei 2013" : 8 Documents clear
Model Kuantitatif Manajemen Kelelahan dan Beban Kerja untuk Peningkatan Produktivitas Pekerja Penggilingan Padi Ulfah, Nur; Nurcahyo, Panuwun Joko; Dwiandhono, Irfan
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 10 Mei 2013
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.429 KB)

Abstract

Sumber daya manusia merupakan aset penting bagi perusahaan dalam rangka peningkatan produk yang dihasilkan, salah satunya adalah sumber daya pekerja. Pekerja dengan beban kerja yang berat akan mengakibatkan terjadinya kelelahan yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas produk yang dihasilkan. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model kuantitatif manajemen kelelahan dan beban kerja untuk meningkatkan produktivitas. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah survei eksplanatori dengan pendekatan cross sectional dengan sampel sebanyak 45 pekerja penggilingan padi. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel kelelahan kerja maupun beban kerja mempunyai hubungan yang signifikan dengan produktivitas kerja. Model persamaan regresi yang terbentuk adalah produktivitas kerja = -4,188 + 0,027 kelelahan kerja – 0,100 beban kerja yang berarti bahwa setiap kenaikan 1 mili/detik kelelahan kerja akan meningkatkan produktivitas kerja sebesar 1 ton/hari dan setiap penurunan 1 kali/menit beban kerja maka akan meningkatkan produktivitas kerja sebesar 1 ton/hari.Human resources is an important asset for the company in order to improve the product, one is the labor resource. Workers with heavy workload will result in fatigue, which in turn can degrade the quality of products produced. This study aimed to develop a quantitative model of fatigue and workload management to improve productivity. The research method used eksplanatory survey with crossectional approach, using 45 sample. The results showed work fatigue and workload had a significant relationship with labor productivity. Regression equation model that is formed is productivity = -4.188 + 0.027 work fatigue – 0.100 workload which means that every increase of 1 millimeter/second job fatigue, it will increase labor productivity by 1 ton/day, and every reduce of 1 times/minute the workload it will increase labor productivity by 1 ton/day.
Gender dan Penyakit Tuberkulosis: Implikasinya Terhadap Akses Layanan Kesehatan Masyarakat Miskin yang Rendah Rokhmah, Dewi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 10 Mei 2013
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.329 KB)

Abstract

Saat ini, fokus utama dari pelayanan kesehatan masih bertumpu pada aspek medis yang sangat kurang memperhatikan isu sosial termasuk gender yang merupakan penyebab utama kesenjangan bidang kesehatan di masyarakat kita. Tuberkulosis adalah penyakit yang menyebabkan kematian di seluruh dunia. Gender berperan sebagai salah satu determinan penyakit tuberkulosis meliputi penemuan kasus, diagnosis, dan proses pengobatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis perspektif gender pencapaian Program Tuberkulosis Directly Observed Treatment Short-course (DOTS) meliputi penemuan, diagnosis pasien, dan hasil pengobatan di Rumah Sakit Paru Jember, tahun 2010. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik menggunakan data sekunder yang berasal dari Laporan Program Tuberkulosis DOTS Tahun 2010. Populasi adalah penduduk yang menderita tuberkulosis yang mendapat pelayanan dalam program DOTS. Sedangkan, sampel dari penelitian ini adalah pasien yang telah didiagnosis tuberkulosis oleh dokter, mendapatkan pelayanan di Poli Paru Rumah Sakit Paru Jember pada tahun 2010. Data yang terkumpul dianalisis secara diskriptif dengan perspektif gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam proses penemuan pasien tuberkulosis, perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Tetapi dalam proses diagnosis pasien tuberkulosis dan hasil pengobatan pasien tuberkulosis, laki-laki jauh lebih tinggi dari perempuan. Kondisi ini disebabkan karena stigma pada perempuan serta akses dan kontrol perempuan yang rendah terhadap pengelolaan sumber daya untuk kesehatan. Komitmen pemerintah dan masyarakat yang sensitif gender diperlukan dalam intervensi program tuberkulosis DOTS pada masa yang akan datang.Nowadays main focus of health care remains in medical aspect and lack on social issue include gender identities which are being main cause of the health gap in our society. Tuberculosis is a disease caused mortality in the worldwide. The role of gender as a determinant of health status, including all aspects of tuberculosis, from case finding, diagnosis, and treatment result of tuberculosis patient. The objective of this research was an analysis of gender perspective the reach of Tuberculosis Directly Observed Treatment Short-course (DOTS) program from case finding, diagnosis, and treatment result of tuberculosis patient in Lung Hospital of Jember in 2010. This research was descriptive analytic method used secondary data from the report of Tuberculosis DOTS program at 2010. The population of this research is people with Tuberculosis have accessed services from DOTS program. The sample of this research are man and woman patient, have been diagnosed as tuberculosis patient by doctor, getting services in Lung Poly in Lung Hospital of Jember in 2010. Collected data are analyzed descriptively with a gender perspective. The result of this research shows that in tuberculosis patient finding process, woman is higher than man, but in the diagnosis and treatment result of tuberculosis patient, man is higher than woman. This condition was caused by woman had stigma and low access and control in managing resources for health. Gender sensitivity commitment by government and society is needed to the intervention both in tuberculosis DOTS program applying in the future.
Faktor Risiko Kematian Ibu Aeni, Nurul
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 10 Mei 2013
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.866 KB)

Abstract

Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Pati bergerak fluktuatif dan menunjukkan status tertinggi pada tahun 2011 dengan 126 per 100.000 kelahiran hidup. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan kematian ibu di Kabupaten Pati dan menganalisis faktor risiko kematian maternal di Kabupaten Pati Tahun 2011. Penelitian menggunakan pendekatan observasional analitik dengan metode kasus kontrol. Jumlah sampel adalah 24 untuk setiap kelompok kasus dan kelompok kontrol. Analisis data menggunakan uji univariat, bivariat dan multivariat. Hasil dari penelitian adalah tiga penyebab utama kematian ibu di Kabupaten Pati adalah penyakit jantung, preeklamsi/eklamsi, dan perdarahan. Kematian ibu tersebar di 16 kecamatan dari 21 kecamatan yang ada dan sebagian besar kematian terjadi pada masa nifas. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kematian ibu adalah komplikasi kehamilan (OR = 12,198, nilai p = 0,010), komplikasi persalinan (OR = 9,94, nilai p = 0,020) dan riwayat penyakit (OR = 27,735, nilai p = 0,011). Secara bersama-sama, ketiga variabel tersebut berkontribusi terhadap 64,3% kematian ibu yang terjadi di Kabupaten Pati Tahun 2011.Maternal Mortality Ratio (MMR) of Pati Regency fluctuated and showed the highest state in 2011 with 126 per 100.000 live births. This research aimed to describe maternal mortality cases in Pati Regency and to analyze risk factors of maternal mortality happened in 2011. This research used observational analysis, i.e. cases control study. The number of samples was 24 in each of case group and control group. Data was analyzed with univariate, bivariate, and multivariate. This research resulted that three major causes of maternal mortality were heart disease, preeclampsia/eclampsia, and hemorrhage. Maternal mortality spread on 16 from 21 sub-districts on Pati Regency and the majority of them happened in post delivery period. Logistic regression analysis concluded that risk factors influenced maternal mortality were pregnancy complication (OR = 12.198, p value = 0.010), delivery complication (OR = 9.94, p value = 0.020) and history of illness (OR = 27.735, p value = 0.011). Collectively, those variables contributed to 64.3% of maternal mortality in Pati Regency 2011.
Partisipasi Semu Ibu Hamil di Posyandu Devy, Shrimarti Rukmini; Hakimi, Muhammad; Prabandari, Yayi Suryo; Mardikanto, Totok; Rafsandjani, Dhody; Haryanto, Sofyan
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 10 Mei 2013
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.343 KB)

Abstract

Salah satu kebijakan pembangunan bidang kesehatan yang dipergunakan untuk mengatasi kesehatan ibu hamil adalah pemberdayaan masyarakat. Keberhasilan pemberdayaan dapat diketahui melalui berbagai cara, salah satunya partisipasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi sosial, budaya, dan ekonomi yang mempengaruhi partisipasi ibu hamil ke posyandu. Penelitian ini menggunakan rancangan etnografi. Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data adalah wawancara mendalam, focus group discussion, observasi dan nominal group process. Data yang diperoleh dari pendekatan kualitatif akan diolah dengan content analysis. Hasil penelitian ini menunjukkan kondisi sosial, budaya dan ekonomi yang mempengaruhi partisipasi ibu hamil ke posyandu di Desa Rapa Laok, bermula pada faktor kemiskinan. Kondisi sosial dan budaya yang berpengaruh pada partisipasi ibu hamil, yaitu kepercayaan pada mitos dan pantangan makanan bertentangan dengan aturan medis. Kondisi ekonomi yang berpengaruh pada partisipasi ibu hamil, yaitu beban fisik dan psikis ibu hamil terhadap kesejahteraan keluarga berlebihan. Ibu hamil datang untuk memeriksakan diri ke posyandu bukan karena kesadaran untuk menjaga kesehatan tetapi untuk mendapat imbalan satu dus mi instan. Model partisipasi ibu hamil ke posyandu yang tepat adalah dengan pendekatan nondirektif (partisipatif) yang produktif.One of the development policies in health sector that is currently used to overcome maternal health issues is the community empowerment. The success of the community empowerment can be measured through the people participation. The objectives is to identify the social, cultural, and economic conditions which might influence the pregnant women participation in integrated service post. This study used a qualitative approach with an ethnographic design. Data were collected through in-depth interviews, focus group discussion, observation, and nominal group process. The data collected were analyzed using content analysis. The social, cultural, and economic conditions that strongly affected the pregnant women participation in integrated service post, because of the poverty. The social and cultural condition that affected belief in myths and food taboos which are highly contradictory to the medical rules. The economic conditions that affected is women have heavy domestic and productive workloads. Their physical and psychological burdens were excessively high that could endanger the health. The participation of pregnant women was not based on true awareness for maintaining their health but such participation was more based on their desires of getting one box of instant noodles. The participation model for the pregnant women was designed using participatory (nondirective) approach which was productive.
Pengetahuan dan Ekspresi Emosi Keluarga serta Frekuensi Kekambuhan Penderita Skizofrenia Fadli, Surya Mulya; Mitra, Mitra
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 10 Mei 2013
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.27 KB)

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang bersifat kronis dan selalu mengalami kekambuhan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan faktor keluarga dan kepatuhan minum obat dengan kekambuhan penderita skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau tahun 2012. Desain penelitian ini adalah cross sectional study dengan ukuran sampel adalah 50 responden dari keluarga penderita skizofrenia yang berkunjung di poliklinik rawat jalan Rumah Sakit Jiwa Tampan. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan korelasi, regresi linier sederhana, dan uji t independen, multivariat dengan uji regresi linier ganda. Variabel yang berhubungan dengan frekuensi kekambuhan penderita skizofrenia adalah pengetahuan keluarga dan ekspresi emosi keluarga. Pengetahuan keluarga berpengaruh paling besar dengan koefisien beta sebesar -0,461. Variabel confounding adalah sikap keluarga, dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat. Nilai R2 diketahui sekitar 68,7%. Keluarga diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dengan mengikuti penyuluhan dan mengikuti proses keperawatan ketika penderita di rumah sakit jiwa sehingga keluarga memperoleh informasi dalam menangani pasien skizofrenia. Dengan menjaga ekspresi emosi keluarga yang tidak berlebihan, frekuensi kekambuhan pada penderita skizofrenia berkurang. Schizophrenia is a psychotic disorder that is chronic and always had a relapse. This study aims to determine the factors associated with the frequency of relapse in patients with schizophrenia in Mental Hospital Tampan, Riau Province 2012. The research design was cross sectional study, with 50 samples of Schizophrenia patient’s family who visited in Polyclinic of Mental Hospital Tampan. Data analysis was performed by univariate, bivariate with correlation, simple linear regression, and t-test, multivariate by multiple linear regression tests. The results obtained that the variables associated to the frequency of relapse in patients with schizophrenia are family’s knowledge, family’s emotional expression. Family’s knowledge has the biggest effect with beta coefficient is -0.461. Confounding variable are family’s attitude, family’s support, and the obedience of taking medicine. R2 score is 68.7%. The family was suggested to increase the knowledge by following the counseling and follow the caring process while the patient in mental hospital, so that families get information in dealing skizophrenia patient. Family emotional expression that is not excessive, so the frequency of relapse in patients with schizophrenia was decreased.
Analisis Implementasi Sistem Tanggap Darurat Berdasarkan Asosiasi Perlindungan Kebakaran Nasional 1600 Pratiwi, Meilissa Ayu; Lestari, Fatma; Ridwansyah, Ridwansyah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 10 Mei 2013
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.154 KB)

Abstract

Penelitian kesesuaian pelaksanaan sistem tanggap darurat di PT X menjadi upaya untuk mempersiapkan proses tanggap darurat. Penelitian kualitatif dengan desain studi deskriptif analitik ini menggunakan dua jenis data meliputi data primer yang didapatkan melalui wawancara dan observasi, serta data sekunder melalui telaah dokumen. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kesesuaian implementasi sistem tanggap darurat di PT X Perusahaan Pelayanan Gas dan Minyak, ditinjau dari National Fire Protection Association 1600 (NFPA 1600) tahun 2012. Pada penelitian ini didapatkan kesesuaian implementasi sistem tanggap darurat PT X berdasarkan NFPA 1600 adalah 36,23%, sedangkan ketidaksesuainya adalah 37,60%. Diharapkan dapat mempertimbangkan saran yang diberikan untuk meningkatkan pemenuhan semua elemen persyaratan NFPA 1600 dalam mengimplementasikan sistem tanggap darurat di perusahaannya. The focus of this study was looking for an overview of compliance conformity for implementation emergency response system at PT X to prepared emergency response in the event of an emergency/disaster. This research is a qualitative descriptive study design that uses two types of data, primary data obtained through interviews and observations, and secondary data through document review. The purpose of this study to determine conformity of the implementation emergency response system in Oil and Gas Services Company PT X as per National Fire Protection Association 1600 (NFPA 1600) in 2012. This study resulted was the conformity of the emergency response system implementation based on NFPA 1600 in PT X was 36,23%, while unconformity proportion was 37,6%. PT X are expected to consider the advice had given based on results of this study to improve compliance to all elements requirements of NFPA 1600 in the company’s emergency response system.
Analisis Pembiayaan Kesehatan Keluarga Penderita Talasemia Kurniawan, Arif; Intiasari, Arih Diyaning
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 10 Mei 2013
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.427 KB)

Abstract

Pembiayaan kesehatan sekitar 146 (60%) penderita talasemia di Banyumas, tahun 2011 ditanggung rumah tangga dalam bentuk pembayaran langsung (out of pocket payment). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ability to pay, willingness to pay, dan need assessment pembiayaan kesehatan penderita talasemia di Kabupaten Banyumas. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan studi kasus. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling. Jumlah sampel penelitian 30 responden yang mempunyai anggota keluarga penderita talasemia di Kabupaten Banyumas. Hasil penelitian menunjukkan keluarga penderita talasemia mempunyai ability to pay rata-rata adalah Rp34.448,8/bulan dan rata-rata willingness to pay pengobatan talasemia adalah Rp133.833,3/ bulan. Pola pembiayaan kesehatan talasemia di Kabupaten Banyumas menggunakan 93,3% Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), 3,3% biaya sendiri, dan 3,3% asuransi kesehatan. Sebelum mendapatkan Jamkesmas, 90,0% responden membayar dengan out of pocket, berhutang, berhemat pada kebutuhan nonkesehatan, dan menjual perhiasan/sawah. Kebutuhan pelayanan kesehatan yang diharapkan keluarga penderita talasemia adalah konsultasi talasemia dan desain khusus ruang perawatan anak. Kebutuhan pembiayaan kesehatan keluarga penderita talasemia adalah uang transportasi ke rumah sakit sebagai bentuk biaya tidak langsung. Health financing of majority thalassemia patients, around 146 people (60%) in Banyumas year 2011 is assured by Households in direct payments to health care providers (out-of-pocket payment). This study aimed to analyze the ability to pay, willingness to pay, and need assessment of health financing thalassemia in Banyumas. This research an analytic observation- Analisis Pembiayaan Kesehatan Keluarga Penderita Talasemia Health Financing Analysis of Thalassemia Patient Family Arif Kurniawan, Arih Diyaning Intiasari al with case study design. This research used cross sectional approach. Sampling technique used simple random sampling. Total sample of 30 respondents who had had family members suffering from thalassemia in Banyumas. The results showed thalassemia families have an average ability to pay of Rp34,448.8/month and the average willingness to pay for the treatment on thalassemia Rp133,833.3/month. Health financing patterns of thalassemia in Banyumas district uses 93.3% health security, 3.3% personal costs, and 3.3% health insurance. Before getting health security, 90.0% of respondents performed out-of-pocket financing, get loan, skimped on nonmedical needs, and sold jewelry/rice fields to finance thalassemia’s health services. Health care needs that expected by thalassemia patient’s family is thalassemia consulting and special design of child-care room. Health financing needs of thalassemia’s patient family is transportation money to hospital as indirect costs.
Dampak Biaya Laboratorium Terhadap Kesenjangan Tarif INA-CBGs dan Biaya Riil Diagnosis Leukemia Indriani, Diah; Kusnanto, Hari; Mukti, Ali Ghufron; Kuntoro, Kuntoro
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 10 Mei 2013
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.748 KB)

Abstract

Selama penerapan Diagnosis Related Group di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito, terjadi kesenjangan tarif biaya riil pelayanan kesehatan dengan tarif Indonesia Case Base Groups (INA-CBGs). Penyebab terbesar kesenjangan tarif tersebut adalah pelayanan obat dan penggunaan sumber daya laboratorium yang tidak efisien. Biaya pelayanan penunjang medis untuk pasien leukemia limfoblastik akut adalah sekitar 23,8% dari total biaya pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efisiensi penggunan sumber daya laboratorium dan pengaruh terhadap kesenjangan tarif. Penelitian ini menganalisis semua rekam medis dan data biaya pelayanan laboratorium pasien leukemia limfoblastik akut tahun 2009 _ 2010 di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Pemeriksaan kimia klinik menunjukkan pola pasien yang semakin parah, proporsi biaya pemeriksaan kimia klinik semakin rendah. Kondisi ini juga terjadi pada pemeriksaan radiologi, urine dan tinja rutin. Sementara pada pemeriksaan hematologi, mikrobiologi, dan imunologi/serologi menunjukkan pola semakin parah pasien maka semakin tinggi proporsi biaya pemeriksaan. Analisis regresi menemukan pemeriksaan kimia klinik meliputi mikrobiologi darah, ureum, magnesium, creatine kinase MB (blood) menyebabkan kesenjangan tarif semakin meningkat atau rumah sakit semakin dirugikan. Model regresi linier ini mempunyai nilai R2 sebesar 0,834 dengan nilai F = 84,475 (P < 0,05). Ketidakefisienan penggunaan sumber daya laboratorium pada pemeriksaan kimia klinik terdapat pada kelompok pasien tingkat keparahan ringan. Problems occurred during the implementation of Diagnosis Related Group in Sardjito Hospital Yogyakarta. There was gap price between the real cost of health care and Indonesia Case Base Groups (INA-CBGs) cost. The cause of the gap price was drug delivery and use of laboratory resources inefficiently. Cost of medical support services for acute lymphoblactic leukemia patients about 23.8% of the total cost of health care. This study aimed to analyze efficiency of the use of laboratory resources and their effect to discrepancy of price.This study analyzed all medical records and laboratory services cost data in 2009 _ 2010 acute lymphoblastic leukemia patients at Sardjito Hospital Yogyakarta. Clinical chemistry test showed a pattern of more severe patients, the lower the percentage of clinical chemistry fees. This condition also occurs in radiological, urine test, and stool. While the test of hematology, microbiology and immunology/serology showed a pattern, the more severe the patient, the higher the percentage of the cost of the test. The results of the regression analysis showed that the more higher cost of clinical chemistry test (blood microbiology, urea, magnesium, creatine kinase MB (blood)) the higher discrepanct of price which causes the hospital getting harmed. Linear regression model has a value of determination coeficient 0.834 with a value of F = 84.475 (P < 0.05). Inefficiency of resource use in the test of clinical chemistry laboratory located on the mild severity of the patient group.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Volume 13, Issue 4, May 2019 Volume 13, Issue 3, February 2019 Volume 13, Issue 2, November 2018 Volume 13, Issue 1, August 2018 Volume 12, Issue 4, May 2018 Volume 12, Issue 3, February 2018 Volume 12, Issue 2, November 2017 Volume 12, Issue 1, August 2017 Volume 11, Issue 4, May 2017 Volume 11, Issue 3, February 2017 Volume 11, Issue 2, November 2016 Volume 11, Issue 1, August 2016 Vol. 10 No. 4 May 2016 Vol. 10 No. 3 February 2016 Vol. 9 No. 4 Mei 2015 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 10 No. 2 November 2015 Vol. 10 No. 1 Agustus 2015 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 1 Agustus 2012 Vol. 6 No. 6 Juni 2012 Vol. 6 No. 5 April 2012 Vol. 6 No. 4 Februari 2012 Vol. 6 No. 3 Desember 2011 Vol. 6 No. 2 Oktober 2011 Vol. 6 No. 1 Agustus 2011 Vol. 5 No. 6 Juni 2011 Vol. 5 No. 5 April 2011 Vol. 5 No. 4 Februari 2011 Vol. 5 No. 3 Desember 2010 Vol. 5 No. 2 Oktober 2010 Vol. 5 No. 1 Agustus 2010 Vol. 4 No. 6 Juni 2010 Vol. 4 No. 5 April 2010 Vol. 4 No. 4 Februari 2010 Vol. 4 No. 3 Desember 2009 Vol. 4 No. 2 Oktober 2009 Vol. 4 No. 1 Agustus 2009 Vol. 3 No. 6 Juni 2009 Vol. 3 No. 5 April 2009 Vol. 3 No. 4 Februari 2009 Vol. 3 No. 3 Desember 2008 Vol. 3 No. 2 Oktober 2008 Vol. 3 No. 1 Agustus 2008 Vol. 2 No. 6 Juni 2008 Vol. 2 No. 5 April 2008 Vol. 2 No. 4 Februari 2008 Vol. 2 No. 3 Desember 2007 Vol. 2 No. 2 Oktober 2007 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 6 Juni 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 vol. 1 No. 3 Desember 2006 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 Vol. 1 No. 1 Agustus 2006 More Issue