cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : -
Core Subject : Health,
Kesmas: National Public Health Journal is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance health of the public through scientific approach applying variety of technique. This focus includes area and scope such as biostatistics, epidemiology, health education and promotion, health policy and administration, environmental health, public health nutrition, sexual and reproductive health, and occupational health and safety.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue " Vol. 7 No. 1 Agustus 2012" : 14 Documents clear
Modal Sosial: Kekuatan dan Pertahanan di Bantaran Sungai Salmah, Sjarifah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 1 Agustus 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.62 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i1.73

Abstract

Di bantaran sungai Ciliwung terdapat permukiman penduduk seluas lebih dari 6 hektar yang berpotensi mengubah lahan menjadi kumuh, padat, dan tidak manusiawi yang berdampak pada kualitas lingkungan fisik dan nonfisik yang tidak sehat. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambarankarakter modal sosial yang dimiliki penduduk pemukim lama di bantaran sungai, menganalisis implikasi modal sosial terhadap kebijakan pemerintah, serta menyumbangkan model penerapan pemberdayaan modal sosial pada penataan bantaran sungai. Penelitian kualitatif yang dilengkapi data kuantitatif lapangan ini disebut kuasi kualitatif. Populasi penelitian ini adalah kualitas lingkungan fisik alami dan modal sosial komunitas yang bermukim sepanjang bantaran sungai Ciliwung. Sampel adalah kualitasfisik alami bantaran sungai dan modal sosial komunitas yang bermukim lama di bantaran sungai Ciliwung Manggarai. Lebih dari setengah karakter modal sosial milik komunitas bantaran sungai Ciliwung Manggarai dimanfaatkan untuk kegiatan sosial membantu sesama dalam kegiatan sosial,sisanya lumpuh oleh kondisi yang berkembang. Implikasi modal sosial akan bermanfaat apabila kekuatan modal sosial digerakkan dan diberdayakan optimal serta diarahkan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Model pemberdayaan komunitas bantaran sungai Ciliwung Manggarai diskenariokan dengan menyandingkan kebijakan pemerintah pusat, daerah, dan kebijakan modal sosial yang dimanfaatkan untuk mengurangi kekumuhan permukiman di ibu kota dan meningkatkan kualitas lingkungan pada bantaran sungai Ciliwung Manggarai.Kata kunci: Bantaran sungai, modal sosial, permukiman pendudukAbstractIn the banks of Ciliwung river people live in more than 6 hectare areas that potentially turn into slum, full, and inhuman that affect on unhealthy physical and nonphysical quality. The purpose of this study is to obtain an overview of social capital character owned the old settlers along the river,analizing the implications of social capital towards government policies, and to donate empowerment model in the application of social capital in the arrangement of the riverbanks. Qualitative research incorporating quantitative data field is called quasi-qualitative. Population is the quality of the natural physical environment and social capital communities who live in Ciliwung riverbank. Samples are natural physical quality and the social capital of communities living in Ciliwung Manggarai riverbanks. More than half of the social capital there used for social activities such as helping others insocial activities. The implications of social capital would be beneficial if its strength mobilized and empowered optimally and targetted to improve the quality of the environment. Community empowerment model in Ciliwung Manggarai riverbank is scripted by juxtaposing central government policy,regional policy, and social capital policy. It is used to reduce slum area and enhance environmental quality in Ciliwung Manggarai riverbanks.Keywords: Riverbanks, social capital, settlement area
Peran Dokter Ahli Kebidanan dan Kandungan Meiyetriani, Eflita; Utomo, Budi; Besral, Besral; Santoso, Budi Iman; Salmah, Sjarifah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 1 Agustus 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.912 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i1.74

Abstract

Salah satu bentuk medikalisasi kelahiran adalah angka persalinan sectio caesarea yang tinggi. Hasil beberapa studi menunjukkan bahwa dokter ahli kebidanan dan kandungan merupakan faktor penting yang menentukan persalinan yang dijalani responden. Penelitian ini bertujuan menilai perandokter ahli kebidanan dan kandungan dalam mengambil keputusan untuk melakukan sectio caesarea dibandingkan persalinan normal dengan mengontrol variabel sosiodemografi dan faktor risiko ibu. Penelitian dilakukandengan metode cross sectional menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) DKI Jakarta. Populasi penelitian adalah wanita pernah kawin usia 15 – 44 tahun yang memiliki riwayat melahirkan 5 tahun terakhir sebelum survei dilakukan. Hasil penelitian menunjukkanpemilihan petugas pelayanan antenatal berhubungan dengan persalinan sectio caesarea, tetapi hubungan ini tidak berdiri sendiri, terkait dengan pengaruh status ekonomi rumah tangga. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara responden yang memilihdokter ahli kebidanan dan kandungan sebagai petugas pelayanan antenatal dengan persalinan sectio caesarea yang juga dipengaruhi oleh status sosial ekonomi rumah tangga responden. Selain status sosial ekonomi, variabel yang berhubungan dengan persalinan sectio caesarea adalah usiaibu, paritas ibu, pendidikan ibu, riwayat komplikasi kehamilan, dan riwayat perdarahan.Kata kunci: Sectio caesarea, dokter ahli kebidanan dan kandungan, sosiodemografi, faktor risiko ibuAbstractOne of the birth medicalization form is the high number of sectio caesarea deliveries. Result of some studies shows that obstetrician is a factor which can determine the preference type of delivery. The purpose of this study is to assess the role of the obstectrician in order to make decision making inpreference sectio caesarea delivery than vaginal delivery after controlled with sociodemographic factors and maternal risk factor. The study was a cross sectional study using a quantitative approach. This study using secondary data which obtained from Indonesia Demographic and Health Survey 2007 with subset of the research is DKI Jakarta region. Population of this study was married women with age between 15 – 44 years old who has delivery history in term of 5 years before the survey. The study shows significant correlation between prenatal care workers with sectio caesarea delivery but this correlation also has an interaction with household economic status variables. There is significant correlation between respondent whose prenatal care with obstectrician with sectio caesarea delivery. This correlation also related with household economic status. Others variables related to sectio caesarea delivery beside social economic status are maternalage, parity, maternal education, complication during pregnancy history, and bleeding history.Keywords: Sectio caesarea, obstetrician, sociodemographic, maternal risk factor
Kebutuhan Jaminan Kesehatan Masyarakat di Wiliyah Perdesaan Kurniawan, Arif; Intiasari, Arih Diyaning
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 1 Agustus 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.333 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i1.69

Abstract

Jaminan kesehatan adalah salah satu cara untuk mengurangi beban pembiayaan kesehatan yang dikeluarkan masyarakat. Sebagian besar masyarakat perdesaan di Kabupaten Banyumas yang mempunyai tingkat kemampuan membayar pelayanan kesehatan rendah belum mempunyai jaminan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan jaminan dan faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan masyarakat daerah. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain studi cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh kepala keluarga diKabupaten Banyumas dengan jumlah sampel 130 orang. Metode analisis yang digunakan meliputi analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Penelitian menemukan bahwa sebagian besar masyarakat Kabupaten Banyumas (72,3%) membutuhkan jaminan kesehatan daerah (Jamkesda).Terdapat hubungan antara pendidikan, pengetahuan, pendapatan, dan keyakinan terhadap mutu pelayanan kesehatan serta pola pembiayaan kesehatan dengan kebutuhan Jamkesda. Persepsi berpengaruh terhadap tarifpelayanan kesehatan dengan kebutuhan Jamkesda. Persepsi terhadap tarif pelayanan kesehatan merupakan variabel yang berpengaruh terhadap kebutuhan Jamkesda.Kata kunci: Kebutuhan, pembiayaan kesehatan daerah, jaminan kesehatanAbstractHealth insurance is one of the ways to reduce the burden of health financing issued by the society. Most communities in Banyumas district living in rural areas do not have health insurance. Rural communities in Banyumas district have low ability to pay health care services. The aim of this study isto analyze the health insurance needs of local communities and the factors that affect the public health insurance need of the area. This study is an observational study with survey research methods. This study used cross sectional approach. The study population was all households in Banyumas district.The research sample consisted of 130 people. Retrieval research data used a questionnaire instrument. Analysis of research data used univariate, bivariate, and multivariate. The research was conducted in Banyumas district. Most people in Banyumas district (72,3%) required regional health insurance. The result showed no relationship between education, knowledge, income, beliefs in health care quality and patterns of health financing in local communities needs of health insurance. The result showed the influence perceptions of health care rates with the health insurance needs of local communities. Perceptions of health care is a variable rate which affects the health insurance needs of local communities.Keywords: Needs, district health financing, health insurance
Insentif Uang Tunai dan Peningkatan Kinerja Kader Posyandu Wisnuwardani, Ratih Wirapuspita
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 1 Agustus 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.667 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i1.75

Abstract

Sejak tahun 2000 pos pelayanan terpadu (posyandu) telah berkembang baik, tetapi kekurangan dana dan pelatihan mengalami penurunan kinerja akibat krisis ekonomi. Hal tersebut terlihat pada penurunan kunjungan dan drop out kader yang menghadapi banyak tugas, besar cakupan, dan kurang mampu merespon tuntutan masyarakat. Pedoman World Health Organization (WHO) terakhir menyatakan bahwa untuk menjamin keberlanjutan program jangka panjang, kader perlu dibayar. Kabupaten Penajam Paser Utara memberikan insentif kader terbesar di Indonesia. Studi inimengkaji peningkatan kinerja kader posyandu di Kabupaten Penajam Paser Utara pada tahun 2010 akibat pemberian insentif uang tunai. Penelitian kualitatif yang menggunakan rancangan fenomenologi ini menghimpun data 18 orang meliputi 15 orang dari instansi pemerintah dan 3 orang kader. Studi dengan metode analisis isi ini menemukan bahwa pemerintah memberikan uang sebagai insentif bagi kader menyebabkan kader bersemangat dalam bekerja dan berkompetisi. Pemerintah terlihat sangat berperan meningkatkan kinerja kader, tetapi masyarakat masih kurangberperan. Studi ini menyimpulkan bahwa insentif uang tunai dapat meningkatkan kinerja kader posyandu.Kata kunci: Insentif, kinerja, kader, posyanduAbstractSince 2000 Posyandu has grown well, but its performance was declining as indicated by the decreasing of visitors as well as the cadres because economic crisis. The problems within the cadres include excess workload and area to be covered and lack of capability to respond to the community demand.The latest guidelines of World Health Organization (WHO) identified that cadres incentive is needed for the long term sustainability. Penajam Paser Utara which gave the highest incentive in Indonesia for its cadres. This study was aimed to explore in depth the Penajam Paser Utara cadres performance improvement in 2010 in relation to financial incentives. This isa qualitative study using phenomenologic design. Informants were 18 persons origined from the government office and 3 cadres. Data were obtained through indepth interview and analysis using content analysis. The result showed that the government provided financial incentive for cadres recognition and posyandu revitalization. Financial incentive was found motivated the cadres to work and enhance their competence. Although the government had played role in improving cadres performance, yet the community still had limited participation. It could be concluded that financial incentive could improve performance of posyandu cadres.Key words: Incentive, performance, cadre, posyandu
Berat Lahir dan Kelangsungan Hidup Neonatal di Indonesia Simbolon, Demsa
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 1 Agustus 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.035 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i1.70

Abstract

Angka kematian neonatal Indonesia menduduki peringkat ke-10 tertinggi di dunia disebabkan kejadian bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berat lahir terhadap kelangsungan hidup neonatal. Penelitian dengan desain studi kohort retrospektif ini menggunakan sumber data sekunder Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2007. Sampel meliputi 11.748 bayi yang memenuhi kriteria anak terakhir lahir hidup, lahir tunggal, dan saat wawancara berumur minimal 28 hari. Probabilitas kumulatif kelangsungan hidupneonatal di Indonesia adalah 98,49% dan cenderung semakin rendah sesuai dengan berat lahir, pada neonatal dengan berat lahir rendah adalah 95,68% dan neonatal berat lahir sangat rendah adalah 89,83%. Berat lahir berinteraksi dengan paritas ibu. Artinya, pengaruh berat lahir terhadap kelangsungan hidup neonatal berbeda berdasarkan paritas ibu. Bayi BBLR dari ibu paritas multipara dan grande multipara berisiko 2,9 kali dan 3,9 kali untuk mengalami kematian pada periode neonatal dibandingkan bayi lahir dengan berat normal. Disarankan untuk melakukan intervensi dini mencegah bayi lahir BBLR dan penanganan intensif terhadap bayi lahir BBLR.Kata kunci: Berat lahir, kelangsungan hidup neonatal, paritas ibuAbstractNeonatal mortality rate in Indonesia was ranked as 10th highest in the world because of high prevalence of infants low birth weight. This research used Indonesia Demographic and Health Survey 2007 data with retrospective cohort design. The purposes of the research are to measure the probability ofneonatal survival according to birth weight and to identify effect of birth weight on neonatal survival. The number of sample is 11.748 infants with inclusion criteria born alive, single birth, and at least 28 days old when interviewed.The study found the cumulative probability of neonatal survival in Indonesia was 98,49% and getting lower according to birth weight, at neonatal with low birth weight is 95,68% and 89,83% at neonatal with very low weight. Birth weight modification related to maternal parity, so that the influence of birth weight on neonatal survival depent on the maternal parity. Low birth weight infants of multiparous and grandemultiparous maternal parity risk 2,9 and 3,9 times experienced death in the neonatal period compared with normal birth weight. Early interventions to prevent low birth weight and intensive care to infants with low birth weight are suggested.Keywords: Birth weight, neonatal survival, maternal parity
Faktor Risiko Diare Shigellosis pada Anak Balita Abdullah, A. Zulkifli; Arsin, A. Arsunan; Dahlan, Lidyawati
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 1 Agustus 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.177 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i1.71

Abstract

Diare shigellosis pada balita merupakan masalah serius sebab dapat menyebabkan kematian. Untuk mengetahui faktor-faktor risiko kejadian shigellosis pada anak balita dilakukan studi kasus kontrol di beberapa rumah sakit di Kota Makassar dengan 68 kasus dan 136 kontrol. Datamengenai jenis kelamin dan status gizi anak balita, pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, status ekonomi, pendidikan ibu, kebiasaan ibu mencuci tangan memakai sabun, kepadatan hunian rumah, sarana air bersih, danjamban keluarga dikumpulkan dengan wawancara dan observasi serta dikategorikan dan disaring (screening) dengan uji chi square. Enam variabel dengan nilai p < 0,25 dimasukkan dalam uji regresi logistik yang menghasilkan3 variabel dengan nilai p < 0,05 (gizi rendah, ASI tidak eksklusif, dan status ekonomi rendah). Uji regresi logistik tahap kedua dengan 3 variabel ini menghasilkan model shigellosis = 1,47 gizi rendah + 1,471 ASI tidak eksklusif + 1,022 status ekonomi rendah – 2,546” dengan nilai oddsratio (OR) = 4,352 (gizi rendah), 4,353 (ASI tidak eksklusif), dan 2,779 (status ekonomi rendah). Studi ini menyimpulkan bahwa gizi balita yang rendah, pemberian ASI yang tidak eksklusif, dan status ekonomi ibu yang rendah merupakan faktor-faktor risiko penting kejadian diare shigellosis padabalita.Kata kunci: Balita, diare, shigellosis, status giziAbstractShigellosis diarrhea is a serious issue to children under five years old since it may lead to death. To determine the risk factors influence to children under five shigellosis, a case control study conducted in hospitals in Makassar involving 68 cases and 136 controls. Data on sex, nutrition status of children under five, exclusive breastfeeding, economic status, education, hand washing with soap, house density, clean water facility, and toilet were collected by interview and observation. All collected data were categorized and screened using chi-square test to obtain variables for logistic regression. Sixvariables with p value < 0,25 were putted to logistic regression resulted 3 variables with p value < 0,05 (low nutrition status, p value = 0,00; nonexclusive breastfeeding, p value = 0,00; low economic status of mother, p value = 0,00). These variables gave final model of “shigellosis = 1,47 low nutrition status + 1,471 nonexclusive breastfeeding + 1,022 low economic status – 2,546” with odds ratio (OR) = 4,352 (low nutrition status), 4,353 (nonexclusive breastfeeding), and 2,779 (low economic status of mother). This study concludes that low nutrition status, nonexclusive breastfeeding, and low economic status of mother are important risk factors of shigellosis in children under five.Key words: Children under five, diarrhea, logistic regression, shigellosis, nutrition status
Pengendalian Malaria dalam Upaya Percepatan Pencapaian Target Millennium Development Goals Lestari, Tri Rini Puji
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 1 Agustus 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.373 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i1.72

Abstract

Di Provinsi Maluku Utara, malaria berada pada level endemi tinggi dengan total Annual Parasite Incidence (API) > 5 ‰ dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembanganpengendalian penyakit malaria di Provinsi Maluku Utara dalam upaya percepatan pencapaian target 6C Millennium Development Goals (MDGs). Penelitian menggunakan metode studi kualitatif yang dilakukan pada informan terpilih meliputi petugas kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara, petugas kesehatan Malaria Center, dan tokoh masyarakat pemerhati malaria. Pengambilan data dilakukan pada tanggal10 – 16 April 2011 dengan menggunakan metode wawancara mendalam. Ditemukan bahwa program pengendalian malaria telah dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara, tetapi belum mampu secara efektif menurunkan angka kesakitan malaria sebab pengendalian yang dilakukan tidak komprehensif. Penanganan masih lebih banyak ditujukan untuk memutuskan mata rantai penularan pada manusia, sementara pada nyamuk sebagai “mesin perang” serta habitatnya belum tersentuh secara maksimal.Kata kunci: Pengendalian malaria, millennium development goals, angka kesakitan malariaAbstractMalaria is one of public health problem in North Maluku Province because endemic levels are high with a total Annual Parasite Incidence (API) > 5 ‰. The purpose of this study was to determine the development of malaria controlin North Maluku in order to accelerate the achievement of Millennium Development Goals (MDGs) target related to malaria 6C. The study design used is qualitative that been done on selected informants. Informants consisted of health workers in Departement of Health North Maluku Province,health official Malaria Center, and community leaders who observe malaria. Retrieval of data time is 10 – 16 April 2011 by in-depth interviews. It was found that malaria control programs have been implemented by the Departement of Health North Maluku Province, but have not been able to effectively reduce malaria morbidity. This is because malaria control is performed is not comprehensive. Handling is more directed to break the chain transmission to human, their habitats have not been touched up.Key words: Control of malaria, millennium development goals, malaria morbidity
Modal Sosial: Kekuatan dan Pertahanan di Bantaran Sungai Salmah, Sjarifah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 1 Agustus 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.62 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i1.73

Abstract

Di bantaran sungai Ciliwung terdapat permukiman penduduk seluas lebih dari 6 hektar yang berpotensi mengubah lahan menjadi kumuh, padat, dan tidak manusiawi yang berdampak pada kualitas lingkungan fisik dan nonfisik yang tidak sehat. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambarankarakter modal sosial yang dimiliki penduduk pemukim lama di bantaran sungai, menganalisis implikasi modal sosial terhadap kebijakan pemerintah, serta menyumbangkan model penerapan pemberdayaan modal sosial pada penataan bantaran sungai. Penelitian kualitatif yang dilengkapi data kuantitatif lapangan ini disebut kuasi kualitatif. Populasi penelitian ini adalah kualitas lingkungan fisik alami dan modal sosial komunitas yang bermukim sepanjang bantaran sungai Ciliwung. Sampel adalah kualitasfisik alami bantaran sungai dan modal sosial komunitas yang bermukim lama di bantaran sungai Ciliwung Manggarai. Lebih dari setengah karakter modal sosial milik komunitas bantaran sungai Ciliwung Manggarai dimanfaatkan untuk kegiatan sosial membantu sesama dalam kegiatan sosial,sisanya lumpuh oleh kondisi yang berkembang. Implikasi modal sosial akan bermanfaat apabila kekuatan modal sosial digerakkan dan diberdayakan optimal serta diarahkan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Model pemberdayaan komunitas bantaran sungai Ciliwung Manggarai diskenariokan dengan menyandingkan kebijakan pemerintah pusat, daerah, dan kebijakan modal sosial yang dimanfaatkan untuk mengurangi kekumuhan permukiman di ibu kota dan meningkatkan kualitas lingkungan pada bantaran sungai Ciliwung Manggarai.Kata kunci: Bantaran sungai, modal sosial, permukiman pendudukAbstractIn the banks of Ciliwung river people live in more than 6 hectare areas that potentially turn into slum, full, and inhuman that affect on unhealthy physical and nonphysical quality. The purpose of this study is to obtain an overview of social capital character owned the old settlers along the river,analizing the implications of social capital towards government policies, and to donate empowerment model in the application of social capital in the arrangement of the riverbanks. Qualitative research incorporating quantitative data field is called quasi-qualitative. Population is the quality of the natural physical environment and social capital communities who live in Ciliwung riverbank. Samples are natural physical quality and the social capital of communities living in Ciliwung Manggarai riverbanks. More than half of the social capital there used for social activities such as helping others insocial activities. The implications of social capital would be beneficial if its strength mobilized and empowered optimally and targetted to improve the quality of the environment. Community empowerment model in Ciliwung Manggarai riverbank is scripted by juxtaposing central government policy,regional policy, and social capital policy. It is used to reduce slum area and enhance environmental quality in Ciliwung Manggarai riverbanks.Keywords: Riverbanks, social capital, settlement area
Kebutuhan Jaminan Kesehatan Masyarakat di Wiliyah Perdesaan Kurniawan, Arif; Intiasari, Arih Diyaning
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 1 Agustus 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.333 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i1.69

Abstract

Jaminan kesehatan adalah salah satu cara untuk mengurangi beban pembiayaan kesehatan yang dikeluarkan masyarakat. Sebagian besar masyarakat perdesaan di Kabupaten Banyumas yang mempunyai tingkat kemampuan membayar pelayanan kesehatan rendah belum mempunyai jaminan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan jaminan dan faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan masyarakat daerah. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain studi cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh kepala keluarga diKabupaten Banyumas dengan jumlah sampel 130 orang. Metode analisis yang digunakan meliputi analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Penelitian menemukan bahwa sebagian besar masyarakat Kabupaten Banyumas (72,3%) membutuhkan jaminan kesehatan daerah (Jamkesda).Terdapat hubungan antara pendidikan, pengetahuan, pendapatan, dan keyakinan terhadap mutu pelayanan kesehatan serta pola pembiayaan kesehatan dengan kebutuhan Jamkesda. Persepsi berpengaruh terhadap tarifpelayanan kesehatan dengan kebutuhan Jamkesda. Persepsi terhadap tarif pelayanan kesehatan merupakan variabel yang berpengaruh terhadap kebutuhan Jamkesda.Kata kunci: Kebutuhan, pembiayaan kesehatan daerah, jaminan kesehatanAbstractHealth insurance is one of the ways to reduce the burden of health financing issued by the society. Most communities in Banyumas district living in rural areas do not have health insurance. Rural communities in Banyumas district have low ability to pay health care services. The aim of this study isto analyze the health insurance needs of local communities and the factors that affect the public health insurance need of the area. This study is an observational study with survey research methods. This study used cross sectional approach. The study population was all households in Banyumas district.The research sample consisted of 130 people. Retrieval research data used a questionnaire instrument. Analysis of research data used univariate, bivariate, and multivariate. The research was conducted in Banyumas district. Most people in Banyumas district (72,3%) required regional health insurance. The result showed no relationship between education, knowledge, income, beliefs in health care quality and patterns of health financing in local communities needs of health insurance. The result showed the influence perceptions of health care rates with the health insurance needs of local communities. Perceptions of health care is a variable rate which affects the health insurance needs of local communities.Keywords: Needs, district health financing, health insurance
Peran Dokter Ahli Kebidanan dan Kandungan Meiyetriani, Eflita; Utomo, Budi; Besral, Besral; Santoso, Budi Iman; Salmah, Sjarifah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 1 Agustus 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.912 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i1.74

Abstract

Salah satu bentuk medikalisasi kelahiran adalah angka persalinan sectio caesarea yang tinggi. Hasil beberapa studi menunjukkan bahwa dokter ahli kebidanan dan kandungan merupakan faktor penting yang menentukan persalinan yang dijalani responden. Penelitian ini bertujuan menilai perandokter ahli kebidanan dan kandungan dalam mengambil keputusan untuk melakukan sectio caesarea dibandingkan persalinan normal dengan mengontrol variabel sosiodemografi dan faktor risiko ibu. Penelitian dilakukandengan metode cross sectional menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) DKI Jakarta. Populasi penelitian adalah wanita pernah kawin usia 15 – 44 tahun yang memiliki riwayat melahirkan 5 tahun terakhir sebelum survei dilakukan. Hasil penelitian menunjukkanpemilihan petugas pelayanan antenatal berhubungan dengan persalinan sectio caesarea, tetapi hubungan ini tidak berdiri sendiri, terkait dengan pengaruh status ekonomi rumah tangga. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara responden yang memilihdokter ahli kebidanan dan kandungan sebagai petugas pelayanan antenatal dengan persalinan sectio caesarea yang juga dipengaruhi oleh status sosial ekonomi rumah tangga responden. Selain status sosial ekonomi, variabel yang berhubungan dengan persalinan sectio caesarea adalah usiaibu, paritas ibu, pendidikan ibu, riwayat komplikasi kehamilan, dan riwayat perdarahan.Kata kunci: Sectio caesarea, dokter ahli kebidanan dan kandungan, sosiodemografi, faktor risiko ibuAbstractOne of the birth medicalization form is the high number of sectio caesarea deliveries. Result of some studies shows that obstetrician is a factor which can determine the preference type of delivery. The purpose of this study is to assess the role of the obstectrician in order to make decision making inpreference sectio caesarea delivery than vaginal delivery after controlled with sociodemographic factors and maternal risk factor. The study was a cross sectional study using a quantitative approach. This study using secondary data which obtained from Indonesia Demographic and Health Survey 2007 with subset of the research is DKI Jakarta region. Population of this study was married women with age between 15 – 44 years old who has delivery history in term of 5 years before the survey. The study shows significant correlation between prenatal care workers with sectio caesarea delivery but this correlation also has an interaction with household economic status variables. There is significant correlation between respondent whose prenatal care with obstectrician with sectio caesarea delivery. This correlation also related with household economic status. Others variables related to sectio caesarea delivery beside social economic status are maternalage, parity, maternal education, complication during pregnancy history, and bleeding history.Keywords: Sectio caesarea, obstetrician, sociodemographic, maternal risk factor

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Volume 13, Issue 4, May 2019 Volume 13, Issue 3, February 2019 Volume 13, Issue 2, November 2018 Volume 13, Issue 1, August 2018 Volume 12, Issue 4, May 2018 Volume 12, Issue 3, February 2018 Volume 12, Issue 2, November 2017 Volume 12, Issue 1, August 2017 Volume 11, Issue 4, May 2017 Volume 11, Issue 3, February 2017 Volume 11, Issue 2, November 2016 Volume 11, Issue 1, August 2016 Vol. 10 No. 4 May 2016 Vol. 10 No. 3 February 2016 Vol. 9 No. 4 Mei 2015 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 10 No. 2 November 2015 Vol. 10 No. 1 Agustus 2015 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 1 Agustus 2012 Vol. 6 No. 6 Juni 2012 Vol. 6 No. 5 April 2012 Vol. 6 No. 4 Februari 2012 Vol. 6 No. 3 Desember 2011 Vol. 6 No. 2 Oktober 2011 Vol. 6 No. 1 Agustus 2011 Vol. 5 No. 6 Juni 2011 Vol. 5 No. 5 April 2011 Vol. 5 No. 4 Februari 2011 Vol. 5 No. 3 Desember 2010 Vol. 5 No. 2 Oktober 2010 Vol. 5 No. 1 Agustus 2010 Vol. 4 No. 6 Juni 2010 Vol. 4 No. 5 April 2010 Vol. 4 No. 4 Februari 2010 Vol. 4 No. 3 Desember 2009 Vol. 4 No. 2 Oktober 2009 Vol. 4 No. 1 Agustus 2009 Vol. 3 No. 6 Juni 2009 Vol. 3 No. 5 April 2009 Vol. 3 No. 4 Februari 2009 Vol. 3 No. 3 Desember 2008 Vol. 3 No. 2 Oktober 2008 Vol. 3 No. 1 Agustus 2008 Vol. 2 No. 6 Juni 2008 Vol. 2 No. 5 April 2008 Vol. 2 No. 4 Februari 2008 Vol. 2 No. 3 Desember 2007 Vol. 2 No. 2 Oktober 2007 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 6 Juni 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 vol. 1 No. 3 Desember 2006 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 Vol. 1 No. 1 Agustus 2006 More Issue