cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : -
Core Subject : Health,
Kesmas: National Public Health Journal is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance health of the public through scientific approach applying variety of technique. This focus includes area and scope such as biostatistics, epidemiology, health education and promotion, health policy and administration, environmental health, public health nutrition, sexual and reproductive health, and occupational health and safety.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue " Vol. 5 No. 5 April 2011" : 14 Documents clear
Sprinkles: Strategi Baru Pengendalian Defisiensi Zat Besi dan Anemia pada Bayi dan Anak di Negara Berkembang Umniyati, Helwiah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 5 No. 5 April 2011
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.816 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v5i5.126

Abstract

Anemia defisiensi besi pada bayi dan anak-anak merupakan masalah gizi di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia, sementara program suplementasi dengan sirup atau tetes besi folat tidak efektif sehingga kepatuhannya rendah akibat keluhan rasa logam, pewarnaan gigi, gangguanlambung, dan potensi overdosis. Untuk meningkatkan kepatuhan suplementasi, telah dikembangkan formula micronutrient sprinkles, suatu metode baru fortifikasi zat besi yang dienkapsulasi dalam bentuk serbuk pada makanan tambahan berisi multi vitamin dan mineral. Studi kepustakaan ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pengobatan anemia pada bayi dan anak dengan formula sprinkles. Studi ini didasarkan pada rangkaian studi efikasi di Ghana dan beberapa negara lainnya. Hasil studi membuktikan bahwa suplementasi besi dengan sprinkles mempunyai efektivitas yang sama dengan sirup atau tetes besi dalam mengobati anemia dengan tingkat kepatuhannya sangat tinggi. Di Indonesia, sprinkles besi telah banyak digunakan, termasuk untuk meningkatkan status gizi anak-anak pada saat bencana. Kementerian Kesehatan RI melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Gizi Bogor telah mengembangkan sprinkles dengan nama Taburia yang telah diuji efikasi di Jakarta. Saat ini Taburia digunakan di Provinsi Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Barat. Kata kunci: Anemia, bayi, anak-anak, defisiensi besi, sprinklesAbstractIron deficiency anemia in infants and children is one of nutritional problems in developing countries including Indonesia, where supplementation program using iron folic acid syrup or drops is not effective with low compliancedue to complaint in metallic taste, teeth staining, stomach disorders, and potential overdose. To improve the supplementation compliance, micronutrient sprinkles formula, a new encapsulated iron fortification in powder form containingmultivitamins and minerals has been developed. The objective of this literature study is to know the affectivity of sprinkles formula for anemia cure  in infants and children. This study was based on series of efficacy in Ghana and other countries. It shows that the sprinkles formula is effective as the syrup or drop formula in curing infants and children anemia with very high level of compliance. In Indonesia, iron sprinkles have been used widely including for improving nutritional status of children during disaster. Indonesian Ministry of Health through Bogor Nutritional Agency for Research and Development has developed sprinkles formula Taburia that already tested in Jakarta. Currently, Taburia is used in Province of South Sumatra, North Sumatra, West Nusa Tenggara (NTB), East Nusa Tenggara (NTT), South Sulawesi, and West Kalimantan.Key words: Anemia, infant, children, iron deficiency, sprinkles
Tuberkulosis Paru di Palembang, Sumatera Selatan Versitaria, Hery Unita; Kusnoputranto, Haryoto
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 5 No. 5 April 2011
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.492 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v5i5.132

Abstract

Indonesia tercatat memiliki 304.787 penderita tuberkulosis yang menempatkannya pada peringkat ketiga terbanyak di dunia. Penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia serta nomor1 dari golongan penyakit infeksi. Angka kepadatan hunian rumah di Kota Palembang 5,84 lebih tinggi daripada angka ideal kepadatan hunian rumah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara sumber penular serumah, faktor lingkungan dalam rumah, dan karakteristik individu terhadap kejadian tuberkulosis paru basil tahan asam (BTA) (+) di Kota Palembang. Penelitian yang menggunakan desain kasus kontrol ini membandingkan kelompok kasus (BTA(+)) dan kelompok kontrol (BTA (-)) yang dilakukan di 16 wilayah kerja puskesmas dari 36 puskesmas yang ada di Kota Palembang. Model akhir diketahui bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian penyakit tuberkulosis paru BTA (+) adalah variabel status gizi. Seseorang yang bermukim di rumah dengan hunian kamar memiliki tingkat kepadatan tinggi (< 4 meter/orang), jenis kelamin lakilaki,dan status gizi yang buruk (indeks massa tubuh, IMT > 25,1 dan < 18,4) berisiko untuk menderita penyakit tuberkulosis paru BTA(+) 29 kali lebih besar dibanding orang yang tidak mempunyai faktor risiko tersebut. Kata kunci: Tuberkulosis, kepadatan hunian rumah, status giziAbstractIndonesia there were recorded 304.787 cases of tuberculosis that places at the third level in the world. Tuberculosis is the third level disease which caused of death after cardiovasculer and respiratori tract disease in all age groups and at the first level from all infectious disease. The residence densityrate in Palembang is higher 5,84 times than ideal rate. The objective of this study is aimed to evaluate the relationship between the source of infection in house, the environment in the house, and the individual characteristic with the occurrence of lung tuberculosis BTA (+) in Palembang City. The design of this study is case control comparing case group of tuberculosis(BTA (+)) and case of control group of BTA. This study was conducted in 16 work areas of 36 health centers in Palembang. In multivariat model, it is known that the closest relationship with the occurrence of tuberculosis is nutritional status. A person who lives with high density of residence (< 4 meter/ man), male, and bad status of nutrition (body mass index, BMI > 25,1 and < 18,4) has higher risk for having tuberculosis 29 times than who has not the risk factor.Key words: Tuberculosis, residence density rate, nutritional status
Peningkatan Peran Posyandu Partisipatif melalui Pendampingan dan Pelatihan Upaya Pemantauan Pertumbuhan dan Masalah Gizi Balita di Bone, Sulawesi Selatan Aminuddin, Aminuddin; Zulkifli, Andi; Djafar, Nurhaedar
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 5 No. 5 April 2011
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.793 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v5i5.127

Abstract

Keberadaan posyandu dalam mendukung program kesehatan, khususnya program kesehatan ibu dan anak, belum seperti yang diharapkan karena partisipasi masyarakat yang rendah dalam perencanaan, pengelolaan, dan pelaksanaan program posyandu. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program posyandu, khususnya dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan serta masalah gizi anak melalui pendampingan dan pelatihan learning organization (LO). Metode kuasi eksperimen (desain pre-post test treatment-control) digunakan untuk membandingkan posyandu yang didampingi dan dilatih dengan posyandu kontrol (yang tidak didampingi dan tidak dilatih) memakai uji Chi Square danMcNemar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendampingan dan pelatihan LO mempengaruhi posyandu, terutama terhadap kinerja kader. Namun, jumlah kader yang terdaftar di posyandu, ibu balita, dan pelayanan imunisasitidak terpengaruh. Disimpulkan bahwa posyandu partisipatif dapat mendukung surveilans pertumbuhan dan perkembangan anak.Kata kunci: Learning organization, pemantauan pertumbuhan, pendampingan, posyandu partisipatifAbstractThe existence of posyandu (integrated health post) in supporting health program, particularly in mother and child health, has not been as expected due to low community participation in planning, managing, and implementingposyandu programs. The present research is aimed at improving community participation in posyandu programs, especially in monitoring children growth and development as well as nutrition problems through assistantship and learning organization (LO) training. A quasi experimental method (prepost test treatment-control design) was employed to compare the assisted and trained posyandu with the control (unassisted and untrained) posyandu using Chi Square and McNemar tests. The results show that assistantship and LO training influenced the posyandu, particularly to the health volunteers performance. However, the number of health volunteers listed in the posyandu, children’s mother, and immunization service were not influenced. It is concluded that participative posyandu significantly support the children growth and development surveillance.Key words: Learning organization, assistantship, growth monitoring, participative posyandu
Lingkungan Fisik dan Angka Kuman Udara Ruangan di Rumah Sakit Umum Haji Makassar, Sulawesi Selatan Abdullah, M. Tahir; Hakim, Buraerah Abdul
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 5 No. 5 April 2011
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.539 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v5i5.128

Abstract

Udara merupakan salah satu media lingkungan tempat bakteri, virus, dan fungi hidup dan berkembang. Oleh karena mikroorganisme tersebut memerlukan berbagai persyaratan untuk tumbuh dan berkembang, faktor-faktor lingkungan fisik udara tertentu dapat berhubungan dengan angka kuman. Untuk menentukan hubungan ini, telah dilakukan studi potong lintang di ruang rawat inap pasien Rumah Sakit Umum Haji Makasar. Kualitas faktor-faktor lingkungan fisik (pencahayaan, suhu, kelembaban relatif, dankepadatan ruangan) dan angka kepadatan kuman dalam 5 ruang rawat inap (pavilion, kelas 1, kelas 2, kelas 3, dan recovery room) diukur 3 kali (pagi, siang, dan sebelum matahari terbenam) pada 3 titik pengukuran berbeda setiap ruang. Hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari 91% angka kuman dan 71%-87% kualitas lingkungan fisik tidak memenuhi kesehatan yang dipersyaratkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004. Berdasarkan 4 faktor lingkungan fisik yang diukur, hanya kelembaban relatif yang secara langsung berhubungan dengan angka kepadatan kuman (nilai p = 0,023), meskipun korelasi liniernya sangat rendah (korelasi Pearson 0,299). Sesuai dengan tingkat korelasi ini, kontribusi semua faktor lingkungan fisik kepada angka kuman hanya 14,6% (R2 = 0,382). Apabila disesuaikan dengan populasi standar, kontribusi ini hanya 6%.Kata kunci: Angka kuman, faktor lingkungan fisik, rumah sakit umum hajiAbstractAir is an environmental medium where microbe such as bacteria, viruses, and fungi can live and may infect exposed people. As the microbes require appropriate condition to live and grow, particular physical environment of air may associate with microbial density rate. To determine this association, across-sectional study has been conducted in in-patient wards of Makassar Public Hospital of Hajj. Quality of physical environment factors (lighting, temperature, relative humidity, and room density) and microbial density rate of indoor air in five in-patient wards (pavilion, class 1, class 2, class 3, and recovery room) were measured three times (morning, afternoon, and before sunset) at three different sampling sites of each room. The results show that more than 91% microbe rate and 71%-87% quality of physical environmental factors do not comply with the health requirements as regulated in the Ministry of Health Decision of 1204/MENKES/ SK/X/2004. Of four physical environmental factors quantified, only relative humidity is associated directly with the microbe rate (p = 0,023), although its linear correlation is very low (Pearson correlation 0,299). Correspondingly, contribution of all physical environmental factors to the microbe rate is only 6% (R2 = 0,382). Adjusted to the population standard, this contribution is only 6%.Key words: Physical environment factor, microbe rate, hajj public hospital
Profil Lipid, Peroksidasi Lipid, dan Status Inflamatif Wanita Penderita Sindrom Metabolik Winarsi, Hery; Wijayanti, Siwi P.M.; Purwanto, Agus
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 5 No. 5 April 2011
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.299 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v5i5.129

Abstract

Prevalensi sindrom metabolik (SM) di Indonesia (13,13%) tergolong tinggi dengan kecenderungan terus meningkat. Salah satu akibat SM adalah disfungsi endotel, sebagai awal penyakit kardiovaskuler yang diinduksi oleh stres oksidatif dan inflamatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasiprofil lipid, peroksidasi lipid, dan marker inflamasi pada wanita penderita SM di Purwokerto. Sebanyak 30 wanita dengan kadar gula darah diatas normal, obesitas body mass index (BMI) > 25 kg/m2, dan berusia 40-65 tahun dilibatkan sebagai responden yang dipilih melalui survei di PoliklinikPenyakit Dalam Rumah Sakit Margono Soekarjo. Kadar kolesterol total, trigliserida, high density lipoprotein, low density lipoprotein, malondialdehid, dan plasma C-reactive protein ditentukan dalam darah responden yang mempunyai kadar gula sewaktu > 200 mg/dL. Ditemukan bahwa wanitadengan SM rata-rata berumur 50,4 tahun; BMI 31,89 kg/m2; kadar gula darah 219,4 mg/dL; kolesterol total 216,73 mg/dL; trigliserida 218,13 mg/dL; HDL 46,59 mg/dL; LDL 146,27 mg/dL; MDA 2943,4 pmol/mL; C-RP 7,62 mg/L; dan tekanan darah 153/103 mmHg. Hasil ini menunjukkan bahwapenderita SM mengalami dislipidemia disertai dengan status antioksidan rendah dan inflamasi.Kata kunci: Wanita sindrom metabolik, profil lipid, lipid peroksida, malondialdehid, C-reactive proteinAbstractPrevalence of metabolic syndrome (MS) in Indonesia (13,13%) is high and tends to increase. One of the consequences of MS is endothelial dysfunction leading to cardiovascular disease which is inducted by oxidative stressand inflammation. The aim of the present research is to explore lipid profile, lipid peroxidation, and inflammatory marker level on metabolic syndrome women in Purwokerto. Thirty women with blood glucose level greater than normal, body mass index (BMI) > 25 kg/m2, 40-65 years of age were recruited as respondent through selection by a survey in Internal Medicine Polyclinic of Margono Soekarjo Hospital in Purwokerto. In respondents with blood glucose level > 200 mg/dL, total blood cholesterol level, high density lipoprotein, low density lipoprotein, malondialdehid, and plasma C-reactive protein were determined. It was found that the MS women were 50,4 years of age; BMI 31,89 kg/m2; blood glucose 219,4 mg/dL; total cholesterol 216,73 mg/dL; triglyceride 218,13 mg/dL; HDL 46,59 mg/dL; LDL 146,27mg/dL; MDA 2943,4 pmol/mL; C-RP 7,62 mg/L; and blood pressure 153/103 mmHg. It indicates that SM women experience dyslipidemia with low antioxidant and inflammation.Key words: Metabolic syndrome women, lipid profile, peroxide lipid, malondialdehid, C-reactive protein
Program Keluarga Harapan dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Preventif Hidayat, Budi; Tuhiman, Hendratno; Prawiradinata, Rudy; Sumadi, Pungky
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 5 No. 5 April 2011
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.466 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v5i5.130

Abstract

Program keluarga harapan (PKH) yang berbasis bantuan tunai bersyarat (conditional cash transfers, CCT) di bidang pendidikan dan kesehatan telah diluncurkan Pemerintah Indonesia sejak Juli 2007 di 348 kecamatan dari 48 kabupaten/kota di 7 provinsi, namun dampaknya dalam mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia warga miskin belum pernah dievaluasi. Studi ini mengevaluasi dampak awal PKH terhadap penggunaan layanan kesehatan preventif. Evaluasi ini menggunakan rancangan eksperimen, intervensi program PKH berbasis rumah tangga dengan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok perlakuan dan kontrol yang sebelumnya dipilih acak pada tingkat kecamatan.Data diperoleh dari survei dasar CCT tahun 2007 dan survei lanjutan PKH tahun 2008 yang dikumpulkan di 6 provinsi. Hasil estimasi metode double-difference menunjukkan dampak program intervensi PKH pada kenaikan sejumlah indikator pelayanan kesehatan preventif seperti kunjungan posyandu, pemantauan tumbuh kembang anak, dan imunisasi. Temuan ini penting sebagai dasar pengambilan keputusan untuk melanjutkan program. Namun karena evaluasi awal ini memiliki sejumlah keterbatasan, hasil studi ini harus ditafsirkan hati-hati dan divalidasi lebih lanjut dengan data survei PKH tahun 2009 menggunakan berbagai metode analisisKata kunci: Evaluasi dampak, bantuan tunai bersyarat, program keluarga harapan, pelayanan kesehatan preventifAbstractFamily hope program (PKH), a conditional cash transfers (CCT)-based program in education and health, has been launched by the Government of Indonesia since 2007 in 348 sub-districts of 48 regencies/cities in 7 provinces, but its impact on the reduction of poverty and improvement of poor human resources has not been evaluated. This study valuates initial impact of the PKH on the utilization of preventive healthcare services. This evaluation applies experimental design, a household-based intervention program with measurements prior to and after-intervention in both treatment and control groups that previously were chosen randomly at the sub-district level. The data were obtained from CCT baseline surveys 2007 and PKH follow-up survey 2008 in 6 provinces. Double-difference estimates show the impact of PKH on the increase of preventive health care services indicators such as visit to posyandu, child growth monitoring, and immunization. These findings are important for decision making to continue the program. However, as this initial evaluation has a number of limitations, this study should be interpreted with caution and be validated further by PKH survey 2009 data using different methods of analysis.Key words: Impact evaluation, conditional cash transfers, family hope program, preventive health services
Pengaruh Perawatan Metode Kanguru terhadap Respons Fisiologis Bayi Prematur Deswita, Deswita; Besral, Besral; Rustina, Yeni
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 5 No. 5 April 2011
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.662 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v5i5.131

Abstract

Saat ini, perawatan metode kanguru mulai dianjurkan bagi bayi prematur karena kelahiran prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah merupakan salah satu penyebab kematian bayi terbesar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perawatan metode kanguru terhadaprespons fisiologis bayi prematur. Desain quasi experiment one group pre and post-test dilakukan di 2 rumah sakit di Jakarta. Sebanyak 16 bayi prematur yang memenuhi kriteria inklusi dipilih sebagai sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang bermakna dari perawatanmetode kanguru terhadap respons fisiologis bayi prematur seperti peningkatan suhu tubuh ke arah suhu nornal (p value = 0,000), peningkatan frekuensi denyut jantung ke arah normal (p value = 0,003), dan peningkatan saturasi oksigen ke arah normal (p value = 0,023). Oleh karena itu, metodeperawatan kanguru merupakan cara yang efektif, mudah, dan murah untuk merawat bayi prematur.Kata kunci: Bayi prematur, perawatan metode kanguru, fisiologis bayiAbstractAs premature birth and low birth weight are the main cause of neonatal mortality, kangaroo mother care is now suggested to care premature infants. The purpose of this study was to identify the effect of kangaroo mother care on physiological response of preterm infants. A quasi experiment designwith one group pre and post test design was conducted in two hospitals in Jakarta. Sixteen preterm infants matching the inclusive criteria were selected as sample. The study found significant effect of kangaroo mother care intervention on physiological response of preterm infants, i.e. increasing body temperature to normal (p value = 0,000), increasing heartrate to normal (p value = 0,003), and increasing oxygen saturation (p value = 0,023). Therefore, the kangaroo mother care is therefore an effective, simple, and cheap method to care the preterm infants. Key words: Preterm infants, kangaroo mother care, physiological responses
Tuberkulosis Paru di Palembang, Sumatera Selatan Versitaria, Hery Unita; Kusnoputranto, Haryoto
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 5 No. 5 April 2011
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.492 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v5i5.132

Abstract

Indonesia tercatat memiliki 304.787 penderita tuberkulosis yang menempatkannya pada peringkat ketiga terbanyak di dunia. Penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia serta nomor1 dari golongan penyakit infeksi. Angka kepadatan hunian rumah di Kota Palembang 5,84 lebih tinggi daripada angka ideal kepadatan hunian rumah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara sumber penular serumah, faktor lingkungan dalam rumah, dan karakteristik individu terhadap kejadian tuberkulosis paru basil tahan asam (BTA) (+) di Kota Palembang. Penelitian yang menggunakan desain kasus kontrol ini membandingkan kelompok kasus (BTA(+)) dan kelompok kontrol (BTA (-)) yang dilakukan di 16 wilayah kerja puskesmas dari 36 puskesmas yang ada di Kota Palembang. Model akhir diketahui bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian penyakit tuberkulosis paru BTA (+) adalah variabel status gizi. Seseorang yang bermukim di rumah dengan hunian kamar memiliki tingkat kepadatan tinggi (< 4 meter/orang), jenis kelamin lakilaki,dan status gizi yang buruk (indeks massa tubuh, IMT > 25,1 dan < 18,4) berisiko untuk menderita penyakit tuberkulosis paru BTA(+) 29 kali lebih besar dibanding orang yang tidak mempunyai faktor risiko tersebut. Kata kunci: Tuberkulosis, kepadatan hunian rumah, status giziAbstractIndonesia there were recorded 304.787 cases of tuberculosis that places at the third level in the world. Tuberculosis is the third level disease which caused of death after cardiovasculer and respiratori tract disease in all age groups and at the first level from all infectious disease. The residence densityrate in Palembang is higher 5,84 times than ideal rate. The objective of this study is aimed to evaluate the relationship between the source of infection in house, the environment in the house, and the individual characteristic with the occurrence of lung tuberculosis BTA (+) in Palembang City. The design of this study is case control comparing case group of tuberculosis(BTA (+)) and case of control group of BTA. This study was conducted in 16 work areas of 36 health centers in Palembang. In multivariat model, it is known that the closest relationship with the occurrence of tuberculosis is nutritional status. A person who lives with high density of residence (< 4 meter/ man), male, and bad status of nutrition (body mass index, BMI > 25,1 and < 18,4) has higher risk for having tuberculosis 29 times than who has not the risk factor.Key words: Tuberculosis, residence density rate, nutritional status
Lingkungan Fisik dan Angka Kuman Udara Ruangan di Rumah Sakit Umum Haji Makassar, Sulawesi Selatan Abdullah, M. Tahir; Hakim, Buraerah Abdul
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 5 No. 5 April 2011
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.539 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v5i5.128

Abstract

Udara merupakan salah satu media lingkungan tempat bakteri, virus, dan fungi hidup dan berkembang. Oleh karena mikroorganisme tersebut memerlukan berbagai persyaratan untuk tumbuh dan berkembang, faktor-faktor lingkungan fisik udara tertentu dapat berhubungan dengan angka kuman. Untuk menentukan hubungan ini, telah dilakukan studi potong lintang di ruang rawat inap pasien Rumah Sakit Umum Haji Makasar. Kualitas faktor-faktor lingkungan fisik (pencahayaan, suhu, kelembaban relatif, dankepadatan ruangan) dan angka kepadatan kuman dalam 5 ruang rawat inap (pavilion, kelas 1, kelas 2, kelas 3, dan recovery room) diukur 3 kali (pagi, siang, dan sebelum matahari terbenam) pada 3 titik pengukuran berbeda setiap ruang. Hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari 91% angka kuman dan 71%-87% kualitas lingkungan fisik tidak memenuhi kesehatan yang dipersyaratkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004. Berdasarkan 4 faktor lingkungan fisik yang diukur, hanya kelembaban relatif yang secara langsung berhubungan dengan angka kepadatan kuman (nilai p = 0,023), meskipun korelasi liniernya sangat rendah (korelasi Pearson 0,299). Sesuai dengan tingkat korelasi ini, kontribusi semua faktor lingkungan fisik kepada angka kuman hanya 14,6% (R2 = 0,382). Apabila disesuaikan dengan populasi standar, kontribusi ini hanya 6%.Kata kunci: Angka kuman, faktor lingkungan fisik, rumah sakit umum hajiAbstractAir is an environmental medium where microbe such as bacteria, viruses, and fungi can live and may infect exposed people. As the microbes require appropriate condition to live and grow, particular physical environment of air may associate with microbial density rate. To determine this association, across-sectional study has been conducted in in-patient wards of Makassar Public Hospital of Hajj. Quality of physical environment factors (lighting, temperature, relative humidity, and room density) and microbial density rate of indoor air in five in-patient wards (pavilion, class 1, class 2, class 3, and recovery room) were measured three times (morning, afternoon, and before sunset) at three different sampling sites of each room. The results show that more than 91% microbe rate and 71%-87% quality of physical environmental factors do not comply with the health requirements as regulated in the Ministry of Health Decision of 1204/MENKES/ SK/X/2004. Of four physical environmental factors quantified, only relative humidity is associated directly with the microbe rate (p = 0,023), although its linear correlation is very low (Pearson correlation 0,299). Correspondingly, contribution of all physical environmental factors to the microbe rate is only 6% (R2 = 0,382). Adjusted to the population standard, this contribution is only 6%.Key words: Physical environment factor, microbe rate, hajj public hospital
Profil Lipid, Peroksidasi Lipid, dan Status Inflamatif Wanita Penderita Sindrom Metabolik Winarsi, Hery; Wijayanti, Siwi P.M.; Purwanto, Agus
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 5 No. 5 April 2011
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.299 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v5i5.129

Abstract

Prevalensi sindrom metabolik (SM) di Indonesia (13,13%) tergolong tinggi dengan kecenderungan terus meningkat. Salah satu akibat SM adalah disfungsi endotel, sebagai awal penyakit kardiovaskuler yang diinduksi oleh stres oksidatif dan inflamatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasiprofil lipid, peroksidasi lipid, dan marker inflamasi pada wanita penderita SM di Purwokerto. Sebanyak 30 wanita dengan kadar gula darah diatas normal, obesitas body mass index (BMI) > 25 kg/m2, dan berusia 40-65 tahun dilibatkan sebagai responden yang dipilih melalui survei di PoliklinikPenyakit Dalam Rumah Sakit Margono Soekarjo. Kadar kolesterol total, trigliserida, high density lipoprotein, low density lipoprotein, malondialdehid, dan plasma C-reactive protein ditentukan dalam darah responden yang mempunyai kadar gula sewaktu > 200 mg/dL. Ditemukan bahwa wanitadengan SM rata-rata berumur 50,4 tahun; BMI 31,89 kg/m2; kadar gula darah 219,4 mg/dL; kolesterol total 216,73 mg/dL; trigliserida 218,13 mg/dL; HDL 46,59 mg/dL; LDL 146,27 mg/dL; MDA 2943,4 pmol/mL; C-RP 7,62 mg/L; dan tekanan darah 153/103 mmHg. Hasil ini menunjukkan bahwapenderita SM mengalami dislipidemia disertai dengan status antioksidan rendah dan inflamasi.Kata kunci: Wanita sindrom metabolik, profil lipid, lipid peroksida, malondialdehid, C-reactive proteinAbstractPrevalence of metabolic syndrome (MS) in Indonesia (13,13%) is high and tends to increase. One of the consequences of MS is endothelial dysfunction leading to cardiovascular disease which is inducted by oxidative stressand inflammation. The aim of the present research is to explore lipid profile, lipid peroxidation, and inflammatory marker level on metabolic syndrome women in Purwokerto. Thirty women with blood glucose level greater than normal, body mass index (BMI) > 25 kg/m2, 40-65 years of age were recruited as respondent through selection by a survey in Internal Medicine Polyclinic of Margono Soekarjo Hospital in Purwokerto. In respondents with blood glucose level > 200 mg/dL, total blood cholesterol level, high density lipoprotein, low density lipoprotein, malondialdehid, and plasma C-reactive protein were determined. It was found that the MS women were 50,4 years of age; BMI 31,89 kg/m2; blood glucose 219,4 mg/dL; total cholesterol 216,73 mg/dL; triglyceride 218,13 mg/dL; HDL 46,59 mg/dL; LDL 146,27mg/dL; MDA 2943,4 pmol/mL; C-RP 7,62 mg/L; and blood pressure 153/103 mmHg. It indicates that SM women experience dyslipidemia with low antioxidant and inflammation.Key words: Metabolic syndrome women, lipid profile, peroxide lipid, malondialdehid, C-reactive protein

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Volume 13, Issue 4, May 2019 Volume 13, Issue 3, February 2019 Volume 13, Issue 2, November 2018 Volume 13, Issue 1, August 2018 Volume 12, Issue 4, May 2018 Volume 12, Issue 3, February 2018 Volume 12, Issue 2, November 2017 Volume 12, Issue 1, August 2017 Volume 11, Issue 4, May 2017 Volume 11, Issue 3, February 2017 Volume 11, Issue 2, November 2016 Volume 11, Issue 1, August 2016 Vol. 10 No. 4 May 2016 Vol. 10 No. 3 February 2016 Vol. 9 No. 4 Mei 2015 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 10 No. 2 November 2015 Vol. 10 No. 1 Agustus 2015 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 1 Agustus 2012 Vol. 6 No. 6 Juni 2012 Vol. 6 No. 5 April 2012 Vol. 6 No. 4 Februari 2012 Vol. 6 No. 3 Desember 2011 Vol. 6 No. 2 Oktober 2011 Vol. 6 No. 1 Agustus 2011 Vol. 5 No. 6 Juni 2011 Vol. 5 No. 5 April 2011 Vol. 5 No. 4 Februari 2011 Vol. 5 No. 3 Desember 2010 Vol. 5 No. 2 Oktober 2010 Vol. 5 No. 1 Agustus 2010 Vol. 4 No. 6 Juni 2010 Vol. 4 No. 5 April 2010 Vol. 4 No. 4 Februari 2010 Vol. 4 No. 3 Desember 2009 Vol. 4 No. 2 Oktober 2009 Vol. 4 No. 1 Agustus 2009 Vol. 3 No. 6 Juni 2009 Vol. 3 No. 5 April 2009 Vol. 3 No. 4 Februari 2009 Vol. 3 No. 3 Desember 2008 Vol. 3 No. 2 Oktober 2008 Vol. 3 No. 1 Agustus 2008 Vol. 2 No. 6 Juni 2008 Vol. 2 No. 5 April 2008 Vol. 2 No. 4 Februari 2008 Vol. 2 No. 3 Desember 2007 Vol. 2 No. 2 Oktober 2007 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 6 Juni 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 vol. 1 No. 3 Desember 2006 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 Vol. 1 No. 1 Agustus 2006 More Issue