cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : -
Core Subject : Health,
Kesmas: National Public Health Journal is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance health of the public through scientific approach applying variety of technique. This focus includes area and scope such as biostatistics, epidemiology, health education and promotion, health policy and administration, environmental health, public health nutrition, sexual and reproductive health, and occupational health and safety.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol. 2 No. 6 Juni 2008" : 12 Documents clear
Perilaku Makan Menyimpang pada Remaja di Jakarta Tantiani, Trulyana; Syafiq, Ahmad
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 6 Juni 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.096 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i6.245

Abstract

Salah satu transisi gaya hidup yang terjadi adalah perubahan perilaku makan yang paling berdampak pada kaum perempuan untuk terlihat cantik dengan berdiet berlebihan yang menjurus pada Perilaku Makan Menyimpang (PMM). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui penyebab, mekanisme, dan proses terjadinya PMM dari persepsi penderita. Desain penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan pada 3 informanyang pernah mengalami PMM. Penelitian kuantitatif, dilakukan pada 397 responden yang belum mengalami PMM. Waktu pengambilan data adalah bulan Mei-Juni 2007 dengan menggunakan metode wawancara mendalam untuk penelitian kualitatif dan wawancara terstruktur menggunakan kuesioner dari Sarafino dari Stice untuk penelitian kuantitatif. Studi kualitatif menemukan bahwa semua informan bermasalah dengan anggota keluarganya, terdapat pengaruh pola asuh keluarga yang cukup besar, memiliki citra tubuh dan konsep diri yang terdistorsi, dan berada di lingkungan yang tidak mendukung orang gemuk. Hasil penelitian kuantitatif menemukan prevalensi PMM yang terjadi di Jakarta dengan kuasioner Sarafino adalah 37,3% dan prevalensi anoreksianervosa dengan kuesioneri Stice adalah 11,6 % dan prevalensi kecenderungan bulimia nervosa adalah 27%.Kata kunci : Perilaku makan menyimpang, anoreksia nervosa, bulimia nervosaAbstractOne of the life style changes that occur recently is related to eating behavior that affect mostly women because of the desire to look beautiful with a thin and tall body. One way to achieve this figure is to strictly go on dieting which could lead to eating disorders. The objective of this research is to understand thecause, mechanism, and process of eating disorders. The methods in this research are both qualitative and quantitative. The subjects of the qualitative research are three persons who are willing to be the subject and have a past history of eating disorders. The quantitative subjects are 397 respondents thathave not been diagnosed with eating disorders. The research was held at May-June 2007. The information are gathered through in-depth interview for the qualitative research and by through self report questionnaire for the quantitative research. The result from qualitative research shows that all of the subjects have problems with their family, the parenting practice have a big influence in their life, they also have a distorted body image and poor self-concept, and they are living in an environment that have a negative behavior towards overweight problems. The quantitative research shows that using Sarafino questionnaire, there are 37.3% adolescents who have a tendency toward eating disorders. Using the Stice and Telch questionnaire, there are 11.6% adolescents that have a tendency towards anorexia nervosa, and 27.0% adolescents that have a tendency towards bulimia nervosa.Keywords : Eating disorder, anorexia nervosa, bulimia nervosa
Sistem Manajemen Mutu dan Keamanan Pangan pada Perusahaan Jasa Boga Rina, Ananta
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 6 Juni 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.157 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i6.246

Abstract

Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan jasa boga yang tinggi (31%) menjadi semakin penting dan perlu mendapat perhatian serius. Masyarakat yang semakin sadar menuntut jaminan mutu dan keamanan pangan yang semakin tinggi. Penelitian ini bertujuan menilai penerapan Sistem Manajemen Mutu pada perusahaan jasa boga perusahaan yang diteliti. Metoda yang digunakan mengacu pada sistem manajemen PDCA ( Plan – Do – Check – Action ), penerapan Sistem Manajemen Mutu ( ISO 9001) dan Sistem Keamanan Pangan ( HACCP dan ISO 22000). Sistem tersebut mencakup unsur- unsur pengendalian bahaya potensial dan parameter kritis aktifitas penyediaan rantai makanan (food chain), kesesuaian produk dan jasa yang terintegrasi ke dalam kegiatan operasional suatu perusahan jasa boga. Prinsip-prinsip tersebut disusun dalam suatu model Sistem Manajemen Mutu dan Keamanan Pangan terpadu kegiatan penyediaan makanan perusahaan Jasa Boga. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa Sistem Manajemen Mutu perusahaan jasa boga perusahaan yang diteliti telah diterapkan dalam proses penerimaan bahan baku, penyimpanan, produksi dan pelayanan. Penetapan dan pelaksanaan Hazard Analysis Critical Control Point pada proses penerimaan bahan baku, penyimpanan, produksi dan pelayanan belum diterapkan sesuai standar HACCP dan ISO 22000. Sistem Manajemen Mutu dan Keamanan Pangan ( SM2KP) dapat diterapkan dengan efektif dan terpadu karena proses pengendalian yang dilakukan sesuai standar yang dapat diterima, diterapkan dan sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan bisnis.Kata kunci : Sistem manajemen mutu, sistem keamanan panganAbstractThe high frequency of food poisoning outbreak in catering service (31%) become more important and need more attention. People become more aware to the food safety and demand for serious attention to the problem. The study objective is to evaluate the application of Quality Management System (QMS) in food catering service. The method used in this study referred to PDCA (Plan–Do–Check–Action), application of QMS (ISO 9001) and food safety system (HACCP and ISO 22000). The system includes components of potential hazard control and critical parameter of food chain supply, and the apropriateness of product and services integrated to operational activity of catering service. The study reveals that QMS has been implemented in materials procurement, storage, production, and service. However, HACCP and ISO 22000 had not been fully standardized in implementation. Control process is important to implement Food Safety and Quality Management Syatem (SM2KP) in an effective and integrated way.Keywords : Quality management system, food safety system.
Peranan Pelatihan Learning Organization pada Perubahan Individu dan Institusi: Pengalaman Kabupaten Cianjur Darmawan, Ede Surya
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 6 Juni 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.5 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i6.247

Abstract

Dalam rangka mendukung peningkatan kapasitas aparat pemerintah daerah dalam melaksanakan peran dan fungsi setelah penerapan kebijakan desentralisasi, Unit Desentralisasi Departemen Kesehatan telah menyusun beberapa rencana strategis yang bertujuan mengantisipasi transisi desentralisasi, diantaranya adalah membangun organisasi pembelajar. Melihat bagaimana peranan pelatihan berpengaruh pada perubahan individu dan institusi pada lingkungan birokrasi yang lebih ketat pada tingkat pemerintah daerah. Penelitian ini adalah sebuah penelitian quasi-eksperimental dengan pre- dan post- intervensi, pengukuran yang berulang kali, dan kontrol yang tidak merata. Kelompok pertama akan menerima pelatihan SLLO (Xa) dan pendampingan (Xb). Kelompok kedua hanya akan berfungsi sebagai kelompok pengontrol. Penelitian ini menemukan: (1) Pelatihan LO efektif untuk meningkatkan pengetahuan, dan pemahaman peserta dalam perspektif kerja, masalah, keinginan mempebaiki diri dan menyebarkan kepada teman kerja. (2) Perubahan tingkat individu meliputi; keinginan memperbaiki perilaku kerja; keterbukaan dan kesiapan pencatatan perilaku; kesediaan menyediakan waktu; lebih banyak mempergunakan analisis penyebab masalah; lebih banyak dialog dan tidak terjebak dengan gejala; keinginan dan upaya menyebarkan LO dalam seminar dan pelatihan. (3) Bentuk perubahan kelompok dan institusi belum terlihat, berupa upaya untuk menyampaikan informasi pelatihan LO kepada peserta lintas sektor yang lebih luas. (4) Pengaruh lingkungan birokrasi pemerintah tingkat kabupaten mengakibatkan; perubahan individu berpengaruh pada perubahan kelompok sedikit; komunikasi membutuhkan waktu banyak; Sulit melakukan dialog antar anggota tim. Pada tingkat kecamatan keadaan berubah lebih baik; Perubahan individu yang berpengaruh pada perubahan kelompok lebih banyak; komunikasi antar anggota lebih cepat; dialog lebih mudah .Kata kunci : Pelatihan pembelajaran organisasi , perubahan individu dan institusiAbstractIn order to support local government capacity to implement their role and capacity after the implementation of decentralization policy, The Decentralization Unit of Ministry of Health RI has developed several strategic plans which directed to anticipate decentralization transition, such as learning organization. To objective of this study is to understand the effect of training program on individual and institutional changes in a more strict bureocratic environment. This study is a quasi-experimental study with pre and post intervention study design, several times measurements, and unequally distributed control. The first group receive SLLO training (Xa) and assistance (Xb). The second group is a control group. The study result show that: (1) the LO training is efective to increase knowledge and understanding of the trainees on job perspective, problem solving, self improvement need and distribution to group member (2) The individual level changes include the need to job behavioral improvement, the openness and readiness to record behaviour, more problem analysis, more dialogue and not trapped in surface symptoms, want and need to distribute LO in seminar and training (3) the group and institutional changes has not been seen yet (4) only small effect of individual changes to group level changes, communication needs plenty of time, difficult to conduct dialogue among team members. In sub-district level situation has chenged to a better situation, more effect of individual level cahnges to group level changes, faster communication between group members and easier dialogue.Keywords: Learning organization training, individual and institutional changes
Perbandingan Analisis Regresi Logistik dengan Analisis Propensity Score Matching pada Studi Kasus Imunisasi Bayi Utomo, Waras Budi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 6 Juni 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.079 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i6.248

Abstract

Analisis multivariat konvensioanal tidak selalu merupakan metode ideal untuk memprediksi efek pajanan pada studi-studi observasional. Ketika distribusi kovariat antara kelompok pajanan berbeda besar, penyesuaan dengan teknik multivariat konvensioanl tidak cukup menyeimbangkan kelompok tersebut. Bias yang tersisa dapat menghambat penarikan kesimpulan yang valid. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan hasil analisis multivariat konvensional dengananalisis metoda propensity score matching pada studi kasus data sekunder imunisasi bayi ASUH KAP2 2003. Penelitian ini menemukan nilai OR metoda regresi logistik (0,99) berbeda dengan metoda propensity score matching (0,96). Metoda propensity score matching berhasil menjodohkan 574 subjek(68,27%). Untuk evaluasi pengaruh faktor risiko disarankan menggunakan model PSM karena mengurangi bias seleksi, tetapi untuk analisis faktor determinan yang banyak variabel independent, gunakan matching kerena variabel tersebut mempunyai posisi yang sama.Kata kunci : Regresi logistik, propensity score matching.AbstractConventional multivariable analyses may not always be the ideal method for estimating exposure effects in observational studies. Where there are large differences in the distribution of covariates between expose groups, adjusting with conventional multivariable techniques may not adequately balance the groups, and the remaining bias may limit valid causal inference. The objective of this research is to compare the result of convensional multiariate analysis versus propensity score matching analysis in case study of infant immunization using secondary data of ASUH KAP2 2003. Model will be compared without interaction variable. The results show that the OR from logistic regression (0,99) differs to propensity score matching (0,96). Propensity score matching is successfulin matching 574 subjects (68,27%). It is recommended to evaluate risk factor effect using PSM model, but to use logistic regression analysis for determinat factor analysis with many independent variables because the variables have the same position.Keywords: Logistic regression, propensity score matching.
Usia Menarche pada Siswi SD dan SLTP di Kota Bandung Aryati, Dian
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 6 Juni 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.988 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i6.243

Abstract

Secara global, kesehatan reproduksi mendapat perhatian yang berbeda sejak konverensi internasional Demografi (International Conference on Demography) (ICPD) di Kairo pada tahun1994. Tahap seksual remaja diinisiasi oleh pertumbuhan lengkap pada organ reproduksi yang mengantarkan seorang wanita pada menstruasi. Selama bertahun-tahun, usia menarche telah menurun yang dipengaruhi oleh faktor biologi dan lingkungan. Penurunan usia menarche berakibat pada peningkatan kehamilan yang tidak diharapkan yang disebabkan oleh aktivitas seksual sebelum menikah. Hal tersebut dapat meningkatkan tindakan abortus dan penyakit menular seksual pada remaja dan kelainan ingestion. Penelitian ini bertujuan mengetahui berbagai faktor yang berhubungan dengan usia menarche pada remaja. Penelitian dengan desain studi kross sectional ini dilakukan pada siswi kelas lima sekolah dasar sampai kelas satu sekolah lanjutan pertama di kota Bandung, pada tahun 2007. Ditemukan bahwa persentase lemak tubuh rata-rata para responden adalah 22.9%. Status nutrisi adalah 18.7%, rerata usia menarche adalah 11, 61 tahun dan rerata usia menarche ibu rata-rata adalah 12.96 tahun. Persentase lemak tubuh merupakan faktor dominan yang mempengaruhi umur menarche. Ada dua variabel yang terdeteksi memenuhi kriteria kandidat model multivariat yaitu persentase lemak tubuh (nilai p = 0,002 ;) dan status nutrisi ( nilai p = 0,015). Namun, hasil analisis multivariat hanya memperlihatkan persentase lemak tubuh yang berhubungan dengan usia menarche (nilai-p = 0,002 : OR = 4,957). Untuk menghindari dampak peningkatan usia menarche, pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja sebaiknya dimulai dari sekolah dasar dan diawasi oleh sekolah, orang tua, dan pemerintah.Kata kunci : Usia menarche, remaja, kesehatan reproduksiAbstractGlobally, reproduction health received particular attention since International Conference on Demography (ICPD) in Cairo 1994. Sexual stages on teenager are initiated by completion of reproductive organ which leads to menstruation on girl. For years, menarche age has decreased due to biological and environmental factors. The acceleration of menarche age has consequence in increasing unexpected pregnancy caused by pre-marital sexual activity and thus increasing abortion and sexually transmitted diseases on teenagers as well as ingestion disorder. This research is to reveal which factors related to menarche age among fifth grade elementary school until first grade junior high school students. Quantitative cross sectional method is used in this research. As the result, body fat percentage of respondents is 22.89% in average. Nutrition status is 18.7%, menarche age of the respondents is 11.61 years old, menarche age of the relatives is 12.96 years old and menarche age of the mothers is 12.96 years old in average. Body fat percentage is a dominant factor which influences menarche age. Early reproductive health education on teenager should be started from elementary school and supervised by schools, parents, and goverment to avoid the impact of menarche age acceleration. Based on bivariate analysis result, there are two related variables, body fat percentage ( p value = 0,002 ; OR 4,957) and nutrition status ( p value = 0,015 : OR 3,767). Meanwhile, multivariate analysis result only showed body fat percentage which is significantly related (p value = 0,002 : OR 4,957).Key words: Menarche age, teenagers, reproduction health
Perilaku Cuci Tangan Sebelum Makan dan Kecacingan pada Murid SD di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat Umar, Zaidina
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 6 Juni 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.73 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i6.244

Abstract

Di Indonesia penyakit cacingan tersebar luas di pedesaan dan di perkotaan dengan prevalensi semua umur 40%-60% dan murid SD 60-80%. Survei Depkes RI di 10 propinsi di Indonesia menemukan prevalensi kecacingan di Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2003 (85, 8%) dan tahun 2005 (51,4% ) lebih tinggi dari kabupaten lain. Angka infeksi kecacingan tinggi dipengaruhi oleh kebersihan diri, sanitasi lingkungan dan kebiasaan penduduk. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan perilaku cuci tangan dengan kejadian kecacingan pada murid SD Kabupaten Pesisir Selatan. Penelitian dengan desain cross sectional ini menggunakan data sekunder hasil survei kecacingan Depkes RI tahun 2005, jumlah sampel 257 orang. Diagnosis penyakit kecacingan ditegakkan berdasarkan pemeriksaan telur cacing pada tinja dengan metode Katto-Katz. Hasil penelitian menunjukan perilaku cuci tangan memakai air dan sabun sebelum makan terbukti berhubungan bermakna dengan kejadian kecacingan (OR=2,35, 95% CI=1,40-3,94), variabel lain yang berhubungan bermakna adalah perilaku BAB tidak dijamban dengan nilai OR = 2,64 (95%CI=1,46-4,77) dan perilaku jajan bukan di warung sekolah (OR =1,96 (95% CI=1,06-3,65). Murid SD dan masyarakat disarankan mencuci tangan sebelum makan dengan air dan sabun. Di samping pengobatan, perlu dilakukan penyuluhan kesehatan dan peningkatan PHBS pada murid dengan pemeriksaan berkala perilaku dan kebersihan diri di sekolah.Kata kunci : Cuci tangan, kecacingan, kebersihan diri, sanitasi lingkunganAbstractIn Indonesia, helminth infection spread out at rural and urban community with prevalence at elementary school of 60% - 80% and for all age of 40%-60%. Helminths prevalence in Pesisir Selatan district is higher than that of other districts which was 85, 8 % on 2003 and 51,4 on 2005. Helmints infection depends on personal hygiene, environmental sanitation and residential habit. The objective of the this study is to know relationship between hand washing behaviour before eating with helminths occurrence among elementary school students in Pesisir Selatan. This research uses cross sectional design, using secondary data of helminths survey of Ministry of Health RI on 2005, with total sample of 257 students. Helminths disease diagnosis was based on laboratory examination of helminth eggs in human feces using Katto-Katz methods. Research’s results showing that hand washing behaviour before eating is related to helminths occurrence (OR= 2,35, 95% CI = 1,40-3,94), other variables with statistically significant relationship to helminths occurrence is defecation behavior not at the toilet (OR = 2,64; (95% CI OR =1,46-4,77) and eating snacks in small shop at school (OR= 1,96 ;95% CI=1,06-3,65). It is recommended to elementary school student and society to familiarize to hand washing before eating with water and soap. In order to prevent and eradicate helminths disease, beside curative effort, there is a need to do health counseling about healthy and clean living (PHBS), undertaking periodical evaluation on behaviour and personal hygiene of student at school.Keywords : Hand washing, helminths, personal hygiene, environmental sanitation
Usia Menarche pada Siswi SD dan SLTP di Kota Bandung Aryati, Dian
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 6 Juni 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.988 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i6.243

Abstract

Secara global, kesehatan reproduksi mendapat perhatian yang berbeda sejak konverensi internasional Demografi (International Conference on Demography) (ICPD) di Kairo pada tahun1994. Tahap seksual remaja diinisiasi oleh pertumbuhan lengkap pada organ reproduksi yang mengantarkan seorang wanita pada menstruasi. Selama bertahun-tahun, usia menarche telah menurun yang dipengaruhi oleh faktor biologi dan lingkungan. Penurunan usia menarche berakibat pada peningkatan kehamilan yang tidak diharapkan yang disebabkan oleh aktivitas seksual sebelum menikah. Hal tersebut dapat meningkatkan tindakan abortus dan penyakit menular seksual pada remaja dan kelainan ingestion. Penelitian ini bertujuan mengetahui berbagai faktor yang berhubungan dengan usia menarche pada remaja. Penelitian dengan desain studi kross sectional ini dilakukan pada siswi kelas lima sekolah dasar sampai kelas satu sekolah lanjutan pertama di kota Bandung, pada tahun 2007. Ditemukan bahwa persentase lemak tubuh rata-rata para responden adalah 22.9%. Status nutrisi adalah 18.7%, rerata usia menarche adalah 11, 61 tahun dan rerata usia menarche ibu rata-rata adalah 12.96 tahun. Persentase lemak tubuh merupakan faktor dominan yang mempengaruhi umur menarche. Ada dua variabel yang terdeteksi memenuhi kriteria kandidat model multivariat yaitu persentase lemak tubuh (nilai p = 0,002 ;) dan status nutrisi ( nilai p = 0,015). Namun, hasil analisis multivariat hanya memperlihatkan persentase lemak tubuh yang berhubungan dengan usia menarche (nilai-p = 0,002 : OR = 4,957). Untuk menghindari dampak peningkatan usia menarche, pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja sebaiknya dimulai dari sekolah dasar dan diawasi oleh sekolah, orang tua, dan pemerintah.Kata kunci : Usia menarche, remaja, kesehatan reproduksiAbstractGlobally, reproduction health received particular attention since International Conference on Demography (ICPD) in Cairo 1994. Sexual stages on teenager are initiated by completion of reproductive organ which leads to menstruation on girl. For years, menarche age has decreased due to biological and environmental factors. The acceleration of menarche age has consequence in increasing unexpected pregnancy caused by pre-marital sexual activity and thus increasing abortion and sexually transmitted diseases on teenagers as well as ingestion disorder. This research is to reveal which factors related to menarche age among fifth grade elementary school until first grade junior high school students. Quantitative cross sectional method is used in this research. As the result, body fat percentage of respondents is 22.89% in average. Nutrition status is 18.7%, menarche age of the respondents is 11.61 years old, menarche age of the relatives is 12.96 years old and menarche age of the mothers is 12.96 years old in average. Body fat percentage is a dominant factor which influences menarche age. Early reproductive health education on teenager should be started from elementary school and supervised by schools, parents, and goverment to avoid the impact of menarche age acceleration. Based on bivariate analysis result, there are two related variables, body fat percentage ( p value = 0,002 ; OR 4,957) and nutrition status ( p value = 0,015 : OR 3,767). Meanwhile, multivariate analysis result only showed body fat percentage which is significantly related (p value = 0,002 : OR 4,957).Key words: Menarche age, teenagers, reproduction health
Perbandingan Analisis Regresi Logistik dengan Analisis Propensity Score Matching pada Studi Kasus Imunisasi Bayi Utomo, Waras Budi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 6 Juni 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.079 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i6.248

Abstract

Analisis multivariat konvensioanal tidak selalu merupakan metode ideal untuk memprediksi efek pajanan pada studi-studi observasional. Ketika distribusi kovariat antara kelompok pajanan berbeda besar, penyesuaan dengan teknik multivariat konvensioanl tidak cukup menyeimbangkan kelompok tersebut. Bias yang tersisa dapat menghambat penarikan kesimpulan yang valid. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan hasil analisis multivariat konvensional dengananalisis metoda propensity score matching pada studi kasus data sekunder imunisasi bayi ASUH KAP2 2003. Penelitian ini menemukan nilai OR metoda regresi logistik (0,99) berbeda dengan metoda propensity score matching (0,96). Metoda propensity score matching berhasil menjodohkan 574 subjek(68,27%). Untuk evaluasi pengaruh faktor risiko disarankan menggunakan model PSM karena mengurangi bias seleksi, tetapi untuk analisis faktor determinan yang banyak variabel independent, gunakan matching kerena variabel tersebut mempunyai posisi yang sama.Kata kunci : Regresi logistik, propensity score matching.AbstractConventional multivariable analyses may not always be the ideal method for estimating exposure effects in observational studies. Where there are large differences in the distribution of covariates between expose groups, adjusting with conventional multivariable techniques may not adequately balance the groups, and the remaining bias may limit valid causal inference. The objective of this research is to compare the result of convensional multiariate analysis versus propensity score matching analysis in case study of infant immunization using secondary data of ASUH KAP2 2003. Model will be compared without interaction variable. The results show that the OR from logistic regression (0,99) differs to propensity score matching (0,96). Propensity score matching is successfulin matching 574 subjects (68,27%). It is recommended to evaluate risk factor effect using PSM model, but to use logistic regression analysis for determinat factor analysis with many independent variables because the variables have the same position.Keywords: Logistic regression, propensity score matching.
Perilaku Cuci Tangan Sebelum Makan dan Kecacingan pada Murid SD di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat Umar, Zaidina
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 6 Juni 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.73 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i6.244

Abstract

Di Indonesia penyakit cacingan tersebar luas di pedesaan dan di perkotaan dengan prevalensi semua umur 40%-60% dan murid SD 60-80%. Survei Depkes RI di 10 propinsi di Indonesia menemukan prevalensi kecacingan di Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2003 (85, 8%) dan tahun 2005 (51,4% ) lebih tinggi dari kabupaten lain. Angka infeksi kecacingan tinggi dipengaruhi oleh kebersihan diri, sanitasi lingkungan dan kebiasaan penduduk. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan perilaku cuci tangan dengan kejadian kecacingan pada murid SD Kabupaten Pesisir Selatan. Penelitian dengan desain cross sectional ini menggunakan data sekunder hasil survei kecacingan Depkes RI tahun 2005, jumlah sampel 257 orang. Diagnosis penyakit kecacingan ditegakkan berdasarkan pemeriksaan telur cacing pada tinja dengan metode Katto-Katz. Hasil penelitian menunjukan perilaku cuci tangan memakai air dan sabun sebelum makan terbukti berhubungan bermakna dengan kejadian kecacingan (OR=2,35, 95% CI=1,40-3,94), variabel lain yang berhubungan bermakna adalah perilaku BAB tidak dijamban dengan nilai OR = 2,64 (95%CI=1,46-4,77) dan perilaku jajan bukan di warung sekolah (OR =1,96 (95% CI=1,06-3,65). Murid SD dan masyarakat disarankan mencuci tangan sebelum makan dengan air dan sabun. Di samping pengobatan, perlu dilakukan penyuluhan kesehatan dan peningkatan PHBS pada murid dengan pemeriksaan berkala perilaku dan kebersihan diri di sekolah.Kata kunci : Cuci tangan, kecacingan, kebersihan diri, sanitasi lingkunganAbstractIn Indonesia, helminth infection spread out at rural and urban community with prevalence at elementary school of 60% - 80% and for all age of 40%-60%. Helminths prevalence in Pesisir Selatan district is higher than that of other districts which was 85, 8 % on 2003 and 51,4 on 2005. Helmints infection depends on personal hygiene, environmental sanitation and residential habit. The objective of the this study is to know relationship between hand washing behaviour before eating with helminths occurrence among elementary school students in Pesisir Selatan. This research uses cross sectional design, using secondary data of helminths survey of Ministry of Health RI on 2005, with total sample of 257 students. Helminths disease diagnosis was based on laboratory examination of helminth eggs in human feces using Katto-Katz methods. Research’s results showing that hand washing behaviour before eating is related to helminths occurrence (OR= 2,35, 95% CI = 1,40-3,94), other variables with statistically significant relationship to helminths occurrence is defecation behavior not at the toilet (OR = 2,64; (95% CI OR =1,46-4,77) and eating snacks in small shop at school (OR= 1,96 ;95% CI=1,06-3,65). It is recommended to elementary school student and society to familiarize to hand washing before eating with water and soap. In order to prevent and eradicate helminths disease, beside curative effort, there is a need to do health counseling about healthy and clean living (PHBS), undertaking periodical evaluation on behaviour and personal hygiene of student at school.Keywords : Hand washing, helminths, personal hygiene, environmental sanitation
Perilaku Makan Menyimpang pada Remaja di Jakarta Tantiani, Trulyana; Syafiq, Ahmad
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 6 Juni 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.096 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i6.245

Abstract

Salah satu transisi gaya hidup yang terjadi adalah perubahan perilaku makan yang paling berdampak pada kaum perempuan untuk terlihat cantik dengan berdiet berlebihan yang menjurus pada Perilaku Makan Menyimpang (PMM). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui penyebab, mekanisme, dan proses terjadinya PMM dari persepsi penderita. Desain penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan pada 3 informanyang pernah mengalami PMM. Penelitian kuantitatif, dilakukan pada 397 responden yang belum mengalami PMM. Waktu pengambilan data adalah bulan Mei-Juni 2007 dengan menggunakan metode wawancara mendalam untuk penelitian kualitatif dan wawancara terstruktur menggunakan kuesioner dari Sarafino dari Stice untuk penelitian kuantitatif. Studi kualitatif menemukan bahwa semua informan bermasalah dengan anggota keluarganya, terdapat pengaruh pola asuh keluarga yang cukup besar, memiliki citra tubuh dan konsep diri yang terdistorsi, dan berada di lingkungan yang tidak mendukung orang gemuk. Hasil penelitian kuantitatif menemukan prevalensi PMM yang terjadi di Jakarta dengan kuasioner Sarafino adalah 37,3% dan prevalensi anoreksianervosa dengan kuesioneri Stice adalah 11,6 % dan prevalensi kecenderungan bulimia nervosa adalah 27%.Kata kunci : Perilaku makan menyimpang, anoreksia nervosa, bulimia nervosaAbstractOne of the life style changes that occur recently is related to eating behavior that affect mostly women because of the desire to look beautiful with a thin and tall body. One way to achieve this figure is to strictly go on dieting which could lead to eating disorders. The objective of this research is to understand thecause, mechanism, and process of eating disorders. The methods in this research are both qualitative and quantitative. The subjects of the qualitative research are three persons who are willing to be the subject and have a past history of eating disorders. The quantitative subjects are 397 respondents thathave not been diagnosed with eating disorders. The research was held at May-June 2007. The information are gathered through in-depth interview for the qualitative research and by through self report questionnaire for the quantitative research. The result from qualitative research shows that all of the subjects have problems with their family, the parenting practice have a big influence in their life, they also have a distorted body image and poor self-concept, and they are living in an environment that have a negative behavior towards overweight problems. The quantitative research shows that using Sarafino questionnaire, there are 37.3% adolescents who have a tendency toward eating disorders. Using the Stice and Telch questionnaire, there are 11.6% adolescents that have a tendency towards anorexia nervosa, and 27.0% adolescents that have a tendency towards bulimia nervosa.Keywords : Eating disorder, anorexia nervosa, bulimia nervosa

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2008 2008


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 2 (2019): Volume 14, Issue 2, November 2019 Vol 14, No 1 (2019): Volume 14, Issue 1, August 2019 Volume 13, Issue 4, May 2019 Volume 13, Issue 3, February 2019 Volume 13, Issue 2, November 2018 Volume 13, Issue 1, August 2018 Volume 12, Issue 4, May 2018 Volume 12, Issue 3, February 2018 Volume 12, Issue 2, November 2017 Volume 12, Issue 1, August 2017 Volume 11, Issue 4, May 2017 Volume 11, Issue 3, February 2017 Volume 11, Issue 2, November 2016 Volume 11, Issue 1, August 2016 Vol. 10 No. 4 May 2016 Vol. 10 No. 3 February 2016 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 9 No. 4 Mei 2015 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 10 No. 2 November 2015 Vol. 10 No. 1 Agustus 2015 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 1 Agustus 2012 Vol. 6 No. 6 Juni 2012 Vol. 6 No. 5 April 2012 Vol. 6 No. 4 Februari 2012 Vol. 6 No. 3 Desember 2011 Vol. 6 No. 2 Oktober 2011 Vol. 6 No. 1 Agustus 2011 Vol. 5 No. 6 Juni 2011 Vol. 5 No. 5 April 2011 Vol. 5 No. 4 Februari 2011 Vol. 5 No. 3 Desember 2010 Vol. 5 No. 2 Oktober 2010 Vol. 5 No. 1 Agustus 2010 Vol. 4 No. 6 Juni 2010 Vol. 4 No. 5 April 2010 Vol. 4 No. 4 Februari 2010 Vol. 4 No. 3 Desember 2009 Vol. 4 No. 2 Oktober 2009 Vol. 4 No. 1 Agustus 2009 Vol. 3 No. 6 Juni 2009 Vol. 3 No. 5 April 2009 Vol. 3 No. 4 Februari 2009 Vol. 3 No. 3 Desember 2008 Vol. 3 No. 2 Oktober 2008 Vol. 3 No. 1 Agustus 2008 Vol. 2 No. 6 Juni 2008 Vol. 2 No. 5 April 2008 Vol. 2 No. 4 Februari 2008 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 Vol. 2 No. 3 Desember 2007 Vol. 2 No. 2 Oktober 2007 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 6 Juni 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 vol. 1 No. 3 Desember 2006 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 Vol. 1 No. 1 Agustus 2006 More Issue