cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : -
Core Subject : Health,
Kesmas: National Public Health Journal is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance health of the public through scientific approach applying variety of technique. This focus includes area and scope such as biostatistics, epidemiology, health education and promotion, health policy and administration, environmental health, public health nutrition, sexual and reproductive health, and occupational health and safety.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue " Vol. 2 No. 4 Februari 2008" : 14 Documents clear
Dampak Penggunaan Briket Batubara dibandingkan dengan Bahan Bakar Lain terhadap Keluhan Pernafasan Kronik Pekerja di UKM Mardansyah, Johan
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 4 Februari 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.732 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i4.261

Abstract

Pemerintah Indonesia berencana meningkatkan penggunaan batubara sebagai bahan bakar alternatif. Untuk itu, diperlukan studi mengenai dampak kesehatan akibat pengguna briket batubara. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara pajanan di udara tempat kerja dengan keluhan pernafasan kronik pekerja pengguna kompor briket batubara di UKM. Penelitian dengan disain Kohort Retrospektifl ini dilakukan terhadap data primer hasil wawancara dan pemeriksaan fisik pekerja serta hasil pengukuran pajanan di udara tempat kerja. Pajanan yang diukur meliputi debu total, NO2, SO2, Benzen, Cd dan Mn. Sampel terdiri dari 61 responden pada kelompok yang terpajan briket batubata dan 61 responden pada kelompok pembanding yang terpajan bahan bakar lain. Penelitian ini menggunakan metoda analisis Independent Sampel t test untuk variabel berskala numerik dan Chi Square untuk variabel berskala kategorik. Dari hasil penelitian ditemukan tidak ada perbedaan yang bermakna baik pajanan di udara tempat kerja maupun proporsi pekerja yang menderita keluhan pernafasan kronik antara kelompok Studi dan kelompok Kontrol. Hampir semua parameter tidak melampaui NAB kecuali benzen di kelompok tidak terpajan briket. Penelitian ini belum dapat menyiimpulkan bahwa pengunaan briket batubara tidak berdampak negatif terhadap sistem pernafasan pekerja. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk semua jenis briket batubara yang ada.Kata kunci: Briket batubara, dampak kesehatan, keluhan pernafasan kronikAbstractThe Indonesian government has determined a policy of using coal briquettes as alternative fuel. With the increasing usage, government need information about health effects associated with the use of coal briquettes. The objective of this study is to know health effects (measured by respiratory symptoms of worker’s) associated with the use of coal briquettes fuel in small industries. The study design is cross-sectional using primary data collected through questionnaire, physical examination and level of exposure measurement in the workplace. The exposure measured include all dust, NO2, SO2, Benzen, Cd and Mn. The sample consists of 61 respondents from exposed group and 61 respondents from control group. The exposed group consisted of workers using coal briquettes and control are worker’s who did not use coal briquettes. Result of the study showed that there was no significant difference of exposure between exposed group with control group and proportion of respiratory symptoms was also show no significant difference. All exposure were below threshold limit values (TLVs) in the study. The study show no association between respiratory symptoms and the use of coal briquettes fuel in small industries. It is suggested to conduct further studies using cohort and include all types of coal briquettes.Keywords : Coal briquettes, health effects, respiratory symptoms
Faktor Prediksi Persepsi Ibu tentang Diare pada Balita Supono, Joko
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 4 Februari 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.444 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i4.262

Abstract

Diare pada balita masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia. Persepsi keseriusan penyakit diare yang rendah merupakan kendala upaya menurunkan angka kesakitan diare. Penelitian yang menggunakan desain cross sectional ini bertujuan menguji hubungan antara faktor pengetahuan, pengalaman kontak, dan kepercayaan, dengan persepsi ibu terhadap diare pada balita. Populasi pada penelitian ini adalah ibu balita yang bermukim di Kecamatan Bekasi Utara, Jawa barat. Dari hasil penelitian terbukti bahw pengetahuan, pengalaman kontak, dan kepercayaan berhubungan secara bermakna dengan persepsi ibu terhadap diare pada balita. Ibu balita yang berpengetahuan rendah berisiko 2,5 kali untuk berpersepsi diare sebagai penyakit biasa daripada ibu yang berpengetahuan tinggi (OR: 2,535; 95%CI: 1,321 – 4,866) setelah variabel pendidikan dikendalikan. Ibu balita yang tidak pernah berpengalaman kontak berisiko hampir 5 kali lebih besar untuk berpersepsi diare sebagai penyakit biasa daripada ibu balita yang pernah kontak (OR: 4,761; 95% CI: 1,853 - 12,235). Ibu balita dengan kepercayaan rendah berisiko 0,4 kali untuk mempersepsikan diare sebagai penyakit biasa lebih kecil daripada ibu dengan kepercayaan tinggi setelah variabel jumlah balita dikendalikan (OR: 0,392; 95%CI: 0,195 - 0,765). Upaya memperbaiki persepsi ibu balita disarankan dengan meningkatkan program promosi kesehatan yang dilakukan melalui peningkatan pengetahuan, menciptakan pengalaman dengan model simulasi, serta merasionalkan kepercayaan tentang diare pada balita di masyarakat.Kata kunci : Diare pada balita, persepsi, pengetahuan, pengalaman kontak, kepercayaanAbstractDiarrhea among under-five children is still a major problem in developing countries such as Indonesia. The low perception to the seriousness of diarrhea is one of the obstacles in decreasing the diarrhea frequency. Using cross sectional design, this research aims to find the relationship between knowledge, contact experience, and belief about diarrhea on under five children with the perception of mothers towards the seriousness of diarrhea. The research population is mothers with under five children in Bekasi Utara district, and 175 subjects were selected randomly across 6 regions (kelurahan). This research showed that knowledge, contact experience and belief have significant relation with the perception towards the seriousness of diarrhea on under five children. Mothers who had limited knowledge had chance 2,5 times more than mothers who had wide knowledge to perceive that diarrhea was not serious (OR: 2.535; 95%CI: 1.321 – 4.866) after education variable was controlled. Mothers who had no experience with diarrhea had chance almost 5 times more than mothers who had experience to perceive that diarrhea was not serious (OR: 4.761; 95%CI: 1.853 – 12.235). Mothers who had low belief had chance 0.4 times more than mothers who had high belief to perceive that diarrhea was not serious (OR: 0.392; 95%CI: 0.195 – 0.765) after the number of under five children was controlled. The effort to improve the perception of mothers towards diarrhea can be conducted by improving the program to promote health, such as enhancing the knowledge/ awareness, creating contact experience by simulation model, and by rationalizing belief about diarrhea.Keywords : Diarrhea, perception, knowledge, contact experience, belief
Pengaruh Pajanan Sinar Ultraviolet B Bersumber dari Sinar Matahari terhadap Konsentrasi Vitamin D (25(OH)D) dan Hormon Paratiroit pada Perempuan Usia Lanjut Indonesia Setiati, Siti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 4 Februari 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.797 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i4.257

Abstract

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa defisiensi vitamin D dan hiperpara-tiroidisme sekunder menimbulkan dampak serius pada kesehatan, antara lain meliputi osteoporosis, osteomalasia, kelemahan otot, jatuh dan fraktur osteoporotik. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui pengaruh pajanan UVB sinar matahari pada konsentrasi 25(OH)D dan hormon paratiroid (PTH) perempuan usia lanjut Indonesia. (2) mendapatkan saat dan lama pemajanan yang optimal. Penelitian uji klinik acak terbuka ini melibatkan 74 perempuan berusia 60 - 90 tahun yang tinggal di 4 panti werda di Jakarta dan Bekasi. Randomisasi dilakukan untuk memisahkan kelompok studi dan kontrol. Kelompok kontrol hanya mendapat kalsium 1000 mg/hari, sedang kelompok intervensi dipajankan dengan matahari selama 6 minggu. Hasil yang diukur sebelum dan sesudah 6 minggu pemajanan adalah konsentrasi 25(OH)D, PTH, dan ion kalsium. Ditemukan bahwa, waktu pemajanan yang optimal adalah 1 jam sebelum dan sesudah tengah hari. Prevalensi defisiensi vitamin D pada wanita usia lanjut adalah 35,1%. Pada kelompok terpajan, konsentrasi 25(OH)D meningkat lebih tinggi daripada yang tidak dipajan (51,8% vs 12,5%). Hasil tambahan adalahrerata asupan kalsium 248 mg/hari, dan rerata asupan vitamin D 28 IU/hari.Kata kunci: Defisiensi vitamin D, perempuan usia lanjut, hormon paratiroidAbstractMany studies showed that vitamin D deficiency and secondary hyper-parathyroidism cause serious impact on health including osteoporosis, osteomalacia, paralysis, fall, and osteoporotic fracture. This study was conducted to compare the effect of UVB from sunlight exposure in combination with calcium supplementation, and control (calcium only) on the vitamin D status and parathyroid hormone (PTH) concentration in Indonesian elderly women. This study was a randomized clinical trial in institutionalized care unit. Subjects included 74 elderly women with a mean age 71 years. Intervention was random allocation of UVB from sunlight exposure at 0.6 MED/hour noted in the UV meter on the face and both arms and calcium 1000 mg, three times per week for 6 weeks, and without treatment (calcium 1000 mg only). Main outcome measured were fasting serum levels of 25(OH) D, PTH, and calcium ion at 0 and 6 weeks in both treatment and control groups. The incidence of vitamin D deficiency in this population study was 35.1 %. In the treatment group, 25(OH) D increased from 59.1 nmol/L to 84.3 nmol/L (mean value after 6 weeks of sunlight exposure) with only a slight increase of 25(OH) D in the control group (51.8% vs 12.5%). 25(OH)D deficient levels in 15 out 16 subjects became normal after 6 weeks of sun exposure. There was no change of PTH levels in both groups. Additional results of this study are mean calcium intake of 248 mg/day and vitamin D intake of 28 IU/day.Keywords: Vitamin D deficiency, elderly women, parathyroid hormone
Hubungan Aktivitas Fisik Berat dengan Back Pain pada Penduduk Usia Kerja di Jawa dan Bali Zaki, Achmad
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 4 Februari 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.556 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i4.263

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan lama aktivitas fisik berat dengan Gejala Back pain pada penduduk usia kerja 18 – 55 tahun di wilayah Pulau Jawa dan Bali. Penelitian ini menggunakan data sekunder Survei Kesehatan Nasional Tahun 2001. Penelitian ini menggunakan desain potong-lintang dengan metode analisis regresi logistik ganda. Hasil penelitian mendapatkan ada hubungan antara aktivitas fisik berat dengan gejala back pain, setelah dikontrol oleh variabel-variabel confounding seperti lama aktivitas fisik duduk atau sedikit berjalan (terkait pekerjaan ataupun tidak), jenis kelamin, dan pendidikan. Responden dengan lama aktivitas fisik berat (bekerja 1-5 jam) memiliki risiko 2,03 kali untuk mengalami gejala back pain dibandingkan kelompok yang tidak melakukan aktifitas fisik berat (95% CI 1,34-3,08). Responden dengan lama aktivitas fisik berat (bekerja >5 jam) memiliki risiko 1,60 kali untuk mengalami gejala back pain dibandingkan kelompok yang tidak melakukan aktifitas fisik berat (95% CI 0,55 - 4,63). Disarankan untuk pemberlakuan regulasi waktu kerja menggunakan metode waktu rehat pendek (short rest break), dimana pekerja yang harus bekerja selama 5-6 jam terus menerus perlu diistirahatkan di pertengahan waktu tersebut selama sekitar 20 menit.Kata kunci: Aktivitas fisik, back painAbstractThe objective of this research is to investigate the relationship between high occupational physical activity with back pain symptoms among working age population (18—55 years olds) in Java and Bali islands. This research used secondary data from National Health Survey 2001. This research was using the crosssectional design and was analyzed by multiple logistic regression. The study result shows that there are a relationship between high occupational physical activity with back pain symptoms after controlled with confounding variables such as: duration of occupational sitting and short walk activity, duration of nonoccupational sitting and short walk, gender and educational status. Respondents with duration of heavy occupational activity of 1-5 hours have 2,03 higher risk to get back pain symptoms compared to those not doing it (95% CI 1,34-3,08). Respondents with duration of heavy occupational activity of >5 hours have 1,60 risk to get back pain symptoms compared to those not doing it (95% CI 0,55 - 4,63).Keywords : Physical activity, back pain
Pengaruh Asam Lemak Jenuh, Tidak Jenuh dan Asam Lemak Trans terhadap Kesehatan Sartika, Ratu Ayu Dewi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 4 Februari 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.772 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i4.258

Abstract

Dewasa ini pola makan modern sering dihubungkan dengan meningkatnya kadar kolesterol di dalam darah. Tingginya kolesterol darah dapat memicu munculnya penyakit degeneratif seperti stroke dan penyakit jantung koroner. Jenis makanan yang diduga berpengaruh terhadap timbulnya penyakit degeneratif yaitu makanan yang mengandung asam lemak jenuh dan asam lemak trans. Asam lemak trans memiliki pengaruh hampir 2 kali lipat dalam meningkatkan rasio K-LDL/K-HDL dibandingkan dengan asam lemak jenuh. Perubahan pada rasio kolesterol total/HDL-K atau K-LDL/K-HDL merupakan prediktor CHD (Coronary Heart Disease).Kata kunci : Asam lemak jenuh, asam lemak trans, penyakit degenatifAbstractNowadays modern meal pattern is related to the increase of cholesterol level in the blood. The high blood cholesterol can lead to degenerative diseases such as stroke and coronary heart disease. Foods that suspected to influence the occurrence of degenerative diseases are saturated fatty acid and trans fatty acid. Trans fatty acid can influence almost twice higher in increasing ratio of K-LDL/K-HDL compared to saturated fatty acid. The change in ratio of total cholesterol/ HDL-K or K-LDL/K-HDL is predictor of coronary heart disease.Keywords : Saturated fatty acid, trans fatty acid, degenerative diseases
Regulasi Pengendalian Masalah Rokok di Indonesia Achadi, Anhari
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 4 Februari 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.182 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i4.259

Abstract

Regulasi pengendalian masalah merokok di Indonesia ada dalam bentuk peraturan perundang-undangan yang dihasilkan oleh Badan Legislatif maupun peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Eksekutif. Perundang-undangan paling tinggi yang mengatur masalah merokok berupa Peraturan Pemerintah yang berlaku saat ini adalah PP No 19 tahun 2003. Peraturan Pemerintah tersebut merupakan amandemen Peraturan Pemerintah sebelumnya, yaitu PP No 39 Tahun 2000, yang juga merupakan bentuk amandemen dari PP sebelumnya lagi, yaitu PP No 81 Tahun 1999. PP No 19 Tahun 2003 yang mengatur beberapa hal penting yang meliputi a) kandungan kadar nikotin dan tar; b) persyaratan produksi dan penjualan rokok; c) persyaratan iklan dan promosi rokok; dan d). penetapan kawasan tanpa rokok. Pperundangan berupa Perda (Peraturan Daerah) maupun Keputusan Gubernur, yang mengatur pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah di atas. Jika dibandingkan dengan traktat internasional seperti FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) maka PP No 19 Tahun 2003 masih belum memadai. Indonesia sampai saat ini belum meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control ini.Kata kunci : Pengendalian masalah merokok, peraturan pemerintah, FCTCAbstractRegulation on tobacco (smoking) control in Indonesia exists both as a product of legislative and executive bodies. The highest existing tobacco control regulation is Government Regulation (Peraturan Pemerintah) No 19/ 2003. This Goverment Regulation is a result of the amendment of the Government Regulation No 38/2000 and Government Regulation No 81/ 1999. Issues regulated by the existing PP include a) nicotine and tar content; b) requirements concerning the production and sale of cigarettes; c) advertisement and promotion; and d) non-smoking areas. Other regulations on tobacco control include local laws and executive (Governor) order as further implementation of the government regulation. The existing PP falls short when compared to the International Convention on Tobacco Control (Framework Convention on Tobacco Control). So far, Indonesia has not ratified the FCTC yet.Keywords : Tobacco control, government regulation, FCTC
Analisis Beban Biaya Sendiri Pasien Rawat Inap Peserta Askes di RSUD dr. Achmad Diponegoro, Putussibau, Kalimantan Barat Kristiyadi, Johanes Eko
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 4 Februari 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.977 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i4.260

Abstract

PT. Askes asuradur yang mengelola asuransi wajib pegawai negeri sipil yang dalam peraturannya membolehkan peserta membayar beban biaya sendiri (out of pocket) karena perbedaan antara tarif rumah sakit dengan tarif paket Askes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai faktor yang berpengaruh dan model prediksi beban biaya sendiri pasien rawat inap peserta Askes di RSUD dr. Achmad Diponegoro-Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Propinsi Kalimantan Barat, tahun 2005. Rancangan penelitian yang digunakan adalah survei dengan sampel sebesar 257 pasien rawat inap tahun 2005. Dfitemukan Rata-rata beban biaya sendiri sebesar Rp. 215.472atau 20,84 % dari rata-rata biaya perawatan sesuai tariff RSUD. Beban minimum dan maksimum adalah Rp. 25.000,- dan Rp. 2.784.000,- dipengaruhi oleh faktor lama hari rawat, penyakit penyulit, obat-obatan, peserta, peserta3(isteri), golongan pegawai, interaksi antara lama hari rawat dengan penyakit penyulit dan interaksi antara penyakit penyulit dengan obat-obatan. Interaksi antara lama hari rawat dengan penyakit penyulit merupakan faktor yang paling mempengaruhinya (nilai ? 0,624). Setelah dilakukan uji asumsi dan uji interaksi, maka diperoleh model prediksi beban biaya sendiri = 5,743 + 0,313*lama hari rawat - 0,785*tidak ada penyakit penyulit + 0,819*obat-obatan (Non DPHO) + 67,397*peserta + 0,179*istri + 1,489*golongan + 0,260*Interaksi penyakit penyulit dengan Obat-obatan + 37,353*Interaksi lama hari rawat dengan penyakit penyulit.Kata Kunci : Biaya sendiri, asuransi kesehatanAbstractPT Askes is the health insurance provider with mandatory membership for public officers in Indonesia. In reality, patient still have to cover some expenses from his or her pocket, due to the differences between hospital fare and the expenses that is covered by Askes. The objective of this research is to find out the determinant factors and the prediction model of out of pocket expenses among hospitalized patients with Askes membership at dr. Achmad Diponegoro Hospital in Putussibau, Kapuas Hulu District, West Kalimantan Province in 2005. This design used in this study is cross-sectional, using 257 samples of hospitalized patients in dr. Achmad Diponegoro Hospital in Putusibau, Kapuas Hulu District, West Kalimantan Province during the year of 2005. The average amount of out of pocket expenses of each patient is Rp 215,472.76 or 20.84 % out of the total expenses in the district hospital. the minimum fare is Rp 25,000.- and the maximum one is Rp 2,784,000.-, depend on the number of days in hospital, type of illness, medications, type of membership (member1=the person with the membership, member3=the spouse), level 1 employee, the interaction between length of stay with type of illness, and the interaction between complicated illness and drugs are the most influence factor ( the ? value are the highest, that is 0,624). The assumption and interaction test, resulted in the model: self expenses = 5,743 + 0,313*length of stay - 0,785*no complicated illness + 0,819*drugs (Non DPHO) + 67,397*member1 + 0,179*member3 + 1,489*employee1 + 0,260*interaction between complicated illness and drugs + 0,260*Interaction between length of stay and complicated illness.Key word : Out of pocket, health insurance
Dampak Penggunaan Briket Batubara dibandingkan dengan Bahan Bakar Lain terhadap Keluhan Pernafasan Kronik Pekerja di UKM Mardansyah, Johan
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 4 Februari 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.732 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i4.261

Abstract

Pemerintah Indonesia berencana meningkatkan penggunaan batubara sebagai bahan bakar alternatif. Untuk itu, diperlukan studi mengenai dampak kesehatan akibat pengguna briket batubara. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara pajanan di udara tempat kerja dengan keluhan pernafasan kronik pekerja pengguna kompor briket batubara di UKM. Penelitian dengan disain Kohort Retrospektifl ini dilakukan terhadap data primer hasil wawancara dan pemeriksaan fisik pekerja serta hasil pengukuran pajanan di udara tempat kerja. Pajanan yang diukur meliputi debu total, NO2, SO2, Benzen, Cd dan Mn. Sampel terdiri dari 61 responden pada kelompok yang terpajan briket batubata dan 61 responden pada kelompok pembanding yang terpajan bahan bakar lain. Penelitian ini menggunakan metoda analisis Independent Sampel t test untuk variabel berskala numerik dan Chi Square untuk variabel berskala kategorik. Dari hasil penelitian ditemukan tidak ada perbedaan yang bermakna baik pajanan di udara tempat kerja maupun proporsi pekerja yang menderita keluhan pernafasan kronik antara kelompok Studi dan kelompok Kontrol. Hampir semua parameter tidak melampaui NAB kecuali benzen di kelompok tidak terpajan briket. Penelitian ini belum dapat menyiimpulkan bahwa pengunaan briket batubara tidak berdampak negatif terhadap sistem pernafasan pekerja. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk semua jenis briket batubara yang ada.Kata kunci: Briket batubara, dampak kesehatan, keluhan pernafasan kronikAbstractThe Indonesian government has determined a policy of using coal briquettes as alternative fuel. With the increasing usage, government need information about health effects associated with the use of coal briquettes. The objective of this study is to know health effects (measured by respiratory symptoms of worker’s) associated with the use of coal briquettes fuel in small industries. The study design is cross-sectional using primary data collected through questionnaire, physical examination and level of exposure measurement in the workplace. The exposure measured include all dust, NO2, SO2, Benzen, Cd and Mn. The sample consists of 61 respondents from exposed group and 61 respondents from control group. The exposed group consisted of workers using coal briquettes and control are worker’s who did not use coal briquettes. Result of the study showed that there was no significant difference of exposure between exposed group with control group and proportion of respiratory symptoms was also show no significant difference. All exposure were below threshold limit values (TLVs) in the study. The study show no association between respiratory symptoms and the use of coal briquettes fuel in small industries. It is suggested to conduct further studies using cohort and include all types of coal briquettes.Keywords : Coal briquettes, health effects, respiratory symptoms
Pengaruh Pajanan Sinar Ultraviolet B Bersumber dari Sinar Matahari terhadap Konsentrasi Vitamin D (25(OH)D) dan Hormon Paratiroit pada Perempuan Usia Lanjut Indonesia Setiati, Siti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 4 Februari 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.797 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i4.257

Abstract

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa defisiensi vitamin D dan hiperpara-tiroidisme sekunder menimbulkan dampak serius pada kesehatan, antara lain meliputi osteoporosis, osteomalasia, kelemahan otot, jatuh dan fraktur osteoporotik. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui pengaruh pajanan UVB sinar matahari pada konsentrasi 25(OH)D dan hormon paratiroid (PTH) perempuan usia lanjut Indonesia. (2) mendapatkan saat dan lama pemajanan yang optimal. Penelitian uji klinik acak terbuka ini melibatkan 74 perempuan berusia 60 - 90 tahun yang tinggal di 4 panti werda di Jakarta dan Bekasi. Randomisasi dilakukan untuk memisahkan kelompok studi dan kontrol. Kelompok kontrol hanya mendapat kalsium 1000 mg/hari, sedang kelompok intervensi dipajankan dengan matahari selama 6 minggu. Hasil yang diukur sebelum dan sesudah 6 minggu pemajanan adalah konsentrasi 25(OH)D, PTH, dan ion kalsium. Ditemukan bahwa, waktu pemajanan yang optimal adalah 1 jam sebelum dan sesudah tengah hari. Prevalensi defisiensi vitamin D pada wanita usia lanjut adalah 35,1%. Pada kelompok terpajan, konsentrasi 25(OH)D meningkat lebih tinggi daripada yang tidak dipajan (51,8% vs 12,5%). Hasil tambahan adalahrerata asupan kalsium 248 mg/hari, dan rerata asupan vitamin D 28 IU/hari.Kata kunci: Defisiensi vitamin D, perempuan usia lanjut, hormon paratiroidAbstractMany studies showed that vitamin D deficiency and secondary hyper-parathyroidism cause serious impact on health including osteoporosis, osteomalacia, paralysis, fall, and osteoporotic fracture. This study was conducted to compare the effect of UVB from sunlight exposure in combination with calcium supplementation, and control (calcium only) on the vitamin D status and parathyroid hormone (PTH) concentration in Indonesian elderly women. This study was a randomized clinical trial in institutionalized care unit. Subjects included 74 elderly women with a mean age 71 years. Intervention was random allocation of UVB from sunlight exposure at 0.6 MED/hour noted in the UV meter on the face and both arms and calcium 1000 mg, three times per week for 6 weeks, and without treatment (calcium 1000 mg only). Main outcome measured were fasting serum levels of 25(OH) D, PTH, and calcium ion at 0 and 6 weeks in both treatment and control groups. The incidence of vitamin D deficiency in this population study was 35.1 %. In the treatment group, 25(OH) D increased from 59.1 nmol/L to 84.3 nmol/L (mean value after 6 weeks of sunlight exposure) with only a slight increase of 25(OH) D in the control group (51.8% vs 12.5%). 25(OH)D deficient levels in 15 out 16 subjects became normal after 6 weeks of sun exposure. There was no change of PTH levels in both groups. Additional results of this study are mean calcium intake of 248 mg/day and vitamin D intake of 28 IU/day.Keywords: Vitamin D deficiency, elderly women, parathyroid hormone
Faktor Prediksi Persepsi Ibu tentang Diare pada Balita Supono, Joko
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2 No. 4 Februari 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.444 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v2i4.262

Abstract

Diare pada balita masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia. Persepsi keseriusan penyakit diare yang rendah merupakan kendala upaya menurunkan angka kesakitan diare. Penelitian yang menggunakan desain cross sectional ini bertujuan menguji hubungan antara faktor pengetahuan, pengalaman kontak, dan kepercayaan, dengan persepsi ibu terhadap diare pada balita. Populasi pada penelitian ini adalah ibu balita yang bermukim di Kecamatan Bekasi Utara, Jawa barat. Dari hasil penelitian terbukti bahw pengetahuan, pengalaman kontak, dan kepercayaan berhubungan secara bermakna dengan persepsi ibu terhadap diare pada balita. Ibu balita yang berpengetahuan rendah berisiko 2,5 kali untuk berpersepsi diare sebagai penyakit biasa daripada ibu yang berpengetahuan tinggi (OR: 2,535; 95%CI: 1,321 – 4,866) setelah variabel pendidikan dikendalikan. Ibu balita yang tidak pernah berpengalaman kontak berisiko hampir 5 kali lebih besar untuk berpersepsi diare sebagai penyakit biasa daripada ibu balita yang pernah kontak (OR: 4,761; 95% CI: 1,853 - 12,235). Ibu balita dengan kepercayaan rendah berisiko 0,4 kali untuk mempersepsikan diare sebagai penyakit biasa lebih kecil daripada ibu dengan kepercayaan tinggi setelah variabel jumlah balita dikendalikan (OR: 0,392; 95%CI: 0,195 - 0,765). Upaya memperbaiki persepsi ibu balita disarankan dengan meningkatkan program promosi kesehatan yang dilakukan melalui peningkatan pengetahuan, menciptakan pengalaman dengan model simulasi, serta merasionalkan kepercayaan tentang diare pada balita di masyarakat.Kata kunci : Diare pada balita, persepsi, pengetahuan, pengalaman kontak, kepercayaanAbstractDiarrhea among under-five children is still a major problem in developing countries such as Indonesia. The low perception to the seriousness of diarrhea is one of the obstacles in decreasing the diarrhea frequency. Using cross sectional design, this research aims to find the relationship between knowledge, contact experience, and belief about diarrhea on under five children with the perception of mothers towards the seriousness of diarrhea. The research population is mothers with under five children in Bekasi Utara district, and 175 subjects were selected randomly across 6 regions (kelurahan). This research showed that knowledge, contact experience and belief have significant relation with the perception towards the seriousness of diarrhea on under five children. Mothers who had limited knowledge had chance 2,5 times more than mothers who had wide knowledge to perceive that diarrhea was not serious (OR: 2.535; 95%CI: 1.321 – 4.866) after education variable was controlled. Mothers who had no experience with diarrhea had chance almost 5 times more than mothers who had experience to perceive that diarrhea was not serious (OR: 4.761; 95%CI: 1.853 – 12.235). Mothers who had low belief had chance 0.4 times more than mothers who had high belief to perceive that diarrhea was not serious (OR: 0.392; 95%CI: 0.195 – 0.765) after the number of under five children was controlled. The effort to improve the perception of mothers towards diarrhea can be conducted by improving the program to promote health, such as enhancing the knowledge/ awareness, creating contact experience by simulation model, and by rationalizing belief about diarrhea.Keywords : Diarrhea, perception, knowledge, contact experience, belief

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2008 2008


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 2 (2019): Volume 14, Issue 2, November 2019 Vol 14, No 1 (2019): Volume 14, Issue 1, August 2019 Volume 13, Issue 4, May 2019 Volume 13, Issue 3, February 2019 Volume 13, Issue 2, November 2018 Volume 13, Issue 1, August 2018 Volume 12, Issue 4, May 2018 Volume 12, Issue 3, February 2018 Volume 12, Issue 2, November 2017 Volume 12, Issue 1, August 2017 Volume 11, Issue 4, May 2017 Volume 11, Issue 3, February 2017 Volume 11, Issue 2, November 2016 Volume 11, Issue 1, August 2016 Vol. 10 No. 4 May 2016 Vol. 10 No. 3 February 2016 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 9 No. 4 Mei 2015 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 10 No. 2 November 2015 Vol. 10 No. 1 Agustus 2015 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 1 Agustus 2012 Vol. 6 No. 6 Juni 2012 Vol. 6 No. 5 April 2012 Vol. 6 No. 4 Februari 2012 Vol. 6 No. 3 Desember 2011 Vol. 6 No. 2 Oktober 2011 Vol. 6 No. 1 Agustus 2011 Vol. 5 No. 6 Juni 2011 Vol. 5 No. 5 April 2011 Vol. 5 No. 4 Februari 2011 Vol. 5 No. 3 Desember 2010 Vol. 5 No. 2 Oktober 2010 Vol. 5 No. 1 Agustus 2010 Vol. 4 No. 6 Juni 2010 Vol. 4 No. 5 April 2010 Vol. 4 No. 4 Februari 2010 Vol. 4 No. 3 Desember 2009 Vol. 4 No. 2 Oktober 2009 Vol. 4 No. 1 Agustus 2009 Vol. 3 No. 6 Juni 2009 Vol. 3 No. 5 April 2009 Vol. 3 No. 4 Februari 2009 Vol. 3 No. 3 Desember 2008 Vol. 3 No. 2 Oktober 2008 Vol. 3 No. 1 Agustus 2008 Vol. 2 No. 6 Juni 2008 Vol. 2 No. 5 April 2008 Vol. 2 No. 4 Februari 2008 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 Vol. 2 No. 3 Desember 2007 Vol. 2 No. 2 Oktober 2007 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 6 Juni 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 vol. 1 No. 3 Desember 2006 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 Vol. 1 No. 1 Agustus 2006 More Issue