cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : -
Core Subject : Health,
Kesmas: National Public Health Journal is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance health of the public through scientific approach applying variety of technique. This focus includes area and scope such as biostatistics, epidemiology, health education and promotion, health policy and administration, environmental health, public health nutrition, sexual and reproductive health, and occupational health and safety.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue " Vol. 10 No. 1 Agustus 2015" : 13 Documents clear
Sociodemographic Factors to Dengue Hemmorrhagic Fever Case in Indonesia Nuryunarsih, Desy
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10 No. 1 Agustus 2015
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v10i1.813

Abstract

Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a leading cause of hospitalization and death among children. Indonesia is one of those countries categorized by World Health Organization (WHO) as hyperendemicity with four serotypes circulating in urban area. Sociodemographic factors are considered as factors affecting DHF in Indonesia. This study used secondary data downloaded from Province Health Database 2010 of Health Ministry Republic of Indonesia to determine correlation between three sociodemographic factors to DHF incidence. This study used quantitative descriptive correlational methods. Results showed the selected two sociodemographic factors had a linear impact on DHF incidence. Multiple regression multivariate analysis showed least correlation between DHF incidence and three selected sociodemographic factors. However, the univariate regression analysis showed that population density and poverty had significant correlation to DHF, respectively the population density r(4) = 0.843, p value < 0.05 and poverty r(4) = 0.897, p value < 0.05. Variable of age under 15 years old did not have any positive correlation to DHF. It is expected this study may have contribution to DHF prevention programs by helping public health practitioners develop more strategies with respect to the sociodemographic factors.Faktor-faktor Sosiodemografi terhadap Kasus Demam Berdarah diIndonesiaDemam berdarah dengue (DBD) adalah penyebab utama rawat inap dan kematian pada anak-anak. Indonesia adalah salah satu negara yang oleh WHO dikategorikan hyperendemicity dengan empat serotipe virus tersebar di daerah perkotaan. Faktor sosiodemografi dianggap sebagai faktor pendukung terjadinya DBD di Indonesia. Studi ini menggunakan data sekunder yang diunduh dari Basis Data Kesehatan Provinsi tahun 2010 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk menentukan korelasi antara ketiga faktor sosiodemografi dengan insiden DBD. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskripsi korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua faktor sosiodemografi terpilih memiliki korelasi linier dengan insiden DBD. Analisa regresi multivariat menunjukkan kecilnya korelasi antara insiden DBD dengan sekaligus tiga faktor sosiodemografi terpilih. Akan tetapi, hasil perhitungan analisa regresi univariat menunjukkan bahwa kepadatan penduduk dan kemiskinan memiliki korelasi yang signifikan terhadap DBD. Kepadatan penduduk r(4) = 0,843, nilai p < 0,05, sedangkan kemiskinan r(4)= 0,897, nilai p < 0,05. Variabel usia di bawah 15 tahun tidak memiliki korelasi positif terhadap insiden DBD. Diharapkan penelitian ini dapat memiliki kontribusi terhadap program pencegahan DBD dengan cara membantu praktisi kesehatan masyarakat mengembangkan strategi pencegahan DBD, terutama yang berhubungan dengan faktor sosiodemografi.
Sikap Remaja terhadap Keperawanan dan Perilaku Seksual dalam Berpacaran Rusmiati, Desi; Hastono, Sutanto Priyo
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10 No. 1 Agustus 2015
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v10i1.815

Abstract

AbstrakLaporan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007dan 2012 menunjukkan terjadinya penurunan jumlah remaja yang memiliki sikap positif terhadap pentingnya mempertahankan keperawanan bagi seorang perempuan. Dari laporan yang sama juga diketahui adanya peningkatan perilaku seksual remaja dalam hal berpegangan tangan, berciuman bibir, petting, dan melakukan hubungan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan antara sikap remaja terhadap keperawanan dengan perilaku seksual dalam berpacaran dengan melibatkan usia, jenis kelamin, pendidikan, tempat tinggal, usia pertama kali pacaran, pengetahuan, dan pengaruh teman sebaya sebagai variabel perancu. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan potong lintang menggunakan model faktor risiko dari data SDKI 2012 yang dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat dengan complex samples. Populasi penelitian adalah remaja berusia 15 - 24 tahun, belum menikah, pernah atau sedang berpacaran saat survei dilakukan. Sampel berjumlah 13.013 yang terdiri dari 7.329 laki-laki dan 5.684 perempuan. Hasil menunjukkan 1,1% remaja tidak setuju terhadap pentingnya menjaga keperawanan dan 25,2% remaja memiliki perilaku seksual berisiko. Terdapat hubungan antara sikap, usia, jenis kelamin, pengetahuan, dan pengaruh teman sebaya dengan perilaku seksual. Tidak terdapat interaksi antara sikap dengan usia, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan, dan pengaruh teman sebaya. Variabel pengaruh teman sebaya merupakan variabel perancu yang memengaruhi hubungan antara sikap dengan perilakuseksual.Teenage Attitudes toward Virginity and Sexual Behavior in DatingAbstractIndonesia Demographic and Health Survey (IDHS) reports in 2007 and 2012 show a declining number of teenagers who had positive attitude to the importance of maintaining virginity for a woman. The same report also shows an increase of teenage sexual behavior in terms of holding hands, kissing, petting and intercourse. This study aimed to prove any relation ofteenage attitudes toward virginity with sexual behavior in dating that involved age, sex, education, domicile, age of first dating, knowledge andpeers’influence as confounding variables. This study was quantitative withcross-sectional design using risk factor model based on IDHS 2012 data asanalyzed in univariate, bivariate and multivariate with complex samples.Population of study was 15 – 24 year-old teenagers, unmarried, ever or being in a relationship when the survey was conducted. The amount of sample was 13,013 consisting of 7,329 men and 5,684 women. Results showed 1.1% of teenagers disagreed of the importance of maintaining virginity and 25.2% had risky sexual behavior. There was a relation of attitude, age, sex, knowledge and peers’ influence with sexual behavior. Then no interaction found between attitudes with age, sex, education, knowledge and peers’influence. Peers’ influence variable is confounding variable affecting the relation between attitudes and sexual behavior.
Penerapan Sistem Remunerasi dan Kinerja Pelayanan Soetisna, Tri Wisesa; Ayuningtyas, Dumilah; Misnaniarti, Misnaniarti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10 No. 1 Agustus 2015
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v10i1.811

Abstract

Remunerasi dapat memengaruhi motivasi pegawai sekaligus meningkatkan kinerjanya. Demikian halnya di rumah sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan yang padat modal, sumber daya manusia serta padat ilmu dan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi pegawai terhadap implementasi sistem remunerasi dan kinerja unit pelayanan bedah jantung dewasa (UPBJD) di rumah sakit. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods (kuantitatif dan kualitatif). Desain penelitian kuantitatif adalah potong lintang menggunakan instrumen kuesioner self-assessment. Sedangkan desain penelitian kualitatif adalah deskriptif, dilakukan melalui focus group discussion dan telaah dokumen pada data berupa buku jadwal, buku registrasi, catatan keperawatan, dan rekam medis. Pengambilan data dilakukan pada tahun 2013 di salah satu rumah sakit di Jakarta. Responden/informan adalah staf medis fungsional, perawat, dan petugas administrasi berjumlah 29 orang. Data dianalisis secara univariat (metode kuantitatif), dan content analysis (metode kualitatif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar staf medis fungsional dan perawat tidak puas (71,2%) dengan beberapa hal dalam penerapan sistem remunerasi, seperti pada sistem penggajian dan penentuan grading. Terlihat kinerja unit pelayanan bedah jantung dewasa mengalami kenaikan setiap tahun sebelum dan setelah penerapan sistem remunerasi. Diharapkan agar rumah sakit ini dapat memperbaiki sistem remunerasi yang sesuai ketentuan kebijakan dan menyusun formulasi insentif dan bonus yang lebih sesuai dengan kondisi saat ini serta perlu dilakukan sosialisasi yang tepat dan evaluasi secara berkala. Implementation of Remuneration System and Service PerformanceRemuneration can influence worker`s motivation, and improve their performance. Likewise in hospital as capital-intensive, human resources-intensive as well as knowledge and technology-intensive health care institution. This study aimed to analyze employee’s perception of remuneration system implementation and adult cardiac surgery services unit’s performance at hospital. This study used a mixed method approach (quantitative and qualitative). Quantitative study design was cross-sectional using questionnaire for self-assesment. Meanwhile, qualitative study design was descriptive conducted through focus group discussion and document review on data in forms of schedule book, registration book, nursing notes and medical records. Data collection was conducted in 2013 at one hospital in Jakarta. Respondents/informants were functional medical staff, nurses, and administration staff amounted to 29 people. Data was analyzed using univariate and content analysis techniques. Results showed most functional medical staff dan nurse were unsatisfied (71.2%) with several things in remuneration system implementation, such as in payroll system and grading determination. However, adult cardiac surgery services unit’s performance is increasing every year before and after the implementation of remuneration system. This hospital is expected to improve the remuneration system in accordance with policy and arrange incentive formulation that is more appropriate with current condition as well as followed with proper socialization and periodical evaluation.
Tradisi dan Lingkungan Sosial Memengaruhi Dukungan Menyusui pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah di Kota Malang Choiriyah, Muladefi; Hapsari, Elsi Dwi; Lismidiati, Wiwin
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10 No. 1 Agustus 2015
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v10i1.816

Abstract

AbstrakBerat badan lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu penyebab utamakematian bayi di dunia. World Health Organization tahun 2003 telah merekomendasikan menyusui sebagai salah satu penanganan BBLR. Namun, ibu yang memiliki bayi BBLR mengalami kesulitan di awal persalinan. Selain itu, menyusui di Indonesia juga dipengaruhi oleh sosial dan budaya yang dipercayai sehingga memengaruhi keputusan ibu untuk memilih tetap menyusui atau tidak sama sekali di periode awal postpartum. Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi makna pengalaman ibu untuk tetap menyusui bayi dengan BBLR. Penelitian kualitatif ini dengan pendekatan fenomenologi. Tujuh orang partisipan adalah ibu yang pernah menyusui bayi BBLR. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam semiterstruktur, observasi, dan data sekunder pada bulan Mei – Juni 2015. Analisis data menggunakan metode Colaizzi tahun 1978. Ditemukan empat tema, yaitu pengenalan menyusui sejak dini untuk bayi BBLR, pemberian makanan pendamping air susu ibu dini sebagai alternatif dalam mengatasi kesulitan menyusui, tradisi yang dipercayai, dan lingkungan sosial memengaruhi dukungan bagi ibu menyusui serta menerima menyusui sebagai bagian dari kodrat seorang perempuan. Menyusui bayi BBLR memiliki tingkat kesulitan yang tinggi serta adanya tradisi yang dipercayai keluarga dan pengaruh lingkungan sosial sangat memengaruhi dukungan yang diberikan kepada ibu dalam menyusui.Tradition and Social Environment Influence Breastfeeding Support on LowBirth Weight in MalangAbstractLow birthweight (LBW) is one of main causes of infant mortality in the world. World Health Organization in 2003 had recommended breastfeeding for LBW handling. However, LBW mothers face many difficulties during early postpartum period. Moreover, breastfeeding in Indonesia is also influenced by social and cultural belief, so it may influence mothers’ decision whether remain breastfeeding or not in early postpartum period. This study aimed to explore the meaning of the experience of mothers to remain breastfeeding their LBW infants. This qualitative study was conducted using phenomenological approach. Seven participants were mothers ever breastfeeding their LBW infants. Data were collected through semi-structured in-depth interview, observation and secondary data on May – June 2015. Data analysis used Colaizzi method (1978). There were four themes found namely introduction of breastfeeding since early for LBW infants, granting of early complementary feeding as an alternative to overcome breastfeeding problem, cultural belief and social environment influencing support for breastfeeding mothers as well as accepting breastfeeding as the very nature of woman. Breastfeeding LBW infants has higher difficulty le-vel, also any tradition family believe and social environment really affect support given to mothers in breastfeeding.
Analisis Sif Kerja, Masa Kerja, dan Budaya K3 dengan Fungsi Paru Pekerja Tambang Batu Bara Sholihah, Qomariyatus; Hanafi, Aprizal Satria; Wanti, Wanti; Bachri, Ahmad Alim; Hadi, Sutarto
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10 No. 1 Agustus 2015
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v10i1.812

Abstract

AbstrakPenambangan batu bara merupakan salah satu sumber pencemaran udara berupa partikel debu batu bara yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan bila terhirup manusia. Risiko kerja yang sering terjadi dapat berasal dari faktor pekerjaan atau perilaku pekerja sendiri, di antaranya sif kerja dan masa kerja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan sif kerja, masa kerja, dan budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dengan fungsi paru pekerja tambang batu bara. Penelitian ini merupakan desain kasus kontrol dengan jumlah masing-masing sampel untuk kasus dan kontrol sebesar 178 responden. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober November 2014 di PT. X Kalimantan Selatan. Hasil penelitian berdasarkan uji kai kuadrat, didapatkan nilai p = 0,044 untuk sif kerja, 0,028 untuk masa kerja, dan 0,013 untuk budaya K3. Berdasarkan hasil uji regresi logistik, didapatkan nilai p sif kerja 0,01 dengan OR = 3,934. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara sif kerja dengan fungsi paru, dan tidak terdapat hubungan antara masa kerja dan budaya K3 dengan fungsi paru. Sif kerja merupakan variabel independen yang paling dominan memengaruhi fungsi paru.Analysis of Work Shift, Working Period and Occupational Health andSafety Culture with Lung Function of Coal Mine WorkersAbstractCoal mining is one source of air pollution caused in form of coal dust particle that may interfere with health of breathing if inhaled by human. Occupational risks often occurred may come from occupational factor or worker’s behavior itself, ones of which are work shift and work period. Thisstudy aimed to determine relations of work shift, work period and occupational health and safety (OHS) culture with lung function of coal mining worker. This study was control case design with each amount of sample for case and control was 178 respondents. The study was conducted on October – November 2014 at PT X in South Borneo. Results based on chisquare test showed p value = 0.044 for work shift, 0.028 for work period and 0.013 for OHS culture. Based on logistic regression test results, p value for work shift was 0.01 with OR = 3.934. As conclusion, there is a relation between work shift with lung function, then there is no relation found between work period and OHS culture with lung function. Work shift is an independent variable most dominantly influencing the lung function.
Pendidikan Kesehatan Reproduksi Formal dan Hubungan Seksual Pranikah Remaja Indonesia Pinandari, Aggriyani Wahyu; Wilopo, Siswanto Agus; Ismail, Djauhar
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10 No. 1 Agustus 2015
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v10i1.817

Abstract

AbstrakTransisi demografi kedua akan terjadi di Indonesia dan ditandai denganrevolusi seksual dan reproduksi. Masalah potensial di masa ini adalah peningkatan perilaku seksual pranikah, kehamilan yang tidak diinginkan,infeksi menular seksual dan penyalahgunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi formal terhadap penundaan hubungan seksual pranikah pada remaja dan dewasa muda Indonesia. Penelitian potong lintang yang dianalisis sebagai kohort retrospektif menggunakan data Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia tahun 2012 (10.980 laki-laki dan 8.902 perempuan). Efek pendidikan kesehatan reproduksi formal terhadap penundaan perilaku hubungan seksual dianalisis menggunakan kurva kaplan meier, uji log-rank, dan uji chi square, sedangkan analisis multivariabel menggunakan regresi logistik. Semua tes menggunakan tingkat kepercayaan 95% dan nilai p = 0,05. Hasil analisis keberlangsungan berpantang melakukan hubungan seksual pranikah menunjukkan bahwa remaja yang tidak menerima atau hanya menerima salah satu dari materi pendidikan kesehatan reproduksi memiliki hazard ratio yang lebih besar (berturut-turut 1,55 ( CI= 1,32 – 1,82); 0,99 (CI=0,86 – 1,15) dan 2,26 (CI=1,43 – 3,56). Menerima informasi secara lengkap memberikan waktu berpantang yang lebih lama. Penyalahgunaan obat, merokok, minum alkohol, laki-laki, berusia 20 - 24 tahun dan miskin berpeluang lebih besar untuk melakukan hubungan seksual pranikah. Penerimaan informasi kesehatan reproduksi pada jenjang pendidikan formal dapat menunda terjadinya hubungan seksual pranikah.Formal Reproductive Health Education and Premarital Sexual Intercourseamong Indonesian TeenagersAbstractThe second demographic transition will occur in Indonesia and be markedby sexual and reproductive revolution. Potential problems in this era are the increase of premarital sexual behavior, unwanted pregnancy, sexual transmitted infection and drug abuse. This study aimed to examine the influence of formal reproductive health education to delay premarital sexual intercourse among Indonesian teenagers and young adults. Cross sectional study analyzed as retrospective cohort used data of Indonesian Teenage Reproductive Health Survey in 2012 (10,980 men and 8,902 women). Effects of formal reproductive health education to delay sexual intercourse behavior was analyzed using kaplan meier curve, log-rank test, and chi square test, meanwhile multivariat analysis used logistic regression. All tests used confidence interval 95% and p value = 0.05. Results of survival analysis of abstinence committing sexual intercourse showed that teenagers who didn’t receive or only receive one of reproductive health education materials had bigger hazard ratio (respectively 1.55 (CI=1.32 – 1.82); 0.99 (CI=0.86 – 1.15) and 2.26 (CI=1.43 – 3.56)). Receiving complete information gave longer abstinence time. Drug abuse, smoking, alcohol, men, aged between 20 – 24 years old and poor were more likely to commit premarital sexual intercourse. Receipt of reproductive health information at formal education level may delay the occurrence of premarital sexual intercourse.
Assessment of Nutrition Information System Using Health Metrics Network Framework Nurmansyah, Mochamad Iqbal; Rosidati, Catur; Wardani, Riastuti Kusuma; Al-Aufa, Badra
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10 No. 1 Agustus 2015
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v10i1.814

Abstract

Nutrition Information System (NIS) developed by Heath Ministry’s Nutritional Development Directorate since 2011 covers data of toddler assessment in integrated health care, malnutrition case, coverages of Fe tablet among pregnant mothers, iodized salt consumption, vitamin A distribution and exclusive breastfeeding. This study aimed to assess NIS performance in South Tangerang City Health Agency using WHO’s Health Metrics Network 2008 framework. NIS is national level information system with gradual reporting mechanism starting from 508 districts/cities to 34 provinces ended at national level. Eight districts/cities over Banten Province have conducted NIS. This study had six informants namely nutrition section, health resources and health information system section, two nutrition duties and two integrated health care workers. Data was collected on January - April 2013 using interview, observation and document analysis guidelines. Data analysis used interpretation analysis. The result showed no any policy and training implemented regarding nutrition surveillance. Monitoring activity was already conducted. Facilities were adequate, but the maintenance was deficient. There are six nutritional development indicators according to MDGs. Data grouping and dictionaries were available. Data reporting was conducted every month. Graphics and maps were used for presenting data. The data served was used for monitoring and making a decision on nutritional development programs at integrated health care, primary health care and health agency levels. Generally, NIS implementation in South Tangerang City. Health agency was already adequate.AbstrakSistem informasi gizi (Sigizi) dikembangkan oleh Direktorat Bina Gizi Kementerian Kesehatan sejak 2011. Data Sigizi mencakup data penimbangan balita di posyandu, kasus gizi buruk, cakupan pemberian tablet Fe pada ibu hamil, konsumsi garam beryodium, pemberian vitamin A, dan ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kinerja pengelolaan Sigizi di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan menggunakan kerangka Health Metrics Network yang dikeluarkan oleh WHO tahun 2008. Sigizi merupakan sistem informasi yang diaplikasikan pada tingkat nasional dengan mekanisme pelaporan berjenjang, dari 508 kabupaten/kota menuju 34 provinsi dan bermuara di tingkat nasional. Di Provinsi Banten, terdapat delapan kabupaten/kota yang menjalankan Sigizi. Informan penelitian berjumlah enam orang, yaitu seksi gizi, seksi sumber daya kesehatan dan sistem informasi kesehatan, dua tenaga pelaksana gizi, dan dua kader posyandu. Pengumpulan data dilakukan Januari – April 2013 menggunakan pedoman wawancara, observasi, dan telaah dokumen. Analisis interpretasi digunakan dalam menganalisis data. Hasil penelitian menunjukan belum ada kebijakan serta pelatihan mengenai pengawasan gizi. Kegiatan pemantauan telah dilakukan. Sarana dinilai cukup, namun terdapat kekurangan dalam upaya perawatannya. Terdapat enam indikator dalam pembinaan gizi yang mengacu pada MDGs. Terdapat pengelompokan dan kamus data. Pelaporan data dilakukan setiap bulan. Grafik dan peta digunakan untuk menyajikan data. Data yang tersedia digunakan untuk pemonitoran dan pengambilan keputusan dalam kegiatan pembinaan gizi, baik di tingkat posyandu, puskesmas maupun dinkes. Secara umum, pelaksanaan Sigizi di Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan telah memadai.
Sikap Remaja terhadap Keperawanan dan Perilaku Seksual dalam Berpacaran Rusmiati, Desi; Hastono, Sutanto Priyo
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10 No. 1 Agustus 2015
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v10i1.815

Abstract

AbstrakLaporan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 dan 2012 menunjukkan terjadinya penurunan jumlah remaja yang memiliki sikap positif terhadap pentingnya mempertahankan keperawanan bagi seorang perempuan. Dari laporan yang sama juga diketahui adanya peningkatan perilaku seksual remaja dalam hal berpegangan tangan, berciuman bibir, petting, dan melakukan hubungan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan antara sikap remaja terhadap keperawanan dengan perilaku seksual dalam berpacaran dengan melibatkan usia, jenis kelamin, pendidikan, tempat tinggal, usia pertama kali pacaran, pengetahuan, dan pengaruh teman sebaya sebagai variabel perancu. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan potong lintang menggunakan model faktor risiko dari data SDKI 2012 yang dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat dengan complex samples. Populasi penelitian adalah remaja berusia 15 - 24 tahun, belum menikah, pernah atau sedang berpacaran saat survei dilakukan. Sampel berjumlah 13.013 yang terdiri dari 7.329 laki-laki dan 5.684 perempuan. Hasil menunjukkan 1,1% remaja tidak setuju terhadap pentingnya menjaga keperawanan dan 25,2% remaja memiliki perilaku seksual berisiko. Terdapat hubungan antara sikap, usia, jenis kelamin, pengetahuan, dan pengaruh teman sebaya dengan perilaku seksual. Tidak terdapat interaksi antara sikap dengan usia, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan, dan pengaruh teman sebaya. Variabel pengaruh teman sebaya merupakan variabel perancu yang memengaruhi hubungan antara sikap dengan perilakuseksual.AbstractIndonesia Demographic and Health Survey (IDHS) reports in 2007 and 2012 show a declining number of teenagers who had positive attitude to the importance of maintaining virginity for a woman. The same report also shows an increase of teenage sexual behavior in terms of holding hands, kissing, petting and intercourse. This study aimed to prove any relation of teenage attitudes toward virginity with sexual behavior in dating that involved age, sex, education, domicile, age of first dating, knowledge and peers’influence as confounding variables. This study was quantitative with cross-sectional design using risk factor model based on IDHS 2012 data as analyzed in univariate, bivariate and multivariate with complex samples. Population of study was 15 – 24 year-old teenagers, unmarried, ever or being in a relationship when the survey was conducted. The amount of sample was 13,013 consisting of 7,329 men and 5,684 women. Results showed 1.1% of teenagers disagreed of the importance of maintaining virginity and 25.2% had risky sexual behavior. There was a relation of attitude, age, sex, knowledge and peers’ influence with sexual behavior. Then no interaction found between attitudes with age, sex, education, knowledge and peers’influence. Peers’ influence variable is confounding variable affecting the relation between attitudes and sexual behavior.
Penerapan Sistem Remunerasi dan Kinerja Pelayanan Soetisna, Tri Wisesa; Ayuningtyas, Dumilah; Misnaniarti, Misnaniarti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10 No. 1 Agustus 2015
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v10i1.811

Abstract

AbstrakRemunerasi dapat memengaruhi motivasi pegawai sekaligus meningkatkan kinerjanya. Demikian halnya di rumah sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan yang padat modal, sumber daya manusia serta padat ilmu dan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi pegawai terhadap implementasi sistem remunerasi dan kinerja unit pelayanan bedah jantung dewasa (UPBJD) di rumah sakit. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods (kuantitatif dan kualitatif). Desain penelitian kuantitatif adalah potong lintang menggunakan instrumen kuesioner self-assessment. Sedangkan desain penelitian kualitatif adalah deskriptif, dilakukan melalui focus group discussion dan telaah dokumen pada data berupa buku jadwal, buku registrasi, catatan keperawatan, dan rekam medis. Pengambilan data dilakukan pada tahun 2013 di salah satu rumah sakit di Jakarta. Responden/informan adalah staf medis fungsional, perawat, dan petugas administrasi berjumlah 29 orang. Data dianalisis secara univariat (metode kuantitatif), dan content analysis (metode kualitatif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar staf medis fungsional dan perawat tidak puas (71,2%) dengan beberapa hal dalam penerapan sistem remunerasi, seperti pada sistem penggajian dan penentuan grading. Terlihat kinerja unit pelayanan bedah jantung dewasa mengalami kenaikan setiap tahun sebelum dan setelah penerapan sistem remunerasi. Diharapkan agar rumah sakit ini dapat memperbaiki sistem remunerasi yang sesuai ketentuan kebijakan dan menyusun formulasi insentif dan bonus yang lebih sesuai dengan kondisi saat ini serta perlu dilakukan sosialisasi yang tepat dan evaluasi secara berkala. AbstractRemuneration can influence worker`s motivation, and improve their performance. Likewise in hospital as capital-intensive, human resources-intensive as well as knowledge and technology-intensive health care institution. This study aimed to analyze employee’s perception of remuneration system implementation and adult cardiac surgery services unit’s performance at hospital. This study used a mixed method approach (quantitative and qualitative). Quantitative study design was cross-sectional using questionnaire for self-assesment. Meanwhile, qualitative study design was descriptive conducted through focus group discussion and document review on data in forms of schedule book, registration book, nursing notes and medical records. Data collection was conducted in 2013 at one hospital in Jakarta. Respondents/informants were functional medical staff, nurses, and administration staff amounted to 29 people. Data was analyzed using univariate and content analysis techniques. Results showed most functional medical staff dan nurse were unsatisfied (71.2%) with several things in remuneration system implementation, such as in payroll system and grading determination. However, adult cardiac surgery services unit’s performance is increasing every year before and after the implementation of remuneration system. This hospital is expected to improve the remuneration system in accordance with policy and arrange incentive formulation that is more appropriate with current condition as well as followed with proper socialization and periodical evaluation.
Tradisi dan Lingkungan Sosial Memengaruhi Dukungan Menyusui pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah di Kota Malang Choiriyah, Muladefi; Hapsari, Elsi Dwi; Lismidiati, Wiwin
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10 No. 1 Agustus 2015
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v10i1.816

Abstract

AbstrakBerat badan lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi di dunia. World Health Organization tahun 2003 telah merekomendasikan menyusui sebagai salah satu penanganan BBLR. Namun, ibu yang memiliki bayi BBLR mengalami kesulitan di awal persalinan. Selain itu, menyusui di Indonesia juga dipengaruhi oleh sosial dan budaya yang dipercayai sehingga memengaruhi keputusan ibu untuk memilih tetap menyusui atau tidak sama sekali di periode awal postpartum. Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi makna pengalaman ibu untuk tetap menyusui bayi dengan BBLR. Penelitian kualitatif ini dengan pendekatan fenomenologi. Tujuh orang partisipan adalah ibu yang pernah menyusui bayi BBLR. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam semiterstruktur, observasi, dan data sekunder pada bulan Mei – Juni 2015. Analisis data menggunakan metode Colaizzi tahun 1978. Ditemukan empat tema, yaitu pengenalan menyusui sejak dini untuk bayi BBLR, pemberian makanan pendamping air susu ibu dini sebagai alternatif dalam mengatasi kesulitan menyusui, tradisi yang dipercayai, dan lingkungan sosial memengaruhi dukungan bagi ibu menyusui serta menerima menyusui sebagai bagian dari kodrat seorang perempuan. Menyusui bayi BBLR memiliki tingkat kesulitan yang tinggi serta adanya tradisi yang dipercayai keluarga dan pengaruh lingkungan sosial sangat memengaruhi dukungan yang diberikan kepada ibu dalam menyusui.AbstractLow birthweight (LBW) is one of main causes of infant mortality in the world. World Health Organization in 2003 had recommended breastfeeding for LBW handling. However, LBW mothers face many difficulties during early postpartum period. Moreover, breastfeeding in Indonesia is also influenced by social and cultural belief, so it may influence mothers’ decision whether remain breastfeeding or not in early postpartum period. This study aimed to explore the meaning of the experience of mothers to remain breastfeeding their LBW infants. This qualitative study was conducted using phenomenological approach. Seven participants were mothers ever breastfeeding their LBW infants. Data were collected through semi-structured in-depth interview, observation and secondary data on May – June 2015. Data analysis used Colaizzi method (1978). There were four themes found namely introduction of breastfeeding since early for LBW infants, granting of early complementary feeding as an alternative to overcome breastfeeding problem, cultural belief and social environment influencing support for breastfeeding mothers as well as accepting breastfeeding as the very nature of woman. Breastfeeding LBW infants has higher difficulty le-vel, also any tradition family believe and social environment really affect support given to mothers in breastfeeding.

Page 1 of 2 | Total Record : 13


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 2 (2019): Volume 14, Issue 2, November 2019 Vol 14, No 1 (2019): Volume 14, Issue 1, August 2019 Volume 13, Issue 4, May 2019 Volume 13, Issue 3, February 2019 Volume 13, Issue 2, November 2018 Volume 13, Issue 1, August 2018 Volume 12, Issue 4, May 2018 Volume 12, Issue 3, February 2018 Volume 12, Issue 2, November 2017 Volume 12, Issue 1, August 2017 Volume 11, Issue 4, May 2017 Volume 11, Issue 3, February 2017 Volume 11, Issue 2, November 2016 Volume 11, Issue 1, August 2016 Vol. 10 No. 4 May 2016 Vol. 10 No. 3 February 2016 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 9 No. 4 Mei 2015 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 10 No. 2 November 2015 Vol. 10 No. 1 Agustus 2015 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 1 Agustus 2012 Vol. 6 No. 6 Juni 2012 Vol. 6 No. 5 April 2012 Vol. 6 No. 4 Februari 2012 Vol. 6 No. 3 Desember 2011 Vol. 6 No. 2 Oktober 2011 Vol. 6 No. 1 Agustus 2011 Vol. 5 No. 6 Juni 2011 Vol. 5 No. 5 April 2011 Vol. 5 No. 4 Februari 2011 Vol. 5 No. 3 Desember 2010 Vol. 5 No. 2 Oktober 2010 Vol. 5 No. 1 Agustus 2010 Vol. 4 No. 6 Juni 2010 Vol. 4 No. 5 April 2010 Vol. 4 No. 4 Februari 2010 Vol. 4 No. 3 Desember 2009 Vol. 4 No. 2 Oktober 2009 Vol. 4 No. 1 Agustus 2009 Vol. 3 No. 6 Juni 2009 Vol. 3 No. 5 April 2009 Vol. 3 No. 4 Februari 2009 Vol. 3 No. 3 Desember 2008 Vol. 3 No. 2 Oktober 2008 Vol. 3 No. 1 Agustus 2008 Vol. 2 No. 6 Juni 2008 Vol. 2 No. 5 April 2008 Vol. 2 No. 4 Februari 2008 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 Vol. 2 No. 3 Desember 2007 Vol. 2 No. 2 Oktober 2007 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 6 Juni 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 vol. 1 No. 3 Desember 2006 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 Vol. 1 No. 1 Agustus 2006 More Issue