cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : -
Core Subject : Health,
Kesmas: National Public Health Journal is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance health of the public through scientific approach applying variety of technique. This focus includes area and scope such as biostatistics, epidemiology, health education and promotion, health policy and administration, environmental health, public health nutrition, sexual and reproductive health, and occupational health and safety.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol. 1 No. 6 Juni 2007" : 12 Documents clear
Hubungan Status Reproduksi, Status Kesehatan, Akses Pelayanan Kesehatan dengan Komplikasi Obstetri di Banda Sakti, Lhokseumawe Tahun 2005 Huda, Lasmita Nurul
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 6 Juni 2007
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v1i6.288

Abstract

Di Indonesia, angka kematian ibu (AKI) masih tinggi jika dibanding sengan negara-negara ASEAN. Penyebab utama kematian ibu adalah komplikasi obs- tetri yang merupakan penyulit atau penyakit yang timbul pada waktu kehamilan, persalinan dan pasca persalinan. Di Indonesia, komplikasi obstetri (20% da- ri seluruh ibu hamil) masih sangat tinggi, sementara yang mampu ditangani hanya sekitar 10%. Berbagai faktor yang mempengaruhi komplikasi obstetri adalah status reproduksi, perilaku pencarian pelayanan kesehatan dan status kesehatan. Penelitian yang berujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan komplikasi obstetri ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sumber data primer. Sampel adalah 220 ibu yang melahirkan bayi hidup atau mati pada tahun 2005 yang ditarik secara sistematik random sampling. Hasil penelitian mendapatkan prevalensi komplikasi obstetri 46,8%, komplikasi pada waktu hamil dan persalinan merupakan yang terbanyak (12,27%) dan paling sedikit adalah komplikasi waktu hamil dan nifas masing-masing 2,27%. Model multivariat akhir mendapatkan lima variabel yang berhubungan dengan komplikasi obstetri meliputi penolong persalinan OR=4,32 (95% CI: 0,49-37,98); paritas OR=1,86 (95% CI: 0,83-4,16); sikap OR=1,66 (0,94-2,94)[ riwayat komplikasi hamil sebelumnya OR=1,79 (0,83-3,83) dan tempat persalinan OR=1,18 (95% CI: 1,01-3,26. Upaya yang perlu dilakukan untuk menurunkan kejadian komplikasi obstetri di Kecamatan Banda Sakti adalah pelatihan bidan, pengembangan PONED dan PONEK, serta memberikan pelayanan KB segera setelah bersalin kepada ibu yang memiliki paritas berisiko dan riwayat komplikasi hamil.Kata kunci: Status reproduksi, pemanfaatan pelayanan kesehatan, status kesehatan, komplikasi obstetri.The Maternal Mortality Rate (MMR). in Indonesia is still high compared to other ASEAN countries. The cause of the maternal death is obstetrical complica- tions which arise at the period of pregnancy, childbirth. The complications badly affect the maternal death. The rate of the obstetrical complications is still high in Indonesia. It is about 20% of the whole pregnant women, but the case of complications treated is still less than 10%. A variety of factors influence the occurrence of the complications. They are reproduction status, health seeking behavior service, and health status. Therefore, this study was conducted to know the factors related to the obstetrical complications. This study uses cross-sectional design. Data were collected by questionnaires. Samples are women delivering their babies alive or dead in 2005, the number of which are 220 at minimum. Before analyzing, the data were cleaned, then, categorized according to the operational definition. The data were analyzed in three steps, namely univariate, bivariate, and multivariate.The results show that of out of 46.8% of obstetrical complications incidence, the complication mostly happened (12.27%) at the pregnancy and delivery and 2.27% of it happened at pregnancy and parturition. The last analysis without interaction results in five variables related to the complications. They are delivery helper OR=4.32 (95% CI: 0.49-37.98), parity OR=1.86 (95% CI: 0.83-4.16), attitude OR=1.66 (0.94-2.94), pregnant complication history OR=1.79 (0.83-3.83). The dominant factor is place of de- livery, OR=1.18 (95% CI: 1.01-3.26). Based on the study, the incident of obstetrical complication in Banda Bakti Sub district can be decreased by training the midwives so that they have knowledge, motivation, and skill in dealing with obstetrical complications, developing PONED and PONEK, providing family plan- ning service soon after the delivery to the women who are at risk of parity and pregnant complication history, and building partnership with midwives (helping the delivery traditionally).Key words: reproductive status, health seeking behavior service, and health status with obstetric complication
Cost Effectiveness Upaya Penanggulangan Gizi Metode Positif Deviance dan Pemberian Makanan Tambahan di Puskesmas Gekbrong Kabupaten Cianjur 2006 Suharyati, Suharyati
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 6 Juni 2007
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v1i6.289

Abstract

Provinsi Jawa Barat masih menghadapi masalah rawan gizi serius, terlihat pada 18.094 balita rawan pangan yang terhimpun di tiga kantong utama, Kabu- paten Cirebon (4.005), Bandung (2.991) dan Cianjur (2.670). Di Kabupaten Cianjur, balita gizi buruk dan gizi kurang ditemukan 2.670 (1,3%) dan 24.447 (11,7%) dari 208.572 balita yang ada. Tujuan penelitian ini membandingkan cost effectiveness upaya perbaikan gizi pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang bersifat top down dan Positive Deviance (PD) yang besifat bottom up. Data ditinjau dari sisi provider dan perhitungan biaya peraktifitas menggunakan metoda Activity Based Costing (ABC Methode). Komponen biaya penanggulangan gizi terbesar berturut-turut adalah biaya operasional, investasi dan pemeliharaan (85%, 14,5% dan 0,3%). Metoda PD memerlukan waktu 54 hari dan metoda PMT 102 hari. Rata-rata kenaikan berat badan (BB) selama tiga bu- lan pada metoda PD (920 gram) adalah lebih besar daripada metoda PMT (650 gram). Rata-rata kenaikan BB pada bulan I. II dan II, pada metoda PD (470, 220 dan 230 gram) adalah lebih tinggi daripada metoda PMT (300, 170 dan 180 gram). Kenaikan BB balita dalam 3 bulan berdasar pita warna KMS, BB sa- ngat kurang dan kurang pada PD (54%, 17%) lebih rendah daripada PMT (78%, 22%). Nilai CER metoda PD (Rp 446.828,- /balita) terlihat lebih kecil daripada metoda PMT (Rp 768.887,-/balita). Disimpulkan bahwa metoda PD lebih cost effective daripada metoda PMT.Kata kunci: efektifitas biaya, BB, CEA, PD, PMTAbstactThe Province of West Java still faces serious malnutrition problem that can be seen in 18094 cases of under 5 years old children who suffer from malnutrition particularly in districts of Cirebon (4005), Bandung (2991) and Cianjur (2670). In Cianjur it was found that 2670 (1.3%) cases of severe under-nutrition and 24447 (11.7%) cases of under-nutrition out of 208572 children. The objective of this study is to compare the cost effectiveness between positive deviance (PD) and food supplementation (PMT) methods. The data were observed from the provider side using Activity Based Costing (ABC) method. The study shows that the biggest cost component is the operational cost (85%), investment cost (14.5%) and maintenance cost (0.3%). The time frame for PD method (54 days) is shorter than that of PMT method (102 days). The average body weight gain in three months, the PD method (920 grams) is smaller than that of PMT method (650 grams). The monthly average gain in the first, second and third for the PD method (470, 220 and 230 grams) is higher than that of the PMT method (300, 170 and 180 grams). From growth chart (KMS) in three months, below red line (BGM) and under-weight in the PD method (54%, and 17%) is lower than the PMT (78% and 22%). The CER value for PD method is Rp 446,828,-/child, lower than that of the PMT method ( Rp 768,887,-/child). It was concluded that PD method is more cost effective than PMT method.Key words: Cost-effectiveness, under-weight, Positive Deviance, food supplementation
Filosofi dan Konsep Dasar Kesehatan Kerja Serta Perkembangannya dalam Praktik Kurniawidjaja, L. Meily
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 6 Juni 2007
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v1i6.284

Abstract

Kesehatan kerja merupakan masalah setiap individu karena bekerja dibutuhkan semua orang sebagai sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sejak lama diketahui bahwa bekerja dapat menyebabkan gangguan kesehatan atau penyakit. Sebaliknya, kesehatan dapat mengganggu pekerjaan. Artikel ini bertujuan memberikan pemahaman tentang konsep, praktik dan manfaat kesehatan kerja bagi para pekerja dan pemberi kerja. Kesehatan kerja se- harusnya tidak hanya terfokus pada diagnosis dan pengobatan klinis, tetapi juga mengerjakan rekognisi hazard, penilaian risiko dan intervensi untuk menghilangkan atau meminimalkan risiko. Lingkupnya diperluas untuk mencegah penyakit dengan cara: (1) penempatan pekerja pada pekerjaan/ jabatan yang sesuai (fit) dengan status kesehatan dan kapasitas kerjanya. (2) program promosi kesehatan pekerja; (3) perbaikan lingkungan kerja; (4) perbaikan pekerjaan; (5) pengembangan pengorganisasian pekerjaan dan budaya bekerja.; dan (6) surveilans kesehatan pekerja. Indonesia telah meratifikasi konvensi dan rekomendasi ILO yang berhubungan dengan kesehatan kerja. Ada profesional dari multidisiplin dan organisasi profesi melakukan kesehatan kerja di lapangan tersebut, dan banyak pengandil yang lain.Kata kunci: Kesehatan kerja, ahli kesehatan kerja, lingkup kesehatan kerjaabstractOccupational health (OH) is everybody responsibility, because work is human being and decent work is human right, Many work related diseases were documented and stimulated people to do something to overcome it. The objective of this article is to explain the concept, practice and benefit of the occupational health for wokers and employers. The occupational health should not only focus on clinical diagnostic and therapy, but should do hazard recognizing, risk assessment and intervention to eliminate or minimize the risk (risk management method), and widen its scope to prevent diseases by (1) placing the worker in a task adapted to his health status and working capacity; (2) workers’ health promotion program;(3) the improvement of the working environment; (4) the improvement of work; and (5) the development of work organization and working cultures; (6) workers health surveillance. Indonesia had ratified ILO con- ventions and recommendations related to OH. There are professionals from multidiscipline and organizations conduct OH in the field, and many other OH stakeholders.Key words: Occupational Health, OH professionals, scope of OH
Tracer Study : Melacak Jejak Lulusan FKM UI (Hasil Study Kualitatif Tracer Sarjana Kesehatan Masyarakat FKM UI 2006) Syafiq, Ahmad; Fikawati, Sandra
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 6 Juni 2007
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v1i6.285

Abstract

Salah satu indikator penting keberhasilan pendidikan tinggi adalah sumbangsih lulusannya dalam masyarakat dan pembangunan. Tracer study dapat menyediakan informasi mengenai sumbangsih dan keterlibatan alumni di masyarakat termasuk dinamika di dunia kerja. Fakultas Kesehatan Masyarakat UI (FK-MUI) sudah melaksanakan tracer study kuantitatif pada tahun 2003 yang menginformasikan beberapa aspek terkait dengan lulusan dan keberadaannya di dunia kerja. Penelitian ini merupakan tracer study kualitatif untuk melengkapi gambaran yang diperoleh pada tracer study pertama tersebut dan mencoba menggali lebih dalam informasi mengenai pengalaman pembelajaran di FKMUI, pengalaman bekerja, dan kepuasan lulusan dan pengguna lulusan terhadap pendidikan di FKMUI. Wawancara mendalam dilakukan terhadap 24 informan yang dibagi menjadi empat kelompok institusi kerja yaitu pemerintahan, sektor swasta/industri, LSM, dan lembaga pendidikan tinggi. Subyek dilacak secara multi moda dan data dianalisis berdasarkan tema utama penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis lapangan dipersepsi sebagai pengalaman belajar yang paling penting dan bahwa soft-skill adalah keterampilan yang sangat dihargai dan relevan di dunia kerja nyata. Penelitian ini juga mengungkap bahwa pada umumnya lulusan dan pengguna lulusan merasa puas dengan pendidikan di FKMUI.Kata kunci: Tracer study, lulusan, soft-skillAbstractOne important indicator of the success of higher education is the contribution of its alumni in the community and development. Tracer study provides infor- mation on alumni contribution and involvement in the community including working and employment dynamics. Faculty of Public Health University of Indonesia (FPHUI) has conducted a quantitative tracer study in 2003 which informed selected aspects related to alumni and their existence in employment world. This study is a qualitative tracer study to complement the first tracer study and aimed at digging further information on learning experience in FPHUI, working experience, and alumni and user’s satisfaction on education in FPHUI. In-depth interviewed were conducted to 24 informants which divided into 4 groups of institution (government, private sector/industry, non government organization and higher education institutions). Subjects were traced in a multimode way and data was analyzed based on the study main theme. Study exhibits that field-based learning is perceived as the most important learning experience and soft-skill is highly appreciated and most relevant in the real work situation. The study also found that most users and alumni are satisfied with education in FPHUI.Key words: Tracer study, alumni, soft-skill
Kendala Pengawasan Melekat Bahan Habis Pakai Pasien Gakin (Unit Rawat Inap RS Persahabatan Tahun 2006) Ernawaty, Ernawaty
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 6 Juni 2007
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v1i6.286

Abstract

Pelaksanaan pengawasan atasan langsung (waskat) dalam penggunaan bahan habis pakai/obat dan pemberian obat untuk pasien gakin adalah sangat penting. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi berbagai komponen unit pengawasan yang lemah dan berbagai faktor yang berhubungan meliputi struktur organisasi, kebijaksanaan pelaksanaan berikut tindakan koreksi terhadap penyimpangan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan sumber data primer dan sekunder, yang meliputi pengamatan pasif, telaah dokumen dan wawancara mendalam terhadap berbagai informan yang terkait. Untuk menilai keabsahan data dilakukan kembali triangulasi sumber, member chek, diskusi dengan teman sejawat dan melakukan analisis kasus negatif. Hasil penelitian menemukan kendala dalam proses pelaksanaan pengawasan melekat pada penggunaan bahan habis pakai/obat dan pemberian obat bagi pasien gakin. Kendala tersebut ditemukan pada sarana dan sasaran pengawasan (komponen-komponen unit), kepemimpinan, budaya pengawasan sampai dengan tindakan koreksi. Disarankan melakukan peninjauan kembali berbagai komponen unit sarana dan sasaran pengawasan dengan meningkatkan pengetahuan dalam manajemen pengawasan. Meteapkan budaya pengawasan sampai dengan tindakan koreksi serta melakukan rekonsiliasi/ kerja sama antara Instalasi Rawat Inap, Instalasi Penyelesaian Piutang (/IPS) dan Apotik secara teratur.Kata kunci : Pengawasan melekat, bahan habis pakai/ obat pasien gakinThe implementation of direct supervision in consumables/drugs and medication for poor patient is considered as of highly important. The objectives of the research are to identify weak point in supervision unit components and related factors including organizational structure, implementation policy and correc- tive action. The study used qualitative method using both primary and secondary data including passive observation, document review, and in-depth inter- view to key informants. To validate the data, source triangulation was used as well as member checking, peer discussion, and negative case analysis. The study found that obstacles in supervision are related to facility and supervision targets (unit components), leadership, supervisory culture, and improper corrective action. It is suggested to review unit components related to facility and supervision target by improving knowledge on supervision management. It is also suggested to establish positive supervision culture including corrective action and collaboration between units and dispensary in a regular way.Key words : Direct supervision, consumables, poor families
Analisis Utilisasi Resep Antibiotik Pasien Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) di Puskesmas Tebet Jakarta Selatan, Tahun 2005 Isnaini, Nurlaili
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 6 Juni 2007
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v1i6.287

Abstract

Kecenderungan peningkatan penggunaan antibiotika di Pelayanan Kesehatan Dasar merupakan penggunaaan obat yang tidak rasional dan akan menghambat penurunan angka morbiditas dan mortalitas penyakit. Pemberian antibiotika yang berlebihan akan meningkatkan resistensi bakteri dan meningkatkan pembiayaan obat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran utilisasi obat antibiotika Hasil penelitian menemukan bahwa persentase resep obat pasien RJTP yang berisi antibiotika 37,74 %. Proporsi terbesar pemanfaatan obat antibiotika pada pasien RJTP di Puskesmas Tebet tahun 2005 ditemukan pada kelompok usia dewasa (12-65 tahun) yaitu sebesar 56,5 %, pasien yang bayar sendiri yaitu sebesar 89,8 %, penyakit infeksi lain selain ISPA yaitu sebesar 61,6 % dan rata-rata lama hari pemberian obat antibiotika adalah 4 hari dimana nilai ini tidak sesuai dengan pedoman pengobatan antibiotika yang belaku. Rata-rata harga obat per-lembar resep adalah Rp. 6.226,01,- sedangkan rata-rata jumlah R/ nya adalah 3 R/. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa usia, status pembayaran, jenis penyakit (ISPA) dan lama hari pemberian obat secara signifikan mempengaruhi rata-rata harga obat dan rata-rata jumlah R/ per-lembar resepnya. Disarankan perlu dilakukan upaya peresepan pengobatan sesuai dengan standar pengobatan yang berlaku terutama lama hari pemberian obat, analisa lebih lanjut mengenai rata-rata harga obat per-lembar resep yang lebih spesifik yaitu dengan hanya menganalisa rata-rata harga obat antibiotika.Kata kunci : Utilisasi, obat antibiotika, pasien RJTPThe tendencies of overusing of antibiotics in primary health care indicates the irrational drug use and inhibits the decrease of morbidity and mortality through increasing bacterial resistance and elevate drug expenditure. The objective of this study was to know the description of antibiotics drug utilization. Results of this study were the percentage of prescription containing antibiotics was 37,74 %. The biggest proportion of antibiotics utilization found in adult patients (12 -65 year old) i.e. 56.5%, individual payment patients was 89.8 % and non-ARI infectious disease was 61,6 %. The average number of days antibiotics use was 4 days, that was not in accordance to the antibiotics medication guideline. The average price of single prescription was Rp. 6.226,01 where the average R/ per prescription was 3 items. The result of multivariate analysis indicated age (except elderly), payment status, diagnosis of ARI and duration of antibiotics use significantly able to predict drug price per prescription and the average R/ per prescription. It was suggested to conduct standard prescription particu- larly regarding to duration of medication, more specific price analysis focused on antibiotics price is also suggested.Key words: Utilization, antibiotics drugs, RJTP patients
Kendala Pengawasan Melekat Bahan Habis Pakai Pasien Gakin (Unit Rawat Inap RS Persahabatan Tahun 2006) Ernawaty, Ernawaty
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 6 Juni 2007
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v1i6.286

Abstract

Pelaksanaan pengawasan atasan langsung (waskat) dalam penggunaan bahan habis pakai/obat dan pemberian obat untuk pasien gakin adalah sangat penting. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi berbagai komponen unit pengawasan yang lemah dan berbagai faktor yang berhubungan meliputi struktur organisasi, kebijaksanaan pelaksanaan berikut tindakan koreksi terhadap penyimpangan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan sumber data primer dan sekunder, yang meliputi pengamatan pasif, telaah dokumen dan wawancara mendalam terhadap berbagai informan yang terkait. Untuk menilai keabsahan data dilakukan kembali triangulasi sumber, member chek, diskusi dengan teman sejawat dan melakukan analisis kasus negatif. Hasil penelitian menemukan kendala dalam proses pelaksanaan pengawasan melekat pada penggunaan bahan habis pakai/obat dan pemberian obat bagi pasien gakin. Kendala tersebut ditemukan pada sarana dan sasaran pengawasan (komponen-komponen unit), kepemimpinan, budaya pengawasan sampai dengan tindakan koreksi. Disarankan melakukan peninjauan kembali berbagai komponen unit sarana dan sasaran pengawasan dengan meningkatkan pengetahuan dalam manajemen pengawasan. Meteapkan budaya pengawasan sampai dengan tindakan koreksi serta melakukan rekonsiliasi/ kerja sama antara Instalasi Rawat Inap, Instalasi Penyelesaian Piutang (/IPS) dan Apotik secara teratur.Kata kunci : Pengawasan melekat, bahan habis pakai/ obat pasien gakinThe implementation of direct supervision in consumables/drugs and medication for poor patient is considered as of highly important. The objectives of the research are to identify weak point in supervision unit components and related factors including organizational structure, implementation policy and correc- tive action. The study used qualitative method using both primary and secondary data including passive observation, document review, and in-depth inter- view to key informants. To validate the data, source triangulation was used as well as member checking, peer discussion, and negative case analysis. The study found that obstacles in supervision are related to facility and supervision targets (unit components), leadership, supervisory culture, and improper corrective action. It is suggested to review unit components related to facility and supervision target by improving knowledge on supervision management. It is also suggested to establish positive supervision culture including corrective action and collaboration between units and dispensary in a regular way.Key words : Direct supervision, consumables, poor families
Analisis Utilisasi Resep Antibiotik Pasien Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) di Puskesmas Tebet Jakarta Selatan, Tahun 2005 Isnaini, Nurlaili
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 6 Juni 2007
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v1i6.287

Abstract

Kecenderungan peningkatan penggunaan antibiotika di Pelayanan Kesehatan Dasar merupakan penggunaaan obat yang tidak rasional dan akan menghambat penurunan angka morbiditas dan mortalitas penyakit. Pemberian antibiotika yang berlebihan akan meningkatkan resistensi bakteri dan meningkatkan pembiayaan obat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran utilisasi obat antibiotika Hasil penelitian menemukan bahwa persentase resep obat pasien RJTP yang berisi antibiotika 37,74 %. Proporsi terbesar pemanfaatan obat antibiotika pada pasien RJTP di Puskesmas Tebet tahun 2005 ditemukan pada kelompok usia dewasa (12-65 tahun) yaitu sebesar 56,5 %, pasien yang bayar sendiri yaitu sebesar 89,8 %, penyakit infeksi lain selain ISPA yaitu sebesar 61,6 % dan rata-rata lama hari pemberian obat antibiotika adalah 4 hari dimana nilai ini tidak sesuai dengan pedoman pengobatan antibiotika yang belaku. Rata-rata harga obat per-lembar resep adalah Rp. 6.226,01,- sedangkan rata-rata jumlah R/ nya adalah 3 R/. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa usia, status pembayaran, jenis penyakit (ISPA) dan lama hari pemberian obat secara signifikan mempengaruhi rata-rata harga obat dan rata-rata jumlah R/ per-lembar resepnya. Disarankan perlu dilakukan upaya peresepan pengobatan sesuai dengan standar pengobatan yang berlaku terutama lama hari pemberian obat, analisa lebih lanjut mengenai rata-rata harga obat per-lembar resep yang lebih spesifik yaitu dengan hanya menganalisa rata-rata harga obat antibiotika.Kata kunci : Utilisasi, obat antibiotika, pasien RJTPThe tendencies of overusing of antibiotics in primary health care indicates the irrational drug use and inhibits the decrease of morbidity and mortality through increasing bacterial resistance and elevate drug expenditure. The objective of this study was to know the description of antibiotics drug utilization. Results of this study were the percentage of prescription containing antibiotics was 37,74 %. The biggest proportion of antibiotics utilization found in adult patients (12 -65 year old) i.e. 56.5%, individual payment patients was 89.8 % and non-ARI infectious disease was 61,6 %. The average number of days antibiotics use was 4 days, that was not in accordance to the antibiotics medication guideline. The average price of single prescription was Rp. 6.226,01 where the average R/ per prescription was 3 items. The result of multivariate analysis indicated age (except elderly), payment status, diagnosis of ARI and duration of antibiotics use significantly able to predict drug price per prescription and the average R/ per prescription. It was suggested to conduct standard prescription particu- larly regarding to duration of medication, more specific price analysis focused on antibiotics price is also suggested.Key words: Utilization, antibiotics drugs, RJTP patients
Hubungan Status Reproduksi, Status Kesehatan, Akses Pelayanan Kesehatan dengan Komplikasi Obstetri di Banda Sakti, Lhokseumawe Tahun 2005 Huda, Lasmita Nurul
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 6 Juni 2007
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v1i6.288

Abstract

Di Indonesia, angka kematian ibu (AKI) masih tinggi jika dibanding sengan negara-negara ASEAN. Penyebab utama kematian ibu adalah komplikasi obs- tetri yang merupakan penyulit atau penyakit yang timbul pada waktu kehamilan, persalinan dan pasca persalinan. Di Indonesia, komplikasi obstetri (20% da- ri seluruh ibu hamil) masih sangat tinggi, sementara yang mampu ditangani hanya sekitar 10%. Berbagai faktor yang mempengaruhi komplikasi obstetri adalah status reproduksi, perilaku pencarian pelayanan kesehatan dan status kesehatan. Penelitian yang berujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan komplikasi obstetri ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sumber data primer. Sampel adalah 220 ibu yang melahirkan bayi hidup atau mati pada tahun 2005 yang ditarik secara sistematik random sampling. Hasil penelitian mendapatkan prevalensi komplikasi obstetri 46,8%, komplikasi pada waktu hamil dan persalinan merupakan yang terbanyak (12,27%) dan paling sedikit adalah komplikasi waktu hamil dan nifas masing-masing 2,27%. Model multivariat akhir mendapatkan lima variabel yang berhubungan dengan komplikasi obstetri meliputi penolong persalinan OR=4,32 (95% CI: 0,49-37,98); paritas OR=1,86 (95% CI: 0,83-4,16); sikap OR=1,66 (0,94-2,94)[ riwayat komplikasi hamil sebelumnya OR=1,79 (0,83-3,83) dan tempat persalinan OR=1,18 (95% CI: 1,01-3,26. Upaya yang perlu dilakukan untuk menurunkan kejadian komplikasi obstetri di Kecamatan Banda Sakti adalah pelatihan bidan, pengembangan PONED dan PONEK, serta memberikan pelayanan KB segera setelah bersalin kepada ibu yang memiliki paritas berisiko dan riwayat komplikasi hamil.Kata kunci: Status reproduksi, pemanfaatan pelayanan kesehatan, status kesehatan, komplikasi obstetri.The Maternal Mortality Rate (MMR). in Indonesia is still high compared to other ASEAN countries. The cause of the maternal death is obstetrical complica- tions which arise at the period of pregnancy, childbirth. The complications badly affect the maternal death. The rate of the obstetrical complications is still high in Indonesia. It is about 20% of the whole pregnant women, but the case of complications treated is still less than 10%. A variety of factors influence the occurrence of the complications. They are reproduction status, health seeking behavior service, and health status. Therefore, this study was conducted to know the factors related to the obstetrical complications. This study uses cross-sectional design. Data were collected by questionnaires. Samples are women delivering their babies alive or dead in 2005, the number of which are 220 at minimum. Before analyzing, the data were cleaned, then, categorized according to the operational definition. The data were analyzed in three steps, namely univariate, bivariate, and multivariate.The results show that of out of 46.8% of obstetrical complications incidence, the complication mostly happened (12.27%) at the pregnancy and delivery and 2.27% of it happened at pregnancy and parturition. The last analysis without interaction results in five variables related to the complications. They are delivery helper OR=4.32 (95% CI: 0.49-37.98), parity OR=1.86 (95% CI: 0.83-4.16), attitude OR=1.66 (0.94-2.94), pregnant complication history OR=1.79 (0.83-3.83). The dominant factor is place of de- livery, OR=1.18 (95% CI: 1.01-3.26). Based on the study, the incident of obstetrical complication in Banda Bakti Sub district can be decreased by training the midwives so that they have knowledge, motivation, and skill in dealing with obstetrical complications, developing PONED and PONEK, providing family plan- ning service soon after the delivery to the women who are at risk of parity and pregnant complication history, and building partnership with midwives (helping the delivery traditionally).Key words: reproductive status, health seeking behavior service, and health status with obstetric complication
Filosofi dan Konsep Dasar Kesehatan Kerja Serta Perkembangannya dalam Praktik Kurniawidjaja, L. Meily
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 6 Juni 2007
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21109/kesmas.v1i6.284

Abstract

Kesehatan kerja merupakan masalah setiap individu karena bekerja dibutuhkan semua orang sebagai sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sejak lama diketahui bahwa bekerja dapat menyebabkan gangguan kesehatan atau penyakit. Sebaliknya, kesehatan dapat mengganggu pekerjaan. Artikel ini bertujuan memberikan pemahaman tentang konsep, praktik dan manfaat kesehatan kerja bagi para pekerja dan pemberi kerja. Kesehatan kerja se- harusnya tidak hanya terfokus pada diagnosis dan pengobatan klinis, tetapi juga mengerjakan rekognisi hazard, penilaian risiko dan intervensi untuk menghilangkan atau meminimalkan risiko. Lingkupnya diperluas untuk mencegah penyakit dengan cara: (1) penempatan pekerja pada pekerjaan/ jabatan yang sesuai (fit) dengan status kesehatan dan kapasitas kerjanya. (2) program promosi kesehatan pekerja; (3) perbaikan lingkungan kerja; (4) perbaikan pekerjaan; (5) pengembangan pengorganisasian pekerjaan dan budaya bekerja.; dan (6) surveilans kesehatan pekerja. Indonesia telah meratifikasi konvensi dan rekomendasi ILO yang berhubungan dengan kesehatan kerja. Ada profesional dari multidisiplin dan organisasi profesi melakukan kesehatan kerja di lapangan tersebut, dan banyak pengandil yang lain.Kata kunci: Kesehatan kerja, ahli kesehatan kerja, lingkup kesehatan kerjaabstractOccupational health (OH) is everybody responsibility, because work is human being and decent work is human right, Many work related diseases were documented and stimulated people to do something to overcome it. The objective of this article is to explain the concept, practice and benefit of the occupational health for wokers and employers. The occupational health should not only focus on clinical diagnostic and therapy, but should do hazard recognizing, risk assessment and intervention to eliminate or minimize the risk (risk management method), and widen its scope to prevent diseases by (1) placing the worker in a task adapted to his health status and working capacity; (2) workers’ health promotion program;(3) the improvement of the working environment; (4) the improvement of work; and (5) the development of work organization and working cultures; (6) workers health surveillance. Indonesia had ratified ILO con- ventions and recommendations related to OH. There are professionals from multidiscipline and organizations conduct OH in the field, and many other OH stakeholders.Key words: Occupational Health, OH professionals, scope of OH

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2007 2007


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 2 (2019): Volume 14, Issue 2, November 2019 Vol 14, No 1 (2019): Volume 14, Issue 1, August 2019 Volume 13, Issue 4, May 2019 Volume 13, Issue 3, February 2019 Volume 13, Issue 2, November 2018 Volume 13, Issue 1, August 2018 Volume 12, Issue 4, May 2018 Volume 12, Issue 3, February 2018 Volume 12, Issue 2, November 2017 Volume 12, Issue 1, August 2017 Volume 11, Issue 4, May 2017 Volume 11, Issue 3, February 2017 Volume 11, Issue 2, November 2016 Volume 11, Issue 1, August 2016 Vol. 10 No. 4 May 2016 Vol. 10 No. 3 February 2016 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 9 No. 4 Mei 2015 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 10 No. 2 November 2015 Vol. 10 No. 1 Agustus 2015 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 1 Agustus 2012 Vol. 6 No. 6 Juni 2012 Vol. 6 No. 5 April 2012 Vol. 6 No. 4 Februari 2012 Vol. 6 No. 3 Desember 2011 Vol. 6 No. 2 Oktober 2011 Vol. 6 No. 1 Agustus 2011 Vol. 5 No. 6 Juni 2011 Vol. 5 No. 5 April 2011 Vol. 5 No. 4 Februari 2011 Vol. 5 No. 3 Desember 2010 Vol. 5 No. 2 Oktober 2010 Vol. 5 No. 1 Agustus 2010 Vol. 4 No. 6 Juni 2010 Vol. 4 No. 5 April 2010 Vol. 4 No. 4 Februari 2010 Vol. 4 No. 3 Desember 2009 Vol. 4 No. 2 Oktober 2009 Vol. 4 No. 1 Agustus 2009 Vol. 3 No. 6 Juni 2009 Vol. 3 No. 5 April 2009 Vol. 3 No. 4 Februari 2009 Vol. 3 No. 3 Desember 2008 Vol. 3 No. 2 Oktober 2008 Vol. 3 No. 1 Agustus 2008 Vol. 2 No. 6 Juni 2008 Vol. 2 No. 5 April 2008 Vol. 2 No. 4 Februari 2008 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 Vol. 2 No. 3 Desember 2007 Vol. 2 No. 2 Oktober 2007 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 6 Juni 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 vol. 1 No. 3 Desember 2006 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 Vol. 1 No. 1 Agustus 2006 More Issue