cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : -
Core Subject : Health,
Kesmas: National Public Health Journal is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance health of the public through scientific approach applying variety of technique. This focus includes area and scope such as biostatistics, epidemiology, health education and promotion, health policy and administration, environmental health, public health nutrition, sexual and reproductive health, and occupational health and safety.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol. 1 No. 4 Februari 2007" : 6 Documents clear
Perilaku Menggunakan Kondom pada Wanita Penjaja Seks Jalanan di Jakarta Timur Tahun 2006 Widyastuti, Widyastuti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 4 Februari 2007
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.096 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v1i4.299

Abstract

Infeksi Menular Seksual (IMS) di banyak negara merupakan ancaman serius global yang berdampak pada individu, keluarga dan masyarakat. Pada perempuan, IMS sulit didiagnosa dan berdampak lebih besar, karena umumnya tampa gejala, timbul rasa bersalah dan malu mencari pengobatan sehingga menjadi beban tersembunyi. Prevalensi IMS dari berbagai penelitian di Indonesia pada periode 1990-2000 relatif tinggi. Strategi memutuskan rantai penularan antara lain melalui promosi kondom khususnya pada Wanita Penjaja Seks (WPS) yang berisiko tinggi IMS. Penelitian ini bertujuan mengetahui berbagai faktor yang berhubungan dengan perilaku pemakaian kondom pada Wanita Pekerja Seks jalanan di Jakarta Timur tahun 2006. Penelitian dengan rancangan studi cross sectional ini menggunakan data primer 112 Wanita Pekerja Seks jalanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 60,7% responden yang menggunakan kondom pada saat hubungan seks terakhir. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa pengalaman menderita IMS merupakan faktor yang paling dominan dengan OR sebesar 3,55. Variabel umur, tingkat pendidikan, lama bekerja sebagai WPS, pengetahuan tentang IMS, serta keterpaparan informasi tidak berhubungan secara bermakna dengan perilaku menggunakan kondom. Disarankan mempermudah akses terhadap kondom, meningkatkan kualitas maupun kuantitas KIE; menjalin kemitraan dengan berbagai pihak terkait; dan pemberdayaan WPS dalam kegiatan penyebarluasan informasi tentang IMS dan kondom.Kata kunci : Perilaku, kondom, wanita pekerja seks jalanan, IMSAbstractIn most countries in the world, sexually transmitted infections (STIs) are considered as a serious threat, they pose great impact on individual, family, and community. The impacts of STIs on women are usually more severe and more difficult to be diagnosed than impacts on men because STIs usually occurred without observable symptoms, and usually woman has guilty feeling and embarrassed about their condition and thus hinder them to look for medication. These make STIs a hidden burden for women. Prevalence of STIs in Indonesia according to several studies in 1990-2000 periods is quite high. One strategy to break the infection chain is to promote condom use among women sex workers (WSW). This study aims at investigating factors related to condom use practice among street WSW in East Jakarta. The design of this study is cross-sectional with quantitative approach, and using primary data of 112 street WSW. The study found that there are 60.7% respondents who use condom in the last sexual activity. Multivariate analysis shows that the most dominant factor is the experience on suffering from STIs infection, with OR 3.55. Age, level of education, working duration as WSW, knowledge on STIs, and exposure on STIs information, all have no statistically significant relationship with condom use practice. It is suggested that to increase the access and availability of condom, to increase the quality and quantity of information, education, and communication activities by strengthening networking and partnership with related sectors, and to empower the WSW themselves on disseminating and spreading information on STIs and condom.Keywords : Behavior, condom, street woman sex workers, STIs
Kekerasan pada Setiap Tahap Penempatan TKI Asal Propinsi Sumatera Barat Tahun 2006 Agustin, Helfi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 4 Februari 2007
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.277 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v1i4.300

Abstract

Peningkatan jumlah tenaga kerja Indonesia yang diberangkatkan keluar negeri seiring dengan kebijakan nasional diikuti oleh peningkatan berbagai masalah yang mengarah pada pelanggaran hak azasi manusia. Penelitian ini bertujuan mengetahui berbagai kekerasan yang menyertai setiap tahap penempatan tenaga kerja Indonesia dan dampaknya terhadap kesehatan. Penelitian ini menggunakan metoda kualitatif dengan metode pengumpulan data wawancara mendalam dan metoda analisis tema. Penelitian diadakan di Propinsi Sumatera Barat, pada bulan April-Mei 2006. Hasil penelitian menemukan semua TKI berangkat pada usia muda. TKI dengan tingkat pendidikan/ akses informasi terbatas mudah terjebak dalam pemberangkatan ilegal. Semua TKI mengalami beberapa bentuk kekerasan secara bersamaan dan berulang Besar dan besar dampak kekerasan bergradasi menurut jenis kelamin. TKI legal mengalami eksploitasi karena peraturan dan mekanisme penempatan yang belum melindungi hak azasi manusia. Kekerasan tidak hanya terjadi ketika TKI bekerja di luar negeri, tetapi sejak pra pemberangkatan sampai saat pemulangan. TKI ilegal menghadapi resiko pelanggaran hak azasi manusia yang lebih besar dan mengalami kekerasan dengan gradasi dampak yang lebih berat. Untuk menghentikan pemberangkatan ilegal, disarankan pada Dinas Tenaga Kerja Propinsi Sumatera Barat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang aspek migrasi internasional melalui informasi publik. Kepada Depnakertrans RI diharapkan dapat merevisi peraturan dan melakukan upaya diplomasi yang berorientasi pada perlindungan hak azasi manusia dengan merujuk pada kesepakatan internasional.Kata kunci : Kekerasan, kualitatif, TKI, Sumatera BaratAbstractIndonesian government has determined a policy of employment placement as national program. With the raising number of Indonesian migrant workers, the related problems are also raising. The research is qualitative research and data were taken by in-depth interview method. The aim of this study is to know the form of abuse of Indonesian migrant workers in all placements and its health impact. Thematic analysis was used in this study. The study was held in West Sumatera Province in April –May 2006. The research finds that all of Indonesian Migrant Workers left the country at young ages. Those workers with low education level or had limited access to information were easily trapped in illegal departure. The form and magnitude of abuse were gradual according to sex. All Indonesian migrant workers experienced various kind of abuses simultaneously and repeatedly. Illegal Indonesian migrant workers are exploited because of the rule and mechanism of placement do not comply to human rights protection. Abuse does not only happen when Indonesian migrant workers are abroad but also before leaving and after coming home. Illegal Indonesian migrant workers faced higher risk of human rights violation and undergo abuse with greater impact. Government should improve citizen awareness to prevent abuse through elimination of illegal departure by giving information to wider public, and to have strong political commitment to revise rules related to migrant workers as well as to foster diplomatic efforts towards human right protection of Indonesian migrant workers.Keywords: Violence, qualitative, Indonesian migrant workers, West Sumatera
Manajemen Strategis Organisasi Nirlaba Sutomo, Sumengen
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 4 Februari 2007
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.048 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v1i4.301

Abstract

Banyak pimpinan organisasi nirlaba kehabisan tenaga dan waktu melakukan manajemen operasional. Mereka tidak sempat berpikir strategis mengembangkan masa depan organisasi dan memberikan pelayanan bermutu yang memuaskan pelanggan. Manajemen strategis yang merupakan proses mengembangkan tujuan, rencana strategis, dan alokasi sumber daya mencakup analisis strategi, formulasi strategi, implementasi strategi, dan evaluasi strategi. Analisis stategi mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan internal jang terkait sumber daya, struktur organisasi, strategi dan kinerja program, serta peluang dan ancaman eksternal yang terkait faktor politik, ekonomi, sosial dan teknologi. Selanjutnya, formulasi strategi adalah proses menyiapkan rencana strategis: mengembangkan nilai, misi, visi, gol, tujuan, identifikasi isu strategis dan memilih strategi pencapaian tujuan. Strategi yang sesuai dengan struktur organisasi, budaya, kepemimpinan, alokasi sumber daya, komunikasi, hambatan internal dan eksternal, diharapkan akan mempermudah implementasi. Monitoring yang mempelajari kemajuan dan evaluasi yang mempelajari pencapaian tujuan program merupakan bagian penting upaya pencapaian tujuan. Proses manajemen strategis menghasilkan pedoman yang diperlukan untuk menghadapi perubahan internal dan eksternal dengan menggunakan bisnis metoda baru, menerapkan praktik yang terbaik dan memelihara fleksibilitas. Melalui manajemen strategis pimpinan mampu mengembangkan nilai, misi,visi dan strategi untuk menghasilkan pelayanan unggulan secara efektif dan efisien.Kata kunci : Manajemen, strategis, nirlabaAbstractIn not for profit organizations, many of the organizations’ managers and executive officers spend energy and time to work more on operational management. They do not have enough time to deal with organizations’ future development. A strategic management is a process of developing an organization’s objectives, strategic plan, and allocating resources to implement the plan. Basically a strategic management covers strategy analysis, strategy formulation, strategy implementation, and strategy evaluation. A strategy analysis is to provide information on strengths and weaknesses of internal organization factors: human resources, organization structure, program performance; and information on opportunities and threats of external organization factors, politic, economy, social, and technology. A strategy formulation is a process of developing strategic plan including organization value, mission, vision, goal, strategic objectives, strategic issues, and strategy. A strategy implementation involves with the organization structure, value, operational activities, leadership, resource allocation, and communication. Strategy evaluation includes monitoring and evaluation activities to identify progress of the program implementation and to identify program achievement and its performance. A strategic management process provides a guide for addressing internal and external organizational challenges and changes using a new bussiness method and approach for practical application and maintaining flexibilities, Through a straqtegic management, the managers and executives will be able to provide better quality of services effecively and efficienly.Keywords: Management, strategic, not for profit
Determinan Pemilihan Tempat Persalinan di Kabupaten Cirebon, Tahun 2004 Adipriati, Deti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 4 Februari 2007
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.122 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v1i4.302

Abstract

Lebih dari 90 % kematian ibu disebabkan komplikasi obstetrik yang sering tidak dapat diramalkan pada saat kehamilan. Pada umumnya kematian Ibu dan kejadian kesakitan setelah bayi lahir adalah akibat kegagalan untuk menanggulangi komplikasi persalinan. Kebanyakan komplikasi itu terjadi pada saat atau sekitar persalinan. SDKI 2003 melaporkan bahwa 9 % persalinan dilakukan di fasilitas pemerintah dan 31 % pada fasilitas swasta, sedangkan 59 % masih dilakukan di rumah. Pertolongan persalinan di rumah, dimana sistem rujukan tidak dikembangkan dengan tepat, memiliki pengaruh yang besar terhadap kelangsungan hidup ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam menentukan pemilihan tempat persalinan di Kabupaten Cirebon tahun 2004. Desain penelitian menggunakan desain potong lintang (cross sectional ) pada 447 responden pada 29 desa di kabupaten Cirebon. Analisa yang digunakan adalah regresi logistik model prediksi. Hasil penelitian didapatkan bahwa ibu berpendidikan rendah akan memilih tempat persalinan di rumah sebanyak 2.94 kali dibandingkan ibu berpendidikan tinggi (OR = 2,94 95 % CI 1.764 – 4.890) setelah dikontrol oleh variable pengetahuan ibu tentang masalah kesehatan pada masa persalinan dan melahirkan dan variable status ekonomi. Penelitian menyimpulkan bahwa pendidikan Ibu, pengetahuan ibu tentang masalah kesehatan pada masa kehamilan dan persalinan serta status ekonomi mempunyai pengaruh terhadap pemilihan tempat persalinanKata kunci : Pemilihan tempat persalinan, pengetahuan ibu, status ekonomiAbstractMore than 90% of maternal death is caused by obstetric complications, which are often unpredictable during pregnancy. In general, maternal death and newborn morbidity are caused by failure to overcome delivery complication. Most of the complication happened at the moment or around delivery. SDKI 2003 reported that 9% birth were delivered in public facilities, 31% were delivered in private health facilities and 59% were still delivered at home. Birth delivery at home with not well-developed referral system, has great influence on mother and newborn lives. The objective of this study is to identify factors that influence selection of delivery place in Cirebon district in 2004 using cross-sectional design among 447 respondents living in 29 villages in Cirebon District. The analysis used is logistic regression using prediction modeling. The results indicate that mother with low education has chance to opt for delivery at home 2.94 times higher than mother with high education level (OR = 2.94 95 % CI 1.764 – 4.890) after controlled by mother’s knowledge on health problem at birth and economic status. The study concludes that delivery place selection is influenced by mother’s education, mother’s knowledge on health problem at birth and economic status.Keywords: Delivery place selection, mother’s knowledge on health problem, economic status
Faktor Lingkungan Fisik Rumah, Respon Biologis dan Kejadian TBC Paru di Indonesia Mahpudin, A.H.; Mahkota, Renti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 4 Februari 2007
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.359 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v1i4.297

Abstract

Sampai kini, Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia. Menurut laporan WHO, di seluruh dunia setiap tahun ditemukan sekitar 8 juta kasus baru. Indonesia merupakan negara penyumbang kasus TBC terbesar ketiga setelah India dan Cina dengan perkiraan jumlah kasus pada 2003 adalah 627.047 penderita dan 281.946 kasus merupakan TBC paru BTA positif. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan kondisi lingkungan rumah, faktor sosial ekonomi dan faktor respon biologis terhadap kejadian TBC paru BTA positif pada penduduk dewasa di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Survei Prevalensi TBC Nasional dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2004 dengan rancangan studi kasus kontrol dengan rasio kasus dan kontrol 1:4. Populasi penelitian ini adalah penduduk berumur 15 tahun keatas. Sampel adalah responden Susenas 2004 sebanyak 380 orang yang terdiri dari 76 kasus dan 304 kontrol. Kasus adalah penduduk dewasa yang didiagnosis TBC berdasarkan hasil pemeriksaan sputum BTA positif. Kontrol adalah penduduk yang yang berasal dari kecamatan yang sama dengan kasus dengan hasil BTA negatif. Ditemukan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TBC Paru adalah sumber kontak serumah OR 3,46 (1,316;9,091) kondisi rumah yang berlantai tanah OR 2,2 (1,135;4,269) dan pendapatan perkapita OR 2,145 (1,249;3,683). Disarankan untuk melaksanakan program penemuan kasus secara aktif khusus untuk masyarakat berpenghasilan rendah, terutama untuk deteksi dini, pengobatan secara cepat dan tepat, melaksanakan program penemuan kasus secara aktif, dan program rumah sehat masyarakat miskin.Kata kunci : Lingkungan fisik rumah, sosial ekonomi, respon biologis, tuberkulosisAbstractGlobally, Tuberculosis (TB) is an important public health problem until today. Based on WHO report, about 8 millions of new TB cases are found every year. Indonesia is the third biggest contributor country of TB cases after India and China with estimated number of 627.047 infected and 282.946 with positive smear test (BTA) in 2003. The objective of this study is to understand the relationship between house environment condition, socio-economic factor, biological response and TB. This study used secondary source of data from National TB Prevalence Survey (SPTBC) and National Social and Economic Survey (Susenas) in 2004. The study design used is case control study, with ratio of case and control of 1:4. The study population is >15 years old age group. The number of sample is 380 persons, consisting of 76 cases and 304 controls. Cases are people with positive sputum test and controls are people with negative sputum test selected randomly. The study results show that factors associated with TB are the presence of contact source in one house with OR 3.46 (1.316-9.091), condition of the house with soil floor OR 2.2 (1.135-4.269) and private income OR 2.145 (1.249-3.683). According to those findings, it was recommended to the policy maker to conduct active case finding program for the low-income group of people, early detection, quick treatment, active case finding program, and healthy housing for the poor.Keywords: House physical environment, social and economic factor, biological response, tuberculosis
Kematian Perinatal di Indonesia dan Faktor yang Berhubungan, Tahun 1997-2003 Prameswari, Meidy Farenti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 4 Februari 2007
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.942 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v1i4.298

Abstract

WHO memperkirakan bahwa setiap tahun lebih dari 9 juta bayi meninggal pada periode perinatal dan hampir semua terjadi di negara berkembang. Kini angka kematian perinatal di Indonesia adalah 24 per 1000 kelahiran, sekitar 77% merupakan sumbangan kematian neonatal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kematian perinatal di Indonesia dan memperkirakan program intervensi yang paling berperan dan menurunkannya. Studi ini menggunakan sdumber data sekunder Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang (cross sectional). Hasil menemukan variabel yang berhubunganterhadap kematian perinatal di Indonesia selama periode 1997-2003 adalah jarak kelahiran;komplikasi persalinan; tingkat pendidikan ibu; BBLR; tenaga penolong persalinan; riwayat kunjungan ANC; riwayat, serta wilayah tempat tinggal ibu. Berdasarkan perhitungan PAR, BBLR memiliki nilai PAR% sebesar 14,90. Artinya jika penurunan angka kematian perinatal difokuskan kepada program intervensi untuk menurunkan prevalensi bayi BBLR maka akan terjadi pengurangan resiko kematian perinatal sebesar 15% dari total kasus di seluruh populasi bayi lahir hidup.Kata kunci : Kematian perinatal, BBLR, ANCAbstractWHO predicted that every year there are more than 9 millions perinatal deaths and almost all occurred in developing countries. In Indonesia, at present time the perinatal mortality rate is 24 per 1000 life birth, and about 77% was contributed by neonatal death. The objective of this study is to know factors related to perinatal mortality in Indonesia and to assess the most important intervention program to reduce it. The study used secondary data source, that is Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) in the period of 2002-2003. Design of the study is cross sectional. The results show that variables related to perinatal mortality are parity, delivery complications, maternal education, low birth weight, birth assistant, ANC visit, and residential address. Based on PAR calculation, low birth weight has PAR% of 14.90 meaning that if intervention program is focused on reducing prevalence of low birth weight, the perinatal mortality risk will be reduced by around 15% of the total cases among live newborn infants population. Keywords : Perinatal mortality, low birth weight, ANC

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2007 2007


Filter By Issues
All Issue Volume 13, Issue 4, May 2019 Volume 13, Issue 3, February 2019 Volume 13, Issue 2, November 2018 Volume 13, Issue 1, August 2018 Volume 12, Issue 4, May 2018 Volume 12, Issue 3, February 2018 Volume 12, Issue 2, November 2017 Volume 12, Issue 1, August 2017 Volume 11, Issue 4, May 2017 Volume 11, Issue 3, February 2017 Volume 11, Issue 2, November 2016 Volume 11, Issue 1, August 2016 Vol. 10 No. 4 May 2016 Vol. 10 No. 3 February 2016 Vol. 9 No. 4 Mei 2015 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 10 No. 2 November 2015 Vol. 10 No. 1 Agustus 2015 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 1 Agustus 2012 Vol. 6 No. 6 Juni 2012 Vol. 6 No. 5 April 2012 Vol. 6 No. 4 Februari 2012 Vol. 6 No. 3 Desember 2011 Vol. 6 No. 2 Oktober 2011 Vol. 6 No. 1 Agustus 2011 Vol. 5 No. 6 Juni 2011 Vol. 5 No. 5 April 2011 Vol. 5 No. 4 Februari 2011 Vol. 5 No. 3 Desember 2010 Vol. 5 No. 2 Oktober 2010 Vol. 5 No. 1 Agustus 2010 Vol. 4 No. 6 Juni 2010 Vol. 4 No. 5 April 2010 Vol. 4 No. 4 Februari 2010 Vol. 4 No. 3 Desember 2009 Vol. 4 No. 2 Oktober 2009 Vol. 4 No. 1 Agustus 2009 Vol. 3 No. 6 Juni 2009 Vol. 3 No. 5 April 2009 Vol. 3 No. 4 Februari 2009 Vol. 3 No. 3 Desember 2008 Vol. 3 No. 2 Oktober 2008 Vol. 3 No. 1 Agustus 2008 Vol. 2 No. 6 Juni 2008 Vol. 2 No. 5 April 2008 Vol. 2 No. 4 Februari 2008 Vol. 2 No. 3 Desember 2007 Vol. 2 No. 2 Oktober 2007 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 6 Juni 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 vol. 1 No. 3 Desember 2006 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 Vol. 1 No. 1 Agustus 2006 More Issue