cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : -
Core Subject : Health,
Kesmas: National Public Health Journal is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance health of the public through scientific approach applying variety of technique. This focus includes area and scope such as biostatistics, epidemiology, health education and promotion, health policy and administration, environmental health, public health nutrition, sexual and reproductive health, and occupational health and safety.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol. 1 No. 1 Agustus 2006" : 12 Documents clear
Epidemiologi Diskriptif Penyakit Avian Flu di Lima Provinsi di Indonesia, 2005-2006 Endarti, Ajeng Tias; Djuwita, Ratna
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 1 Agustus 2006
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.47 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v1i1.325

Abstract

Jumlah kasus flu burung pada manusia meningkat sangat pesat. Studi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran epidemiologi penyakit flu burung (Avian Influenza / AI) pada kejadian luar biasa di 5 provinsi Indonesia in 2005-2006. Studi ini mengunakan sumber data sekunder data surveilens, sub direktorat Surveilens, Depkes RI, pada periode Juli 2005-2006. Dari 28 kasus konfirmasi ditemukan banyak pada pria (57.1%). Sekitar 89.3% kasus memperlihatkan gejala demam tinggi (≥ 38°C), batuk dan masalah pernapasan dan sekitar 80% diantaranya meninggal dunia. Gejala tersebut mengindikasikan kerusakan jaringan paru-paru pada tubuh penderi- ta. Berdasarkan laporan hasil pemeriksaan laboratorium, terlihat bahwa 60.7% penderita mengalami penurunan kadar leukosit (leucopenia) dan 46.4% penurunan kadar trombosit (thrombocytopenia). Laju fatalitas kasus yang telah mendapat pengobatan Tamiflu mencapai 66.7%. Sekitar 53.6% mempunyai riwayat kontak den- gan ayam dan bebek. Banyak kasus terjadi pada kelompok dewasa (> 18 years) dengan frekuensi 57.1%. Sebaliknya, laju respon untuk kasus, terlihat sekitar 64, 3 % mengalami pengobatan yg terlambat. Rata-rata semua kasus konfirmasi di Indonesia pada July 2005 - February 2006 adalah 3.5 kasus /bulan. Kasus-kasus tersebut terjadi dalam wilayah yang mengalami KLB pada binatang ternak. Sampai 28 Februari, 2006, KLB telah ditemukan di lima provinsi yang meliputi: Lampung (10.72%), DKI Jakarta (32.14), Jawa Barat (39.29%), Banten (14.28%) and Jawa Tengah (3.57%). Dapat disimpulkan bahwa kasus lebih sering ditemukan pada pria dewasa dan pada orang yang lebih terpapar dengan faktor risiko. Kasus-kasus tersebut menampilkan gejala demam tinggi, batuk, masalah-masalah pernapasan leukopenia and trombositopenia. Selain itu, angka dan keefektifan ditemukan rendah. Kasus-kasus tersebut terjadi terutama pada musim hujan dan pada wilayah yang sebelumnya mengalami KLB pada binatang seperti ayam dan bebek.Kata kunci: Avian flu, epidemiologi diskriptif , kejadian luar biasa, IndonesiaAbstractThe number of Human Avian Influenza in Indonesia increasing tremendously. The research is intended to identify the epidemiological description of Avian Influenza’s (AI) outbreaks within five provinces in Indonesia in 2005-2006. The research conducted descriptively using AI surveillance data from July 2005 up until February 2006. The data gained from the Surveillance sub-directorate Ministry of Health of Indonesia. From 28 confirmed AI cases, many occurred to male (57.14%) since Approximately 89.29% of the cases showed symptom of high fever (≥ 38° C), cough and respiratory problems and 80 % of such cases resulted to deceased for the victim. The symptoms indicated that severe destruction of tissue (pneumonia) occurred in the victim body. Based on laboratory’s report, it shows 60.71% of leucope- nia and 46.43% of thrombocytopenia cases. The death rate for the cases that have Tamiflu treatment reached 66.67%. 53.57% of the case reveals the victims’ high interactions with chicken and duck as the risk factor (avian). Many cases occurred to adult (> 18 years) with a hit rate of 57.14%. On the other hand, the response rate for the cases shows that 64.29 show late treatment of the cases. The average of confirmed AI cases in Indonesia from July 2005 to February 2006 is 3.5 cases/months. The cases occurred within the area that has AI outbreak to the animal. Up until February 28, 2006, the AI outbreaks have been found within five provinces, they are: Lampung (10.72%), DKI Jakarta (32.14), West Java (39.29%), Banten (14.28%) and Central Java (3.57%). It can be concluded that the cases inflicted more to adult male and to those people who interact more with the risk factor. The cases reveal symptoms such as high fever, cough, respiratory problems, leucopenia and thrombocytopenia. Furthermore the cases response rates and Tamiflu effectively were low. The cases occurred mainly in rainy seasons and to the areas those priories have AI outbreaks to the animals such as chickens or ducks.Key words: Avian flu, descriptive epidemiology , outbreak, Indonesia
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pemberian Asi Satu Jam Pertama Setelah Melahirkan Rahardjo, Setiyowati
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 1 Agustus 2006
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.492 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v1i1.321

Abstract

Di Indonesia, Angka Kematian Bayi (AKB) masih yang tertinggi di negara-negara ASEAN. Penyebab utama kematian anak balita tersebut adalah penyakit infeksi saluran nafas dan diare yang dapat dicegah antara lain dengan pemberian ASI secara benar dan tepat. Pada periode 2002-2003, sekitar 95,9% balita sudah mendapat ASI, tetapi hanya 38,7 % balita mendapat ASI pertama satu jam setelah lahir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berbagai faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah melahirkan. Penelitian ini menggunakan sumber data sekunder SDKI 2002-2003 dengan desain cross sectional. Sampel berjumlah 6.018 terdiri dari ibu yang memiliki anak berusia 0 – 24 bulan terakhir yang masih hidup dan dilahirkan tanpa operasi dan mendapat ASI. Analisis data dilakukan dengan model regresi logistik multivariat. Ditemukan proporsi pemberian ASI satu jam pertama setelah melahirkan adalah 38,3%. Faktor dominan yang berhubungan dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama adalah tenaga periksa hamil. Faktor lain adalah daerah tempat tinggal, kehamilan diinginkan, tenaga periksa hamil, penolong persalinan, akses terhadap radio, dan berat lahir. Terdapat interaksi antara daerah dengan tenaga periksa, kehamilan diinginkan dengan tenaga periksa, dan berat lahir dengan penolong persalinan. Perlu upaya meningkatkan pengetahuan dan motivasi petugas kesehatan mengenai pentingnya ASI segera dan ASI eksklusif, upaya peningkatan pengetahuan ibu dan calon ibu mengenai tata laksana pemberian ASI yang benar serta program ke- luarga berencana.Kata kunci : ASI satu jam pertama, faktor risiko, SDKI 2002 – 2003.Infant Mortality Rate (IMR) in Indonesia is still the highest among the other ASEAN countries. The major cause for infant and children mortality is infections, espe- cially the upper respiratory tracts infection and diarrhea. The prevention efforts for reducing the infections are a good nutrition management for infant and children such as adequate and appropriate breastfeeding. A good start for breastfeeding is about 30 minutes after delivery. The Indonesia DHS 2002-2003 showed that 95.5% children under five have already have breast-milk, but only 38.7% of them are having the first breast-milk within one hour after delivery. The Objective of this study is to know the factors related to the breastfeeding given within one hour after delivery. The study uses secondary source of data of the Indonesia DHS 2002-2003 with a cross-sectional design. The number of sample is 6.018, which are mothers who have the latest life child aged 0 to 24 months and still having breastfed and de- livered without surgery. Data are analyzed using the application multivariate logistic regression. The study has found that the proportion of breastfeeding given within one hour after delivery as high as 38.28%. The dominant factor related to the breastfeeding given within one hour after delivery is the antenatal care provider. Other factor are: the residential location, wanted pregnancy, the antenatal care provider, birth attendance, accessibility on radio, and newborn’s weight. There is an inter-action between residential location and the antenatal care provider, wanted pregnancy and the antenatal care provider, and newborn’s weight and the birth atten- dance. There is a need to make an effort on: increasing the knowledge and motivation for the health provider about the importance of the immediate administration of breastfeeding to the newborn and the exclusive breastfeeding. The efforts should be supported by government policy.Key words : Breastfed in first one hour, risk factor, IDHS 2002-2003.
Infestasi Kecacingan pada Anak SD di Kecamatan Sei Bingai Langkat, Sumut, 2005 Ginting, Limin
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 1 Agustus 2006
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.008 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v1i1.322

Abstract

Indonesia masih menghadapi masalah kesehatan yang berhubungan dengan kondisi lingkungan yang jelek, seperti infestasi cacing usus yang ditularkan melalui tanah (Soil Transmitted Helminths). Infestasi cacing pada anak akan mengganggu pertumbuhan, menurunkan kemampuan fisik, produktifitas belajar dan intelektualitas. Hasil Pemeriksaan yang dilakukan di beberapa SD di Kecamatan Stabat dan Kecamatan Hinai menemukan prevalensi kecacingan berada pada kisaran 30-60%. Penelitian ini bertujuan untuk menilai prevalensi infestasi kecacingan pada anak SD di Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dengan disain studi kasus kontrol ini dilakukan di 4 SD Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara. Populasi adalah anak SD klas III, IV dan V. Ukuran sampel ditentukan dengan formula disain kasus kontrol perbadingan 1:1 masing-masing adalah 100 untuk setiap kelompok. Metoda analisis yang digunakan adalah regresi logistik ganda. Faktor yang ditemukan berhubungan dengan kecacingan adalah tingkat sosial ekonomi (OR = 2,0), sarana air bersih (OR=44,6), pengetahuan ibu (OR=13,9) dan perilaku anak (OR=20,9). Untuk itu, perlu dilakukan upaya-upaya memodifikasi lingkungan dan mengubah perilaku melaui upaya pendidikan kesehatan bagi anak dan orang tua mereka.Kata kunci: Infestasi cacing, anak SD, faktor risiko.AbstractIndonesia still face the problem of disease related to worse environmental condition such as intestine worm infestation which was often referred as “Soil Transmitted Helminthes”. Wormy infestation at student of elementary schoolchild will affect growth, degrading ability of physical, productivity and intellectu- ality. Base on data Wormy Eradication program in Sub-District of Stabat and Hinai, District of Langkat, province of North Sumatra, it was known that the prevalence of the disease is ranged 30-60%. The objective of this research is to obtain information about prevalence of infestation wormy among Elementary School student and to know factors effect on to height of prevalence wormy. Method of research is “Observational Study” using design study of case control which compared case group and control group. Comparison of case group and control is 1: 1 with sample to the each group counted 100 children of elementary schoolchild. Result of analyze from multivariate logistics regression model that wormy infestation of elementary schoolchild proven closely related to social economics variable, water sanitation, knowledge of mother and behavior of child. Thereby require to be conducted counseling effort for child and mother to improve knowledge and change behavior of mother, and also repair of condition of sanitize environmental.Key words: Wormy infestation, elementary schoolchild, risk factors.
Hubungan Akreditasi dengan Mutu Lulusan Dumaria, Febrina
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 1 Agustus 2006
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.178 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v1i1.323

Abstract

Era globalisasi menimbulkan persaingan yang menuntut ketersediaan SDM yang bermutu dan profesional. Salah satu penentu mutu pelayanan kesehatan adalah ketersediaan tenaga kesehatan yang cukup dan profesional, yang tidak bisa terlepas dari sistem pendidikan tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara nilai akreditasi sub-sub komponen Borang Akreditasi 2000 dengan Mutu Lulusan institusi Diknakes. Sumber data adalah data sekunder hasil akreditasi sampai Maret 2005 dan Laporan Sistim Informasi Pendidikan Tenaga Kesehatan dari Bidang Diknakes Khusus dan Akreditasi Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan. Desain penelitian ini adalah potong lintang dan analisis data dengan regresi logistik berganda dan analisis faktor. Proporsi institusi yang mutu lulusan baik adalah 44.1%. Institusi dengan nilai perencanaan sangat baik pada kondisi nilai dosen tetap cukup, berpeluang 0.16 kali (95% CI 0.03–0.87), untuk menghasilkan mutu lulusan baik daripada institusi yang nilai perencanaannya cukup setelah dikontrol oleh variabel pelaksanaan program pengajaran, laporan periodik, evaluasi proses pengajaran, alat bantu pandang dengar dan prasarana. Dari hasil analisis faktor, diperoleh 5 faktor dengan total varians 60,28% yaitu faktor kurikulum, sarana, pendidik, laboratorium dan penunjang pendidikan. Faktor yang signifikan berhubungan dengan mutu lulusan baik adalah nilai akreditasi sub komponen dosen tetap yang berinteraksi dengan nilai akreditasi sub komponen perencanaan program pengajaran, dimana dosen tetap merupakan faktor yang paling dominan. Dari analisis faktor, sub komponen tenaga tata usaha dan perpustakaan membentuk faktor baru, begitu juga sub komponen laboratorium ternyata tidak berkorelasi dengan faktor lain dan membentuk faktor sendiri.Kata kunci : Akreditasi, pusat diknakes, mutu lulusan, institusi diknakes.Competitiveness in the globalization era has raised the needs for qualified and professional human resources. One of the key indicators of a high quality health service is the availability of professional medics, which obviously cannot be separated from the health education system. The objectives of this study is to investigate the correlation between the accreditation rates of Borang Akreditasi 2000’s sub-components and the quality of the health institution graduates. The data used is from the accreditation results to March 2005 and the report of Information System of Health Manpower Education from Specialist of Health Education and Accreditation Division, Centre of Health Manpower Education, Department of Public Health. The studi design used this research is cross sectional. The data is analyzed by using multiple logistic regression and factor analysis. Proportion of the institution with good quality graduates is 44.1%. Institutions with very good marks on education planning with an adequate on the full time lecturer’s state, possess 0.16 times risk (95% CI :0.03 – 0.87), to produce a good graduates compared to the institution with adequate marks on education planning after being controlled by the variables: application of teaching assistance program, periodic report, teaching evaluation, audio visual aids, and infrastructures. Based on the factor analysis, the author acquired 5 factors with a variance of 60.28%, they were curriculum, infrastructure, lecturer, Laboratorium and educational support. The research has shown that the most significant factors for highly qualified health education graduates are the accreditation rates for the full-time lecturer involvement sub-component and the planning of the teaching program sub-component. Between these two, the full-time lecturer involvement is a more dominant factor. From the factor analysis, the administration staff and librarians sub-component has raised a new factor. Also, the laboratory sub- component does not correlate with other factors. In fact, it has emerged as an independent factor.Key words : Accreditation, centre of health manpower education, quality of graduates, the health institutions.
Persepsi Stakeholders tentang Kinerja Fungsi Sistem Penelitian Kesehatan Nasional Yulianti, Anni
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 1 Agustus 2006
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.805 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v1i1.324

Abstract

Analisis kinerja fungsi sistem penelitian kesehatan nasional (SPKN) diperlukan untuk identifikasi penguatan dan peningkatan sistem yang mendukung pencapaian pemerataan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengukur skor kinerja fungsi utama SPKN yang meliputi pengelola, pendanaan, mengumpulkan dan memelihara sumber, produksi dan penggunaan riset berdasarkan pendapat stakeholders (peneliti, pembuat kebijakan, dan pengguna). Sumber data yang digunakan adalah pilot study WHO di Jakarta dan Makassar WHO dengan ukuran sampel 278 responden. Analisis dilakukan terhadap skor rata-rata 6 dimensi pendapat meliputi lingkungan; pandangan sistem, pembuatan, penggunaan, akses literur ilmiah dan media. Metoda analsis meliputi analisis kuantitatif univariat dan cross tabulasi tanpa uji statistik dan analisis kualitatif terhadap pertanyaan terbuka. Hasil studi memperlihatkan distribusi responden meliputi peneliti (62.2%), pembuat kebijakan (21.6%) dan peng- guna (16.2%). Secara keseluruhan, kinerja fungsi sistem litkes dinilai belum baik oleh 54,7% responden. Kinerja baik ditemukan pada fungsi pengelola dan penghasil riset. Sebaliknya kinerja tidak baik pada fungsi pengumpul dan pemelihara sumber daya, menggunakan riset, akses literatur ilmiah dan akses media. Analisis kuali- tatif memperlihatkan lima area yang berkontribusi penting pada penguatan lingkungan penelitian di indonesia meliputi pendanaan, fasilitas, gaji, kerjasama, dan komunikasi. Komponen yang dinyatakan penting pada penguatan sistem litkes adalah visi, sumber data manusia, pendanaan, etik litkes dan alokasi. Prioritas utama SPKN adalah masalah kesehatan masa depan dan masalah kesehatan yang persisten (bertahan lama). Disimpulkan bahwa SPKN belum berfungsi optimal. Peningkatan dapat dilakukan dengan revisi dan reorientasi prioritas SPKN antar stakeholders, peningkatan alokasi dana, optimalisasi peran dan fungsi jaringan litbangkes, serta peningkatan fungsi stewardship badan litbangkes dalam kapasitas kepemimpinan ilmiah yang baik.Kata kunci : Penilaian kinerja, sistem riset kesehatan nasionalAbstractNational health research system (NHRS) performance assessment will be very important to strengthen the capability of NHRS in order to improve the advancement of knowledge and health equity. The objective of this study is to measure the three functions performance of stewardship, creating and sustaining resources and producing and utilizing of health research based on the perceptions of NHRS stakeholders (researchers, policy makers and users). This study used secondary data WHO pilot study which was carried out in Jakarta and Makassar, in 2003-2004. The study design used is cross sectional with quantitative and qualitative data analy- sis for 278 respondents of NHRS individual survey. The respondents consist of NHRS stakeholders such as researchers (62.2%), policy makers (21.6%) and research users (16.2%). Overall performance of NHRS functions has been perceived as not well performed by 50.4% respondents. Good performances only on stewardship and producing research have been perceived by respondents. In the other hand, the performance of creating and sustaining resources, research utilization, access to scientific literatures and to media have been perceived unsatisfactorily by the respondents. Important contribution areas in improvement and strengthening the NHRS in Indonesia are: networking, facility, budget, collaboration and communication. While important contribution components in Indonesia are vision, human resources, ethics, budget and allocation. The main research priorities were identified as future health problem and persistent health problem in all respondent’s groups. In sum- mary, NHRS were not yet in optimum well functions., to strengthen the system: pledged to increase budget allocation and improve budget accountability; activating the national and local net working of health research and development, improvement of stewardship function of NHRS in its capacity as ‘good scientific leadership’Key words : Health research system, performance assessment.
Kelangsungan Hidup Bayi di Perkotaan dan Pedesaan Indonesia Simbolon, Demsa
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 1 Agustus 2006
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.455 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v1i1.319

Abstract

Kelangsungan hidup bayi di Indonesia yang masih rendah terlihat pada angka kematian bayi (AKB) yang menempati posisi tertinggi di Asean, kondisi intermediate rock dan sangat bervariasi. Penelitian yang menggunakan sumber data sekunder SDKI 2002-2003 ini bertujuan mengetahui gambaran kelangsungan hidup bayi di wilayah perkotaan dan pedesaan di Indonesia serta berbagai faktor yang berpengaruh. Besar sampel yang digunakan adalah 11.588 terdiri dari 4.769 bayi di perko- taan dan 6.819 bayi di pedesaan. Metoda analisis yang digunakan meliputi metode life table dan regresi cox. Hasil penelitian memperlihatkan probabilitas kelangsungan hidup bayi di perkotaan (98,59%) lebih tinggi daripada bayi di pedesaan (97,54%) dan proporsi kematian bayi di pedesaan dua kali lebih besar daripada di perkotaan. Pada masa neonatal, kurva kelangsungan hidup bayi memperlihatkan kecenderungan yang menurun tajam dan post neonatal terlihat lebih landai. Penurunan probabilitas kelangsungan hidup bayi di wilayah perkotaan terlihat lebih landai daripada di wilayah pedesaan. Terdapat perbedaan faktor-faktor yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi di perkotaan dan pedesaan. Di perkotaan, faktor-faktor yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi meliputi berat badan lahir, waktu pemberian ASI dan penolong persalinan. Sedangkan di pedesaan, faktor tersebut adalah frekuensi pemeriksaan antenatal, berat badan lahir, penolong persalinan, nomor urut lahir, waktu pemberian ASI dan tempat persalinan. Keadaan saat lahir merupakan faktor penting yang berhubungan signifikan dengan kelangsungan hidup bayi, faktor waktu pemberian ASI pertama kali merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi.Kata kunci : Kelangsungan hidup bayi, perkotaan dan pedesaan, analisis kesintasan.AbstractInfant’s survival in Indonesia is still low, as showed by the highest IMR level in ASEAN, intermediate rock condition and highly varied. This research’s aim is to des- cribe infant’s survival in Indonesia’s urban and rural area, also various factors related. This research is using SDKI 2002-2003 data. Sample’s amount 11.588 infant, consist of 4.769 infant in urban and 6.819 infant in rural. Method of analysis used in this study is life table and cox regression. This research found probability infant’s survival in urban (98, 59%) higher than in rural (97, 54%) and infant’s mortality proportion in rural is twice higher than in urban. On first month age (neonatal mortali- ty) infant’s survival time probability was decline, and for higher age infant’s survival time probability is still low, but not as low as the first month age. In urban area, infant’s survival time probability is even lower than in rural. There are determinant factors which are related to infant’s survival in rural and urban. In urban, factors which are related to infant’s survival are birth weight, breast feeding period and birth assistance. Meanwhile in rural area, the factors of are antenatal care, birth weight, birth assistance, birth queue number, breast feeding period and bearing place. Infant condition when the baby born is determinant factors which is related significantly with infant’s survival, first breast feeding period is dominant factor which is related with infant’s survival.Key words : Infant survival, rural and urban, survival analysis
Infestasi Kecacingan pada Anak SD di Kecamatan Sei Bingai Langkat, Sumut, 2005 Ginting, Limin
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 1 Agustus 2006
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.008 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v1i1.322

Abstract

Indonesia masih menghadapi masalah kesehatan yang berhubungan dengan kondisi lingkungan yang jelek, seperti infestasi cacing usus yang ditularkan melalui tanah (Soil Transmitted Helminths). Infestasi cacing pada anak akan mengganggu pertumbuhan, menurunkan kemampuan fisik, produktifitas belajar dan intelektualitas. Hasil Pemeriksaan yang dilakukan di beberapa SD di Kecamatan Stabat dan Kecamatan Hinai menemukan prevalensi kecacingan berada pada kisaran 30-60%. Penelitian ini bertujuan untuk menilai prevalensi infestasi kecacingan pada anak SD di Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dengan disain studi kasus kontrol ini dilakukan di 4 SD Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara. Populasi adalah anak SD klas III, IV dan V. Ukuran sampel ditentukan dengan formula disain kasus kontrol perbadingan 1:1 masing-masing adalah 100 untuk setiap kelompok. Metoda analisis yang digunakan adalah regresi logistik ganda. Faktor yang ditemukan berhubungan dengan kecacingan adalah tingkat sosial ekonomi (OR = 2,0), sarana air bersih (OR=44,6), pengetahuan ibu (OR=13,9) dan perilaku anak (OR=20,9). Untuk itu, perlu dilakukan upaya-upaya memodifikasi lingkungan dan mengubah perilaku melaui upaya pendidikan kesehatan bagi anak dan orang tua mereka.Kata kunci: Infestasi cacing, anak SD, faktor risiko.AbstractIndonesia still face the problem of disease related to worse environmental condition such as intestine worm infestation which was often referred as “Soil Transmitted Helminthes”. Wormy infestation at student of elementary schoolchild will affect growth, degrading ability of physical, productivity and intellectu- ality. Base on data Wormy Eradication program in Sub-District of Stabat and Hinai, District of Langkat, province of North Sumatra, it was known that the prevalence of the disease is ranged 30-60%. The objective of this research is to obtain information about prevalence of infestation wormy among Elementary School student and to know factors effect on to height of prevalence wormy. Method of research is “Observational Study” using design study of case control which compared case group and control group. Comparison of case group and control is 1: 1 with sample to the each group counted 100 children of elementary schoolchild. Result of analyze from multivariate logistics regression model that wormy infestation of elementary schoolchild proven closely related to social economics variable, water sanitation, knowledge of mother and behavior of child. Thereby require to be conducted counseling effort for child and mother to improve knowledge and change behavior of mother, and also repair of condition of sanitize environmental.Key words: Wormy infestation, elementary schoolchild, risk factors.
Hubungan Akreditasi dengan Mutu Lulusan Dumaria, Febrina
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 1 Agustus 2006
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.178 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v1i1.323

Abstract

Era globalisasi menimbulkan persaingan yang menuntut ketersediaan SDM yang bermutu dan profesional. Salah satu penentu mutu pelayanan kesehatan adalah ketersediaan tenaga kesehatan yang cukup dan profesional, yang tidak bisa terlepas dari sistem pendidikan tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara nilai akreditasi sub-sub komponen Borang Akreditasi 2000 dengan Mutu Lulusan institusi Diknakes. Sumber data adalah data sekunder hasil akreditasi sampai Maret 2005 dan Laporan Sistim Informasi Pendidikan Tenaga Kesehatan dari Bidang Diknakes Khusus dan Akreditasi Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan. Desain penelitian ini adalah potong lintang dan analisis data dengan regresi logistik berganda dan analisis faktor. Proporsi institusi yang mutu lulusan baik adalah 44.1%. Institusi dengan nilai perencanaan sangat baik pada kondisi nilai dosen tetap cukup, berpeluang 0.16 kali (95% CI 0.03–0.87), untuk menghasilkan mutu lulusan baik daripada institusi yang nilai perencanaannya cukup setelah dikontrol oleh variabel pelaksanaan program pengajaran, laporan periodik, evaluasi proses pengajaran, alat bantu pandang dengar dan prasarana. Dari hasil analisis faktor, diperoleh 5 faktor dengan total varians 60,28% yaitu faktor kurikulum, sarana, pendidik, laboratorium dan penunjang pendidikan. Faktor yang signifikan berhubungan dengan mutu lulusan baik adalah nilai akreditasi sub komponen dosen tetap yang berinteraksi dengan nilai akreditasi sub komponen perencanaan program pengajaran, dimana dosen tetap merupakan faktor yang paling dominan. Dari analisis faktor, sub komponen tenaga tata usaha dan perpustakaan membentuk faktor baru, begitu juga sub komponen laboratorium ternyata tidak berkorelasi dengan faktor lain dan membentuk faktor sendiri.Kata kunci : Akreditasi, pusat diknakes, mutu lulusan, institusi diknakes.Competitiveness in the globalization era has raised the needs for qualified and professional human resources. One of the key indicators of a high quality health service is the availability of professional medics, which obviously cannot be separated from the health education system. The objectives of this study is to investigate the correlation between the accreditation rates of Borang Akreditasi 2000’s sub-components and the quality of the health institution graduates. The data used is from the accreditation results to March 2005 and the report of Information System of Health Manpower Education from Specialist of Health Education and Accreditation Division, Centre of Health Manpower Education, Department of Public Health. The studi design used this research is cross sectional. The data is analyzed by using multiple logistic regression and factor analysis. Proportion of the institution with good quality graduates is 44.1%. Institutions with very good marks on education planning with an adequate on the full time lecturer’s state, possess 0.16 times risk (95% CI :0.03 – 0.87), to produce a good graduates compared to the institution with adequate marks on education planning after being controlled by the variables: application of teaching assistance program, periodic report, teaching evaluation, audio visual aids, and infrastructures. Based on the factor analysis, the author acquired 5 factors with a variance of 60.28%, they were curriculum, infrastructure, lecturer, Laboratorium and educational support. The research has shown that the most significant factors for highly qualified health education graduates are the accreditation rates for the full-time lecturer involvement sub-component and the planning of the teaching program sub-component. Between these two, the full-time lecturer involvement is a more dominant factor. From the factor analysis, the administration staff and librarians sub-component has raised a new factor. Also, the laboratory sub- component does not correlate with other factors. In fact, it has emerged as an independent factor.Key words : Accreditation, centre of health manpower education, quality of graduates, the health institutions.
Persepsi Stakeholders tentang Kinerja Fungsi Sistem Penelitian Kesehatan Nasional Yulianti, Anni
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 1 Agustus 2006
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.805 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v1i1.324

Abstract

Analisis kinerja fungsi sistem penelitian kesehatan nasional (SPKN) diperlukan untuk identifikasi penguatan dan peningkatan sistem yang mendukung pencapaian pemerataan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengukur skor kinerja fungsi utama SPKN yang meliputi pengelola, pendanaan, mengumpulkan dan memelihara sumber, produksi dan penggunaan riset berdasarkan pendapat stakeholders (peneliti, pembuat kebijakan, dan pengguna). Sumber data yang digunakan adalah pilot study WHO di Jakarta dan Makassar WHO dengan ukuran sampel 278 responden. Analisis dilakukan terhadap skor rata-rata 6 dimensi pendapat meliputi lingkungan; pandangan sistem, pembuatan, penggunaan, akses literur ilmiah dan media. Metoda analsis meliputi analisis kuantitatif univariat dan cross tabulasi tanpa uji statistik dan analisis kualitatif terhadap pertanyaan terbuka. Hasil studi memperlihatkan distribusi responden meliputi peneliti (62.2%), pembuat kebijakan (21.6%) dan peng- guna (16.2%). Secara keseluruhan, kinerja fungsi sistem litkes dinilai belum baik oleh 54,7% responden. Kinerja baik ditemukan pada fungsi pengelola dan penghasil riset. Sebaliknya kinerja tidak baik pada fungsi pengumpul dan pemelihara sumber daya, menggunakan riset, akses literatur ilmiah dan akses media. Analisis kuali- tatif memperlihatkan lima area yang berkontribusi penting pada penguatan lingkungan penelitian di indonesia meliputi pendanaan, fasilitas, gaji, kerjasama, dan komunikasi. Komponen yang dinyatakan penting pada penguatan sistem litkes adalah visi, sumber data manusia, pendanaan, etik litkes dan alokasi. Prioritas utama SPKN adalah masalah kesehatan masa depan dan masalah kesehatan yang persisten (bertahan lama). Disimpulkan bahwa SPKN belum berfungsi optimal. Peningkatan dapat dilakukan dengan revisi dan reorientasi prioritas SPKN antar stakeholders, peningkatan alokasi dana, optimalisasi peran dan fungsi jaringan litbangkes, serta peningkatan fungsi stewardship badan litbangkes dalam kapasitas kepemimpinan ilmiah yang baik.Kata kunci : Penilaian kinerja, sistem riset kesehatan nasionalAbstractNational health research system (NHRS) performance assessment will be very important to strengthen the capability of NHRS in order to improve the advancement of knowledge and health equity. The objective of this study is to measure the three functions performance of stewardship, creating and sustaining resources and producing and utilizing of health research based on the perceptions of NHRS stakeholders (researchers, policy makers and users). This study used secondary data WHO pilot study which was carried out in Jakarta and Makassar, in 2003-2004. The study design used is cross sectional with quantitative and qualitative data analy- sis for 278 respondents of NHRS individual survey. The respondents consist of NHRS stakeholders such as researchers (62.2%), policy makers (21.6%) and research users (16.2%). Overall performance of NHRS functions has been perceived as not well performed by 50.4% respondents. Good performances only on stewardship and producing research have been perceived by respondents. In the other hand, the performance of creating and sustaining resources, research utilization, access to scientific literatures and to media have been perceived unsatisfactorily by the respondents. Important contribution areas in improvement and strengthening the NHRS in Indonesia are: networking, facility, budget, collaboration and communication. While important contribution components in Indonesia are vision, human resources, ethics, budget and allocation. The main research priorities were identified as future health problem and persistent health problem in all respondent’s groups. In sum- mary, NHRS were not yet in optimum well functions., to strengthen the system: pledged to increase budget allocation and improve budget accountability; activating the national and local net working of health research and development, improvement of stewardship function of NHRS in its capacity as ‘good scientific leadership’Key words : Health research system, performance assessment.
Kelangsungan Hidup Bayi di Perkotaan dan Pedesaan Indonesia Simbolon, Demsa
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 1 No. 1 Agustus 2006
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.455 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v1i1.319

Abstract

Kelangsungan hidup bayi di Indonesia yang masih rendah terlihat pada angka kematian bayi (AKB) yang menempati posisi tertinggi di Asean, kondisi intermediate rock dan sangat bervariasi. Penelitian yang menggunakan sumber data sekunder SDKI 2002-2003 ini bertujuan mengetahui gambaran kelangsungan hidup bayi di wilayah perkotaan dan pedesaan di Indonesia serta berbagai faktor yang berpengaruh. Besar sampel yang digunakan adalah 11.588 terdiri dari 4.769 bayi di perko- taan dan 6.819 bayi di pedesaan. Metoda analisis yang digunakan meliputi metode life table dan regresi cox. Hasil penelitian memperlihatkan probabilitas kelangsungan hidup bayi di perkotaan (98,59%) lebih tinggi daripada bayi di pedesaan (97,54%) dan proporsi kematian bayi di pedesaan dua kali lebih besar daripada di perkotaan. Pada masa neonatal, kurva kelangsungan hidup bayi memperlihatkan kecenderungan yang menurun tajam dan post neonatal terlihat lebih landai. Penurunan probabilitas kelangsungan hidup bayi di wilayah perkotaan terlihat lebih landai daripada di wilayah pedesaan. Terdapat perbedaan faktor-faktor yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi di perkotaan dan pedesaan. Di perkotaan, faktor-faktor yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi meliputi berat badan lahir, waktu pemberian ASI dan penolong persalinan. Sedangkan di pedesaan, faktor tersebut adalah frekuensi pemeriksaan antenatal, berat badan lahir, penolong persalinan, nomor urut lahir, waktu pemberian ASI dan tempat persalinan. Keadaan saat lahir merupakan faktor penting yang berhubungan signifikan dengan kelangsungan hidup bayi, faktor waktu pemberian ASI pertama kali merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi.Kata kunci : Kelangsungan hidup bayi, perkotaan dan pedesaan, analisis kesintasan.AbstractInfant’s survival in Indonesia is still low, as showed by the highest IMR level in ASEAN, intermediate rock condition and highly varied. This research’s aim is to des- cribe infant’s survival in Indonesia’s urban and rural area, also various factors related. This research is using SDKI 2002-2003 data. Sample’s amount 11.588 infant, consist of 4.769 infant in urban and 6.819 infant in rural. Method of analysis used in this study is life table and cox regression. This research found probability infant’s survival in urban (98, 59%) higher than in rural (97, 54%) and infant’s mortality proportion in rural is twice higher than in urban. On first month age (neonatal mortali- ty) infant’s survival time probability was decline, and for higher age infant’s survival time probability is still low, but not as low as the first month age. In urban area, infant’s survival time probability is even lower than in rural. There are determinant factors which are related to infant’s survival in rural and urban. In urban, factors which are related to infant’s survival are birth weight, breast feeding period and birth assistance. Meanwhile in rural area, the factors of are antenatal care, birth weight, birth assistance, birth queue number, breast feeding period and bearing place. Infant condition when the baby born is determinant factors which is related significantly with infant’s survival, first breast feeding period is dominant factor which is related with infant’s survival.Key words : Infant survival, rural and urban, survival analysis

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2006 2006


Filter By Issues
All Issue Volume 13, Issue 4, May 2019 Volume 13, Issue 3, February 2019 Volume 13, Issue 2, November 2018 Volume 13, Issue 1, August 2018 Volume 12, Issue 4, May 2018 Volume 12, Issue 3, February 2018 Volume 12, Issue 2, November 2017 Volume 12, Issue 1, August 2017 Volume 11, Issue 4, May 2017 Volume 11, Issue 3, February 2017 Volume 11, Issue 2, November 2016 Volume 11, Issue 1, August 2016 Vol. 10 No. 4 May 2016 Vol. 10 No. 3 February 2016 Vol. 9 No. 4 Mei 2015 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 10 No. 2 November 2015 Vol. 10 No. 1 Agustus 2015 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 1 Agustus 2012 Vol. 6 No. 6 Juni 2012 Vol. 6 No. 5 April 2012 Vol. 6 No. 4 Februari 2012 Vol. 6 No. 3 Desember 2011 Vol. 6 No. 2 Oktober 2011 Vol. 6 No. 1 Agustus 2011 Vol. 5 No. 6 Juni 2011 Vol. 5 No. 5 April 2011 Vol. 5 No. 4 Februari 2011 Vol. 5 No. 3 Desember 2010 Vol. 5 No. 2 Oktober 2010 Vol. 5 No. 1 Agustus 2010 Vol. 4 No. 6 Juni 2010 Vol. 4 No. 5 April 2010 Vol. 4 No. 4 Februari 2010 Vol. 4 No. 3 Desember 2009 Vol. 4 No. 2 Oktober 2009 Vol. 4 No. 1 Agustus 2009 Vol. 3 No. 6 Juni 2009 Vol. 3 No. 5 April 2009 Vol. 3 No. 4 Februari 2009 Vol. 3 No. 3 Desember 2008 Vol. 3 No. 2 Oktober 2008 Vol. 3 No. 1 Agustus 2008 Vol. 2 No. 6 Juni 2008 Vol. 2 No. 5 April 2008 Vol. 2 No. 4 Februari 2008 Vol. 2 No. 3 Desember 2007 Vol. 2 No. 2 Oktober 2007 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 6 Juni 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 vol. 1 No. 3 Desember 2006 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 Vol. 1 No. 1 Agustus 2006 More Issue