cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : -
Core Subject : Health,
Kesmas: National Public Health Journal is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance health of the public through scientific approach applying variety of technique. This focus includes area and scope such as biostatistics, epidemiology, health education and promotion, health policy and administration, environmental health, public health nutrition, sexual and reproductive health, and occupational health and safety.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 8. No. 1 Agustus 2013" : 8 Documents clear
Kebijakan Pengendalian HIV/AIDS di Denpasar Lestari, Tri Rini Puji
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol 8. No. 1 Agustus 2013
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.562 KB)

Abstract

Secara nasional, Indonesia telah mengantisipasi epidemi HIV/AIDS, tetapi jumlah kasus HIV/AIDS di Provinsi Bali dari tahun ke tahun memperlihatkan peningkatan yang semakin mengkhawatirkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan jumlah kasus dan kebijakan penanggulangan HIV/AIDS di Denpasar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang dilakukan di Denpasar pada tanggal 11-17 September 2011. Sampel penelitian ini menggunakan informan terpilih yaitu kepala bappeda, pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten Denpasar, direktur rumah sakit, puskesmas, ketua komisi penanggulangan AIDS di kabupaten/kota dan pemerhati HIV/AIDS termasuk ODHA. Penelitian menemukan jumlah kasus HIV/AIDS di Kota Denpasar yang tertinggi dan penularan terbesarnya melalui hubungan seks. Namun, dukungan pemerintah daerah dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS terlihat belum maksimal. Padahal kebijakan penanggulangan HIV/AIDS sangat ditentukan oleh cara pandang pemerintah terhadap penyakit HIV/AIDS. Untuk itu, perlu peningkatan pemahaman tentang HIV/AIDS serta pencegahan dan penanganan semua pihak terkait sehingga penanggulangan HIV/AIDS dapat lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran.Nationally, Indonesia anticipated HIV/AIDS epidemic, but the number of cases of HIV/AIDS in Bali province from year to year showed an increase in the increasingly alarming. This study aimed to determine the number of cases and the development of policies on HIV / AIDS in Denpasar. This research was conducted using qualitative methods in Denpasar on 11-17 September 2011. The study sample was selected using the informant is head of planning, Denpasar District health officers, the director of the hospital, health center, chairman of the commission on AIDS in the district/city and observer of HIV / AIDS, including people living with HIV. The study found the number of cases of HIV / AIDS in the city of Denpasar is the highest and greatest transmission through sexual intercourse. However, the support of local governments in efforts to prevent and control HIV/AIDS looks not maximized. In fact the policy of HIV/AIDS is largely determined by the government perspective on HIV / AIDS. To that end, should be an increased understanding of HIV/AIDS as well as prevention and treatment of all parties concerned. So that HIV/ AIDS can be more effective, efficient, and targeted.
Persistensi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi Rawat Jalan Nurmainah, Nurmainah; Fudholi, Ahmad; Dwiprahasto, Iwan
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol 8. No. 1 Agustus 2013
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.693 KB)

Abstract

Persistensi penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi sangat diperlukan mengingat hasil utama terapi hipertensi adalah mencegah kejadian penyakit kardiovaskular seperti infark miokard, dan stroke yang berujung pada kematian. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh jenis terapi dan jenis obat antihipertensi terhadap persistensi. Penelitian ini menggunakan desain studi kohort retrospektif dan menggunakan sumber data sekunder pasien hipertensi rawat jalan peserta asuransi kesehatan PT Askes di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Metode pengukuran persistensi adalah metode the gaps between refill dengan tenggang waktu pengambilan obat selama 30 hari. Data dianalisis menggunakan uji kai kuadrat, Kaplan-Meier, dan Cox regression. Jumlah subjek yang ikut dalam penelitian ini adalah 304 pasien hipertensi yang menggunakan obat antihipertensi pertama kali (tanggal indeks diagnosis 1 Juli 2007 hingga 31 Desember 2008). Setelah pengamatan 4,5 tahun, hampir separuh subjek yang mendapat monoterapi (57,6%) dan kombinasi terapi (53,8%) tidak persisten menggunakan obat antihipertensi. Ketidakpersistenan penggunaan obat antihipertensi lebih besar pada kelompok monoterapi daripada kelompok kombinasi, tetapi perbedaan tersebut tidak signifikan (RR = 0,94; 95% CI = 0,73 - 1,21). Penggunakan diuretik (85,7%) dan kombinasi obat diuretik + ACE inhibitor (84,6%) cenderung tidak persisten dibandingkan subjek yang menggunakan ACE inhibitor (58,4%). Perbedaan ini bermakna secara statistik (RR = 1,47; 95% CI = 1,05 - 2,01 dan RR = 1,45; 95% CI = 1,10 - 1,91). Persistensi dipengaruhi oleh jenis obat antihipertensi yang digunakan, yaitu ACE inhibitor.Persistence of the use of antihypertensive drugs in hypertensive patients greatly needed. Considering the primary outcome of treatment for hypertension is to reduce or prevent the occurrence of cardiovascular events such as myocardial infarction, stroke resulting in the risk of death. This study aims to determine whether persistence is influenced by the type of treatment or type of antihypertensive drugs. This study was designed with retrospective cohort study using database of prescribing claimed of subjects under health insurance (PT Askes) in Panembahan Senopati hospitals using antihypertensive drugs. Persistency measurement method used is the method of the gaps between refilling. The grace period taking the drug for 30 days. Further data were analyzed using the chi square test, Kaplan-Meier, and Cox regression. This cohort study involving 304 patients using antihypertensive medications first (index diagnosis 1 July 2007 until 31 December 2008). After observation for 4,5 years found almost half of the subjects receive monotherapy (57,6%) or combination therapy (53,8%) are not persistent in the use of antihypertensive medications. Not persistent greater in the monotherapy compare to combination therapy group. However, this difference did not reach significance (RR = 0,94; CI 95% = 0,73 - 1,21). Subject were using a diuretic (85,7%) and ACE inhibitor + diuretic combination (84,6%) tends not to be persistent compare to subject using ACE inhibitors (58,4%). This difference was statistically significant (RR = 1,47; CI 95% = 1,05 - 2,01 and RR = 1,45; CI 95% = 1,10 - 1,91). Overall, persistence is influenced by the type antihypertensive drugs used, the ACE inhibitors.
Model Prediksi Indeks Massa Tubuh Remaja Berdasarkan Riwayat Lahir dan Status Gizi Anak Simbolon, Demsa
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol 8. No. 1 Agustus 2013
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.014 KB)

Abstract

Usia remaja merupakan salah satu kelompok umur rentan terhadap masalah gizi sebagai akibat riwayat lahir dan status gizi buruk sebelumnya yang konsekuensinya buruk dalam daur hidup berikutnya. Penelitian ini menggunakan data Indonesia Family Life Survey (IFLS) dengan desain studi longitudinal, bertujuan memperoleh model prediksi IMT remaja berdasarkan riwayat lahir dan status gizi anak. Sampel berjumlah 837 balita dipilih secara multistage random sampling. Riwayat lahir diukur dari berat lahir dan umur kehamilan. Pengukuran status gizi dilakukan mulai balita sampai remaja (15 - 19 tahun). Analisis menggunakan regresi logistik multinomial. Rata-rata berat lahir bayi perempuan 147 gram lebih rendah dibandingkan bayi laki-laki. Terdapat 7,4% berat bayi lahir rendah, dengan prevalensi tertinggi pada perempuan (9,3%). Terdapat masalah gizi ganda pada balita yaitu 47% stunting, 29,7% underweight, 10% wasting, dan 13,9% gemuk/obesitas. Sebesar 51,7% balita mengalami gangguan pertumbuhan dengan stunting sebagai kontribusi terbesar. Risiko remaja gemuk/obesitas diprediksi dari kelahiran prematur, stunting usia 8 - 12 tahun, dan gemuk/obesitas usia 8 - 12 tahun. Risiko remaja kurus diprediksi dari IMT kurus saat berusia 5 - 9 tahun dan usia 8 - 12 tahun. Perlu intervensi yang diprioritaskan pada remaja perempuan untuk mencegah kelahiran prematur dan fetal programming, serta evaluasi program Pemberian Makan Tambahan (PMT) pada balita yang lebih memfokuskan pada penambahan berat badan tanpa mempertimbangkan tinggi badan.Adolescents is one of the age groups vulnerable to nutritional problems as a result of poor birth history and nutritional status, and then have bad consequences the next life cycle. Research using data Indonesia Family Life Survey (IFLS) with longitudinal study designs to predict adolescent body mass index based on the history of birth and child nutritional status. Sample consisted of 837 children selected by multistage random sampling. History of birth measured from birth weight and gestational age. Measurement of nutritional status was conducted from under five years children to adolescence (15 - 19 years). Analysis using multinomial logistic regression. Average birth weight women 147 grams lower than men. There is a 7.4% LBW, with the highest prevalence in women (9.3%). There are multiple nutritional problems are 47 % stunting, 29.7% underweight, 10% wasting, and 13.9% overweight/ obesity. 51.7% of children under five years of growth faltering, stunting as the highest contribution. The risk of overweight/ obesity adolescent can be predicted from the premature birth, stunted aged 8 - 12 years, and overweight/ obese aged 8 - 12 years. Risk of underweight adolescents predicted from underweight aged 5 - 9 years and 8 - 12 years. It should be prioritized intervention in young women to prevent preterm birth, as well as the evaluation of the supplementary feeding programs are more focused on weight gain without considering the height.
Program Edukasi Kesehatan dan Perubahan Lingkar Pinggang pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Kirtishanti, Aguslina; Lorensia, Amelia; Yudiarso, Ananta; Linggani, Linggani; Agustina, Selvia; Junita, Lidia
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol 8. No. 1 Agustus 2013
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.044 KB)

Abstract

Diabetes melitus adalah penyakit yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas di dunia. Hubungan antara diabetes melitus dengan obesitas telah diketahui, tetapi peran distribusi pada daerah abdominal belum sepenuhnya dijelaskan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian edukasi kesehatan terhadap perubahan lingkar pinggang pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan satu kelompok desain pretest-posttest di Surabaya pada bulan Juni - Juli 2013, dan melibatkan 31 subjek yang diberi program edukasi kesehatan selama 1 bulan yang dibagi dalam 4 pertemuan. Data dari pretest dan posttest dikumpulkan dan dianalisis dengan metode wilcoxon signed rank test pada data yang tidak normal (p > 0,05). Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pengetahuan dan perilaku pasien serta mengurangi besar lingkar pinggang pasien secara signifikan (p < 0,05). Lingkar pinggang mulai menunjukan perbedaan signifikan pada minggu ketiga edukasi (Z = 12,93; P = 0,003) dibandingkan pretest. Penurunan lingkar pinggang antara posttest dan pretest sebesar 0,94 cm (minggu ke-4) dan 1,68 (4 bulan kemudian). Oleh karena itu, edukasi kesehatan memiliki manfaat dalam meningkatkan self-monitoring diabetes melitus yang dapat mengurangi lingkar pinggang yang berguna untuk mengurangi risiko komplikasi.Diabetes mellitus is a disease that causes morbidity and mortality in the world. Association of diabetes mellitus with obesity are well known, but the role of distribution in the abdominal area has not been fully elucidated. The aim of this study was to determine the relationship of giving education to change waist circumference in type 2 diabetes mellitus. This study is an experimental with one group pretest-posttest design in Surabaya, from June July 2013, and involving 31 subjects whom were given health education program for 1 month which are divided in 4 meetings in Surabaya University. Data from the pretest and posttest were collected and analyzed with the Wilcoxon signed rank test method on the data that isn’t normal (p > 0.05). The results showed an increase in knowledge and behavior of patients and reduced significantly the size of the waist circumference (p <0.05). Waist circumference began to show a significant difference in the third week of education (Z = 12.93, P = 0.003) compared to the pretest. The decrease in waist circumferences between the pretest and posttest were 0.94 cm (week 4) and 1.68 (4 months later). Therefore, health education has benefits in increasing self-monitoring of diabetes mellitus that can reduce waist circumference are useful for reducing the risk of complications.
Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan oleh Perempuan Terinfeksi HIV/AIDS Burhan, Rialike
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol 8. No. 1 Agustus 2013
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.243 KB)

Abstract

Perempuan terinfeksi human immunodeficiency virus dan acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS) mempunyai permasalahan yang kompleks sehubungan dengan penyakit dan statusnya, sehingga mereka mempunyai kebutuhan yang khusus. Kebutuhan perawatan, dukungan dan pengobatan tersebut dapat diperoleh dengan mengakses pelayanan kesehatan yang tersedia untuk dapat mengoptimalkan kesehatan mereka sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan faktor predisposisi yang meliputi pengetahuan, sikap, stigma, faktor pemungkin yang meliputi jarak ke pelayanan kesehatan dan faktor penguat berupa dukungan sosial dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan pada perempuan terinfeksi HIV/AIDS. Rancangan penelitian menggunakan pendekatan potong lintang. Penelitian dilaksanakan di Kelompok Dukungan Sebaya Female Plus Kota Bandung pada bulan Juni sampai Juli 2012. Sampel penelitian berjumlah 40 orang perempuan terinfeksi HIV/AIDS. Data di analisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara statistik yaitu usia, pendidikan, status perkawinan, status pekerjaan, faktor predisposisi (pengetahuan, sikap, stigma), faktor penguat (dukungan sosial), dan faktor pemungkin yaitu jarak ke pelayanan kesehatan tidak berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Pengetahuan merupakan faktor penentu dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan berpeluang 60,1 kali untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan.Women living with HIV/AIDS have a complex problems who connection with the disease and her status, because they have special needs, for care, support and treatment can be obtained by accessing the health services available to optimize their health so as to improve the quality of life. The purpose of this study was to analyze the correlation between three factors, predisposing factors (knowledge, attitudes, stigma), enabling factors (distance to health services), and reinforcing factors (social support) with health service utilization.This type of research was analytic with cross-sectional research approach. The research was implemented in Female Plus Peer Support Group Bandung from June until July 2012. The sample in this study were 40 women living with HIV/AIDS. Data analysis using univariate, bivariate, and multivariate. The results obtained that there were significant relationship is age, education, marital status, work, predisposing factors (knowledge, attitude, stigma), reinforcing factor (social support), and enabling factors (distance to health services were not correlated with health service utilization). Knowledge was the determinant factor to health service utilization in 60,1 times the chance to utilize health services.
Overcoming Shortage of Pharmacists to Provide Pharmaceutical Services in Public Health Centers in Indonesia Yuniar, Yuyun; Herman, Max Joseph
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol 8. No. 1 Agustus 2013
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.7 KB)

Abstract

Indonesia is facing shortage of pharmacist in public health centers (PHCs), therefore the local government and PHCs have to cope with this problem. This paper aimed to describe the pharmaceutical manpower availability in PHCs, the problems occurred and potential applied solutions. Data was taken from National Health Facility Research 201. Quantitative data related to pharmaceutical manpower in PHCs was analyzed descriptively based on regions. Supporting qualitative data through in-depth interviews with the health office staffs in Bogor and Bekasi and pharmacists in four PHCs were conducted and being analyzed using thematic analysis. It was found that Sulawesi had the highest percentage of PHCs having pharmacist (29.1%) while Eastern Indonesia 51.5% of PHCs didn’t have any staff with pharmacy related educational background. The highest percentages of staff composition were pharmacy technician followed by nurse. The main problem was due to high workload with limited manpower available. The proposed solutions are recruitment of new pharmacists, but in case it is not possible then placing pharmacist in certain type of PHCs with urgent needs is a priority. Empowering pharmacy technician, all available trained staff and other resources such as on job students are other feasible choices.Indonesia masih menghadapi keterbatasan jumlah apoteker di puskesmas, sehingga pihak pemerintah daerah dan puskesmas harus berupaya mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan ketersediaan dan distribusi tenaga pelayanan kefarmasian di puskesmas serta permasalahan dan alternatif pemecahannya. Data diambil dari hasil Riset Fasilitas Kesehatan (Rifaskes) tahun 2011I. Data kuantitatif tentang tenaga pelayanan kefarmasian di puskesmas dianalisis secara deskriptif berdasarkan regional. Data kualitatif sebagai pendukung diperoleh melalui wawancara mendalam dengan bagian kepegawaian dinas kesehatan dan apoteker empat puskesmas di Kota Bogor dan Bekasi, 3 kemudian dianalisis dengan metode analisis tema. Hasil analisis menunjukkan bahwa Sulawesi memiliki persentase puskesmas dengan tenaga apoteker tertinggi (29,1%) sedangkan Indonesia Timur memiliki persentase puskesmas tertinggi dengan tenaga pelayanan kefarmasian tanpa latar belakang pendidikan farmasi (51,5%). Persentase tenaga kefarmasian terbesar di puskesmas adalah tenaga teknis kefarmasian kemudian perawat. Permasalahan utama yang dihadapi puskesmas adalah beban kerja yang berat dengan kondisi tenaga yang terbatas. Alternatif pemecahan masalah yaitu pengangkatan apoteker baru, namun jika tidak memungkinkan maka penempatan apoteker pada puskesmas dengan kebutuhan mendesak merupakan prioritas utama. Pilihan lain yang memungkinkan adalah pemberdayaan tenaga teknis kefarmasian dan staf lain yang sudah dilatih atau memanfaatkan tenaga siswa magang.
Efektivitas Sirih Merah dalam Perawatan Luka Perineum di Bidan Praktik Mandiri Damarini, Susilo; Eliana, Eliana; Mariati, Mariati
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol 8. No. 1 Agustus 2013
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.679 KB)

Abstract

Angka kejadian ruptur perineum pada primipara persalinan normal adalah sekitar 88,9%. Piper crocatum extract atau ekstrak daun sirih merah diketahui mempunyai kandungan kimia yang berefek antiseptik dan antibakteri. Sebagian besar persalinan normal di Kota Bengkulu mengalami ruptur spontan atau episiotomi. Dari 10 persalinan, ada 7 pasien yang mengalami robekan perineum dan kering rata-rata dalam 7 hari, dengan perawatan menggunakan iodin atau merendam/ cebok rebusan daun sirih. Tujuan penelitian ini adalah menilai efektivitas penyembuhan luka perineum ibu nifas dengan menggunakan daun sirih merah dan obat antiseptik. Metode penelitian quasi eksperimental, populasi ibu pospartum dengan luka perineum yang ditolong oleh bidan praktik mandiri. Sampel perlakuan 35 orang dan kelompok kontrol 35 orang. Sampel diambil secara accidental sampling. Waktu penelitian bulan Mei – Agustus 2012 di Kota Bengkulu. Variabel lainnya yaitu status kesehatan, obat antibiotik dan status gizi. Analisis menggunakan uji Mann - Whitney Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lama penyembuhan luka perineum menggunakan infusum sirih merah adalah 2 - 3 hari sedangkan pada kelompok obat antiseptik rata-rata lama penyembuhan 5 – 6 hari, artinya bahwa daun sirih merah lebih efektif dibandingkan dengan iodine dalam perawatan luka perineum pada masa pospartum.The incidence of perineal rupture in primiparous normal deliveries is 88.9%. Piper crocatum Extract or red betel leaf extract are known contained antiseptic and antibacterial effect. Mostly normal deliveries in Bengkulu City experienced spontaneous rupture or episiotomy. From 10 births, 7 patients experienced perineal laceration and were dry in 7 days by treatment using iodine or soak/ wiping with betel leaf decoction. The aim of this study was to determine the effectiveness of red betel leaf in healing perineal wound of postpartum mother in Independent Practice Midwife in Bengkulu City 2013. The method of this study was quasi-experimental. The population was mothers with postpartum perineal wounds who attended by independent midwive practice. 35 sample as treatment group and 35 people as control group. Sample was taken by accidental samplingthis study doing at month May – August 2012 in The Bengkulu City. Other variables are health status, antibiotics and nutritional status. Analysis using the Mann - Whitney Test. The result of this study showed that the avarage length of perineal wound healing using infusum of red betel leaf was 2 - 3 days, while in group iodine was 5 - 6 days, meaning that red betel leaf is more effective compared with iodine in wound care in the puerperium.
Pengobatan Perilaku Kognitif untuk Depresi Postpartum Girsang, Bina Melvia
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol 8. No. 1 Agustus 2013
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.633 KB)

Abstract

Sebagian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah melahirkan seperti depresi, mudah marah, terutama mudah frustasi serta emosional. Gangguan mood selama periode postpartum paling sering terjadi pada wanita primipara dan multipara. Penelitian ini bertujuan menilai pengaruh penerapan pengobatan perilaku kognitif (cognitive behavior therapy) untuk mengatasi depresi postpartum di ruang kebidanan Rumah Sakit Bhayangkara Palembang. Penelitian ini menggunakan desain studi kuasi eksperimen dengan non equivalent control group. Sampel yang diambil dengan metode purposive sampling berjumlah 30 ibu postpartum yang terdiri dari 15 orang kelompok perlakuan dan 15 orang kelompok kontrol. Penelitian ini menemukan rata-rata perbedaan depresi pada ibu postpartum yang diintervensi dengan ibu postpartum yang tidak diintervensi adalah 0,15, standar deviasi adalah 0,724, dan pada nilai t sebesar 3,56, dan nilai p = 0,003. Ada perbedaan depresi postpartum pada ibu yang dilakukan intervensi terapi pengobatan perilaku kognitif dan yang tidak. Temuan ini memerlukan penerapan penyuluhan kesehatan khususnya melalui terapi cognitive behavior dengan memberikan informasi tentang pencegahan depresi postpartum pada saat pemeriksaan kehamilan trimester I, II, dan III dan setelah tiga hari melahirkan untuk mencegah dan mengatasi depresi postpartum.In general, most women experience postpartum emotional disturbances, depression, irritable, easily frustrated and emotional especially. Mood disorders during the postpartum period is one of the most common disorders in both primiparous and multiparous women. This study aimed to analyze the effect of the application of cognitive behavioral intervention therapy (CBT) in overcoming postpartum depression in Space Obstetrics Hospital Bhayangkara, Palembang. This study was conducted with a quasi experiment (quasi-experimental), using the draft non equivalent control group. The sample study of postpartum mothers 30 respectively 15 people as the treated group, and 15 men as a control group. Samples were taken by purposive sampling. Results of t-test pair test showed an average difference of postpartum depression in mothers who psychoeducation intervention with postpartum mothers who did not intervene psychoeducation is of 0.15, standard deviation (standard deviation) of 0.724, and the t-value of 3.56, and with a significance value of p= 0.003. There are differences in postpartum depression in mothers who do CBT therapy intervention with mothers who did not.The findings need health education, especially through the application of cognitive behavior therapy by providing information on the prevention of postpartum depression during the first trimester of pregnancy examination, II, and III and three days after giving birth to prevent and cope with postpartum depression.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 2 (2019): Volume 14, Issue 2, November 2019 Vol 14, No 1 (2019): Volume 14, Issue 1, August 2019 Volume 13, Issue 4, May 2019 Volume 13, Issue 3, February 2019 Volume 13, Issue 2, November 2018 Volume 13, Issue 1, August 2018 Volume 12, Issue 4, May 2018 Volume 12, Issue 3, February 2018 Volume 12, Issue 2, November 2017 Volume 12, Issue 1, August 2017 Volume 11, Issue 4, May 2017 Volume 11, Issue 3, February 2017 Volume 11, Issue 2, November 2016 Volume 11, Issue 1, August 2016 Vol. 10 No. 4 May 2016 Vol. 10 No. 3 February 2016 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 9 No. 4 Mei 2015 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 10 No. 2 November 2015 Vol. 10 No. 1 Agustus 2015 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 1 Agustus 2012 Vol. 6 No. 6 Juni 2012 Vol. 6 No. 5 April 2012 Vol. 6 No. 4 Februari 2012 Vol. 6 No. 3 Desember 2011 Vol. 6 No. 2 Oktober 2011 Vol. 6 No. 1 Agustus 2011 Vol. 5 No. 6 Juni 2011 Vol. 5 No. 5 April 2011 Vol. 5 No. 4 Februari 2011 Vol. 5 No. 3 Desember 2010 Vol. 5 No. 2 Oktober 2010 Vol. 5 No. 1 Agustus 2010 Vol. 4 No. 6 Juni 2010 Vol. 4 No. 5 April 2010 Vol. 4 No. 4 Februari 2010 Vol. 4 No. 3 Desember 2009 Vol. 4 No. 2 Oktober 2009 Vol. 4 No. 1 Agustus 2009 Vol. 3 No. 6 Juni 2009 Vol. 3 No. 5 April 2009 Vol. 3 No. 4 Februari 2009 Vol. 3 No. 3 Desember 2008 Vol. 3 No. 2 Oktober 2008 Vol. 3 No. 1 Agustus 2008 Vol. 2 No. 6 Juni 2008 Vol. 2 No. 5 April 2008 Vol. 2 No. 4 Februari 2008 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 Vol. 2 No. 3 Desember 2007 Vol. 2 No. 2 Oktober 2007 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 6 Juni 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 vol. 1 No. 3 Desember 2006 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 Vol. 1 No. 1 Agustus 2006 More Issue