cover
Filter by Year
TECHNO
Published by Universitas Khairun
TECHNO: Jurnal Penelitian diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Khairun, dua kali terbit dalam setahun dengan jumlah artikel dalam sekali terbit sebanyak 8 tulisan.
Articles
43
Articles
PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA MINERAL BERWAWASAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Kabupaten Halmahera Utara)

Jolo, Ali Yusra, Gautama, Rudi S

TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 7, No 01 (2018): JURNAL TECHNO
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.209 KB)

Abstract

SARIKeterdapatan potensi sumber daya mineral mempunyai peran strategis untuk mempercepat laju pembangunan di Kabupaten Halmahera Utara dimana status wilayah dalam katogori daerah tertinggal. Pengelolan potensi sumberdaya mineral yang dieksploitasi tentu mempunyai tantangan yang cukup berat karena pada wlilayah izin usaha pertambangan terdapat potensi sumber daya alam lainnya seperti kehutanan, kawasan pertanian dan kelautan. pengobtimalkan potensi sumberdaya mineral diperlukan kajian lingkungan hidup strategis untuk menetukan arah kebijakan pengelolaan kegiatan pertambangan sehingga diharapakan dapat meminimaliskan potensi pencemaran dampak negatif lingkungan. Pengelolaan sumberdaya mineral juga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi sektor lainnya, sehingga mempercepat laju pembangunan daerah disamping meminimalkan  potensi dampak lingkungan sehingga manfaat dari sumberdaya mineral dapat dioptimalkan . Oleh karenanya perlu menentukan arah kebijakan pengelolaan potensi sumberdaya mineral di Kabupaten Halmahera Utara yang berwawasan lingkungan. Kondisi eksisting di Kabupaten Halmahera Utara menunjukan hampir seluruh wilayah daratan merupakan kawasan kehutanan dengan persentase 87 %, sedangkan sisanya adalah areal penggunaan lain (APL). Selain itu dalam megeksploitasi potensi sumberdaya mineral juga berdampak terhadap kelautan dan spesies endemik serta pendapatan nelayan.  Arahan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan pertambangan emas diantaranya ialah membatasi luas bukaan sehingga ekosistem lokal terjaga yang menyebabkan spesies endemik berupa burung Bidadari dan Kakatua Putih tidak berkurang bahkan tidak punah, Pengelolaan air asam tambang dengan melakukan overburden management plan dan water management dan limbah pengolahan bijih perlu diproses dengan detoksifikasi. Arahan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan pertambangan Nikel diantaranya membatasi luas bukaan sehingga potensi erosi dapat berkurang, pengelolaan air dengan melakukan water management sehingga laut di desa Gonga Kecamatan Tobelo Timur tidak tercemar dan pengelolaan lahan bekas tambang. Arahan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan pertambangan Mangan diantaranya membatasi luas bukaan sehingga potensi erosi di Pulau Doi Kecamatan Loloda Kepulauan dan erosi di Kecamatan Loloda Utara serta Galela Utara dapat dikurangi, pengelolaan air dengan melakukan water management sehingga sungai Ake Pacak, Ake Supu dan Ake Mela dan laut di Kecamatan Loloda Utara, Galela Utara serta Loloda Kepulauan tidak tercemar, pengolahan tailing, pengelolaan tailing dapat dilakukan dengan lapisan air permanen, cladding dan capping dan pengelolaan lahan bekas tambang. Arahan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup kegiatan pertambangan pasir besi diantaranya pencegahan abrasi dengan dengan melakukan penanaman mangruve, budidaya terumbu karang dan pembuatan tanggul penahan ombak, penambahan atau penetapan daerah perlindungan dan penguatan status konservasi untuk melindungi spesies endemik burung momua di Kecamatan Galela Utara, membatasi perizinan eksploitasi pertambangan di sempadan pantai serta pemberdayaan masyarakat nelayan.Kata Kunci: APL, Halmahera Utara, pertambangan, water management, tailing

BIOCHAR DAN KOMPOS UNTUK PENINGKATAN SIFAT FISIKA TANAH DAN EFISIENSI PENGGUNAAN AIR

Safitri, Indah Nurul, Setiawati, Tri Candra, Bowo, Cahyoadi

TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 7, No 01 (2018): JURNAL TECHNO
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.646 KB)

Abstract

Biochar merupakan mineral amorf digunakan sebagai bahan pembenah tanah. Biochar dikombinasikan dengan kompos untuk memperbaiki sifat fisika tanah dengan indikator tanaman Jagung Manis. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Agustus 2017 di Agrotekhnopark Universitas Jember. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial 2x5 dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah kompos terdiri dari kontrol (K0) dan kompos 10 ton/ha (K1) dan faktor kedua adalah biochar terdiri dari kontrol (B0), biochar batang jagung 20 ton/ha (B1) dan 40 ton/ha (B2), biochar jerami padi 20 ton/ha (B3) dan 40 ton/ha (B4). Hasil penelitian menunjukkan pemberian kompos 10 ton/ha dan biochar batang jagung 40 ton/ha mampu menurunkan BV (26,5%), meningkatkan porositas (9,2%), meningkatkan pori air tersedia (61,9%). Pemberian biochar batang jagung 40 ton/ha meningkatkan berat basah (20,6%) dan berat kering tanaman (30,1%). Kombinasi perlakuan kompos (10 ton/ha) dan biochar jerami (40 ton/ha) mampu menurunkan kebutuhan air tanaman sebesar 34,4%. Pemberian biochar mampu mengefisiensi penggunaan air tanaman tertinggi sebesar 0,77 g/mm dibandingkan dengan kontrol sebesar 0,51 g/mm setiap tanaman. Kata kunci: Alfisol, biochar, kompos, efisiensi air, jagung manis

Sampah Rumah Tangga di Ternate

Bahtiar, Bahtiar, Ahmad, Zulkifli, Pobi, Wiyana

TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 7, No 01 (2018): JURNAL TECHNO
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.835 KB)

Abstract

Abstrak Jumlah penduduk Kota Ternate 212.997 jiwa, luas wilayah 111,39 km2 dengan kepadatan 1.865,42 jiwa/ km2. Apabila kita menggunaan pendekatan paradigma “sampah sebagai barang berguna” maka jumlah penduduk sebanyak itu menghasilkan volume sampah yang berpotensi untuk dimanfaatkan dan diolah kembali. Terkait kepentingan pengelolaan dan pemanfaatan sampah di Kota Ternate ke depan, maka kedudukan sampah merupakan sebuah potensi. Deskripsi potensi sampah harus diawali dengan pengenalan komposisi dan timbulan sampah yang ada, terutama sampah rumah tangga. Gambaran komposisi akan memberikan informasi tentang komponen yang terdapat dalam buangan padat beserta distribusinya. Timbulan sampah memberikan informasi banyaknya sampah rumah tangga yang dihasilkan. Data timbulan sampah juga diperlukan untuk desain sistem pengelolaan persampahan, seleksi jenis peralatan untuk transportasi sampah dan desain tempat pembuangan sampah. Kata Kunci:, komposisi sampah, rumah tangga, Kota Ternate  Abstract The population of Ternate City is 212,997 people, the area of 111.39 km2 with the density of 1,865.42 people/km2. If we use the paradigm approach of "waste as a useful item" then the amount of population as much as it produces the volume of waste that has the potential to be utilized and reprocessed. Related to the management and utilization of waste in Ternate City in the future, the position of waste is a potential. Description of potential waste should be started with the introduction of composition and waste generation, especially household waste. The composition description will provide information on the components contained in solid waste and its distribution. Waste generation provides information on the amount of household waste generated. Waste generation data is also required for the design of waste management systems, the selection of equipment types for waste transport and the design of landfills. Keywords: composition of waste, household, Ternate city

Penentuan Umur Simpan Ikan Roa Asap (Ikan Julung-Julung Asap) (Hemirhampus Sp) Menggunakan Metode ASLT (Accelerated Shelf Life Testing) Dengan Pendekatan Arrhenius

Harjan, Ismail

TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 7, No 01 (2018): JURNAL TECHNO
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.007 KB)

Abstract

Biochar merupakan mineral amorf digunakan sebagai bahan pembenah tanah. Biochar dikombinasikan dengan kompos untuk memperbaiki sifat fisika tanah dengan indikator tanaman Jagung Manis. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Agustus 2017 di Agrotekhnopark Universitas Jember. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial 2x5 dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah kompos terdiri dari kontrol (K0) dan kompos 10 ton/ha (K1) dan faktor kedua adalah biochar terdiri dari kontrol (B0), biochar batang jagung 20 ton/ha (B1) dan 40 ton/ha (B2), biochar jerami padi 20 ton/ha (B3) dan 40 ton/ha (B4). Hasil penelitian menunjukkan pemberian kompos 10 ton/ha dan biochar batang jagung 40 ton/ha mampu menurunkan BV (26,5%), meningkatkan porositas (9,2%), meningkatkan pori air tersedia (61,9%). Pemberian biochar batang jagung 40 ton/ha meningkatkan berat basah (20,6%) dan berat kering tanaman (30,1%). Kombinasi perlakuan kompos (10 ton/ha) dan biochar jerami (40 ton/ha) mampu menurunkan kebutuhan air tanaman sebesar 34,4%. Pemberian biochar mampu mengefisiensi penggunaan air tanaman tertinggi sebesar 0,77 g/mm dibandingkan dengan kontrol sebesar 0,51 g/mm setiap tanaman. Kata kunci: Alfisol, biochar, kompos, efisiensi air, jagung manis

ISOLASI KAPANG PENDEGRADASI HIDROCARBON DARI LIMBAH MINYAK BUMI PT OLLOP BULA

rijal, muhammad

TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 7, No 01 (2018): JURNAL TECHNO
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.862 KB)

Abstract

Tingginya aktivitas penambangan minyak lepas pantai mengakibatkan terjadinya pencemaran air oleh tumpahan minyak bumi mentah, sehingga berdampah terhadap kerusakan ekosistem. Secara alami tumpahan minya dilepas pantai dapat hilang oleh aktivitas mikroorganisme. Kapang merupakan salah satu mikroorganisme yang memiliki kemapuan dalam mendegradasi hydrocarbon. Hasil penelitian diperoleh 6 isolat kapang yang memiliki kemampuan dalam mendegradasi hydrocarbon. Isolat V memiliki kemauan yang lebih kuat dan isolat I memiliki kemampuan yang paling lemah dalam mendegradasi hydrocarbon.

Gambaran Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir di Sulawesi Selatan

Agus, Andi

TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 7, No 01 (2018): JURNAL TECHNO
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.732 KB)

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengamati gambaran kehidupan social ekonomi masyarakat pesisir di Kota Makassar, Daerah Galesong di Kabupaten Gowa dan Takalar serta Bira, Tana Beru dan Kajang, Kabupaten Bulukumba.  Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini merupakan metode penelitian deskriptif dengan melakukan kunjungan lapangan (field work) dan wawancara.  Benteng Somba Opu adalah peninggalan sejarah Kerajaan Gowa-Tallo di Kabupaten Gowa dan Benteng Fort Rotterdam atau Ujung Pandang sering juga disebut Benteng Pannyua berada di Kota Makassar, sementara di Balla Lompoa masih bisa ditemui benda-benda peninggalan sejarah atau pusaka Kerajaan ini jaman dulu.  Galesong adalah daerah yang secara administrasi tergabung dalam Kabupaten Gowa dan Takalar, penduduknya bermata pencaharian petani dan nelayan dan menjadi salah satu penyuplai bahan pangan di Kota Makassar dari jaman dulu sampai sekarang serta menggunakan bahasa Makassar dalam berkomunikasi sehari-hari.  Penduduk Bira, Ara dan Tana Baru serta Kajang menggunakan Bahasa Konjo, sub bahasa dari Makassar dengan pekerjaan utama melaut dan membuat serta melayarkan perahu pada penduduk Bira, Ara dan Tana Beru.  Penduduk Kajang terdiri dari Kajang Dalam dan Luar dimana Kajang dalam masih mempertahankan aturan adat yang diketuai oleh Ammatoa dibantu oleh beberapa tetua adat dengan bekerja sesuai dengan aturan adat, sementara Kajang Luar sudah beradaptasi dengan perubahan.  Pekerjaan mereka umumnya bertani dan menjadi nelayan. Kata Kunci : Ammatoa, Gowa-Tallo, Kajang, Makassar, Sosial Ekonomi Abstract The purpose of this research are to observe description of social economic of coastal community in Makassar Manucipality, Galesong Region in Gowa District and Takalar District and also Bira, Tana Beru and Kajang in Bulukumba District.  Research method using at this research is research method description with collecting data through field work and interviews.  Somba Opu Bastiong is inheritancing history of Gowa-Tallo Empire at the Gowa District while Fort Rotterdam or Ujung Pandang and also called Pannyua Bastiong is locating at Makassar Manucipality.  Balla Lompoa or Called Home Bigger is found history inheritance of this empower since several centuries ago.  Galesong is region as an administrative including to Gowa District and Takalar district which its inhabitants are working as a farmer and fishermen whom they are supplying food to Makassar from former times to present and using Makassarese to communicate daily.  Bira, Ara, Tana Beru and also Kajang use Konjo, sub language of Makassarese to communicate as a working go to the see and building or shilling ship.  Kajang inhabitants consisted of In Kajang and off Kajang whom In Kajang was still using custom and traditions rules of it who leader an ammatoa namely.  He assisted several the oldest person customs and traditions who worked according its rules while Off Kajang have been changing of adaptation.  They worked as a farmer and fishermen generally. Key Word : Ammatoa, Gowa-Tallo, Kajang, Makassar, Social Economy 

Kandungan Merkuri dan Asam Sianida Pada Kerang Polymesoda sp di Teluk Kao Halmahera Utara

Pertiwi, Reni Tyas asrining

TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 7, No 01 (2018): JURNAL TECHNO
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.377 KB)

Abstract

Kesehatan manusia sebagian besar ditentukkan oleh makanannya. Makanan yang disarankan harus memenuhi kebutuhan gizi, rendah akan mikroorganisme patogen, demikian juga dengan kontaminan kimia (Marti et al., 2007). Menurut Simangge, (2011) beberapa jenis ikan yang telah diteliti di Teluk Kao dalam tingkatan membahayakan karena mengandung sianida. Sumber protein lain yang telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar Teluk Kao yaitu kerang Kepah (Polymesoda sp). Tujuan penelitian ini yaitu ingin mengkaji kandungan merkuri dan asam sianida pada kerang kepah Polymesoda sp yang di konsumsi oleh masyarakat sekitar Teluk Kao. Dengan mengetahui hasil kajian ini diharapkan hal dapat mengartikan tingkat keamanan kerang kepah Polymesoda sp layak tidaknya untuk dikonsumi oleh manusia. Metode yang digunakan untuk mengetahui kandungan merkuri dalam kerang kepah Polymesoda sp yaitu AAS dengan menggunakan pereaksi aquaregia dan analisis kandungan asam sianida pada kerang dengan menggunakan metode argentometri dengan pereaksi AgNO3. Hasil yang didapatkan yaitu kandungan merkuri (1.24 – 3.49 mg/kg) dan asam sianida (14.55 – 24.11 mg/kg) pada Polymesoda sp di Teluk Kao telah melebihi ambang batas yang telah ditetapkan yaitu 0.5 mg/kg untuk merkuri dan 1.5 untuk sianida (WHO, 2004). Hal ini mengartikan bahwa kerang kepah Polymesoda sp di Teluk Kao tidak layak untuk dikonsumsi.Kata Kunci : Asam Sianida, Merkuri, Polymesoda sp

Pengaruh Ampas Tebu Terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Terong Hijau

Bustami, Yakobus

TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 7, No 01 (2018): JURNAL TECHNO
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.49 KB)

Abstract

Penelitian ini mempelajari pengaruh ampas tebu terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman terong hijau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ampas tebu terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman terong hijau. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian eksperimen. Rancangan dalam penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) setiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan. Data yang akan diukur tinggi tanaman, panjang daun, jumlah daun dan jumlah buah. Alat pengumpul data dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi dan dokumentasi berupa foto. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan inferensial. Analisis inferensial menggunakan uji anova dan dilanjutkan dengan uji Least Significanca Different (LSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ampas tebu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman terong hijau. Pertumbuhan tanaman terong hijau dengan pemberian ampas tebu menghasilkan rata-rata tinggi tanaman (27,8), panjang daun (20,77), jumlah daun (11 helai) dan jumlah buah (8 buah). Hasil ini diperkuat dengan analisis sidik ragam yaitu , dimana tinggi tanaman (33,38˃2,87), panjang daun (33,39˃2,87), jumlah daun (41,89˃2,87) dan jumlah buah (32˃2,87). Selanjutnya, Uji Least Significanca Different (LSD) menunjukkan bahwa ampas tebu perlakuan keempat (1500 gram) berpengaruh optimal terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman terong hijau.Kata Kunci: Ampas tebu, pertumbuhan, produktivitas, terong hijau

Hama pada Cabai Merah

Cahyono, Didi Budi, Ahmad, Hasna, Tolangara, A. R.

TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 6, No 02 (2017): Volume 06, Nomor 02, Tahun 2017, Techno Jurnal Penelitian
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.451 KB)

Abstract

AbstrakHama merupakan hewan yang merusak tanaman dan umumnya merugikan para petani dari segi ekonomi, maka manusia selalu akan memperhatikannya, guna meningkatkan hasil pertanian, jika tidak hasil panennya akan menurun. Adapun tujuan penelitian inim untuk mengetahui keanekaragaman jenis hama yang menyerang tanaman cabai merah. Metode penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, dengan menggunakan perhitungan indeks keanekaragaman jenis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jenis hama yang ditemukan pada tanaman cabe merah terdiri dari jenis  Locusta migratoria manilensis, Gryllus mitratus, Grylloptalpa africana, Lycosa sp, Spodoptera litura L., Mycus percicae, Planococus citri, Aulocophora sp,  Epilachna argus. Populasi hama tertinggi adalah ulat grayak (Spodoptera litura L.) dan jenis yang memiliki populasi terendah yaitu orong-orong (Grylloptalpa africana). Keankaregaman jenis hama pada tanaman cabe merah memiliki nilai keragaman sebesar H’ = 1,825, maka dikategorikan keanekaragaman jenis sedang.Kata kunci: Jenis hama, Tanaman Cabe, Keanekaragaman jenis AbstractPest is a destructive animal for plants and is generally harming the farmers in terms of economic aspect. Thus, people always put their attention to it in order to increase the produce otherwise the harvest will be decreased. The research aimed to find out the diversity of pest type attacking chili pepper crop. The research method was qualitative descriptive using the calculation of diversity index. The research result indicates that the types of pest found in chili pepper crop were: Locusta migratoria manilensis, Gryllus mitratus, Grylloptalpa africana, Lycosa sp, Spodoptera litura L., Mycus percicae, Planococus citri, Aulocophora sp, and Epilachna argus. The highest population was taro caterpillar (Spodoptera litura L.) and the lowest was mole cricket (Grylloptalpa Africana). The diversity of pest in chili pepper has diversity value of H’ = 1.825 and it categorized as medium diversity.Keywords: Type of pest, Chili pepper, Type diversity

Kerapatan Mangrove dan Konservasinya di Bacan Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara

Tolangara, Abdulrasyid, Ahmad, Hasna

TECHNO: JURNAL PENELITIAN Vol 6, No 02 (2017): Volume 06, Nomor 02, Tahun 2017, Techno Jurnal Penelitian
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.061 KB)

Abstract

AbstrakHutan mangrove merupakan perpaduan antara dua habitat yaitu terrestrial dan aquatik. Dalam perkembangannya ekosistem ini selalu mengalami kerusakan, ini terjadi kerena belum ada perhatian pemerintah untuk mencegahnya. Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, dengan  menggunakan model Point Centered Quarter dan pengambilan sampel dengan menggunakan garis transek serta plot hitung berukuran 10mx10m untuk pengamatan tingkat pohon. Mangrove yang diukur pada 2 kawasan yaitu kawasan mangrove alami (A) yang teridiri empat stasiun dan kawasan mangrove rehabilitasi (B) juga terdapat empat stasiun. Pohon yang dipilih adalah pohon yang paling dekat di setiap quarter. Data pengamatan kemudian dianalisis secara kuantitatif  berupa kerapatan jenis mangrove di setiap stasiun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan jenis mangrove  kawasan alami berada pada kategori jarang misalnya stasiun I pada jenis A. alba 512 individu/m2, stasiun II terdapat pada jenis S. alba  456 individu/m2 dan stasiun III pada jenis R. apiculata 326 individu/m2. Sedangkan pada kawasan rehabilitasi berada pada kategori padat hingga sedang, misalnya pada stasiun IV kategori padat yaitu jenis B. gymnorrhiza 3.400 individu/m2, stasiun I kategori padat jenis R. apiculata 2.100 individu/m2, dan stasiun II kategori padat  terdapat pada jenis jenis R. stylosa dan stasiun III kategori sedang terdapat pada jenis R. mucronata 1.324 individu/m2. Ini terjadi akibat aktifitas masyarakat yang selalu memanfaatkan potensi hutan tersebut, tanpa upaya konservasi, maka diperlukan upaya konservasi dengan model pengelolaan yang berbasis masyarakat (Community Based Management).Kata Kunci: Mangrove, Kerapatan, Konservasi, Bacan. AbstractMangrove forest is a combination of two habitats, terrestrial and aquatic. In its development, the ecosystem experiences damage due to the less attention from the government to prevent it. Therefore, information is needed to find out about the comparison of density between natural and rehabilitation areas. The research method used was quantitative descriptive using Point Centered Quarter model and sampling used was transect line with calculation plot in size of 10mx10m for observation of tree stage. Mangrove was measured in two areas, natural mangrove (A) and rehabilitation mangrove (B) both consisted of four stations. Trees chosen were the closest trees in each quarter. Observation data was analyzed quantitatively in form of the density of mangrove type in each station. The research result indicates that the density of mangrove type in natural area was in sparse category, such as in Station I for type of A. Alba the density was 512 individual/m2, Station II with type of S. alba was 456 individual/m2 and Station III in type of R. apiculata was 326 individual/m2. In rehabilitation area, on the other hand, was in dense to moderate category, such as the dense category in Station IV was for type of B. gymnorrhiza of 3,400 individual/m2, Station I was for type of R. apiculata of 2,100 individual/m2, and Station II was for R. stylosa. Whereas, for moderate category in Station III was in R. mucronata of 1,324 individual/m2. It was due to the activity of the community that utilized the forest potential without conservation effort. Therefore, a conservation effort is needed through community based management model.Keywords: Mangrove, Density, Conservation, Bacan