cover
Filter by Year
Articles
23
Articles
Pengembangan Soft Skills untuk Meningkatakan Kompetensi Kepribadian

Alfian, Alfian ( Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi )

Edu-Physics Vol 2 (2011)
Publisher : Edu-Physics

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1744.18 KB)

Abstract

Hard skill merupakan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Sedangkan soft skills adalah keterampilan seseorang dalam menghubungkan dengan orang lain (interpersonal skill) dan keterampilan mengatur hubungan dengan orang lain ( interpersonal skill) yang mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal. Soft skill merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap profesi, bukan hanya hard skill agar tidak terjadi kesenjangan antara dunia pendidikan tinggi dengan dunia kerja, dimana perguruan tinggi memandang lulusan yang mempunyai kompetensi tinggi adalah mereka yang lulus dengan nilai tinggi, sedangkan kompetensi tinggi di dunia kerja adalah mereka yang mempunyai teknis dan sikap yang baik. Kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hardskill), tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Keyword: Hard skill, soft skill

Life Skill Dalam Implementasi Otonomi Daerah di Bidang Pendidikan

alfian, alfian ( IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi )

Edu-Physics Vol 1 (2010)
Publisher : Edu-Physics

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1849.877 KB)

Abstract

Peningkatan muttu merupakan salah satu prioritas pembangunan di bidang pendidikan. Berbagai inovasi dan program pendidikan juga telah dilaksanakan. Namun demikian berbagai indicator menunjukkan bahwa mutu pendidikan masih belum meningkat secara signifikan. Untuk itu sangat diperlukannya pola pendidikan yang dengan sengaja dirancang untuk membekali peserta didik dengan kecakapan hidup, yang secara integrative memaduan kecakapan generic dan spesifik guna memecahkan dan mengatasi problema kehidupan. Secara umum pendidikan kecakapan hidup bertujuan memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi manusiawi peserta didik untuk menghadapi perannya dimasa dating. Dengan diberlakukannya Otonomi Daerah, maka daerah memiliki wewenang untuk mengurus rumah tangganya sendiri. Seiring dengan ini, maka dalam bidang pendidikan pun mengalami perubahan. Pendidikan pun memiliki otonomi tersendiri. Sekolah diberi wewenang pula untuk mengatur rumah tangganya sendiri secara lebih luas. Hal ini diharapkan, agar sekolah dapat berkembang lebih baik, dan menghasilkan output yang lebih berkualitas dan sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Keyword: Kecakapan hidup (life skill), pendidikan, otonomi daerah

Implementasi Model Pembelajaran Inkuiri dalam Pembelajaran Fisika untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Konsep Interferensi dan Difraksi Gelombang

Tanti, Tanti ( Fakultas Tarbiyah IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi )

Edu-Physics Vol 3 (2012)
Publisher : Edu-Physics

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.477 KB)

Abstract

Rendahnya kualitas pembelajaran fisika dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran yang kurang bervariasi, sedangkan kualitas produk pembelajaran fisika salah satunya dapat dilihat dari perolehan nilai ujian akhir nasional fisika SMU yang dari tahun ke tahun masih berkategori rendah. Pengemasan pembelajaran tidak sejalan dengan hakikat orang mengajar menurut kaum kontruktivis. Salah satu kemasan pembelajaran berbasis kontruktivis yang memberikan peluang kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri adalah model pembelajaran inkuiri. Penggunaan model pembelajaran inkuiri memberikan kebaikan-kebaikan antara lain meningkatkan potensi intelektual siswa, pengajaran menjadi lebih berpusat pada anak. Proses belajar inkuiri memberikan waktu pada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.

Evaluasi dan Supervisi Klinis

Nasrun, Nasrun ( Fakultas Tarbiyah IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi )

Edu-Physics Vol 3 (2012)
Publisher : Edu-Physics

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.627 KB)

Abstract

Bonafisitas sebuah lembaga pendidikan tentu memiliki kriteria-kriteria serta capaian atau target terukur yang harus dipenuhi oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan. Oleh sebab itulah, tidak boleh tidak, seorang kepala sekolah dan para guru memiliki peranan penting dalam mengontrol perkembangan dan kemajuan sekolah. Banyak hal yang dapat dilaksanakan dalam usaha peningkatan mutu sekolah, seperti misalnya merekayasa kurikulum, mendesain instruksional teori-teori, sampai kepada kegiatan evaluasi dan supervisi. Dalam penulisan karya ilmiah ini akan lebih difokuskan pada konteks evaluasi dan supervisi klinis sebagai upaya dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Tulisan ini akan memproduksi satu penawaran konstruki konsep evaluasi dan supervisi klinis yang komprehensif yang diharapkan dapat dijadikan satu acuan dalam melaksanakan kegiatan evaluasi dan supervisi di sekolah-sekolah, yang mana secara spesifik lagi tulisan ini bertujuan untuk menjawab bagaimanakah sebenarnya konsep evaluasi? Kemudian, bagaimanakah konsep evaluasi dalam pendidikan Islam? serta apakah sesungguhnya hakikat supervisi klinis tersebut? Akan tetapi adalah satu kenyatan bahwa proses evaluasi dan supervisi tentu saja tidak terlepas dari loyalitas kinerja seluruh pihak yang bertanggung jawab dalam lingkungan sekolah, yang dalam hal ini adalah para guru dan kepala sekolah.

Meningkatkan Aktivitas Belajar Fisika Melalui Penerapan Metode Bervariasi

Syefrinando, Boby ( Fakultas Tarbiyah IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi )

Edu-Physics Vol 3 (2012)
Publisher : Edu-Physics

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.608 KB)

Abstract

Untuk melihat peningkatan kualitas pembelajaran dapat ditandai dengan semakin meningkatnya hasil belajar yang dicapai siswa dalam proses pembelajaran. Tetapi, kenyataan yang dialami hasil belajar fisika sudah cukup tinggi, namun yang sering menjadi kendala adalah rendahnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Pada saat proses pembelajaran berlangsung diperkirakan siswa yang memperhatikan guru yang menerangkan materi pelajaran dan yang aktif mengikuti proses pembelajaran sekitar 25%, kegiatan siswa kebanyakan melirik ke kiri kanan, membuat coretan yang tidak perlu, mengobrol dengan teman sebangku, serta menunggu guru mencatatkan kesimpulan materi pelajaran. Jika kondisi seperti di atas dibiarkan, hal ini akan mengakibatkan pelajaran fisika semakin terasa sulit dan bisa menimbulkan “ketakutan” dikalangan siswa, lebih-lebih bagi siswa yang mempunyai potensi akademik menengah ke bawah. Untuk itu, agar pelajaran fisika lebih mudah dan disenangi di sekolah dilakukanlah beberapa metode, yaitu metode bervariasi yang tercakup di dalamnya metode ceramah interaktif, diskusi kelompok dan pemberian tugas. Dengan menggunakan metode bervariasi diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa dalam mata pelajaran fisika, dan meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar sehingga suasana kelas saat PBM menjadi lebih hidup.

Dampak Dipole Mode terhadap Angin Zonal

Gusmira, Eva ( Fakultas Tarbiyah IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi )

Edu-Physics Vol 3 (2012)
Publisher : Edu-Physics

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.613 KB)

Abstract

Dalam jurnal ini telah dilakukan analisis terhadap angin zonal di Sumatera Barat yang diakibatkan oleh fenomena Dipole Mode (DM) yang terdapat di Samudera Hindia. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui variabilitas iklim di Sumatera Barat khususnya angin zonal. Analisis yang dilakukan menggunakan metoda (i) korelasi silang antara indeks DM dengan angin zonal pada tahun DM, (ii) analisis komposit anomali Suhu Permukaan Laut (SPL) dan vektor angin di Sumatera Barat dan Samudera Hindia untuk tahun DM(+) serta DM(-). Secara umum didapatkan bahwa fenomena DM berpengaruh kuat terhadap curah hujan di Sumatera Barat yaitu : korelasi DM terhadap angin zonal di Sumatera Barat hanya terlihat pada angin permukaan, saat DM(+) angin permukaan bergerak timuran dengan kecepatan maksimum 3 m/s. Sebaliknya saat DM(-) bergerak baratan dengan kecepatan maksimum 1 m/s. Hal ini tidak terlihat pada angin atas (200 mb).

Peningkatan Hasil Belajar IPA Siswa Melalui Penerapan Metode Inquiry

Alfian, Alfian ( Fakultas Tarbiyah IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi )

Edu-Physics Vol 3 (2012)
Publisher : Edu-Physics

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.036 KB)

Abstract

Rendahnya hasil belajar tersebut diduga akibat kurang aktifnya siswa dalam kegiatan pembelajaran, hal ini disebabkan karena guru masih menggunakan metode ceramah yang masih monoton. Dalam pembelajaran IPA, metode ceramah kurang tepat digunakan karena konsep-konsep alam tidak bisa dipahami hanya dari mendengarkan penjelasan guru melalui metode ceramah. Dengan adanya semangat belajar di harapkan dapat timbul kebebasan dan kebiasaan pada siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dengan penuh inisiatif dan kreatif dalam pekerjaannya. Salah satu metode yang tepat untuk digunakan adalah metode inquiry. Metoda ini terlaksana dimana kelompok siswa dibawa ke dalam suatu persoalan atau mencari jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan di dalam suatu prosedur/struktur kelompok yang digariskan secara jelas. Inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, seperti merumuskan masalah, merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisa data, menarik kesimpulan. Pada metode inquiry dapat ditumbuhkan sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, dan sebagainya. Akhirnya dapat mencapai kesimpulan yang disetujui secara bersama.

Pendidikan dalam Pemikiran Muhammad Abduh

El Widdah, Minnah ( Fakultas Tarbiyah IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi )

Edu-Physics Vol 3 (2012)
Publisher : Edu-Physics

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.057 KB)

Abstract

Muhammad Abduh seorang modernis Islam Mesir, telah berusaha mengupayakan pembaharuan dalam Islam, khususnya dalam bidang pendidikan. Ia berpandangan bahwa pendidikan merupakan jalan strategis dalam menyampaikan misi dakwah islamiyah dan sekaligus menjadi media yang efektif dalam menyampaikan ide-ide pembaharuannya kepada umat. Tulisan ini mencoba mengungkap dan menganalisis ideide pembaharu Muhammad Abduh tentang pendidikan Islam yang diushakannya dalam konteks tiga periodesasi kehidupan yang dijalaninya seperti disinggung di atas, sehingga semakin menampakkan ide-ide dan perkembangan pemikirannya.

Pembuatan Sound Level Meter Berbasis Mikrokontroler At89s51 untuk Media Praktek Pembelajaran Fisika Eksperimen

Wirman, Rahmi Putri ( Fakultas Tarbiyah IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi )

Edu-Physics Vol 3 (2012)
Publisher : Edu-Physics

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.147 KB)

Abstract

Alat eksprimen sederhana yang digunakan untuk mengukur tingkat kebisingan yang diukur dalam skala desibel (dB) bisa digunakan sebagai media praktek pembelajaran fisika eksperimen. Sound level meter berbasis mikrokontroler merupakan salah satu bentuk aplikasi mikrokontroler AT89S51. Sinyal suara yang dihasilkan oleh mikrofon dikuatkan oleh penguat operasional (operational amplifier, op-amp) sebesar 471 kali. Sinyal analog ini kemudian dikonversikan dengan menggunakan ADC0804 menjadi sinyal digital. Sinyal tegangan digital merupakan masukan bagi mikrokontroller. Intensitas bunyi yang diperoleh ditampilkan pada seven-segment. Program sistem pengukuran ini ditulis dalam bahasa Assembly dan dibuat dengan menggunakan Mide-51. Untuk memasukkan program ke mikrokontroler AT89S51 digunakan AEC-ISP. Dari hasil pengujian alat yang telah dilakukan, diperoleh kesalahan relatif maksimum pengukuran sebesar 2,4 %. Rentang intensitas bunyi yang dapat diukur alat ini antara 35 dB hingga 105 dB.

Proses Kependidikan yang Bermakna sebagai Proses Pembudayaan Kemampuan, Nilai dan Sikap

Risnita, Risnita ( Fakultas Tarbiyah IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi )

Edu-Physics Vol 3 (2012)
Publisher : Edu-Physics

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.916 KB)

Abstract

Sistem pendidikan diharapkan menghasilkan manusia terdidik yang dewasa secara intelektual, memiliki kematangan pribadi, kematangan moral dan karakter. Pembentukan karakter, nilai dan sikap ditentukan oleh pendidikan di keluarga (nilai warisan budaya, agama, tradisi dan nilai-nilai moral), pendidikan di sekolah dan pendidikan di masyarakat. Proses pembudayaan berbagai kemampuan nilai, dan sikap hanya dapat berlangsung melalui proses pembelajaran yang bermakna sebagai proses pembudayaan. Proses kependidikan menjadi bermakna, pemilihan bahan ajar harus dilakukan secara ketat, agar dapat mempelajari sesuatu sampai tingkatan memahami makna yang dipelajari bagi kehidupan.