cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
ADDIN
ISSN : 08540594     EISSN : -     DOI : -
ADDIN is an international journal published by Research Center of State Institute for Islamic Studies (IAIN) Kudus, Central Java, Indonesia. ADDIN is an academic journal published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 1 (2010)" : 11 Documents clear
Memartabatkan Generasi Berbekal Kebudayaan Dan Pendidikan Rosyid, Mohammad
ADDIN Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah keprihatinan bahwa generasi terdidik jika tidak cerdas dan tidak santun terhadap diri dan lingkungannya, atau cerdas etapi tidak santun atau tidak cerdas tetapi santun, benar-benar enyesakkan dada lingkungannya. Sebagai contoh, setiap lulus jian, berpawai mengganggu kenyamanan pengguna jalan dengan norak, mencorat-coret pakaiannya sebagai ekspresi lulus, dan bagi yang tidak lulus, menangis berlebihan bahkan sebagian darinya bunuh diri dijadikan jalan pintas. Disusul, selama masih aktif menjadi peserta didik, tawuran antarpelajar atau antarmahasiswa bahkan demo yang tidak jelas substansinya atau demo pesanan menjadi kelaziman. Yang lebih menyeramkan lagi, uang SPP ditukar dengan pulsa, lebih fatal lagi untuk membeli narkoba, sebagai gaya masa kini yang tidak islami dan tidak indonesianis, meskipun mengibuli orangtua yang susah payah membiayai pendidikannya. Di tengah banyak kalangan yang ingin melanjutkan studi, tetapi karena benturan ekonomi pendidikan hanya (sebatas) angan-angan yang terpendam dalam benaknya. Sisi lain, imbas pola konsumsi global, didorong gaya hidup konsumeris dan kimiawi sentris. Semua itu pada dasarnya mengumbar nafsu ankara murka yang memprihatinkan, mengapa? Berpijak dari ungkapan, jika tak terdidik akan merusak negara, mereka berpikir seribu pikir karena tidak mampu. Tetapi, bagi generasi yang terdidik, merobohkan negara, butuh waktu kilat, karena berbekal strategi, kepicikan, danketidakarifannya. Berawal dari keprihatinan itulah, perlunya ’suntikan’ pengetahuan tentang budaya adiluhung yang telah disulam leluhur kita untuk dijadikan fondasi ideal menjadi generasi yang santun dan cerdas. Karena tidak ada jaminan bahwa mereka yang semula santun (hanya) karena bergabung dengan setitik komunitas yang norak, lambat atau cepat mewarnai karakter, apalagi karakter jelek lebih mudah menular.
Relasi Agama dan Budaya lokal (Upacara Yaqowiyu Masyarakat Jatinom) Amaliyah, Efa Ida
ADDIN Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perayaan Yaqowiyyu di Desa Jatinom sudah menjadi ritual yang dilaksanakan setiap Hari Jum’at minggu kedua di Bulan Safar penanggalan Jawa. Ritual Yaqowiyyu berupa penyebaran kue apem (diambil dari bahasa Arab, afwan=maaf) yang pertama kali dilakukan oleh Ki Ageng Gribig pada abad XV. Ritual tersebut berlangsung hingga saat ini sebagai ungkapan penghormatan terhadap Ki Ageng Gribig berupa menyebar kue apem ke halayak ramai yang sudah menunggu di lapangan yang sudah disediakan. Mereka dating tidak hanya dari wilayah Jatinom, tetapi juga dai luar daerah dengan membawa harapan akan mendapatkan apem tersebut sebagai bentuk keberkahan. Penelitian ini secara khusus membahas tentang makna dari semua unsure yang ada dalam ritual tersebut, seperti pengunjung, pedagang, dan masyarakat sekitar Desa Jatinom. Selain itu juga masuknya modernitas yang tidak bisa terelakkan lagi. Untuk mengetahui bahasan tersebut, maka pendekatan penelitian ini adalah pendekatan fungsionalis. Pendekatan fungsionalis mengadaikan bahwa suatu masyarakat dipandang sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerjasama secara terorganisasi, yang bekerja dalam suatu cara yang relatif teratur menurut seperangkat aturan dan nilai yang dianut oleh sebagian masyarakat tertentu. Sebuah perilaku atau tindakan social akan bisa dibenarkan karena hal tersebut dalam masyarakat dinilai sebagai fungsional. Makna yang muncul sangat beraneka ragam tergantung harapan dari mereka yang dating di ritual tersebut. Makna keberkahan adalah yang paling dominan. Mereka percaya bahwa dengan mendapatkan kue apem dari lemparan panitia, hajat-hajat yang mereka inginkan akan cepat terkabul. Sebagai contoh, bagi petani berharap panennya akan melimpah dengan menyebarkan apem hasil tangkapan di Yaqowiyyu ke sawah mereka. Begitu juga yang menghendaki adanya jodoh, berhasil dan sukses dalam pekerjaannya, serta usahanya yang lancar. Salah satu yang mereka lakukan dengan apem tersebut menyimpannya di tempat-tempat yang dianggap bisa aman, seperti lemari dan di bawah tempat tidur. Makna lain didapat oleh para pedagang dadakan, tukang parkir, dan masyarakat sekitar karena kedatangan keluarga jauh mereka. Dengan adanya antusiasisme dari kalangan masyarakat, maka pemerintah setempat mengapresiasi untuk keberlangsungan atau melanggengkan ritual tersebut. Salah satunya dengan mengandeng perusahaan rokok sebagai sponsor tunggal. Karenanya tidak salah kalau ritual Yaqowiyyu dijadikan sebagai wisata religi yang ada di Kabupaten Klaten. Sehingga, unsure-unsur modernitas yang diwakili oleh pemerintah dan perusahaan rokok mendukung untuk melestarikan ritual yang dilakukan oleh pendirinya yaitu Ki Ageng Gribig sebagai bentuk kearifan local bagi masyarakat yang mempercayainya.
Mengenal Pendidikan Multikultural Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Dengan Model Inklusi Dalam Pendidikan Islam *, Sulthon
ADDIN Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan adalah hak semua warga Negara tanpa memandang setatus social, ras , etnis, suku, bangsa termasuk anak yang menyandang kecacatan. Dengan demikian anak berkelaianan juga memiliki hak yang sama dengan anak pada umumnya dalam kesempatan berpendidikan yang layak, sesuai dan bermartabat. Semua yang menyangkut aturan undang-undang sudah jelas dan terakomodir keberadaannya, namun dari segi pelaksanaannya masih banyak yang menyimpang dari aturan yang sesungguhnya. Pada kenyataanya anak berkelainan belum bisa mengikuti pendidikan yang leluasa karena tidak semua sekolah yang ada bisa melayaninya karena alasan-alasan klasik yang merugikan anak berkelainan. Sekolah yang memberikan pendidikan bagi anak ini masih bersifat apresiatif dan ironis sehingga perlu perjuangan yang berat menuju pendidikan yang benar-benar demokratis. Secara ideal dengan pendidikan yang terintegrasi berarti anak berkelainan dapat dilayani disekolah manapun mereka inginkan, termasuk memilih sekolah di madrasah. Karena madrasah akan menjadi pilihan bagi mereka karena baik orang tua maupun siswa anak berkelainan ini membutuhkan sentuhan-sentuhan yang berkenaan dengan penyadaran, keimanan, dan keikhasan. Pendekatan keagamaan secara fitrah menjadi bagian yang sangat berpengaruh dalam setiap kondisi dan situasi yang dihadapi manusia, karena pada hakekatnya manusia itu akan selalu menyatu dengan Tuhannya melalui pengembangan spiritualitasnya. Berbagai problem yang dihadapi anak berkelainan dan juga orang tuanya akibat kecacatan yang dideritanya menyebabkan timbulnya berbagai macam masalah yang mengirinya termasuk kesulitan belajar, bersosialisasi, dan kesulitan lain yang berkaitan dengan problem psikologis, yang kesemuanya dibutuhkan kekuatan dalam menghadapinya. Kata Kunci : Pendidikan, Multikultural, Inklusi, dan Islam
Study Al-Quran : Perspektif Muhammad Arkoun Itmam, Muhammad Shohibul
ADDIN Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Merupakan fakta umum bahwa orang- orang yang sezaman dengan nabi Muhammad banyak dibentuk dan ditaklukkan oleh bentuk tunggal dimana firman Allah disampaikan oleh Muhammad. Muhammad menjadi figur sentral rujukan terhadap semua masalah yang dihadapi manusia saat itu dengan menjelaskan al- Qur’an sebagai sumber utama yang merupakan bahasa umat saat itu. Sejalan dengan perkembangan dan tuntutan fenomena kehidupan, dewasa ini terjadi korelasi yang kohesif anatara ilmu dan penelitian sehingga keduanya tidak mungkin mampu dipisahkan. Kajian al-Qur’an yang sangat panjang dan luas dalam perkembangkannya bisa dikelompokkan dalam tiga dekade, kodifikasi teks, penerjemahan teks dan dekade upaya umat Islam dalam memahami teks tersebut. Dalam tiga dekade tersebut, Arkoun memposisikan diri pada kajian yang pertama dengan menguak proses pewahyuan al-Qur’an dari dzat maha absolut, Allah SWT kepada manusia yang serba terbatas dengan penjelasan teori ilmiah. Arkoun adalah seorang ilmuan, pemikir Islam yang sangat terkenal yang dilahirkan di negara Aljazair yang dilanjutkan pengembangan intlektual dan karirnya di negara Perancis. Pemikirannya yang cemerlang mengkombinasikan antara konsep- konsep filsafat dan teori ilmiah moderen termasuk kritiknya yang sangat tajam terhadap fenomena pewahyuan al-Qur’an. Gagasannya menjadikan al-Quran terbukti secara ilmiah dengan istilah “Nalar Islami dan Nalar Moderen”, yang mampu menyatukan fenomena global dengan peradaban Islam. Tulisan ini akan membahas pemikiran Arkoun, yang dilanjutkan dengan produk pemikirannya tentang pewahyuan al-Qur’an sampai menjadi kitab yang tertutup (Official Clossed Corpus). Kata Kunci: Study, al- Qur’an, Muh. Arqoun.
Tipologi Tasawuf Falsafi Mufid, Fathul
ADDIN Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ada dua bentuk tasawuf atau mistisisme dalam Islam, yaitu bercorak religius dan bercorak filosofis. Tasawuf yang bercorak religius adalah semacam gejala yang sama dalam semua agama, baik agama-agama langit atau agama purba. Sedangkan tasawuf yang bercorak filosofis, sejak lama telah dikenal di Timur sebagai warisan filsafat Yunani, maupun di Eropa abad pertengahan ataupun modern. Tasawuf religius adakalanya berpadu dengan tasawuf filosofis, seperti yang dapat kita lihat dalam beberapa sufi muslim maupun mistikus Kristen. Oleh sebab itu, pada diri seorang filosof terjadinya kecenderungan intelektual dan mistik secara terpadu sudah merupakan sesuatu yang tidak asing. Perpaduan antara dua bentuk tasawuf inilah yang menjadi embrio lahirnya ”tasawuf falsafi” dalam sufisme. Tasawuf falsafi adalah pemaduan antara visi mistis dengan visi rasional atau perpaduan antara tasawuf dengan filsafat, sehingga ajaran-ajarannya bercampur dengan unsur-unsur dari luar Islam, seperti filsafat Yunani, Persi, India, dan agama Nasrani. Akan tetapi orisinalitasnya sebagai tasawuf tetap tidak hilang, karena para tokohnya meskipun mempunyai latar belakang kebudayaan dan pengetahuan yang berbeda dan beraneka, sejalan dengan ekspansi Islam pada waktu itu, tetap menjaga kemandirian ajaran aliran mereka, terutama bila dikaitkan dengan kedudukan mereka sebagai umat Islam. Para sufi falsafi memandang bahwa manusia mampu naik ke jenjang persatuan dengan Tuhan, yang kemudian melahirkan konsep mistik semi-filosofis ”ittihad” dan ”fana’baqa’” yang dibangun oleh Abu Yazid al-Busthami, konsep ”hulul” yang dialami oleh Husein bin Mansur al-Hallaj, maupun konsep tasawufnya Ibn ’Arabi yang dikenal dengan ”wahdat al-wujud”, konsep ”isyraqiyah” yang dirumuskan oleh Suhrawardi almaqtul, al-hikmah al-muta’aliyah yang digagas oleh Mulla Shadra, dan lain sebaginya.
Fikih Lingkungan (Sebuah Kajian Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis) Supena, Ilyas
ADDIN Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini didasari oleh fenomene krisis lingkungan yang berpotensi menimbulkan bencana alam yang dapat mengancam kehidupan manusia. ada tiga faktor yang menyebabkan krisis ini; yakni permasalahna fundamental-filosofis, permasalahan politik ekonomi global dan permasalahan pemahaman keagamaan. Berkaitan degan faktor yang ketiga, dikalangan umat islam masih berkembang sebuah pemahaman bahwa fikih hanya berurusan dengan persoalan ibadah mahdlah. Akibatnya, fikih yang berhubungan dengan fenomena sosial, seperti fikih lingkungan masih terabaikan. Padahal dalam konteks krisis ekologi saat ini, fikih lingkungan menjadi sangat urgen. Dengan fikih lingkungan, dunia islam diharapkan dapat memberikan konstribusi dalam membangun dunia dan peradaban kemanusiaan yang harmonis dengan lingkungan. Dalam sudut pandang filsafat ilmu, fikih lingkungan ini dapat dijelaskan melalui aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Secara ontologis,fikih lingkungan (fiqh al-biah) dibangun atas landasan teologis yang memandang Tuhan, manusia dan alam sebagai aspek yang memiliki hubungan yang bersifat integratif. Dalam hubungn ini, manusia dan alam sama-sama menempati posisi yang sejajar. Dalam hal ini manusia sebagai khalifah diberi hak untuk mengelola alam, tetapi pada saat yang sama Allah memerintahkan manusia untuk memelihara keseimbangan alam dengan sebaik-baiknya. Secara epistemologis, fikih lingkungan dibangun atas dasae konsep mashlaha. Konsep ini pada mulanya dijadikan dasar bagi para al-Syathibi untuk merumuskan konsep maqasid al-syariah yang akan menjadikan landasan dalam menetapkan hukum islam. Menurut al-Syathibi, hakikat atau tujuan awal pemberlakuan syariah adalah mewujudkan dan memelihara lima unsur pokok; agama (al-din), jiwa (al-nafs), keluarga (al-nasl), akal (al-aql), dan harta (al-mal) yang sering disebut dengan al-kulliyat al-khamsah. Fazlur Rahman kemudian meringkasnya dalam konsep monoteisme dan keadilan sosial. Meskipun al-Syathibi dan Rahman sama-sama tidak menyinggung hifdz al-alam (memelihara lingkungan) sebagai bagian dari maqasyid al-syariah, namun terdapat beberapa penjelasan Al-Quran maupun hadis yang menerangkan mengenai urgensitas pemeliharaan alam. Karena itu hifdz al-alam (memelihara lingkungan) dapat dijadikan sebagai madiator utama bagi terlaksananya al-kulliyat al-khamsah tersebut. Sementara itu, secara aksiologis. fikih lingkungan berisi norma-norma yang mengatur dan mengontrol pemeliharaan alam semesta melalui dua instrumen; yakni hala dan haram. Konsep halal dan haram sebagaimana digagas fikih lingkungan ini dibangun atas dasar konsep tauhid, khilafah dan amanah serta prinsip keadilan, keseimbangan, keselarasan, dan kemaslahatan umat, sehingga kerangka etika lingkungan dalam perspektif islam dapat disusun secara lengkap dan komprehensif. Kata kunci : Ontologis, Epistemologis, Aksiologis maslahah dan hifdz al-alam
Konsep Pendidikan Multikultral Dalam Islam Mustaqim, Muhamad
ADDIN Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keragaman adalah suatu keniscayaan yang tak terbantahkan. Namun sejarah telah mencatat bahwa berbagai konflik sosial antar umat manusia seringkali muncul atas dasar perbedaan tersebut. Pendidikan adalah wahana untuk mampu membekali manusia menjadi manusia yang beradab dan sempurna. Melalui pendidikan multikultural, diharapkan akan mampu membekali manusia untuk bersikap inklusif dan toleran. Sadar bahwa perbedaan adalah anugrah dan hazanah keragaman yang menuntut kita untuk saling menghargai dan menghormati. Sehingga misi risalah islam sebagai rahmat bagi semesta alam akan dapat terwujud. Kata kunci: pendidikan, multikultural, Islam
Menggagas Prinsi Primordial Religion Dalam Memanifestasikan Perenialisme Ajaran Islam
ADDIN Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inti dari pandangan perenialisme adalah bahwa pada hakekatnya terdapat kebenaran dalam seluruh agama. Hakekat inilah yang disebut dengan “inner metaphysical truth of religion” (kebenaran metafisis batiniah agama) di dalam kamus peristilahan Islam disebut al-Din al-hanif—primordial religion—. Kebenaran primordial ini selalu hadir sepanjang sejarah, berlaku abadi. Dengan kata lain, terdapat persatuan prinsip hakikat keilahian sebelum terjadinya keragaman. Doktrin al-Tauhid dalam Islam memberikan sumbangan besar kepada pemersatuan umat karena wahyu sendiri mengutamakan integrasi atau keterpaduan. Tuhan adalah Satu dan begitulah manusia, yang dicipta menurut ‘GambaranNya’, harus berpadu dan menyatu. Tujuan kehidupan beragama dan kerohanian, haruslah membangun visi keterpaduan yang sempurna dan menyeluruh dalam diri manusia dengan segala kedalaman dan keluasannya. Berkaitan dengan dimensi perenial, dapat dicermati bahwa cita-cita Islam dengan konsep al-Tauhid membawa manusia, dalam pluralitasnya yang telah jauh dari dimensi ruhaniah Tuhan, untuk kembali mengajak mereka kembali kepada pusat hidupnya yaitu Tuhan. Kedamaian adalah buah dari keseimbangan dan keselarasan yang hanya mungkin dicapai melalui keterpaduan dengan mengamalkan al-Tauhid. Bertoleransi dalam segala perbedaan sebagai hukum Tuhan (sunnatullah) adalah ajakan yang senantiasa disuarakan oleh semua agama. Implikasi sosial dimensi perenial dalam Islam mengajak segenap kaum Muslim untuk kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits sebagai akar pokok berdirinya suatu tradisi. Kata Kunci : Perenialisme, perenial, primordial religion, tauhid, sufisme
Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pasal 1467 KUH Perdata Tentang Larangan Jual Beli Antara Suami Istri *, Santoso
ADDIN Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Syari’at Islam yang bersifat universal dan abadi itu memiliki hukum-hukum dan undang-undang yang diperlukan manusia, guna mengatur segala urusan kehidupan manusia. Sebagai ajaran universal, ia dapat seirama dengan pergolakan hidup manusia dan terus dapat menyertai kehidupan, sehingga intisari dari syari’at Islam, termasuk di dalamnya hukum Islam, adalah untuk memelihara manusia dan kemuliaannya serta menjauhkan segala yang menyebabkan terganggunya kemuliaan manusia (Taufik Adnan Amal, 1989: 33). Syari’at Islam tersebut bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Sumber dari yang maha mengetahui dari yang sudah, sedang dan akan terjadi, sehingga wajar kalau Al-Qur’an dalam sejarah pemikiran hukum Islam selalu dipandang sebagai kitab suci yang berisi perundang-undangan (Taufik Adnan Amal, 1990: 24). Dari syari’at tadi kemudian diformulasikan hukum Islam. Menurut Prof. Hasby Ash-Shiddieqy, hukum Islam merupakan kumpulan aturan keagamaan yang mengatur perilaku kehidupan kaum muslimin dalam keseluruhan aspeknya, baik yang bersifat individual maupun kolektif. Karena karakteristik yang serba mencakup ini hukum Islam menempati posisi penting dalam pandangan umat Islam (Hasby Ash-Shiddieqy, 1975:160). Al-Qur’an sebagai sumber perundang-undangan, sebagian besar adalah berisikan tentang muamalah hukum yang mengatur tentang hubungan antara sesama manusia dan termasuk di dalamnya tentang jual beli. Kata jual beli sebenarnya mengandung satu pengertian yang dalam bahasa arab dinamakan dengan al-bai’ yang bentuk jamaknya al-buyu’ dan konjungsinya yang artinya menjual (Muhammad Idris alMarbawy hlm:72). Dalam bahasa Indonesia, kata jual beli memiliki dua makna secara berpisah, namun dapat memiliki makna yang utuh yaitu : berdagang, berniaga, menjual dan membeli barang-barang (W.J.S. Poerwadarminta, 1984: 423).Dengan demikian, kata jual beli itu dapat di pisah satu-satu dan memiliki satu makna, dan di sisi lain dapat berkumpul dan memiliki makna yang berbeda. Secara istilah, jual-beli seperti dikemukakan oleh Imam Taqiyuddin adalah sebagai berikut yang artinya : Menyerahkan harta dengan harta dua penyerahan itu untuk pembelanjaan dengan ijab dan qabul, atas dasar keizinannya. Sedangkan dalam Kitab Undang-undang Hukum (KUH) Perdata, jual beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu benda dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah di janjikan (R. Subekti, 1989: 366). Adapun dasar yang paling jelas yang terdapat dalam al-Qur’an (QS. Al-Bagarah : 275). adalah Artinya : “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. Dengan demikian secara umum jual beli itu memang dihalalkan oleh Allah SWT,apabila jual beli itu telah memenuhi syarat dan rukunnya. Demikian juga kaitannya dengan jual beli antara suami istri. Dalam hukum Islam pun harta yang diperoleh selama perkawinan, termasuk dalam pengertian harta bersama.
Menggagas Kitab Kuning Yang Memberdayakan Perempuan
ADDIN Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nama kitab kuning cukup akrab di kalangan pesantren. Kitab kuning adalah kitab yang berisi ilmu-ilmu agama Islam secara universal, mulai tafsir, hadits, fiqh, ushul fiqh,tauhid, nahwu, shorof, balaghoh, akhlaq, tasawuf, ijtimaiyah, dll yang warna kertasnya biasanya kuning. Warna tidak menjadi ukuran, yang penting isinya. Apalagi di zaman modern sekarang ini, warna favorit justru bukan kuning, tapi putih. Seumpama kitab Matan Taqrib dicetak dengan kertas putih, Bulughul Marom dicetak dengan kertas putih, dan kitab-kitab yang lain dicetak dengan warna putih, tidak lantas status kitab kuningnya hilang. Warna hanya wasilah (perantara), yang penting isinya. Dicetak dengan warna apapun, kalau isinya sama namanya tetap kitab kuning. Menurut hasil penelitian L.W.C. Van Den Berg (1886), kitab kuning yang ada di pesantren Jawa dan Madura terdapat sekitar 54 judul, terdiri dari kitab matan, syarah, dan hasyiyah. Perinciannya : fiqh ibadah ada 7 judul, fiqh umum ada 11 judul, tata bahasa arab ada 15 judul, ushuluddin ada 9 judul, tasawuf ada 7 judul, tafsir, hadits dan aurad ada 5 judul. Tetapi pada akhir abad ke-20, Martin van Bruinessen melaporkan bahwa kitab kuning yang beredar di daerah ini dan sekitarnya telah mencapai 900 judul. Yang menarik adalah, kitab-kitab kuning yang dulu dinilai riskan oleh para kiai semacam kitab-kitab Ibnu Taimiyah, Tafsir al-Kasysyaf, karya-karya ulama diluar madzhab Syafii seperti Tafsir alQurthubi, Subulus Salam, Hasiyah Jamul Jawami dan lainnya justru sekarang mulai dimiliki oleh beberapa kiai pengasuh pesantren.

Page 1 of 2 | Total Record : 11