cover
Filter by Year
Jurnal Religia
Articles
67
Articles
Epistemologi Anarkisme Paul Feyerabend dalam Studi Ilmu Tafsir al-Quran

Fadal, Kurdi

RELIGIA Vol 18, No 1: April 2015
Publisher : STAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.026 KB)

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang epistemologi anarkisme Paul Feyerabend dalam studi tafsir al-Quran. Selama ini studi tafsir al-Quran telah berkembang sangat pesat sejak periode formatif, afirmatif hingga transformatif. Berbagai metode dan pendekatan telah lahir mengiringi. Perkembangan itu menunjukkan bahwa studi tafsir berjalan secara dinamis. Namun, sebagian menilai tafsir al-Quran telah selesai pasca generasi ketiga dalam Islam. Melalui prinsip Anything Goes yang digagas Feyerabend, metode dan pendekatan apapun yang ditawarkan untuk menafsirkan al-Quran dapat berjalan dan "berkontestasi" secara terbuka. Satu sisi, hal ini sangat positif bagi perkembangan ilmu tafsir dalam konteks kemajuan zaman. Namun di sisi lain, anarkisme dalam bidang ini dapat menimbulkan tafsir liar yang melahirkan problem bagi kemajuan peradaban, seperti lahirnya terorisme dalam Islam yang sering disandarkan pada ayat-ayat al-Quran sebagai sumber justifikasinya.

Kualitas Hadits dalam Kitab Tafsir Tanwir al-Miqbas Min Tafsir Ibni Abbas (Kritik Sanad Hadits)

RELIGIA Vol 18, No 1: April 2015
Publisher : STAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.242 KB)

Abstract

Penafsiran al-Qur`an mempunyai ragam corak, antara lain tafsir bil Ma’tsur dan tafsir bil Ra’yi. Tafsir bil Ma’tsur masih diyakini oleh sementara kalangan sebagai tafsir yang cenderung lebih dapat dipercaya walaupun dianggap “konservatif”. Tafsir ini bersumber dari periwayatan, baik yang bersumber dari Nabi SAW maupun sahabat. Tafsir sahabat seringkali dipermasalahkan apakah tafsir tersebut bisa disebut dengan tafsir bil ma’tsur atau tidak. Hal ini disebabkan penafsiran tersebut merupakan ijtihad. Selain itu, riwayatriwayat yang terdapat di dalam tafsir bil ma’tsur tidak semua dapat dipertanggung jawabkan otentitasnya. Di antara kitab tafsir bercorak demikian adalah Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibni Abbas. Kitab ini disandarkan kepada Muhammad bin Ya’qub bin Muhammad bin Ibrahim as-Syairazi al-Fairuzabadi. Kitab tafsir ini merupakan kitab tafsir al-Qur`an yang menggunakan manhaj tafsir tahlili (tafsir ayat per ayat) dengan mendasarkan kepada jalur periwayatan tunggal yang berujung kepada Abdullah bin Abbas RA (sebagai sumber penafsiran). Otentitas terhadap periwayatan baik terhadap riwayat-riwayat yang terkait dengan penafsiran maupun hadits sangat penting dilakukan. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui kualitas periwayatan, sehingga dapat ditentukan apakah riwayat tersebut valid ataukah tidak. Dalam penelitian ini, akan dilakukan telaah terhadap hal-hal yang terkait dengan jalur periwayatan tafsir Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibni Abbas, tentang penilaian terhadap sanad perawinya, perbandingan penafsiran Abdullah bin Abbas dalam kitab tafsir ini dan kitab tafsir Ibnu Abbas lainnya dan pembahasan tentang keabsahan penyandaran kitab tafsir ini kepada al-Fairuzabadi. Dengan demikian penelitian ini merupakan penelitian library dengan menitik beratkan kepada tinjauan sejarah dan tinjauan sanad.

Pluralisme di Mata Santri dan Pelajar di Jawa Barat

Muiz, Abdul

RELIGIA Vol 18, No 1: April 2015
Publisher : STAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.254 KB)

Abstract

Agama akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat setelah banyaknya aksi kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Kekerasan itu berawal dari tuduhan tentang kafir dan Islamnya seseorang hingga berakhir dengan pemaksaan agama atau bahkan pengrusakan dan pembunuhan. Beberapa lembaga pemerhati keragaman melaporkan bahwa Jawa Barat adalah zona merah bagi kebhinekaan. Tulisan ini memotret pandangan dan sikap para pelajar dan santri tentang pluralisme. Hal ini dimaksudkan untuk melihat dua hal. Pertama, bagaimana pandangan mereka tentang pluralisme sekaligus dasar teologis yang melatar belakangi pandangan tersebut. Kedua, apakah pandangan tersebut memberi pengaruh pada sikap mereka dalam relasi agama atau interagama. Untuk mencapai itu, peneliti mewawancarai secara mendalam beberapa pelajar dan santri dengan melihat latar belakang sekolah, pesantren dan lingkungannya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pandangan santri dan pelajar terhadap keragaman terbagi dua. Ada yang menerimanya sebagai sunnatullah dan karenanya harus disikapi dengan baik. Ada juga yang menolak perbedaan tersebut dengan dasar kebenaran itu tunggal. Namun itu, sikap terhadap perbedaan tidak menunjukkan anarkhisme, baik yang menolak pluralisme apalagi yang menerimanya.

Riba dalam Tinjauan Al-Quran

Rohayana, Ade Dedi

RELIGIA Vol 18, No 1: April 2015
Publisher : STAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.949 KB)

Abstract

Artikel ini membahas tentang riba menurut al- Quran. Dalam konteks masyarakat kontemporer, pemahaman kaum muslim hingga saat ini masih terjadi perbedaan pemikiran tentang konsep riba. Karena itu, kajian tentang riba masih dirasa aktual sampai sekarang, terutama kajian riba menurut al-Quran juga hadis sebagai rujukan utama kaum muslim. Beberapa ayat tentang riba dikaji dalam tulisan ini berdasarkan konsep turunnya ayat, baik ayat riba turun di Mekah maupun di Madinah. Alasan hukum dari ayat-ayat tersebut juga dijelaskan untuk memperkuat argumen. Berdasarkan kajian, tampak bahwa riba yang sudah jelas haram dalam al-Quran adalah riba pada masa jahiliyah yang diberi nama riba nasi’ah atau riba fahisy atau rabh murakkab atau faidah murakkabah. Riba yang seperti ini diharamkan secara pasti oleh Nash al-Quran, sedangkan kata adh’afan mudha’afah sebagai penjelasan khusus (incident clarifier) dan ilustrasi keadaan manusia pada masa jahiliyah, selain menjelaskan ketercelaan perbuatan tersebut yang mengandung penganiayaan dan penindasan kepada mereka yang sedang kesulitan. Kata adh’afan mudha’afah tidak menjelaskan bahwa riba yasir (riba yang sedikit) adalah halal, karena itu bukan maksud ayat ini, selain karena riba itu baik sedikit maupun banyak tetap diharamkan dan termasuk dosa besar. Dalam ayat juga dijelaskan bahwa riba yang diharamkan merugikan salah seorang tanpa satu sebab kecuali keterpaksaannya, serta menguntungkan pihak lain tanpa usaha kecuali penganiayaan dan ketamakan. Hal ini berbeda dengan investasi yang memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.

Waria’s Religion and Interreligious Dialogue: a Case of Waria Community In Kebaya NGO Yogyakarta

Arauf, Muta‘ali ( Gadjah Mada University )

RELIGIA Vol 18, No 1: April 2015
Publisher : STAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.504 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami Agama waria dan dialog antariman, dalam artian bahwa mereka mempunyai pengalaman keberagamanya. Mereka punya pandangannya tersendiri tentang Tuhan, tentang ibadah, tentang takdir, dan dosa. Mereka memandang Tuhan dalam intimasi personal yang mendalam. Mereka juga memosisikan Tuhan sebagai satu-satunya dzat yang membuat mereka tercipta sebagai waria. Terlepas dari bagaimana pandangan mereka tentang dosa dan tidaknya “menjadi waria”, yang jelas relasi mereka dengan Tuhan masih sering terjadi di ruang privat.

Zakat Produktif: Studi Pemikiran KH. MA. Sahal Mahfudh

RELIGIA Vol 18, No 1: April 2015
Publisher : STAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.787 KB)

Abstract

Zakat adalah satu-satunya rukun Islam yang secara spesifik berbicara tentang pemberdayaan ekonomi umat. Sayangnya, pola pemberian zakat selama ini bercorak konsumtif, dalam arti diberikan secara instan atau kontan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan zakat tidak mampu mengubah kemiskinan umat menuju kemandirian yang dicita-citakan Islam. KH. MA. Sahal Mahfudh yang dikenal dengan gagasan fikih sosial mengubah realitas ini. Kiai Sahal memaknai zakat sebagai ajaran Islam yang berorientasi pada pengentasan kemiskinan. Zakat harus dikelola secara profesional supaya mampu mewujudkan cita-cita besar Islam, yaitu kesejahteraan dan keadilan sosial. Dalam konteks ini, zakat harus diberikan secara produktif, tidak konsumtif. Zakat produktif adalah zakat yang bisa mengeluarkan mustahik dari jurang kemiskinan menuju kemandirian dan kesejahteraan ekonomi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menjadikan dana zakat sebagai modal usaha yang dikelola secara profesional. Dalam melakukan agenda transformasi ini, Kiai Sahal membentuk teamwork yang solid dan kapabel dengan memberikan life skills kepada kelompok yang berhak menerima zakat sehingga mereka bisa mengelola dana zakat secara produktif.

Fragmentasi Tafsir Surah Al-Alaq Berbasis Kronologi (Studi atas Fahm al-Quran al-Hakim: al-Tafsir al-Wadhih Hasb Tartib al-Nuzul Karya Muhammad Abid al-Jabiri)

Julkarnain, Muhammad ( UIN Syarif Hidayatullah Jakarta )

RELIGIA Vol 18, No 2: Oktober 2015
Publisher : STAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.749 KB)

Abstract

Penelitian ini berkesimpulan bahwa Fahm al-Qur’an al-Hakim: al-Tafsir al-Wadhih Hasb Tartib al-Nuzul Karya Muhammad Abid al-Jabiri secara epistemologis memiliki metode tartib nuzuli, corak tarikhi (historis) dengan sumber penafsiran al-Ra’y dan atsar. Hal ini bertujuan untuk memproduksi sebuah penafsiran-penafsiran yang realistis, rasional, aplikatif dan memiliki basis keilmuan yang kokoh. Konstruksi pemahaman pola ini, termasuk dalam usaha menafsirkan teks al-Qur’an banyak dipengaruhi oleh perspektif post-modernis. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan historis- filosofis, penelitian ini berusaha menggambarkan karakteristik pemikiran Abid al-Jabiri secara komprehensif.

Ilmu Kalam dalam Sorotan Filsafat Ilmu

Zuhri, Amat ( STAIN Pekalongan ) , Ula, Miftahul ( STAIN Pekalongan )

RELIGIA Vol 18, No 2: Oktober 2015
Publisher : STAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.6 KB)

Abstract

Melihat ilmu kalam dari sisi epistemologi, secara umum akan ditemukan tiga persoalan pokok, yaitu tentang sumber-sumber ilmu kalam itu, bagaimana pengetahuan itu dapat diketahui dan apa ukuran suatu pengetahuan itu disebut benar atau valid. Berkaitan dengan pertanyaan ketiga, sejarah telah mencatat bahwa di antara para penganut aliran-aliran kalam yang ada selalu mengklaim bahwa aliran yang dianutnya adalah yang benar sementara aliran yang lain adalah salah. Maka dalam penelitian ini penulis akan mencoba melihat kembali aliran-aliran kalam yang ada dengan menggunakan pendekatan tiga teori kebenaran, yaitu korespondensi, koherensi dan pragmatism. Tujuannya adalah untuk melihat ilmu kalam tidak hanya dari sisi epistemologi tapi juga dari sisi aksiologi sehingga sekarang ini tidak perlu lagi memperdebatkan mana yang lebih benar di antara aliran-aliran kalam yang ada, tetapi melihat mana yang lebih cocok untuk dipegang sesuai dengan situasi dan kondisi zaman.

Maqamat Tasawuf dan Terapi Kesehatan Mental (Studi Pemikiran Amin Syukur)

Pradityas, Yoana Bela ( STAIN Pekalongan ) , Hanafi, Imam ( STAIN Pekalongan ) , Zaduqisti, Esti ( STAIN Pekalongan )

RELIGIA Vol 18, No 2: Oktober 2015
Publisher : STAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.423 KB)

Abstract

Kesehatan mental mencerminkan pada ketenangan, keharmonisan dan ketenteraman jiwanya. Hal tersebut sesuai dengan pemikiran Amin Syukur mengenai maqāmāt tasawuf bagi terapi mental. Metode penelitian yang digunakan adalah library research. Selain itu, teknik pengumpulan data juga dilakukan dengan wawancara kepada sumber data primer untuk tujuan cek dan ricek (trianguasi). Semua data dianalisis menggunakan metode deskriptif analisis dan content analysis. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini, yaitu: Pertama, bahwa konsep tasawuf Amin Syukur termasuk dalam tasawuf akhlaki. Menurut Amin Syukur tasawuf akhlaki merupakan ajaran mengenai moral atau akhlak yang hendaknya diterapkan sehari-hari guna memperoleh kebahagiaan yang optimal. Kedua, bahwa Amin Syukur memandang Maqamat dalam tasawuf dapat dijadikan sebagai konsep dasar bagi penyembuhan berbagai penyakit, terutama mental dan dapat juga dijadikan sebagai sumber penyembuhan penyakit fisik. Ketiga, masyarakat modern saat ini mengalami beberapa problem, seperti himpitan ekonomi, kenakalan remaja, kegelisahan, kecemasan, stres dan depresi. Maka dari itu, tasawuf memberikan kontribusi upaya penyembuhan dengan melalui amaliah-amaliah tasawuf seperti ridha terhadap ketentuan, harus bersikap sabar terhadap segala persoalan yang dihadapi, harus membiasakan sikap hidup zuhud (tidak glamor).

Pendekatan Semiotika dan Penerapannya dalam Teori Asma’ Al-Qur’an

Lukman, Fadhli ( UIN Sunan Kalijaga dan Ponpes Sumatera Thawalib Parabek )

RELIGIA Vol 18, No 2: Oktober 2015
Publisher : STAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.192 KB)

Abstract

Paradigma Integrasi-interkoneksi meniscayakan penggunaan pendekatan-pendekatan baru dalam studi Islam, termasuk studi al-Qur’an. Semiotika adalah salah satu pendekatan modern dan post-modern yang belakangan digemari. Artikel ini berniat melihat prinsip-prinsip semiotika dan bagaimana contoh penerapannya dalam studi al-Qur’an. Pendekatan ini dipandang bisa memberikan perkembangan bagi teori Asma’ al-Qur’an yang sejauh ini terlihat stagnan. Pendekatan ini berpotensi membawa teori tersebut ke arah yang lebih progresif, yaitu sebagai self-identity al-Qur’an.