cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Konstruksia
ISSN : 20867352     EISSN : 2443308X     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Konstruksia Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta mengundang para dosen, peneliti, pengkaji, praktisi, industri, dan pemerhati serta mahasiswa S1/S2/S3, untuk mengirimkan paper atau artikel ilmiahnya. Jurnal Konstruksia bersifat terbuka. Paper yang masuk akan di-review secara peer-review. Setelah proses review selesai, hasil review akan diinformasikan kepada penulis paper melalui sistem Open Journal System (OJS) dan juga melalui email penulis. Jurnal Konstruksia terbit 2 kali dalam setahun. Secara berkala Jurnal Konstruksia terbit setiap bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 97 Documents
ANALISA PRODUKTIFITAS TENAGA KERJA PADA PEKERJAAN BETON Trijeti, Trijeti
Konstruksia Vol 1, No 1 (2010): Jurnal Konstruksia Vol. 1 No. 1 Tahun 2010
Publisher : Konstruksia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produktivitas dikatakan sebagai perbandingan antara hasil yang dicapai / keluaran (output) dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan / masukkan (input). Bagi pemilik bangunan, output bisa berarti  sebagai biaya persatuan keluaran (output) yang dihasilkan. Untuk kontraktor dapat berarti jumlah atau persentase biaya yang didapatkan dari pemilik berada diatas dari biaya pembangunan. Untuk mengetahui produktivitas tenaga kerja pada pekerjaan beton perlu dilakukan pengukuran. Pengukuran produktivitas secara langsung menggunakan analisa kerja dengan mengambil sampel pekerjaan balok beton.
PEMAHAMAN KONTRAK KONSTRUKSI INTERNASIONAL TERHADAP TANTANGAN ERA GLOBALISASI Hardjomuljadi, Sarwono
Konstruksia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Konstruksia Vol. 2 No. 1 Tahun 2010
Publisher : Konstruksia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bidang konstruksi di indonesia diatur dengan Undang-Undang 18/1999, dimana salah satu butir tentang Tujuan pengaturan jasa Konstruksi adalah ”menjamin kesetaraan kedudukan antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam hak dan kewajiban”, yang merupakan juga tuntutan dalam bidang jasa konstruksi nasional maupun internasional. Saat ini di Indonesia untuk proyek-proyek dengan pendanaan dalam negeri banyak digunakan ”tailor made contract” yang merupakan ”unilateral contract” disiapkan oleh pengguna jasa dengan keberpihakan tentunya kepada pengguna jasa. Dalam menghadapi era globalisasi, apa yang sudah bisa dilakukan harus segera dilakukan, yaitu peningkatan pemahaman standar kontrak internasional yang merupakan suatu hal yang ”mandatory” dalam pelaksanaan konstruksi ke depan, upaya pendorong dukungan dari pemerintah adalah pemberlakuan standar kontrak nasional sebagai upaya pembelajaran bagi penyedia jasa nasional
PENGARUH KADAR SILIKA (SiO2) PADA AGREGAT HALUS TERHADAP PERMEABILITAS BETON Prayitno, Nadia; Ramdhon, Ahmad Ghani
Konstruksia Vol 1, No 1 (2010): Jurnal Konstruksia Vol. 1 No. 1 Tahun 2010
Publisher : Konstruksia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahan additive Silika (SiO2)  merupakan salah satu senyawa yang sangat berpengaruh pada proses hidrasi Beton, sehingga dapat mempengaruhi Kuat Tekan maupun Permeabilitasnya. Campuran Beton yang utama merupakan campuran yang terdiri dari Agregat halus (Pasir)+ Agregat kasar (Split/Kerikil) + Semen + Air + Bahan additive.  Umumnya Bahan Silika yang ditambahkan pada Beton berupa bahan additive. Sedangkan Pasir setelah diteliti dari beberapa jenis, ternyata Pasir mengandung Silika dalam jumlah yang bervariasi. Sehingga perlu penelitian, apakah kandungan Silika pada Agregat Halus (Pasir) berpengaruh terhadap Beton, dan seberapa besar pengaruhnya. Penelitian dilakukan pada campuran beton normal, dimana agregat halus (pasir) yang digunakan mengandung unsur Silika (SiO2) sebesar 13,12% (rendah < 20%), 35,09% (sedang 20%-40%) dan 50,40% (tinggi >50%) dan beton telah melalui umur rendaman 28 hari. Penelitian dilakukan dalam hal permeabilitasnya, dengan maksud supaya dapat diketahui kerapatan atau porositas beton pada campuran  yang dipengaruhi oleh kandungan Silika pada agregat halusnya. Pengukuran dilakukan pada  nilai koefisien permeabilitasnya. Nilai koefisien permeabilitas yang diperoleh adalah  1,55x10-7 cm/det untuk kadar SiO2 = 13,12%, 1,17x10-7 cm/det untuk kadar SiO2 = 35,09% dan 8,11x10-8 cm/det untuk kadar SiO2 = 50,40%. Dari hasil penelitian yang diperoleh, ternyata makin tinggi kandungan Silika pada Pasir, semakin rendah nilai koefisien permeabilitasnya.
SEJARAH BATU BATA MERAH PEJAL Ahmad, Irza
Konstruksia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Konstruksia Vol. 2 No. 1 Tahun 2010
Publisher : Konstruksia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran baris batu digunakan pada waktu kuno. Baris batu dikeringkan di bawah sinar matahari atau dibakar. Selanjutnya, batu bata digunakan untuk pertama kalinya di Yunani kuno sampai sekarang. Cara membuatnya berubah dari waktu ke waktu, dari cara sederhana sampai cara manufaktur. Pekerja juga harus memenuhi standar mutu. Perubahan ukuran dari batu bata mulai dengan ukuran (65 x 85 x 4) cm dan sekarang, bata memiliki ukuran yang lebih besar. Cara membakarnya juga berubah untuk mendapatkan kualitas yang lebih baik.
KORELASI PENERAPAN ILMU TEKNIK, ILMU EKONOMI DAN KEAHLIAN TEKNIK DALAM PROBLEMATIK PROYEK KONSTRUKSI Alfa, Yul Achyar
Konstruksia Vol 1, No 1 (2010): Jurnal Konstruksia Vol. 1 No. 1 Tahun 2010
Publisher : Konstruksia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proyek adalah suatu keseluruhan aktifitas atau kegiatan yang menggunakan sumber-sumber (dana, daya dan lain-lain) untuk mendapatkan manfaat pada masa yang akan datang dan yang dapat direncanakan dibiayai dan dilaksanakan sebagai suatu unit aktifitas untuk mencapai tujuan dan mempunyai suatu titik akhir (ending point). Pada dekade tahun 60-an dan sebelumnya, umumnya para tenaga teknik (insinyur) melibatkan dirinya dengan pekerjaan-pekerjaan perencanaan konstruksi, perhitungan-perhitungan dan lain sebagainya, kurang sekali perhatiannya terhadap sumber-sumber daya atau tenaga baik yang berasal dari manusia maupun sumber alam yang menghasilkan produk-produk akhir. Bidang usaha semakin lama semakin kompetetif, akibatnya para insinyur memainkan peran yang semakin bertambah penting dalam pengelolaan dan beberapa keputusan yang dibuat oleh para insinyur menyangkut faktor ekonomi. Para insinyur sebagai ahli teknik dalam melakanakan suatu proyek diahadapan dengan persoalan penerapan ilmu teknik, ilmu ekonomi serta keahlian teknik dalam permasalahan proyek untuk mengambil suatu keputusan. Segi proses keahlian teknik yang mencoba mempelajari kebutuhan-kebutuhan manusia, memerlukan tidak hanya suatu pengetahuan saja (batasan-batasan kemampuan teknik), tetapi memerlukan juga pengetahuan umum seperti sosiologi, psikologi, politik, ekonomi dan lain-lain dimana pengetahuan ini sangat berguna dan penting dalam banyak cabang ilmu pengetahuan teknik modern. Pengetahuan tentang Net Present Value, Internal Rate of Return dan Net Benefit-Cost Ratio sangat diutamkan dan merupakan hal yang mutlak dikuasai agar investasi yang diutamakan dapat mencapai sasaran sesuai dengan prinsip ekonomi dan teknik.Keahlian teknik yang selalu berhadapan dengan lingkungan fisik, berlangsung terus menerus untuk memenuhi kebutuhan umat manusia yang timbul dalam suatu lingkungan ekonomi.
ANALISIS SAMBUNGAN SISTEM SARUNG SEBAGAI SOLUSI KEGAGALAN STRUKTUR AKIBAT PERBEDAAN MATERIAL KONSTRUKSI Buwono, Haryo Koco
Konstruksia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Konstruksia Vol. 2 No. 1 Tahun 2010
Publisher : Konstruksia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konstruksi Beton bertulang memiliki kelebihan pada mudahnya membentuk ukuran sesuai dengan kapasitas layannya, dan ini berbeda dengan Baja. Baja adalah dibentuk berdasar Profil yang telah tersedia di pasaran. Bila kapasitas layan lebih besar 0.001 diatas dari kebutuhan Profil baja nya, maka dimensi harus dirubah, dan sangat mungkin dimensinya menjadi terlampau boros dibanding kapasitas yang akan dilayani. Hasil Pemeriksaan jumlah tulangan / pembesian terpasang untuk Balok Kantilever mempunyai tulangan atas sebanyak 6D32, dan tulangan bawah 5D32 dengan bentang balok kantilever sepanjang 3 m. Dimensi balok kantilever adalah 20 x 40 cm2. Hasil pemeriksaan Tulangan Kolom adalah didasarkan dari Tulangan Kolom yang ditinjau dari lantai dasar yang menembus ke lantai Aula dengan cara diketrik (dikupas) untuk meninjau jumlah tulangannya. Hasilnya Tulangan Kolom adalah berjumlah 8D32 ditambah “tulangan ekstra” 4D16. Elemen Balok Kantilever Balkon eksisting sulit diangkur, bila di sisi depan dibuatkan sambungan, maka dibuat ide dengan Sambungan Sarung. Sambungan Sarung yang dimaksud adalah memberikan perkuatan sambungan antara konstruksi baja dan beton dari momen puntir, momen lentur (walau dalam modelisasinya sendi), dan tarik. Filosofi dari konstruksi seperti Gambar 3 dan 4 tersebut, adalah memiliki dampak tarik pada sambungan akibat dari beban vertikal maupun beban horisontal gempa
ANALISIS KETAHANAN GEMPA DINAMIS PADA GEDUNG DEPARTEMEN ERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN MENGGUNAKAN SNI 03-1726-2002 Buwono, Haryo Koco
Konstruksia Vol 1, No 1 (2010): Jurnal Konstruksia Vol. 1 No. 1 Tahun 2010
Publisher : Konstruksia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aspek perencanaan yang harus ditinjau salah satunya adalah memperhitungkan kemampuan struktur terhadap gempa. Di Indonesia saat ini terdapat 2 peraturan yang kedua-duanya masih berlaku yaitu Peraturan Bangunan Tahan Gempa SNI 03-1726-1989 dan SNI 03-1726-1989. Peraturan ini menjadi menarik ketika ada klaim bahwa peraturan tahun 1989 menjadikan konstruksi tidak aman ketika diberlakukan peraturan baru. Kasus yang dipakai disini adalah menggunakan bangunan eksisting Depatemen Perindustrian dan Perdagangan Jl. MI Ridwan No. 5 Jakarta Pusat. Alat bantu hitung adalah SAP 2000 versi 11. Perencanaan dengan Gempa sistem Statis dan Dinamis. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah Volume pembesian yang dihasilkan peraturan SNI 03-1726-1989, menunjukkan jumlah lebih banyak dibandingkan dengan peraturan tahun 2002. Hasil tersebut mematahkan klaim tentang peraturan 1989 tersebut.
STUDI BANDING PENGARUH FAKTOR AIR SEMEN DAN KADAR FLY ASH TERHADAP KUAT TEKAN DAN PERMEABILITAS BETON RINGAN Mughnie, Hidayat
Konstruksia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Konstruksia Vol. 2 No. 1 Tahun 2010
Publisher : Konstruksia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kadar air semen (w/c) sangat mempengaruhi kuat tekan beton, kadar air semen yang kecil menghasilkan kuat kuat tekan yang besar.. sebaliknya kadar air semen besar menghasilkan kuat tekan beton yang kecil. Abu terbang ( fly ash) dapat meningkatkan kuat tekan beton, karena fly ash mengandung Si02 yang tinggi, kekuatan beton meningkat karena butiran mikrosilika yang sangat hales bereaksi dengan air dan Ca(OH)2 (kapur) akan menghasilkan Massa yang padat, sehingga menghasilkan kekuatan yang lebih besar. Pada percobaan ini kuat tekan yang paling besar adalah. 50 Mpa yang dihasilkan oleh campuran denga perbandingan air semen ( w/c) =0.3 dan penambaban fly ash 30%.
MODEL KEBUTUHAN TRANSPORTASI MENGGUNAKAN DATA VOLUME LALU LINTAS Suyuti, Rusmadi
Konstruksia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Konstruksia Vol. 2 No. 1 Tahun 2010
Publisher : Konstruksia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah-masalah yang timbul di dalam sistem transportasi memerlukan Matriks AsalTujuan (MAT) sebagai input utama yang merepresentasikan pola perjalanan pada suatu wilayah perencanaan. Metode untuk mendapatkan MAT dapat dikelompokkan menjadi Metode Konvensional dan Metode berdasarkan data arus lalu lintas (biasanya disebut Metode Tidak Konvensional). Metode Tidak Konvensional merupakan suatu metode estimasi yang cukup efektif dan ekonomis karena data utama yang dibutuhkannya adalah data arus lalu lintas yang untuk memperolehnya membutuhkan biaya yang murah, banyak tersedia dan mudah didapat. MAT yang dihasilkan dari data arus lalu lintas selanjutnya dapat dibedakan menjadi dua kondisi yaitu MAT pada kondisi saat ini dan MAT yang diprediksi untuk masa mendatang. Estimasi MAT pada kondisi saat ini digunakan sebagai input dalam memprakirakan MAT di masa mendatang. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memodelkan perilaku kebutuhan transportasi di dalam wilayah studi. Tujuan penelitian ini adalah melanjutkan pengembangan metode estimasi model kebutuhan transportasi berdasarkan informasi data arus lalu lintas, dalam meninjau faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keakurasian MAT. Model yang dikembangkan selanjutnya di uji menggunakan data Kota Bandung dan sekitarnya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa MAT hasil estimasi menunjukkan tingkat kesesuaian yang tinggi terhadap MAT hasil pengamatan. Metode uji statistik yang digunakan adalah: Root Mean Square Error (RMSE), Mean Absolute Error (MAE), Normalised Mean Absolute Error (NMAE) dan Koefisien Determinasi (R2 dan SR2). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa model GO selalu menghasilkan arus lalu lintas hasil estimasi yang terbaik. Jika dipertimbangkan beberapa kriteria tambahan, maka secara keseluruhan metode estimasi yang terbaik adalah kombinasi antara model GR dengan metode estimasi KTB. Disamping itu, dari hasil yang diperoleh, penggunaan metode pemilihan rute keseimbangan mempunyai pengaruh yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan penggunaan metode all-ornothing
PENCEGAHAN PENDANGKALAN ALUR PELAYARAN ANTARA DUA BREAKWATER, DENGAN SYSTEM SAND BYPASSING Kartohardjono, Aripurnomo
Konstruksia Vol 1, No 1 (2010): Jurnal Konstruksia Vol. 1 No. 1 Tahun 2010
Publisher : Konstruksia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendangkalan alur pelayaran yang terletak diantara dua breakwater, merupakan fenomena alam yang biasa terjadi, sehingga upaya mengatasinya harus menggunakan solusi yang tepat agar alur pelayaran dapat berfungsi sebagaimana mestinya dengan biaya yang memadai. Upaya pencegahan pendangkalan yang disebabkan oleh sedimen transport yang datang dan masuk ke alur pelayaran harus dipindahkan agar tidak terjadi pengendapan, dalam hal ini dibahas dengan menggunakan sistem sand by passing. Material yang masuk melalui breakwater diupayakan agar dapat terus berlalu dan tidak mengendap di alur, tentunya dengan memperhatikan kualitas dan kuantitas material sedimen.

Page 1 of 10 | Total Record : 97