cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan
Published by KOPERTIS Wilayah 3
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 1 No 2 (2018)" : 11 Documents clear
PENGARUH SUHU DAN KELEMBABAN UDARA TERHADAP KEBERADAAN TUNGAU DEBU RUMAH DI PAMULANG DAN JAKARTA Subahar, Rizal; Aulung, Agus; Firmansyah, Nurhadi Eko; Lubis, Nadar Sukri; Wibowo, Heri
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol 1 No 2 (2018)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1551.256 KB)

Abstract

House dust mite (HDMs) may be found in urban dwelling and the existence of HDMs is influenced by temperature and relative humidity. The aim of the study was to evaluate the temperature and relative humidity effect the existence of HDM in Pamulang and Jakarta. There were 52 house dust samples from Pamulang and 44 from Jakarta examined by direct method using microscope to detect HDM in the dust samples. The temperature and relative humidity in the house were examined by thermohygrometer. The collecting of the samples was conducted 3 times with 2 weeks interval time. The species of HDM found were Dermatophagoides pteronyssinus, D.farinae, and Glyciphagus destructor. Statistically, the existence of HDM in 30-35oC was not significant different from that in < 30oC in both Pamulang and Jakarta (p<0.05). In contrast, the existence of HDM in relative humidity, 60-70%, was significant different from that in <60% in both Pamulang and Jakarta (p<0.05), especially in third sample collecting. It can be concluded that the existence of HDM was influenced by relative humidity, but not temperature in urban dwelling.
ODONTEKTOMI, TATALAKSANA GIGI BUNGSU IMPAKSI Rahayu, Sri
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol 1 No 2 (2018)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.977 KB)

Abstract

Odontektomi atau pengangkatan gigi dengan pembedahan, merupakan tindakan pembedahan sehari-hari yang paling sering dilakukan oleh Spesialis Bedah Mulut. Dalam proses tumbuhnya gigi bungsu atau geraham ketiga yaitu gigi terakhir yang tumbuh ke rongga mulut, sering sulit tumbuh yang disebut impaksi. Tujuan tulisan ini adalah untuk membahas: (1). Gigi bungsu impaksi, (2). manfaat dan risiko tatalaksana Gigi bungsu impaksi yang mungkin timbul. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dengan pendekatan deskriptif, eksploiratif. Dapat disimpulkan bahwa: (1) Impaksi gigi bungsu baik sebagian/parsial maupun seluruhnya/total, masing-masing dapat menyebabkan masalah serius dan berpotensi menimbulkan komplikasi ringan sampai berat bahkan mengancam jiwa, (2) Tatalaksana dengan atau tanpa odontektomi harus ditentukan per kasus bersama dengan pasien. Perlu diingatkan kembali kepada sesama Spesialis Bedah Mulut untuk memberi penjelasan tentang manfaat dan risiko yang mungkin timbul. dan menentukan tatalaksana kasus per kasus gigi bungsu impaksi bersama pasien, sesuai dengan rekomendasi American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons (AAOMS).
NUGGET JAMUR TIRAM (PLEUROTUS OSTREATUS) SEBAGAI ALTERNATIF PANGAN SEHAT VEGETARIAN Saragih, Raskita
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol 1 No 2 (2018)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.113 KB)

Abstract

Nugget jamur tiram memiliki potensi sebagai alternatif pangan sehat bagi vegetarian terutama lacto-ovo vegetarian. Tujuan penelitian untuk: (1) mengetahui cara mengolah jamur tiram menjadi produk nugget sebagai ragam makanan baru bagi vegetarian  (2) mengetahui variasi jumlah bahan pengisi singkong dan tepung sagu sehingga dihasilkan nugget jamur tiram (3) menguji mutu organoleptik nugget jamur tiram berdasarkan indikator warna, aroma, tekstur dan rasa serta uji kandungan nutrisi nugget jamur tiram kesukaan panelis serta memenuhi kebutuhan nutrisi vegetarian. Desain eksperimen yang dilakukan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor, yaitu (1), bahan pengisi singkong dengan 5 taraf, meliputi s1=60 g, s2=70 g, s3=80 g, s4=90 g dan s5=100 g, (2) bahan pengisi tepung sagu dengan 3 taraf, meliputi t1=10 g, t2= 20 g dan t3= 30 g. Perlakuan penelitian sebanyak 15 taraf dengan dua kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan konsumsi nugget jamur tiram sebanyak 7 pieces/hari atau sebesar 140 g dapat memenuhi lebih kurang sebesar 20% dari kebutuhan protein dan 48% kebutuhan serat pangan/orang/hari. Nugget jamur tiram dengan bahan pengisi 100 g singkong dan 10 g tepung sagu mengandung nutrisi protein sebesar 7,66%, karbohidrat 24,95%, lemak 15,39% dan serat pangan sebesar 8,63%. Panelis suka pada warna, aroma, rasa dan tekstur nugget jamur tiram dengan bahan pengisi 100 g singkong dan 10 g tepung sagu (s5t1).  
FAKTOR-FAKTOR PENGGUNAAN PELAYANAN KESEHATAN BAGI BAYI GEJALA DIARE DI KOTA DEPOK Nurzaini, Helvi
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol 1 No 2 (2018)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (26.891 KB)

Abstract

Diare adalah penyakit di mana penderita mengalami rangsangan buang air besar yang terus-menerus dan tinja atau fases yang masih memiliki kandungan air berlebihan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan pelayanan kesehatan oleh ibu bagi bayi dengan gejala diare. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2012. di Kelurahan Pancoran Mas, kota Depok dengan menggunakan desain potong lintang (cross sectional). Pengambilan sampel secara cluster dengan jumlah responden 200 orang ibu yang mempunyai bayi usia di bawah satu tahun dan menderita gejala diare pada satu bulan terakhir. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara menggunakan kuisioner. Dari hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa dari 12 variabel yang diteliti (umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengalaman, keyakinan, pengetahuan, sikap, jarak, biaya, keterpaparan informasi dan dukungan keluarga) hubungannya dengan penggunaan pelayanan kesehatan bagi bayi dengan gejala diare ditemukan 2 variabel yang berhubungan secara bermakna dengan perilaku ibu dalam penggunaan pelayanan kesehatan yaitu: dukungan keluarga dan keterpaparan informasi. Disarankan kepada Dinas Kesehatan untuk melakukan advokasi kepada pemerintah Kota Depok agar mendapatkan dukungan dan dana dalam upaya promotif dan preventif terhadap diare pada bayi dan meningkatkan peran bidan dalam upaya penggunaan pelayanan kesehatan bagi bayi diare.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KELAHIRAN PREMATUR DI INDONESIA: ANALISIS DATA RISKESDAS 2013 Sulistiarini, Dwi; Berliana, Sarni Maniar
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol 1 No 2 (2018)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.475 KB)

Abstract

Prematuritas merupakan penyebab kematian kedua pada balita setelah pneumonia dan merupakan penyebab utama kematian neonatal. Tiga puluh lima persen kematian neonatal di dunia disebabkan oleh komplikasi kelahiran prematur (WHO:2012).  Penelitian ini bertujuan untuk meneliti karakteristik sosiodemografi yang memengaruhi kejadian kelahiran prematur di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Unit analisis penelitian ini adalah seluruh kelahiran hidup yang terjadi sejak Januari 2010 sampai Juni 2013. Metode regresi logistik biner digunakan untuk mengetahui kecenderungan seorang wanita mengalami kejadian kelahiran prematur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 48.336 wanita terdapat 36% ibu yang mengalami kejadian kelahiran prematur. Hasil regresi logistik menunjukkan bahwa seluruh variabel bebas yang digunakan adalah signifikan memengaruhi kejadian kelahiran prematur. Wanita dengan karakteristik melahirkan saat umur muda, berpendidikan lebih rendah, tinggal di perdesaan, tidak mempunyai riwayat keguguran, melahirkan anak pertama, tidak melakukan pemeriksaan kehamilan secara lengkap, dan mengalami komplikasi saat hamil cenderung berisiko lebih besar mengalami kejadian kelahiran prematur. Tiga faktor terakhir memberikan pengaruh terbesar pada kejadian kelahiran premature. Disarankan agar pemeriksaan kehamilan sesuai rekomendasi program harus lebih dipromosikan dan fasilitas dan tenaga kesehatan berkualitas harus tersedia di seluruh wilayah Indonesia, terutama di daerah perdesaan.
PENGARUH INISIASI MENYUSU DINI (IMD) DAN FAKTOR SOSIAL DEMOGRAFI TERHADAP KETAHANAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF Mumpuni, Retno Sari; Utami, Efri Diah
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol 1 No 2 (2018)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (27.141 KB)

Abstract

Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia mengalami tren yang menurun. Namun, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir penurunan itu hanya terjadi sebesar 3 kematian dari 1.000 kelahiran hidup. Salah satu upaya mengurangi resiko kematian bayi yang ditempuh adalah program Gerakan Nasional Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu.  Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan penting yang harus diberikan kepada bayi terutama pada masa awal kelahiran.  Hasil SDKI 2012 menunjukkan bahwa dari 96% bayi yang pernah disusui, hanya 42% yang disusui secara eksklusif. Menurut UNICEF, satu dari 10 langkah keberhasilan menyusui adalah dengan diberikan ASI segera setelah kelahiran (Inisiasi Menyusu Dini).  Tujuan penelitian ini  untuk mengetahui pengaruh Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan faktor sosial demografi terhadap ketahanan pemberian ASI Eksklusif di Indonesia.. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensia dengan menggunakan survival analysis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bayi yang mendapat IMD dalam waktu lebih dari satu jam setelah kelahiran memiliki risiko 1,661 kali lebih besar untuk tidak menyusu secara eksklusif dibandingkan dengan bayi yang diberi ASI pertama dalam waktu satu jam setelah kelahiran. Sedangkan faktor sosial demografi yang mempengaruhi ketahanan pemberian ASI Eksklusif adalah paritas, IMD dan status pekerjaan ibu.
PENDUGAAN PARAMETER GENETIK JUMLAH BUNGA DAN BENIH HASIL BUAH DAN BENIH BEBERAPA GENOTIPE CABAI (CAPSICUM ANNUUM L.) TETUA DAN HASIL PERSILANGAN DIALEL DI KEBUN PERCOBAAN CIPANAS JAWA BARAT Ekowahyuni, Luluk Prihastuti; Yenisbar, -
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol 1 No 2 (2018)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.221 KB)

Abstract

Cabai (Capsicum annuum L.) merupakan produk hortikultura penting yang dibudidayakan secara komersial di daerah tropika termasuk Indonesia, dan mempunyai potensi yang sangat strategis dalam meningkatkan pendapatan petani karena permintaan dan pemanfaatan cabai yang terus meningkat, seiring dengan meningkatnya penduduk dan konsumsi per kapita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai pendugaan parameter genetic yaitu (1) heterosis untuk jumlah benih. jumlah buah dan jumlah bunga mekar (2) dan Nilai daya gabung khususnya (DGK) jumlah buah dan jumlah bunga untuk menentukan hibrida unggulan di masa yang akan datang. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Cipanas Jawa barat. Metode yang digunakan adalah persilangan dialel dengan rancangan penelitian rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Hasil dari penelitian ini adalah nilai pendugaan parameter genetik untuk nilai (1) heterosis bahwa hibrida yang mempunyai nilai heterosis tertinggi untuk jumlah benih adalah IPBC 15x20, untuk jumlah buah adalah IPBC 15x20, untuk jumlah bunga mekar adalah IPBC 2x20. (2) Hibrida yang mempunyai nilai daya gabung khusus (DGK) tertinggi untuk jumlah buah adalah IPBC2x20, untuk DGK untuk jumlah bunga mekar adalah IPBC 2x20. Hal ini menunjukkan bahwa pada penanaman di kebun Cipanas dan kondisi agroklimat yang kurang mendukung sudah terdapat koleksi genotipe tetua unggul yaitu IPB C15, IPB C20, IPB C2.
PENGARUH FAKTOR INDIVIDU, IBU DAN LINGKUNGAN TERHADAP PREVALENSI BALITA PENGIDAP INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2013 Belawan, Arista Roza; Harsanti, Titik
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol 1 No 2 (2018)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.588 KB)

Abstract

Acute Respiratory Infection (ARI) is one of the major causes of under-five children’s morbidity and mortality in the world - both in developed countries and in developing countries - including Indonesia. Based on RISKESDAS 2013 data, the prevalence of ARI under five children aged is 25.8 percent in which NTT is a province with the highest prevalence of ARI in Indonesia. The purpose of this study was to determine the factors that influence the prevalence of children living with ARI in NTT. The methods used are descriptive and binary logistic regression using data Riskesdas 2013. The results showed that age, parental smoking status, type of household cooking fuel and area of residence classification affect the status of ARI in infants. More specifically, the tendency of children to suffer from ARI occurs in infants 1-4 years, have smoker parents, stay at home with less good cooking fuel (kerosene, charcoal and firewood) and live in rural areas. 
PENGARUH FAKTOR PASANGAN TERHADAP PENGGUNAAN METODE KONTRASEPSI IUD (INTRA UTERINE DEVICE) DI INDONESIA (ANALISIS DATA SDKI TAHUN 2012) Risky, -; Harsanti, Titik
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol 1 No 2 (2018)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1149.939 KB)

Abstract

Jumlah penduduk Indonesia terus mengalami peningkatan, hingga pada tahun 2010 mencapai 237,6 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,49 % (BPS, 2010). Upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia guna menekan laju pertumbuhan penduduk adalah dengan Program Keluarga Berencana (KB). Salah satu program keluarga berencana adalah menggunakan metode kontrasepsi. Jumlah pengguna kontrasepsi di Indonesia semakin lama semakin meningkat, akan tetapi persentase pengguna metode kontrasepsi IUD menurun setiap tahunnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor pasangan terhadap penggunaan metode kontrasepsi IUD. Data yang digunakan adalah data sekunder hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1). Hasil regresi logistik biner secara parsial dengan tingkat kepercayaan 95 persen menunjukkan bahwa variabel-variabel yang signifikan memengaruhi pemilihan metode kontrasepsi IUD di Indonesia adalah tempat tinggal, jumlah pengetahuan suami, pendidikan suami, jumlah anak yang dimiliki dan akses suami terhadap media. 2). Akses suami terhadap media, daerah tempat tinggal dan pendidikan suami merupakan variabel dengan kecenderungan tertinggi. Dengan demikian diharapkan pemerintah dan instansi terkait dapat meningkatkan sosialisasi tentang metode kontrasepsi khususnya IUD kepada suami agar meningkatkan peran serta suami.
FAKTOR-­FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMATIAN BAYI PREMATUR DI INDONESIA Rizqiani, Ratu Fani; Yuliana, Lia
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol 1 No 2 (2018)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1304.323 KB)

Abstract

Prematur merupakan penyebab utama kematian pada bayi usia kurang dari satu tahun. Indonesia merupakan negara kelima dengan jumlah bayi prematur terbanyak di dunia. Berbeda dengan bayi cukup bulan, pada bayi premature terdapat ketidak matangan sistem organ tubuh yang menyebabkan bayi prematur berisiko tinggi mengalami berbagai masalah kesehatan hingga kematian. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kematian bayi prematur di Indonesia. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder dari Riskesdas 2013. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan inferensia berupa regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) dengan taraf signifikansi 5 persen, tipe wilayah, tipe kelahiran, usia kehamilan, dan komplikasi persalinan secara signifikan memengaruhi kematian bayi prematur; 2) Bayi prematur dari ibu yang tinggal di perkotaan, lahir kembar, lahir dengan usia kehamilan kurang dari 32 minggu, dan lahir dari ibu yang mengalami komplikasi persalinan memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengalami kematian; 3) Dalam upaya menurunkan angka kematian bayi, Pemerintah diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan memberikan kemudahan kepada ibu hamil dalam mengakses pelayanan kesehatan.

Page 1 of 2 | Total Record : 11